[Freelance] What, Marriage? (Chapter 2)

what marriage2

Title : What, Marriage? (Chapter 2)

Author : IraWorlds

Genre : Drama, Marriage life,
Romance

Cast : Kwon Yuri | Xi Luhan

Other cast : Jessica Jung ( dan masih
banyak lagi )

Leght : Chapter

Rating : PG-15

Disclaimer : Semua cast milik tuhan
yang maha esa, Saya hanya
meminjamnya saja.

A/N : ma’af jika ada penulisan yang
salah atau dempet dan nggak mau
pisah. Terimakasih atas komentar nya kalian di chapter pertama. No Plagiat. Don’t Bash. No Sider.

Happy Enjoy!

Butik Bibi Jang, Ticon. Memang selalu ramai. Banyak pengunjung yang memesan pakaian di sini secara special.

Hari memang sudah larut. Yuri lelah seharian berfantasi dengan moncoret ide-ide di buku sketsa nya. Selain itu ia harus memotret Jessica yang menjadi model. Tak apalah menjadi fashion photographer sehari. Itu sangat menyenangkan.

Yuri masih bergelut dengan dunia nya. Dengan buku sketsa dan pensil untuk moncoret ide apa pun yang terlintas di kepalanya.

Peplum dress dengan motif abstak, rok’n blue hattie jacket, fishnet trouser socks, dan toe leather stiletto ankle boots.

Yuri sedang menggambar sketsanya.

“By the way, hasil jepretan mu itu bagus juga.”

Entah dari mana asal suara itu tiba-tiba saja terdegar di telinga Yuri. Ia mendongak dan mendapati Jessica dengan pakaian girly nya di ambang pintu.

Yuri tersipu malu atas pujian Jessica. “Gomawo,” serunya.

Yuri merenggangkan badan nya dan menutup buku sketsa nya. Beralih mengamati tripod.

“Kau lembur ya?”

“Maybe,” Yuri menganggukkan kepalanya.

“Okay, aku akan menemani mu.”

Jessica menghampiri Yuri di ruangan nya dan duduk di sofa hitam tak jauh dari Yuri.

“Ku dengar, kemarin kau menolong Xi Luhan ya?”

Yuri hanya menganggukkan kepala. Ia sedang fokus dengan tripod yang ada di ruangan nya. Sejak menjadi photographer dadakan tadi. Dirinya sangat tertarik dengan tripod ini.

Jessica menggembukkan dua pipinya. Melihat Yuri yang hanya fokus dengan benda itu. Padahal niat nya kesini untuk menggosip dengan Yuri. Atau bertanya tentang gaya pakaian yang simple tapi cute di minggu ini.

Selama di Korea Yuri rela menunda setahun kuliah nya di New York. Ya dia terpaksa atau tidak. Tapi jelas-jelas ini permintaan dari Bibi Jang, Ibu dan Ayahnya. Yang arti nya ia sangat di restui untuk menjadi desainer yang bermutu oleh keluarga nya.

“Aku sudah selesai! Oh ya ampun. Mianhae Jessica-ah, aku sudah mendiamkan mu tadi.” Yuri berucap kepada Jessica yang menekuk wajah nya.

“Jessica aku pulang duluan, sampai bertemu besok.” Yuri berdiri dan melambaikan tangan nya, ke arah Jessica yang masih duduk.

Yuri keluar dari ruangan nya. Ruangan khusus untuk dirinya di Butik milik Bibi Jang.

Sebelum ia membuka pintu untuk keluar. Bibi Jang atau yang bernama lengkap Jang Han Ah memanggil nya.

Tentu saja, Yuri menghampiri “Ada apa Bi?” Yuri bertanya dan memeriksa atau mengingat-ingat sesuatu, tidak ada barang yang tertinggal di sini.

“Ini. Hadiah dari Bibi,” Yuri menggambil benda yang berbungkus warna merah ini. Ia tanpak ragu untuk membukanya.

“Bukalah,”

Perlahan Yuri mulai menyobek bungkusan persegi. Di lihat nya Dress mini berwarna merah dan tidak ada lengan nya. Satu lagi jangan di lupakan dress ini sangat pendek. Mungkin hingga lutut Yuri.

Yuri terbelalak. “Bi, ini tidak lucu. Mana mungkin aku memakai pakaian ini.” Ucap Yuri penuh dengan penekanan di setiap kata-kata nya. Jangan salah kan Yuri. Dirinya memang tidak suka pakaian yang sangat. Sangat feminim ini.

“Ayolah. Yuri. Ini buatan Bibi, khusus untuk mu. Pakailah besok malam ketika orang tua mu datang.”

“Mwo? Ibu dan Ayah datang ke Korea?”

Bibi Jang tersenyum dan mengangguk.

Oh tidak! Ini membuat Yuri yang bingung menjadi kebingungan.

“Mereka ingin bertemu dengan orang penting di Korea. Dan sekalian orang tua mu ingin bertemu dengan mu. Jadi mereka berpesan agar kau harus terlihat anggun besok malam.”

Gadis itu memutar bola mata nya. Ini gila! Dirinya harus menggunakan baju yang super duper seksi itu. “Baiklah jika ingin bertemu. Tapi aku tak ingin menggunakan baju ini.”

Bibi Jang terlihat kecewa. Ia tadi nya berfikir bahwa Yuri akan tersenyum senang. Tapi yang ada Yuri malah tidak menginginkan Dress yang sudah ia persiapkan sejak dua minggu yang lalu.

Yuri tidak enak jika melihat Bibi Jang lesu seperti itu. “Baiklah besok aku akan menggunakan nya. Aku pamit pulang dulu.”

Yuri dapat melihat seulas senyuman dari bibir Bibi nya itu.

Ia segera membuka pintu kaca Butik ini. Hawa di luar langsung menbuat ia meresletingkan jaket nya. Yuri berjalan sangat gelisah. Matanya mulai mengantuk, tapi ia harus mencapai halte. Berjalan dari sini ke halte, memang cukup jauh.

Waktu pertama kali Yuri menginjakkan kaki nya di Korea, gadis itu sempat di tawari fasilitas mobil untuk dirinya dari Bibi Jang, tentunya. Tapi gadis itu malah menolak nya.

Yuri menoleh mendengar suara klakson dari arah belakang.

“Hei! masuklah!” Pinta Luhan.

Di luar dugaan Luhan. Yuri menolak ajakan dari Luhan. Tentu saja Luhan tak terima. Bayangkan dirinya adalah seorang presdir muda dan di tolak terang-terangan oleh Yuri. Terlalu lebay memang, padahal Yuri tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Luhan gengsi.

Luhan memutar bola matanya. Mobil baru nya berjalan pelan men-sejajar kan langkah Yuri yang terus saja berjalan, tanpa melihat Luhan.

“Ayolah masuk! Anggap saja ini permintaan terimakasih ku untuk yang kemarin.”

“Tidak perlu,”

“Aish, gadis ini benar-benar.”

Luhan pun turun dari mobil nya dan menarik paksa Yuri untuk masuk ke dalam mobilnya.

“Ya! Apa-apa an kau ini!”

“Jika ini bukan derajat aku tak sudi membujukmu seperti ini.” Batin Luhan.

Begini lah Luhan. Ia harus menjaga image nya di depan orang mana pun saja. Apalagi jika mengingat kejadian di mana ia pukuli seperti itu. Dan yang lebih memalukan nya wanita yang menolong dirinya waktu itu.

Luhan mengemudikan open car bersama dengan Yuri yang duduk di samping nya. Karena merasa kedinginan, Yuri meminta agar Xi Luhan menutup kap mobilnya. Alih-alih menuruti permintaan Yuri tersebut,

Luhan justru berdalih “untuk apa membeli mobil convertible jika kap nya harus di tutup juga.”

Yuri yang kecewa atas jawaban Luhan, ia memasang tampang kesal.

Luhan menanyakan sesuatu kepada Yuri. “Ku lihat dari kejadian itu. Kau sangat ahli dalam hajar menghajar,”

Yuri yang mendengar itu merasa risih dengan kata ‘hajar meng-hajar’ Yuri berdeham. Luhan menoleh kearah nya lagi.

“Dulu aku sempat mempelajari gerakan bela diri di Amerika.”

Luhan kembali fokus pada jalanan ramai di kota ini. “Kau tinggal di Amerika, dulu?”

“Ya,”

Luhan meraih ponsel nya yang berdering. Di layar jelas tertulis ‘Kakek’

“Hallo?”

“Kau ada dimana?”

“Di jalan,”

“Setelah ini kau harus ke rumah kakek!”

“Untuk apa?”

Tut.. tut.. tut.

Luhan melemparkan begitu saja ponsel nya. Mungkin yang ada ponsel itu sudah terjatuh di bawah.

Yuri acuh. Untuk apa dirinya bertanya. Lagi pula Xi Luhan bukan siapa-siapanya.

“Stop di sini!”

Luhan merem mobil nya mendadak, membuat suara decitan dari luar.

Yuri dengan tiba-tiba menyuruh Luhan menghentikan mobil nya. Seharus nya gadis itu bilang dari jauh tadi. Membuat Luhan tambah kesal saja.

Yuri membuka pintu mobil nya ia langsung pergi begitu saja.

“Dasar tidak sopan!” Decak Luhan. Ia menyesal mengajak Yuri tadi. Tapi ya sudah lah. Sekarang dirinya harus pergi ke rumah Kakek nya.

Luhan melajukan mobil mewah nan mahal ini. Ia menyalakan musik di dalam mobil nya. Tubuhnya pun mengikuti alunan lagu yang menggema di dalam mobil nya.

Mobil Luhan sudah tiba di depan rumah Kakek nya, terlihat dua orang lelaki secara bersamaan membuka pagar rumah yang besar dan tinggi ini. Luhan segera memarkirkan mobil nya.

Rumah Kakek nya sangat besar sebelas, dua belas sama dengan rumah nya. Ini sudah menjadi pemandangan biasa di keluarga Luhan.

Luhan sudah duduk di sofa dan di hadapan nya tentu saja ada lelaki tua yang tanpak sehat itu. Baju Kakek nya sangat rapi. Beliau sudah pensiun tapi setiap bulan uang selalu mengalir di dompet pria yang berusia kepala tujuh itu.

Itu terjadi karena beliau adalah pemilik perusahaan di Cina, yang sekarang sudah di urus oleh rekan nya. Tetapi perusahaan itu tetap menjadi milik nya.

Luhan menyandarkan tubuh nya di sofa berwarna emas yang ia duduki.

“Jadi, ada apa Kek?”

Kakek Luhan menyesap kopi yang ada di hadapan nya, lalu menaruh nya kembali ke meja. Luhan hanya memperhatikan saja.

“Batalkan semua meeting mu besok malam,”

“Hah?”

Luhan memgambil air mineral yang di berikan pelayan atau asisten di rumah ini. Pelayan itu sudah paham bahwa Luhan akan minum air mineral saja. Ya, karena Luhan pernah bilang bahwa hanya air mineral sajalah yang steril.

Berlebihan memang. Tapi itulah Xi Luhan. Presdir muda, kaya, dan tampan.

“Kakek, akan bertemu dengan sahabat orang tua mu besok malam, kami akan menjodohkan mu dengan Putri nya besok malam.” Ucap Kakek Luhan dengan santai nya.

Karena perasaan kaget, Luhan hampir menyemburkan air mineral yang baru saja di minum nya. Sambil menatap wajah Kakek nya tak percaya.

“Tapi! Kakek, -”

“Semua nya tidak bisa di bantah!”

Tubuh Luhan saat itu sudah tak berdaya. Ia merasa roh nya sudah terbang ke sana ke mari. Tulang-tulang nya terasa sudah tak ada di dalam tubuh nya lagi. Ia sedih dan apa yang ia lakukan sekarang.

Semua permintaan Kakek memang tak bisa di bantah sedikit pun. Bagaimana ini?

Yang lebih membingungan bagi Luhan lagi adalah. Kenapa Kakek menjodohkan dirinya. Bukan kah Kakek nya tak suka jika Luhan dekat dengan perempuan lain. Apalagi berhubungan dengan perempuan lain.

“Bukan kah Kakek tak menyukai aku jika dekat dengan Yeoja di luar sana. Tapi kenapa Kakek menjodohkan ku.”

“Astaga. Sejak kapan kau menjadi bodoh Xi Luhan,”

Apa Bodoh?

“Kakek hanya melarang mu dekat dengan gadis yang bernama Dara dan satu lagi… mmm Yoon-”

“Yoona,” potong Luhan.

Kakek Luhan menggangguk “dan mana mungkin Kakek tega membuat mu menjadi homoseksual.” Kakek Luhan menggelengkan kepalanya, Luhan ternyata salah mentafsirkan maksud Kakek nya.

Luhan tersenyum licik. “Ini hanya perjodohan, aku akan mencari cara untuk membatalkan nya.” Batin Luhan.

Tak lama Luhan sudah keluar dari rumah Kakeknya dan ia mengemudikan dengan kecepatan penuh mobilnya. Menuju rumah nya.

-O-

Yuri memakan ramen di apartemen nya yang berada di lantai enam. Ia sudah menghabiskan tiga mangkuk ramen sekaligus, yang aneh nya tanpa air minum segelas pun.

Pikiran Yuri menjadi tidak tenang setelah menerima dress merah dari Bibi nya tadi.

Ia bingung dan sekaligus tak nyaman jika menggunakan dress ini.

Itu menggelikan baginya, dan ini memang aneh.

Dia seorang Disainer meskipun ia masih pemula.

Dia selalu menciptakan tren-tren bentuk baju yang bagus dan langka.

Dia selalu membuat gambar-gambar baju di buku sketsa nya dengan modis.

Tapi kenapa Yuri tak nyaman jika menggunakan baju super minim dan di tambah lagi seksi seperti itu?

Simple saja, dirinya tak terbiasa.

Waktu di Amerika, tepatnya di New York. Yuri selalu menggunakan celana panjang. Atau celana 3/4 wanita dengan T-shirt. Jika waktu santai.

Terkadang, Yuri juga menggunakan baju yang longgar. Maksudnya tidak kentat.

Menurutnya baju yang longgar itu sangat nyaman di kenakan kemana saja. Dan bisa bebas bergerak kesana kemari.

Yuri mengambil mangkuk ramen ke-empat di meja makan. Seraya makan ia hanya melamun menatap kosong di hadapan nya. Tetapi ia terus menyuap ramen hangat itu.

Apartemen tempat ia tinggal saat ini. Cukup besar dan tentunya elit.

Waktu menunjukkan pukul satu malam, dentingan jam menemani dirinya makan. Yuri sepertinya begadang malam ini. Entah kenapa sesuatu memaksanya untuk tidak menutup matanya dan terlelap malam ini.

Besok orang tua nya datang ke Korea. Yang artinya dirinya harus merubah penampilan nya lagi.

“Astaga, haruskah aku memakai rok? Dan baju seperti wanita lagi?” Yuri mengeluh, ia harus menjadi gadis girly lagi nantinya.

Ibunya tidak menyukai, sikap Yuri seperti lelaki itu. Apa lagi Ayah nya, bahkan ketika Ayah nya memperkenalkan Yuri dengan teman nya di perusahaan, di buat malu oleh Yuri.

Yuri hanya menggunakan baju biasa saja.

Dan itu membuat derajat Ayah Yuri turun saat itu.

Bagaimana tidak? Mereka orang kaya, tetapi Putri nya berpakaian layak nya orang biasa. Bahkan terkesan sangat lelaki itu.

Pikiran Yuri dengan Ayah nya sangat bertolak belakang.

Yuri hanya menginginkan kesedarhanaan, tetapi Ayahnya menginginkan kemewahan.

Sewaktu SMA, Yuri pernah memotong rambut nya hingga pendek seperti laki-laki.

Ibu Yuri sempat marah dan mengurung Yuri di kamar seminggu. Tanpa, Sekolah dan menikmati udara dingin di luar.

Hal itu membuat Yuri kapok. Dan sampai sekarang Yuri berjanji tidak akan memotong rambut nya sampai menjadi pendek seperti dulu.

Yuri menopang wajah nya dengan kedua tangan di meja tempat ia makan ramen tadi. “Apa yang terjadi besok?”

TBC

Pendek ya? Emang hehe..

Jangan lupa komentar nya ya?

 

39 thoughts on “[Freelance] What, Marriage? (Chapter 2)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s