Right Beside Me — 5th Part : Misunderstanding

20131127-220920.jpg

RIGHT BESIDE ME

Written by Vi || Starring SNSD Tiffany | EXO-K Chanyeol || Rated for Teen || Romance , Friendship, Life || Disclaimer : I just borrow the cast || Note : inspired by other ff, manga , anime, japanese drama, my imagination. Sorry for bad fanfic and story. Poster by g.lin at cafeposterart.wordpress.com.

Prolog | 1st Part | 2nd Part | 3rd part | 4th Part |

*****

Tiffany sudah tersenyum semanis mungkin pada Chanyeol. Ia mengikuti apa yang dikatakan oleh ibunya –yang siapa tahu mungkin manjur untuk membuat Chanyeol jatuh cinta padanya.

“Jelas-jelas ini adalah saran yang sangat aneh. Mana mungkin Park Chanyeol yang jelas-jelas sudah mencintai seorang Lee Sunkyu bisa tiba-tiba beralih padaku hanya karena senyuman tidak jelasku ini,” pikir Tiffany sambil terus memikirkan perbuatannya terhadap Chanyeol barusan. Ia menganggap dirinya yang berbuat seperti itu pada Chanyeol sangatlah konyol karena ia berpikir senyumannya tidak manis. Tidak ada yang pernah memuji senyumannya. Bahkan dirinya tidak menganggap senyumannya manis.

“Memalukan sekali. Aku menyesal mengikuti saran ibu. Jelas saja kalau ayah langsung jatuh cinta pada ibu, senyuman ibu kan manis,” gumam Tiffany tidak jelas. Ia hanya bisa mendesah kasar dan melanjutkan lari paginya yang sebenarnya hanya sebuah akting itu. Ia memaksakan dirinya untuk lari pagi di depan rumah agar setidaknya kalau ia kebetulan bertemu Chanyeol ia bisa langsung menunjukkan senyuman manisnya terhadap lelaki itu , ia tak sabar untuk melihat reaksinya , namun saat melihat reaksi simple itu , ia menyesal.

 *****

Chanyeol sudah berdiri di hadapan rumah Sunny. Ia menghembuskan nafasnya berkali-kali , berharap Sunny mau memaafkannya , setidaknya gadis beride cemerlang itu bisa membantunya meraih cintanya — ia sudah tak sabar menyatakan perasaannya pada Tiffany karena melihat senyuman gadis itu tadi , hanya saja ia terlalu malu.

“Hahh, tolong maafkan akulah Sunny,” bisiknya sebelum menekan bel.

TING TONG

Akhirnya dengan guguppun ia menekan bel tersebut. Sunny tak kunjung keluar. Chanyeol hanya bisa pasrah apabila Sunny tak mau memaafkannya. Ia tahu jelas bahwa yang bersalah adalah dirinya kemarin, bukan Sunny, ia menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan gadis itu. Namun, ia sendiri punya alasan dibalik hal itu, tentu saja alasannya tak lain dan tak bukan adalah karena malu dan gugup.

“Lee Sunkyu !” seru Chanyeol keras.

“Maafkan aku atas kejadian kemarin ! Aku tahu bahwa akulah yang salah, aku tak bercanda ! Keluarlah !”

Chanyeol yang sudah meneriakkan isi hatinya pun menunggu Sunny diluar dengan kecewa. “Aku akan terus menunggumu sampai kau mau memaafkanku.” Itulah keputusan Chanyeol. Ia bersandar pada tembok yang membatasi rumah Sunny dengan jalanan.

“Chanyeol ?” Suara yang memiliki kesan cute itu. Pasti dia.

Chanyeol tersenyum bahagia dan berseru, “Sunny ! Kau memaafkanku ?”

Tanpa disadarinya ia berdiri berhadapan dengan Sunny dan kini ia memeluk gadis itu erat-erat seolah tak ingin kehilangannya. “Tolong maafkan aku atas kejadian kemarin, aku sungguh-sungguh meminta maaf,” bisik Chanyeol disela-sela pelukannya dengan Sunny. Sementara itu, gadis manis itu berusaha melepaskan pelukan Chanyeol. Ia mendorong lelaki itu cukup keras agar ia bisa melepaskan dirinya.

“S-Sunny ?”

Chanyeol heran dengan sikap Sunny. Biasanya Sunny tak canggung dengan dirinya, ada apa dengannya sekarang ?

“Chanyeol , kau tak takut ditolak olehnya setelah ia melihat kejadian ini ?” tanya Sunny perlahan pada Chanyeol sambil menunjuk kearah kanannya dengan jari telunjuknya. Chanyeol mengikuti arah jari telunjuk Sunny dan menemukan Tiffany tengah berdiri diam menatap kejadian di depannya.

Sunny yang sudah merasakan bahwa Tiffany memiliki perasaan lebih pada Chanyeol namun tak ingin mengakuinya pun tak sanggup memandangi wajah Tiffany. Meski  ia belum bertanya langsung pada Tiffany tentang perasaannya pada Chanyeol, ia sudah yakin , ia bisa menilainya melalui gerak-gerik atau sorot mata Tiffany pada Chanyeol.

“T-Tiffany ?”

Tiffany yang semula memandang keduanya dengan tatapan terkejut –speechless– nya pun disadarkan oleh suara berat Chanyeol. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan berkata, “w-wah , maaf aku menganggu momen kalian berdua disini. Aku tak sengaja lewat disini , aku akan segera pergi kok. Lanjutkan saja , tidak apa-apa.”

Tiffany berbalik arah dan berlari cepat meninggalkan keduanya. Chanyeol hanya bisa membulatkan kedua matanya , sampai saat ia disadarkan oleh Sunny. “Bukankah kau seharusnya mengejar Tiffany ? Kau tak mau kehilangannya kan ?”

Chanyeol buru-buru mengangguk dan berlari mengejar Tiffany dengan kencang. Ia perlu menjelaskan semuanya pada Tiffany , terlebih setelah melihat tatapan terkejutnya barusan.

Chanyeol yang masih sempat melihat Tiffany berlari kearah kanan jalan pun berbelok dan melihat sosok Tiffany yang berhenti sambil bersandar pada tembok pembatas antara rumah dan jalanan. Ia menghampiri gadis berwajah cantik itu.

“Tiffany !” sahutnya. Tiffany tersentak kaget melihat Chanyeol yang menemukannya disana.

“B-bagaimana kau bisa disini ?” tanya Tiffany. Chanyeol terkekeh dan berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah. “Aku beruntung karena belum kehilangan jejakmu,” katanya sambil tersenyum dan menegakkan tubuhnya yang barusan agak condong ke depan sambil memegang kedua pahanya.

“Dengar, aku dan Sunny tak ada hubungan apapun. Kami hanya sahabat dan ia adalah sahabat yang penting bagiku karena suatu alasan–” Sebelum Chanyeol menyelesaikan penjelasannya , Tiffany menyela.

“Untuk apa kau menjelaskannya padaku ? Kita kan .. Bukan .. Sepasang kekasih .. Dan , aku juga tahu maksud pelukan itu kok,” selanya.

Chanyeol terdiam, ada benarnya juga perkataan Tiffany. “Benar juga, kami bukanlah sepasang kekasih kan ? Dan , kalau aku berkata tentang hal tadi secara tidak jelas begini ia pasti bisa kebingungan dan menganggapku aneh , mungkin karena menganggapku aneh ia bisa menolakku nantinya saat aku mengungkapkan perasaanku ya.”

Gawat ! Apa yang barusan kukatakan ? Bukan sepasang kekasih ? Ya kami bukan sepasang kekasih, tetapi mungkin Chanyeol tak beranggapan begitu, ia mungkin hanya ingin menutup-nutupi perasaannya pada Sunny kan ? Ia bukannya tak mau kehilanganku kan ? Oh , konyolnya diriku bisa berkata sebegitu cerobohnya ! Ia mungkin tengah menganggapku konyol dan aneh sekarang !”

Keduanya berdebat mengenai ucapan mereka barusan di dalam hati mereka masing-masing. Sampai akhirnya mereka sadar bahwa mereka masih berdua disana.

“M-maaf , tolong jangan pedulikan kataku yang barusan, k-kurasa aku hanya terkejut mengenai hubunganmu dan Sunny. Hmm, sudah jam segini , aku balik dulu, aku tak mau membuat ayah beserta ibuku khawatir,” pamit Tiffany sambil berlari memasuki rumahnya.

Chanyeol ingin menahan gadis itu. Namun, ia tak memiliki keberanian. Dari cara berpamitnya gadis itu, Chanyeol sudah yakin bahwa gadis itu berusaha menjauh dari dirinya. “Apa ia ketakutan denganku karena keanehanku tiba-tiba menjelaskan hal tadi padanya ?” batin Chanyeol. Ia menyesal sudah mengikuti apa yang disuruh oleh Sunny. Ia jadi mempermalukan dirinya di hadapan gadis itu.

“Tapi, karena aku barusan berbaikan dengan Sunny, tak baik kalau aku menuduh segalanya pada Sunny. Ia penting bagiku karena .. Ia bisa memahami bagaimana rasa cintaku pada Tiffany daripada orang lain. Ia bisa membantuku mendekati Tiffany dan ia satu-satunya sahabatku yang bisa diandalkan disaat ini,” gumam Chanyeol. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke tempat Sunny dan meminta pendapatnya mengenai kejadian ini.

*****

Tiffany POV

Aku berjalan memasuki rumah dengan perlahan. Rasa malu masih meliputi diriku. Rasanya aku tak sanggup kalau disuruh berhadapan dengan Chanyeol lagi.

“Bagaimana putriku ? Apa kau bertemu dengannya dan memberikan senyuman terbaikmu ?” sapa ibu sambil tersenyum bahagia. Aku mengulum seulas senyuman namun setelah melepas sepatu ketsku , aku berjalan memasuki kamarku dengan tenang lalu berkata, “maaf, bisakah ibu membiarkanku sendirian untuk sekarang ini ? Aku butuh waktu sendiri.”

Ibu  terdiam sejenak kemudian mengangguk, iapun membiarkan diriku memasuki kamar dengan tenang.

“Dengar, aku dan Sunny tak ada hubungan apapun. Kami hanya sahabat dan ia adalah sahabat yang penting bagiku karena suatu alasan–“

Penting baginya karena suatu alasan ? Huff, bukankah alasannya tak lain dan tak bukan karena perasaan lebihnya pada gadis pendek itu ?

“Tunggu , kenapa aku seolah menjahati Sunny begini ? Maksudku bukan begini, aku tak ingin menjahatinya, aku hanya .. Cemburu .. Ya , cemburu. Chanyeol memeluknya sepenuh hati begitu, apalagi alasannya kalau bukan soal cinta ? Berbeda kalau soal ia menggendongku ala bridal-style di pertemuan kembali kita di kolam renang kala itu. Itukan karena itu tugasnya sebagai penjaga kolam renang,” gumamku sambil berjalan menuju ranjangku kemudian berbaring diatasnya.

“Bisakah aku berada di posisi Sunny ? Bisakah aku suatu hari dipeluk olehnya seperti ia memeluk Sunny sepenuh hati begitu ?” kataku lirih. Kuambil gulingku dan memeluknya. Aku mulai terisak disaat aku berpikir bahwa aku pasti tidak bisa menggantikan posisi Sunny dihatinya. Ia sudah mengenal Sunny dengan baik. Sedangkan aku ? Ia tidak begitu mengenalku.

“Tetapi aku belum menyerah soal Chanyeol. Aku sudah memberi waktu untuk diriku selama seminggu untuk berusaha mendapatkan hati Chanyeol , andai aku berhasil mungkin kisah ini akan kutulis di dalam novelku tapi kalau gagal, mungkin aku akan menyerah dan mencari bahan cerita lainnya. Untuk apa kenangan pahit kutulis dalam novelku ? Bukankah itu bisa membuatku sedih dengan sendirinya saat membaca ulang bukuku ?”

*****

author POV

Chanyeol sudah sampai di depan rumah Sunny. Nampaknya gadis itu sudah masuk kedalam rumahnya. Chanyeol pun menekan bel rumahnya.

TING TONG

Sunny dengan sigap sudah membukakan pintu untuknya. “Kau sudah memaafkanku kan ? Maukah kau mendengar apa yang ingin kukatakan sekarang ini ?” tanya Chanyeol ragu. Ia khawatir kalau ternyata Sunny belum memaafkannya dengan sungguh-sungguh tadi itu.

“Bolehlah. Aku bukan tipe orang pendendam,” kata Sunny sambil membukakan pagar rumahnya untuk dimasuki Chanyeol.

Chanyeol tersenyum sekilas kemudian berjalan masuk dengan lesu. Sunny yakin ada yang terjadi diantara keduanya tadi. Sunny bisa membaca perasaan Chanyeol hanya dari raut wajah lelaki itu.

“Apa yang terjadi ?” tanya Sunny saat Chanyeol telah menempati sofa empuk di rumahnya dan telah menyesap teh hangat manis buatannya.

“Kepercayaan diriku padanya semakin memudar. Aku makin malu untuk mengungkapkan perasaanku setelah semua hal ini terjadi. Aku takut ditolak oleh gadis yang kusukai. Aku tak sanggup,” jelas Chanyeol terhadap perasaannya.

Sunny terdiam sejenak. Ia mengerti , pasti tadi Chanyeol melakukan hal / mengatakan sesuatu yang memalukan.

“Memang apa yang kaukatakan ?” tanya Sunny heran dengan dahi berkerut.

“Aku berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tetapi ia menyelaku dan mengatakan bahwa ia mengerti apa yang terjadi juga ia merasa bahwa jika aku menjelaskan hal tadi padanya kami akan tampak seperti kekasih,” jelas Chanyeol panjang lebar dan cepat nyaris tanpa titik dan koma.

Sunny makin mengerti. Pasti Tiffany tadi salah paham, itu dugaannya. Ia tahu bahwa Tiffany bukan orang yang terlalu percaya diri. Ia tahu siapa itu Tiffany Hwang.

“Pasti ia salah mengartikan pelukan tadi,” gumam Sunny pelan. Chanyeol mengerutkan keningnya dan bertanya, “apa ?”

“Tidak. Sudahlah untuk apa kau malu sih ? Kalau misalnya Tiffany suka padamu pasti ia menerimamu apa adanya,” kata Sunny.

“Apa kau mengerti perasaan orang yang takut ditolak ? Aku takut , takut sakit hati saat ditolak dan takut kalau aku tak bisa berpindah hati setelah ditolak. Aku sudah mencintainya sejak dulu dan ini kesempatan emas karena aku bisa bertemu kembali dengannya, tapi aku ingin tahu apa yang dirasakannya terlebih dulu sebelum mengungkapkan perasaanku padanya,” ungkap Chanyeol gugup dan malu. Jujur, itulah apa yang di pikirkannya selama ini. Itulah hal yang ditakutkannya.

“Haishh, bukankah lebih baik apabila kau terkejut dengan jawabannya ?” tanya Sunny.

“Aku kan sudah bilang , aku takut.”

“Tapi .. Kurasa Tiffany juga menyukaimu. Dari gerak-geriknya beserta tatapannya padamu aku bisa memastikannya,” kata Sunny sambil melipat kedua tangannya.

“Kau belum mengkonfirmasinya kan ? Mana bisa dipercaya kalau soal itu. Ia malu-malu padaku bukan berarti ia suka padaku. Ia malu-malu pada semua laki-laki saat sekolah tahu !”

Sunny mengusap dagunya. Benar juga, Tiffany nyaris menunjukkan sikap yang sama pada Chanyeol dengan semua lelaki. Ia memang canggung bersama lelaki. Tapi tatapan Tiffany lah yang membuatnya yakin.

“Tatapannya padamu berbeda dengan saat ia memandang lelaki lain.”

“Kau tak bisa diandalkan sekarang, sudahlah, aku ingin pulang untuk memikirkan cara selanjutnya mendekatinya. Rupanya kau sendiri tak bisa membuatku merasa tenang tentang perasaanku pada Tiffany,” kata Chanyeol kesal. Ia berdiri dan berjalan keluar dari pintu rumah Sunny.

BLAM

Pintu tertutup. Sunny hanya bisa menggelengkan kepalanya bingung melihat Chanyeol.

“Huhh , susah sekali diberitahu. Aku kan sudah punya kekasih , apa ia masih tak bisa percaya padaku ?” omel Sunny di dalam hatinya.

Sunny terdiam beberapa saat seolah memikirkan berbagai cara untuk membantu sahabatnya. Ia tak mau repot tentang urusan mereka berdua , tapi mau apa lagi ? Chanyeol sama sekali polos soal cinta. Bahkan ia tak bisa membedakan tatapan Tiffany pada lelaki lain dan dirinya. Kesannya lebih lembut kalau pada Chanyeol.

“Apa boleh buat,” gumam Sunny. Ia berdiri dari duduknya kemudian melihat cuaca diluar. Saat ia menyaksikan cuaca yang cerah di luar, iapun mengambil topinya yang berwarna putih dan bergegas berjalan keluar dari rumahnya.

Tiffany masih berbaring di kamarnya, memikirkan alur cerita lain apabila ia tak berhasil soal Chanyeol sampai akhirnya suara bel beserta suara ibunya setelah itu mengusiknya.

“Temanmu, Tiffany !” sahut ibunya. Tiffany membayangkan siapa yang akan datang. Iapun keluar dari kamar dan melihat seorang gadis pendek yang manis berambut pirang pendek dan mengenakan pakaian berwarna putih beserta celana jeans pendek. Sambil membawa topi putih yang sepertinya ia kenakan tadi.

“Hai. Apa aku menganggumu ?” tanyanya. Jelas itu Sunny.

“T-tidak, silahkan.”

Tiffany membawa Sunny masuk ke ruang tamu. Ibunya juga membawakan sedikit kue beserta teh hangat untuknya.

“Silahkan,” kata ibunya sambil tersenyum setelah meletakkan makanan dan minuman dari nampan ke meja ruang tamu.

“Ada apa , Sunny ?” tanya Tiffany berusaha bersikap ramah. Jujur , ia masih kesal pada Sunny.

“Meluruskan kesalah-pahaman,” kata Sunny datar namun ia mengulum seulas senyuman.

“Kesalah-pahaman ? Maksudnya ?” tanya Tiffany.

“Soal Chanyeol.”

Oh, Tiffany sukses merasa lemas. Ia tak ingin membahas masalah Chanyeol bersama Sunny. Semakin ia membahas masalah Chanyeol dengan Sunny, ia semakin sulit menghapus ingatannya soal momen Sunny dan Chanyeol tadi.

“Aku tak apa-apa kok soal tadi. Bukankah itu tak ada urusannya denganku ? Kalau soal menutupi perasaan tak usah ditutupi lagi , aku juga sudah tahu,” kata Tiffany sambil tersenyum paksa.

“Justru itulah kesalah-pahamannya.”

Tiffany mengerutkan dahinya bingung. Ia tak tahu dimana kesalah-pahamannya.

“Kami tak memiliki hubungan apapun selain bersahabat,” kata Sunny.

“Tapi .. Asal kau tahu saja .. Chanyeol menyebutmu sahabat yang penting baginya karena suatu alasan. Aku yakin kalau alasan itu adalah karena ia menyukaimu.”

“Hahh .. Tiffany , kini aku ingin bertanya padamu.” Suara Sunny terdengar serius. Tiffany yang mengikuti suasanapun ikut-ikutan serius.

“Kau suka pada Chanyeol kah ?” tanya Sunny. Tiffany dapat merasakan wajahnya memerah malu. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Ia terlalu malu, bahkan untuk mengatakan hal ini pada Sunny saja sulit.

Sunny menghela nafas pelan kemudian bertanya lagi, “kau suka pada Chanyeol kah ?”

“A-aku–”

“Tidak ada berbohong, jujur saja,” tegas Sunny sambil menatap Tiffany serius. Ia kewalahan diikut campurkan dengan urusan kedua temannya ini, padahal ia ingin menikmati kehidupan percintaannya sendiri daripada mengurus orang lain.

“Ya.” Tiffany akhirnya mengatakannya dengan mantap dan tegas. Ia tak bisa mengelak dari Sunny yang begitu serius. Ia akhirnya juga serius walau harus kesulitan melawan rasa malunya.

“Nah, benarkan ? Aku pandai melihat perasaan orang, kenapa sih ia tak percaya saja ?” gumam Sunny.

“Apa ?” tanya Tiffany saat mendengar gumaman tidak jelas Sunny tadi. Sunny menggeleng. “Bukan apa-apa.”

“Kalau begitu, besok kau datanglah ke taman yang berada sekitar 100 meter dari rumahmu , kau hanya perlu belok kanan dari rumahmu dan lurus terus sepanjang 100 meter,” kata Sunny. Tiffany kebingungan.

“Kenapa ?” Sunny tersenyum dan berkata, “lihat saja besok.”

“Aku permisi dulu kalau begitu, itu saja yang ingin kubicarakan,” kata Sunny sambil berdiri dan tersenyum.

Ia berjalan keluar dari rumah Tiffany dan berpamitan dengan gadis berambut panjang cantik itu.

Setelah di depan rumah gadis itu, ia membuka ponselnya dan menghubungi seseorang.

DRRTT

“Huhh , tidak diangkat, aku yakin ia masih marah soal tadi. Sudahlah , aku yakin amarahnya tak bertahan lama, aku akan mencoba menghubunginya sampai di rumah nanti,” kata Sunny sambil berjalan pergi. Ia tersenyum lega karena akhirnya ia bisa menemukan jalan keluar dari kisah percintaan antara sahabatnya ini.

    To be continued ..

Mian gaje, ffnya konfliknya ya cuma perasaan karakter disini. Ini juga bukan ff panjang ._. , pls komen ya !

23 thoughts on “Right Beside Me — 5th Part : Misunderstanding

  1. Pingback: Right Beside Me — 6th Part : Confession Time | EXOShiDae Fanfiction

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s