Take A Drink Together (Chapter 11B – The Twist)

take-a-drink-together-1

Take A Drink Together – The Twist

Written by pearlshafirablue

Main Cast: GG’s Taeyeon & Tiffany, EXO-K’s D.O | Minor Cast: GG’s Hyoyeon, EXO-K’s Tao & Suho | Genre: Action, AU, Mystery, Romance | Length: Multichapter (11B/?) | Rating: PG-15

“All of the characters belong to God and themselves. They didn’t gave me any permission to use their name in my story. Once fiction, it’ll be forever fiction. I don’t make money for this.”

Previous Chapter
Prolog . 1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6 . 7 . 8 . 9 . 10 . 11A

Take A Drink Together © 2013

-o0o-

Review Chapter 10

Tiba-tiba sebuah suara yang cukup asing di telinga Tao menginterupsi kegiatannya. Pria itu berbalik dengan cepat. Map cokelat yang tadi digenggamnya buru-buru ia sembunyikan di balik punggung. Tao tertegun ketika matanya bertemu pandang dengan dua bola mata beriris cokelat milik seorang pria yang sekarang tengah menyilangkan kedua tangannya sambil menatapnya congkak.

.

.

.

Do Kyungsoo.

-o0o-

Chapter 11B, Begins

“Apa yang Seongsaenim lakukan di sini?” suara Kyungsoo menggema di ruangan sempit yang berventilasi jarang tersebut.

Tubuh Tao sedikit bergetar, dengan usaha keras ia menghilangkan bukti bahwa kini dirinya tengah mencari sebuah berkas riwayat hidup seorang siswi di sekolah tempatnya mengajar. Lantas ia membenarkan dasi motif garisnya dan berkata dengan lantang, “Bukankah seharusnya saya yang bertanya, kenapa kau berada di sini? Students are not allowed here.”

Kyungsoo memutar bola matanya—sudah menduga bahwa Tao akan berkilah. Ia menyipitkan matanya, membuat darah pria berkebangsaan Cina itu berdesir kencang. Baru pertamakali dirinya—Huang Zi Tao—bertemu dengan seorang anak ingusan yang membuat bulu kuduknya meregang semua.

“Aku di sini karenamu, Seongsaenim,” balas Kyungsoo dengan ketus.

“Hei, saya perhatikan sejak awal saya mengajar di sini, kau selalu melemparkan tatapan tak suka kepada saya. Apa kau punya masalah, nak?” Tao mengalihkan perhatian. Giginya saling beradu—gugup.

“Kau seperti pernah kutemui sebelumnya, Tao-nim.” Kyungsoo melipat lengannya di depan dada, perlakuan yang cukup tidak sopan di depan gurunya sendiri.

“Apa? Memangnya ada yang salah dengan hal itu? I think it’s possible. Mungkin saja kita bertemu di supermarket atau di taman. Tidak aneh,” sahut Tao sedikit lebih tenang.

“Aku rasa bukan di tempat umum seperti itu,” sanggah Kyungsoo, memiringkan sedikit kepalanya.

“Lantas?” Tao menyelap wajahnya yang bersimbah peluh.

Di rumahku.”

Deg.

-o0o-

“Kau tidak latihan teater hari ini?”

Tangan Taeyeon berhenti bergerak. Dibiarkannya berlembar-lembar kertas terlonggok tenang di atas meja tulisnya. Tatapannya merangkak ke atas, menangkap siluet sesosok laki-laki yang tengah menatapnya datar.

“Tidak. Hari ini diliburkan karena beberapa hal,” jawab Taeyeon seadanya. Ia kembali merapikan fail-fail ulangan yang baru saja dibagikan oleh Seongsaenim tadi. Terdengar bunyi gemeretak saat Taeyeon menekuk kepalanya—sangat lelah.

“Kalau begitu benar saja orang tadi,” lanjut lelaki itu—yang ternyata adalah Luhan. “Ada yang mencarimu.”

Kegiatan Taeyeon kembali diinterupsi. Alisnya saling bertaut. “Siapa?”

“Katanya sih, orang yang akan menjemputmu hari ini.” Ujar Luhan seraya berlalu meninggalkan Taeyeon yang masih bertanya-tanya.

Jemput? Siapa? Sejak kapan Ibu menjemputku?

Dirinya tak mengambil pusing perkara tersebut. Dengan secepat kilat barang-barang yang awalnya berhamburan di atas meja tersusun dengan rapi di tas selempangnya.

Sekonyong-konyong ia menghentikan langkahnya ketika melewati meja Kyungsoo. Kosong.

“Kyungsoo pergi ke mana?” tanya Taeyeon menepuk bahu tegap Jongdae yang kebetulan melewatinya.

“Tidak tahu, tapi kurasa tadi aku melihatnya mengekori Huang Seongsaenim,” jawab Jongdae sekenanya. “Anyway, sudah mau pulang? Tidak menunggu Sunkyu dulu?”

“Ah, kurasa barusan ibuku mengirim orang untuk menjemputku. Tolong bilang padanya aku pulang duluan, ada urusan,” celoteh Taeyeon mengukir senyum tipis.

Sudahlah, tidak semua kegiatanku harus dilaporkan kepada Kyungsoo, gumamnya dalam hati sembari bertolak dari hadapan Jongdae.

Taeyeon berlari kecil ke arah koridor, menyapukan pandangannya ke arah pintu-pintu kelas yang sudah tertutup rapat—kosong melompong. Murid-murid lainnya sudah pulang sekitar sejam yang lalu, karena memang waktu pulang yang seharusnya pukul tiga tepat. Hanya kelasnya saja yang kebetulan masih berada di sekolah, karena kedapatan piket koridor tiap bulannya.

Gadis bermarga Kim itu buru-buru membuka loker, menaruh beberapa barang dan memasukkan barang yang lain ke dalam tasnya.

Ia menutup loker tepat ketika matanya menangkap sesuatu—atau seseorang—yang berjarak 5 meter darinya.

“Hyoyeon… ssi?” Taeyeon menyerngit. Dilihatnya sesosok gadis yang kemarin sempat menyambangi indera penglihatannya. Gadis itu dibalut kemeja kasual, dengan sebuah kaca mata hitam bertengger di atas hidung mancungnya.

“Selamat sore, Kim Taeyeon,” sapa Hyoyeon ramah.

“Se-selamat sore…” Taeyeon membungkuk kecil. Ia mencermati setiap senti wajah Hyoyeon. “Ada apa ke sini? Menjemput Kyungsoo lagi?”

Hyoyeon menggeleng. Senyumnya tetap bergeming—misterius.

Tiba-tiba saja sebuah benda dingin menjamah kulit tangan Taeyeon—yang membuatnya langsung membeku dalam hitungan detik. Darahnya berdesir kencang, jantungnya bekerja dua kali lipat lebih cepat. Ia menatap Hyoyeon penuh tanya.

Dan akhirnya pandangannya berpaling.

Matanya membulat. Sebuah pistol.

We’re not going to pick Kyungsoo, but you, Honey.

DUAK!

Dan saat itu juga, kesadaran Taeyeon terenggut.

-o0o-

Ada yang aneh rasanya. Taeyeon merasa seperti kedua pergelangan tangannya ditahan oleh baja seberat 10 kg dan kepalanya seolah dipukul ribuan kali oleh palu godam. Matanya terasa berat, dan oksigen susah sekali melewati relung paru-parunya. Apakah dia sudah di surga?

Tentu saja belum.

Jika sudah tidak mungkin seorang wanita berambut merah kecoklatan berdiri di sampingnya dengan jaket lab dilengkapi sebuah seringai rupawan yang menghiasi paras cantiknya. Wanita itu jelas bukan malaikat.

“Stephanie?” Taeyeon membuka kelopaknya perlahan. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke dalam pupil miliknya. Ruangan tersebut terlalu terang untuk ruangan biasa.

Welcome to Paradise!” seru Stephanie masih dengan seringai yang mengembang di bibirnya. Tentu saja penafsiran Stephanie mengenai ‘paradise’ berbeda jauh jika dilihat dari sudut pandang Taeyeon.

“Aku di mana? Kenapa kau membawaku ke sini?” Taeyeon mengerang. Ia baru menyadari bahwa tangannya tak bisa bergerak sedikitpun. Sesuatu yang menahannya. “Dan apa maksudnya ini? Kenapa kau mengikatku?!”

Wow, easy, young lady,” desis Stephanie. Gadis itu meraba pipi mulus Taeyeon yang terus memberontak. “Kau tengah berada di istanaku. Tempat paling indah di Seoul,” tambahnya.

“Kenapa kau membawaku ke sini? Aku tidak ingin ikut campur urusanmu, Stephanie! Tolong lepaskan aku!” pekik Taeyeon keras.

Sekonyong-konyong Stephanie merengkuh dagu Taeyeon dengan kasar.

“Apa tadi kau bilang, Honey? Tidak ingin ikut campur? Tapi rasanya kau sudah terlalu banyak ambil andil dalam permasalahan di sini,” bisik Stephanie sarkastis. Ia mendorong dagu Taeyeon dengan satu tangan, membuat tengkorak gadis itu membentur permukaan meja dengan keras.

Stephanie menghiraukan desahan Taeyeon yang kesakitan, ia berjalan mengelilingi meja tempat gadis itu berbaring sambil menimang-nimang sebuah pisau lipat di tangannya.

“Apa kau tidak pernah merasa bahwa kau telah memutar hidup Kyungsoo sejauh 1800? Semenjak kedatanganmu ke dalam hidup anak itu ia menjadi pribadi yang berbeda. Ia bukan lagi anak penurut yang selalu mematuhi segala jenis perintahku. Dulu ia adalah agen yang sangat hebat. Mulai dari mencari informasi hingga membunuh, aku selalu memberikan semua sanjunganku kepadanya,” Stephanie mulai bercerita. Ia menarik napas panjang, dan kemudian melanjutkan, “Kyungsoo benar-benar bisa diandalkan. Semua pekerjaan yang sangat berpengaruh kepada sindikat selalu kubebankan di bahunya dan bila ia gagal baru aku memberikannya kepada orang lain. Ia tak pernah membangkang. Ia selalu melakukan semuanya dengan ikhlas—”

“Dengan ikhlas? Are you fucking kidding me—

PLAK!

“Aaakh!”

Don’t you dare to interrupt my words!!!” bentak Stephanie seraya menampar pipi kiri Taeyeon. Likuid merah kental perlahan mengaliri sudut bibir gadis bermarga Kim itu. “Ingatlah bahwa semua hal yang tidak sesuai aturan ada ganjarannya, Ms. Kim,” gumam Stephanie bengis.

Stephanie kembali melanjutkan kegiatan mondar-mandirnya kemudian berkata, “Sampai mana kita tadi? Oh ya, Kyungsoo yang penurut. Ya, dia memang anak yang penurut sebelum seseorang datang. Seorang gadis yang sok tahu tentang segalanya datang dan menghancurkan hidup anak malang itu. Gadis yang berusaha membuat Kyungsoo lari dari kehidupannya. Gadis yang bahkan mencuri hal paling berharga dalam diri Kyungsoo. Gadis yang mengambil alih kepercayaannya, mengambil alih hatinya.”

Deg.

“Sejak Kyungsoo kecil aku sudah mendidiknya agar tidak mempercayai siapapun. Tidak menyayangi sesuatu atau siapapun. Dan ternyata aku melatihnya dengan baik. Selama 5 tahun anak itu menjadi anak yang tidak berhati. Selalu mengandalkan otak ketimbang hatinya—just same like me. Tapi tiba-tiba saja sesuatu mengusik dirinya. Seseorang yang sama sekali tidak mengerti hidupnya,” Stephanie menatap Taeyeon dengan tajam.

You’re absolutely wrong. So pathetic.” Taeyeon berbisik. Bibirnya terlihat membengkak akibat dari tamparan Stephanie tadi.

“Biar kujelaskan apa yang salah di sini,” balas Stephanie sembari duduk di atas meja. “Salah adalah ketika Kyungsoo mulai pulang malam dan tidak pernah mengabariku soal kegiatannya. Salah adalah ketika Kyungsoo mulai melakukan kegiatan yang tidak berguna untuk perusahaan. Salah adalah ketika Kyungsoo tidak melanjutkan proyek Cổs’ Delepro 1477 dan memilih untuk keluar dari perusahaan—”

“Tunggu sebentar. Apa? Kyungsoo keluar dari perusahaan?” alis Taeyeon saling bertautan. Iris cokelatnya menatap Stephanie penuh tanya.

Almost. But you know that almost is never enough. Mudah sekali untuk membuat pertahanannya runtuh.”

“Ke-kenapa?” Taeyeon kembali bersuara, tidak memedulikan keringat dinginnya yang terus mengalir dan bibirnya yang semakin sulit begerak.

Alih-alih menjawab Stephanie malah menarik seringainya. Ia beranjak dari hadapan Taeyeon dan bersemayam di depan sebuah tabung besar yang ditutup kain hitam. Iris birunya kembali bertemu pandang dengan Taeyeon. Wanita itu berdecak. “Apa Kyungsoo sudah pernah memberitahumu tentang proyek kloningku?”

Taeyeon tertegun. Dirinya sama sekali tak mengetahui apapun mengenai proyek yang baru saja dikatakan Stephanie. Apa tadi? Kloning?

“Rupanya kau tidak tahu,” Stephanie terkekeh. “Biar kutunjukkan sesuatu.”

Stephanie menarik kain hitam yang sedaritadi menutupi permukaan tabung besar tersebut. Dan tiba-tiba saja sebuah pemandangan aneh muncul dibaliknya.

Taeyeon terperanjat.

“Indah sekali bukan?” Stephanie tersenyum, menunjukkan sebuah eyesmile yang sangat menarik.

“Kau… mengkloning dirimu sendiri?” tanya Taeyeon terbata. Retinanya tak bisa lepas dari sosok yang mirip Stephanie di dalam tabung itu—mengambang di tengah-tengah air dengan selang-selang aneh di sekitar tubuhnya. Benar-benar pemandangan yang mengerikan.

“Lima puluh persen benar, lima puluh persen salah.”

“Apa?”

“Ya, tidak sepenuhnya benar.” Stephanie tersenyum misterius, memberikan sejuta tanda tanya di benak Taeyeon. “Apakah kau pernah menyadari bahwa susunan anatomimu sangat cocok untuk diimplantasi, Kim Taeyeon?”

Taeyeon memicingkan matanya. “Apa maksudmu?”

Stephanie tersenyum.

“Kau ingat tidak, kau pernah pingsan di sebuah hutan karena motormu menabrak sebatang pohon besar dan pada akhirnya seorang lelaki tinggi keturunan Cina menolongmu dan membawamu ke rumahnya?”

Taeyeon tercengang.

“Nama sang Penolong itu adalah Huang Zi Tao. Huang. Hwang.” Stephanie kembali mengekspos seringai tajamnya.

Napas Taeyeon tercekat. Mendadak sebuah bayangan mengerikan muncul dari relung benaknya. Dan kini, sebulir air mata turun membasahi pipi kanan Taeyeon. Ia tidak menyangka seseorang yang telah ia percayai dan ia bersihkan dari kecurigaan Kyungsoo malah berbalik mengkhianatinya. Ah tidak, Huang Zi Tao sama sekali tidak mengkhianati Taeyeon. Memang Taeyeon-lah yang bodoh. Tidak berotak.

“Ya, memang benar. Huang Zi Tao bukan orang awam yang dengan baiknya menolong seseorang tanpa maksud tertentu. Semuanya sudah direncanakan, memancingmu ke tempat sepi, membuatmu menabrak pohon dan jatuh pingsan, membawamu ke rumahnya, dan pada akhirnya menyuntikka cairan kimia serta mengambil sampel darah dan serum dari tubuhmu.”

“Ti-tidak mungkin…” isak Taeyeon berusaha keras menahan air matanya.

“Tidak ada yang tidak mungkin, sayang,” desis Stephanie seraya berjalan ke arah lemari kaca di ujung ruangan. Tangan-tangan porselennya meraih beberapa kotak obat dan pada akhirnya turun ke atas sebuah pipa kaca kecil dengan ujung setajam tombak. Suntikan.

“A-apa yang kau—”

“Mengakhirinya,” potong Stephanie seraya meneteskan cairan ke dalam pipa suntikan tadi. “Aku akan mengakhiri semuanya, sekarang.”

Taeyeon kembali terperanjat. Biji mataya bergerak-gerak takut, menatap Stephanie yang sudah semakin dekat dengan tempatnya berbaring. Manakala, di tangan wanita itu terselip sebuah suntikan dengan cairan yang sudah pasti berbahaya.

“Ada kata-kata terakhir sebelum Kalium Sianida ini mengaliri darahmu?” tanya Stephanie sarkastis.

Taeyeon memejamkan mata. Air matanya perlahan kering tersapu dinginnya laboratorium itu. Mendadak benaknya memutar sebuah film pendek tentang orang-orang di sekitarnya. Ayah, Ibu, teman-temannya, Joonmyun, Jongdae, Sunkyu, Luhan sampai mendiang Jessica dan suaminya Kris Wu. Dan tanpa sadar film itu ter-pause tepat ketika segaris wajah mungil terpotret dalam benaknya. Wajah itu nampak pucat, dengan bola mata yang cukup besar dari kebanyakan orang Korea, dan bibir tebal yang berbentuk seperti sebuah hati. Wajah itu tersenyum tulus. Senyuman yang tak pernah dilihat Taeyeon sebelumnya. Senyuman yang membiaskan kepedulian, perlindungan, dan… cinta.

Taeyeon melihatnya. Ia bisa merasakan pria itu menggenggam tangannya, dengan senyum yang masih terpatri di bibir hatinya.

Aku mencintainya.

Sangat mencintainya.

Akan kulakukan ini hanya untuknya.

“Aku tidak dilahirkan hanya untuk menontonmu menangis, Madam.”

Suara Stephanie menginterupsi film pendek di benak Taeyeon. Gadis itu membuka kelopaknya, baru menyadari bahwa air mata sudah membasahi anak-anak rambut cokelatnya. Iris gadis itu berpaling ke arah Stephanie—yang masih menyetel wajah bengisnya. Ia menghela napas panjang.

“Aku mohon, setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan dari diriku, lepaskan Kyungsoo, dan Zi Tao. Biarkan mereka hidup normal tanpa bayang-bayang siksaan dan tekanan dari organisasimu. Aku, memohon.” Taeyeon menekankan kalimat terakhirnya. Sorot matanya sudah berubah, dari pendar ketakutan menjadi keberanian. Ia tahu bahwa Tuhan akan selalu menemaninya.

“Wow, Tao? Kau masih bisa berharap untuk Tao?” Stephanie tampak syok.

“Kuberi tahu bahwa itu bukan harapan, tapi perintah. Dan, ya. Aku tahu bahwa Tao memiliki hati yang sangat baik. Aku tahu bahwa setiap senyum yang ia berikan padaku bukanlah senyum palsu seperti milikmu. Aku tahu bahwa dia membantumu hanya karena relasi yang ia miliki denganmu. Ia tidak pernah suka membunuh dan berpura-pura menjadi orang baik. Ia tidak seperti itu.”

Stephanie tertegun sesaat.

“Dan kuberitahu sekali lagi bahwa semuanya tidak akan selesai sampai sini. Kyungsoo akan memenjarakanmu secepatnya. FBI dan kepolisian Korea akan menghancurkan sindikatmu. Dan kuharap aku bisa berada di situ saat itu terjadi—”

“Sudah cukup!” bentak Stephanie tiba-tiba. Sinar matanya menunjukkan kemarahan yang amat besar. “Aku tidak mau mendengar ceramahmu itu. Lebih baik kau bersiap-siap pergi ke neraka.”

Tanpa ragu Stephanie mengangkat suntikan tadi. Tak sampai sedetik ujung jarum suntik itu sudah menyentuh permukaan kulit lengan Taeyeon.

Jglek

Gelap.

DDUAAK!

“AAKKHHH!”

Taeyeon mengerjapkan mata. Entah sejak kapan dirinya ada di sebuah koridor kecil dengan tangan kanan bertautan dengan tangan seorang pria—eh?

“T-Tao Seongsaenim?”

“Aku tidak mungkin membiarkanmu mati.”

-o0o-

“Tadi aku melihat dua orang wanita membawa Taeyeon pergi dengan sebuah mobil van.”

Apakah mereka membawanya dalam keadaan sadar?

Mungkin orang-orang di sekitar van tadi berpikiran begitu, tapi kentara sekali di mataku bahwa dia tidak sadarkan diri. Ketika aku sampai di parkiran van itu sudah melesat jauh.”

Bagaimana ini?

Kenapa Tao Seongsaenim ada bersamamu?

Terpaksa kita gunakan rencana B, Seongsaenim.”

Apa itu rencana B?

Tidak ada rencana.

tbc.

p/s

Alohaaa~~ Akhirnya bisa update lagi 😆 ini semua gara-gara ditagihin terus di bbm sama si Mauriel ucrit itu-_- Tapi kalo ga ditagihin mungkin ga bisa selesai, makasih semua<33

DAN HAPPY BIRTHDAY BUAT AKTOR TERSAYANG KITAAA<33333 DOKYUNGSOO SAENGIL CHUKKHAMNIDA! WE LOVE YOU SO MUCH<3

Dan, plis maafkan saya kalo semakin lama plotnya semakin ngaco. Tapi ini udah disusun sematang2nya, dan bagi yang merasa belum jelas, ditunggu di part selanjutnya, nanti akan ada uraian lengkap mengenai kronologis ceritanya :> Aku sedih semakin lama komen semakin berkurag T^T #salahsayasendiri. Aku udah lama gak nulis jadi kosakataku semakin sedikit :c maaf banget kalo telah mengecewakan TT Aku butuh komentar kalian ya:”)) bener2 butuh, jadi plis komentarr:”))) MAKASIH BANYAK!<3

68 thoughts on “Take A Drink Together (Chapter 11B – The Twist)

  1. udh lebih 3 bulan *kalo ga salah..
    aku nunggu bgt ni ff..
    tp pas udh publish malah kependekan..
    gpp deh, asalkn udh update…
    update soon yaa, FIGHTAENG!!!
    #maaf telat comment

  2. DAAAAAAAAEEEEEBAAAAAKKKK! Ini keren banget, gak bakalan nyangka deh kalo yang dateng dan nyelametin Taeng bakalan Tao. Happy birthday our birthday boy Kyungsoo oppa!! I love you ♥ chuuu :*

  3. huaaa makin keren tp aku msh gk ngerti sih
    jadi tao itu gak jahat kan
    plisss stephanie nya di hilangkan aja dr muka bumi ini huahahhaah 🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s