[Freelance] Love Is Not For My Husband (Chapter 2)

Love Is Not For My Husband 2

Title : Love Is Not For My Husband

Author : Selvy

Length : Chapter

Rating : PG 17

Genre : Romance, Sad, Family

Main Cast : Taeyeon, Baekhyun

Other Cast : Lihat sendiri yah J

Author Note : Oke sesuai dengan target aku akan mendahulukan ff ini. Karena aku ingin hidup tenang (?) maksudnya gak banyak utang jadi aku selesaiin satu- satu deh. Maka kemungkinan ffku yang ini chapternya pendek . . . . .

Happy reading . . . . .

. . . . . . . . . . . . .

Namja paruh baya yang sedang duduk bersama namja yang baru akan memasuki usia dewasa itu hanya terdiam. Suasana menjadi sunyi dan canggung,  “Mengapa appa melakukan ini?” akhirnya namja yang tidak lain adalah baekhyun membuka suara dengan kesan sangat dingin.

Tak ada jawaban dari namja dihadapannya, baekhyun semakin kesal. Rasanya amarah dalam dirinya sudah memuncak. Sakit hati? Mungkin tapi yang paling penting saat ini adalah appanya telah sangat keterlaluan menikahi yeoja yang masih di bawah umur.

“Appa bukan anak kecil lagi, mengapa appa bertingkah kekanakan seperti ini? Aku tak pernah melarang semua keinginan appa walaupun itu menikah sekalipun. Tapi mengapa appa dengan teganya menikah dengan seorang gadis belia hah?” tak dapat menahan emosinya baekhyun mulai berdiri dan mengacak rambutnya kasar. Ia benar- benar tak habis fikir appanya bisa menikahi seorang yang malah lebih cocok menjadi anaknya.

Tuan Byun menghembuskan nafas kasar lalu berdiri menyusul baekhyun yang membuat namja itu sedikit mendongak, “Kau tak mengerti baekhyun, appa juga tak ingin menikahi gadis seusia dia. Tapi appa harus bagaimana lagi? Appa sudah terlanjur mencintainya.”

Baekhyun tersenyum sinis, lalu kemudian kembali berucap tak kalah sinis dengan senyumnya. “Hah cinta? Appa benar- benar bukan manusia”

Prak . . .

Tangan Tuan Byun bergetar, tamparan untuk pertama kalinya dalam hidup baekhyun ia berikan. “Jangan berbicara seperti itu lagi di depan appa atau . . .”

“Atau apa?” baekhyun meluruskan kepalanya yang tadi sedikit ke samping karena hantaman keras diwajahnya. Matanya menyorotkan raut kekecewaan dan amarah, melihat appanya yang menggantungkan kalimatnya baekhyun kembali mengeluarkan suara. “Setidaknya sekarang aku sudah tahu sikap asli appa” ia lalu pergi dengan hentakan kaki kasar.

Bruakkk . . .

Entah apa yang baekhyun lakukan sehingga menimbulkan suara yang sangat keras dari luar sana. Tuan Byun hanya menggepal tangannya kuat, sehingga muncul garis- garis kecil berwarna hijau di sekitar gepalan tangan itu.

Disisi lain taeyeon sedang bersandar di pintu kamarnya. Ia merasakan hina pada dirinya sendiri setelah mendengar percakapan tadi. Tubuhnya mulai merosot seperti air mata yang dengan halusnya meluncur di wajah putihnya. Perasaannya sedih tidak karuan, taeyeon marah tapi dia harus marah pada siapa? Ia tak bisa mengungkapkan apapun, karena pada siapa ia harus mengeluarkan isi hatinya? Bahkan eommanya saja yang seharusnya menjadi tumpuan hidupnya dengan teganya menikahkan dirinya dengan seorang ahjusshi yang sama sekali tak dikenalnya. Ia menggenggam tangannya erat, ia tak bisa mengelakkan air matanya. Ia tak bisa untuk tidak menangis sejadi- jadinya.

‘Selamat tinggal senyumku’

. . . . . . . . . . . . . .

Dengan mata sembab taeyeon duduk memeluk bantal di atas tempat tidur mewah yang mungkin baru pertama kali ia tempati. Tak ada rasa riang dalam dirinya, dan mungkin akan selamanya seperti itu. Hidup bersama seorang yang tak dicintainya? Sungguh benar- benar suatu drama tragis dalam hidup taeyeon.

Bayangan kisah masa lalunya menggelantung dilangit- langit kamar itu, ingatannya kembali mengingat ke suatu masa, masa dimana ia bisa mengkhayal tentang masa depannya. Masa dimana ia bebas menentukan masa depannya. Tapi apa? Itu hanya sebuah khayalan seorang gadis kecil sepuluh tahun yang lalu. Dan sekarang kenyataannya apa? Ia harus menjalani hidup dengan pria yang mungkin tak ada seorang pun yeoja seumur dirinya yang mempunyai type ideal seperti itu.

Taeyeon tak mengharapkan mendapatkan namja yang tampan ataupun kaya. Yang ia harapkan hanya menikah tanpa paksaan seperti saat ini. Namun apa daya? Ia tetaplah seorang yeoja lemah yang hanya terus mengikuti titah ibunya.

Ia kembali terisak, wajahnya perlahan tenggelam di bantal yang sudah mulai basah itu. Sebuah suara pintu yang terbuka membuatnya tersentak. Dengan segera ia menghapus sisa air matanya, walaupun mungkin semua orang yang melihatnya saat ini tahu bahwa ia habis menangis terlihat jelas di hidung dan mata miliknya yang masih memerah.

Namja berbadan kekar itu memasuki kamar yang membuat taeyeon bergeser karena ketakutan. Ia masih sangat kecil untuk melayani namja itu, bahkan berpacaran saja ia belum pernah. Rasanya jantungnya berdetak bahkan sepuluh kali lebih cepat. Senyuman namja itu bahkan membuatnya berkeringat dingin, untuk saat ini namja itu sangat menakutkan dari seluruh film horror di dunia sekali pun.

“Hiks . . . hiks . . .  hiks . . . .” tak bisa tertahankan lagi taeyeon mulai terisak dalam tangis. Ia tahu ini benar- benar tidak sopan tapi ia tak bisa menahannya.

Namja itu perlahan sadar akan kelakuan taeyeon, ia berhenti melangkah kemudian tersenyum tulus. “Tenanglah aku tak akan menyentuhmu. Aku akan menunggu sampai kau benar- benar siap” ia menghembus pelan lalu beranjak meninggalkan taeyeon. Sebelum benar- benar merapatkan pintu ia memperhatikan wajah istirnya untuk beberapa detik dengan pandangan bersalah.

Dalam hati taeyeon sangat lega, tapi ia masih tak bisa tenang. Bagaiman jika suatu saat nanti namja itu melakukan sesuatu padanya? “Hiks . . .” nafas taeyeon tesengal- sengal karena menangis namun perlahan ia mulai tenang dan tebawa ke alam mimpi. Alam yang sangat ditunggunya untuk terbebas dari seluruh risau dalam fikirannya.

. . . . . . . . . . . . . .

Taeyeon membungkuk hormat kepada Tuan Byun yang berada di dalam mobil. Namja itu membalasnya dan kemudian memacu mobilnya meninggalkan taeyeon di sekolah barunya. Yah taeyeon dipindahkan ke sekolah baekhyun karena lebih dekat dibandingkan sekolah taeyeon yang dulu. Tuan Byun juga tak ingin memutuskan cita- cita taeyeon maka ia tetap menyekolahkan taeyeon. Tapi ada yang tak disadari namja itu, karena dengan dia menikahi taeyeon sama saja ia menutup celah untuk taeyeon menggapai cita- citanya.

Perlahan kaki taeyeon mulai mengalun dengan kalem, mata para namja mulai terarah padanya. Tak heran dengan wajah cantik yang taeyeon miliki maka dengan sangat muda ia menarik

perhatian para namja. Namun yeoja yang ditatap itu tak menaruh perhatian sedikitpun pada sekitarnya. Ia hanya memandang kosong lorong- lorong sekolah yang ia lewati.

Begitu banyak siswa yang berpapasan dengannya, dan begitu pula banyaknya siswa yang jatuh hati pada yeoja itu. Tapi lagi- lagi hidupnya bukanlah disini, hidupnya sudah hancur. Yang mungkin kedepannya hanya ia akan baktikan kepada orang yang bahkan baru dikenalnya.

Matanya perlahan mulai tertarik pada sesorang. Seseorang yang berpapasan dengannya namun sama sekali tak menganggapnya ada. Yah itu adalah anak tirinya yang mungkin malah seumuran dengannya. Jujur saja hati taeyeon teriris, ia paham betul bahwa baekhyun sudah memandang hina dirinya, dirinya yang mungkin dianggap perempuan matre dan tidak baik karena menikah dengan ahjusshi kaya.

. . . . . . . . . . . . .

Duduk merenung bersama rumput di belakang sekolah mungkin pilihan utama bagi yeoja yang bernasib sama seperti dirinya. Mengeluarkan segala perasaan hanya pada alam sekitar, kata orang jika memendam perasaan sendiri itu sangat menyiksa dan sekarang taeyeon sendirilah yang membuktikannya.

Tes. Setiap menit bahkan detik air matanya selalu menetes, andai saja air mata itu punya batas, mungkin air mata taeyeon sudah kehabisan stok. Yang jelas semua orang akan melakukan hal yang sama dengannya jika saja orang itu berada di posisi yeoja malang itu.

Sebuah tangan melingkar dilehernya, ia tak berniat untuk berbalik karena sudah tahu siapa orang itu. Ia mengarahkan bola matanya ke atas menahan tangisnya, tak ingin jika saja sahabatnya itu khawatir akan kehidupannya yang ia jalani. “Bagaimana kau ada disini seo?” tanya taeyeon akhirnya membuka pembicaraan.

Seohyun menggeleng pelan, “Kumohon jangan paksa dirimu untuk kuat di hadapanku taeng” ucapnya sendu. Sebagai seorang sahabat yang mengetahui bagaimana kehidupan pribadi taeyeon seohyun tentu sangat paham akan perasaan sahabatnya itu.

Taeyeon tersenyum kecut, ia tahu bahwa tak akan ada yang bisa ia sembunyikan dari seohyun. Dengan lembut ia menggenggam tangan seohyun melepaskannya dengan sangat pelan dari lehernya dan kemudian berbalik. “Aku tak apa sungguh” ucapnya tersenyum manis, tapi lagi- lagi matanya yang sembab lah yang berbicara.

Seohyun berhambur ke dalam dekapan taeyeon, ia tak kunjung bisa Menahan kesedihannya. Butir- butir air matanya pun tumpah, “Jangan seperti ini, berbagilah padaku sobat” ucapnya parau.

“Hiks . . . hiks . . . “Taeyeon terpancing, sehingga ia tak bisa lagi bersandiwara. Seohyun memang sahabat terbaiknya, sebagaimanapun ia mencoba menutupi kesedihannya pasti sahabatnya itu akan dengan mudah mengetahuinya.

“Tenang aku akan tetap ada untukmu” seohyun melepas pelukan mereka lalu menatap wajah taeyeon lekat-lekat. “Aku akan bersekolah disini bersamamu” tersentak dengan perkataan seo taeyeon terbelalak lebar. Namun jauh dari hatinya yang paling dalam tentu dipenuhi rasa haru, ia memang memiliki hanya seorang sahabat. Tapi seandainya ia disuruh untuk memilih ratusan atau bahkan ribuan orang di dunia ini ia yakin pilihannya akan selalu jatuh pada sahabatnya yang hanya seorang namun dengan cinta melebihi seribu orang sekalipun.

“Gomawo” Kembali taeyeon menghapus jarak antara dirinya dan seohyun. Ia menyadari dibalik semua kesulitan hidup yang ia jalani setidaknya ia masih mempunyai seseorang yang terus mendukungnya. Entah bagaimanapun perjanan hidupnya kedepan ia akan terus berharap takdir masih memberinya kesempatan untuk mencicipi hidup yang bahagia, walaupun itu tak akan mungkin terjadi mengingat dengan siapa ia telah dijodohkan.

. . . . . . . . . . . . . . . .

Entah apapun yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya, seorang anak tetap lah seorang anak. Seperti kata kebanyakan orang tak ada yang namanya mantan orang tua.

Ada seorang pepatah yang mengatakan ‘cinta orang tua sepanjang masa sedangkan cinta anak sepanjang galah’mungkin banyak yang percaya akan kata- kata itu, tapi jika sudah mengetahui bagaiamana perjalanan hidup taeyeon mungkin kalian akan sangat menyayangkan terbentuknya sebuah kata mutiara seperti di atas.

Sejak kecil, entah bagaimanapun ibunya memperlakukannya, entah bagaimanapun ibunya memarahi atau bahkan memukulnya, bahkan dihatinya tak ada setitikpun goresan kebencian yang ia persembahkan untuk ibunya tercinta. Seberapa banyakpun air mata yang ia keluarkan karena perlakuan ibunya tapi kebahagiannya bahkan seratus kali lebih banyak hanya karena melihat senyum ibunya, walaupun tak ada yang mengetahui bagaimana sekaratnya hatinya karena itu.

Kehangatan dari sang bunda bahkan bisa dihitung oleh jarinya sendiri seberapa banyak ia mendapatkannya. Ketika diusia balita pun ia tak yakin jika ibunya sendiri yang mengurusnya. Tak tahu apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh anak sepolos dia yang telah menyakiti hati ibunya sehingga ia diperlakukan bahkan melebihi anak tiri.

Taeyeon POV

Aku bahkan tak tahu apakah ada rasa sayang dihati eomma untukku. Tapi satu yang harus eomma tahu aku bahkan menyayangi eomma lebih dari segalanya. Meskipun pada akhirnya aku harus hidup seperti di dalam neraka yang penting eomma bahagia aku akan bersedia.

Eomma tahu betapa terpukulnya aku saat mengetahui bahwa eomma menjodohkanku? Aku sakit eomma sangat sakit. Dari kecil aku tak pernah mendapatkan kehangatan dari eomma, tapi walaupun begitu aku tetap bahagia karena paling tidak eomma tetap mau tinggal bersamaku meskipun eomma selalu besikap tak seperti yang ku inginkan.

Semenjak itu aku tumbuh menjadi anak yang terlatih untuk sabar. Tapi aku tetaplah manusia biasa yang haus akan kasih sayang, cita- citaku selalu kugantungkan jika besar nanti aku ingin menikah dengan orang yang kucintai dan memberiku kehangatan yang belum pernah kurasakan. Tapi sampai akhirnya aku tahu eomma menjodohkanku dengan orang yang bahkan tidak aku kenal.

Aku sangat kecewa, perasaanku tak menginginkan itu eomma, sungguh aku tersiksa. Aku sakit eomma, sakit dalam jiwaku yang seandainya dapat berpindah ke tubuhku mungkin aku sudah tak dapat bergerak menahan seberapa besar rasa sakit itu.

Tapi eomma tahu, hari itu hanya dengan kata ‘Gomawo’ yang untuk pertama kali eomma ucapkan membuatku sangat bahagia, bahkan kesedihanku tak ada bandingannya sama sekali saat itu. Aku bahagia jika eomma bahagia, setidaknya itu yang kutahu. Aku mencintaimu eomma.

Walaupun eomma telah melarangku untuk berkunjung ke rumah kita aku akan tetap datang. Aku percaya pasti eomma juga merindukanku seperti aku merindukan eomma.

Aku tersenyum sumringah saat memasuki kawasan rumahku. Memang rumahku tak ada bandingannya dengan rumah yang dimiliki ahjusshi itu tapi tetap saja disini aku menemukan kehangatan. Bagaimana aku bisa melihat ibu- ibu yang sedang membeli sayur dan semacamnya namun tetap dengan mulut yang terus berbicara. Bahkan aku terkekah kadang- kadang kalau memperhatikan mereka dulu sebelum aku pergi ke sekolah.

Tapi entah kenapa ada yang sedikit berbeda dengan mereka. Mereka terlihat menatapku lalu kembali berbisik kepada yang lainnya. Tentu saja sikap itu membuatku risih, tapi aku tetap tak ingin menganggap penting kejadian itu, bagiku yang paling penting saat ini adalah bertemu dengan eomma.

Lengkungan dibibirku mulai kutunjukkan saat aku berdiri tepat di depan pintu gerbang berwarna silver dihadapanku yang tak lain adalah rumahku sendiri. “Eomma aku pulang” sedikit menggoyang- goyangkan gerbang itu aku berharap eomma akan keluar untukku.

Beberapa menit aku melakukan itu secara berulang tapi tetap tak ada tanda- tanda bahwa eomma akan keluar dan menyambut kedatanganku. Bahkan suara balasan dari panggilanku pun sama sekali tak kudengar.

Kuperhatikan gerbang itu, dan kulihat ada sesuatu yang ganjal yang bisa menjadi jawaban mengapa eomma tak menjawab panggilanku. “Kemana eomma?” gumamku pelan. Kuraih rantai yang terlingkar di gerbang itu, dan sangat jelas disitu juga ada gembok yang menandakan bahwa eomma tak ada di rumah.

‘Mungkin eomma pergi ke pasar atau tidak mempunyai urusan penting lainnya’ aku berusaha berfikir positif walau fikiranku sedikit tak membenarkan pendapatku barusan. Karena eomma tak pernah sampai menggembok pagar rumah kalau hanya pergi sebentar, kecuali . . .

“Malang sekali anak itu, ia telah dijual oleh eommanya dan sekarang eommanya pergi bersenang- senang diluar negeri” samar- samar dapat kudengar bisikan ahjumma- ahjumma tadi. telingaku masih cukup baik untuk mengantar ucapan tadi agar di cerna oleh otakku.

Tunggu apa maksudnya menjual? Dan pergi ke luar negeri? Tidak eommaku bukanlah orang yang sejahat itu. Walaupun eomma selalu menganaktirikan aku tapi satu yang tetap kuyakini eomma pasti mempunyai rasa sayang untukku.

Perlahan kulangkan kakiku yang tulang didalamnya kurasa sudah melunak. Keringat dingin bercucuran membasahi tubuh dan wajahku yang memang sudah basah akan air mata. Aku tak ingin mempercayai omongan ahjummha tadi dan aku tak ingin berprasangka buruk terhadap eommaku. Tapi mengapa otakku membenarkannya? Sungguh aku baru menyadari dan me-reka ulang kejadian- kejadian semenjak aku dikenalkan kepada ahjusshi itu.

Dan otakku menemukan kebenaran yang sangat kubenci, kebenaran bahwa memang sejak awal aku disuruh menikah karena uang, lalu apakah itu berarti aku dijual? Dan sekarang eomma meninggalkanku? Oh tidak, aku tak percaya. Pasti itu bohongkan? Siapapun jawab aku itu bohong kan?

Taeyeon POV End

Author POV

Taeyeon berjalan dengan tertatih meninggalkan rumahnya, bisik- bisik kasihan dari warga menghiasi perjanannya. Apakah para ahjummha itu kasihan padanya atau apa? Apakah mereka tidak sadar bahwa dengan mereka berkata seperti itu sama saja menambah luka dihati yeoja malang itu.

Taeyeon menangis dan terus menangis. Air mata gadis belia itu mulai meremang menggenangi sepasang matanya yang memang mungkin semenjak ia lahir tak pernah kering paling tidak sehari saja. Matanya menampakkan ekspresi kuyu dan kosong.

Tak peduli bagaimana ia selama ini bersabar dan terus bersabar berharap jika suatu hari nanti ada keajaiban, keajaiban yang bisa membuatnya merasakan kasih sayang dan cinta dari seorang ibu yang tentu sangat ia rindukan.

Namun tak ada lagi harapan itu, harapannya telah terhapus dengan permanen jika mengingat semua yang telah terjadi. Sia- sia lah semua pengorbanannya, namun semua tentu tahu bahwa tak ada kata menyesal bagi taeyeon yang penting itu demi kebahagiannya eommanya.

. . . . . . . . . . . . . . .

Baekhyun sedang asyik mengotak- atik channel TV dihadapannya hanya untuk sekedar menghilangkan rasa penatnya sepulang dari sekolah. Setidaknya untuk sekarang ia bisa cukup leluasa di rumahnya sebelum appanya pulang dari bekerja yang membuat suasana menjadi canggung. Yup sudah menjadi rahasia umum jika baekhyun dan Tuan Byun memiliki hubungan yang bahkan jauh dari kata harmonis.

‘Kemana yah gadis itu?’ ia menggelengkan keras kapalanya ketika fikiran itu tiba- tiba mencuri kesempatan untuk masuk ke dalam otaknya. Walaupun begitu dari hatinya yang paling dalam ia juga mengkhawatirkan taeyeon. Ia khawatir jika sikapnya yang dingin seperti tadi di sekolah menyakiti eomma tiri sekaligus wanita yang ia cintai. Tapi ia harus bagaimana? Ia juga serba salah dalam masalah ini?

Ia mengacak kasar rambutnya setelah kemudian suara pintu berhasil mengalihkan perhatiannya hanya menuju ke kayu berbentuk persegi panjang itu. Hatinya remuk dan beterbangan entah kemana setelah melihat wajah taeyeon yang penuh kesedihan. Perih, sangat perih sampai ia pergi seperti mengacuhkan taeyeon. ‘Apakah dia seperti itu karena aku?’ batin baekhyun.

Disisi lain taeyeon yang tadinya sempat mengangkat kepalanya karena melihat kehadiran baekhyun kembali menunduk seraya terisak. Hatinya yang sudah semenjak tadi tersiksa dan tercambuk di dalam sana semakin parah karena sikap lelaki yang kembali mengacuhkannya. Entah kenapa hatinya begitu sakit ia juga tak tahu, yang jelas ia tak bisa lagi rasanya menahan rasa sakit itu. Andai saja ia bukanlah seorang yeoja belia yang taat beribadah dan terbiasa untuk bersabar mungkin ia sudah menghabiskan hidupnya saat itu juga.

Mendengar suara isakan baekhyun menghentikan langkahnya, ia merasa bersalah pada taeyeon. Tapi rasa kesal dan benci memaksanya untuk hanya berdiri di balik dinding yang menjadi pemisah antara ruang yang ia dan taeyeon tempati. Ia kesal karena yeoja yang ia cintai menikah dengan appanya sendiri, dan ia marah karena yeoja itu malah menikahi appanya hanya karena uang, yah setidaknya itu yang tahu. Dan kesalah pahaman itulah yang menjadi sebab mengapa sekarang ia berdiri dibalik dinding putih itu.

Dari luar rumah seorang yeoja juga sedang menangis perih melihat sahabatnya yang terluka. Seohyun nama yeoja itu dapat melihat jelas apa yang terjadi karena memang pintu dirumah itu sama sekali tak ditutup oleh taeyeon.

Perlahan ia melangkah dan langsung saja memeluk taeyeon dari belakang dengan kedua tangannya. Taeyeon yang tentu peka akan kehadiran seohyun langsung memegang erat kedua tangan sahabatnya sehingga lebih menghapus jarak antara mereka. Tak heran jika seohyun mengetahui tempat tinggal taeyeon, karena yeoja imut itu telah memberitahunya sebelum ke rumah eommanya tadi.

“Kau kenapa lagi taeng?” tanya seohyun lembut, suaranya sedikit berat karena tangisnya yang juga pecah karena melihat kesedihan taeyeon.

Taeyeon menunduk sedih masih tak membalikkan badannya, “E . . omma hiks hiks . . “ ia kembali terisak sehingga sulit melanjutkan kalimatnya. “Eomma pergi seo, eomma meninggalkanku” taeyeon kembali terisak parah, mengucapkan kalimat tadi kembali membuat hatinya sangat tersayat.

Seohyun dengan cepat melepas pelukannya kasar sehingga taeyeon sedikit tersentak. Ditatapnya sahabatnya yang terlihat gemetar dengan tangan yang menggepal itu. Yah untuk pertama kali seohyun memperlihatkan amarahnya yang sebenarnya pada taeyeon.

“Setelah semua yang terjadi orang itu meninggalkanmu?” tanya seohyun tak percaya, dari nada suaranya sangat berkesan sinis .”Setelah dia tak pernah memberikan kasih sayang kepada anaknya, setelah dia tak pernah memberi kebebasan kepada putrinya dan setelah dia menjual putrinya sendiri?” amarah seohyun meledak, ia benar- benar tak habis fikir mengapa masih ada manusia yang sangat jahat seperti eomma taeyeon.

Taeyeon hanya bisa menangis perih, toh dia terlalu lemah untuk marah. Ia terlalu sulit untuk membantah eommanya. “Sudahlah seo . . “ucapnya serasa tersakiti. Seohyun mengalihkan pandangan tajamnya ke arah taeyeon.

“Ini karena kau juga terlalu menurutinya taeng, dan sekarang apa yang kau dapat hah?” seohyun mengeluarkan seluruh isi hatinya selama ini. Ia memang sering sekali kesal akan sikap taeyeon yang menurutnya terlalu lemah.

Karena tak ingin mencaci sahabatnya, seohyun segera beranjak meninggalkan taeyeon untuk sekedar melerai amarahnya. “Itu karena aku manyayangi eommaka seo, tak perduli apa yang telah ia lakukan padaku. Itu karena aku ingin eommaku bahagia tak pedli betapa menderitanya aku. Itu karena aku tahu betapa menderitanya eommaku melahirkan dan membesarkan aku. Dan sekarang salahkah sikapku ini seo? Hiks hiks “ terlinga seohyun berdesis bersamaan dengan langkahnya yang terhenti.

Ia memutar- mutar bola matanya berusaha menahan air mukanya agar tak jatuh lagi. Ia berbalik dan mendapati taeyeon sedang menangis di lantai dengan lutut yang ditekuk. Seohyun kembali dan langsung memeluk taeyeon .”Mian taeng aku telah menyakitimu”

Taeyeon menggeleng namun tak menjawab, tentu suaranya sangat sukar untuk keluar saat ini. “Aku janji aku akan selalu menjadi sahabat yang selalu ada untukmu. “Setidaknya taeyeon masih merasa beruntung karena memiliki sahabat seperti seohyun yang selalu ada untuknya.

Disisi lain seorang namja yang memang semenjak tadi tak pernah beranjak dari dinding putih itu tengah menggenggam keras tangannya. Emosi menguasai tubuhnya namun hatinya dikuasai oleh sakit. Menyesal? Tentu saja, menyesal karena sempat menyalahkan taeyeon yang pada dasarnya menjadi korban.

Tak terasa air matanya mulai membasahi matanya yang penuh akan kebencian dan wajahnya yang menunjukkan ekspersi geram. Sakin kuatnya ia menggenggam erat gepalan tangannya tubuhnya bahkan bergetar hebat.

. . . . . . . . . . . . .

Dengan perasaan kacau seperti sekarang ini setan- setan pasti akan sangat mudah untuk mempengaruhi taeyeon untuk berbuat yang tidak- tidak. Tapi tidak dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Bahkan ia tengah bersimpuh di gereja yang tidak jauh dari rumahnya.

Tangannya menangkup lembut, curhatan tentu akan ia bagi bersama tuhannya. Seperti biasa tak akan ada yang bisa taeyeon lakukan selain hanya menangis dan menangis.

Tak ia sadari seseorang datang dan menghampirinya. Namja itu mengambil posisi tapat di samping taeyeon. Dipandanginya wajah cantik taeyeon yang sangat malang bisa dilihat hanya dari raut wajah dan air mata yang meluncur di wajah mulusnya. ‘Persis saat aku pertama kali melihatmu’ batin baekhyun tersenyum sinis.

Taeyeon semakin terisak yang menanpakkan kejelasan suaranya yang membuat bagian dada baekhyun seolah tercekik. Tak kuasa menahan gejolak dihatinya untuk terus menjaga dan melindungi gadis yang dicintainya dengan gerakan refleks baekhyun memeluknya.

Taeyeon yang tersentak kaget segera berusaha melepas pelukan baekhyun saat melihat wajahnya. “Mian karena telah menyalahkanmu, tapi sekarang aku sudah mengerti taeyeon. Mulai saat ini kau tak akan sendiri lagi” ucap baekhyun semakin mengeratkan pelukannya dengan air mata yang semakin deras mengalir.

Taeyeon menghentikan pergerakannya, ia kembali menangis dengan keras meluapkan segala kerisauan dan sakit hatinya. Ia perlahan membalas pelukan baekhyun tak kalah eratnya, tentu hatinya tak menampik bahwa saat ini ia membutuhkan seseorang untuk mendampinginya, seorang namja yang dapat memberinya kehangatan seperti sekarang ini.

“Apa yang telah aku lakukan? Hiks . . apa dosa yang telah kuperbuat?” isak tangis taeyeon semakin lama semakin memecah bersamaan dengan baekhyun yang juga dengan susah payah menyembunyikan desahan tangisnya.

. . . . . . . . . . . . .

Mereka telah sampai di depan rumah mewah keluarga Byun setelah perjanan panjang semenjak dari gereja sampai saat ini. Taeyeon telah banyak bercerita tentang keluarganya yang membuat baekhyun hanya menatap sendu yeoja yang menurutnya sangat kuat itu.

“Terima kasih atas segalanya” ucap taeyeon tersenyum lembut yang mampu menggetarkan hati baekhyun.

Tak tanggung- tanggung baekhyun sangat bahagia sampai salah tingkah sendiri. hum, mengapa disaat seperti ini namja itu bisa- bisanya bertingkah seperti itu? Taeyeon hanya berjalan mendahului baekhyun sampai tangan mungilnya menyentuh gagang pintu rumah dan segera menariknya agar terbuka dan membiarkannya masuk.

Matanya membulat lebar saat melihat siapa yang berada dihadapannya setelah ia membuka pintu. Bahkan baekhyun sendiri kaget karena appanya yang dengan tatapan siap- siap meledak menatap taeyeon dan baekhyun yang memang tepat berada di belakang taeyeon.

Ia segera menggenggam erat tangan taeyeon, “Ahhh sakit ahjusshi “ ucap taeyeon meringis, pergelangan tangannya pun terlihat memerah karena itu. “Aaa “ Ia tertarik kasar yang membuat tubuh mungilnya hanya ikut di belakang namja paruh bayah yang sedang dibakar emosi itu.

“Appa lepaskan taeyeon “Ucap baekhyun karena tak tahan melihat gadis yang ia sayangi diperlakukan kasar oleh appanya sendiri.

Tuan Byun sedikit mengengok memperlihatkan ujung matanya yang memancarkan aura sangat mendebarkan hati siapapun yang melihatnya, tapi tentu tidak untuk baekhyun saat ini. “Jangan pernah ikut campur ke dalam urusan appa” ucapnya statistik namun kasar lalu menarik taeyeon kembali. Yeoja itu hanya bisa meringis kesakitan.

Baekhyun marah, ia menggepal tanngannya. “AAAARRRGG . . “Bruak. Penuh akan darah, itulah keadaan jari- jari baekhyun setelah menghantam keras tembok di dekatnya. ‘Sudah cukup appa menyiksa gadis yang kucintai. Sudah cukup’

. . . . . . . . . . . . . .

“Ahhhh “taeyeon memegangi pergelangan tangannya karena ‘kekerasan’ yang telah dilakukan suaminya padanya. Ia benar- benar tak habis fikir, tuan Byun yang awalnya ia kira pria yang baik bisa memperlakukan dia seperti itu. Bahkan saat ini ia telah dihempaskan dengan kasar ke atas kasur.

“Jangan pernah berfikir kau bisa lari dariku Kim Taeyeon. Aku telah membayar mahal untukmu dan telah berbuat baik padamu jadi jangan paksa aku untuk bersikap seperti sekarang ini. Kau benar- benar tak tahu malu, mulai sekarang kau tak boleh bertemu namja selain aku bahkan kau tak boleh bertemu dengan baekhyun sekalipun. Jadi kau tak akan pernah aku biarkan keluar dari kamar ini.”

Bruakk . .

Hantaman pintu keras mengantarkan tangis taeyeon. Sekarang lengkaplah sudah penderitaannya, Tuan Byun yang ia sangka sangat baik bahkan sekarang lebih jahat dari perlakuan eommanya.

Tuk . . tuk . .

Tangis taeyeon sedikit terlerai dengan segera ia menghapus air matanya setelah mendengar suara ketukan kecil dari jendela kamarnya. Dengan sedikit hati- hati ia mulai melangkah. Dan ia sedikit terbelalak kaget ketika melihat baekhyun di luar jendela seperti memberinya isyarat untuk segera membuka kaca jendela kamar taeyeon.

Tanpa membutuhkan waktu yang lebih lama taeyeon membuka kaca itu, baehyun tentu dengan sigap memegang wajah taeyeon dengan kedua tangannya. “Kau tak apa kan?” tanya baekhyun sangat amat khawatir.

Taeyeon memaksakan senyumnya, “Aku tak apa” ucapnya memengang kedua tangan baekhyun agar melepas genggaman baekhyun dari wajah mulusnya yang sudah basah dan sedikit lengket.

‘Lengket?’ taeyeon segera membalik tangan baekhyun setelah merasakan wajahnya yang memang sedikit lengket setelah digenggam baekhyun. “Mwo??? Ini kenapa?” tanyanya khawatir setelah melihat tangan baekhyun yang bercucuran darah.

Baehyun sedikit tersenyum melihat ekspresi khawatir yang ditunjukkan taeyeon. Tak ada salahnya kan jika ia masih menaruh harapan pada eomma tirinya itu? Namun setelah mengingat tujuan utamanya ia menemui taeyeon ia segera membuang jauh- jauh fikiran yang belum penting untuk saat ini. Raut wajahnya berubah serius, “Ayo kita pergi, kita tinggalkan rumah ini”

*To Be Continued . . .

84 thoughts on “[Freelance] Love Is Not For My Husband (Chapter 2)

  1. aaah kasian taeng untung ada baekhyun disitu, baekhyun taengnya di jaga terus ya, appanya baekhyun tega benerrr,, daebak ff nya,lanjut ya thor, oya kalo bisa chapternya di panjangin lagi ya heheheh😀

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s