[Freelance] The End of Fairytale (Chapter 1)

The End of The Fairytale poster

Title
The End of The Fairytale : 1

 

Author
L’Cloud

 

Length
Three Shot

 

Rating
T

 

Genre
Romance

Angst

 

Main Cast
Taeyeon

Sehun

Luhan

 

Author Note

Terinspirasi oleh masa di mana aku baru tahu EXO, nggak bisa bedain yang mana Luhan yang mana Sehun. Meski akhirnya sekarang malah menurutku mereka nggak mirip.. mwehee.. Sangat terinspirasi oleh HunHan shippers, LuTae shippers, dan TaeHun shippers. Dan karena aku gatau bakal berakhir kapan, aku putuskan untuk membuat length nya Three shot, tapi bisa berubah sewaktu waktu.

_L’s

Kalian percaya pangeran masa kecil? Semacam cinta yang kau miliki saat umurmu masih begitu kanak-kanak, Percaya? Aku, tidak. Aku tidak percaya cinta masa kecil yang sering terjadi dalam drama korea. Meskipun dalam drama itu, mungkin Lee Min Ho yang menjadi pemeran utamanya, aku tetap tak percaya. Tidak, aku tetap tidak percaya, meskipun benda yang kini kugenggam nyatanya kuterima dari seorang bocah masa kecil yang begitu kukagumi. Aku tak ingin mempercayainya.

Sebuah keramik berbentuk lempengan tipis berwarna putih dengan gambar teratai di atasnya ini tak membuatku percaya pada cinta masa kecilku itu. Terlalu picisan bagiku. Pi-ci-san. Sebuah kisah romantis yang begitu sering di angkat dalam drama-drama.

“Kim, Tae, Yeon!”,Yuri berteriak di telingaku sembari mengeja namaku. Lamunanku buyar seketika.

“Yuri yah! Kau ini kenapa??!”

“Hhhh, aku tak akan begitu jika saja kau tak bertingkah seperti gadis yang kerasukan. Melamun di kantormu yang sepi dan pengap, lalu tak menyahut meskipun suaraku sudah terdengar di luar angkasa sana! Ada apa denganmu? Hah?! Nona, Kim Tae Yeon yang manis??”,kali ini rentetan kalimat keluar dari mulutnya yang begitu mirip dengan pengeras suara.

Aku menggelengkan kepalaku seolah terbiasa dengan sikapnya yang tak pernah berubah. Meskipun sudah 10 tahun ini aku begitu dekat dengannya, aku tak pernah mengerti mengapa ia begitu percaya diri dengan kebiasaannya berbicara sambil mengeraskan suaranya. Tapi mungkin pernyataan yang sama akan muncul dari mulutnya. Mungkin dia juga heran mengapa aku sangat suka diam menyendiri dan bersikap seolah dunia ini hanya ada aku sendiri.

“Kecilkan volume suaramu. Pelanggan Caffé ku ini mungkin belum menyiapkan asuransi untuk telinga mereka.”,aku terkekeh pelan.

“Ish, kau selalu begitu! Ah terserah kau saja. Hhhh, apa yang sedang kau lakukan? Aha, biar kutebak! Kau tengah memandangi keramik bodoh itu lagi sembari mengatakan pada dirimu sendiri bahwa cinta masa kecil adalah hal paling picisan yang pernah ada. Atau bahwa cinta masa kecil hanya akan ada dalam dongeng di kartun Disney. Astaga! Kau ini tak pernah berubah.”,ucap Yuri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Bibirku tersenyum kecut sembari mengingat lamunanku tadi. Kugigit bibir bawahku dan kutimang-timang keramik itu. Mungkin dunia sangat tidak adil bagi keramik ini. Ia terlahir berdampingan namun kemudian terpisahkan oleh dua orang yang saling menggenggam keramik yang sama tanpa pernah bertemu lagi. Aku mungkin lebih beruntung. Setidaknya, aku tak telahir bersama bocah manis itu. Jadi perpisahan itu tak terlalu menyakitkan. Hanya penantianku, yang sangat menyedihkan.

“Kau harus pergi berkencan. Berhentilah berpacaran dengan keramik bergambar teratai itu. Dia bahkan tidak lebih tampan dari Chanyeol, pegawaimu yang aneh itu.”,canda Yuri sembari mengacak-acak rambutkku.

“Hei, singkirkan tanganmu!”,teriakku tertahan.

_L’s

Dia terus memandangiku dari balik kaca kamar rumah sakit. Matanya penuh rasa ingin tahu. Sesekali ia melongok ke dalam kamarku melalui pintu yang tidak tertutup. Dan aku selalu hanya memandangnya malu-malu.

Saat itu umurku baru beranjak sepuluh tahun dan entah berapa umur bocah lelaki itu. Yang kutahu, bocah itu terus saja memandangiku dari luar kamar sejak pertama kali aku datang ke rumah sakit. Jadi, bisa kupastikan, dia tinggal di rumah sakit lebih dulu.

“Apakah kau kesepian? Aku juga. Sudah dua bulan aku di sini. Banyak hal harus kulakukan untuk kesembuhanku, begitu kata ibuku.”,ucapnya padaku suatu ketika saat tak satupun orang berjaga di kamarku.

Kupikir, mungkin selama ini dia takut masuk ke kamarku karena orangtuaku. Nyatanya ia tak pernah memasuki kamarku secara terang-terangan seperti ini sepanjang sebulan aku tinggal di rumah sakit.

“Kau mau coklat?”,tanyanya.

Aku menggeleng pelan. Aku ingat ayahku berkata, jangan menerima makanan dari orang yang tak kukenal. Meskipun aku juga tidak tahu, apa yang mungkin bisa dilakukan seorang bocah pasien rumah sakit.

“Kau menangis setiap hari. Apa kau ketakutan? Kau bisa memanggilku jika kau bosan di kamar. Kamarku, tepat di samping kamarmu. Di sana ada banyak mainan. Ibuku jarang ada menemaniku, jadi kau tak perlu malu.”,bocah itu tersenyum lebar sekali.

Aku hanya diam tanpa mengucapkan satu katapun hingga ia meninggalkan kamarku.

_L’s

“Jangan kau lanjutkan lagi ceritamu Kim Taeyeon!! Aku sudah mendengarnya dari mulutmu ratusan kali. Oh ayolah, aku tahu itu menyedihkan. Tapi kau sendiri yang bilang bahwa terus mengungkitnya hanya akan membuatmu semakin mengharapkan bertemu dengan bocah itu. Dan kau juga yang bilang bahwa untuk mengharapkannya adalah hal paling naif yang pernah ada. Sejujurnya, aku mulai bosan.”,Yuri berteriak menghentikan ceritaku.

“Ah iya, iya.. aku tak pernah mengharapkannya Kwon Yuri. Tak akan pernah.jika suatu ketika aku bertemu orang yang mengaku sebagai bocah itu, akan kupastikan tanganku lah yang akan menamparnya.”,aku meletakkan kepalaku di meja.

“Ya, semoga saja itu tidak terjadi. Karena jika ada lelaki yang mengaku sebagai bocah itu, maka tangaku akan ikut memberikan tamparan kepadanya. Lihat saja nanti.

“Sebenarnya, bocah itu sudah tak ada Yuri. Dia, sudah meninggal.”,ucapku mengakhiri pembicaraan itu.

Taeyeon’s POV End.

Author’s POV Start.

“Kau pergi dari rumahmu? Kau GILA?!”,Chanyeol nyaris berteriak saat berbicara pada sahabatnya.

“Bisa jadi.”,sahabatnya itu hanya mengendikkan bahunya.

“Sehun, jika aku jadi kau, real estate sebesar itu sudah sangat cukup bagiku. Aku sepertinya memiliki sahabat yang gila!”,ucap Chanyeol tanpa menghilangkan fokusnya pada gelas-gelas kosong yang perlu di cuci.

“Ini tak sesederhana yang kaukira. Masalah aku yang menghancurkan pertunangan kakakku sudah membuat ayahku naik darah. Aku bahkan di sumpah serapahi.”,Sehun meneguk Americano nya.

“Kau sendiri, apa untungnya menghancurkan pertunangan kakakmu? Itu membuatmu terlihat bodoh di depan Tiffany.”

“Sudah kubilang, kakakku tak mencintai gadis bernama Yoona itu. Sayang sekali ia sangat patuh dan tunduk pada kemauan ayahku. Ini membuatku sebagai adik tidak bisa tinggal diam. Dan kuperingatkan kau Chanyeol, jangan sebut nama gadis murahan tukang selingkuh itu di depanku! Awas saja jika aku bertemu dengannya, akan kuminta cincin yang pernah kuberikan padanya.”

Chanyeol tersenyum dan kemudian memfokuskan pada pekerjaannya. Sementara itu, mata Sehun melihat-lihat dekorasi Caffé yang begitu klasik. Ia mengangguk-angguk tanda terkagum dengan dekorasinya.

“Pemilik Caffé ini pasti seorang seniman. Kulihat seleranya sangat baik.”,gumam Sehun cukup keras.

“Pemilik Caffé ini sebenarnya seorang designer. Putri satu-satunya dari pemilik saham terbesar perusahaan konveksi yang masih eksis sampai saat ini. Sayangnya, sepertinya ayahnya tersandung masalah menjelang ajalnya. Saham yang dimiliki ayahnya dibekukan hingga sama sekali tak bisa diwariskan. Beruntung, latar belakang ayahnya memang orang berada. Setidaknya, ia masih mampu membangun Caffé ini, dan tinggal sangat amat lebih dari layak di rumahnya yang mewah.”,jelas Chanyeol panjang lebar.

Sehun terkekeh pelan kemudian berkata,“Kau seperti tengah menceritakan biografi seorang tokoh nasional. Sangat detil, dan bersemangat.”

“Tidak juga. Tapi dia sangat baik dan, cantik. Tapi kulihat dia lebih tertarik bergaul dengan teman perempuannya dari pada lawan jenisnya.”

“Apa itu berarti dia lesbian?”,Sehun membuka matanya lebar karena merasa tak percaya.

“Kau gila?!! Tentu saja tidakk! Yang kumaksud adalah, dia kurang suka dekat dengan laki-laki. Dia, tertutup. Sebenarnya dia sedang duduk di salah satu meja makan sekarang.”

“Yang mana? Yang mana?”,Sehun bertanya antusias.

“Meja ketiga dari pintu masuk, kau bisa lihat dua wanita yang duduk sambil berbincang-bincang?”,Chanyeol berbicara pelan, seolah tak ingin di dengar siapapun.

Sehun mencari meja yang dimaksud Chanyeol.

“Apakah gadis seksi itu pemilik Caffé ini?”,tanya Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua wanita itu.

“Bukan! Bukan yang menggunakan coat merah dengan stilletto hitam. Tapi gadis dengan sweater salem yang menggunakan sepatu boot beludru berwarna coklat.”,jawab Chanyeol.

Sehun memanggut-manggutkan kepalanya tanda mengerti. Ia menatap setiap inchi dari wajah dan tubuh Taeyeon. Matanya menatap lekat detil dari jari-jemari lentik Taeyeon.

“Aneh.. sangat aneh. Keramik China itu..”,gumam Sehun begitu pelan saat matanya terhenti pada benda berbentuk persegi panjang yang di mainkan Taeyeon.

“Chanyeol, sepertinya malam ini aku tak jadi menginap di rumahmu. Aku punya rumah mewah yang siap menunggu! Annyeong!”,Sehun berlari terburu keluar dari Caffé lalu menerjang derasnya salju yang turun. Ia memiliki sesuatu yang harus dilakukan.

_L’s

“Hyeong!! Sssttss!! Hyeong!!”,Sehun berbisik sembari sesekali melemparkan batu ke dalam ruangan di lantai dua melalu jendela yang tidak tertutup.

Seseorang muncul dari jendela itu. Matanya mengedarkan pandangan mencari sosok yang melemparkan beberapa batu kolam ke dalam kamarnya.

“Sehun!!”,panggil orang itu manakala retinanya menangkap refleksi tubuh Sehun.

“Luhan Hyeong!!”,teriak Sehun gembira.

Author’s POV end.

Luhan’s POV start.

Entah sudah berapa bulan saat itu kami saling mengenal. Tidak, lebih tepatnya dia yang mengenalku. Karena, sepanjang aku begitu sering berbicara padanya, ia hanya selalu diam dan menjadi pendengar yag baik. Mungkin dia takut padaku. Dia tak mau berbicara padaku.

Pernah suatu kali aku mengenalkan diriku padanya,”Sudah beberapa kali kita bertemu, kau belum tahu namakku bukan? Namaku Xi Luhan! Umurku 12 tahun. Kau sendiri, siapa namamu?  Apa aku boleh tahu?”,ucapku kala itu.

Namun anak perempuan itu hanya diam dam tertunduk malu. Sesekali ia menghembuskan nafasnya seperti ragu hendak berbicara.

“Kau, apakah kau sudah akan sembuh?”,tanyaku saat itu. Anak perempuan itu hanya menggeleng pelan.

“Kuharap kau segera sembuh. Karena, mungkin, hari ini hari terakhir aku bisa menemanimu. Kau tahu, aku harus pergi ke rumah sakit yang jauh lebih besar, jauh lebih canggih di tempat yang juga jauh. Aku tak tahu itu di mana.”,aku memandang wajahnya lama saat kuucapkan hal itu.

Air muka anak itu tak berubah. Masih sendu seperti biasanya.

“Xi Luhaan? Xi Luhan??”,aku mendengar suara ibu memanggilku dari luar kamar anak itu.

“Itu suara ibuku. Sepertinya, aku harus pergi.”,ucapku sambil merogoh saku celanakku.

Kuambil dua lempeng keramik China berwarna putih dari sakuku,”Ambillah ini, satu kau bawa, dan satu ku bawa. Percayalah, jika kau terus menjaganya, maka aku akan ada untukmu. Dan kita pasti akan bertemu lagi. Hhhh, kuharap aku bisa mengetahui namamu. Tapi sepertinya, kau memang tak mau memberi tahuku. Jaga dirimu baik-baik.”

Anak itu menunduk dan mengenggam lempengan keramik itu. Kubalikkan badanku dan berjalan beberapa langkah kemudian kubalikkan badanku lagi untuk menatapnya.

“Kita akan bertemu lagi, kan?”,tanyaku ragu.

Lagi-lagi gadis kecil itu hanya menatapku sembari menghembuskan nafasnya. Aku hanya bisa menunduk kecewa karen ia tak kunjung menjawab.

“Sampai jumpa lagi.”,aku membungkukkan badanku sekejap lalu berlari ke luar kamar.

Luhan’s POV end.

Author’s POV start.

“Untuk apa kau bertanya tentang kisah masa kecilku? Kukira kau sangat tidak tertarik akan hal itu dari dulu.”,ucap Luhan sembari menatap Sehun penuh tanda tanya.

“Ehm.. tak apa. Aku hanya, mendadak ingin tahu. Ahya, bisa kulihat keramik itu?”

Luhan mengangguk dan mengeluarkan dompetnya. Tepat di salah satu kantung dalam dompet itu, terseliplah lempengan keramik tipis bergambarkan teratai. Sehun dengan cepat meraih keramik itu.

“Sayang sekali, sepertinya gadis kecil itu sudah meninggal karena penyakitnya.”,ucap Luhan sembari tertunduk lesu.

“Hyeong..”,Sehun memandang keramik itu lekat.

“Iya..?”,sahut Luhan.

“Sepertinya aku haruss…”,Sehun berhenti sejenak untuk memandang Luhan.

“Apa?”

“Sepertinya, aku butuh tempat tinggal selama kabur dari rumah. Dan kebetulan karena aku sudah menyelamatkanmu dari pertunangan bersama Yoona, jadi…”,ucapan Sehun terpotong lagi.

“Jadi apa??”,Luhan tampak mulai tak sabar.

“Jadi aku pinjam dulu keramik ini! Bye!!!”,teriak Sehun sembari berlari kabur dari kejaran Luhan.

“Awas kau Oh Sehun! Jika kau hilangkan, atau kau gadaikan keramik itu, akan kumasak kau menjadi kimbap!!”,kali ini Luhan berteriak mengancam Sehun yang sudah berlari begitu jauh.

_L’s

“Iya Yuri, ini aku sudah dalam perjalanan pulang, kau jangan takut.”,ujar Taeyeon kepada Yuri melalui ponsel.

“….”

“Tenanglah, aku tak apa-apa. Kau ini seperti tengah berbicara pada anak umur 5 tahun. Lagipula ini buan pertama kalinya aku pulang malam.

“….”

“Iya.. iya, aku tahu kau hanya khawatir padaku. Aku tak apa-apa… Jadi.. Oh, astaga!”

“….”

“Tidak-tidak! Aku tidak apa-apa! Bye!!”,Taeyeon memutuskan sambungan telepon begitu saja.

Tangan Taeyeon terburu-buru membuka pintu mobilnya. Raut wajahnya menunjukkan kepanikkan. Satu hal yang ia sadari baru saja terjadi. Ia menabrak seseorang? Ya, kira-kira ittulah yang membuatnya berlari kecil ke depan mobilnya.

“A..astaga?! A..apa anda baik-baik saja? Ya ampun! B..bagai..mana bisa begini?!”,gumam Taeyeon panik.

Taeyeon berjongkok di samping tubuh yang sama sekali tak merespon gumaman Taeyeon. Tangan gadis itu menggerak-gerakkan tubuh di depannya, berusaha membangunkan orang itu.

“Tuan..? Tuaann?? Apa kau benar-benar pingsan? Ya Tuhan, aku harus bagaimana??! Tuan, bangunlah..”,Taeyeon masih berusaha membangunkan orang itu.

“Tuaaaaaan, ku mohon, bangunlah… Astaga, kenapa di sini begitu sepi? Apa yang harus kulakukan? Eh, barang itu.. Itu..”,tangan Taeyeon berhenti menggerakkan tubuh orang di depannya.

Kali ini matanya terfokus pada sebuah benda pipih yang baru saja terjatuh dari tangan orang di depannya.

“K..Kkeramik? K..k..keramik?”,bibir Taeyeon bergetar gugup. Pikirannya berkecamuk tanpa bisa ia kendalikan. Nafasnya naik turun, dan semakin naik ketika benda pipih itu sudah naik dalam genggamannya.

Tangan Taeyeon secara kasar membalikkan badan lelaki yang terlungkup menghadap tanah. Dan bola matanya membesar seketika.

“T..tidak mungkin.. bukankah dia.. ss..sudah mati?”,gumam Taeyeon lirih.

Mata Taeyeon menggenangkan banyak air mata. Ia memejamkan matanya agar air mata itu bisa menetes mengalir membasahi pipinya. Dan pada momen itulah, pria itu, Oh Sehun, tak sanggup lagi menahan diri untuk menyunggingkan smirknya.

‘Semudah ini saja?’,ucap Sehun dalam hati.

<To Be Continued>

FF ini bisa berubah length sewaktu-waktu. Karena aku nggak tahu bakal ngasih ini berapa chapter. Tolong support aku, jadi bakal terus aku lanjutin sampai end. Maklum ini kebiasaanku nggak nyelesaiin cerita yang terlalu panjang. BTW, maaf kalo ntar chapter 2 nya agak lama. Kesibukan sebagai calon alumni SMA. Oya, aku 96 line, jadi daripada panggil thar thr thar thor, kebetulan aku bukan cewek kothor, panggil aja lily, atau kakak, adek, atau apa ajalah yang penting gak jelek. Wkwkwk.. peace – – v  boleh follow @lilyfatimah biar bisa ngingetin aku buat nglanjutin FF ku. Makaseeeh buat yang dah baca dan comment. ^^

50 thoughts on “[Freelance] The End of Fairytale (Chapter 1)

  1. aaaa kakak!! ini keren!! aa nyesel baru baca T T aaaaaaaaa !!!!! astaga oh sehun seharusnya kau pertemukan mereka bukan berpura pura jd luhan huweeee T T

  2. maknae mw nyamar????. OMG
    TIDAKKKKKKKK EVIL HUNNIE. klw cma mainin hati eon tercintaku. kau akan kubunuh.#disateEXOTIC#Peace V
    LANJUTTTTTTTTTTT
    Lagi ska sma ff HanYeon nih.
    bnyakin ff HanYeon yaaaaa saeng

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s