[Freelance] Runaway

Runaway poster

Title
Runaway

 

Author
L’Cloud

 

Length
Song Fic

 

Rating
PG 15+

 

Genre

Romance

Angst

 

Main Cast
Kim Taeyeon

Xi Luhan

 

Other Cast

Jessica Jeong

 

Disclaimer
The storyline is made by my self. The casts are owned by God, their parents, and theirselves.

 

Author Note

Songfic ini berdasarkan lagu Runaway-Kara J.

Thanks for read. Maaf kalo belepotan typo.

 

L’

 

Where are you? When are you coming? Again today, it’s me who is waiting
No, it’s alright, I’m sorry for tactlessly pushing you

I wasn’t strong enough so I couldn’t let you go
I know it’s my foolish greed
But I’m erasing my tears and swallowing my words,

I can’t watch myself anymore, I can’t watch

 

Kutatap jendela kamarku. Ah tidak. Yang kutatap adalah jalanan di luar jendelaku. Aku tengah menunggu. Menunggu ia datang dan memohonku untuk kembali. Kupikir ini sedikit tak mungkin. Tapi aku tetap saja menunggu.

 

Ini salahku. Seandainya aku tak pernah meminta perpisahan itu. Seandainya aku tak pernah terlalu ketakutan seperti itu. Ketakutan untuk kehilangan dia hanya karena aku tak cantik seperti gadis-gadis lainnya. Ah. Sekarang ia telah meninggalkanku. Justru aku malah membenci diriku sendiri. Ternyata untuk melupakannya tak semudah yang kupikirkan.

 

Ternyata perpisahan yang kuminta hanyalah wujud kenaifanku yang mengira aku cukup kuat melalui hari tanpanya. Sekarang aku menyesal. Benar-benar menyesal. Kenapa tak kututup saja telingaku dari komentar orang-orang? Aku menyesali segalanya!

L’

 

Flashback…

 

You’d better walk away, I’m all alone, what to do?
Of the two of us, I’m the only one who can’t live without you
But what more is there to do? Now I’ll let you go
There are so many girls like me in this world

Let go of my hand, look, your heart and my heart are so different

“Kim Tae.. Yeon..!”,seorang lelaki berkulit pucat tengah melambaikan tangannya tanpa berhenti dari aktivitasnya bermain basket di lapangan kampusnya.

 

Lelaki itu, pacarku. Xi Luhan. Seorang mahasiswa China yang di lirik oleh banyak wanita di kampusku. Dan salah satu penggemarnya adalah yang kini tengah menatapku tak suka. Ia bersama teman-temannya berbisik-bisik nun jauh di sisi lain lapangan. Tepat menghadap ke arahku. Seolah tak ingin aku cepat senang di hadapan mereka, mereka berlomba-lomba mencari perhatian Luhan.

 

Aku seolah berpura-pura menutup mataku, namun gagal. Jelas-jelas aku melihat mereka berkerumun mendekati Luhan seolah menghalangi lelaki cantik itu untuk berjalan lebih dekat lagi padaku. Pacarnya. Hatiku kini sudah benar-benar mendidih terlebih karena Luhan sama sekali tak menunjukkan keberatannya dihalang-halangi seperti itu.

 

‘tentu saja Kim Taeyeon.. apa yang kau pikirkan? Apa kau kira dia benar-benar menyukaimu? Lihatlah di sana, bukankah gadis-gadis itu jauh lebih cantik dan menarik darimu? Tentu saja Xi Luhan lebih nyaman bersama mereka. Dan, lihat itu! Ada Im Yoon Ah di sana! Gadis model yang sedang jadi bahan perbincangan karena kemunculannya di acara gossip bersama aktor terkenal itu! Ah kau gila jika berfikir kau lebih baik! Tidak.. tidak! Kau.. naif.’hat itu! Ada Im Yoon Ah di sana! Gadis model yang sedang jadi bahan perbincangan karena kemunculannya di acara gossip bersama aktor terkenal itu! Ah kau gila jika berfikir kau lebih baik! Tidak.. tidak! Kau.. naif.’,bisikan-bisikan kekesalan muncul di otakku.

 

Beberapa menit berlalu. Dia masih belum juga menghampiriku. Dia masih asyik dengan fans-fansnya. Kucoba memfokuskan diriku pada novel yang sedari tadi lebih nikmat kubaca dibanding menatap adegan-adegan memuakkan di lapang itu. Tapi konsentrasiku terlanjur buyar. Dan di saat kesabaranku mulai hilang, akhirnya, lelaki itu menepuk bahuku.

 

“Maaf menunggu lama. Bagaimana permainan futsal ku tadi? Kerenkan?!”,Luhan memulai percakapan dengan wajah berseri-seri.

 

Sayangnya, dari segala ekspresi yang kumiliki, hanya ada satu yang bisa kutunjukkan saat itu. Raut wajah dingin yang sangat mematikan. Kutatap luhan lamat-lamat. Ia balas menatapku kebingungan. Aku menggeleng pelan, dan ia menaikkan sebelah alisnya tanda heran.

 

Sudah cukup! Aku berdiri dan kututup novel setebal 750 halaman dengan hard cover yang menambah suara keras dari tindakanku. Kubalikkan badanku tanpa kata-kata. Namun tangan itu menahanku.

 

“Jangan bilang, kau marah lagi.”,ucapnya kehabisan harapan.

“Kau tahu, selama ini aku tak pernah bilang bahwa aku marah padamu. Kau sendiri yang menyimpulkannya.”,aku tersenyum sinis.

“Ya, tapi kau nyatanya memang marah.”

“Apa aku salah bila marah? Ha?”,kali ini kubalikkan lagi badanku untuk menatap mata lelaki itu.

“Tapi.. ada apa lagi? Aku sudah tak menerima satupun hadiah dari mereka. Aku tak bertukar e-mail dan nomor handphone dengan mereka. Aku sudah berjanji padamu.”,Luhan menggenggam erat tanganku. Wajahnya begitu memelas menatapku.

“Tapi sampai kapan harus ku tahan perasaan ini? Kau tahu, kau adalah idola! Aku? Siapa aku? Aku bukan siapa-siapa? Kenapa dulu kau memilih aku sebagai pacarmu? Kenapa? Aku takk pernah mengerti. Apa karena aku mudah kau permainkan?”,pandangan mataku mulai kabur, bulir-bulir air mata yang tak kunjung menetes telah menumpuk di pelupuk mataku siap keluar sebagai lahar dingin kapanpun juga.

“Taeyeon ah..”

 

Kusentak tangan Luhan hingga terlepas sudah genggaman tangannya yang begitu kusukai. Mungkin sudah saatnya memutuskan. Aku tak tahu lagi harus bagaimana jika bukan dengan cara ini.

 

“Kau tahu Luhan ah, kau, bisa kapan saja mendua tanpa aku bisa membalas perbuatanmu. Kau bisa saja menyakitiku tanpa aku bisa melakukan hal yang sama kepadamu. Tapi ini takkan bertahan lama. Kita berbeda. Kau dan aku berbeda. Aku seorang nerd, dan kau? Kau bisa menebaknya sendiri. Ku minta, mulai sekarang berhentilah berpura-pura mencintaiku. Semuanya telah berakhir. Kau, dan aku. Kita sudah usai. Selamat tinggal.”,aku beranjak menjauh, namun tangan Luhan kembali menahanku.

 

Kutatap matanya dalam-dalam.

‘jangan biarkan aku pergi ku mohon, aku tak kan sanggup melewati hidupku yang seperti dulu tanpamu..’,harapku dalam hati.

 

“Aku benar-benar mencintaimu Kim Taeyeon..”,ucap Luhan.

 

‘Aku juga.. aku juga.. aku juga masih mencintaimu Luhan ah!’

 

Namun kepalaku menggeleng pelan,”Kau salah. Setelah ini kau pasti akan merubah ucapanmu. Kau akan mencari gadis yang lebih baik dari aku bukan? Gadis sepertiku, apa artinya buatmu? Bukan gadis spesial. Beratus-ratus mahasiswa di sini, sama dan bahkan banyak yang lebih baik dariku.”

 

Kutepis tangan Luhan dan aku mulai berjalan lebih cepat menjauhi Luhan. Tak bisa kubohongi bahwa itu mungkin adalah hari teraneh dalam hidupku. Apa yang ada di otakku dan apa yang keluar dari mulutku, benar-benar berbeda.

 

Flashback end…                    

 

L’

 

Though it’s a fake love, I swallow it because it’s sweet but I can’t take it anymore, I can’t do this

You’d better walk away, I’m all alone, what to do?
Of the two of us, I’m the only one who can’t live without you
But what more is there to do? Now I’ll let you go
There are so many girls like me in this world

 

.Taeyeon’s POV end.

 

.. Author’s POV start ..

 

“Kim Taeyeon, cepatlah bangun.. cepatlah sembuh..”,Jessica membisikkan kata-kata dengan lembut di telinga Taeyeon yang tengah tertidur lelap.

 

Sudah beberapa hari ini Taeyeon memasrahkan dirinya pada kasur di kamarnya. Badannya demam dan seolah memang tak ingin disembuhkan.

 

Jessica menatap sekeliling kamar Taeyeon. Matanya terpejam kala menatap pigura yang pecah di lantai. Tak jauh dari pigura itu beberapa album foto tercecer di lantai. Jessica tahu pasti foto-foto siapa di pigura dan album itu. Jessica bangkit dari kursinya dan mulai bersiap merapihkan kamar sahabatnya itu. Ia sangat peka bahwa Taeyeon yang normal tak akan membiarkan kamarnya seberantakan ini. Sementara Taeyeon sedang benar-benar tidak stabil, dan kenyataan bahwa Taeyeon tinggal sendiri di rumah itu, membuat Jessica tahu bahwa dialah yang bisa diandalkan Taeyeon kini.

 

Gadis berambut pirang itu mulai memunguti pecahan-pecahan kaca di kamar Taeyeon. ia merapihkan kamar Taeyeon hingga benar-benar bersih. Hanya tersisa selembar foto yang kini tergeletak di lantai. Tangannya meraih foto itu dan ingatannya kembali kepada sebuah hari paling tak terlupakan milik Taeyeon.

 

Flashback…

 

“Kim Taeyeon.. Kau.. kau maukan jadi pacarku?”,wajah yang begitu manly dan sekaligus senyum yang begitu tulus itu, gadis mana yang akan mengatakan tidak?

 

Taeyeon tertunduk dengan pipi yang mulai merona merah. Sangat kontras dengan kulitnya yang pucat. Bibirnya melukiskan senyum yang paling llebar yang pernah ia miliki. Semua orang yang mungkin mendengar pernyataan cinta itu hanya memandang tak percaya. Semuanya, termasuk Jessica.

 

‘Brakk!’, Jessica menggebrak meja. Ia menatap tajam ke arah Luhan.

 

Jessica menarik tangan Taeyeon sebelum gadis itu mungkin berkata ‘iya’. Karena Jessica sangat tahu bahwa Taeyeon adalah si gadis plos yang memang sudah menaruh hati pada Luhan layaknya gadis-gadis lain.

 

“Kk..kenapa Jessica?”,tanya Taeyeon tak mengerti saat mereka sudah berada di halaman depan kampus.

“Kau percaya lelaki seperti diaa memandang gadis polos sepertimu?”

“Kenapa tidak? Kupikir polos bukanlah sebuah kata yang buruk.”

“Astaga?! Itulah yang kupikirkan. Kau memang terlalu polos untuk mengerti resikonya. Berpacaran dengan Idol School seperti dia? Kau gila? Kau tahu berhadapan dengan siapa? Kau kenal Im Yoon Ah? Mahasiswi calon model itu juga tergila-gila pada Luhan! Dia akan memakanmu hidup-hidup! Atau kau tahu si gadis posessif Yuri? Yang benar saja?! Tidak Taeyeon! kau akan jadi bahan untuk dibully dan dibenci nantinya. Aku tak rela! Tidak!”,Jessica memandang Taeyeon khawatir.

“Aku tahu. Aku tahu ini tak baik. Aku bahkan tahu bahwa ia tak setulus itu padaku. Tapi Jessica, apapun itu, kau tahu bukan betapa aku mencintainya? Aku memuja lelaki itu Jessica! Dan kau bisa bayangkan? Dia menginginkan aku menjadi pacarnya!”,Taeyeon mengucapkan itu dengan pandangan berbinar-binar.

“Taeyeon!”

“Ku mohon Jessica, mungkin dia kini tak tulus padaku. Tapi aku akan membuatnya tulus padaku suatu hari nanti. Aku yakin akan berhasil. Ku mohon..”

“Kau.. begitu naif Taeyeon.”,Jessica menunduk kemudian berbaik meninggalkan Taeyeon yang menatapnya sedih.

 

Flashback end…

 

Jessica kembali duduk di kursinya.

 

“Kau lihat Kim Taeyeon, kau benar dia sekarang sudah tulus mencintaimu. Tapi kau malah hancur berantakan oleh ketidak percayaanmu sendiri.”

 

Jessica teringat kejadian yang ia lihat beberapa minggu yang lalu. Saat Taeyeon berderai air mata meminta pelukan hangat darinya. Saat itu Taeyeon benar-benar sudah kehilangan kepercayaannya.

 

Flashback…

 

“Jessica..”,Taeyeon memeluk Jessica yang tengah membaca buku di teras rumahnya.

“T..taeyeon? Ada apa denganmu?”

“Kau benar.. Kau memang benar.. seharusnya aku dulu tak menerima pernyataan cintanya. Aku memang terlalu naif. Kau benar Jessica. Bagaimana mungkin aku mengira dapat membuat lelaki sepertinya menyukaiku apa adanya. Aku sudah tak sanggup lagi.. benar-benar tak sanggup. Aku dan dia, hanya aku yang merasakan cinta begitu dalam bukan?  Bahkan terlalu dalam! Begitu banyak adis yang bisa ia dapatkan, gadis sepertiku ini apa istimewanya? Kenapa aku dulu terlalu mudah percaya?”,Taeyeon menahan tangisnya yang sudah pecah sebelum ia sampai di rumah Jessica.

“Kau memutuskannya?”,tanya Jessica.

 

Taeyeon membuang muka dan mengangguk lemas.

“Tapi kupikir sudah hampir satu tahun, kalian baik-baik saja. Kupikir, dia sudah mencintaimu seperti seharusnya Taeyeon.. itu tak mungkin bila..”,Jessica tak tahu bagaimana harus mengungkap isi otaknya.

 

Taeyeon menggeleng pelan,”itu tak mungkin Jessica. Tak mungkin bila ia mencintaiku lalu ia selalu memalingkan wajahnya untuk gadis lain di depanku. Itu.. menyakitkan!”

“Taeyeon ah..”,Jessica memeluk Taeyeon kemudian menepuk-nepuk bahunya.

 

‘Kau hanya tak bisa mempercayai bahwa kau memang pantas di cintai Taeyeon ah.’,gumam Jessica dalam hati.

 

“Kuharap ia pergi sejauh mungkin dari hidupku.”,rintih Taeyeon.

 

Jessica tersenyum kecut,’aku tak bisa merasa kau akan bisa menghadapinya Yeonie.. kenapa tak kau bertahan saja sebentar lagi..’

 

Flashback end…

L’

 

Flashback…

 

Just go, it’s not too late
Love will make you run away

I can’t let go or hold onto you
My lips dry up and tears keep flowing

 

“Taeyeon ah..”,Luhan berjalan cepat menyusul Taeyeon yang lagi-lagi menghindarinya.

“Ll..lepaskan..”

“Tidak sampai kau mendengarkan perkataanku.”

“Hhhh.. tidak puaskah kau membohongiku dengan perasaanmu yang pura-pura? Tidak puaskah?! Ha?”

 

Luhan menatap Taeyeon yang masih menatapnya tak suka. Ia menggenggam lengan Taeyeon kemudian menariknya dalam pelukannya.

 

“Ku mohon jangan meninggalkanku. Aku benar-benar mencintaimu. Kau salah sangka jika kau kira aku berbohong. Kau salah.”,Luhan memejamkan matanya.

“Lepaskan!”,Taeyeon mendorong tubuh Luhan keras.

“Taeyeon ah!”

“Tidak lagi, aku tak ingin lagi terluka. Kau bisa memanfaatkan rasa cintaku padamu dengan mudah bukan? Kau buat aku ingin melepaskanmu dan ingin menahanmu sebagai milikku dalam waktu yang sama. Kau buat aku benar-benar gila. Kau puas? Kau puas sekarang?! Untuk apa lagi kau sakiti aku? Untuk apa?!”,air mata Taeyeon mulai bercucuran membasahi pipinya.

 

Gadis itu membalikkan tubuhnya hendak melangkah menjauh kala Luhan mengatakan sesuatu yang membuatnya nyaris membeku.

 

“Aku akan menikah. Apa kau tak juga ingin menghentikanku?”,tanya Luhan dengan sangat lemah.

 

Taeyeon berhenti cukup lama. Otaknya seakan tiba-tiba berjalan lamban untuk bisa menerjemahkan maksud dari Luhan.

 

“Aku sudah menyelesaikan sidang skripsiku. Aku akan menikah dan kembali ke China.Tak inginkah kau menghentikanku?”

“K..kau.. kenapa kau buat aku tertekan seperti ini? Jika kau memang ingin meninggalkanku, mengapa kau harus bertanya sesuatu yang membuatku semakin terluka. Jika kau memang ingin pergi, kenapa tak pergi saja? Kenapa tak kau tinggalkan saja aku. Bukankah kau senang membuatku menderita? Pergi, pergi saja yang jauh dariku! Pergilah sejauh mungkin!”,dan Taeyeo berlari meninggalkan Luhan yang kehabisan harapan.

 

Flashback end…

 

L’


Just one way but wrong way, it’s already ruined
I only knew you, I didn’t know the beginning or end
I’m so pathetic for horribly falling for you without fear

Don’t you say my name
Please don’t tell me that you loved me
What’s so great about love?
I don’t wanna do it anymore

Baby don’t walk away, I’m all alone, what to do?
Of  the two of us, I’m the only one who can’t live without you

 

“Jangan pernah kabur Taeyeon.. Jangan pernah kabur dari harapan.”,Jessica menggenggam tangan Taeyeon yang sudah terbangun dari tidurnya sejak beberapa jam yang lalu.

“Kau yang merapikan kamarku? Kau benar-benar teman terbaikku..”,Taeyeon seolah mengalihkan pembicaraan.

“Kim Taeyeon, berhentilah bersikap seperti itu. Kau masih memiliki kesempatan. Kau pikir hidup seperti ini akan membuatmu lebih bahagia?”

Taeyeon memandang Jessica sejenak,”apa kau terluka saat membersihkan pecahan kaca pigura ku?”

“Kim Taeyeon…”

“Sudah berapa lama kau menemanik hari ini.. astaga, aku belum membuatkanmu makanan atau minuman. Baiklah, tnggu sebentar, akan kubuatkan kau ramen. Maaf aku hanya punya itu.”,Taeyeon beranjak dari kasurnya tanpa memerdulika Jessica.

 

Jessica memandang Taeyeon khawatir. Matanya menatap lekat sahabatnya itu.

“KIM TAEYEON!”,kali ini Jessica meninggikan suaranya hingga Taeyeon benar-benar terkejut.

 

“A..apa?”,tanya Taeyeon terbata-bata.

“Sebelum dia kembali. Tak maukah kau..”,ucapan Jessica terhenti oleh gelengan kepala Taeyeon.

“Aku tak ingin agi Jessica. Yang lalu sudah begitu cukup bagiku. Kau tak tahu betapa gilanya aku. Aku tak ingin lagi merasakan cinta seperti itu. Aku tak peduli seberapa indahnya itu. Aku tak ingin mengulanginya lagi.”,Taeyeon menangis tanpa suara. Hanya air matanya yang mewaili kesedihannya.

“Kau salah. Kau salah Yeonnie. Kau hanya terlalu merendah pada dirimu sendiri. Apa yang membuat pertahananmu hancur? Bukankah selama ini kau mampu menghandle semuanya?”

“Aku hanya lelah. Aku seolah harus mengejar Luhan seperti saat sebelum menjadi pacarnya. Aku tak memiliki jati diri. Setiap saat aku takut kehilangannya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tak tahu.. Aku seolah harus berjalan di satu jalur yang tak bisa lagi dilewati. Aku harus berhati-hati berjalan di atasnya atau aku akan terjatuh ke jurang yang lebih dalam. Kau tahu, jalan itulah jalan satu-satunya agar aku bisa menjaga Luhan sebagai milikku. Aku hanya lelah. Betapa bodohnya aku yang dulu jatuh cinta padanya begitu saja. Betapa bodohnya aku.”

“Dan kau menyerah? Kau sekarang sudah jatuh ke jurang yang dalam itu. Kau tahu?”

“Aku tahu, aku tahu. Aku benar-benar tahu. Tapi aku tak ingin berlari mengejar ke arahnya. Aku sudah lelah. Aku hanya berharap dia yang kemari untuk mengejarku. Kau tahu? Aku berharap hal yang seperti itu mungkin terjadi.”

“Tapi kau kira dia akan kemari? Di menit-menit terakhir sebelum ia berangkat ke China? Kau pikir itu akan terjadi? Kau, mengapa kau masih naif? Kau pikir ini buku dongeng? Bukan! Ini bukan dongeng!”,Jessica mengerutkan dahinya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tak tahu cara mencegahnya! Aku tak tahu Jessicaa!! Jika aku pergi ke bandara pun ini sudah terlalu terlambat. Ini bukan drama di mana aku bisa mngharapkan sesuatu berakhir bahagia!”

 

Jessica menunduk sejenak. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel.

“Jika kau tak bisa berlari ke bandara, ponsel ini bisa mengantar suaramu ke sana.”,ucap Jessica tenang.

 

Taeyeon meraih ponsel itu lalu menekan nomor yang benar ia hafal. Sebuah suara tanda panggilan sudah tersambung meraung di telinganya.

 

“Yeoboseyo..”,suara Luhan menggema di telinga Taeyeon.

“Luhan ah.”

“T..taeyeon? Taeyeon.. kaukah itu?”

“Apa aku sudah terlambat? Apa aku sudah terlambat untuk memintamu..”,Taeyeon menelan ludahnya kemudian melanjutkan,”jangan pergi? Apakah aku sudah sangat terlambat untuk itu? Menahanmu agar tak meninggalkanku lagi? Apakah aku sudah sangat terlambat untuk mencegahmu menikah dengan gadis lain? Apakah aku bisa berharap.. kau belum memutuskan untuk melupakanku? Apakah aku bisa berharap.. kau ada di sisiku sekarang, hingga kapanpun juga? Bisakah?”

“…”

“..”

Tiba-tiba sambungan telepon itu terputus seolah memutuskan harapan Taeyeon yang sempat melambung. Taeyeon jatuh terduduk di lantai dan mulai menangis sesenggukan.

 

“HEI NONA, HARAPANMU TERKABUL!!!”

 

Kalimat itulah yang membuat mata Taeyeon kembali membulat utuh. Ia berlari menuju jendela di mana ia biasa melamun. Dan di bawah sana, seorang lelaki putih pucat dengan senyum tulusnya tengah melambaikan tangannya. Senyum merekah di bibir gadis itu. Tanpa ba-bi-bu, ia berlari keluar kamarnya, menuruni tangga, membuka pintu rumahnya yang tiba-tiba begitu mengganggu baginya, lalu memeluk tubuh lelaki yang begitu ia cintai.

 

Jessica tersenyum simpul memaandang drama itu. Rencana happy ending itu berakhir sempurna baginya. Ia menghirup nafasnya dengan ringan. Pikirannya mengawang-awang jauh ke langit sana.

 

‘betapa cinta bukan sekedar perasaan dua hati yang berbunga-bunga. Namun rasa percaya dan melengkapi membuatnya akan semakin sempurna.’

 

L’

The End-

Maap, ada some missing lyrics. Sengaja. Hehehe.. akhirnya bikin songfic happy ending! Tapi aneh ya ceritanya? Okey, maap.. uhuhuhu, tapi sekali-sekali happy ending ya.. wkwkwk.. thanks for read.. Maaf typo.. ehehehe

38 thoughts on “[Freelance] Runaway

  1. Q kira jga bakalan sad ending huaaaaaa ternya happy end thanks author kckkckckc coba bagian endingnya ad scene luhan pasti lebh baguss…

    • hahaha.. apalagi yang dah sering baca FF ku pasti ngira Sad ending.. atau mungkin ngira bakal gantung lagi.. tapi untungnya sih aku lagi good mood pas bikin ini.. hehehe… makasih dah mampirr..

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s