[3Shot] Way to Fate… 1

Gambar

 

Title

Way to Fate

[Will Meet]

Author

Fadila Setsuji

Genre

Romance,Surgery(?)#bingung nentuin genrenya–____–

Length

Threeshot

Main & Support Cast

Kris | Tiffany | Sooyoung | Luhan | Seohyun | Kyungsoo | Chen | Hyoyeon

Note

Mian untuk kesamaan ide cerita dan alur yang gaje ^^ dan disini juga sedikit author lakukan manipulasi(?) umur, hanya untuk kebutuhan cerita saja. Mohon dimaklumi (_ _)*BOW

 

Attend to read it,please!

 Tulisan italic + Bold= Flashback

Italic = semacam percakapan secara tak langsung

Tulisan bold = hanya kata kata yang ingin author tuliskan (red : buat hiasan,hehe#gaje)-_-

 

~Happy Reading~

 

Setelah kehilangan cinta

Waktu menuntunku

Menemui jalan menuju takdir yang lain

 

~Way to Fate~

@China…

“Kris…. Bekerjalah di rumah sakit Tuan Hwang di Seoul”

Pria paruh abad yang tengah bersandar duduk pada kursi kerjanya itu menatap namja muda berbalut jas putih yang tengah bergeming. Namja itu hampir tak berkedip jika saja pria paruh abad itu tak membuka suara

“Apa kau bersedia?”

Pria paruh abad itu menanyai si pria berjas putih itu. Raut wajah yang tergambar di wajah si pria paruh abad itu kini menjadi lebih tegas. Dipandanginya lekat si pria berjas putih itu, menantikan jawaban yang diharapkannya akan membuat kepuasan di hatinya.

“Ne. Terserah kau saja”

Namja berjas itu berhasil ‘menciptakan’ ukiran senyuman di raut wajah menegang si pria paruh abad itu(?) Sayang, ekspresi itu berbanding terbalik dengan si pemberi jawaban-namja berjas putih- yang tak sedikitpun menampakan senyuman atau sekedar ekspresi yang melegakan. Wajah datar tanpa senyuman yang diperlihatkannya

Namja berjas putih itu lantas membungkuk hormat sebelum akhirnya sosoknya menghilang di balik daum pintu yang telah tertutup

“Kris…. Kau akan bertemu ummamu disana”

=Way to Fate=

“Aku harus ke Korea,Soo”

Dua insan berbeda gender yang tengah menduduki bangku taman bercat merah itu tenggelam dalam kebisuan. Keduanya sibuk menatapi rerumputan di bawahnya yang saat itu tengah dipermainkan hembusan angin sepoi. Dedaunan maple kering juga ikut dipermainkan sang angin. Beberapa telah jatuh dan kini menemani sang rerumputan. Semua yang ada di sana bergerak. Hanya mereka, yang diam seperti patung bernyawa.

Keadaan itu terus bertahan selama kurang lebih lima belas menit. Sampai yeoja pemilik nama Choi Sooyoung itu mengalihkan pandangannya pada namja berjas putih itu. Seulas senyum terukir di bibirnya. Senyum tipis namun cukup membuat yeoja itu-Sooyoung- terlihat semakin cantik

“Aku tahu, pada akhirnya…. Akan berpisah”

Ucapan lirih Sooyoung mampu membuat hati namja itu tertohok. Namja itu terhenyak memandangi sosok yang kini tengah melempar senyuman padanya. Kris-namja itu- bahasa tubuhnya mengisyaratkan ketidakpercayaan akan apa yang didengarnya. Benarkah itu? Sayangnya memang iya

“Soo…..”

“Kris, aku memang wanita yang membuatmu jatuh cinta. Aku mungkin wanita yang juga mencintaimu. Namun…. Tak ada jalan menuju takdir kita berdua”Sooyoung melebarkan senyumnya, namun matanya semakin sendu “Temukan jalan menuju takdirmu. Takdirmu bukan denganku”

“Soo…..”

“Sekalipun perasaan cinta kita kuat, namun…. Tetap saja, takdir takkan peduli,Kris. Takdir itu kejam”

“Hentikan…..”

“Oh iya…. Aku pikir, sekarang jalan menuju takdirku telah terbentang”

Sooyoung, yeoja itu merogoh tasnya dan kemudian menggenggam lembaran kertas berbentuk persegi panjang dengan warna putih dihiasi pita

“Untukmu”

Sooyoung menyodorkan kertas tersebut tepat di hadapan Kris, membuat namja itu kembali melebarkan pupil matanya. Dia tercengang untuk kesekian kalinya

“Ini…..”

“Ini jalan takdirku….”Sooyoung menggantung ucapannya sejenak. Yeoja itu menghembuskan nafas dan kembali membuka bibirnya yang terkatup “Aku…. Akan segera menikah”

Kris, namja itu menatap Sooyoung. Yeoja itu-Sooyoung- menautkan telapak tangannya dengan Kris dan sedikit menunduk untuk mensejajarkan wajah mereka. Lagi, Sooyoung tersenyum menatap namja yang tengah bersedih itu

“Kris…. Kau takkan tahu takdirmu. Ayo kita temukan takdir kita masing masing”

Sooyoung menepuk pelan punggung Kris

“Soo…..”

“Eum?”

“Pernakah…. Aku mengatakan betapa…. aku mencintaimu?”

Manik mata Kris tepat menangkap ‘objek’ yang menjadi lawan bicaranya sejak tadi. Pancaran kesedihan, hanya itu yang mampu terlukis dari si pemilik mata itu.

“Aniyo”

“Jinjja?”

“Eoh. Karena…. Tanpa kau katakan pun, aku tahu”

“Kau…. Memangnya seorang cenayan?”

Raut wajah Kris kini berganti. Kesedihannya sedikit demi sedikit terlihat berkurang. Namja itu kini menampakkan senyum tipis setelah menggodai Sooyoung. Wanita yang dicintainya, namun bukan kekasihnya

“Kau ternyata mempelajari Korea dengan baik, Wu Yi Fan”

“Bahasa Cina mu juga hebat,Soo”

“Ah, Xie Xie”

Sooyoung dan Kris, dengan tangan bertautan kini mulai memperdengarkan suara tawa yang khas. Apakah ada yang lucu? Jawabannya tidak. Tapi kenapa mereka tertawa? Mungkin…. Itu pertanda ‘salam’ perpisahan….

“Soo….”

“Eoh?”

“Apa kau menyadarinya?”

“Mwo?”

“Tadi…. Kau memanggilku, Wu Yi Fan. Dan bukan kris seperti biasanya”

Sooyoung terhenyak. Kini, Kris yang menatapnya dengan senyuman

“Ingat?”

“Eoh”

“Mianhae…..”

Suara tawa itu tak terdengar lagi. Tenggelam oleh kebisuan yang mereka ciptakan untuk kedua kalinya. Tangan yang masih bertautan, desiran angin yang semakin tak terasa, dan pandangan mereka yang teralih pada pemandangan yang tersaji di hadapan mereka. Guguran daun maple kering.

“Jadi…. Inikah saat perpisahan itu?”

“Eoh”

.

.

.

“Sooyoung…..”

“Wae?”

“Kuingatkan kau untuk tidak memanggilku dengan nama asliku!”

“Waeyo?”

“Itu…. nama pemberian ibuku”

“Lalu?”

“Aku…. Ingin kau memanggilku dengan nama asliku, jika nanti….. Kau akan berjalan menghampiriku di altar dan ibuku….. Menyaksikan kita”

“Arraseyo. Kris-sshi~~”

 

Gambaran percakapannya dan Sooyoung tempo dulu kini membayangi di alam mimpinya. Beberapa kali Kris terlihat menampakkan wajah gusarnya. Namja itu tengah melepas lelahnya dengan sejenak ‘mengunjungi’ alam bawah sadarnya setelah beberapa saat yang lalu-setelah mengakhiri pertemuannya dengan Sooyoung- menyandarkan punggungnya pada ruang minimalis miliknya.

“Sooyoung-ah….”

Kris menggumamkan namanya-Sooyoung- sebelum akhirnya namja itu terjaga dan mendapati dirinya, sendirian di ruangannya dengan Sooyoung yang tak berada di sana.

Namja itu melakukan gerakan memijat pada dahinya dengan telapak tangannya. Terus saja dia melakukan itu, hingga….

“Wo Ai Ni….”

Liquid bening terlihat mengalir di kedua sisi wajahnya. Dokter muda itu, kini tengah menangis. Menangisi seorang Choi Sooyoung

Drrrttt

Kris menghentikan kegiatannya sejenak dan merogoh saku jas putihnya itu. Seseorang menghubungi. Seseorang yang nomornya diberi nama ‘Si pria yang kusebut ayah’

Yang sebenarnya, Kris tak berniat sama sekali untuk menjawab panggilan telpon tersebut. Hatinya yang tengah kalut itu takkan bisa menjadi tenang dengan telpon tersebut. Justru sebaliknya

Namun…. Kris pada akhirnya menekan tombol hijau pada handphonenya dan kini dia mendekatkan handphonennya itu pada daun telinganya

“Waeyo?”

“Dua hari lagi… Appa akan mengantarmu ke bandara”

“Ne”

Tut tut-sambungan telpon diakhiri

Kris mendesah  kasar dan meletakkan handphonennya di atas meja kerjanya. Benar saja, tak ada sedikitpun kelegaan  yang didapatnya. Hanya kegusaran yang semakin bertambah.

Telpon itu….. Adalah pembuka jalan untuk takdirnya

=Way to Fate=

“Sooyoung…..”

Sooyoung, yeoja itu menghentikan langkahnya dan lantas menengok ke belakang. Seorang yeoja bertubuh semapai dengan balutan jas putih-seperti Kris- itu tengah melempar senyum ke arah Sooyoung

“Seo? Bagaimana bisa kau….”

“Aku terpilih mengikuti training di sini selama enam bulan”

Yeoja pemilik nama Seohyun-tertera pada tagname nya- itu menggenggam tangan Sooyoung erat.

“Eonni… Mohon bantuannya. Aku akan menjadi-”

“Seo…. Aku takkan menjadi seniormu di Rumah sakit ini”Ucap Sooyoung menginterupsi

“Wae?”

“Aku…. Akan dijodohkan dan harus segera kembali ke Korea”

“Jinjja? Ah~~ eonni…..”

Seohyun merengek sambil terus menggenggam tangan Sooyoung. Bagi seorang Seohyun, sosok Sooyoung adalah seorang kakak perempuan dan tempatnya mencurahkan segalanya. Mungkin, faktor pertemanan yang telah terjalin lama dan juga kekurangan yang dirasakan Seohyun dalam hal kasih sayang. Hanya Sooyoung, yang selalu mencukupkannya akan kasih sayang. Sejak…. Orangtua Seohyun meninggal akibat kecelakaan

“Kau tak perlu khawatir. Eonni pasti menelponmu”

“Huh! Padahal baru saja aku bisa menemui eonni…..”

“Yak! Kau ini sudah dewasa sekarang. Kau bahkan sudah punya namjachingu, tapi masih saja kekanakan”

“Yak! Eonni. Ini tidak ada hubungannya dengan Luhan”

Seohyun, yeoja itu kini menampakkan semburat merah. Memang, yeoja itu-Seohyun- seringkali seperti itu saat menyinggung nama pria yang telah melewatkan waktu bersamanya selama kurang lebih empat tahun.

“Eonni….”

“Eoh?”

“Paman dan bibi…. Sungguh akan menjodohkanmu?”

“Eoh”

“Dengan siapa?”

“Kyungsoo”

“EEEHHH???!!!”

Seohyun terbelalak mendengar nama dari namja yang akan dijodohkan dengan Sooyoung, eonni kesayangannya.

“ANDWAE,EONNI!!!”

“Wae?”

“Kyungsoo itu kejam. Dia sering memjahiliku sewaktu kita SMA dulu!”

“Seonni….. Dia itu baik, Cuma sedikit jahil saja kok”

“Tapi…..”

“Percaya padaku. Aku pasti bahagia dengannya, Seonni”

Sooyoung mengelus lembut puncak kepala Seohyun sebelum akhirnya dia melangkah pergi. Dan Seohyun, yeoja itu terus memandangi punggung eonni nya itu hingga punggung itu tak lagi terlihat

“Eonni….. Semoga kau baha-”

“SEOHYUN!!! CEPAT BANTU AKU TANGANI PASIEN KORBAN KECELAKAAN INI”

Seohyun terlonjak kaget ketika sebuah suara memekakan indra pendengarnya terdengar dari arah belakangnya. Pemilik suara itu langsung memelototi Seohyun sambil mendorong ranjang beroda tersebut “Ppalli!”

“Ah, ne sunbae~~”

Yeoja itu-Seohyun- langsung berlari dan segera ikut mendorong ranjang beroda tersebut

=Way to Fate=

 

Kris masih saja mempertahankan keadaannya, mendesah kasar sembari memikirkan Sooyoung,yeoja yang memang selalu ada dalam setiap harinya. Menemaninya mengerjakan setumpuk dokumen absurd, membantunya saat menjalankan operasi dan lebih dari itu…. Sooyoung selalu bisa membuatnya bahagia karena… Cinta

Namun, takkan ada lagi ‘hal’ seperti itu. Sooyoung takkan lagi untuknya. Sooyoung takkan mungkin lagi menjadi pelengkap kepingan hatinya.

“Soo….”

Rasa penyesalan yang mendera hatinya kini terasa seperti ribuan jarum kecil, menusuk tepat di bagian hatinya.

Bodoh, karena tak berusaha memilikinya. Sooyoung menyukainya dan sebaliknya.

Lantas? Kenapa Kris tak ‘mengukuhkan’ perasaan mereka dengan sebuah hubungan?

 

#Tok

Tok

Tok

 

Terdengar suara ketuka pintu. Sontak Kris memperbaiki posisinya dan berusaha bersikap sebagaimana biasa dirinya. Dia-Kris- tak ingin siapapun tahu akan perasaannya. Tak ada satupun orang yang benar benar diinginkannya untuk berbagi rasa dengannya, selain….Choi Sooyoung…..

“masuk”

Segera si pengetuk pintu itu masuk dan melangkah dengan terbru buru menghampiri Kris. Nafasnya tersengal sengal

“Chen, waeyo?”Tanya Kris dengan dahi berkerut

Chen berhasil menormalkan kembali detak jantungnya yang sempat berpacu dengan cepat. Dia lantas menyegerakan untuk memberitahu Kris hal yang baru saja di dengarnya

“Ada pasien yang keadaannya kritis”

Mendengar hal itu, Kris dengan segera bangkit dari duduknya dan langsung menarik Chen berlari bersamanya

“K-KRIS! TAK PERLU BURU BURU!”

“Jika aku terlambat dan pasien itu meninggal, kupastikan akan mencarimu duluan karena membuatku terlambat”

Ucapan dingin dan penuh penekanan itu membuat Chen tertegun. Jika sudah begini, yang Chen tahu, dia hanya harus diam dan mengikuti kemana namja ini akan membawanya. Kris, memanglah dokter muda dengan jiwa penyelamat yang begitu besar. Terbukti, mendengar nyawa seorang pasien dalam keadaan kritis saja, Kris bisa sepanik ini. Dan Chen salut dengan hal itu.

.

.

.

“Huft~~”

Kris dan beberapa tenaga medis yang ikut membantu tadi bernafas lega. Mereka telah berhasil membuat pasien tersebut melewati masa kritisnya. Enam jam yang mereka lalui di ruang operasi ternyata tak sia sia. Dan Kris yang sepertinya paling lega.

“Tadi kau hebat,Kris”puji Chen

“Aniyo. Aku tadi sedikit kesulitan,karena-”

Kris menggantungkan kata katanya. Raut mukanya menjadi sedih

“Sooyoung tak ada?”Tanya Chen dengan hati hati

“Eoh” Jawab Kris singkat, sebelum akhirnya namja itu melangkah pergi sambil menunduk

“Tabah, sobat”Ujar Chen sambil tersenyum tipis. Mengepalkan tangannya dan mengarahkannya tepat di punggung Kris yang semakin menjauh

“Ya tuhan…. Dokter Kris sangat tampan”

Telinga Chen menangkap beberapa suara orang bercakap, pekikan juga kekehan beberapa gadis –asisten dokter- yang mengagumi ketampanan seorang Kris. Suara suara yang menurut Chen begitu mengganggu itu semakin jelas saja. Hingga….

“YAK! KEMBALI BEKERJA!!! KALIAN BERISIK SEKALI”

Setelah meneriaki mereka, Chen lantas tak lagi mendengar suara suara yang mengganggunya itu.

=Way to Fate=

 

@Seoul….

Kota indah yang kala itu diselimuti benda berwarna putih yang merupakan hasil dari serangkaian proses alamiah yang terjadi di langit. Terlihat banyak orang yang memakai baju khas musim dingin dan juga minuman hangat pada genggaman mereka.

Begitupun dengan mereka, para penghuni rumah bak istana yang dibangun di sebuah dataran yang cukup tinggi di Seoul. Rutinitas yang -mungkin- sering terjadi setiap kali musim dingin datang, mengejar seorang yeoja yang akan berlari kesana kemari mengitari pekarangan yang luas sambil memainkan benda putih yang lembut namun dingin itu

“Nona…. Kami mohon…. jangan bermain di luar~~”

Terdengar pinta dari beberapa pria dan wanita paruh abad ditambah seorang yang pakaiannya juga sama dengan wanita dan pria paruh abad tersebut. Sayang, usia wanita itu terpaut jauh dari mereka. Mereka adalah pelayan setia di rumah bak istana tersebut. Pelayan yang memang tahu benar sifat dan sikap dari yeoja yang biasa mereka panggil nona itu

“Shireo! Kalian saja yang di dalam, biarkan aku menikmati salju pertamaku!”

Yeoja bersurai hitam itu tengah asyik memainkan benda putih nan dingin itu dengan tangannya. Tak terlihat yeoja itu mengenakan pakaian musim dingin, syal ataupun sarung tangan-khas pakaian musim dingin-

Dengan tangan telanjangnya itu dia menyentuh benda putih dingin itu dan kemudian membentuknya hingga menjadi bola bola berdiameter kecil. Bola bola itu lantas dilemparkannya ke atas dan dibiarkannya mengenai puncak kepalanya yang juga polos-tak tertutupi helaian rajutan topi atau semacamnya-

“Nona…. kami mohon~~” pinta mereka sekali lagi

“Shireo shireo shireo~~~!”

Percuma, walaupun sejuta kali mereka melontarkan pinta kepada sang nona itu tetap saja tak ditampiknya. Yeoja itu seakan telah menemukan ‘dunia baru’ untuknya. Dia-yeoja itu- begitu senang hingga….

Bruk

“NOONNAA!!!”

Suara menjerit yang memekakan telinga itu terdengar begitu kencang. Suara itu bersumber dari beberapa pita suara yang sejak tadi terus memperdengarkan pinta tesebut. Nona mereka pada akhirnya mengalami hal yang selalu mereka cemaskan sejak tadi. Jatuh tergelincir

“Nona…. Gwenchana?”

Beberapa pasang mata itu menampakkan kepanikan. Sayangnya, justru kepanikan mereka itu tak sedikitpun membuat si yeoja bersurai hitam itu tersentuh. Dia justru merasa kesal dan menepuk benda putih dingin itu

“YAK! AKU BAIK BAIK SAJA, JANGAN MENCEMASKANKU ! MEMANGNYA AKU ANAK KECIL?!”

Yeoja itu mengerucutkan bibirnya. Ekspresi itu menjadi ‘peringatan’ bahwa sang nona sedang kesal.

“Nona…. Kau tidak boleh seperti ini lagi. Nanti Tuan Kyungsoo khawatir padamu”

“Oppa? Ish! Dia itu sudah tidak peduli padaku, jadi tak perlu takut dia akan khawatir”-,-

Tap

Tap

Tap

Terdengar suara langkah kaki mendekat. Beberapa pria dan wanita paruh abad disusul wanita muda itu membungkuk hormat dan langsung memberikan ‘ruang’ untuknya-si pemilik langkah kaki itu-

“Tuan Kyungsoo…. Maafkan kami karena….”

“Aniyo. Ini bukan kesalahan kalian. Memang adikku ini yang keras kepala”Ujar Kyungsoo

“bukankah begitu, adikku yang manis?”Sambungnya

“Cih!”

Yeoja pemilik surai hitam itu tetap dalam posisinya sambil mengeluarkan decihan pelan dari bibir pinknya itu. Ditatapnya namja pemilik nama Kyungsoo itu dengan kesal saat namja tersebut berjongkok, menyamakan posisi mereka.

“Pergi sana!”

Tuk

Kyungsoo, namja itu mendorong pelan dahi sang adik dengan jari telunjuknya

“Aw! Yak!”

“Kau…. Harus segera menjalani perawatan di Rumah Sakit”

“Mwo? An-”

“Aku mengatakan ini bukan untuk mendengarkan penolakan darimu, Hwang Miyoung!”

“Kau…”

“Ah, aku lupa” Ujar Kyungsoo sambil menepuk dahinya “Namja itu…. Si dokter muda idolamu itu diberi kepercayaan appa untuk menanganimu, nona keras kepala”

“Jin…jja?”

“Ne”

Yeoja bersurai hitam itu lantas bangkit dari duduknya dan langsung menarik lengan mantel yang dikenakan Kyungsoo

“Kalau begitu… Aku bersedia  menjalani perawatan!”

=Way to Fate=

@China……

Langit masih saja berwarna biru. Langit masih saja tak terlihat batasnya. Awan masih saja putih, menggantung di langit. Burung pun masih setia memperdengarkan kicauan merdunya sembari mempertontokan kehebatan terbang mereka, kesana dan kemari dengan sayap merentang.

Tak ada yang berubah, meski kini Kris…. Sendiri tanpa Sooyoung di sisinya. Namja itu kembali teringat akan Sooyoung. Baru beberapa jam terlewat setelah perpisahannya dengan Sooyoung, Kris sudah seperti namja yang seabad berteman dengan kesendirian. Namja itu memang belum menyiapkan hati dan perasaannya untuk kehilangan ‘semangat’ dalam hidupnya itu. Sooyoung, yeoja yang-memang- bukan kekasihnya. Namun bagi Kris ikatan dan status hubungan bukan hal penting. Bagi Kris perasaan dalam hati adalah hal yang paling utama.

Namun…

Tahukah Kris pentingnya status hubungan itu?

Jika saja Kris telah mengikat Sooyoung dalam ‘status hubungan’ mungkin dia takkan kehilangan….

Mungkin Sooyoung masih akan berada di sisinya

“Sooyoung…..”

#Drrrtttt

Terasa getaran handphone Kris dari saku jasnya. Segera dirogohnya saku dengan tangannya kemudian menekan tombol hijau diantara banyak tombol pada handphonennya

“Ne appa?”

“…….”

“Mwo? Aku?”

“………”

“Arraseyo”

Kris mengakhiri percakapan singkat via telpon tersebut

“Hwang… Tiffany?”

=Way to Fate=

“Seo Jo Hyun….. Kerjamu bagus”

Yeoja pemilik nama Seohyun itu bernafas lega ketika mendengar pujian singkat yang dilontarkan Hyoyeon, sunbaenya. Dia adalah senior yang terkenal cukup ‘nyentrik’ dengan cat rambutnya. Meski begitu, kemampuannya dalam bidang kedokteran hebat. Dengan prestasinya itulah dia terangkat menjadi seorang dokter. Penampilan mungkin seperti ‘nyentrik’ namun pengetahuannya setara dengan seorang dokter berpengalaman

“Gomawo,sunbae”

Seohyun lantas pergi menuju bagian teratas rumah sakit dengan menaiki deretan anak tangga satu demi satu. Melelahkan, tapi tidak untuk Seohyun. Dia memang terbiasa, mengingat fisik yeoja ini telah sering melewati rintangan serupa. Berjalan menaiki dan menuruni ribuan anak tangga bersama Luhan, kekasihnya ketika mereka berolahraga di sekitar kuil

“Aku harus segera menelpon si babo itu”-,-

Seohyun dengan jemari lentiknya menekan beberapa tombol secara bergantian hingga pada akhirnya dia pun selesai dengan kegiatannya itu dan tinggal menunggu sang kekasih menjawab telponnya

“…..”

“Oppa….. Bagaimana keadaanmu di sana? Aku merindukanmu….”

“…………”

“Yak! Kau ini… Aku tak mungkin baik baik saja disini, sementara aku sangat merindukanmu~~”

“………………”

“Ish, kau….”

“………….”

“Maksud oppa…Tiffany?”

“….”

 “Kenapa tiba tiba kau membahasnya?”

“………”

“MWO?! Oppa…. Tapi…..”

=TBC=

 

Cuap cuap bacotnya author sableng

Mian, author bawa FF gaje bin laden lagi. :-D  Nggak tau kenapa lagi pengen bikin FF yang pairingnya Kris-Fanny,padahal author sukanya Kris-Sica sama Baek-Fanny -__-#author gaje

Author berharap readers banyak yang suka, trus komentar dan nge-like FF ini. Biar semangat author bikin next chapternya.

Kalo dikit peminatnya, dengan terpaksa Tidak akan dilanjutkan

Bukannya sombong atau semacamnya. Bukan bermaksud jahat pada readers, Cuma gimana? Author harus memikirkan kelanjutannya sementara yang baca? Nantinya usaha autor ini akan terasa ‘sia sia’ saja…..

Karena itu, please jangan jadi siders dong. Hargai saya sebagai autor. Meski author tahu karya author ini tidak sebagus FF dari para author lain, tapi tetap hargain yah…..

Oh iya, untuk readers…. mohon untuk tidak melakukan bashing yah. Kalo misalnya kalian kurang sreg ama couple ini, tolong tuliskan keluhan kalian dengan bahasa yang sopan dan tidak berunsur/menjurus ke bashing. Please, kita semua disini menjaga kedamaian blog ini dengan meniadakan yang namanya BASHING!

Cerita FF ini sama seperti cerita pada umumnya. Dan tidak menutup kemungkinan terdapat kesamaan ide cerita,kata kata maupun alur. Namun itu semua adalah murni ketidak tahuan dan ketidak sengajaan saya selaku author FF ini. Namun yang perlu diingat, alur bisa saja sama namun penggambaran alur/konsep cerita yang umum itu yang menjadi pembeda. Setiap penulis memiliki gaya menulisnya sendiri lho,readers ^^

25 thoughts on “[3Shot] Way to Fate… 1

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s