Wrecking Ball (Chapter 2)

wreckingball

Wrecking Ball – Chapter 2

[wyfosh] prev; icydork

Main Cast : Minseok and Sunny

Genre : Romance, Sad, Angst | Rated for Teen

[Kalimat yang di-italic adalah pikiran Minseok]

Kertas dari buku kecil yang ditulis oleh seorang motivator itu tidak berhenti berbalik dari halaman demi halaman. Minseok selaku orang yang membaca buku itu terus membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat. Minseok berusaha memahami kata dan pesan yang disampaikan dari buku itu.

Namun, suara pintu yang berdenyit terbuka itu menghancurkan konsentrasi Minseok. Ia langsung melihat pintu cafe yang terbuka dan ya! Jantung Minseok berdebar lebih kencang, matanya terus menempel pada seorang wanita yang cantik dengan pakaian semi-formal-nya.

Ya, wanita yang selalu dia kagumi. Sunny.

Lagi. Minseok langsung gugup. Dengan tangan yang bergetar dia meletakkan buku yang di abaca dan memasukannya ke dalam ransel yang dia letakkan disamping kirinya.

Minseok langsung menatap keluar jendela sambil melihat orang-orang yang berlalu-lalang di depan café sambil meneguk kopi panas yang dia pesan.

Minseok terus mengekori Sunny dengan matanya. Melihat dimana wanita itu berada dan kemana wanita itu berjalan. Minseok berdeham pelan dan tiba-tiba terdengar langkah berhenti tepat disebelah Minseok.

Minseok menoleh dan nampak seperti orang terkejut, “Sunny-ssi?”

Sunny nampak kegirangan sambil mengukir senyuman diwajahnya, “Ah, Minseok?”

“Sedang apa disini? Mari, duduk!” Ajak Minseok sambil menawarkan tempat duduk kosong yang tepat berada di depannya.

“Ah, terima kasih.” Sunny pun duduk di atas bangku panjang dan empuk itu lalu meletakkan handbag yang ia kenakan ke sisi kanannya.

Minseok pun mengangkat tangan kanannya untuk memanggil pelayan untuk datang dan melayani Sunny. Ini sudah tiga hari dari hari terkahir Minseok bertemu Sunny.

.

.

.

Vanilla Milksha—

“Sebentar lagi musim dingin, Sunny-ssi. Lebih baik minum minuman yang hangat saja.” Saran Minseok sambil memotong perkataan Sunny.

“Tapi—hm—baiklah. Teh hangat satu dan ah—yah, itu saja dulu.” Ucap Sunny sambil mengembalikan menu yang disajikan dari café ini.

“Silahkan tunggu sebentar.” Sang pelayan meluntarkan perkataannya sebelum pergi dan membuat pesanan untuk Sunny.

“Hm, jadi, bagaimana kabarmu?” Tanya Sunny sambil melipat kedua tangannya ke atas meja.

“Baik. Bagaimana denganmu?” Jawab dan tanya Minseok lagi.

“Lebih dari baik.” Jawab Sunny.

Keheningan menghampiri mereka. Ya, sebenarnya Minseok hanya bergurau untuk menjawab dengan jawaban baik. Minseok tidak pernah merasa lebih dari baik ketika dia tahu bahwa appa-nya meninggalkan dirinya serta umma-nya demi wanita lain.

“K—Minseok, kau ambil jurusan apa?” Sunny memulai pembicaraan diantara mereka.

Minseok menoleh dengan gugup, “Oh—uh, aku ambil jurusan psikologi.”

“Wah, kau bisa mengetesku ‘kah?” Tanya Sunny.

Minseok menggaruk punggung lehernya yang tidak gatal itu, “Uh—hm, baiklah. Apa kau membawa pen dan beberapa kertas?”

Sunny mengangguk lalu membuka handbag-nya dan mengeluarkan kertas dan pen. “Done!

“Baiklah. Mari kita mulai!” Seru Minseok.

.

.

.

“Gambarlah sebuah pohon dan rumah. Tidak perlu yang bagus. Hanya buat saja.” Suruh Minseok. Sunny menurut. Dia menggambar sebuah rumah yang besar namun pohonnya jauh lebih besar.

“Sudah?” Tanya Minseok.

“Sudah!” Balas Sunny.

“Baiklah. Coba sekarang kau gambar sebuah biola dan senarnya.” Suruh Minseok lagi. Sunny menggambar sebuah biola dan senarnya berdekatan.

“Sudah.”

“Ini yang terakhir, gambarlah sebuah pohon.” Suruh Minseok lagi. Sunny menggambar sebuah pohon dengan buah-buah yang bergantungan didaunnya.

Minseok tertawa pelan, “Sudah. Sini, bair kulihat.”

Sunny memeberikan kertas tersebut.

“Apa gambaranku jelek?” Sunny nampak khawair, alisnya menyatu dan dahinya berkerut. Benar-benar terlihat seperti orang yang sangat khawatir.

“Tidak, gambarmu bagus. Jauh lebih bagus dari gambarku.” Balas Minseok.

“Jadi, bagaimana?” Tanya Sunny.

“Hm,” Minseok berdeham sambil memerhatikan gambar Sunny satu persatu.

“Gambar pohonmu jauh lebih besar. Berarti, kau lebih tunduk ke appa­-mu.” Jelas Minseok sambil menunjuk pohon gambaran Sunny sambil memutari-mutarinya dengan telunjuk tangan kanannya.

“Oh, pasti! Aku hanya tinggal dengan appa-ku.” Jawab Sunny.

Minseok terkekeh pelan dengan sedikit paksaan, “Aku juga. Aku hanya tinggal dengan umma-ku.”

“Benarkah? Wah!”

“Gambar kedua. Biola dan senarmu berdekatan. Itu menandakan bahwa kau ini orang yang cukup romantis.” Jelas Minseok lagi.

Sunny tersentak, “Benarkah? Ah—akhirnya aku bisa diakui sebagai wanita romantis.”

“Memangnya tidak ada yang mengakuinya?” Tanya Minseok dengan polos.

Sunny memutar bola matanya, “Ada. Seseorang. Baiklah, lanjutkan saja.”

Minseok melihat lagi ke gambar ketiga. Namun, dia tidak bisa menyatukan konsentrasinya. Pikirannya bercabang memikirkan siapa seseorang yang disebut oleh Sunny.

“Hm—ehm, jadi—“

“Bagaimana? Apa gambarku susah untuk ditebak?” Tanya Sunny.

Minseok langsung menggeleng dengan cepat, “Tidak. Tunggu sebentar.”

“Baiklah.” Balas Sunny.

Ayo, Minseok! Konsenlah!

“Gambar terakhir mengdeskripsikan bahwa kepribadianmu itu masih kekanak-kanakkan.” Jelas Minseok.

“Sungguh?! Benarkah?!”

“Benar. Gambar buah-buahan yang kau buat di dedaunannya itu yang berefek.”

“Aku jadi ingin tahu hasil test milikmu.” Ujar Sunny.

Minseok tersenyum sekilas, “Kau ingin tahu?”

Sunny menmgangguk sambil berdeham pelan.

“Baiklah. Di gambar pertama, rumahku jauh lebih besar. Secara tidak langsung, aku lebih tunduk pada umma-ku karena aku—ya—kau tahulah.”

Sunny mengangguk, “Lalu gambar kedua?”

“Hm, gambar keduaku, biola dan senarnya berjauhan. Bahkan sangat jauh sehingga guru pebimbingku berkata bahwa jodohku sangat jauh dariku.”

“Oh, itu sangat menyesakkan bukan?” Sunny bertingkah sedikit berlebihan layaknya dia seorang aktris yang sedang ber-akting.

Minseok tersenyum sambil menggeleng, “Aku belum memikirkan hingga jodohku. Aku cukup senang dan mensyukuri orang yang ada disekelilingku.”

Sunny tersentuh. Setelah mendengar perkataan Minseok, dia sempat berpikir bahwa Minseok memiliki hati seorang malaikat.

“Bagaimana gambar ketiga?” Tanya Sunny.

“Ketiga? Aku hanya menggambar pohon polos tapi kata guruku, aku sangat pesimis dan minder.” Jawab Minseok.

“Benarkah?”

“Benar.”

“Bagaimana jika aku membuatmu menjadi orang yang optimis dan percaya diri?” Tanya Sunny sambil tersenyum.

“A-apa?!”

“Bagaimana? Kau mau tidak?” Tanya Sunny lagi.

Minseok menjadi gugup lagi pada saat itu, “B-bo-boleh. Ya. Tentu saja. Boleh.”

“Haha, tenanglah, Minseok! Aku tidak akan memakanmu.” Balas Sunny.

“Ya, tentu. Kau tidak akan. Aku yakin.” Minseok langsung meneguk kopinya setelah menyelesaikan perkataanya.

“Ngomong-ngomong, kau semester berapa?” Tanya Sunny.

“Aku? Aku semester tiga. Kalau kau?”

“Aku semester lima.”

“Wah, kau pasti lebih tua dariku!”

“Aku lahir di tahun 1989.” Ujar Sunny sambil meneguk the hangat miliknya.

“Aku tahun 1990.”

You should call me noona then.” Balas Sunny dengan bahasa inggrisnya yang sangat mahir itu.

“Jadi, Sunny noona? Seperti itu?” Tanya Minseok.

Sunny tertawa karena pertanyaan Minseok yang menurutnya begitu polos, “Tidak. Tidak. Aku hanya bergurau!”

“Jadi? Bagaimana? Jangan membuatku bingung, noona.” Kata Minseok sambil memainkan nadanya di bagian noona.

“Jangan memanggilku seperti itu! Kau membuatku nampak tua.” Protes Sunny sambil mengeluarkan ponselnya dari handbag-nya.

“Baiklah. Aku akan memanggilmu Sunny,” Ucap Minseok menggantung sambil memerhatikan Sunny yang sedang sibuk dnegan ponselnya, “Tapi, bagaimana dengan Sun? Itu terdengar imut.” Lanjut Minseok.

Sunny tidak merespon Minseok. Dia sibuk dengan ponselnya. Sebenarnya, Minseok sangat ingin tahu siapa yang sedang sibuk dengan Sunny sekarabg. Ia ingin menanyakannya. Tapi, bukankah itu lancang?

“Minseok—“ Panggil Sunny sambil memasukkan ponselnya ke dalam handbag-nya lagi, “Aku harus pergi. Temanku sudah menunggu diluar. Terima kasih sudah menemaniku.” Lanjut Sunny.

Sunny pun bangkit berdiri dan meraih handbag-nya. Dengan cepat, Minseok menahan tangan kanannya dan pada saat itu juga. Mata mereka bertemu.

Dan ketika Sunny melihat dalam mata Minseok. Dia merasakan sensasi yang sangat berbeda dari biasanya. Ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Minseok, rasanya berbeda.

“A-ada apa?” Sunny bergetar hebat, dia gugup. Itulah yang dia rasakan.

“Bisakah kau temaniku? Besok aku ingin membeli kamera.”

Sunny bingung ingin menjawab apa. Jawabannya yang akan keluar pasti akan mengecewakan. Mana yang harus ia pilih? Mengecewakan orang yang penting baginya atau mengecewakan orang yang menurutnya akan menjadi bagian hidupnya nanti?

TO BE CONTINUE

5 thoughts on “Wrecking Ball (Chapter 2)

  1. uwaaaahhh…..xiu oppa dsni keren bgt!!! cool oppa….tapi sunny eonni di cerita ini ceria bgt karakternya….suka bgt ma bahasa ceritanya….

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s