[Freelance] Princess Without Crown (Chapter 1)

prince-without-crown1

Princess Without Crown [1st Shot]

Princess Without Crown -1st Shot-

Staring by Choi Sooyoung | Park Chanyeol | Other

Feeling in Sad | Romance | Other

Ratted to PG

Written by hananhee

Poster by AuliaJulia@HagFamily

As long as TwooShot

Don’t be Silent reader, Don’t be Plagiarism!

 Warning : Typo Everywhere.

….

Happy Reading, and leave your comment.

Hope you like it!

“Apakah tahta lebih buta dari cinta?” –Park Chanyeol

.

Hananhee © 2014

.

.

Tok… Tok…

Untuk kali ini, ketukan pintu itu tak lagi hanya sebuah ketukan. Ada suara pekikan yang melengkapi ketukan pintu itu. Membuat orang di dalam ruangan itu setengah mengeram berjalan mendekat pintu itu. Dia, Choi Sooyoung.

Tak tahukah orang itu bila pemilik kamar ini sedang tak di tempat? Tak tahukah bila Sooyoung tengah beristirahat? Untuk memendam semua kesebelannya, Ia hanya berdecak dan berjalan dengan menyeret kakinya, merasa terpaksa.

“Yyak! Chorong noona! Appa memanggilmu!”

Deg!

Langkah Sooyoung terhenti. Tubuhnya membeku seketika. Dadanya terasa sesak. Batinnya terasa perih.

Bukan!

Bukan karna frasa dari suara itu yang menjadi masalahnya. Tapi,

Suara itu.

Iya, suara itu.

Matanya memanas seketika. Kakinya membeku. Dadanya makin sesak, dirasakan.

“Park Chanyeol.” Lirihnya. Tersirat kepedihan di dalamnya. Ada kerinduan juga, di dalam frasa itu.

Hal yang Ia takutkan terjadi. Semacam mimpi buruk, dirasanya.

= Princess Without Crown =

Dan inilah, hal yang selama empat tahun ini Ia takuti.

Berdiri di hadapan sosok ini membuatnya lemah. Tatapan dalam milik pemuda di hadapannya itu membuatnya makin tak sanggup berdiri menyanggah tubuhnya. Mata yang berkaca itu makin membuatnya tak kuat menahan pertahanannya. Bahkan mengangkat kepalanya untuk menatap pemuda di hadapannya ini terasa sangat berat. Semampunya, Ia mengangkat kepalanya memberanikan diri untuk beradu tatapan dengan pemuda di hadapannya ini.

Bogoshipo.”

Dan kini, satu kata yang terucap dari mulut pemuda itu berhasil meruntuhkan pertahanannya. Kepalanya tetap terdongak menatap pemuda itu. Membiarkan pemuda itu mengerti perasaannya lewat air matanya yang telah tumpah melintas di kedua belah pipi chubby-nya. Sebuah harapan kecil, pemuda itu mau meninggalkannya. Ya, itulah harapan kecil Sooyoung saat ini.

Bogoshipo.”

Kembali, gendang telinganya menangkap suara lirih milik pemuda di hadapannya ini. Suaranya terdengar parau kali ini. Tersirat sejuta kerinduan di dalam manic mata itu. Suaranya yang lembut membuat air matanya kembali terjun. Meninggalkan jejak pada kedua belah pipinya.

Pemuda di hadapannya kini melangkah mendekat kearah Sooyoung. Tak terlelu dekat. Hanya satu langkah lebar.

Tidak!

Sooyoung tak menginginkan ini. Ini bukan hal yang baik.

Kaki Sooyoung merespon dengan berjalan mundur memberi jarak pada pemuda itu. Meninggalkan air mata sebagai jejak pada pipinya.

“Choi Sooyoung.”

Pandangannya mulai remang. Air matanya siap terjun lagi.

Suara pemuda itu terdengar parau. Tersirat kerinduan di dalam nada bicara pemuda itu. Bahkan Sooyoung-pun tak sanggup untuk membalas setiap patah kata yang pemuda itu ucapkan. Terlalu berat untuknya agar mulutnya bergerak mengeluarkan sepatah kata.

Saranghae.”

Deg!

Ia tak kuat lagi. Demi apapun, ini adalah hal terberat untuknya.

Isakannya yang sedari tadi Ia simpan agar tak bersuara, kini keluar. Membuat keadaan penuh kepedihan tercipta diantara mereka. Tangannya digunakan untuk membekam mulutnya. Berharap isakannya tak lebih keras terdengar. Bagai air terjun, air matanya turun dengan deras membuat pipinya basah.

Inilah mimpi buruknya.

Ini bukanlah hal yang baik.

Saranghae.” Pemuda itu berujar dengan air mata yang ikut terjun menemani keluarnya kata itu dari mulutnya. Membiarkan air mata itu menjadi saksi atas perasaannya saat ini. Sebuah saksi yang selama ini Ia simpan untuk Choi Sooyoung.

“Park.. Chanyeol.” Kata itu terdengar samar oleh isakan Soyoung. Meski begitu, pemuda itu masih sanggup mendengarnya dengan baik. Mendengar setiap nada bicara yang Sooyoung keluarkan. Nada bicara yang Ia rindukan. Walau itu hanya satu frasa. Karna Ia tak mau menyia-nyiakan gadis di hadapannya itu. Karna gadis itu adalah harapannya selama ini.

Walau perasaan yang Ia miliki kini, tengah di tentang oleh takdir.

“Lupakan aku.”

.

Sooyoung masih terduduk di balkon itu. Masih dengan posisinya. Mendekap kedua kakinya.

Matanya menatap kosong kedepan.

Bukan panorama indah yang Ia lihat. Tapi kegelapan yang kini Ia ratapi. Kegelapan penuh kesalahannya, kerinduannya, perasannya, dan harapannya. Ya, Ia hanya bisa meratapinya kini.

Dia melakukan hal seperti ini setelah berpisahnya dirinya dengan pemuda itu. Setelah frasa yang menurutnya kasar itu keluar. Dan itu hanya perasaannya. Yang Ia ucapkan bukanlah sebuah frasa kasar seperti yang kalian fikirkan.

Hanya saja, itu terdengar kejam saat Ia yang mengucapkannya.

Di dalam diamnya, Ia tengah memutar semua memorinya mencoba menemukan jawab atas tanyanya.

‘inikah kesalahanku?’

Ya, sebuah pertanyaan yang sulit untuk di jawab.

Di tengah heningnya, ada kepediha yang tersimpan.

Angin malam musim gugur dengan baik hatinya membuat dirinya merasa sedikit tenang. Membiarkan panas batinnya kini menurun. Mencoba melupakan semuanya. Mencoba memulainya dari awal. Lukanya yang tercipta itu bukan alasan untuknya agar terdiam dalam perasaannya.

Karna hidup adalah sebuah keseimbangan.

Bila Ia telah terluka, maka Ia juga harus kembali bangkit.

Sebuah suara lembut yang Ia kenal betul itu terdengar. Membuat dia menyimpan semua pemikirannya saat itu dan tersenyum menyambut hadirnya pemilik suara itu.

“Apa yang kau lakukan, soo?” Gadis itu duduk bersila di samping Sooyoung. Tersenyum menyambut senyuman yang Sooyoung berikan.

“Hanya mencari pemandangan yang lain.”

“Kau berusaha membohongi tuan Putri Park Chorong, eum?”

“Aku jujur.” Kilah Sooyoung. Gadis yang menyebut dirinya sebagai Park Chorong itu mendengus sejenak.

“Aku sudah bilang, kau ini tak berubah. Sekali kau adalah pembohong yang buruk, maka selamanya begitu.”

Sooyoung hanya terkekeh ringan mendengar respon yang Chorong berikan.

“Selalu saja.” Guman Sooyoung.

Chorong hanya terdiam dan membidikan bahunya tanda ke-tidak mau mengertiannya. Chorong terdiam, terbawa suasana keheningan yang sedari tadi Sooyoung rasakan. Dalam kesunyian yang Chorong tampilkan, ada sebuah pemikiran disana. Pemikiran yang sedari dulu Ia fikirkan.

“Sebenarnya, apa hubunganmu dengan adikku?”

Asal kalian tahu, Chorong tidaklah sebodoh itu sampai tak mengerti apa yang terjadia antara orang-orang terdekatnya.

“Aku?” Bertanya dengan wajah polosnya saat kaget dan kemudian tertawa ringan sendiri. Terdengar hambar untuk saat ini.

“Apa maksudmu?”

“Aku tak butuh pertanyaanmu. Aku hanya butuh jawabanmu.” Terdengar tegas.

Sooyoung tahu, saat ini Chorong tengah bertanya dengan serius dengannya. Tak ada jalan keluar untuk menghindar bila Chorong sudah seperti ini. Hanya sebuah pengakuan yang harus Sooyoung sampaikan untuk saat seperti ini.

Hingga akhirnya Sooyoung hanya bisa menggaruk tengkuknya merasa bingung. Ini bukanlah hal simple untuk di ceritakan secara gamblang. Tak se-mudah seperti apa yang kalian fikirkan.

“Tak ada yang terjadi.”

Sekali pembohong yang buruk, maka seterusnya begitu. Ya, ini sangat buruk untuk disebut sebuah pernyataan. Hingga akhirnya Chorong mendesah. Perasaan lelah yang Chorong rasakan membuatnya semakin ingin segera tahu permasalahan yang sesungguhnya tanpa mengulur waktu terlalu banyak seperti ini.

“Berhentilah bersikap seperti ini, soo. Kau membuatku lelah.” Terdengar nada kesal. Jelas sekali, itu terdengar.

Sooyoung hanya menelan saliva-nya.

“Aku..”

“Ayolah, soo. Apa sulitnya mengakui ini pada sahabatmu sendiri, eoh?” Chorong memandang sahabatnya itu dengan kesal. Tentu saja, sahabatnya itu selalu tertutup untuk masalah ini pada Chorong. Bahkan Chorong tak habis pikir dengan Sooyoung saat sudah menyangkut masalah namdongsaeng-nya, Chanyeol. Terlihat asing bila sudah mencapai topic itu.

“Aku..”

Chorong menunggu kalimat berikutnya yang akan terucap dari mulut Sooyoung. Bahkan perutnya terasa melilit merasa tak tahan lagi. Jantungnya berdetak cepat saat kata yang Ia tunggu tak kunjung keluar.

Hingga akhirnya Sooyoung mendongak dengan kepercayaannya. Memandang Chorong mantap. Dapat dipastikan, setelah ini dia akan mengungkapkan frase yang selama ini menjadi rahasianya. Inilah hal yang selama ini Chorong harapkan. Menyenangkan sekali melihatnya.

“Park Chorong, aku_”

“Noona!”

Satu kata yang berhasil memecah keadaan yang terjadi antara Sooyoung dan Chorong. Suara berat khas pria itu terdengar jelas.

Satu kata itu berhasil menyelamatkan Sooyoung dari keadaan yang tak nyaman itu. Dia patut beruntung. Tapi ini patut untuk Chorong runtuki.

Appa menelfonmu.” Ujar suara itu. Mungkin Ia tak mau disebut perusak suasana, maka Ia mencari alasan. Dan bukan itu alasan sesungguhnya memecah keadaan itu. Terdengar seperti seorang yang munafik, bukan?

Chorong memandang siempu suara itu bengis. Tak tahukah pemuda itu bila mendapat kejujuran dari Sooyoung untuk masalah seperti ini sangat sulit? Dan dia merusaknya setelah Sooyoung mau mengungkapkan kesaksiannya? Oh! Sial sekali Park Chorong hari ini.

“Tak bisakah kau tak hadir di momentku bersama Sooyoung, euh?” Ujar Chorong bengis. Matanya berapi-api seakan Chanyeol adalah perampok yang tak mau mengakui perbuatannya. Apa ini terdengar berlebihan? Tapi seperti ini adanya.

Pemuda itu hanya membidikan bahunya tak mau mengerti. Kemudian berbalik dan menelungkupkan tangannya pada saku celananya. Terlihat cool. Jujur saja, Chorong  merasa jijik bila melihat Chanyeol bersikap sok cool seperti itu.

“Cih. Sok sekali dia.” Bukan Sooyoung yang mengumpat. Tapi Chorong.

Chorong mengalihkan pandangannya menghadap Sooyoung. Tersenyum simpul, setelahnya. Dalam manic mata indahnya, tersimpan kekecewaan disana. Tentu saja.

“Maaf, aku harus pergi sekarang. Kita akan bertemu di jam makan malam, nanti.” Satu frase terakhir sebelum akhirnya Chorong meninggalkan Sooyoung seorang diri. Membiarkan angin malam musim gugur menemani hening yang Sooyoung rasakan.

Sooyoung menghembuskan napasnya. Mungkin sahabat sejatinya saat ini adalah hasratnya dan keheningan. Bahkan Ia tak lagi perduli dengan angin musim gugur yang kini makin besar. Tak lagi terasa menenangkan. Bahkan bisa dibilang ini malah membuatnya terasa kedinginan. Ditambah lagi, kini Ia hanya memakai kaos biasa dengan lengan diatas siku, dan hotpans diatas lutut.

Perasaan kalut yang kini Sooyoung rasakan tak seberapa dengan besarnya angin musim gugur yang menebus kulitnya itu. Rasa-rasanya, waktu tak lagi berjalan. Otaknya terlalu sibuk memutar semua bayang memori yang terus menerus mengganggu ketenangannya. Bayang tentang Park Chanyeol.

Memorinya beberapa saat yang lalu. Memori saat dirinya mengucapkan kalimat yang menurutnya kejam. Memori yang masih hangat Ia rasakan. Memorinya tepat saat dirinya tengah berhadapan dengan Park Chanyeol. Memori yang selama ini menjadi mimpi buruknya.

“Saranghae.” Seakan, gendang telinganya tengah menangkap bisikan dari suara Chanyeol. Bisikan yang sama dengan beberapa saat yang lalu.

Cukup dengan sebuah ‘halusinasi’ yang Ia rasakan saja, air matanya kini telah terjun. Meninggalakan penututuran terpendam dalam benaknya. Meninggalakan semua perasaan bersalah yang Ia rasakan.

“Nado, Saranghae.”

.

Sooyoung berjalan menunduk. Bukan karna malu atau semacamnya.

Hanya saja, mood-nya masih di dalam keadaan buruk.

Tap.

Langkahnya terhenti. Bukan karna kakinya yang mendadak kram.

Hanya saja, dia tengah di dalam mimpi buruknya kembali. Ya, mimpi buruk bertatap dengan pemuda hadapannya itu. Bertatap dengan iris mata yang bersinar yang mampu membuatnya lemah. Membuatnya kembali menangis dan kembali terpuruk.

“Choi Sooyoung.”

Sooyoung menelan saliva-nya. Batinnya berharap tak terulangnya kejadian seperti beberapa waktu lampau. Dan semua itu adalah harapan yang terkabul, untuk beberapa saat.

Karna hidup tak seindah mimpi-mimpi kita.

“Cinta itu buta.”

Ya, Sooyoung paham betuh pepatah itu. Tanpa perlu di-jabarkanpun Sooyoung telah mengerti hal itu.

“Tapi, apakah tahta lebih buta dari cinta?”

Tahta? Enlahlah, Sooyoung tak tahu. Hanya hati kecil keduanya yang bisa menjawab tanya itu.

“Takdir itu kejam.” Kali ini bukan Chanyeol yang kembali berargumen. Tapi, Sooyoung.

“Dan kehidupan adalah takdir yang berputar.” Cukup pandai merangkai kata menjadi kalimat. Cukup dengan frasa itu, tersirat betul kelamnya takdir mereka berdua.

“Jadi, aku mohon. Jangan lagi menentang takdir atau kau akan menjadi kejam-”

“Aku lebih memilih menjadi kejam dan mendapatkanmu.”

Dan kini, harap Sooyoung hanya sebuah angin yang berhembus. Semuanya kemabli terulang. Terulangnya buncahan keegoisan dan harapannya.

“Aku mohon. Jadilah Park Chanyeol seperti 4 tahun lalu.”

“Aku menjadi seperti ini karnamu. Kau tahu?”

Sooyoung terdiam. Matanya panas. Entah kenapa, berhadapan dengan Chanyeol adalah kunci utama untuk menjatuhkan air mata penuh luka itu. Cukup iris mata milik Chanyeol.

“Karna kau adalah obsesiku.”

Ini adalah kesalahan. Keduanya tahu betul hal ini.

Kesalahan karna sebuah takdir.

= Princess Without Crown =

Chorong mengacak rambutnya. Rasa frustasi dan kebingungannya kini telah membuatnya tak lagi perduli sekitarnya. Bahkan Ia tak perduli bila kini dirinya tengah berada di tengah-tengah keramaian Namsan Tower. Rasa-rasanya, pandangan aneh dari orang lain itu hanyalah sebuah lukisan yang tak berarti untuk difikirkan.

Tangannya kembali berkeliaran mengetuk-ngetuk ponselnya. Harapan terakhirnya, mungkin.

“Ayolah, Choi.” Lirihnya. Terdengar harapan di dalam suaranya yang gusar.

Pupus sudah.

Harapan terakhirnya hilang. Tak ada jawaban dari orang yang Ia tuju. Hanya terdengar suara operator yang keluar dari ponselnya. Bahkan rasanya, Ia ingin sekali memukul pemilik suara operator itu karna telah membuat jantungnya makin cemas.

Mungkin, bila dia sudah kehilangan ingatan tentang tahta-nya sebagai seorang Putri Korea Selatan, dia akan menjerit histeris layaknya orang gila.

Hingga dia hanya bisa menggigit jarinya. Tak perduli bahwa jarinya telah memerah. Pasti itu sakit.

Rasa-rasanya dia ingin sekali menangis sekarang juga.

“Sooyoungie, eoddika?”

.

Chanyeol masih menggerakan kaki panjangnya menebus angin musim gugur di tengah-tengah keramaian Namsan Tower. Bahkan semua perasaan perih yang sempat Ia rasakan kini sirna. Hanya ada perasaan cemas dan gundah. Hanya ada satu yang ada di fikirannya.

Bakhan semua orang-orang yang memandangnya kagum, kaget bahkan senang-pun tak ada artinya. Semuanya telah buta setelah dirinya mendengar kabar yang tak pernah Ia fikirkan sebelumnya. Seakan kini Ia tengah terjebak di dalam labirin gelap gulita tanpa setitikpun cahaya. Karna, satu-satunya cahaya untuknya adalah satu sosok yang selama ini Ia harapkan.

Choi Sooyoung.

Ya, satu nama penuh kenangan.

Sosok yang kini tengah Ia harapkan kehadiriannya dihadapannya. Tak perduli bila Ia akan sakit atau bahkan terpuruk lagi. Itu tak masalah. Asalkan, sosok itu sekarang berdiri dihadapannya dan mengusir semua perasaan cemasnya.

Ya, semua telah buta. Bahkan sekarang detik yang terbuangpun tak lagi terasa baginya.

Hingga akhirnya pencariannya terhenti seketika saat dirinya penemukan punggung sosok yang tak lagi asing baginya.

Seakan kini, bumi tak lagi memiliki lagi gaya tarik bumi yang membuatnya berhasil menapak pada tanah. Senyuman yang sedari tadi Ia simpan terukir jelas. Perasaan leganya-pun membuncah. Bahkan Ia berani bersumpah bahwa dia tak lagi bisa menyimpan perasaan bahagiannya.

Hingga akhirnya hatinya menuntun tubuhnya untuk berlari menyusul sosok yang selama ini menjadi harapannya. Sosok yang berhasil membuatnya menangis seketika. Sosok yang berhasil membuatnya menjadi buta seketika. Sosok yang membuatnya mati rasa.

Memeluknya erat. Membiarkan semua perasaan bahagia, lega, kecewa, dan perihnya berpadu menjadi sebuah pelukan hangat yang selama ini tak pernah Chanyeol lakukan untuk siapa-pun. Hanya untuk sosok ini.

“Aku mencemaskanmu.” Bisiknya.

Sooyoung hanya terdiam. Dalam diamnya, dirinya berusaha untuk memadamkan seluruh perasaan gugupnya. Perasaan yang membuatnya melupakan hal yang selama ini membuatnya menjadi buta akan cinta dan kasih sayang.

Dirinya hanya tersenyum dalam diamnya. Semua perasaan yang selama ini Ia rasakan kini meluap membuncah membuat sebuah takdir tak lagi berarti baginya.

Karna, yang Ia inginkan hanyalah Park Chanyeol.

Bukan tahta, harta, pujian, ataupun kehormatan. Bukan semua hal selama ini membuatnya terbelenggu dalam sebuah labirin yang membuatnya berada ditengah-tengah harapan dan kenyataan. Bukan semua hal yang selama ini hanya membuatnya terdiam dan menjadi sosok antagonis. Bukan semua itu.

Hanya sebuah cinta yang tulus dari Park Chanyeol. Tak lebih dari itu.

.

Chanyeol masih tersenyum. Tersenyum menghadap sosok Sooyoung yang kini tengah terlelap dalam tenang di bahunya. Tersenyum yang mungkin akan membuat dirinya lebih terpuruk.

Membiarkan senyumannya hanya menjadi sebuah memori bagi sosok ini. Senyum yang hanya bisa Ia ukir saat memandang paras cantik milik sosok ini. Membiarkan semua yang Ia lakukan hanya bisa menjadi memori di dalam sosok ini. Membiarkan senyumannya menjadi sebuah kenangan yang mungkin tak akan sosok ini fikirkan.

Karna senyuman itu adalah senyuman penuh luka dan kepedihan.

“Apa kakakku belum tahu tentangmu?” Gumannya. Berguman dengan kehangatan di dalam manic matanya. Membiarkan kini air matanya mulai menggenang.

“Apa kita tak akan bersatu?”

Tak butuh kedipan, air matanya kini menetes. Menetes sebagai bentuk perasaan yang selama ini Ia simpan dalam diam.

Air mata yang hanya bisa menetes setiap takdir menentang satu-satunya harapannya. Air mata yang menetes karna sebuah alasan yang selama ini Ia pertanyakan. Takdir tentang jawaban atas labirin yang menjebak dirinya.

“Apa karna sebuah tahta?”

Lagi, air matanya menetes. Kini air mata itu menetes tepat di pipi chubby Sooyoung.

Mengalihkan kepalanya untuk menghindari semua hal yang selama ini menjadi fikiran yang tak pernah Ia harapkan.

Diam bukan berarti tak mengerti. Karna Sooyoung tak sedang tertidur sedari tadi. Ia mendengar setiap patah kata yang Chanyeol ucapkan. Bahkan dengan jelas, Sooyoung merasakan napas tenang Chanyeol yang menerpa wajahnya halus.

Semuanya, Ia merasakannya. Bahkan, Ia tak sanggup untuk menyimpan air matanya.

Semuanya terlalu berat untuk Ia simpan. Hingga air matanya-lah yang menyampaikan seluruh beban batinnya benjadi luka pada air mata itu.

Menjadi luka segar karna sebuah takdir.

TBC

4 thoughts on “[Freelance] Princess Without Crown (Chapter 1)

  1. Ya ampun author ini sedih banget 😦
    chanyeol terobsesi banget sama sooyoung
    apa karna chanyeol gak punya apa apa dan sooyoung orang kaya makanya mereka gak direstuin
    aduhhh kasian
    lanjut yaa thor

  2. Dsni apa yng jdi orng kya itu chanyeol oppa??sdiihh…:'(,kshan soo unnie sma yeollie oppa..:(,mrka kya’a gk drstuin…:(

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s