[Freelance] Hatred (Chapter 2)

hatred poster

Title
HATRED : Way to the War

 

Author
L’Cloud

 

Length
Multichapter

 

Rating
T

 

Genre
Romance

Angst

Fantasy

School Life

 

Main Cast
Taeyeon

Jessica

Sunny

EXO

 

Author Note

Akhirnya aku melanjutkan FF ini setelah mandeg karena di rumah kemalingan dan sekaligus ada UAS. Bagi yang udah lupa sama ceritanya, saking udah dari jaman baheula, bisa baca lagi Hatred Chapter 1. Maaf Typo atau ceritanya makin anehh.. ^^ Happy reading.. ^^

 Hatred 1 Preview_

“Apa kau baik-baik saja?”,tanya Taeyeon.

Chanyeol membulatkan matanya kemudian tersenyum.

“Sekarang lebih baik.”,ucap Chanyeol.

Tanpa mereka sadari sepasang mata memandang mereka dengan penuh tanya.

‘Apakah malaikat boleh jatuh hati?’,Minseok menggumam sangat pelan sembari berjalan menuju kursinya.

#Hatred2

“Aaak, payah! Ada apa dengan mereka? Apa semua anak manusia suka melakukan hal itu?”,Minseok meraba wajahnya yang memar sembari memandang cermin di depannya. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.

“Suka melakukan apa? Siapa yang kau maksud anak manusia?”,seorang gadis melangkah keuar dari sebuah bilik kamar mandi.

“Ee.. maksudku siswa-siswa itu.”,jawab Minseok gugup.

“Apa yang dilakukan seorang siswa laki-laki di kamar mandi perempuan? Yea, aku tahu kau cukup cantik untuk masuk ke sini. Tapi, seharusnya kau mengenakan rok agar tak ada yang curiga dengan perbuatanmu.”

“T..ttunggu! Kamar mandi perempuan? Maksudmu.. Tapi, mereka bilang..”

“Oh, astaga.. Pasti bocah-bocah brandal itu yang mengerjaimu. Ckckckck! Kenapa kau ini polos sekali? Dan lihatlah wajahmu. Ckckck! Jika kau luka-luka seperti itu kau seharusnya pergi ke ruang kesehaan, bukan.. ke mari.”

Minseok memandang dirinya di cermin.

sebenarnya aku tak butuh pergi ke ruangan itu. Hanya luka kecil yang diciptakan manusia.”,ucap Minseok dalm hati.

“Hey! Apa yang kau lamunkan?! Ayo ke ruang kesehatan!”,gadis itu menarik tangan Minseok.

“Tt..tunggu!!”,Minseok menahan langkahnya.

Gadis itu tersenyum lembut dan berujar,”Tenang, aku akan menunjukkan ruangan yang benar. Aku bukan anak-anak brandal itu.”

Minseok mengangguk dan menuruti ajakan gadis itu.

#Hatred2

“Jadi anak-anak nakal itu bernama Sehun, Suho, dan Kai?”,tanya Minseok.

“Iya, benar. Lebih baik kau menjauhi mereka. Mereka sangat tidak ramah pada anak baru sepertimu.”

“Kukira mereka hoobae.”

“Ya, memang. Tapi begitulah mereka. Tak tahu sopan santun.”,ujar gadis itu seraya mengusapkan antiseptik pada luka di lengan Minseok.

“Ee.. Kim Taeyeon ssi, apa tak apa jika kau mengobatiku seperti ini?”

“Tentu saja, lagipula, aku memang sering membantu suster yang bekerja di sini. Ah, dan kurasa kau tak perlu memanggilku dengan cara yang terlalu formal. Panggil aku Taeyeon saja.”,jelas gadis itu.

“Eumh, Taeyeon ssi, aku rasa Park Chanyeol tak akan suka melihatmu denganku seperti ini.”

“Kau tak perlu gelisah seperti itu Minseok ssi. Nah sudah bersih, berikan aku tangan yang satunya.”

“Ahya, silakan.”,Minseok menyodorkan tangan kirinya.

Mata Taeyeon terhenti sejenak menatap arloji di tangan kiri Minseok.

“Apa ada masalah?”,Minseok mencoba menyadarkan Taeyeon dari lamunan.

“Eeh, tt..tidak. Hanya saja, mm, inii, arloji yang sangat bagus. Maksudku batu sapphire di arloji itu, sangat mirip dengan bandul liontinku.”,Taeyeon menunjukkan liontin yang melingkar di lehernya pada Minseok.

Minseok tersenyum penuh arti,”Sejak kapan kau memilikinya?”

“Sejak kecil. Sangat kecil. Nenekku memintaku untuk selalu menjaganya. Dan lagipula, liontin ini memang selalu kembali kepadakku, sesering apapun aku menghilangkannya.”,Taeyeon tertunduk lesu.

“Suatu saat kau pasti akan menyadarinya juga.”,gumam Minseok pelan.

“Apa yang barusan kau katakan?”

Lagi-lagi Minseok tersenyum penuh arti,”Kurasa tangan kiriku tidak apa-apa. Aku akan ke kelas sekarang. Gamshahamnida Kim Taeyeon ssi.”

Taeyeon menatap kepergian Minseok dengan penuh tanda tanya.

“Siapa sebenarnya aku ini? Kenapa aku..”,Taaeyeon menghembuskan nafasnya sejenak,”berbeda?”

#Hatred2

“Sudah kau dapatkan gadis itu?”,seseorang yang tengah menggunakan tudung menatap intens anak buahnya.

“Maafkan kami Lord. Kami, gagal. Beberapa di antara kami bahkan dihancurkan, menjadi potongan-potongan daging. Kutukan yang ia lemparkan pada kami, benar-benar tak terduga. Kami, tak memperhitungkan keuatan bawah sadarnya.”

“Hmh. Tentu saja, itu karna kalian terlalu lemah. Kalian sudah tahu? Sepertinya malaikat berhati es itu mengirimkan sapphire baru untuk Kim Taeyeon.”

“Kami.. sudah tahu.”,lelaki itu tertunduk tak berani menatap Lordnya.

“Lalu, apa yang akan kalian lakukan? Sepertinya kalian terlalu lama untuk menunggu. Haruskah aku..”

“Ampuni kami Lord! Beri kami sedikit waktu! Kami akan..”

“Ssssttss!”,sang Lord berdesis meminta anak buahnya diam. Ia mengalihkan pandangannya, kemudian menatap tajam seorang gadis yang menggenggam liontin sapphire dengan sangat ketakutan.

“Apa yang kau lakukan di sini, Angel?”,ucap sang Lord misterius. Tatapannya menusuk tajam ke arah mata gadis itu.

Mulut gadis itu bergetar sembari menggumam,“Kk..Kkaau??”

#Hatred2

“Semalam aku bermimpi buruk.”,ucap Taeyeon lesu.

“Tentang apa? Apa??”,Sunny begitu antusias.

“Eumh..”,Taeyeon memain-mainkan kedua telunjuknya lalu menggeleng pelan,”L..ll..lupakan!”

“Aaaah! Ceppat ceritakan!”,Tao menarik-narik baju Taeyeon.

Taeyeon menggeleng pelan.

“Aku harus pergi.”,ucap Taeyeon datar kemudian ia beranjak pergi meninggalkan Sunny, Tao, dan Baekhyun yang sedari tadi hanya diam.

Sunny memandang Taeyeon yang berjalan menjauh menuju perpustakaan. Ia memejamkan matanya sejenak.

“Apa kalian tidak merasa dia berubah?”,tanya Sunny.

“Berubah? Seperti apa?”,Tao membalik pertanyaan.

“Berubah. Menjadi seseorang yang berbeda. Kalian tahu? Kurasa dia semakin introvert. Apa kalian tidak berpikir seperti itu?”,Sunny memandang Baekhyun dan Tao bergantian.

“Ya.. sebenarnya kupikir juga begitu. Bagaimana menurutmu Baek?”

“Apa? Taeyeon? Eemh, kupikir, ya.. mungkin memang begitu. Dia, seperti bukan.. dia.. sebenarnya.. eeeh, kurasa aku harus pergi dulu.”,Baekhyun beranjak pergi meninggalkan Tao dan Sunny yang keheranan dengan ucapan Baekhyun.

“Apa menurutmu dia juga berubah?”,Tao angkat bicara.

“Ya, bisa jadi. Ayo kembali ke kelas.”,Sunny mengendikkan bahunya lalu menarik tangan Tao.

#Hatred2

Taeyeon menatap buku ditangannya seolah tengah membaca. Namun pikirannya melayang-layang kembali kepada mimpinya semalam.

“Siapa sebenarnya kau?”,Baekhyun duduk di samping Taeyeon.

Taeyeon memalingkan kepalanya menatap Baekhyun.

“Aku.. seandainyaa aku tahu. Siapa sebenarnya aku ini. Sejak kapan kau menyadari bahwa aku, berbeda?”

“Sejak..”,ucapan Baekhyun terhenti. Ia merogoh saku celananya kemudian melanjutkan ucapannya,”sejak aku sadar bahwa apa yang kau miliki, dan apa yang kumiliki, sama.”

Taeyeon tersentak melihat sebutir sapphire dalam genggaman Baekhyun.

“Tapi sapphire itu, apa yang membuat sapphire kita sama? Bukankah di dunia ini, ada begitu banyak sapphire? Apa yang membuat sapphire kita sama?”

Baekhyun meletakkan saapphirenya tepat di genggaman Taeyeon.

“Kau tak menyadarinya?”,Baekhyun menatap Taeyeon.

Taeyeon menggeleng sesaat kemudian matanya terbuka lebar.

“Aa..aa..astaga.. I..ini, ber..de.tak?”,Taeyeon bertanya tak percaya.

“Ya, dan hari di mana aku menemukan liontinmu terjatuh di jalan, hari itu, aku menyadari, liotinmu, juga berdetak.”

Taeyeon menyentuh liotinnya kemudian menatap Baekhyun,”aku baru menyadariya.”

“Jadi apakah kau tahu siapa dirimu?”,Baekhyun bertanya.

Taeyeon hanya menjawab dengan gelengan kepala. Baekhyun menghembuskan nafasnya kecewa.

“Itu artinya aku juga belum akan tahu siapa aku ini sebenarnya.”,ucapnya lesu.

“Semalam aku bermimpi buruk. Aku melihat sekelompok orang yang melingkari perempuan bertudung. Mereka berbicara tentang sesuatu yang begitu penting. Ketika perempuan bertudung itu menyadari keberadaanku di sana, ia menyeringai kemudian bertanya padaku mengapa aku ada di sana. Anehnya, ia memanggilku..”,Taeyeon menarik nafas sejenak,”Angel. Ia memanggilku Angel.”

“Angel? Malaikat? Lalu mengapa kau menutupi mimpimu dari aku, Tao, dan Sunny?”,tanya Baekhyun bertubi-tubi.

“Karena tahukah kau siapa perempuan bertudung itu?”

Baekhyun menggeleng penuh rasa ingin tahu.

“Diaa,, Ss..ssunny.”

Baekhyun menghembuskan nafasnya kemudian tersenyum.

“Kupikir itu tidak mungkin. Toh itu hanya mimpi. Jadi, sebaiknya kau tak perlu berpikir seserius itu.”,ucap Baekhyun seraya berdiri.

Baekhyun membalikkan badannya menuju pintu keluar perpustakaan.

“Apa itu berarti kita juga bukan, Angel?”,tanya Taeyeon menghentikan langkah Baekhyun.

Baekhyun terdiam sejenak kemudian menggeleng tanpa menatap Taeyeon.

“Mungkin bukan.”,ucapnya singkat.

#Hatred2

Tao memandang dirinya di cermin kamarnya. Ia menepuk-nepuk ototnya penuh kebanggaan hingga tatapannya terhenti pada sebuah batu yang menancap di ototnya.

“Ini seperti wolverine yang memiliki cakar besi di punggung tangannya. Tapi, apa yang bisa dilakukan batu sapphire ini? Mengapa batu biru ini hanya diam di tempatnya? Apa aku ini adalah seorang mutan? Apa aku bisa berubah menjadi superhero atau sejenisnya?”,Tao menghembuskan nafasnya sebal.

“Mengapa hanya aku satu-satuya orang di dunia ini yang aneh seperti ini?”,ia mengenakan bajunya lagi.

‘tok.. tok.. tok..’, terdengar suara pintu diketuk.

“Masuklah Kai!”,ujar Tao.

Tak perlu menunggu lama, Kai, sudah masuk kamar itu kemudian berbaring dengan santai di kasur empuk milik sepupunya itu.

“Kudengar kau baru saja menghajar anak kelas 1.”,ucap Tao kemudian ikut berbaring di kasur itu.

“Ya, begitulah, dia menggoda pacarku.”

“Kau di skors?”

“Tidak. Sepertinya mereka sadar bahwa menskors ku tak akan merubah apapun dariku. Dan mereka, memberiku setumpuk tugas yang tak bisa dan tak akan kukerjakan.”

Tao tertawa ringan.

“Sepertinya kau sedang merayuku untuk membantumu mengerjakannya.”,ucap Tao tanpa menghentikan tawa renyahnya.

“Ya, begitulah kakak sepupuku yang paling kusayang. Malam ini, aku ada janji dengan Suho dan Sehun. Kuharap kau akan sepenuh hati mengerjakannya.”,Kai bangun dari tidurnya.

“Tentu saja. Tapi semua ada harganya Kai. Kau ingat aturan mainnya bukan?”,Tao ikut baangun dan duduk di samping Kai.

“Iya.. iya.. aaku ingaaat.. apa yang kau inginkan?”

“Aku, belum tahu. Jika suatu saat aku sudah tahu, aku akan memberitahumu.”

“Baiklaaaahh..”,Kai berdiri dan bersiap keluar kamar. Matanya tiba-tiba berhenti pada meja belajar Tao.

Ia mendekat ke meja belajar itu kemudian mengambil kunci motor yang tergeletak di atasnya dan tersenyum.

“Kupinjam motormu juga!”,lalu ia berlari keluar kamar sebelum Tao melarangnya.

“Hey, kembalikan! Ah, Sial! Seandainya aku bisa tahu lebih dulu dia mau mengambil kunciku.”,gerutu Tao.

Ia mengambil ponselnya dan berhenti di depan cermin lagi. Sebuah cahaya berpendar dari balik kaus putihnya. Cahaya yang muncul dari batu sapphirenya.

Tao berbalik dan mendapati Kai sudah berbaring kembali di tempat tidurnya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah tadi kau, sudah keluar?”,Tanya Tao.

Kai menatap Tao aneh,”Apa maksudmu? Aku baru saja masuk.”

Tao mengerutkan dahinya.

Aneh. Pikir Tao.

“Kudengar kau baru saja menghajar anak kelas 1.”,Tao mencoba mengulang perkataannya tadi.

“Ya, begitulah, dia menggoda pacarku.”, jawab Kai dengan ucapan yang sama.

“Kau di skors?”,tanya Tao dengan tatapan tak percaya.

“Tidak. Sepertinya mereka sadar bahwa menskors ku tak akan merubah apapun dariku. Dan mereka, memberiku setumpuk tugas yang tak bisa dan tak akan kukerjakan.”

“Kau ingin aku mengerjakannya?”

“Ya, begitulah kakak sepupuku yang paling kusayang. Malam ini, aku ada janji dengan Suho dan Sehun. Kuharap kau akan sepenuh hati mengerjakannya.”,Kai bangun dari tidurnya persis seperti yang terjadi sebelumnya.

“Baiklah, akan aku kerjakan, tapi ingat kau harus lakukan apa yang kuminta! Dan karena aku belum tahu akan memintamu melakukan apa, jadi kau boleh keluar kamarku sekarang.”,Tao meneteskan keringatnya.

“Iya, iya aku tahu.”,ucap Kai kemudian ia beranjak menuju pintu keluar.

Kai berhenti sembari menatap meja belajar Tao. Ia baru saja hendak mendekati meja itu ketika tiba-tiba tangan berotot Tao memaksanya eluar kamar saat itu juga.

“Aku ingin ganti baju. Lebih baik kau keluar kamar sekarang.”,ucap Tao.

“I..iya.. tapi..”

‘Blam!’,pintu kamar Tao ditutup kemudian dikunci. Kai menatap pintu itu heran kemudian berjalan sembari menggerutu.

Sementara itu, Tao bersandar di pintu kamarnya dengan pandangan tak percaya. Ia mengedarkan pandangannya ke meja belajarnya.

“Kunci motorku.”,gumam Tao.

Ia mendekati kunci itu lalu menggenggamnya. Tao tersenyum lebar kemudian meraba batu sapphire di lengannya.

“Wow, itu.. Keren..”,ucapnya kagum.

#Hatred2

“Kukira kau akan mengerjakan tugasmu Kai!”,Suho menggoda Kai.

“Untuk apa? Aku punya sepupu yang pintar yang mau mengerjakannya.”,Kai mengendikkan bahunya.

“Suho!! Mengapa lemari es mu kosong begini! Astaga! Jika kau tak punya makanan, untuk apa kau mengajak kami kemari?!!”,seseorang memotong pembicaraan Kai dan Suho kemudian memasuki ruangan mereka.

“Sehun, bisakah kau berhenti mengeluh?”,Suho menatap tajam ke arah Sehun.

“Tunggu, kau, benar-benar tak punya makanan atau minuman?”,Kai menatap Suho tak percaya.

“Jj..jjangan menatapku seperti itu!”,Suho mengusap lehernya.

“Sekarang, kau ingin mengisi perut kami menggunakan apa?”,tanya Sehun sinis.

“Hhh.. baiklah-baiklah.. Ayo keluar. Ada minimarket di dekat sini. Beli apa yang kalian mau, biar aku yang membayarnya.”,ucap Suho mengakhiri pembicaraan.

“Yeah!!”,Sehun dan Kai ber-high-five riang.

#Hatred2

“Apa yang kalian inginkan?”,tanya Taeyeon dingin.

“Kami? Kami menginginkan kau.”,ucap salah seorang dari 3 orang yang kini tengah berdiri di depan Taeyeon.

“Lalu mengapa kalian harus melukai pria ini?”,Taeyeon menatap tubuh Chanyeol yang tergeletak di tanah dingin.

“Karena dia akan membuat ini menjadi lama. Kyungsoo, Lay, sekarang.”,pria itu mengomando kawanannya.

“Kurasa kalian salah orang. Aku tak punya urusan dengan kalian. Satu-satunya urusan kita sekarang adalah kalian merusak kencan kami, kemudian kalian membuat pacarku pingsan! Aku tak akan meladeni keinginan kalian. Jangan mendekatiku lagi, atau kalian akan berakhir seperti kawan-kawan kalian yang mati malam itu!”

“Huh, jangan sombong. Saat itu, kekuatan kami belum penuh seperti malam ini. Sebelum kau membunuh kami, kupastikan kau yang mati lebih dulu.”,lelaki bernama Kyungsoo menimpali dengan ketus.

“Hhh, aku tak punya waktu. Pergilah kalian. Pergi!”,Taeyeon mendekati tubuh Chanyeol yang mulai membeku.

Tanpa ia sadari, ketiga pria di belakangnya memunculkan gumpalan sinar di tangan mereka dan bersiap melemparkannya ke arah Taeyeon dan Chanyeol.

‘Blamm!!’,butiran-butiran cahaya itu berhasil membuat tubuh Taeyeon dn Chanyeol terlempar.

“Aaaaaaaakkk!!!!!”,Taeyeon mengerang kesakitan. Ia menatap ke arah tubuh Chanyeol yang lebam dan terluka.

“Berraniinya kaliann..”,desis Taeyeon.

Taeyeon memejamkan matanya sejenak. Saat ia membuka matanya, matanya tlah berubah merah dan bercahaya.

“Kalian, sudah kukatakan bukan, akku tak punya waktu!!”,Taaeyeon melesatkan bola-bola api dari tangannya. Ia tak henti-hentinya melancarkkan serangan. Ia berjalan mendekati ketiga lelaki itu. Semakin dekat, dan semakin dekat.

Serangan dari kekuatan Taeyeon semakin memojokkan mereka. Ak sedetikpun Taeyeon membiarkan ketiga lelaki itu menyerang balik. Yang terjadi justru ketiga lelaki itu mulai terluka parah dan tak berdaya. Mereka terlihat begitu kerdil bagi Taeyeon.

Tangan Taeyeon meraih leher Lay kemudian menghempaskannya dengan sangat keras. Terdengar bunyi tulang patah dari tangan Lay. Tak berhenti di situ, kemudian Taeyeon menarik rambut Kyungsoo dan menendang perutnya. Darah menyembur dari mulutnya. Luhan berusaha menyerang dengan kontak fisik, namun gerakannya terhenti oleh tangan kiri Taeyeon yang secara cepat memberikan luka dalam di dada Luhan.

“Luhan! Ayo kita pergi! Kita bisa mati!”,teriak Lay.

Luhan, pria yang ketiga menggeleng pelan.

“Jika kita kembali, maka kita akan dibunuh kakak!! Apa kalian gila?!!”,bantah Luhan.

“Kyungsoo!”,Lay memberi aba-aba kepada Kyungsoo.

Kyungsoo mengangguk kemudian ia memejamkan matanya dan tubuhnya menghilang.

Pandangan Taeyeon berpindah ke arah Luhan yang masih terpaku. Luhan mempersiapkan serangannya namun terlambat. Tangan Taeyeon sudah mencekik lehernya.

“A..Aak.. L..Laay..”,Taeyeon memperkuat cekikannya.

Lay tertatih mendekati Luhan. Tangannya meraih tangan Luhan dan kedua lelaki itu menghilang begitu saja.

Taeyeon kembali terpejam. Ia terduduk lunglai sembari menghembuskan nafas lesu kemudian kembali berdiri dan membalikkan badannya. Ia menatap gang sempit, di mana sejak tadi ia berdiri, dan tepat di ujung gang itu, tiga orang lelaki menatapnya dengan penuh ketakutan.

“Kai, Suho, Sehun? A..apa yang.. ka..kalian lakukan di sini?”,Taeyeon bertanya gugup.

“J..jangaan.. Jj..jangan b..bbunuh kami..”,ucap Sehun ketakutan.

“Kk..kami.. tt..ti..dak aa..akan menye..bar..kan hhal ii..ini Seonbae..”,Suho menimpali, dan Kai mengangguk.

Taeyeon menghembuskan nafasnya berat,”Suho, bukankah rumahmu di sekitar sini?”

Suho menjawab dengan anggukan pelan.

“Kalian bertiga, bantu aku membawa Chanyeol ke rumah Suho.”

#Hatred2

“Jessica, aku tak bisa menunggu lebih lama.”,Kris menggebrak meja.

Jessica menatap Kris sendu kemudian menunduk,”Jangan Kris, kau ingat, Taeyeon juga sepupumu.”

“Tapi dia bukan malaikat seutuhnya. Ada di antara darahnya yang bercampur dengan..”

“Cukup Kris! Aku tak ingin kau mengatakan hal itu lagi. Sudah berapa juta kali kau mengatakannya padaku?”

“Ya, sudah berjuta-juta kali aku memberitahumu, tapi juga sudah berjuta-juta kali kau tak mendengarkanku!”

“Bagaimana mungkin aku bisa mendengarkan perkataan yang kau tujukan untuk membuatku membenci adikku sendiri??”,Jessica menaikkan nadanya.

“Kau akan menyesal nantinya, Jessica! Kau akan menyesal!”

“Aku minta, menjauhlah dari adikku. Selama ini aku tahu, kau mengikutinya bukan?”,Jessica menatap tajam ke arah Kris.

“Itu.. urusanku. Dan dengar Jessica, jika suatu saat aku merasa memang sudah waktunya dia dihancurkan, maka…”,Kris menarik nafas panjang. Ia mengengggam Vas bunga di depannya,”tangan dan kekuatanku sendiri yang akan menghancurkannya.” Dan vas bunga itu hancur berkeping-keping.

Kris berjalan menuju pintu saat Jessica melemparkan pisau kepadanya. Pisau itu nyaris saja menusuknya jika Kris tidak mengeluarkan kekuatannya dan menghancurkan pisau itu. Ia berbalik dan mendekati Jessica.

“Kau, demi gadis iblis itu, kau rela membunuhku? Mengorbankan seorang malaikat murni?”,Kris tersenyum simpul. Ia meletakkan tangannya di leher Jessica dengaan lembut namun tegas.

“Sepupuku, kau sepertinya sangat tidak bijaksana akhir-akhir ini..”,ucap Kris lagi.

“Enyahkan tanganmu dari leherku!”,Jessica mendorong tubuh Kris.

Kris menatap Jessica penuh kemarahan. Ia mengibaskan tangan kanannya. Seketika tubuh Jessica terangkat ke atas. Jessica merasa lehernya di cekik dengan sangat kuat. Ia nyaris kehabisan nafasnya, matanya dipenuhi kunang-kunang. Air mata Jessica mengalir dan jatuh ke lanti dalam bentuk butiran salju.

‘Pyarrr’,sebuah botol anggur pecah di kepala Kris.

“Aaaaaakkk!!”,Kris mengerang keras.

“Rasakan itu iblis!!!”,Teriak Jongdae puas ke arah Kris. Kakinya menendang tubuh Kris untuk menunjukkan kekesalannya.

Jongdae berlari ke arah Jessica yang kini tergeletak di di lantai. Matanya menatap Jongdae haru.

“Kau tak apa Jessica ssi?”,Jongdae bertannya cemas.

“Bbawa.. aku pperggi dari sini.”

Jongdae mengangguk dan menggendong Jessica menuju mobilnya. Ia memacu mobil itu menuju satu tempat yang aman, ya, tentu saja, apartemennya.

“Terimakasih, Tuan.”,ucap Jessica lemah.

“Ya, kembali.”

“Mengapa kau bisa ada di sana tadi?”,Jessica bertanya heran.

“Kau ingat, hari Sabtu pukul 09.00.”,Jongdae dan Jessica tersenyum.

#Hatred2

To be continued___

Sorry for bad fanfict.. ueeee~ 

39 thoughts on “[Freelance] Hatred (Chapter 2)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s