Wrecking Ball (Chapter 4)

wreckingball

Wrecking Ball – Chapter 4

[wyfosh]

Main Cast : Minseok, Sunny, Kyungsoo, and Taeyeon

Romance, Sad, Angst | All Rated

Sunny duduk di ruang tunggu sambil meremas ujung mantel yang dia kenakan. Ntah mengapa dia merasa sangat khawatir kali ini. Melihat Kyungsoo, orang yang sangat peduli dengannya jatuh pingsan dengan darah yang mengalir dari kedua lubang hidungnya itu sungguh membuatnya frustasi.

Sunny menghelakan napasnya. Dia lelah. Dia ingin istirahat. Dia tidak bisa menghubungi keluarga Kyungsoo karena kedua orang tuanya sedang berada di Jepang. Baterai ponselnya pun sudah habis. perutnya sudah sangat lapar tapi dia tidak berani meninggalkan Kyungsoo sebelum dokter yang memeriksanya keluar dan memberikan hasil yang setidaknya dapat meredahkan rasa khawatirnya.

.

.

.

Minseok yang sedang tertidur di kamarnya mulai bergerak tidak nyaman karena suara bising yang terdengar dari pintu kamarnya. Dia mengerjapkan matanya perlahan.

“Minseok!” Terdengar panggilan dari umma-nya di balik pintu lalu disusul dengan suara ketukan.

“Minseok!” Ulangnya.

Dengan malas, Minseok bangun dari tidurnya lalu membuka pintu kamarnya perlahan dengan mata yang sipit—bahkan tertutup dan bau bantal yang sangat tercium.

“Ada apa?” Tanya Minseok setengah tertidur sambil menggaruk punggung lehernya.

“Cepat mandi dan antarkan umma ke rumah sakit.” Suruh umma-nya.

“Untuk?” Tanya Minseok dengan polos.

“Teman umma ada yang baru melahirkan. Umma ingin menjenguknya, nak.” Jawab umma-nya dengan sabar dan lembut. Tentu saja, dia sangat menyayangi Minseok yang statusnya adalah anak semata wayangnya.

“Baiklah. Tunggu sebentar.”

.

.

.

Minseok keluar dengan mantel coklat tua yang menyelimuti kemeja putih polos dengan polkadot coklat dan jeans yang berwarna senada dengan mantelnya. Tidak lupa dengan sneakers kesayangan yang selalu dia kenakan kemana-mana.

“Aku siap. Hanya mengantar bukan?” Tanya Minseok sambil merapikan mantelnya lalu meraih kunci mobil yang nyaris berdebu karena tidak pernah disentuh.

Minseok lebih memilih menggunakan bus untuk ke universitas.

“Apa? Bukankah tadi umma bilang sekalian menemani juga?” Tanya umma-nya.

Mata Minseok melebar, “Tidak. Aku tidak mendengar kau bicara seperti itu, umma.”

“Kau tadi masih tidur, sayang. Ah, maksudku kamu masih setengah tidur. Pasti tidak dengar.” Kelak umma-nya.

Umm—

“Sudahlah. Ayo, berangkat!”

Minseok menghelakan nafasnya, “Baiklah.”

.

.

.

Sunny bangkit dari duduknya ketika mendengar pintu Unit Gawat Darurat terbuka. Dia yakin itu dokter yang menangani Kyungsoo sekarang.

“Permisi. Apakah nyonya kekasihnya? Atau saudaranya?” Tanya sang dokter kepada Sunny yang berdiri tepat depan bangku di ruang tunggu.

Sunny bungkam.

Dia membatu. Dia harus menjawab apa?

“Maaf.” Ucap sang dokter.

“Kekasihnya.”

Dunia serasa berhenti ketika Sunny berhasil meloloskan sepatah kata tersebut dari bibir mungilnya.

“Baguslah. Mari ke ruangan saya.” Ajak sang dokter sambil memimpin jalan ke ruangnya.

.

.

.

“Jadi, kekasih saya kenapa, dok?” Tanya Sunny perlahan.

Dokter mengeluarkan sebuah berkas atau bisa dibilang salinan dari daftar pasien yang memeriksa kesehatannya sekitar beberapa bulan yang lalu. Dokter tersebut mengeluarkan sebuah kertas yang diselipkan ke dalam beberapa kertasnya yang lain.

“Jadi begini. Do Kyungsoo sudah pernah memeriksa kesehatannya di rumah sakit ini beberapa bulan yang lalu.” Jelas sang dokter sambil menyerahkan kertas tersebut. Sebuah hasil dari pengambil darah untuk di periksa.

Sunny membaca keterangan yang tertera di kertas tersebut.

Jantungnya terasa diremas, lehernya terasa dicekik begitu saja. Ini tidak mungkin, batin Sunny.

“Ma-maksudnya, dok?” Tanya Sunny dengan bergetar. Bahkan kertas yang dia pegang tersebut ikut bergetar.

“Tuan Do Kyungsoo telah mengidap kanker darah stadium empat.”

Sunny nyaris saja pingsan. Tangannya terjatuh lemas dan melepaskan kertas yang dia genggam. Dia sudah tidak bisa membandung air matanya lagi. Bagaikan bendungan yang jebol, air matanya mengalir dengan lancar.

“Kenapa? Bagaimana bisa?” Tanya Sunny.

“Tuan Do Kyungsoo pernah memeriksa darahnya lalu dia tidak pernah kembali ke rumah sakit untuk mengambil hasilnya. Kami telah berusaha mengirim ke alamat yang tertera namun alamat yang kami tuju adalah rumah kosong. Kami pikir dia telah pindah rumah.” Jelas sang dokter.

“Dan kini, dia harus melewati masa kritisnya.”

Sunny tertunduk. Membiarkan air matanya mengalir untuk Kyungsoo. Ia bangkit berdiri dari bangkunya lalu terjatuh begitu saja. Dia terlalu terkejut.

“Nyonya!” Seru sang dokter.

Sunny hanya menggeleng lalu berusaha bangkit berdiri, “Maaf.”

Sunny pun membungkukkan tubuhnya dan berlalu dari ruangan tersebut. Dengan air mata yang berlinang dimatanya.

.

.

.

Sunny duduk di bangku yang terletak di samping kasur Kyungsoo. Mengenggam tangan kiri Kyungsoo dengan tangannya yang hangat. Diletakkan tangan Kyungsoo ke pipi kanannya yang basah dengan sisa air matanya.

“Kyungsoo-ah. Bangunlah.” Pinta Sunny. Perlahan air matanya turun lagi dari habitatnya.

“Kyungsoo..” Sunny memegang dahi Kyungsoo lalu mengelus rambut merah Kyungsoo dengan lembut. Bangunlah.

Tiba-tiba pintu kamar Kyungsoo terbuka. Sunny menoleh ke pintu tersebut lalu muncul seorang pria yang sangat dia kenal.

“Sunny?!”

.

.

.

Minseok baru saja masuk ke rumah sakit dengan lengan yang tengah dipeluk oleh umma-nya. Baru saja melangkahkan tiga langkah, Minseok langsung menyadari seorang wanita yang dia kenal. Wanita pendek, teman semasa kecilnya. Anak dari teman umma-nya yang baru saja melahirkan dan kakak dari anak yang baru dilahirkan itu.

“Taeyeon-ah!” Panggil umma-nya sambil melambaikan tangannya ke Taeyeon yang sedang berdiri untuk menunggu mereka.

Ahjumma,” Panggil Taeyeon sambil membungkukkan tubuhnya. “Ah, Minseok!” Panggil Taeyeon lagi dengan senyuman terlebar yang dia punya.

Tentu saja, kenapa tidak?

Minseok sudah seperti bagian dari keluarga Taeyeon. Taeyeon sering cerita tentang pria yang dia sukai kepada Minseok, dosen-dosen yang menyebalkan kepada Minseok, masa susahnya, masa senangnya, seluruhnya.

“Taeyeon-ah!” Seru Minseok sambil tersenyum lalu mengalungi lengannya ke leher Taeyeon.

“Apa kabarmu, huh?” Tanya Taeyeon sambil memukul perut Minseok pelan.

“Baik. Kau?”

“Lebih baik tentunya.” Balas Taeyeon sambil tertawa.

“Kalian sudah sangat akrab. Kenapa tidak pernah jadi?” Tanya umma-nya disela-sela sapaan mereka.

Minseok terkekeh, “Tidak mungkin, umma. Benar bukan, byuntae?” Tanya Minseok sambil mencubit pipi Taeyeon pelan.

Taeyeon langsung menepuk pantat Minseok, “Benar kata Minseok, ahjumma.”

.

.

.

Minseok duduk di sofa yang terseida di ruangan inap umma-nya Taeyeon sambil bermain dengan ponselnya. Taeyeon juga melakukan hal yang sama di sebelah Minseok, bermain dengan ponselnya.

“Bagaimana kabar wanita pujaanmu?” Tanya Taeyeon tiba-tiba sambil meletakkan ponselnya ke meja yang terletak disamping sofa tersebut.

Minseok menoleh, “Aku sudah mengetahui namanya.”

Taeyeon langsung menepuk pundak Minseok, “Wah! Sangat cepat langkahmu, Minseok!”

Minseok tertawa pelan, “Yap.”

Kau tidak tahu saja, Taeyeon-ah, batin Minseok.

“Mana adikmu? Aku ingin lihat.” Ujar Minseok.

“Dia sedang di ruangan bayi. Mana bisa kau lihat?” Tanya Taeyeon.

“Ah~ Baiklah. Aku ke toilet saja.” Kata Minseok lalu bangkit berdiri dan keluar dari ruangan tersebut.

.

.

.

Minseok keluar dari toilet sambil memasukkan ponselnya ke dalam mantel. Karena kecerobohannya, ponselnya terpeleset dari tangannya yang basah.

“Sial!” Gerutu Minseok sambil mengambil ponselnya yang tergeletak di atas lantai.

Ketika dia bangkit berdiri sambil membetulkan ponselnya yang baterainya terlepas. Dia mengingat sesuatu. Dia tidak tahu nomor berapa kamar umma-nya Taeyeon.

Minseok menghentakkan kakinya sekali ke lantai yang dingin tersebut, “Bodoh!”

Minseok pun berjalan menelusuri lorong demi lorong yang berada di rumah sakit ini. Mencoba mengingat-ingat kamar mana yang familiar dengan penglihatannya.

Dia berhenti di sebuah pintu yang menurutnya sangat familiar. Perasaanya membawanya kesini. Perlahan dia menekan gagang pintu tersebut dan mendorongnya agar terbuka.

Dia bisa melihat seorang pria tergeletak lemas di atas ranjang dengan wajah yang pucat dan seornag wanita yang memeluk tangan lelaki tersebut sambil menangis. Baru saja dia ingin pamit dan meminta maaf karena salah kamar.

Namun keinginannya terhenti ketika wanita tersebut menoleh.

“Sunny?!” Respon Minseok.

Niatnya yang ingin meninggalkan ruangan tersebut mengecil. Melihat keadaan Sunny yang agak berantakan seperti sekarang mendorongkan niat Minseok untuk membuat Sunny nyaman dan setidaknya lebih baik.

“Minseok?” Panggil Sunny dengan suaranya yang parau. Air matanya terjatuh lagi.

Ah, hati Minseok terasa dipalu melihat air mata yang terjatuh dari mata Sunny yang indah itu.

“Sun, ada apa?” Minseok medekatkan jarak mereka.

Sunny bangkit berdiri. Tiba-tiba semuanya terlihat buram. Kepalanya pening. Sunny pun terjatuh lagi ke posisi duduknya seperti semula.

“Sunny!”

.

.

.

Sunny terbaring lemas di atas kasur rumah sakit tepat disebelah kasur Kyungsoo berada. Minseok duduk diantara keduanya. Makanan yang disediakan rumah sakit sudah terletak dimeja sebelah kanan Sunny.

Sunny hanya shock berat dengan perut yang kosong membuatnay kehabisan tenaga lalu jatuh pingsan.

Minseok bingung. Apa yang terjadi sebenarnya?

Tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat, dia mengangkat panggilan masuk tersebut.

“Halo?”

“Minseok, kau dimana, sayang?”

“Aku ada di kamar nomor 1204. Kesini saja, umma. Temanku ada yang sakit.”

“Baiklah.

Sambungan telepon tersebut pun terputus. Minseok langsung menyimpan ponselnya ke saku mantelnya dengan hati-hati tentunya.

Tak lama kemudian, pintu kamar yang Minseok tempati tersebut itu terketuk lalu muncuk umma-nya dibalik pintu tersebut.

Minseok tersenyum menyambutnya, “Umma!

“Siapa temanmu yang sakit, nak?” Tanya umma-nya.

“Mereka.” Ucap Minseok sambil menunjuk Sunny dan pria yang tidak dikenal Minseok—hanya nama saja. Itupun karena papan data diri yang terletak didepan kasur tersebut.

Umma-nya mengikuti jari telunjuk Minseok.

Pada saat itu juga, umma-nya terkjut.

“Dia..”

TO BE CONTINUE

Advertisements

5 thoughts on “Wrecking Ball (Chapter 4)

  1. DIA???? DIA KENAPA???;;; makin seru, ada tae nya juga lagi huaaw

    makasih ya thor post nya cepet<333 janji deh bakal baca sampe part terakhir'-')b

  2. Thor, ini kenapa pendek banget ceritanya? Ya allah, gua udh pengen nangis gagal x_x ayolah thor jangan lama2 ne ngelanjutinnya;D

  3. uwooooow???dia???jangan-jangan sunny atau d.o adik atau kakaknya xiumin lagi….aduh jadi penasaran nih…lanjut thor ceritanya ^^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s