Wrecking Ball (Chapter 3)

wreckingball

Wrecking Ball – Chapter 3

[wyfosh]

Main Cast : Minseok, Sunny, and Kyungsoo

Genre : Romance, Sad, Angst | Rated for Teen

[Bahasa yang di-italic adalah pikiran Minseok]

[Kalimat yang di-italic dan di-blod adalah flashback]

Genggaman tangan Minseok pada Sunny masih belum lepas. Mata mereka bertemu dalam waktu yang lama. Mereka tidak mengedip. Sunny sibuk dengan pikirannya, sedangkan Minseok sibuk memerhatikan bola mata cantik milik Sunny.

“Ah—maaf.” Minseok melepaskan genggamannya.

Sunny tersenyum sekilas lalu membenarkan rambutnya, “Tidak apa. Hm, Minseok, jadi begini—“

“Ah, aku tahu. Tidak apa-apa,” Minseok bangkit berdiri lalu menundukkan tubuhnya, “Terima kasih dan maaf atas kelancangan saya.” Lanjut Minseok dengan sangat sopan dan formal.

“Tapi—“

“Tidak apa. Sungguh.” Potong Minseok sambil meraih tas miliknya lalu tersenyum—senyuman yang penuh dengan beban, “Aku pergi dulu. Terima kasih atas hari ini.”

Sedangkan Sunny, dia hanya mematung di tempat. Terkejut dan tidak bisa untuk mempercayai ini semua. Dia menunduk lalu berjalan mengikuti Minseok dari belakang. Ketika Minseok keluar dari café tersebut, Sunny menatap punggungnya lalu bergumam, “Aku mau, Minseok.”

.

.

.

Minseok membuka pintu apartment-nya dengan wajah yang sangat kusut. Dia membuka sepatu yang dia kenakan lalu menggantinya dengan sandal rumahnya. Tiba-tiba muncul wanita paruh baya dengan pakaian rumah dan celemek yang berwarna merah muda.

“Sudah pulang?” Tanya wanita tersebut.

“Iya.” Jawab Minseok singkat.

“Loh? Ada apa?” Sepertinya wanita—umma-nya tahu betul bagaimana sifat dan karakter anaknya.

“Tidak apa.” Balas Minseok.

“Kenapa? Kau patah hati?” Umma-nya tersenyum mengejek Minseok dan Minseok hanya melemparkan senyuman sebalnya lalu berjalan ke pintu kamarnya.

“Aku tidur dulu.” Ucap Minseok sambil membuka pintu kamarnya lalu masuk ke dalamnya.

.

.

.

Sunny diam dan duduk dengan canggung sambil memerhatikan jalan yang bergerak di kaca mobil sebelah kanannya. Dia terus menutup mulutnya rapat. Apa mungkin dia merasa bersalah?

“Sunny.” Panggil seorang pria dengan suara beratnya yang berada di bangku kemudi.

Sunny mengacuhkannya.

“Sunny.” Pria itu mengenggam tangan kiri Sunny yang dia letakkan di atas paha sebelah kirinya itu.

“Oh, ya? Ada apa, Kyungsoo-ah?” Tanya Sunny sambil memanggil nama Kyungsoo kepada pria tersebut.

“Tidak. Ada apa denganmu? Kau murung terus sedari tadi.” Ucap Kyungsoo sambil memegang setir mobilnya lagi.

“Aku baik-baik saja,” Sunny berusaha tersneyum lagi, “Jadi, kita mau kemana?” Lanjutnya.

“Ke rumahku.” Jawab Kyungsoo sambil tersenyum manis.

Bagaimana bisa Sunny menolak pria semanis, setampan, dan sempurna seperti Do Kyungsoo?

.

.

.

Sunny keluar dari mobil Kyungsoo dengan handbag yang bergelantungan di lengan kanannya. Sebenarnya ini sudah hari ketiga dimana Sunny harus menjawab pertanyaan Kyungsoo—membalas pernyataan cinta Kyungsoo.

Waktu itu di hari yang sama dimana Sunny bertemu dengan Minseok…

Sunny berjalan keluar dari café langganannya—bersama Kyungsoo. Ia berjalan meninggalkan Kyungsoo sendirian yang masih terpaku diam. Baru saja, Kyungsoo menyatakan cintanya. Namuan, Sunny meminta waktu untuk memikirkannya.

Sebenarnya respon Sunny itu benar-benar menusukkan sebuah jarum yang tebal di perasaan Kyungsoo. Sesak rasanya ketika kau harus menunggu untuk jawaban atas pernyataan cintamu. Hal tersebut membuatmu susah untuk tidur, malas untuk makan, bahkan rasanya untuk bernapas pun sangat malas baginya.

Sunny menaiki taxi yang sedang berhenti tepat di depan café tersebut lalu duduk di kursi belakang dengan nyaman—pikirannya tidak nyaman.

“Mau kemana, nyonya?” Tanya sang supir taxi.

“Ikuti saja arah jalan yang saya katakan.” Balas Sunny. Ia berusaha sesopan mungkin dengan pikirannya yang sangat kacau.

.

.

.

Sunny turun dari taxi dan langsung menginjak dedaunan yang menumpuk dan berwarna kuning kecoklatan bahkan kering hingga menimbulkan suara ketika hancur.

Sunny berjalan dengan anggun. Angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat rambut Sunny yang berwarna coklat keemasan itu berterbangan dan menyerbakkan harum rambutnya.

Mata Sunny berhenti di sebuah bangku yang diduduki oleh pria yang menurutnya tidak asing lagi. pria yang sering dia temui di bus jika dia pulang sendiri tanpa kendaraan pribadi.

Sunny berinisiatif untuk duduk disebelahnya dan akan memulai—sedikit—percakapan dengannya untuk melupakan pernyataan cinta Kyungsoo yang membuatnya sangat teramat bingung dan galau.

“Permisi, bolehkah aku duduk disini?” Tanya Sunny sesopan mungkin.

Pria itu menoleh dengan gugup. Ah, Sunny suka dengan tingkahnya.

“Te-tentu saja.” Jawab pria itu dengan canggung dan gugup. Bahkan, suaranya terdengar bergetar.

“Terima kasih.” Balas Sunny lalu duduk disamping pria tersebut.

Sunny diam melihat sebuah pohon besar dan daun-daun yang berjatuhan. Seskali dia mengintip ke arah pria yang duduk disebelahnya. Pria tersebut memainkan mantelnya dengan gugup.

Sunny tersenyum. Dia senang melihat pria yang seperti itu.

“Namamu siapa?” Tanya Sunny.

“Na-namku Kim Minseok. Panggil saja Minseok.” Jawab pria yang bernama Minseok itu dengan gugup.

“Oh, nama yang bagus.” Respon Sunny. Sebenarnya Sunny sangat berharap bahwa Minseok akan mengakhiri kalimatnya dengan ‘namamu?’

“Namamu?” Tanya pria itu.

Senyuman Sunny mengembang. Dia menoleh dengan senyuman indah diwajahnya, “Lee Sunny.”

“Nama yang bagus. Lebih bagus dariku.” Balas Minseok. Ntah ini sebuah pujian atau ejekkan. Tapi, Sunny menganggap ini sebagai pujian.

“Tidak. Namamu juga bagus. Lebih tepatnya, semua nama mempunyai karakter dan makna tersendiri. Semua nama itu bagus.” Jelas Sunny.

Minseok tidak menjawab. Dari pada Sunny meraa diacuhkan. Lebih baik dia mengeluarkan ponselnya dan mendengarkan lagu menggunakan headsetnya. Dia mendengarkan lagu mellow yang sangat mewakili suasana hatinya dan musim yang gugur ini.

Bukannya membuat perasaan Sunny tenang malah membuat perasaan dan pikirannya menjadi lebih kacau.

“Aish!” Oceh Sunny sambil melepaskan headset-nya dengan kasar. Minseok yang sedari tadi berusaha memanggilnya malah terkejut dan memperjauh jarak di antara mereka.

“Maaf.” Sunny mendengar suara berat dari sebelah kanannya. Ia menoleh ke asal suara—Minseok dengan dahi yang mengernyit. Ada apa dengannya?

“Untuk?” Sejujurnya Sunny sangat membenci kata maaf karena sepatah kata itu adalah sebuah penyesalan atas perbuatan.

“Aku sudah menganggumu, Sunny-ssi.”

Pria ini sangat polos dan jujur. Sunny menyukainya dan sepertinya ia tahu kini jawabannya untuk Kyungsoo.

.

.

.

Sunny duduk di ruang tamu rumah Kyungsoo yang besar dan elegan. Dia duduk dengan handbag yang dia letakkan di atas kedua pahanya sambil menunggu kedatangan Kyungsoo yang sedang bersiap-siap untuk memberikan option untuk Sunny sebagai jawabannya nanti.

Tak lama kemudian, Kyungsoo muncul dengan sebuket mawar merah yang dia genggam dengan senyuman yang lebar. Sunny bisa melihat sebuah pantulan kilauan cahaya yang berada di salah satu tangkai mawar tersebut.

Perasaanya tidak enak.

“Sunny.” Panggil Kyungoo.

Sunny menoleh dengan tatapan yang datar. Dia tidak mau tersenyum atau memberi ekspresi yang berlebihan dan akhirnya akan mengecewakan Kyungsoo begitu saja.

“Aku yakin kamu masih ingat tentang pernyataan cintaku tiga hari yang lalu.”

Ya, benar. Sunny masih ingat dengan jelas dibenaknya.

“Hari ini, aku ingin mengulangnya lagi. Bolehkah?”

Bodohnya, kepala Sunny mengangguk dan hal tersebut membuat senyuman Kyungsoo melebar.

“Aku mencintaimu, Sunny. Be mine.” Pengakuan Kyungsoo itu tidak membuat hati Sunny bergeming.

Sunny menutup kedua matanya, berusaha menenangkan pikirannya sebelum dia menjawab pernyataan Kyungsoo tersebut.

“Kyungsoo­-ah—“

BRUK!

Terdengar suara di hdapan Sunny. Perlahan, dia membuka matany sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa—sedikit—takutnya dan ketika kedua matanya terbuka lebar. Nampak dengan jelas Kyungsoo sudah terbaring lemah di atas lantai dengan darah segar dan kental yang berwarna hitam pekat yang mengalir dari hidungnya.

“KYUNGSOO!” Sunny panik. Sunny khawatir. Sunny bingung. Ia tak tahu harus berbuat apa.

“Tolong!!” Teriakan Sunny itu tidak membuahkan hasil yang besar di rumah besar ini. Perlahan, air matanya tumpah dari habitatnya.

“Tolong!” Teriaknya sekali lagi dan akhirnya dia sadar bahwa ini semua sia-sia. Dia langsung meraih ponslenya dan menelepon 911.

“Tolong ada yang terluka disini.”

To Be Continue

3 thoughts on “Wrecking Ball (Chapter 3)

  1. OHTIDAAAAKK KYUNGSOO KAU KENAPAAA??? ;AAA;

    Sebenernya sih bukan ngekhawatirin si dio nya, tapi ini pasti akan menjadi penghalang buat sunxiu </////3 /? nanti sunnynya pasti nerima dio gegara kesian/?;A;

    next chap ditunggu sangaaaat

  2. Whuaa, dio tiba-tiba nongol gitu terus jadi orang ketiga buat Sunny T^T tapi itu dio kenapa tiba-tiba jatuh, bikin penasaran thor;-; next chapter ditunggu thor^^ saranghae/?

  3. aigoooo……d.o jadi orang ke-3 buat xiu-sun,.jangan-jangan sunny nerima d.o gara-gara kondisi d.o yang lagi kaya gt?kasian xiu-sun..tapi d.o jg kasian harus ngerasain sakit parah kaya gt…..

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s