(EXOFany Series) Can’t Forget

Can't Forget

Tittle              : (EXOFany Series) Can’t Forget

Author           : NtaKyung (@NtaKyung)

Art Poster     : NtaKyung

Main Casts    : Park Chanyeol, Tiffany Hwang and Other Casts (Find By Yourself)

Genre             : AU (Alternate Universe), Romance

Length           : Oneshot

Rated             : PG-13

Disclaimer    : Segala hal yang berada di dalam Fanfiction ini, Murni adalah imajinasi saya! So, DONT Copy-Paste or BASHING!! Don’t Like? Don’t Read!!

Fanfic ini di Publish juga di Blog Pribadi saya : All About Tiffany Hwang Fanfiction

-Can’t Forget-

@Seoul, 17 March 2007, 16.00 KST

Pria itu mengayuh sepedahnya dengan cepat, senyuman sumringah nampak jelas di wajah tampan pria ini, sesekali ia melirik jam tangan hitam kesayangannya hanya untuk sekedar memastikan jika dirinya tak terlambat barang sedetikpun.

Kemudian, setelah menikung tajam di belokan menuju taman pusat kota. Buru-buru ia menghentikan laju sepedahnya dan menoleh ke arah bangku panjang yang ada di tengah-tengah taman.

“Tiffany-ah!” Teriaknya sembari tersenyum sumringah. Ia melambaikan tangannya ketika sang gadis berambut panjang dengan parasnya yang cantik itu menoleh ke arahnya.

“Chanyeol-ah!” Gadis itu balas berteriak sembari melambaikan tangannya, memberi isyarat pada pria itu untuk segera mendekatinya.

Setelah memastikan jika sepedahnya sudah terkunci di samping pohon besar. Pria ini bergegas menghampiri gadis yang tak lain adalah kekasihnya itu.

“Apakah kau sudah menunggu lama?” Tanya Chanyeol sambil berusaha mengatur nafasnya yang masih sedikit tersenggal-senggal.

Tiffany tersenyum tipis sambil menggeleng. “Tidak. Kau bahkan benar-benar cepat seperti super hero!” Canda gadis itu. “Ah iya… ini, aku baru membelinya tadi.” Ujar Tiffany seraya menyodorkan sekaleng minuman segar untuk Chanyeol.

“Aigo… kekasihku ini memang yang terbaik!” Seru Chanyeol sambil meraih kaleng minuman tersebut dan meneguknya dengan cepat. “Jadi… kau ingin berjalan-jalan kemana sekarang?” Tanyanya kemudian.

“Ehm… bagaimana jika pergi ke taman hiburan?”

Kedua bola mata hitam Chanyeol membulat. “Lagi?!”

“Oh ayolah… aku suka tempat itu! Lagipula… aku merindukan gulali di sana!” Ujar Tiffany bersemangat, ia menunjukkan aegyo-nya pada Chanyeol.

Sejenak Chanyeol nampak berfikir, tetapi melihat aegyo Tiffany yang begitu sangat menggemaskan, jelas membuat pertahanan Chanyeol runtuh.

“Aish… kau memang selalu bisa membujukku!” Gerutu Chanyeol sambil mencubit gemas pipi Tiffany. “Padahal kita sudah kelas 2 SMA. Tapi kau masih saja senang untuk bermain ke tempat seperti itu. Dasar!” Omelnya.

“Biar saja! Kajja!” Tiffany mengalengkan kedua tangannya dengan manja.

Dan tanpa bisa menolak lagi, akhirnya Chanyeol dengan sedikit terpaksa mengikuti langkah Miyoung menuju taman hiburan, di mana tempat itu lebih di dominasi oleh anak-anak daripada anak-anak berusia 17 tahun seperti mereka.

-Can’t Forget-

@Seoul, Monday 1 June 2008, 10.00 KST

Teriakan gembira dari para siswa-siswi SMA Neul Paran begitu terdengar sampai ke seluruh penjuru gedung aula ini. Mereka semua tengah merayakan keberhasilan mereka di sekolah ini dan lulus dengan hasil memuaskan.

Tak terkecuali sepasang sejoli yang kini saling berpelukan karena senang. Beberapa teman mereka sempat menyoraki kemesraan yang sudah tak asing lagi itu, tetapi mereka sama sekali tak peduli. Toh, hal ini sudah biasa terjadi untuk mereka.

“Oh… ini luar biasa! Kau bahkan mendapatkan nilai terbaik di antara siswa-siswa yang lain di sekolah ini, Chanyeol-ah. Kau hebat!” Seru Tiffany bangga.

Chanyeol menyeringai lebar. “Tentu. Bukankah kekasih dari seorang Tiffany Hwang memang harus seseorang yang hebat sepertiku, eoh?!”

“Haish… di puji tapi malah terlalu percaya diri!” Tiffany mencibir sambil memukul dada Chanyeol.

“Ahk!” Chanyeol meringis sambil memegangi dadanya.

“Berlebihan!” Tiffany menjulurkan lidahnya sebelum akhirnya berbalik dan berbaur dengan siswi-siswi lainnya yang asyik memperbincangkan universitas yang telah di impi-impikan mereka.

Sementara itu, Chanyeol hanya terkekeh kecil dan melirik sesaat kepadanya, tetapi beberapa detik kemudian pria ini ikut berbalik dan bergabung bersama siswa-siswa lainnya yang lebih cenderung membicarakan soal liburan mereka nanti.

-Can’t Forget-

@Seoul, Thursday 15 September 2008, 13.00 KST

Chanyeol dan Tiffany tengah duduk berdua di bangku panjang yang ada di tengah-tengah taman pusat kota Seoul ini.

Tiffany nampak menundukkan wajahnya, kedua pipinya basah oleh air mata yang terus mengalir tanpa henti. Sementara itu, Chanyeol nampak terlihat gelisah, kesal sekaligus kecewa. Dia memalingkan wajahnya, tak ingin melihat kesedihan di wajah Tiffany, kekasihnya.

Suara isak tangis Tiffany seolah menyayat-nyayat hati Chanyeol. Pria itu tak mampu mendengar tangis Tiffany lebih lama lagi. Dia benar-benar merasa sakit dan sesak.

“Maafkan aku, Chanyeol-ah…” Bisik Tiffany di sela isak tangisnya.

Hening. Chanyeol tak menjawab dan helaan nafasnya yang terdengar berat itu pun terdengar. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh, Chanyeol benar-benar merasa frustrasi dan kecewa.

“Ini bukan salahmu, Tiff.” Chanyeol berkata dengan berat. “Ini demi kebaikanmu… dan aku… takkan pernah menyalahkanmu atas semua ini.”

Tangis Tiffany semakin tak terkendali, gadis itu menangis sesenggukan. Sejujurnya, dia tak ingin mendengar kata-kata itu dari pria ini. Dia ingin Chanyeol menahannya, dia ingin Chanyeol marah padanya.

Tapi… Chanyeol bahkan merelakannya untuk pergi. Dan pria itu bahkan menyadari jika ini semua demi masa depannya. Demi kebaikannya, sungguh, pria yang baik.

Merasa tak tahan mendengar tangisan Tiffany terus-menerus, Chanyeol lantas mulai menarik tubuh Tiffany ke dalam pelukannya. Ia mengusap lembut punggung gadis itu dan Tiffany tak kuasa untuk menahan suara isak tangisnya.

Tiffany balas memeluk Chanyeol sambil menenggelamkan wajahnya di antara dada Chanyeol, membiarkan hoodies pria itu basah karena air matanya.

Namun, di balik itu semua, Tiffany tak menyadari kesedihan yang di rasakan oleh Chanyeol. Pria itu terlalu hebat dalam menyembunyikan perasannya, padahal di dalam hatinya, pria ini berteriak dan menangis.

Memohon agar Tiffany tak akan pernah benar-benar meninggalkannya…

Angin bertiup perlahan dan selembar kertas yang sedari tadi di pegang Tiffany pun perlahan terlepas dan ikut tertiup angin.

Di dalam tulisan itu tertulis jelas jika Tiffany lulus dan berhasil masuk ke salah satu universitas ternama di California, tempat kelahiran gadis itu.

“Selamat tinggal, Tiffany-ah. Aku mencintaimu…” Lirih Chanyeol dan Tiffany hanya tetap menangis di dalam pelukannya.

-Can’t Forget-

@Seoul, Friday 3 January 2014, 07.00 KST

Kring… Kring… Kring…

Suara alarm yang memekakkan telinga itu seketika menyadarkan seorang pria yang tengah terbaring itu dari tidurnya. Ia buru-buru menutup telinganya dengan bantal di sampinya lalu sebelah tangannya yang lain meraba-raba meja kecil di samping ranjangnya, berusaha untuk mematikan dering alarm itu.

“Haish! Sial!” Ia mengumpat kesal ketika ia tak mampu menggapai alarmnya.

Ia melempar bantal yang sedari tadi di gunakannya untuk menutup telinga ke arah alarm tersebut tapi alhasil ia malah mendengar suara gelas pecah yang terjatuh ke atas lantai.

Pria ini sontak membuka kedua matanya lebar-lebar, ia melihat pecahan gelas yang berserakan di atas lantai. Ia lalu menepuk keningnya sambil menggeram kesal.

“Ugh… tak bisakah aku beristirahat sejenak meski di hari liburku?!” Gerutunya.

Pria itu, yang tak lain adalah Chanyeol akhirnya beranjak dari atas ranjangnya. Tapi siapa yang menyangka jika di sisi ranjang itu pun terdapat pecahan gelas?

Alhasil, pria itu langsung menjerit kesakitan sambil menjatuhkan dirinya kembali di atas ranjang. Ia memegangi kaki kirinya yang mulai mengalami pendarahan akibat pecahan gelas tersebut.

“Oh yeah. Bagus! Ini adalah hari sialmu, Park Chanyeol!” Gerutunya lagi sembari berusaha menahan jeritannya saat melepas pecahan gelas itu.

Drt… Drt… Drt…

Dering ponsel Chanyeol berdering tak kalah kerasnya dari suara alarm tadi. Pria ini menoleh garang ke arah ponselnya itu dan langsung saja ia meraih ponselnya.

Klik!

“Ada apa?!” Sahut Chanyeol galak, tak peduli akan siapapun yang meneleponnya sekarang.

“Woah… woah… tenanglah sobat. Ini masih pagi…” Canda orang di seberang sana.

Chanyeol tahu pemilik suara ini dan ia langsung membuang nafasnya cepat. Kedua bola matanya berputar sementara tangannya yang lain sibuk mengobati lukanya itu.

“Berhentilah mengoceh, Byun Baekhyun! Sekarang katakan padaku, apa yang ingin kau katakan padaku sehingga kau meneleponku sepagi ini?!”

“Huh! Dasar tidak sabaran!” Ejek pria bernama Baekhyun itu. “Well… seharusnya kau tidak perlu marah-marah seperti itu jika kau tahu kabar baik apa yang akan aku sampaikan untukmu!” Celoteh Baekhyun kemudian.

“Kabar baik?” Sebelah alis Chanyeol naik ke atas.

“Ya.” Baekhyun sesaat menggantung ucapannya. “Kau masih mengenal Yuri kan? Kudengar… Tiffany sudah kembali ke Korea sejak dua hari yang lalu. Dan gadis itu.. dia akan menghadiri pernikahan sahabatnya itu besok lusa…”

Deg!

Kedua bola mata Chanyeol sukses melebar mendengar perkataan Baekhyun tadi.

“Kau serius?!”

“Untuk apa aku bercanda? Itu tidak ada gunanya.” Balas Baekhyun santai. “Ah! Dan kalau tidak salah… kau pasti mendapatkan undangan pernikahan Yuri juga kan? Aku juga mendapatkannya seminggu yang lalu…”

“Undangan?”

“Ya.”

Sebelum Baekhyun sempat meneruskan kata-katanya lagi, Chanyeol telah lebih dulu memutuskan sambungan telepon itu. Pria bertubuh tinggi ini pun buru-buru keluar dari rumahnya.

Dengan tergesa-gesa, ia membuka loker surat yang berada di depan gerbang rumah miliknya. Dan ketika ia membukanya, seluruh surat-surat yang selama satu minggu ini tidak ia cek, berhamburan keluar dari loker tersebut dan salah satunya termasuk undangan yang bertuliskan nama ‘Kwon Yuri and Choi Minho’.

“Ya tuhan! Bagaimana bisa aku tidak mengecek loker surat selama ini!” Ia menepuk keningnya sambil membuka surat udangan itu dan benar saja, pernikahannya akan di adakan besok lusa.

Sejenak Chanyeol terdiam, bayangan wajah Tiffany pun tiba-tiba melintas di dalam benaknya. Ia masih ingat betul bagaimana wajah gadis itu saat tersenyum dan hanya dialah satu-satunya gadis yang mampu membuatnya hatinya selalu bergetar hebat setiap kali bersamanya.

Hanya dia. Tak pernah ada yang lain.

Chanyeol reflex menggelengkan kepalanya lalu tersenyum kecut, ia menatap langit yang nampaknya sedikit mendung. Akhir-akhir ini cuaca di Seoul memang sedang tak menentu. Kadang hujan, kadang juga cerah.

“Hm… bagaimana kabarmu sekarang, Tiff? Aku yakin kau pasti bertambah cantik.” Gumamnya, seolah berbicara kepada bayangan Tiffany yang ntah kenapa terlihat di antara sekumpulan awan di langit.

-Can’t Forget-

Seorang gadis berambut panjang dengan warna hoodiesnya yang berwarna merah muda, tengah menyeruput jus strawberry kesukaannya. Kedua matanya nampak sibuk menjelajahi sebuah majalah bisnis yang tengah di pegangnya.

“Oh… aku senang kau akan hadir dalam acara pernikahanku nanti, Tiff! Ini benar-benar sebuah kejutan kau bisa kembali ke Korea!” Seru seorang gadis gembira. Dia berjalan dari arah dapur dan membawakan beberapa camilan dan meletakkannya di atas meja di hadapan Tiffany. “Saat kau pergi waktu itu, aku benar-benar merasa kehilangan! Aku tak pernah memiliki sahabat sebaik dirimu…” Lanjutnya.

Gadis itu, yang tak lain adalah Tiffany Hwang, mengalihkan tatapannya dan segera memeluk gadis itu sambil tersenyum hangat.

“Oh… aku juga merindukanmu, Yuri-ya…” Ujar Tiffany sambil melepaskan pelukan itu. “And well… sebenarnya, aku bukan semata-mata berkunjung kemari…”

“Lalu?” Gadis bernama lengkap Kwon Yuri itu menatap Tiffany bingung.

“Hm… sebenarnya… aku akan kembali menetap di sini. Aku di terima di salah satu perusahaan penerbit buku dan mulai minggu depan aku akan bekerja sebagai editor tetap di sana.” Jelas Tiffany sambil mencicipi cookies yang di sediakan Yuri.

“Benarkah?!” Kedua mata Yuri nampak berbinar-binar dan Tiffany hanya membalas pertanyaan gadis itu dengan sebuah anggukan cepat. “Woah… ini berita baik, Tiff! Aaah… akhirnya aku mendapatkan kembali sahabatku!” Jerit Yuri bahagia.

“Kau terlalu berlebihan, Yuri-ya…”

Yuri menggeleng cepat. “Tidak sama sekali. Kau tahu? Kurasa… dengan mendengar berita ini, aku sudah tak memerlukan hadiah apapun lagi darimu untuk pernikahan-ku nanti. Dengan hanya kau kembali berada di Korea ini sudah cukup membuatku sangat senang!”

“Kau ini…” Tiffany mengacak-acak gemas rambut sahabatnya itu.

“Oh tunggu sampai Minho mendengarnya! Dia juga pasti akan senang mendengar berita ini!” Yuri bergegas beranjak dari tempatnya, berlari menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya.

Sedangkan Tiffany hanya tertawa saja saat melihat reaksi sahabatnya itu. Gadis ini pun kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda,-membaca majalah-. Namun, di saat ia membuka halaman selanjutnya, gerakan tangan Tiffany reflex terhenti dan sekujur tubuh gadis ini pun seketika berubah kaku.

Di sana, tepat di satu halaman majalah itu, terdapat sebuah berita ekslusif mengenai sesosok pengusaha muda yang telah sukses dengan karirnya yang cemerlang di usia-nya yang masih terlampau muda.

Dan tentu saja Tiffany mengenali sosok pria itu, tubuhnya yang jangkung, wajahnya yang tampan serta senyumannya yang menawan. Semuanya, Tiffany dapat dengan jelas mengingat semua itu.

Dia… Park Chanyeol.

Perlahan, Tiffany menggerakkan jari-jarinya di atas foto Chanyeol yang terpampang jelas di halaman majalah tersebut. Sudut bibirnya tertarik ke atas dan membentuk satu senyuman tipis.

“Chanyeol-ah… bagaimana kabarmu? Apakah… kau masih mengingatku?” Bisiknya.

-Can’t Forget-

@Seoul, Saturday 4 January 2014, 07.00 KST

Siang itu, hujan turun dengan deras. Semua orang berlarian mencari tempat untuk berteduh dan tak terkecuali dengan Tiffany yang saat itu tengah berjalan-jalan di sekitar pusat kota Seoul.

Langkah gadis ini pun menuntunnya untuk berteduh di sebuah halte bus yang tak jauh darinya. Dan setelah berhasil mencapai halte bus tersebut, Tiffany menggerutu kesal sambil merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Kenapa ramalan cuaca tak mengatakan jika hari ini akan turun hujan? Jika seperti ini aku akan lebih memilih ikut dengan Yuri ke gedung pernikahannya untuk gladi resik acara pernikahannya itu.” Gerutu Tiffany kesal.

Ia menatap geram pada rintik-rintik hujan yang turun dengan deras. Menyebalkan memang, di saat Tiffany ingin berjalan-jalan di sekitar pusat kota, hujan deras justru datang dengan tiba-tiba,

Duarr!!

Kilat petir yang menyambar cukup mengejutkan Tiffany. Ia memejamkan kedua matanya dan reflex berbalik sembari menutup kedua telinganya dengan tangannya.

“Eomma!” Jeritnya tanpa sadar.

Bruk!

“Uhm… kau tidak apa-apa, nona?” Sebuah suara yang tak asing lagi itu, terdengar menggema di indera pendengaran Tiffany.

Gadis itu perlahan mendongakkan kedua matanya dan baik Tiffany maupun sosok pria yang tak sengaja di tabrak Tiffany pun, tiba-tiba terdiam seribu bahasa.

Tubuh keduanya mendadak menegang, tapi tak satupun dari mereka yang berniat melepaskan tatapan mereka. Seolah, kedua mata mereka telah terkunci dan tak dapat berpaling lagi.

Darah di setiap urat nadi mereka terasa berdesir dan sebuah perasaan yang begitu sangat mereka kenal pun seolah kembali. Perasaan yang mampu membuat detak jantung keduanya berpacu dua kali lebih cepat, sebuah perasaan yang di namakan cinta.

“Tiffany-ah?” Suara pria itu seakan memecah keheningan yang ada.

Tiffany tersadar dari kediamannya dan ia buru-buru memundurkan tubuhnya. Ntah kenapa, tapi gadis ini tiba-tiba saja merasa enggan untuk berada di dekat pria itu.

“O-oh.. C-Chanyeol-ah… lama tidak berjumpa.” Ujar Tiffany kemudian, terbata-bata.

Chanyeol tersenyum kecut melihat reaksi Tiffany yang seolah menjauhi. Dia yakin jika gadis ini pastilah tak lagi memiliki perasaan yang sama dengannya.

Dan mungkin… gadis ini telah memiliki kekasih yang lebih baik darinya.

“Ya… lima tahun adalah waktu yang cukup lama.” Sahut Chanyeol. Pria ini memang tersenyum kepada gadis itu, tapi kedua matanya tak mampu berbohong.

Dalam pancaran mata pria ini, tersirat jelas jika pria ini begitu merindukan gadis itu. Chanyeol ingin menarik tubuh mungil Tiffany ke dalam pelukannya, melihat gadis itu kembali tersenyum hangat padanya dan kembali mendengar canda tawanya.

Suasana canggung pun langsung terasa, keduanya hanyut dalam pikiran mereka masing-masing dan setelah percakapan itu, mereka lebih memilih untuk diam dan bertingkah seolah-olah mereka hanya saling mengenal sebagai teman yang sudah lama tak bertemu. Bukan sepasang mantan kekasih yang saling mencintai.

-Can’t Forget-

@Seoul, Sunday 5 January 2014, 07.00 KST

Gedung pernikahan itu nampak di penuhi oleh para tamu yang hadir di acara itu, di altar pernikahan terlihat sepasang kekasih yang tengah mengucapkan sebuah janji sehidup-semati dan hanya dalam hitungan beberapa detik saja, keduanya kini telah resmi menjadi sepasang suami-isteri yang sah.

Iringan lagu pengantin pun terdengar menggema di seluruh penjuru gedung itu. Para tamu terlihat bergantian mengucapkan selamat pada sepasang pengantin itu,-yang tentu saja adalah Choi Minho dan Kwon Yuri-.

“Yuri-ya, Chukkaeyo!” Seru Tiffany yang muncul dengan mengenakan sebuah gaun berwarna merah muda lengkap dengan tatanan rambutnya yang di sanggul ke atas.

“Gomawo…” Yuri tersenyum bahagia sambil balas memeluk Tiffany.

Tiffany juga mengucapkan hal yang sama pada Minho, yang tak lain merupakan salah satu sahabatnya juga saat semasa SMA dulu.

“Tiffany-ah… apakah kau sudah bertemu Chanyeol? Dia datang juga kemari.” Ujar Minho kemudian.

Sejenak Tiffany mematung di tempatnya, mendengar nama ‘Chanyeol’ di sebutkan seolah sukses menghipnotis tubuh Tiffany agar menjadi sebuah patung yang tak mampu bergerak sedikitpun.

“Hey, Choi Minho! Kwon Yuri! Selamat untuk pernikahan kalian berdua, kawan!” Seruan Chanyeol dari arah belakang terdengar, membuat Minho dan Yuri menoleh ke arah pria jangkung itu. Sesaat Tiffany ikut berbalik kepadanya, tapi dengan cepat gadis itu memalingkan wajahnya dan pergi.

Chanyeol menyadari hal itu, jujur saja, pria ini begitu kecewa melihat sikap Tiffany yang seolah menjauhinya dan menghindarinya.

“Kurasa… kalian masih saling menyukai. Benar kan?” Yuri berucap dengan pelan, tapi Chanyeol dapat mendengarnya dengan sangat jelas.

Sejenak pria itu terdiam, dalam hati ia membenarkan perkataan Yuri tadi. Iya, benar jika dia masih mencintai Tiffany. Tapi… bagaimana dengan Tiffany sendiri?

“Mungkin tidak…” Lirihnya dalam hati.

Namun, seperti biasanya, pria ini terlalu pandai menyembunyikan perasaannya. Ia tetap mampu memperlihatkan senyuman lebarnya pada kedua temannya itu. Lalu memberikan sebuah pelukan hangat secara bergantian.

Kemudian, pria ini pun melangkahkan kakinya menjauhi sepasang pengantin itu. Ia mengambil segelas wine sebelum akhirnya melangkahkan kedua kakinya untuk keluar dari gedung tersebut, berjalan menuju taman belakang gedung ini.

Akan tetapi, di saat Chanyeol berniat meneguk wine itu. Samar-samar pria ini pun mendengar sebuah suara yang terasa sangat tak asing lagi baginya.

Ia mengernyitkan keningnya, lantas berjalan ke arah sumber suara itu. Mencari tahu siapa pemilik dari suara itu dan ketika dia tahu jika pemilik suara itu adalah Tiffany, ia pun menghentikan langkahnya.

Tiffany nampak telah menghabiskan sebotol wine. Chanyeol bahkan sempat terkejut saat mengetahui jika gadis itu mampu meminum minuman berakohol sebanyak itu.

“Di sekian banyak pria yang aku temui di dunia ini. Kenapa hanya Park Chanyeol yang mampu membuat jantungku terus berdegup kencang seperti ini? Ya tuhan… kenapa harus seperti ini?!” Tiffany tiba-tiba saja berceloteh keras sambil menatap langit yang saat ini di taburi bintang yang berkerlap-kerlip.

“Bukankah itu aneh?! Kami sudah berpisah sejak 5 tahun yang lalu… Tapi kenapa perasaan itu terus ada?!” Lagi, gadis itu kembali berceloteh.

“Hah… kau benar-benar tidak adil, ya Tuhan! Di saat para gadis seumuranku dapat bergonta-ganti pasangan dengan mudahnya. Kau malah membuatku hanya terus terpaku pada satu pria… dan dia Park Chanyeol!”

Kali ini Tiffany sedikit meninggikan nada suaranya, tak menyadari sama sekali akan keberadaan Chanyeol yang tengah berdiri tak jauh darinya.

Sedangkan Chanyeol, pria itu nampak menahan tawanya. Merasa gemas akan sikap Tiffany yang tengah berceloteh itu dan merasa luar biasa bahagia juga karena ternyata apa yang di pikirkannya salah besar.

Tiffany ternyata masih mencintainya dan Chanyeol yakin jika dia masih sendiri!

Memberanikan dirinya untuk menghampiri gadis itu, perlahan demi perlahan pria ini pun mulai melangkahkan kedua kakinya untuk mendekati gadis itu.

“Benarkah kau hanya dapat terpaku padaku, Tiffany-ah?”

-Can’t Forget-

“Benarkah kau hanya dapat terpaku padaku, Tiffany-ah?”

Kedua bola mata Tiffany langsung terbuka lebar dan nyaris melompat keluar. Gadis ini segera berbalik dan ternyata pendengarannya tak salah, pemilik suara ini benar-benar adalah Park Chanyeol!

Pria yang sedari tadi di sebut-sebut olehnya!

“Oh… matilah aku!” Tiffany mengumpat dalam hatinya sambil memejamkan kedua matanya.

Dengan ragu gadis ini kembali berbalik, tak berniat sedikitpun untuk menatap pria itu lebih lama lagi. Sementara itu, Chanyeol terlihat bersusah payah menahan suara tawanya agar tidak meledak.

Ia lantas duduk di samping Tiffany dengan tenangnya, membuat gadis itu kembali mengutuk dirinya sendiri karena telah dengan sembrono meluapkan perasaannya di tempat se-‘terbuka’ ini.

“Well… aku tak pernah tahu jika perasaanmu sebesar itu terhadapku. Kupikir… kau sudah melupakanku.” Ujar Chanyeol kemudian.

“Aku memang sudah melupakanmu!” Balas Tiffany cepat, terlalu cepat bahkan hingga membuat Chanyeol menyeringai kecil padanya dan semakin membuat Tiffany merasa gugup di buatnya.

“Benarkah? Lalu… kenapa sampai sekarang kau masih belum memiliki kekasih?”

“Err… mungkin… belum ada yang tepat?” Jawab Tiffany dengan ragu.

Chanyeol mengerling jail. “Bukan karena tak ada yang sepertiku? Maksudku… ya… kau tahu kan pria seperti apa diriku?” Celoteh Chanyeol dengan percaya diri.

“Kau bercanda?! Pria di luar sana bahkan lebih tampan darimu!” Cibir Tiffany.

“Kalau begitu…” Chanyeol tiba-tiba saja menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi Tiffany, menarik gadis itu untuk menatap tepat ke arahnya. “Katakan padaku jika kau bisa melupakanku selama 5 tahun ini! Katakan padaku jika kau tak lagi mencintaiku, Tiff…”

Mendengar Chanyeol menyebut kembali namanya, membuat bilik-bilik pada hati Tiffany berpijar terang. Ya, Tiffany memang masih sangat mencintai Chanyeol.

“Bisakah kau mengatakan kata-kata itu, Tiff?” Suara lembut Chanyeol terasa seperti menyedot habis kata-katanya.

Tiffany tak mampu berkata-kata lagi dan ia hanya mampu menatap kedua mata pria itu dengan tatapan penuh cinta yang tak pernah menghilang meski telah bertahun-tahun lamanya tak bertemu dengan pria ini.

Perlahan, Tiffany menundukkan wajahnya dan ia pun menggeleng lemah. “Tidak…” Ungkapnya dengan jujur. “Aku tak bisa mengatakannya…”

Dan seulas senyum bahagia pun terpampang jelas di wajah pria bermarga Park itu. Ia lantas merengkuh tubuh Tiffany erat, melayangkan satu kecupan lembut tepat di puncak kepala gadis itu.

“Dan begitupun denganku, Tiff. Aku masih sangat-sangat mencintaimu, Tiff… aku bahkan begitu tersiksa karena selalu merindukanmu, Tiffany Hwang…” Ujarnya, meluapkan segala perasaannya selama ini.

Tiffany mendongakkan kepalanya, menatap Chanyeol dengan kedua matanya yang telah berkaca-kaca. “Benarkah itu?”

“Tentu saja… jika tidak seperti itu, aku pastilah sudah memiliki kekasih yang lebih cantik darimu. Iya kan?” Jawab Chanyeol sekenanya, membuat Tiffany merenggut kesal dan langsung memukul lengannya dengan sekeras-kerasnya.

“Ahk! Hey, itu sakit!” Ringis Chanyeol sambil mengusap pelan lengannya.

“Kau menyebalkan!” Tiffany merenggut kesal. Ia beranjak dari posisi duduknya dan buru-buru berjalan menjauhi Chanyeol.

Chanyeol sadar jika Tiffany tengah merasa cemburu karena perkataannya. Dengan segera pria ini pun ikut beranjak dari duduknya dan mengejar langkah Tiffany. Di tariknya lengan gadis itu agar ia menghentikan langkahnya. “Hey… hey… aku hanya bercanda!” Senyum Chanyeol padanya.

“Dan itu bukanlah lelucon yang lucu!” Balas Tiffany sengit. Ia memukul-mukuli pria itu dengan kepalan tangannya.

Sret!

Chanyeol merengkuh tubuh Tiffany dengan erat, membuat gadis itu terhanyut dan melemas di dalam pelukannya.

“Aku begitu merindukanmu, Tiff. Rasanya… seperti ada yang hilang saat kau tak bersamaku… aku benar-benar tersiksa tanpamu!”

Air mata perlahan mulai memenuhi pelupuk mata gadis itu dan sesaat kemudian ia telah meneteskan air matanya. “Aku yang seharusnya meminta maaf padamu…” Lirihnya sambil tetap menyandarkan kepalanya di dada Chanyeol.

Rengkuhan Chanyeol bertambah erat dan pria itu berbisik tepat di telinga Tiffany. “Aku mencintaimu, Tiffany Hwang. Jadilah kekasihku kembali… jadilah milikku untuk selama-lamanya.”

Tiffany terdiam di dalam pelukan Chanyeol, seolah memikirkan kata-katanya. “Apa kau serius?”

Chanyeol menarik tubuh mungil dari pelukannya, memegang kedua lengan atasnya sambil menatap lekat ke arah kedua mata gadis itu.

“Oh, Tiff. Cukup jawab ‘ya’! Kau pasti tahu seberapa besar rasa cintaku padamu! Dan aku tahu kau pun masih mencintaiku kan?”

“Ehm…” Tiffany nampak berfikir kembali.

Pria itu nampak mengerutkan keningnya, raut wajahnya terlihat ragu dan was-was. Walaupun ia yakin dan mendengar sendiri tadi jika Tiffany memang masih memiliki perasaan yang sama sepertinya, tapi tetap saja dia takut jika Tiffany menolaknya.

“Tiffany?” Chanyeol berucap dengan sangat hati-hati.

Sejenak Tiffany masih terdiam, tetapi beberapa detik kemudian ia menarik kedua sudut bibirnya, memperlihatkan seulas senyuman khasnya yang membuat kedua matanya ikut melengkung seperti bulan sabit, sungguh menawan.

“Ya… aku mau menjadi kekasihmu lagi, Park Chanyeol.” Ucapnya kemudian.

Kedua mata Chanyeol terbuka lebar dan mulutnya nampak menganga, kebahagiaan nampak jelas terpancar di wajah tampan pria ini. Ia buru-buru menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, mengangkatnya dengan mudah dan berputar-putar di tempat hingga Tiffany menjerit karena terkejut sekaligus merasakan kebahagiaan yang sama di rasakan oleh Chanyeol.

Tawa dari keduanya pun meledak, Chanyeol menghentikan gerakannya dan dengan perlahan-lahan, ia mulai mendekatkan wajahnya, mendaratkan satu kecupan lembut nan singkat di bibir manis Tiffany.

“Aku mencintaimu.” Bisik Chanyeol. “Sangat-sangat mencintaimu, Tiffany Hwang.”

“Aku juga mencintaimu, Park Chanyeol…” Balas Tiffany sambil kembali tersenyum.

Chanyeol menatap wajah Tiffany lama, tatapannya begitu intens, penuh dengan rasa cinta dan terpesona. Dan pria ini berhasil membuat Tiffany bingung saat ia terlihat mendesah frustrasi dan mengusap rambutnya kasar.

“Oh ya tuhan! Kurasa, aku memang tidak akan bisa melepaskanmu lagi!” Gumam Chanyeol sambil menoleh arah lain.

“Apa?” Tiffany nampak menaikkan sebelah alisnya dengan kening mengkerut.

Pria itu lantas menoleh kembali padanya, di pegangnya kedua tangan Tiffany dan di tatapnya dengan serius gadis itu.

“Tiffany Hwang. Menikahlah denganku. Aku berjanji akan selalu membahagiakan dirimu… selamanya.”

Sejenak Tiffany nampak mencerna kata demi kata yang di ucapkan Chanyeol. Tetapi sesaat kemudian gadis ini terkekeh kecil dan kini giliran Chanyeol yang terlihat mengerutkan keningnya.

“Kenapa? Apakah ada yang lucu?!” Chanyeol bertanya dengan nada tersinggung.

Tiffany menggeleng sambil berusaha menahan tawanya. “Tidak. Ehm… hanya saja… apakah saat ini kau sedang melamarku, Chanyeol-ah?”

Tersadar akan maksud ucapan Tiffany tadi, Chanyeol tiba-tiba saja merasa gugup. Ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. “Well… jawabannya adalah ‘ya’.”

“Tapi itu tidak romantis!” Cibir Tiffany sambil mencubit hidung Chanyeol dengan gemas.

“Jadi?” Chanyeol menaikkan sebelah alisnya.

Tiffany tersenyum. “Ya… tentu saja kau harus melamarku dengan cara yang sangat romantis. Jika kau melakukan hal itu… mungkin… aku akan mempertimbangkan lamaranmu itu…” Canda Tiffany, terlihat ingin menggoda Chanyeol.

Gadis itu lantas melepaskan pegangan tangan Chanyeol, ia berbalik dan berjalan meninggalkan Chanyeol sementara pria itu masih terpaku di tempatnya.

“Hey, tapi itu kan sama saja kau belum memberikanku kepastian!” Teriak Chanyeol.

Tiffany berbalik padanya sambil tersenyum geli, “Lamar aku dulu dengan cara yang romantis, baru akan aku jawab!” Ia nampak menjulurkan lidahnya.

“Ish.. benar-benar keterlaluan!” Gerutu Chanyeol sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi.

Tapi, sedetik kemudian pria ini tersenyum. Ia menoleh pada punggung Tiffany yang semakin lama semakin menjauhinya, gadis itu sepertinya masuk kembali ke dalam gedung pernikahan.

“Tetap seperti biasanya… dan itu yang membuatku selalu mencintainya. Tiffany Hwang… kau memang hanya satu-satunya gadis yang mampu membuat jantungku selalu berdetak kencang seperti sekarang ini.”

Dan Chanyeol pun ikut berbalik memasuki kembali gedung pernikahan tersebut.

The End…

20 thoughts on “(EXOFany Series) Can’t Forget

  1. IMUT BANGEEEEETTT YEOLFANY AAAAAA *screaming* suka bgt dua jempol buat author! ditunggu exofany series lainnya^^ (terutama suhofany&kaifany hehe)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s