Way To Love 1 : Loneliness [Before Story of Tea Shop]

w

 

Way To Love || Written by Vi || Starring SNSD Sunny | EXO-M Tao | EXO-K Suho || Rated for Teen || Romance , Friendship || Disclaimer: I just borrow the cast || Note: inspired by NDS game. Sorry for bad fanfic and story. The story might be fast, I just write about the story between Sunny and Tao each Monday since in the story Tao is only in tea shop / Tokyo each Monday.

*****

Mei 1 , 2013

Seminggu kemudian, Sunny dan ibunya sudah berencana untuk ke Im Tea Shop namun Sunny masih ragu mengajak ibunya. Ia yakin kalau Huang Zi Tao yang selalu bersikap dingin pasti tidak akan memperlakukannya dengan lembut , ia mungkin memperlakukannya dengan agak sinis dan ibunya tidak suka itu. Ia tak mau membuat keributan dan ia tak mau membuat lelaki itu merasa tersinggung dengan kata-kata tajam yang kemungkinan akan dilontarkan oleh ibunya.

“Ibu janji ya jangan lontarkan kata-kata tajam apapun kalau awalnya ia bersikap sinis padaku ?” tanya Sunny sambil melahap onigiri yang ia jadikan sarapan itu. Ibunya mendesah pelan lalu berkata tegas, “ibu takkan membiarkanmu bersama orang yang hanya bisa membuatmu merasa sedih.”

“Tapi aku tak sedih,” ungkap Sunny. Ibunya mendengus kesal akan sikap anaknya lalu berkata, “ibu akan mengamati tiap ekspresi yang kau buat saat melihatnya.” Sunny mengunyah onigiri nya perlahan , makin lama semakin pelan.

“Gawat, ibu sangat hafal dengan apapun ekspresi yang kubuat. Tak ada gunanya berpura-pura, pasti ibu  akan segera tahu. Ia kan akrab denganku,” batin Sunny sambil menghentikan kunyahannya. Ibunya tersenyum puas, “bagaimana ? Setuju kan ?”

Sunny tak bisa menolak, “b-baiklah.”

*****

Im Tea Shop

09.00

Mereka telah tiba. Sunny mengintip dari balik pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Ia ingin memastikan keberadaan lelaki itu. Ada, pikir Sunny saat melihat sesosok tampan dan dingin tengah membaca buku sembari menyesap bubble tea yang ada dipegangannya.

“Bagaimana ?” tanya ibunya penasaran. Sunny menolehkan kepalanya kearah ibunya kemudian mengangguk dan memasuki toko itu. Lelaki itu mengalihkan pandangannya sedikit –hanya sekedar melirik—lalu kembali menujukan pandangannya pada buku tebal yang dibawanya.

Sunny duduk di tempat yang paling dekat dengan Huang Zi Tao.

“Apa yang ingin anda pesan ?”

“Eh , earl gray tea 2,” jawab Sunny asal. Akhirnya ia mencatat pesannya dan membawa menuju meja dekat kasir.

Sunny masih terdiam bersama dengan ibunya. Hening. Huang Zi Tao tak memperdulikannya.

“Itukah dia ?” tanya ibunya.

Sunny mengangguk.

“Dia tidak peduli padamu, apa yang kauharapkan darinya ?” tanya ibunya. Sunny menghembuskan nafas pelan lalu menjawab dengan sebuah bisikan, “aku tak bilang aku mengharapkan apapun darinya.”

“Tapi dari caramu menceritakan sosok lelaki dingin yang tidak jelas ini kemarin , kau sepertinya jatuh dalam pesonanya yang menurutmu menawan itu,” kata ibunya sambil menggunakan salah satu tangannya untuk menopang dagunya.

Sunny hanya bisa menunduk. Ia sadar caranya menceritakan mengenai sosok lelaki ini terlalu agresif. Bahkan, ia sudah jatuh dalam pesona lelaki itu tanpa disadarinya.

Ibunya tiba-tiba menggebrak meja sehingga Sunny terkejut. Ibunya berjalan menghampiri Huang Zi Tao lalu mengambil buku yang dipegangnya. Sunny hanya bisa melongo melihatnya.

“Hei ! Kau lupa pada anakku , hah ? Baru seminggu kau bertemu dengannya ! Apa kau sudah lupa ?” seru ibunya. Sunny menggigit bibirnya keras. Terlalu terkejut dengan tindakan ibunya. Selain itu, ia juga heran melihat Huang Zi Tao yang masih tenang-tenang saja menghadapi ibunya.

“Hei, apa kau dengar ?” seru ibunya sekali lagi.

Huang Zi Tao menoleh kearah Sunny dan menaikkan alisnya sedikit lalu mengangguk seolah mengingat sesuatu. “Oh, dia yang saya temui seminggu yang lalu. Maaf , saya lupa. Saya yang sering pulang-pergi Tokyo sudah bertemu dengan banyak orang dan melupakan beberapa wajah yang sempat saya jumpai. Tapi, saya ingat dengan anak anda , saya juga merasa tidak asing dengan wajahnya,” jawabnya panjang lebar. Sunny tersentak kaget mendengar ucapan Huang Zi Tao. Huang Zi Tao masih merasa familiar padanya padahal sudah seminggu tidak bertemu.

“Baguslah kalau begitu,” kata ibu Sunny sambil mengembalikan buku yang diambilnya dari Huang Zi Tao. Huang Zi Tao tersenyum sopan sambil membungkuk sedikit lalu melanjutkan bacaannya. Sunny baru tahu kalau Huang Zi Tao itu sesopan ini.

“Dia cukup sopan,” kata ibunya sambil berbisik.

Sunny mengangguk dengan wajah yang agak memerah. Entah mengapa sepertinya ia kembali jatuh dalam pesona Huang Zi Tao , ada sesuatu dalam diri lelaki itu yang membuatnya begitu menyukainya seperti ini.

“Tunggu, aku menyukainya ?” debat Sunny di dalam pikirannya.

Ia tak dapat mengelak lagi setelah apa yang dirasakannya. Ia mulai suka pada lelaki ini. Tanpa disadarinya dan perlahan-lahan.

“Ah , gawat aku baru ingat kalau aku ada janji dengan ibunya Suho. Ia pasti sudah menungguku. Aku pergi dulu,” kata ibunya sambil melirik jam tangannya. Sunny berseru, “tapi, aku sudah memesan 2 earl gray tea.”

Ibunya meminta maaf beberapa kali sebelum keluar barulah ia keluar. Saat ibunya keluar yang dipesannya baru saja datang.

“Maaf menunggu.” Sunny hanya tersenyum tipis lalu mulai menyesap pesanannya itu. Huang Zi Tao meliriki gadis itu lalu berkata, “bagaimana bisa ibumu tahu tentang diriku ?”

Sunny tersentak kaget mendengar suara lelaki itu hingga ia tersedak. Huang Zi Tao khawatir.

“Uhuk..Uhukk..”

“Maaf, aku rasa aku mengagetkanmu,” katanya.

Sunny menggeleng dan menjawab, “aku menceritakan pertemuan kita.”

Huang Zi Tao terkejut saat mendengar jawaban Sunny lalu ia tersenyum tipis . Hening seketika, Huang Zi Tao tak kembali membuka pembicaraan begitu pula dengan Sunny.

“Aku pergi dulu,” kata Sunny akhirnya sembari berdiri. Ia sudah menghabiskan 2 gelas earl gray tea dan iapun membayarnya baru berjalan menuju pintu.

“Itu ..” kata Sunny ragu-ragu. Huang Zi Tao melirikinya sejenak dengan mata yang seolah meminta Sunny melanjutkan perkataannya.

“Mr. Huang , apa kita sudah berteman ?” tanya Sunny sambil menggaruk kepalanya kebingungan. Ia hanya berharap diam-diam bahwa lelaki dingin itu takkan menganggapnya aneh.

“Mr. Huang ? Jangan panggil aku begitu, kau seolah-olah memanggil ayahku. Panggil saja aku Tao, Sunny-san. Dan soal pertanyaanmu, kalau kau ingin menganggapnya begitu , silahkan saja .. Aku belum menganggap dirimu sebagai temanku , kita baru bertemu 2 kali,” ungkap Tao. Sunny mencibir dan mengerucutkan bibirnya. Ia pikir Tao akan menjawabnya dengan kata yang manis seperti ‘ya , tentu saja.’ Atau ‘aku selalu berpikir begitu.’ Tapi rupanya ? Jauh dari dugaan Sunny. Ia mengira Tao adalah sosok dingin yang romantis di dalam hatinya namun rupanya , selain dingin , dia juga sepertinya anti-sosial meski ia sudah bicara dengan banyak orang tapi jarang memiliki teman.

“Sepertinya ia memang anti-sosial , biasanya orang yang sudah bicara denganku begini sudah menganggapku teman tetapi dia ?” batin Sunny.

Sunny pun berjalan keluar dari tempat itu dan menutup pintunya kembali setelah ia diluar.

“Apa-apaan sih aku ini ? Bertanya pertanyaan yang memalukan begitu di depan orang dingin yang anti-sosial ! Bisa-bisanya aku suka padanya !” omel Sunny pada dirinya sendiri sampai seseorang melambaikan tangan padanya dan menyapanya, “yo ! Sunny !”

“Suho ?”

Suho berlari kearah Sunny lalu memeluk gadis bertubuh pendek itu erat. Sunny tidak suka dengan sikap Suho yang terlalu antusias tiap kali bertemu dengannya itu.

“Lepaskan !” seru Sunny kesal sambil mendorong Suho.

Suho mengerucutkan bibirnya kesal lalu bertanya, “tumben kau jalan-jalan di daerah sini ? Sedang apa ?”

“Habis dari Im Tea Shop,” kata Sunny ketus. Sebagaimana ketusnya Sunny pada Suho, sejujurnya Sunny selalu menganggap Suho adalah sahabatnya dan terus akan menjadi sahabatnya. Ia juga yakin bahwa Suho takkan meninggalkannya sendirian.

“Mengapa kau tak mengajakku ?” tanya Suho manja. Sikap Suho yang manja memang jarang terlihat. Sikap manja itu ia tunjukkan hanya pada Sunny seorang. Kalau pada yang lain ia lebih memilih menunjuk sikap dewasanya.

“Bisakah kau bersikap normal padaku ? Bersikap dewasa begitu seperti apa yang kau lakukan pada lainnya ?” tanya Sunny gerah.

“Kau berbeda dari yang lainnya maka akan kuperlakukan dengan berbeda juga,” jawab Suho sambil tersenyum dengan wajah memerah. Sunny tidak peduli , ia berjalan menjauhi Suho.

“Tunggu aku !”

“Kau kan jarang mau sendirian , mengapa kau pergi ke Im Tea Shop sendirian ?” tanya Suho.

“Minggu lalu aku sendirian kesana kalau hari ini aku bersama ibuku tapi ibuku pulang duluan lagipula ada yang menemaniku tiap kali aku berada disana.”

“Siapa yang menemanimu ?”

“Seseorang. Lagipula tak ada alasan bagiku untuk menjelaskannya padamu sekarang.”

Suho makin penasaran mengenai perkataan Sunny. Tak ada alasan ? Aku kan sahabatmu, pikir Suho. Namun , ia merasa kalau ia tak perlu ikut campur persoalan Sunny selama ia tak diminta gadis itu , daripada kalau ia ikut campur masalah yang sebenarnya masalah pribadi gadis itu dan sebenarnya gadis itu tak ingin bercerita padanya , ia bisa dibenci habis-habisan oleh Sunny.

“Baiklah. Ceritakan saja kalau waktunya tepat,” kata Suho sambil memandang Sunny. Sunny yang berjalan di depan Suho hanya diam saja. Inilah baiknya Suho, tak memaksanya menceritakan sesuatu yang belum betul-betul ingin diceritakannya.

Arigatou , sudah memahamiku,” gumam Sunny lirih sehingga Suho tak mampu mendengarnya sama sekali. Keduanya terus berjalan hingga sampai di rumah Sunny.

Sunny melangkah masuk ke rumahnya dan berpamitan dengan Suho. Diam-diam ia bergumam, “apa minggu depan aku harus ke Im Tea Shop lagi ya ?” Ia berpikir sejenak. “Kurasa tidak perlu. Lagipula , lelaki dingin itu tidak menganggapku sebagai temannya, aku tidak datang pun kurasa ia tak peduli,” gumam Sunny.

*****

Mei 8 , 2013

Sunny sudah membuat keputusan untuk tidak datang ke Im Tea Shop hari ini meski sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya ia begitu ingin kesana.

“Sunny !” Suara kakaknya yang bernada tinggi itu terdengar begitu kencang dari lantai atas.

“Ya ?” tanya Sunny sambil berteriak pula.

“Tolong bawa  Ginger jalan-jalan ! Aku tak bisa, aku diajak jalan-jalan oleh Baekhyun,” seru Taeyeon, kakaknya.

“Pacarmu ? Huff, ada-ada saja. Ginger kan anjing milik nee-san kenapa aku sering mengurusnya semenjak ada Baekhyun-niisan ?” omel Sunny sambil berjalan keluar dari kamarnya.

“Ingat ya rute perjalanan Ginger !”

Sunny terdiam sejenak, otaknya kembali memikirkan rute perjalanan Ginger. Berarti lewat Im Tea Shop ?, pikirnya.

Sunny pun akhirnya membawa anjing bernama Ginger itu jalan-jalan. Udaranya segar karena masih pagi. Tak buruk juga membawa Ginger jalan-jalan kalau udaranya sesegar ini, pikirnya.

Ia memandang Im Tea Shop yang sudah tak jauh darinya. Ia menghela nafas sejenak. Kalau ia membawa anjing ini pasti Tao keluar dan menyapanya karena lelaki itu sepertinya sungguh-sungguh menyukai binatang.

BRAK

Dugaan Sunny benar, saat ia melewati depan Im Tea Shop tiba-tiba saja Huang Zi Tao keluar lalu mengelus anjingnya perlahan.

“Kau membawa anjingmu lagi ?” tanya Tao sambil tersenyum dan mengelus anjing itu hati-hati.

Sunny terkejut. Tao berbicara padanya seolah sudah akrab padanya.

“I-iya. Kakakku ada urusan jadi aku yang membawa anjing ini,” jawab Sunny kikuk. Ia belum mempersiapkan diri untuk berbicara pada Tao yang selalu membuatnya gugup dan merasakan perasaan aneh itu.

“Kau tidak ke Im Tea Shop ?” tanya Tao sambil menghentikan kegiatan mengelus anjingnya dan berdiri. Sunny membulatkan kedua matanya lalu tersenyum malu-malu sambil sesekali terkekeh.

“Ngg, sepertinya hari ini tidak.”

“Oh, berarti aku hanya terlalu percaya diri.”

“Eh percaya diri apa ?”

“Tidak lupakan saja.”

Mendengar perkataan Tao tadi malah membuat Sunny makin bertanya-tanya dan penasaran. Ia memaksa Tao memberikan jawabannya. “Tolong beritahu aku.”

Tao nampak menghembuskan nafasnya sejenak lalu berkata, “baiklah. Maksudku itu , aku terlalu percaya diri soal perkataanmu minggu lalu, kupikir kau sudah benar-benar menganggapku sebagai temanmu walau aku tidak begitu. Kupikir yang namanya teman itu sering bertemu di kesempatan yang tersedia.”

“Ah, b-begitukah ? Kalau soal menganggapmu sebagai teman sih, aku ingin sekali tetapi aku inginnya kita berdua saling menganggap satu sama lain sebagai teman,” ungkap Sunny malu-malu. Sunny membekap mulutnya terkejut lalu mendengus kesal. Lagi-lagi aku semabarangan berbicara, apa aku tak kapok-kapok ya mempermalukan diri di depan Tao ? pikirnya.

“Kalau begitu kita berteman,” kata Tao yang sukses membuat Sunny tersentak kaget. Lelaki dingin yang jarang berekspresi ini selalu mengatakan hal diluar dugaannya bahkan ia tak bisa memperkirakan kapan lelaki ini akan berbicara , ekspresi lelaki itu tak berubah namun matanya menyiratkan kejujuran.

“Sungguh ? Tetapi mengapa ? Bukankah kau tak mau berteman denganku ? Dan aku tak memaksamu menjadi temanku aku hanya mengatakan isi hatiku itu saja , k-kau juga tak usah terlalu mengkhawatirkan soal diriku, aku, aku akan baik-baik sa—“ Kata-kata Sunny terhenti seketika saat Tao meliriki dirinya seolah tak suka dengan kecerewetannya.

“Maaf.”

“Tak usah meminta maaf. Lagipula aku tidak terpaksa. Selama ini aku hampir tidak memiliki teman dan aku selalu kesepian. Aku sulit mempercayai orang yang baru saja kukenal, kedua orangtuaku sering keluar negeri untuk bekerja dan aku sendirian di rumah kalau tidak sedang bekerja. Tetapi , aku percaya padamu, aku yakin kau bisa membuatku merasa tidak kesepian lagi, kau cerewet dan menarik , kau juga jujur , kaulah teman yang kuinginkan dan kubutuhkan,” jelas Tao. Sunny mendengar penjelasan Tao dengan cermat. Ia bisa membayangkan sebagaimana kesepiannya Tao selama ini. Tao selalu sendirian hingga kini. Kinilah saatnya Sunny membantu Tao keluar dari kesepian itu dan membuatnya merasakan nyamannya memiliki teman. Tapi aku ingin lebih dari teman, pikir Sunny. Sudahlah Sunny, untuk saat ini jadilah teman Tao dulu dan bantu ia keluar dari kesepiannya, pikirnya sambil sesekali mengangguk.

“Memangnya kau libur bekerja kapan saja ?”

“Senin, tetapi sebelum ada dirimu aku merasa kesepian karena selalu di rumah sendirian saat libur. Lalu , toko itupun dibuka dan akupun datang ke Tokyo tiap Senin untuk bersantai disini , setidaknya melihat orang-orang berlalu lalang sudah cukup menghilangkan kesepianku meski aku masih saja kesepian,” tuturnya.

“Jadi sebelum ada Im Tea Shop ia selalu di rumahnya sendirian ? Aku tak bisa membayangkan sesepi apa itu ! Aku tak ingin merasakan kesepian !” gumam Sunny yang merasa kasihan pada Suho. Akhirnya , iapun menepuk pundak Tao dengan kedua tangannya dan berkata dengan semangat, “aku akan selalu bersamamu mulai sekarang ini ! Saat kau kesepian di hari liburmu aku akan bersamamu ! Walau tidak setiap hari aku akan bersamamu tapi saat hari Senin aku pasti akan ada di Im Tea Shop bersamamu  untuk mengeluarkanmu dari kesepian !”

Tao tersenyum hangat lalu ia melirik ke sebelah kanannya dan berkata, “anjing milik keluargamu kabur.”

Sunny terkejut lalu menolehkan kepalanya. Ia sadar bahwa ia sudah melepaskan pegangannya pada rantai anjing hitam milik keluarganya itu saat ia menepuk pundak Tao tadi.

“Ah ! Dimana ya ?” seru Sunny kebingungan. Tao diam-diam tersenyum lalu bergumam, “sudah lama aku tak merasakan hal ini, hal dimana aku keluar dari kesepianku.”

“Tao ! Bantulah aku mencari anjingku !” rengek Sunny.

“Kurasa ia berlari ke semak-semak disana,” kata Tao sambil menunjuk semak-semak di sebelah Im Tea Shop.

Sunny bergegas mencarinya dan benar saja , anjingnya ada disana.

Arigatou gozaimasu !” seru Sunny ceria. Taopun berkata, “maukah kau minum teh bersamaku disana ?” Sunny tentu mengangguk.

Saat Sunny memasuki  Im Tea Shop , Suho bisa melihat sosok gadis itu namun ia tak mau menyapanya karena ia yakin Sunny punya urusan pribadi disana dan ia menghargai gadis itu.

Ia hanya melihat punggung Sunny dan tak melihat Sunny masuk kedalam sana bersama Tao.

“Kuharap Sunny bersama orang yang baik.”

*****

Sunny menikmati hal itu. Ia baru saja pulang setelah menemani Tao seharian di Im Tea Shop hingga sore. Ia yakin saat Tao pulang ke Osaka –kotanya , lelaki itu akan segera beristirahat untuk pekerjaannya besok dan tidak akan merasa kesepian.

Ia menikmati hari ini karena ia makin mengenali Huang Zi Tao. Ia yakin 100 % bahwa Huang Zi Tao orang baik. Awalnya saat pertama kali melihatnya ia sama sekali tak mau mendekati lelaki itu dan tak berniat menjalin hubungan apapun namun makin lama ia ingin terus bersama Tao dan menjauhkannya dari rasa kesepian. Ia bahkan ingin menjadi kekasih Tao namun ia urungkan niat untuk menyatakan perasaannya. Ia tahu ia jatuh ke dalam pesona Huang Zi Tao dan ia malah semakin menyukainya saat mengetahui latar belakang lelaki itu juga kebaikannya. Namun, saat ini Tao butuh teman , bukan kekasih. Maka ia akan menjadi teman Tao terlebih dahulu daripada langsung melompat ke hal kekasih.

DRRTT

Sunny tahu betul siapa yang menelpon .

“Suho ?”

“Eh ? D-di Im Tea Shop tadi ? Eh , bukan apa-apa.”

“Iya , maaf belum saatnya kuceritakan padamu.”

Sunny pun mengakhiri sambungan telponnya pada Suho. Ia terkejut saat tahu Suho melihatnya masuk ke Im Tea Shop. Namun jelas saja Suho tak tahu soal ia disana bersama Tao sebab Suho masih menghargainya dan tak ingin diam-diam mencari tahu apa yang terjadi dengannya.

“Aku terus berkata bahwa aku akan menceritakan hal itu padanya kapan-kapan tetapi kapan ?” tanya Sunny pada dirinya.

Ia tak suka terus merahasiakan hubungannya dengan Tao dari Suho.  Sebab Suho sahabatnya sejak dulu.

*****

Mei 15 , 2013

Mengingat datangnya Tao tiap hari Senin, Sunny kembali berjalan menuju Im Tea Shop. Ia yang barusan saja sampai di Im Tea Shop, sudah dapat melihat Huang Zi Tao menyesap milk tea yang dipesannya dan ada segelas earl gray tea di mejanya.

“Ini untukku kah ?” tanya Sunny , ia berharap dirinya bukan hanya terlalu percaya diri, ia berharap Tao sungguh-sungguh memesankan earl gray tea itu untuknya.

“Ya. Kulihat sih , ada beberapa orang yang mentraktir temannya. Apa aku boleh mentraktirmu ?” kata Tao. Sunny dapat merasa wajahnya bersemu merah. Sungguh, ia makin suka lagi padanya.

“Boleh, arigatou.”

Sunny menyesap earl gray tea nya dengan gembira. Sehabis menyesapnya , ia dapat merasakan senyuman terulas di bibirnya. Ia tak sanggup menahan kebahagiaannya, Tao peduli padanya.

“Omong-omong , apa pekerjaanmu dan mengapa kau hanya libur di hari Senin ?” tanya Sunny.

“Aku bekerja sebagai animal transporter . Kalau ayahku sudah turun jabatannya sebagai pemilik perusahaan nanti perusahaannya akan diserahkan padaku , untuk sekarang ini aku hanya bekerja sebagai animal transporter, dan mengapa aku hanya libur di hari Senin ? Ya karena memang liburnya hari itu,” jawab Tao panjang lebar. Sunny mengangguk mengerti, ia mengerti sekali alasan mengapa Tao menjadi animal transporter meski ia sendiri tak begitu tahu apa itu animal transporter . Ia yakin Tao memilih pekerjaan itu karena ia suka bermain bersama hewan.

“Pekerjaanmu sendiri apa ? Kau sudah selesai sekolah kan ?” tanya Tao balik.

“Eh , aku ? Aku baru saja selesai kuliah. Aku ingin mencari pekerjaan tetapi aku tak bisa memutuskan ingin menjadi apa, kurasa nanti aku akan bekerja di perusahaan ayahku,” jawab Sunny.

Tao mengangguk mengerti lalu ia menyesap milk tea-nya dan bertanya, “kau .. Mengapa kau menganggapku sebagai temanmu padahal kita juga baru berinteraksi  kan ? Bahkan, aku memiliki wajah yang bagi orang tampak mengerikan , aku heran mengapa kau ingin berteman denganku.”

“Kau memang dingin dan nampak tidak berperasaan , wajahmu juga sangat dingin dan jarang berekspresi tapi hatimu baik,” jawab Sunny. Sebenarnya itu lebih pada alasannya suka dan jatuh cinta pada Tao.

Tao diam saja namun wajahnya agak memerah dan ia menoleh kearah yang berlawanan dengan Sunny agar Sunny tak memperhatikannya.

“Oh iya, aku memiliki seorang teman, apa kau mau berkenalan dengannya ?” tanya Sunny sambil tersenyum.

“Asal bisa dipercaya saja,” kata Tao.

“Baik, akan kucoba hubungi dia,” kata Sunny sambil mengeluarkan ponselnya. Iapun terdiam lalu menoleh kearah Tao sambil terkekeh. “Maaf, ponselku baterainya habis.”

Tao tersenyum dan menggeleng, “tak apa.”

“Oh iya, banyak lho tempat yang menarik di Tokyo ini ! Lebih baik kita pergi jalan-jalan saja, ayo !” kata Sunny sambil menarik lengan Tao. Mereka berdua keluar dari Im Tea Shop lalu berjalan di daerah yang ramai.

“Ini dimana ?” tanya Tao.

“Ini Shibuya .. Sepertinya,” jawab Sunny sambil terus menggandeng Tao, setidaknya agar lelaki itu tak hilang di tengah ramainya jalanan itu.

Mereka berdua berjalan di sana sambil melihat-lihat apa yang ada di daerah situ. Tao nampak kagum dengan Tokyo.

“Aku jarang pergi-pergi ke tempat seperti ini,” kata Tao sambil terus melihat-lihat jalanan. Sunny tersenyum saat melihat Tao yang nampaknya senang. Tao memang masih emotionless tetapi Sunny mulai bisa membaca lelaki itu. Ia mulai bisa menebak ekspresi Tao melalui nada perkataannya.

“Apa kau menyukainya ?”

“Sangat menyukainya.”

Sunny menganggap ini sebagai kemajuan dalam hubungannya dan Tao. Namun ia masih yakin bahwa butuh waktu lebih lama lagi untuk menuju kedalam hal kekasih.

*****

Mei 28 , 2013

Sunny melakukan tugasnya sebagai teman Tao. Ia sedang berjalan menuju Im Tea Shop sekarang sampai Suho tiba-tiba saja menelponnya. Sunny tersenyum ceria. Suho menelpon di saat yang tepat ! Dengan begini ia bisa mengajak Suho bertemu dengan Tao.

“Suho ! Bisakah kau ke Im Tea

Bisakah kau ke Im Tea Shop hari ini ?” tanyanya.

“Ah , bukankah aku sudah bilang kemarin kalau hari ini aku akan pergi ke Korea untuk berlibur sebentar ?”

“Oh iya juga.” Sunny lupa akan hal itu.

“Apa kau rindu akan wajahku , Sunny ?” tanya Suho dengan nada ceria di ujung sana. Sunny hanya bisa menahan teriakannya karena jelas-jelas ia ingin meneriaki lelaki itu kalau ia tidak rindu padanya , tetapi ia rasa itu terlalu kasar. Lagipula Suho juga temannya, nanti kalau ia memperkenalkan Suho pada Tao dan Suho menceritakan semua sikapnya padanya pasti Tao merasa Sunny memperlakukannya berbeda dan ia bisa menyimpulkan bahwa Sunny menyukainya lalu Tao memutuskan hubungan pertemanan itu karena perasaanku padanya itu menganggu kemudian ia jadi membenciku.

“Sunny ?” Sunny tersadar dari lamunannya akan semua kemungkinan yang dari tadi ada di otaknya itu.

“Maaf, hmm , aku rindu padamu .. Tetapi jangan salah sangka ya !” seru Sunny.

“Hahaa ~ tenang saja Sunny, hanya 2 minggu kok !” jawab Suho. Sunny mendesah kasar dan berkata, “sudahlah, sampai jumpa.”

Sunny berjalan ke Im Tea Shop dengan lemas. Ia gagal membawa Suho bertemu dengan Tao.

Sunnypun membuka pintu Im Tea Shop dan melihat Tao tak ada di dalamnya. Tao belum datang. Mungkinkah keretanya telat hari ini ? pikir Sunny. Ataukah ia memiliki pekerjaan tambahan ? pikirnya lagi.

Sunny pun memutuskan untuk duduk di dalam dan menunggu Tao. Ia memesan earl gray tea seperti biasa dan tak butuh waktu lama pesanannya sudah diantarkan.

Sunny menunggu lama disitu. Sesekali ia melirik jam yang terpasang di dinding. Im Tea Shop yang sudah beberapa minggu buka itupun  bertambah ramai oleh pengunjung namun tak ada sosok Tao sama sekali.

Sunny mulai merasa kesepian. Perasaan yang tak pernah ingin ia rasakan.

Ia merasa bahwa kesepian itu sangatlah tidak enak dan nampak membosankan. Melihat lamanya ia menunggu Tao , ia yakin Tao tak datang hari ini, ia juga tak bisa mengabari Sunny karena tak memiliki kontaknya. Sunny pun berpikir dan bertekad akan memberikan nomor ponselnya pada Tao agar setidaknya Tao bisa menghubunginya nanti.

“Ia tidak datang,” pikir Sunny.

Sunny memang menyesal sudah menunggu Tao yang takkan datang hari ini namun diam-diam ia sadar bahwa hari ini ia belajar sesuatu yang dinamakan kesepian. Ia yang jarang atau nyaris tidak pernah merasakan kesepian karena keluarganya yang lengkap dan ia memiliki Suho sebagai sahabatnya bisa belajar bagaimana rasa kesepian itu walau hanya dalam waktu berapa jam.

“Hanya dalam berapa jam aku merasa tidak nyaman dan sedih karena kesepian, bagaimana perasaan Tao yang selalu kesepian dulu ya ? Aku yakin ia sedih dan karena kesedihan yang dialaminya itu ia hanya bisa memasang wajah tanpa ekspresi , pasti sedihnya sangat dalam kalau bertahun-tahun begitu , pasti ia sulit tersenyum karena itu,” simpul Sunny.

“Mengetahui apa itu kesepian, aku semakin ingin terus bersamanya setiap hari.”

To be continued

Mian gaje, ini alurnya emg agak cepat karena ini hanya menceritakan bagaimana awal mula Sunny dan Tao yang berpacaran di ff Tea Shop, tahu sendirikan di ff ini Tao cuma dtg tiap senin sekali, pls komen ya !

//

//

Advertisements

12 thoughts on “Way To Love 1 : Loneliness [Before Story of Tea Shop]

    • Ini emg flashback sih ._. Tp inikan baru awal hubungan mereka , nti psti brkembang dan gak cuma senin aja kok 🙂 thanks udh komen 🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s