Beautiful Husband [Part 8]

Beautiful-Husband

Beautiful Husband [Part 8: Forgive Me]

Writing by Priskila (@priskilaaaa)

Byun Baekhyun [EXO K] – Kim Taeyeon [SNSD]

Series | Teen | Romance – Family – Marriage Life

Disclaimer:

I don’t own the cast. But the storyline and the plot is mine. Everything here belongs to God and their family, their agency too. I just used their physical representation.

 

Prev. chapter

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8

 

 

Hari itu adalah hari paling suram dalam kehidupan Taeyeon. Malam tergelap dan malam paling menyedihkan. Dunia seakan ikut berpaling dari dirinya ketika Baekhyun meninggalkannya malam itu.

 

Air mata itu menetes dengan derasnya – sedangkan dirinya meringkuk dalam kegelapan.

 

Sudah dua jam lamanya dia berada dalam kondisi kacau seperti itu. Dia masih tak percaya dengan keputusan yang diambil Baekhyun. Tidak, lelaki itu tidak mungkin berniat menceraikan dirinya. Dia tau betapa Baekhyun mencintainya – sama seperti dia mencintai lelaki itu. Oleh sebab itu, adalah hal yang membuatnya shock ketika Baekhyun menyodorkan surat cerai itu.

 

“Baekhyun-ah…” Entah sudah berapa kali banyaknya dia menyebutkan nama sang suami. Suami yang dia cintai, dia sayangi, dia kasihi…

 

…dan dia khianati.

 

Taeyeon memeluk kedua lututnya erat sementara mulutnya terus mengeluarkan isakan – isakan tertahan. Ini semua karma dari Tuhan bagi dirinya. Hukuman dari Tuhan karena telah membuat Baekhyun kecewa dan mengkhianati lelaki itu – dengan bermesraan dengan Jongin. Taeyeon mengerang dalam tangisnya, dia sudah terlanjur mencintai Baekhyun. Dia tidak tau bagaimana harus menjalani hidupnya lagi jika Baekhyun memang benar – benar menceraikannya.

 

Sungguh, dia telah sangat mencintai Baekhyun.

 

Dan saat ini dia ingin Baekhyun kembali. Berharap Baekhyun berubah pikiran dan membatalkan gugatan cerai itu. Berharap Baekhyun akan datang padanya saat ini dan menenangkannya. Berharap Baekhyun akan berkata semua ini hanyalah candaan yang ingin dibuatnya menjadi sebuah kejutan bagi Taeyeon. Berharap kalau…

 

“Hiks.. hikss.. Baekhyun-ah, mianhae… Aku minta maaf” … kalau dia akan memaafkan Taeyeon yang kurang ajar ini.

 

“A—apa?”

 

Wanita yang sudah menjadi ibunya itu mengangguk cemas. Nyonya Byun tampak begitu khawatir dengan keadaan Baekhyun sekarang. Pasalnya, anak semata wayangnya itu tidak pulang ke rumah – seusai meninggalkan apartemennya dengan Taeyeon itu.

 

Sedangkan Taeyeon sudah dibuat menjadi lebih down. Dimana dia akan menemui lelaki itu sekarang? “Dia marah sekali padaku ya…” gumamnya pelan. Gadis itu menghela nafasnya ketika Nyonya Byun menjuruskan pertanyaannya, “Kalian bertengkar karena apa? Kenapa sampai acara – acara pergi dari rumah begini?”

 

Alis Taeyeon terangkat bingung. Tunggu… bukannya Baekhyun bilang semalam dia sudah membicarakan masalahnya dengan Taeyeon pada keluarga mereka?

 

“Kalau ada apa – apa, harus dimengertiin baik – baik dulu. Kalian ini baru saja menikah, masa sudah bertengkar? Padahal Eommanim baru melihat kalian mesra – mesraan” nasihat Nyonya Byun dengan wajah kecewa.

 

Taeyeon menunduk – tak sanggup menatap wajah ibu lelaki yang telah dia khianati itu. Dirinya tersenyum lirih ketika tangan lembut sang ibu mertua menyentuh dagunya dan mengangkat kepalanya pelan. “Ada apa? Cerita – cerita pada Eomma kalau masalah kalian memang sulit. Mungkin Eomma bisa memberi jalan keluar…”

 

Gadis itu masih saja menampakkan senyumnya ketika ibu mertuanya itu memeluknya hangat. Terlintas di pikirannya, apakah Eommanim akan tetap bersikap seperti ini padanya jika tau masalah mereka yang sebenarnya? Akankah Eommanim tetap menyainginya dan menatapnya dengan lembut jika saja dia tau bahwa menantunya itu telah berselingkuh dengan lelaki lain – dan membuat anak kesayangannya kecewa?

 

Mungkin……

 

…tidak.

 

Nyonya Byun melepaskan pelukannya dan mengusap pelan rambut Taeyeon yang tergerai. “Kalau Baekhyun belum pulang juga, jangan terlalu khawatir ya. Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri guna memikirkan masalah kalian.”

 

Taeyeon mengangguk pelan sambil menunduk, “Ne Eommanim

 

“Kalian harus bersikap dewasa dalam setiap masalah kalian. Jangan gegabah dalam menghadapi sesuatu, bisa – bisa nanti cerai lagi”

 

Dia sudah berniat menceraikan aku, Eommanim

 

 

Suara penggorengan yang beradu dengan bunyi pisau yang bergerak memotong di atas telenan terdengar di seluruh apartemen itu. Lihatlah Taeyeon yang tampak begitu semangat melakukan kegiatannya siang itu. Gadis itu tersenyum sepanjang ‘acara’ memasaknya – walaupun peluh mengalir di dahinya.

 

TING TONG

 

Kegiatannya berhenti ketika Taeyeon menoleh ke arah pintu masuk apartemennya. Ada tamu rupanya. Gadis itu melepas pisaunya, mematikan kompor, dan membersihkan tangannya dengan kain sedang dia berteriak, “Tunggu sebentar ya!”

 

Taeyeon buru – buru melepaskan celemeknya dan berlari kecil menuju pintu apartemennya, lalu membukanya, “­­Annyeong­—“

 

“Taeyeon-ah!”

 

Oh, rupanya Tiffany. Gadis berambut merah yang sudah memiliki suami itu berseru senang dan segera memeluk sahabatnya dengan erat – dan hal itu membuat Taeyeon sesak mendadak. “Uggh—Tiff—“

 

“Aaaah~ i really miss you” kata Tiffany lalu melepaskan Taeyeon dengan senyuman indahnya. Jujur saja, kata – kata Tiffany membuat Taeyeon mual mendadak. Gadis itu berperilaku seakan mereka tidak pernah bertemu sebulan lamanya, padahal baru saja dua hari yang lalu Taeyeon bertemu dengan sahabat seperjuangannya ini untuk curhat tentang… Baekhyun.

 

Taeyeon tersenyum mengejek dan menutup pintu apartemennya – sedang Tiffany sudah main duduk saja di sofa tanpa permisi. “Ouh, bau apa ini? Kau masak enak ya?” Tiffany mengendus – ngendus lucu, membuat Taeyeon tertawa kecil.

 

“Aku lagi masak makanan kesukaan Baekhyun, Tiff”

 

Tiffany terdiam ketika Taeyeon menyebutkan nama Baekhyun dengan riang – seakan tak ada masalah yang sedang membebani. Dirinya hanya mengatupkan mulutnya ketika dia melihat Taeyeon berjalan menuju dapur dan mengambilkan minum untuknya. Dia baru hendak berbicara ketika gadis itu sudah menyajikan orange juice di hadapannya, “Soal Baekhyun… Tadi aku seperti melihatnya di cafe dekat apartemenmu, Tae”

 

Taeyeon membeku. Tangannya yang masih mengenggam gelas orange juice di meja seakan tak bergerak. Hanya matanya yang tampak terkejut dengan perkataan Tiffany. “Ka—kau bertemu Baekhyun?” Dua detik kemudian, gadis itu sudah meremas kedua pundak Tiffany dengan keras – meminta penjelasan detail dari Tiffany.

 

Tiffany meringis, dia ingin melepaskan cengkraman Taeyeon pada pundaknya. Namun ketika dia melihat mata Taeyeon yang sudah berkaca – kaca, gadis itu mengurungkan niatnya. Taeyeon benar – benar membutuhkan Baekhyun sekarang.

 

“Sepertinya, Taeyeon. Aku tak yakin—“

 

“Kenapa tak yakin?! Harusnya kau memastikan itu Baekhyun dan menyuruhnya pulang…” Taeyeon meneteskan air matanya. Tangannya sudah terlepas dari pundak Tiffany dan dia mengacak rambutnya kasar. “Dia sudah tidak pernah menghubungiku ataupun pulang seminggu ini, Tiff…” Kemudian dia terisak.

 

Tiffany memandang miris sahabatnya itu. Memang seharusnya dia memastikan dulu sebelum mengatakan hal yang tidak pasti ini pada Taeyeon. Oh, dia merasa dirinya bodoh sekarang. Batinnya mengatakan kalau tadi lelaki yang dilihatnya itu memang suami sahabatnya yang sudah tidak pulang seminggu, namun… penampilan lelaki itu benar – benar berbeda dengan penampilan yang senantiasa ditampilkan oleh seorang Byun Baekhyun. Berbeda jauh.

 

Flashback

 

“Oh. Aku baru saja mau ke apartemennya Taeyeon sekarang, honey. Ini baru selesai makan siang di cafe dekat apartemennya” Tiffany menempelkan ponselnya di telinga menggunakan bahu kanannya sedang tangannya sibuk membayar makan siangnya di kasir cafe. Gadis itu tampak kerepotan mengeluarkan uangnya dari dompet pink yang selalu menjadi bawaan wajibnya.

 

“Hm, iya… Honey sendiri sudah makan, ‘kan? Mian hari ini tidak bisa menemani” Gadis itu tersenyum mendengar jawaban suaminya yang merajuk dari seberang sana. Ah, memang sudah menjadi rutinitas biasa mereka untuk makan siang bersama, tapi hari ini berbeda. Tiffany merasa wajib untuk mengunjungi Taeyeon hari ini, apalagi dengan kenyataan bahwa sahabatnya itu sedang dirundung masalah dengan rumah tangganya.

 

“Jangan merajuk, ah. Dari sana juga palingan aku ke kantormu kok” jawab Tiffany sambil mengambil bill tanda pembayaran dari kasir. Tangan kanannya sudah memegang ponsel, dan tangan kirinya memasukkan dompet ke dalam tas. “Iya iya… Arraseo sayang”

 

Dirinya sudah tepat berada di depan pintu cafe – bermaksud membukanya, ketika seorang lelaki secara tiba – tiba masuk ke dalam cafe tepat di hadapannya. Tiffany terpaku sejenak saat matanya melihat sekilas wajah lelaki itu. “I—itu…” Dirinya tergagap. Tiffany langsung berbalik memastikan, namun yang dilihatnya hanya sosok belakang dari lelaki itu. Kepalanya miring 30 derajat sambil berpikir sejenak. Wajah lelaki tadi terlihat tidak asing baginya, tapi dia tidak bisa memastikan karena memang dirinya hanya sekilas melihat.

 

“Baekhyun?” Mulutnya mengeluarkan nama itu dan spontan saja dia berniat menghampiri sosok itu. Hanya saja, niatnya sirna ketika dia melihat sosok itu sudah duduk membelakanginya dan berkumpul dengan segerombolan pemuda keren di seberang sana.

 

Tiffany menggeleng, “Tidak. Itu bukan Baekhyun.” Dirinya bukannya tak beralasan mengambil keyakinan itu. Hanya saja, setaunya itu… Baekhyun tak pernah berkumpul dengan sekumpulan lelaki tampan yang hobinya menggoda gadis cantik. Setahunya, Baekhyun hanya tertarik pada hal – hal feminim yang manis dan terobsesi pada warna pastel, bukan warna biru tua dan hitam seperti yang digunakan lelaki itu.

 

Lelaki itu pasti bukan Baekhyun. Dan gadis itu langsung melangkah keluar tanpa mengetahui fakta bahwa itu memang Baekhyun.

Eomma Baekhyun tidak tau soal masalah kalian?”

 

Taeyeon menjawab dengan gelengan kepalanya. Gadis itu mengela nafasnya lalu meneguk sedikit orange juice yang hampir habis dari gelasnya. “Eommanim tidak tau. Dan sekarang, dia mengira Baekhyun sudah pulang”

 

Tiffany mengernyit, “Tunggu… Taeyeon, kau berbohong pada mertuamu ya?”

 

Taeyeon mengangguk pasrah, “Aku terpaksa, Tiff. Apa yang harus aku katakan padanya jika dia tau yang sebenarnya kalau aku berselingkuh dari Baekhyun? Itu sama saja aku membuat diriku dibenci. Aku tidak mau, Tiff. Aku tidak mau mereka membenciku.”

 

Tiffany mendesah pelan. Sesaat, mereka terdiam tanpa banyak bicara. Tiffany tidak terlalu mau banyak bertanya – takut membuat perkataannya malah membuat Taeyeon makin larut dalam kesedihannya. Sedangkan Taeyeon, entah apa yang dipikirkannya. Seminggu ini terasa begitu menyedihkan dan suram dalam hidupnya. Dan dia merasa kosong.

 

Kosong.

 

Taeyeon meneguk orange juicenya hingga habis lalu segera berdiri mengangkat gelasnya dan gelas Tiffany yang sudah kosong, dan membawanya ke belakang. Entah apa yang ada di otaknya sekarang, hingga dia lebih memilih mencuci gelas – gelas itu dan melanjutkan masaknya yang tertunda.

 

Sedang di ruang tamu apartemen itu, Tiffany hanya memandangi sahabatnya yang sibuk – atau hanya berusaha terlihat sibuk? – di dapur. Disandarkannya punggungnya di sofa dan menghela nafas lelah. Dia memang belum pernah berada di keadaan yang seperti Taeyeon rasakan sekarang ini, hanya saja melihat bagaimana sahabatnya itu menjalani hari akhir – akhir ini, membuatnya yakin bahwa hal ini memang sangatlah berat. Jiwanya dan Taeyeon seakan sudah bersatu dan mereka sudah saling mengerti perasaan masing – masing, bahkan dia berani bertaruh kalau di antara persahabatan mereka bertiga, hanyalah dirinya dan Taeyeon yang sudah seperti berbagi jiwa.

 

Tiffany merogoh ponselnya di tas ketika mendengar bunyi pesan masuk di ponselnya. Jarinya dengan lincah membuka pesan dan membacanya cepat.

 

From: Joonmyunnie

 

Perasaanku saja atau memang aku melihat Baekhyun di toko olahraga di mall?

 

Tiffany – lagi – hanya dapat menghela nafas. Cepat – cepat, dia membalas sms dari suaminya itu.

 

To: Joonmyunnie

 

Kuharap itu hanyalah fatamorganamu saja

 

“Oh, Taeyeon! Bagaimana kalau kita jalan – jalan ke mallnya Suho?”

 

“Eung?”

 

 

Kedua gadis itu berjalan seakan tanpa arah disana. Tiffany yang berusaha semangat berbelanja dan Taeyeon yang hanya memang berniat melepas kesedihannya saja. Taeyeon hanya terdiam dan membiarkan dirinya ditarik kesana – kemari oleh Tiffany yang memang hobi berbelanja.

 

Dirinya memang sudah berusaha untuk ikut larut dalam hobi utamanya ini dulu. Hanya saja entah mengapa jiwanya seakan hilang akhir – akhir ini. Beberapa kali dia berusaha tersenyum dan memberi pendapat ketika Tiffany memperlihatkan baju – baju yang sedang trending musim ini. Beberapa kali juga dia mencoba beberapa baju yang disarankan sahabatnya itu, dan berusaha untuk berbuat heboh saat berbelanja seperti dulu. Hanya saja… sungguh, dia bagaikan manusia tanpa roh yang berjalan tanpa tujuan.

 

Dan dia hanya pasrah ketika Tiffany menariknya menuju salah satu olahraga di departement store milik keluarga suaminya ini. Memang dirinya sempat bingung ketika menyadari apa yang mereka masuki sekarang ini, tapi sudahlah… mungkin ada peralatan golf yang ingin dibeli Tiffany.

 

“Kau tunggu disini ya, aku mau melihat – lihat disana dulu” Taeyeon mengangguk saja ketika Tiffany sudah masuk lebih dalam ke toko. Gadis itu duduk di salah satu kursi di dalam toko itu dan melihat – lihat sepatu sport khusus wanita yang terpajang dekat dengannya.

 

Taeyeon baru saja berdiri ketika dia melihat sebuah sepatu yang menarik perhatiannya. Bukan sepatu olahraga wanita yang berwarna pink dengan heels 7 cm didesainnya, tapi sebuah sepatu converse berwarna biru tua dengan hiasan ala spike yang simpel di depannya. Sepatu itu pasti cocok dipakai oleh Baekhyun.

 

Gadis itu segera berjalan dan menjulurkan tangannya mengambil sepatu itu – ketika sebuah tangan lain juga berniat mengambil sepatu converse itu. Hingga akhirnya, secara kebetulan, tangan mereka seperti sedang bergenggaman.

 

Entah apa yang dipikirkannya, jantung Taeyeon seketika itu juga berdegup kencang dan darahnya berdesir cepat. Kepalanya terangkat perlahan untuk melihat pemilik tangan itu. Dan bagaikan adegan yang di slow motion ,matanya membelalak melihat sosok pemilik tangan yang tertarik pada sepatu yang disukainya itu.

 

“Ba—baekhyun…?”

 

Waktu seakan berhenti detik itu juga. Taeyeon menahan nafasnya ketika melihat sosok yang dihadapannya itu memang suaminya. Suaminya yang sudah berpisah dengannya seminggu ini. Suaminya yang dia cintai dan dia khianati.

 

Sedang lelaki di hadapan Taeyeon juga melakukan hal yang sama dengan gadis itu. Bedanya, Baekhyun menyadari keadaan mereka dengan lebih cepat. Buru – buru, dia menarik tangannya – yang semula menyentuh lembut tangan Taeyeon dan membungkuk, “Mianhae agassi, saya permisi”

 

Baekhyun melangkah cepat meninggalkan Taeyeon. Matanya memerah ketika melihat sosok istrinya tepat di hadapannya. Taeyeon yang sudah dirindukannya seminggu ini. Taeyeon yang sudah membuatnya selalu larut dalam tangisan setiap malam karena rindu. Taeyeon yang sangat dicintainya, namun akan berpisah dengannya dalam waktu dekat ini.

 

Dia harus pergi secepatnya sebelum pertahanannya runtuh… Harus…

 

“Baekhyun!”

 

Baekhyun berusaha tidak menghiraukan panggilan Taeyeon. Dia harus pergi dari sana.

 

“Byun Baekhyun! Jangan pergi!”

 

Baekhyun menggeleng cepat sambil berusaha mengusir pikirannya yang mengatakan Taeyeon sudah menangis disana. Jangan berbalik… Jangan berbalik, Baekhyun. Kalau kau berbalik, kau akan hancur. Pergi secepatnya sebelum akhirnya kau tidak sanggup pergi dari gadis itu.

 

“Baekhyun—“

 

Langkahnya terhenti tepat saat air matanya mengalir deras di pipinya. Runtuh sudah pertahanannya. Dia sudah tidak sanggup.

 

Taeyeon menangis dalam pelukannya. Gadis itu memeluk erat tubuh Baekhyun yang saat ini membelakanginya. Dia sudah mendapatkan Baekhyun, dan dia takkan melepaskannya lagi. Taeyeon menangis dan terisak. Berulang kali mulutnya mengucapkan kata maaf yang begitu dalam. Maaf atas kebodohannya dan kelakuannya.

 

“Maaf. Maafkan aku. Maafkan aku, Baekhyun. Maaf…”

 

Baekhyun tak berkutik dalam pelukan Taeyeon. Lelaki itu tak tau harus bereaksi apa. Hanyalah air matanya yang mengalir, sedangkan sekuat tenaganya dia berusaha untuk menahan isakannya. Hanya saja, sikap Taeyeon kini membuatnya runtuh. Sekuat hati dia sudah membangun pertahanan diri, agar menutup cintanya pada gadis itu. Membuat gadis itu pergi. Hanya dengan sikap Taeyeon yang seperti ini, bagaimana dapat? Baekhyun tak bisa.

 

“Maafkan aku. Hiks… hikss… Baekhyun, maaf…” Tak ada kata lain yang dikeluarkan gadis itu selain kata maaf. Tak diperdulikannya mereka yang sudah menjadi bahan tontonan oleh orang – orang disana. Yang menjadi prioritasnya sekarang hanyalah maaf dari Baekhyun. Hanyalah anggukan kepala dari lelaki untuk kembali padanya dan tidak meninggalkannya. Dia hanya butuh itu.

 

Waktu terus saja berjalan, namun entah apa yang terjadi. Kedua manusia itu tetap saja tak bergeming dari posisi mereka, sedang sang wanita tetap saja mengucapkan kata – kata maaf.

 

“Maaf. Maafkan aku. Maafkan aku.. Aku memang bodoh. Maafkan aku, Baekhyun-ah… Hikss hikss…”

 

Baekhyun menggeleng pelan sambil menahan isakannya. Secara perlahan tangannya bergerak memegang tangan Taeyeon yang merangkul pinggangnya. Lelaki itu menggenggam tangan itu erat seraya menggeleng. “Tak ada—tak ada yang harus dimaafkan”

 

Dan dia melepas tangan itu dengan menyentakkannya kasar. Baekhyun membersihkan air matanya lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantelnya. “Aku pergi. Kuharap kita tidak bertemu lagi” ucapnya dan melangkah menjauh.

 

Ani. Aniya! Baekhyun-ah!!!” Taeyeon memekik sambil berusaha mengejar lelaki itu. Sempat tangannya berhasil menarik lengan Baekhyun, hanya saja… lelaki itu kembali menyentakkan tangannya dengan keras.

 

“Jangan kejar aku, Taeyeon-ssi” bisik Baekhyun sinis lalu kembali melangkah pergi. Meninggalkan Taeyeon yang sudah menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

 

Tubuh gadis itu hampir saja membentur lantai jika saja Tiffany tidak cepat – cepat mencegah hal itu terjadi. “Taeyeon-ah…”

 

“Baekhyun tidak seperti itu, Tiff. Baekhyun tidak pernah kasar padaku. Tidak pernah. Kau tau itu, ‘kan?” isak Taeyeon. Matanya memandang Tiffany dalam – seakan menuntut jawaban gadis itu. Tangannya sudah mencengkram lengan Tiffany dengan keras. “Iya kan, Tiff? Iya kan?!” pekiknya frustasi.

 

Tiffany meringis. Air matanya sukses jatuh melihat keadaan sahabatnya saat ini. Taeyeon terlihat begitu miris. Seumur hidupnya bersahabat dengan Taeyeon, tak pernah dia melihat Taeyeon menangis seperti ini. Gadis itu selalu kuat dan tegar. Gadis itu tak pernah menangis di depan orang banyak, apalagi karena seorang lelaki. Yang ada dialah yang membuat para lelaki menangis memintanya kembali, tapi sekarang… semua itu terasa berbeda. Baekhyun sudah merubah Taeyeon dengan membuatnya mencintai lelaki itu. Sangat mencintai lelaki itu.

 

“Tae….”

 

“Baekhyun… Baekhyun itu sayang padaku, Tiff? Iya kan? Tadi itu pasti bukan Baekhyun, Baekhyun tidak seperti itu. Aku salah lihat. Iya kan?”

 

Gadis berambut merah itu mengangguk – sementara air matanya terus mengalir membasahi pipi – lalu memeluk sahabatnya,“Iya. Tadi kau salah lihat. Baekhyun tidak mungkin seperti itu, karena dia sangat mencintaimu” katanya yang sukses membuat tangis Taeyeon kembali pecah.

 

 

Lelaki itu menghela nafasnya entah untuk keberapa kalinya. Entah sudah berapa botol minuman soju yang diteguknya malam itu. Byun Baekhyun kembali menuangkan soju ke dalam gelasnya dan meminumnya dalam sekali teguk. Lelaki yang dulunya berambut cokelat caramel – dan sekarang telah merubahnya menjadi warna hitam dengan gaya lebih manly itu –  mabuk berat.

 

“Eyy… Kau menghabiskan persediaan sojuku!” ucap seorang lelaki yang baru saja melangkahkan kakinya dari dapur apartemen itu. Bibirnya mengulas senyum kecil melihat Baekhyun yang sudah mabuk karena kefrustasiannya. Kasihan betul dirinya melihat teman barunya itu terlihat menyedihkan seperti saat ini.

 

Lelaki berambut cokelat tua dengan highlight hitam itu meletakkan beberapa lagi botol berisikan soju di atas meja ruang tamu apartemennya. “Jangan habiskan semuanya. Kau memeloroti uangku, tau?!” gumamnya kesal – berpura – pura lebih tepatnya.

 

Baekhyun tertawa lirih, “Aku bertemu dengannya tadi, Yeol”

 

Lelaki yang dipanggil Yeol itu menoleh cepat pada Baekhyun. Tentu dia tau betul siapa maksud objek dari perkataan Baekhyun barusan. Buru – buru dia meletakkan pantatnya di atas sofa dan membuka mulut, “Bagaimana bisa? Dimana?”

 

“Saat aku di toko olahraga. Aku bertemu dengannya. Dan dia memelukku.”

 

Yeol – atau nama lengkapnya Park Chanyeol – membulatkan matanya. “A—apa? Kalian sudah berbaikkan…?”

 

Baekhyun menggeleng lalu tertawa lirih – terlihat sangat menyedihkan apalagi dengan kenyataan kalau dia sedang mabuk berat, “Aku meninggalkannya, lagi. Dan aku membuatnya menangis lagi, Chanyeol-ah

 

Dan Chanyeol berani bersumpah bahwa dia melihat setetes air mata jatuh dari sudut mata Baekhyun. “Aku membuatnya tersiksa lagi. Aku memang tak berguna…” bisik Baekhyun lagi sebelum meneguk langsung soju dari botolnya.

 

“Jangan minum lagi! Kau sudah mabuk!” cegah Chanyeol sambil menahan tangan Baekhyun yang hendak mengambil botol selanjutnya. “Kau bisa mati kalau minum terlalu banyak, bodoh!” ucap Chanyeol sinis lalu mengambil semua botol itu dan membawanya ke dapur. Lelaki itu menghela nafas dan melirik kasihan pada Baekhyun. Kenyataanya, Baekhyun memang tidak bisa minum soju. Namun entah mengapa sepulang dari acara hang outnya Chanyeol bersama teman – temannya itu, Baekhyun mendadak meminta Chanyeol mengeluarkan seluruh sojunya.

 

Lelaki itu pasti sangat kesusahan sekarang.

 

“Lebih baik aku mati daripada harus melihatnya menangis seperti itu terus. Hatiku sakit sekali”

 

Chanyeol mencuci tangannya dan segera mengambilkan Baekhyun air putih ketika dia melihat Baekhyun sudah menangis di sana. Lelaki itu menghela nafasnya. Masih teringat jelas di otaknya saat secara mendadak teman sekelasnya itu datang ke apartemennya dengan keadaan kacau. Lebih mengejutkannya lagi saat dia melihat penampilan Baekhyun saat itu. Berbeda jauh dengan apa yang digunakan Baekhyun saat SMA dulu. Tak ada cat kuku berwarna pink polkadot, tak ada pulpen berbulu dengan hiasan hello kitty di tengahnya, tak ada blush on pink tipis yang senatiasa digunakannya. Bahkan dia tak dapat melihat warna yang feminim pada penampilan Baekhyun hari itu.

 

Flashback

 

“Baekhyun?”

 

Chanyeol mengerjap – ngerjapkan matanya tak percaya. Pandangannya meneliti penampilan lelaki di hadapannya dari atas sampai bawah – berusaha memastikan bahwa lelaki di depannya ini memang Byun Baekhyun, teman SMAnya yang dulu saking feminimnya dikira gay.

 

Dia dapat melihat lelaki berambut cokelat terang di hadapannya itu tersenyum kecil. “Senang bertemu denganmu lagi, Park Chanyeol” Oh, benarkah ini Baekhyun? Jika ini memang Baekhyun, dimana nada aegyo yang selalu menjadi suara favoritnya?

 

Chanyeol membulatkan mulutnya seraya mempersilahkan Baekhyun masuk ke dalam apartemennya yang seperti baru saja ditimpa angin ribut dan badai. Berantakannya tak ditandingi oleh apapun. Selagi Baekhyun melangkah masuk dan melihat – lihat apartemennya, Chanyeol tetap saja masih mengamati penampilan Baekhyun. Benar – benar sulit dipercaya.

 

Apa benar Baekhyun sekarang sudah berubah? Oh, bahkan saat terakhir dia melihat Baekhyun – saat pernikahan lelaki itu, dia masih dapat melihat kefeminiman Baekhyun masih melekat dalam pada diri lelaki itu. Dan ini baru berlalu kurang lebih tiga minggu dari hari pernikahan itu, kenapa bisa semendadak ini perubahannya?

 

Lelaki berambut cokelat tua dengan highlight hitam itu menyingkirkan barang – barangnya di atas sofa dan menyuruh Baekhyun duduk. Setelah melakukan pembersihan mendadak – dia tau betul Baekhyun paling jijik dengan tempat kotor – dan menyuguhkan air putih di depan lelaki itu – dia juga tau Baekhyun paling anti dengan alkohol dan semacamnya, maklum saja, dia hanya punya itu dan air putih – barulah dia duduk di depan Baekhyun dengan pandangan bertanya dan sedikit menuntut jawaban, “Ada apa kau kesini? Tumben” Tumben karena memang dia tau Baekhyun tidak suka datang ke apartemennya dengan alasan terlalu berantakan dan kotor – dan hal – hal itu dapat membuat kulitnya kusam, katanya.

 

Baekhyun menunduk sesaat kemudian menatap Chanyeol dengan matanya yang benar – benar polos, tanpa eyeliner dan semacamnya, “Boleh aku menginap disini untuk beberapa hari, huh?”

 

“Apa?!” Chanyeol tersedak mendengarnya. Hey, dia pasti salah dengar. Tidak mungkin Baekhyun hendak menginap di rumahnya. Lagipula lelaki itu sudah menikah kan? Kenapa dia… sabar, jangan bilang…

 

“—Aku sedang bermasalah dengan Taeyeon. Kami bertengkar dan mungkin akan cerai dalam waktu dekat”

 

Ingatkan Chanyeol untuk mencubit dirinya sekarang! Beruntung dia sedang tidak minum atau semacamnya, karena jika tidak, dia sudah yakin dia akan muntah seketika. Tenggorokannya serasa tercekat dengan perkataan Baekhyun. Gila. Byun Baekhyun pasti sudah gila.

 

“Kau pasti mengira aku gila atau stress sekarang ini. Tapi sungguh, aku merasa pernikahanku dengannya sudah tidak dapat dipertahankan lagi”

 

Astaga, tidak mungkin. Pasti Chanyeol salah dengar. Lelaki itu baru saja menikah!

 

“Pernikahanku masih sangat muda, tapi aku sudah tak tahan. Ceritanya sangat panjang, Chanyeol”

 

Apa Baekhyun sudah kehilangan akal dan otaknya? Gadis secantik dan sesexy Taeyeon tidak disukainya? Apa Taeyeon kurang sempurna untuk…. Tunggu, darimana Baekhyun mendapat kemampuan membaca pikiran orang? Sepertinya dari tadi dia hanya berbicara dari dalam pikirannya saja. Hebat.

 

Chanyeol berdeham pelan lalu memandang Baekhyun dengan wajah iba, “Ceritakan padaku kalau itu dapat membuatmu merasa lebih baik”

 

“Aku mencintainya, tapi dia tidak mencintaiku dengan tulus. Kau pasti mengerti selanjutnya” Chanyeol berani bersumpah kalau dia melihat Baekhyun sudah mulai terisak. Hatinya pasti sakit sekali.

 

“Oh. Aku mengerti”

 

End Flashback

 

Chanyeol kembali dari dapur dengan membawa segelas air putih. Diletakkannya gelas itu di depan Baekhyun, sedangkan dia sudah duduk di samping temannya itu – menepuk punggungnya dan menghiburnya dengan kata – kata menenangkan, “Ini pasti sangat berat bagimu, Baekhyun”

 

Baekhyun tak bergeming. Lelaki itu tetap membungkuk – menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangan yang bertumpu di atas kedua pahanya – dan terisak keras. Dia ingin kembali pada Taeyeon, dia ingin memeluk gadis itu tadi. Tapi egonya menahan dan kini menyiksanya. Fakta bahwa Taeyeon tak mencintainya dengan tulus membuatnya melangkah mundur. Membuatnya harus mengasari gadis itu dan akhirnya pergi.

 

Ini terlalu menyakitkan. Melihat bagaimana Taeyeon yang menjerit – jerit karenanya membuat hatinya perih. Hatinya ingin mendekat pada gadis itu, tetapi raganya menahan dirinya dan lebih memilih menjauh.

 

“Kau harus menahan diri jika kau ingin semua ini berjalan sesuai keinginanmu, Baek”

 

TBC

Note:

HUWAAAAAA!!!! MAAF YA LAMA BANGET! >< PADAHAL AKU UDAH BILANG JUMAT KEMARIN BAKAL DIPOSTING, TAPI MALAH TERTUNDA SAMPAI SENIN! WAAAA….. MAAF ><

Ini udah aku panjangin lho… Jadi bagaimana? Masih kurang? /siapsiapmati/ Udah 15 pages lho ini…

Maaf juga ya kalau ini masih ngegantungin hubungan BaekYeon banget u,u Aku baca komentar part kemarin dan banyak banget yang protes karena aku buat konflik ini… katanya aku niat banget /lirikMauriel/

Hiyaaa~ bukannya aku niat atau kejam ya, mereka juga orang tua aku /plak/ nggak mungkin aku buat mereka bermasalah kayak gini._. Tapi kan kalau gak ada konflik juga ya datar banget jadinya-___- lagipula di genre fanfic ini kan gak ada tuh yang bilang comedy/fluffy atau semacamnya…  jadi bebas aku buat mereka nangis – nangis dan tersiksa disini! HUAHAHAA /dihajarmassal/

Btw, karena ini semakin mendekati ending, adakah yang ingin dengan yang namanya sequel dari cerita BH alias Beautiful Husband? /plak//niatbanget/ Kayaknya seru juga tuh kalau Baekhyun punya anak :3 Wkwk…

Oke deh, sampai disini dulu note-ku yang kayaknya panjang banget~~ Pai paiii~ /lambailambai/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

168 thoughts on “Beautiful Husband [Part 8]

  1. Pingback: Beautiful Husband [Part 9A] | EXOShiDae Fanfiction

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s