Take A Drink Together (Chapter 12 – Bleeding Truth)

take-a-drink-together-1

 

Take A Drink TogetherBleeding Truth

Written by pearlshafirablue

Main Cast: GG’s Taeyeon & Tiffany, EXO-K’s D.O | Minor Cast: GG’s Hyoyeon, EXO’s Tao & Suho | Genre: Action, AU, Mystery, Psycho, Romance | Length: Multichapter (12/13) | Rating: PG-15

“All of the characters belong to God and themselves. They didn’t give me any permission to use their name in my story. Once fiction, it’ll be forever fiction. I don’t make money for this.”

Previous Chapter
Prolog . 1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6 . 7 . 8 . 9 . 10 . 11(A/B)

Take A Drink Together © 2013

-o0o-

Review Chapter 11B

Jglek

Gelap.

DDUAAK!

“AAKKHHH!”

Taeyeon mengerjapkan mata. Entah sejak kapan dirinya ada di sebuah koridor kecil dengan tangan kanan bertautan dengan tangan seorang pria—eh?

“T-Tao Seongsaenim?”

“Aku tidak mungkin membiarkanmu mati.”

-o0o-

Chapter 12, Begins

Kantor polisi daerah, Gangnam, Seoul

Joonmyun memeriksa arlojinya. Duapuluh menit telah berlalu. Dan ia masih tertahan di kantor polisi dengan sejuta pertanyaan intimidasi dari sang Opsir.

“Kyungsoo? Kenapa kau lama sekali mengangkat telepon?!” sembur Joonmyun tepat ketika nada sambung berhenti melantun.

Jika kaupikir aku bisa santai mengangkat teleponmu sementara orang-orang berbadan kekar di sekitarku menggebukiku maka kau salah,” ucap Kyungsoo datar.

“Ya sudah, jadi apa yang harus aku jelaskan kepada polisi? Sangat tidak masuk akal bila tiba-tiba aku berkata teman sekelasku ditangkap oleh direktur perusahaan gelap dan akan di kloning untuk kepentingan kejahatan.”

Terdengar helaan napas Kyungsoo. “Tadi Tao Seongsaenim sempat memberikanmu berkas, ‘kan? Kau berikan saja berkas itu dan pasti mereka akan mengerti. Di situ terkumpul semua bukti mengenai perusahaan gelap yang tadi kujelaskan serta foto-foto yang mendukung pernyataanmu—”

“Apa kau lupa bahwa berkasnya tertulis dalam bahasa Cina dan Prancis, Kyungsoo? Aku sudah memberikannya, tapi kelihatannya para opsir masih kesulitan dengan bahasanya, bahkan mereka sampai menelepon staff ahli bahasa asing yang sedang bertugas di Bandara Gimpo. Dan sekarang mereka menanya-nanyaiku soal penjelasan foto-foto lampiran tadi! Tentu saja aku tidak mengerti,” oceh Joonmyun panjang lebar. Ia menggaruk-garuk kulit kepalanya frustasi.

“…”

Sekonyong-konyong terdengar keheningan aneh dari speaker ponsel Joonmyun. Tak sedikitpun suara Kyungsoo menjamah gendang telinganya.

“Hei? Ada apa? Kyungsoo? Kyungsoo!”

Joonmyun terus menyerukan nama pria itu. Akhirnya nada putus terngiang dari speaker.

Kyungsoo?

-o0o-

Kediaman Stephanie, Gangnam, Seoul

“Serius, aku tidak mengerti.” Taeyeon menatap Tao penuh tanya.

“Kau tidak perlu mengerti. Yang penting sekarang kau ikuti aku sebab Stephanie tidak mungkin mati hanya karena pukulan ringan dari revolver-ku.”

Taeyeon mengunci mulutnya—kendati beribu-ribu pertanyaan membludak di benaknya. Yang penting saat ini dia masih hidup dan kakinya masih menyentuh lantai, tanpa luka sedikitpun kecuali sebuah memar kecil di lengan kanannya.

Eh?

“Sejak kapan aku punya memar ini?” Taeyeon berhenti berlari. Ia memerhatikan lengannya yang mulai membengkak perlahan, dengan warna biru ke-unguan menjadi warna dasarnya.

Tao ikut menghentikan langkahnya. Ia menatap memar di lengan Taeyeon. “Ini bekas jarum suntik.”

Taeyeon terperanjat. “Stephanie…”

DORR!

Brruk!

Taeyeon memekik kesakitan. Tao mendorong tubuhnya dengan keras hingga bagian belakang kepalanya berbenturan keras dengan lantai keramik.

Gadis itu mengangkat pandangan. Retinanya menangkap bayangan sesesok pria berpakaian penjaga berusaha menembaki mereka dengan sebuah pistol.

“Sial, di mana Kyungsoo. Dia harusnya mengurusi tikus ini,” gumam Tao menggigit bibir.

Kyungsoo di sini?

“Zi Tao! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melindungi gadis itu?” suara pria asing itu menggema di koridor.

Tao menghiraukannya. Ia buru-buru menarik tangan Taeyeon dan menyembunyikan tubuh gadis mungil itu di belakangnya. Perlahan, pria jangkung itu berbisik di telinga Taeyeon, “Kau lari ke lorong di sebelah kanan. Ikuti saja jalannya dan jangan masuk ke dalam pintu manapun. Cari pintu keluar belakang, atau kau bisa lompat dari salah satu jendela jika kau sudah di lantai satu. Aku akan mengurusi ini.”

Taeyeon meneguk salivanya. Ia sama sekali tidak bisa mencerna satupun kata yang keluar dari bibir Tao.

“Tao! Pergi dari situ!” pria itu kembali berseru. Tao mengacuhkan tatapan bingung Taeyeon dan segera berbalik.

“A-yo, Jongin-ah! Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kudengar ada masalah di bawah?” Tao berbasa-basi. Perlahan-lahan ia menuntun Taeyeon berjalan ke arah lorong yang ditunjuknya tadi.

“Jangan bersandiwara, Zi Tao. Aku ditugaskan untuk membunuh gadis di belakangmu, urusan di bawah sudah ditangani Absinth. Jadi lebih baik kau minggir jika kau tak ingin ikut kubunuh.”

Apa?

“Lho? Ada perubahan rencana? Kudengar gadis ini akan dikirim ke Prancis,” timpal Tao seraya mengerling ke arah Taeyeon.

“Apa? Ke Prancis? Bukankah—”

“LARI!”

Dengan jantung yang nyaris berhenti berdetak Taeyeon berlari bersamaan dengan bunyi suara timah panas dan bubuk mesiu yang meledak dari ujung pistol. Untung saja peluru itu meleset, menggali sebuah lubang dalam di dinding koridor.

Taeyeon menutup seluruh inderanya. Ia berlari dengan kecepatan kilat, bahkan ia sendiri merasa bahwa dirinya terlalu cepat. Tubuhnya seakan kehilangan setengah berat badannya, terasa ringan dan mudah sekali melayang.

Lorong yang dingin membuatnya sama sekali tak merasakan panas, tak satu butirpun peluh membasahi wajahnya. Tapi faktanya, ia tak memedulikan hal itu. Yang ada di dalam benaknya saat ini hanyalah Kyungsoo. Bahkan ia sudah tidak peduli lagi jika di jalan akan bertemu atau terlebih bertabrakan dengan Stephanie. Yang ia inginkan saat ini hanya melihat Kyungsoo.

Dan mendadak, kedua tungkainya berhenti mengerjakan tugas. Tiba-tiba saja Taeyeon terjatuh dengan posisi wajah mencium lantai dengan rasa sakit yang amat pada bagian lengan kanannya. Tubuhnya seperti diserang stroke seketika.

Belum sempat Taeyeon mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya, tahu-tahu suara derap sepatu menyambangi indera pendengaran miliknya. Gadis itu terpekur sebentar. Matanya bergerak-gerak liar, mencari senjata atau tempat untuk menyembunyikan tubuh kecilnya. Dan sebuah ruang berdaun pintu dua menarik perhatiannya.

Library.

Taeyeon buru-buru menutup pintu ruangan tersebut tanpa suara.

Ia terpejam sesaat seraya menghela napas panjang.

Belum sedetik Taeyeon membuka kelopak mata, dirinya sudah dibuat kagum dengan ruangan bertajuk perpustakaan itu.

Ruangan itu bagaikan surga. Tepat di hadapannya, terdapat ruang kosong yang dialasi karpet beludru merah dengan kaca tak bertirai yang membiaskan cahaya matahari menyinari ruang temaram itu. Di sebelah kirinya terdapat beberapa rak kecil dan meja baca yang tersusun dengan rapi dan simetris. Jika ia memperdalam penglihatannya, terlihat sebuah tangga lebar yang menuntunnya ke lantai atas dan berujung pada balkon tepat di atas kepalanya. Rak-rak besar kecoklatan tertata dengan apik di lantai atas. Langit-langit terasa jauh sekali, dihiasi oleh sebuah lampu artistik besar dengan permata transparan di sekitarnya. Tak seperti perpustakaan besar pada umumnya, ruangan tersebut sama sekali tidak menyebarkan bau apak kulit buku, dan bahkan tak terlihat satupun debu atau sarang laba-laba—menandakan bahwa pemilik rumah rajin membersihkan ruangan ini.

Taeyeon tersenyum tanpa sadar. Kakinya melangkah secara naluriah. Syarafnya sudah berhenti mengirimkan sinyal rasa sakit pada bibir dan lengan kanannya. Ia bahkan sudah melupakan prioritas yang baru beberapa menit lalu disusun di benaknya, bertemu Kyungsoo.

Taeyeon berjalan ke lantai atas sembari mengusap pegangan tangga. Matanya bertemu pandang dengan sederet novel lengkap garapan Sydney Sheldom dan Agatha Christie, penulis favoritnya. Senyuman lebar terpatri di bibirnya yang sudah membengkak.

Belum sempat gadis itu membuka halaman pertama buku karangan Sydney Sheldom bertitel Doomsday Conspiracy, telinganya menangkap sebuah bunyi keras seperti pintu yang dibuka paksa.

Benar saja.

Taeyeon menoleh ke arah sumber suara. Didapatinya pintu perpustakaan sudah terbuka lebar dan seorang wanita bersurai kemerahan berdiri di sana dengan sebuah revolver di tangannya.

Stephanie Hwang.

Tanpa pikir panjang Taeyeon berlari ke belakang rak buku—masih dengan Doomsday Conspiracy bersampul hijau di tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Ia baru menyadari bahwa ia sudah menghabiskan waktu berharga untuk menyelamatkan nyawanya di ruangan ini. Rupanya ia sudah benar-benar kehilangan akal pikirannya.

DORR!

Ledakan pertama mengalun dari pistol milik Stephanie. Taeyeon bisa merasa bahwa ada sesuatu yang rusak karena terdengar suara gemeretak dari bawah sana.

“Aku bisa merasakan bahwa kau ada di sini.”

Taeyeon tercekat.

Stephanie menyeringai. Ia menutup pintu perpustakaan dengan perlahan kemudian berjalan dengan santai mengelilingi ruang kosong beralas karpet merah tersebut. Baru saja ia menghancurkan kerajinan bambu yang menghiasi rak buku kecil di lantai dasar. Dan ia bisa merasakan hembusan napas ketakutan yang amat dalam setelahnya. Tentu saja milik Taeyeon.

“Keluarlah, gadis bodoh!”

DORR!

Tembakan kedua. Sebuah vas bunga hancur berkeping-keping.

Dan Taeyeon bersumpah jika tembakan ini masih berlanjut dirinya akan mati terlebih dahulu sebelum Stephanie membunuhnya.

Wanita bersurai kemerahan itu berjalan mengitari meja baca dan sekali lagi menembak lemari kaca kecil hingga menimbulkan bunyi yang sangat berisik.

Jantung Taeyeon nyaris berhenti berdetak.

“Kau mungkin bisa sembunyi, tapi kau tidak bisa lari dariku.” Stephanie tertawa dengan keras. Jelas suara tawanya tidak terdengar seperti tawa normal. Siapa yang tahu, bahwa jiwa seorang Stephanie Hwang bisa merasa tertekan.

“Apa?! Kau menyebutku gila? Silaka saja! Aku gila karenamu!”

DORR!

Sebuah tembakan kembali diluncurkan. Kaki jenjang Stephanie perlahan-lahan melangkah menaiki tangga.

“Kau tidak mengerti sama sekali, Kim Taeyeon! Berapa besar effort yang aku lakukan untuk mempertahankan perusahaan dan membiayai hidup anak-anak yatim piatu! Apa kau tidak tahu?! Pria yang kaucintai itu bisa hidup sampai saat ini karena aku!”

DORR!

Kali ini Stephanie menembak sebuah rak buku yang berjarak 4 rak dari tempat Taeyeon bersembunyi. Gadis itu memeluk novel tebal berbalut sampul kulit hijau tersebut dengan erat.

“Bukankah aku sangat baik? Memberi makan anak-anak yang telah kehilangan orangtuanya dan memberikan mereka pekerjaan di perusahaanku?!” Stephanie memekik kencang. Suaranya bergetar, bahkan Taeyeon bisa merasakannya.

“Apa kau tahu, aku sudah lebih dari 10 kali diopname di rumah sakit hanya untuk membuat perusahaanku tetap berjaya? Apa kau tahu, aku sudah nyaris membunuh 70 orang bawahanku sendiri hanya untuk mempertahankan perusahaanku? Tanganku sudah penuh dengan darah orang-orang bodoh berotak udang yang sama sekali tak pernah mengerti usahaku!”

DORR!

Sekali lagi, sebuah guci keramik pecah karena benturan timah panas dari revolver milik Stephanie.

“Dan kini, hanya karena seorang gadis belia bodoh tak berotak yang juga tak mengerti apa-apa mengenai hidupku perusahaanku hampir hancur dan semua kaki tangan mengkhianatiku!”

DORR!

Kini, buku-buku tebal bersampul kulit perlahan-lahan jatuh berserakan dari sebuah rak yang baru saja ditembak Stephanie. Dan rak itu hanya berjarak 2 rak dari tempat Taeyeon sekarang. Taeyeon menggigit bibir. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.

“Wah, ternyata novel Sydney Sheldom favoritmu adalah Doomsday Conspiracy, ya?”

Deg.

“Coba lihat di sini, sebuah ruang kecil menganga lebar di samping Bloodline dan The Best Laid Plans. Aku tidak pernah salah dalam menyusun buku.” Stephanie mengembangkan senyum pahit.

Taeyeon menatap novel karangan Sydney Sheldom di tangannya dengan geram. Dirinya tidak pernah menyangka sedikitpun bahwa Stephanie akan menyadari salah satu koleksinya hilang. Dan jelas, Doomsday Conspiracy membuat hidupnya nyaris mendekati doomsday (kiamat).

Brruk

Taeyeon menoleh.

Dari sudut matanya ia bisa melihat Stephanie menjatuhkan pistolnya ke atas karpet, lantas menendangnya hingga terpental ke sudut ruangan. Wanita itu bersandar di susuran tangga sembari menyibak rambut panjangnya ke belakang. Matanya sayu, dan kulitnya nampak pucat. Taeyeon benar-benar syok dengan pemandangan di belakangnya.

“Kau tidak pernah tahu… tidak pernah mengerti… rasanya dikhianati orang yang paling kau sayangi.” Stephanie berbisik dengan suara serak. Tubuh Taeyeon bergetar hebat.

“Apa kau pernah, memiliki seorang Ayah yang nyaris membunuhmu hanya untuk memenuhi obsesinya menguasai dunia?”

Taeyeon tertegun.

“Apa kau pernah, memiliki Ayah yang membunuh ibu kandungmu sendiri? Apa kau pernah, memiliki seorang Ayah yang akan mengkloning dirimu? Apa kau pernah, memiliki seorang paman dan kakak perempuan yang rela melindungimu dari segala macam bahaya hanya untuk mempertahankan sel kloning yang baik dan sehat darimu? Apa kau pernah, mencintai seseorang yang bahkan tak pernah peduli akan eksistensimu? Apa kau pernah? Pernah? HAH?!”

Taeyeon meneguk salivanya. Keringat dingin membasahi pori-pori kulitnya.

“Jika kau ingin menyalahkan seseorang atas apa yang terjadi pada Kyungsoo, salahkanlah Ayahku! Jika bukan karena dia, aku tidak mungkin jadi orang tak berhati yang tidak segan membunuh bawahanku sendiri! Jika ia mendidikku sebagaimana seorang ayah mendidik anaknya, aku tidak mungkin berada di sini dengan sebuah revolver 1477 dan kapan saja siap untuk melubangi kepalamu!”

“—aku hanya lelah dikhianati! Aku lelah mencintai dan pada akhirnya dibuang! Aku benci perasaan menyayangi dan memercayai! Perasaan-perasan omong kosong seperti itu hanya ada di dongeng dan drama! Tidak ada orang yang akan mencintai dirimu dengan tulus tanpa sedikitpun imbalan! Tidak ada!”

Kau salah.”

Stephanie membulatkan matanya. Retina wanita itu menangkap sosok Taeyeon tengah berdiri segaris dengannya dan sebuah buku bersampul hijau terselip di lengan gadis beriris cokelat tersebut. Mata gadis itu berpendar. Memancarkan keraguan dan keberanian.

“Kau salah menafsirkan cinta,” tuturnya setengah berbisik. Gadis itu berjalan perlahan mendekati Stephanie. “Pure love exists in this world. Cinta sejati itu ada. Cinta yang tulus itu ada. Untuk mendapatkannya kau hanya perlu sabar dan percaya. Percaya bahwa seseorang akan datang dan menggenggam tanganmu erat. Percaya bahwa suatu saat akan ada seseorang yang akan selalu melingkarkan tangannya di bahumu, memberimu kekuatan, perlindungan, dan… cinta.”

Stephanie membeku.

“Dan orang itu tak akan rela melepasmu. Ia akan selalu setia berada di sampingmu, tak peduli sesulit apapun mempertahankanmu, tapi orang itu akan selalu di sana. Menularkan kehangatan disaat dingin, memberikanmu kegembiraan disaat sedih, dan selalu menyajungmu disaat semua orang berusaha menjatuhkanmu.”

Kini, Taeyeon hanya berjarak 5 kaki dari posisi Stephanie berdiri. Gadis itu sudah sama sekali tidak merasa ragu. Ia tahu apa yang ia lakukan.

“Dan kau tahu mengapa aku berani menampakkan diri?” Taeyeon menatap Stephanie dengan tulus.

Spontan Stephanie menggeleng.

Taeyeon mengulum senyum, “Itu karena aku percaya denganmu. Aku percaya bahwa kau tidak akan menyakitiku. Aku percaya bahwa kau akan mendengarkanku. Because I believe.”

Stephanie tercenung. Ia memejamkan mata sesaat dan tak terasa sebuah tangan sudah melingkari tubuhnya. Ia bisa merasakan napas Taeyeon menggelitik pundaknya.

“Karena aku percaya.”

Taeyeon memeluk Stephanie dengan erat. Ia sudah tidak peduli lagi dengan novel Sydney Sheldom yang sudah lepas dari tangannya entah ke mana. Taeyeon percaya bahwa raga lemah di pelukannya harus diberi sejuta cinta agar bisa bangkit kembali. Dan Taeyeon berjanji jika ia masih hidup hingga malam ini ia akan mengabdikan dirinya untuk menjadi pelipur lara Stephanie. Ia berjanji.

.

.

.

Sayang sekali, kau percaya pada orang yang salah.”

Taeyeon terkejut. Tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak sampai ia menyadari sebuah benda tajam menempel dengan erat bak perangko di kulit lehernya. Pisau lipat. Gadis itu mundur perlahan.

Siapa yang kira bahwa seringai itu masih ada.

Jiwa itu masih hidup.

Jiwa seorang Stephanie Hwang yang kini menatap Taeyeon sarkastis.

“Apa sekarang kau mengerti rasanya dikhianati Kim Taeyeon?!” seru Stephanie tepat di telinga Taeyeon. Wanita itu terlihat sangat berantakan sekarang.

“Apa kaupikir aku akan menyerah begitu saja dan percaya pada kata-katamu? Apa kaupikir semudah itu aku berubah? Aku tak menyangka kau jauh lebih bodoh dari ekspetasiku,” papar Stephanie sambil terkekeh.

Setidaknya aku tidak menyerah.”

Secepat kilat, Taeyeon menendang tungkai Stephanie dengan keras, membuat gadis itu mendesah kesakitan hingga pisau lipat di tangannya jatuh ke lantai. Taeyeon melihat peristiwa itu sebagai kesempatan untuk melarikan diri. Ia memungut pisau lipat milik Stephanie dan segera berlari menuruni tangga menuju lantai dasar.

“KIM TAEYEON!”

Taeyeon menghiraukan seruan Stephanie. Kini dirinya sudah tidak mau lagi melakukan hal bodoh yang hanya akan menyulitkan dirinya sendiri. Gadis itu mulai mengukir senyum ketika tangannya nyaris meraih kenop pintu.

Tubuhnya membeku saat melihat kenop bergerak sebelum ia sempat menyentuhnya. Pintu terbuka perlahan, menampakkan sesosok pria dengan setelan jas yang sama dengan yang dipakai gadis itu.

Klik

Taeyeon terkejut bukan main tepat ketika keningnya merasakan sentuhan dari logam panas dan suara setelan pelatuk sebuah pistol.

Seseorang jelas menempelkan mulut pistol di atas keningnya.

Dan yang lebih membuatnya syok, wajah empunya pistol tersebut sangat familiar. Taeyeon mengenali setiap lekukan yang tertoreh di atas wajah tersebut. Mulai dari hidung, mata, pipi hingga bibir. Bahkan bibir itu pernah melumat bibir miliknya.

Ya. Tentu saja.

“Kyung… soo?”

Pria itu adalah Do Kyungsoo.

tbc.

Preview for Chapter 13 – Final Fight!

Jadi, kapan kau akan membunuhku?

Sekarang.

Aku memaafkanmu.

-o0o-

“Orang tuaku masih hidup.”

“Kyungsoo! Apa yang kau pikirkan?! Kau ingin apa yang terjadi pada Seohyun terulang lagi?”

“Tidak. Aku tidak melakukan ini untuk Stephanie. Aku melakukan ini untukmu.”

 “Apa?! Tidak! Kyungsoo!”

“Kim Joonmyun?!”

“Bibirmu bengkak… dan bau almond.”

“Kau tunggu di sini. Aku akan menyelamatkan mereka.”

“Siapa yang tahu, seorang Stephanie Hwang merancang dan mendesain rumahnya sendiri.”

“Ada yang aneh. Tidak mungkin kita lolos semudah ini dari Stephanie.”

“Kau telah menghancurkan perusahaan yang telah kubangun sejak kecil, Kim Taeyeon. Dan aku akan membuatmu membayar semuanya.”

“Taeyeon! Jangan ke sana! Berbahaya!”

“Aku sudah menitipkan malaikatku kepada Joonmyun. Aku sudah memintanya untuk menjaga malaikat cantik itu jika aku tak ada.”

“KYUNGSOO!”

-o0o-

Kau tahu, Taeyeon. Ada sebuah rahasia yang selama ini tak pernah kauketahui tentang diriku.

Apa itu?

see more, Take A Drink Together Final Chapter!

 

 

 

 

p/s

HAPPY BIRTHDAY KIM JONGIN<3333 AKU NONGOLIN KAMU TUH SEDETIK DI BAGIAN TEMBAK2AN(?) semoga apa yang diharapkan abang pesek bisa tercapai ya<3333 ayo berdoa bersama buat dia 😆

Dan akhirnya………….. YEAAAYYYY kita udah sampe chapter final 😆 aku seneng banget akhirnya bakalan berenti diterror :mrgreen: lolol /cipok mauriel/

Dan… ginilah akhirnya tadt :3 mungkin kalian semua bakalan ngira aku manusia jahannam yang membuat stephanie si montok terlihat sangat brengsek di sini lol. tapi itu karena aku mencintai ppan<33 /geplak/ /ngomong apa lo thor/

jujur aku gatau mau ngomong apa lagi-_- dan berikut note dariku:

chapter ini dan chapter sebelumnya pendek karena memang sudah direncanakan. bukan karena aku malas nulis atau gak ada ide lagi. tapi emang udah diplanning supaya tbc sampe situ, kalo dilanjutin entar bagian tbc-nya gak greget. jadi aku minta maaf sebesar-besarnya kalo kalian merasa chapter2 tadt ini pendek dan singkat. makasih<3

Awalnya aku mau bikin vote, tapi gak jadi soalnya udah ending lol. Nanti akan ada Epilog dan Q&A bersama pemain TADT! Jadi jangan cemas bagi kalian yang masih ga ngerti alur cerita TADT 😀

Chapter 13 lagi on-going, ditunggu aja mudah-mudahan cepet selesai :3

SELAMAT HARI KELAHIRAN NABI MUHAMMAD BAGI YANG MERAYAKAN.

 

PLEASE COMMENT!

99 thoughts on “Take A Drink Together (Chapter 12 – Bleeding Truth)

  1. OH MY GOD!!! Tiffany bener2 gak punya hati…..

    “Kau tidak mengerti sama sekali,
    Kim Taeyeon! Berapa besar effort
    yang aku lakukan untuk
    mempertahankan perusahaan dan
    membiayai hidup anak-anak yatim
    piatu! Apa kau tidak tahu?! Pria
    yang kaucintai itu bisa hidup
    sampai saat ini karena aku!”
    DORR!
    ini beneran dor? nah dichapter sebelumnya yg aku tangkep Tiffany nyelamatin orang tapi bunuh perampok, dan disini dia bilang ngasih makan anak yatim.. jadi sebenernya gimana sih dia, apa dia bunuh orang demi kebaikan? lalu bagaimana dengan kematian Jessica? apa Jessica juga orang jahat, atau Tiffany yang jahat??? aduuuhhh bingung

    • haloooo 😀
      waah emang aku jagonya bikin orang bingung-_-a maaf banget ya hahaha.
      Jadi intinya tiffany ini suka nyelakain orang gara-gara masa lalunya yang kelam, yang suka disiksa sama ayahnya. sebenernya masalah “ngasih makan anak yatim piatu” itu kembali lagi ke kyungsoo dan kru tiffany yang lainnya. jadi tiffany itu ngadopsi banyak anak yatim piatu buat dijadiin kaki tangannya dalam mendirikan organisasi. untuk masalah membunuh yang jahat sama yang baik, sebenernya tiffany ga pandang bulu. kebetulan kasus pembunuhan perampok itu kasus pertama si tiffany dalam bunuh orang. intinya dia ini suka nyelakain orang jahat atau baik, dan jessica mengusik keberadaan organisasinya si tiffany makanya dibunuh 🙂 makasih ya udah mau komentar dan baca<3

  2. bentar mau narik napas dulu
    .
    .
    .
    .
    .
    ILAAAAAAAA YA AMPUN KAKAK BARU BACA YANG CHAPTER INI DAN ASTAGFIRULLAH INI BERPOTENSI SERANGAN JANTUNG!! *ngoceh ga jelas* *tabokin*
    SUKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!
    aduh kalo baca scene taeyeon-tao ga tau kenapa pengen mereka berdua berakhir bersama di series ini, sebodo amat lah kalo umurnya beda jauh di ceritanya xD tapi balik lagi, pas baca scene kyungsoo langsung mikir “taeyeon harus happy ending sama kyungsoo!!” *otak ga konsisten*
    scene taeyeon-tiffany jadi favorit di chapter ini, akhirnya tau gimana perasaan si tiff yang sebenar-benarnya. karena dia terluka, yah, luka bisa membuat orang jadi kuat tapi juga bisa membuat orang kehilangan hati nurani #tsaah. sempat ngerasa iba dan simpati sama tiff setelah tau kisah masa lalunya dan alasan dia jadi sebengis itu sekarang. tapi simpati itu langsung ambyar waktu tiff mau nyelakain taeyeon lagi. eh tapi masi simpati juga sih, masi kasian tapi sebel juga /loh
    DAN ENDING DI CHAPTER INI!!! ITU KYUNGSOO YANG NGARAHIN PISTOL DI KENINGNYA TAEYEON?! KAMU KENAPA NAK KAMU KENAPAAAA?!!!! ;AAAAAAA; *goncangin badan kyungsoo* *ditimpuk sendal* sumpah endingnya bikin makin gregetan ga sabar nunggu lanjutannya, apalagi kutipan kutipan dialog next aaaaaaaa ayo cepet publish next chapt deeeeek!! ><
    chapter selanjutnya udah final kah? AAAAAAAAA MAKIN GA SABAR NUNGGUINNYA!!!
    ILA SEMANGAT!! SEMANGAT JUGA BUAT SEKOLAH & UJIANNYA YA!! SARANGHAE!! *taburin lope*

    -yoo-

    • hihihi halo kak yoo o// lama banget kita ga berjumpa di wp. aku sibuk banget banget banget TT

      aduh kak tiara emang jagonya alay deh #ditimpuk
      paling jago juga bikin aku ngefly:”))) kangen sama komentar kakak hahaha makasih banyak loh kak<33333:''))
      taeyeon-tao? hohoho tidak mungkin tao tidak akan saya restui/?
      happy ending? ga janji ya kak 😐 #kemudianditimpuklagi
      iyaa aku emang sengaja buat tiffany punya alasan buat nyelakain orang bukan karena dia gila atau authornya gila aja 😆
      siapa tau kyungsoo ngelakuin itu cuma gara-gara april mop kak 😐
      hehehe ditunggu ya kak 😀 makasih banyak banget udah komen sepanjang ini dan ngasih semangat<333

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s