[Freelance] What, Marriage? (Chapter 1)

what marriage1

Title : What, Marriage? [Chapter 1]

Author : IraWorlds

Length : Chapter

Rating : PG-15

Genre : Drama, Marriage life, Romance

Main Cast : Xi Luhan | Kwon Yuri

Other Cast : Jessica Jung (Dan masih banyak lagi)

Disclaimer : Cerita ini tidak ada unsur plagiat! Dan semua storyline milik saya. Semua pemain milik Tuhan Yang Maha Esa.

Author Note : ma’af jika ada penulisan yang salah atau dempet dan nggak mau pisah. Saya hanyalah manusia biasa. HARAP TINGGALKAN KOMENTAR ATAU LIKE! Maaf ya Untuk Typo nya. Saya hanyalah manusia biasa..

Happy Enjoy

Seorang gadis masuk ke sebuah cafè dengan interior medern di kota Seoul, Korea Selatan. Gadis itu mencari tempat duduk di dekat kaca besar bening yang tembus dengan pemandangan jalanan licin Kota Seoul.

Gadis itu mengenakan Fitted purple button-up shirt dan tank top coklat dipermanis dengan black studded belt yang mempertegas pinggang gadis itu dan memberi siluet peplum yang menurut gadis itu sedikit seksi!

Meskipun agak tomboy tapi gadis itu feminim, ya itu juga terkadang.

Kwon Yuri, ya nama gadis berambut panjang hitam itu.

Ia memanggil seorang pelayan untuk memesan sesuatu. Tak lama pelayan itu datang dan memberilan buku menu kepada Yuri. Tanpa basa-basi Yuri langsung memesannya.

“Black coffee with brown sugar, latte with skim milk, and this one is hot cappuccino.”

Yuri segera menutup buku menu dan memberikan nya kepada pelayan yang sedang mencatat pesanan nya. Yuri tak peduli ia memesan minuman hangat sebanyak itu. Lagi pula ia juga akan membayar nya.

Pelayan itu sedikit mengangkat alis kanan nya. ‘Wow’ satu kata di benak pelayan itu.

Memang bukan rahasia pribadi Yuri seperti ini. Ia melakukan hal itu untuk mengusir segala lelah yang telah ia lalui di Korea selama satu bulan ini.

Benar, Yuri baru saja tinggal menetap di Korea Selatan, ia di undang magang di tempat butik yang besar dan terkenal baik di Seoul maupun Cheongdamdong dan kota lain di Korea Selatan, meskipun butik itu tak meliki cabang tapi nama butik itu sudah sangat terkenal di Korea Selatan.

Selain di Seoul dan Cheongdamdong. Nama butik itu juga sudah sampai di Negara Jepang, Cina, dan terakhir butik itu sudah menembus pasar Eropa.

Maka dari itu bibi Yuri mengundang Yuri untuk menjadi seorang desainer di butik milik nya. Ya meskipun kemampuan Yuri bisa di katakan masih biasa-biasa saja. Tapi itu bisa mengasah kemampuan Yuri bukan.

Tak lama berselang, Seorang pelayan berbeda mengantarkan pesanan Yuri yang sudah ia tunggu lima menit yang lalu. Pelayan itu menaruhkan satu persatu minuman hangat di meja.

“Selamat menikmati nona.” Ujar pelayan berpakaian serba brown itu. Yuri menyunggingkan senyuman nya.

“Ini akan menyenangkan.” Yuri menyesap latte with skim milk yang ia pesan tadi. Rasanya memang enak. Memang tidak salah jika Cafè ini selalu kehabisan pesanan. Yuri akan menobat kan Cafè ini adalah Cafè favorite nya.

“Oh my God. Yuri!” Yuri tersedak minuman hangat yang ia minum ketika seseorang dengan suara cempreng nya berteriak di hadapan nya dan langsung mengambil posisi duduk di hadapan Yuri.

“Oh ayolah, jangan mengagetkan aku lagi. Kau bisa membuat ku mati tersedak tahu!”

“Well, kau begitu rakus..”

“Apa?”

Hei! Siapa yang tidak marah jika di bilang rakus? Padahal yang rakus itu bukan nya hewan?

“Ya. Lihatlah kau memesan minuman tiga gelas sekaligus. Kau benar-benar aneh Yuri.”

“Terserah kau saja Jessica.”

Jessica tersenyum puas. Gadis yang katanya berwajah cukup langka itu mengambil satu cangkir hot cappuccino yang masih utuh di meja tempat mereka duduk, dan menyesapnya.

Yuri mengkerutkan dahi nya heran karena tiba-tiba Jessica nyosor dan mengambil minuman yang bukan hak nya.

“Hei! Apa yang kau lakukan dengan minuman ku hah?”

Jessica menaruh minuman itu di meja. Membuat suara dentingan di meja itu. “Ini bonus

untuk aku karena aku ingin mengatakan sesuatu.”

Cukup menyebalkan memang. “Apa?” Tanya Yuri yang mulai bersandar di kursi.

“Bibi Jang, menyuruhku agar nanti sore kau ke Butik untuk membuat desain flat shoes.”

Yuri menaikkan kedua alis nya. “Hanya itu?”

“Ya.”

Yuri sudah merasa cukup penat di Cafè ini. Err bukan cafè nya. Melainkan baju yang ia kenakan. Ia sangat tak nyaman dengan pakaian yang super feminim ini. Berbalik dengan Jessica yang memakai rok selutut dengan kemeja yang dimasukkan kedalam. Meskipun simple itu sangat perfect.

“Kenapa?” Kata Jessica ketika ia memperhatikan gerak-gerik Yuri yang sangat tidak nyaman itu.

“Aku tidak menyukai pakaian ini.”

“Hahahaha..”

Jessica tertawa mendengar kenyataan yang terlontar begitu saja dari mulut Yuri. Benar-benar lucu dan sangat polos. “Kau seorang desainer, tapi…”

Jessica tak melanjutkan kata-katanya. Ia masih tertawa dan tak bisa berhenti.

Yuri menghembuskan nafas nya. “Kau sepertinya puas.” Yuri berdiri dan membayar semua pesanan nya. Setelah itu ia menghampiri Jessica yang masih tak bisa menahan tawa nya lagi dan mengambil tas nya. “Aku duluan.”

“Ah.. ne.”

Yuri menekan nomor loft dan memasuki Apartemen sederhananya. Beginilah hidup nya sekarang. Ia harus bisa menyesuaikan diri dengan cara hidup sebatang kara -tampa Ibu dan Ayah nya- yang berada Di Amerika sana.

Keluarga Yuri memang serba berkecukupan bahkan kelebilan harta. Tapi perlu di ingat itu keluarga nya bukan dirinya. Yuri merebahkan tubuh nya ke kasur empuk yang ada di Apartemen nya.

Yuri melirik jam tangan hitam klasik yang melingkar di pergelangan tangan nya. “Masih ada waktu satu jam lagi.”

Hidup di dunia memang butuh perjuangan. Yuri adalah gadis tomboy yang cukup pendiam tapi dirinya mudah bergaul dengan orang lain.

Menjadi desainer fashion terkenal di dunia adalah impian Yuri dari kecil. Hal itu tak salah. Kemampuan nya dalam menciptakan berbagai desain-desain yang luar biasa juga tak lepas dari pengaruh Ibu nya.

Ibu nya juga seorang desainer terkenal di Amerika. Tapi itu waktu masa muda Ibu nya. Setelah Ibu Yuri menikah ia di larang untuk bekerja. Ya kata Ayah Yuri. Mereka sudah memiliki harta yang banyak dan lebih baik Ibu Yuri membantu Ayah Yuri untuk mengurusi perusahaan mereka. Untuk apa Ibu Yuri bersusah-susah kerja lagi. Itu kata Ayah Yuri.

Tapi itu bukan masalah bagi Ibu Yuri. Dia jadi bisa beristirahat di rumah dan sesekali membantu hal-hal yang di butuhkan perusahaan itu lagi pula hal itu bisa membuat Ibu Yuri lebih dekat dan harmonis dengan Suaminya dan bisa mengurus Yuri dari kecil hingga menjadi Gadis manis seperti ini.

Yuri berjalan menuju kamar mandi ia membersihkan badan nya. Tak lama ia keluar dan mengeringkan rambut basah nya.

Bingo!

Yuri terlambat menuju butik Bibi Jang 10 menit. Ia gelagapan memasang sepatu nya dan keluar dengan tergesa-gesa menuju Butik Bibi Jang.

Yuri berlari berharap agar ada taksi yang melintas di sini. Jangan bus karena membuang waktu saja jika menunggu bus.

Yuri menghentikan taksi dan ia langsung melesat masuk ke dalam mobil.

“Pak, percepat jalan nya ya?!”

Sopir taksi menganggukkan kepala dan kembali fokus ke jalan raya yang penuh dengan kendaraan lain nya.

sopir taksi menghentikan mobilnya di depan sebuah butik. Yuri keluar dari taksi tak lupa tadi ia sudah membayar ongkos nya.

Ia menaikki butik yang besar ini dengan tangga tepatnya kelantai dua. Butik berlantai 5 yang cukup fantastic untuk di katakan butik. Seperti departement store saja.

Yuri bertemu dengan Bibi Jang di salah satu ruangan untuk pemotretan model.

“Yuri-ah, Bibi kira kau tidak datang.”

“Ma’af kan aku Bi, jika aku terlambat.”

Jessica keluar dari ruangan yang sama dengan Bibi Jang tadi. Ya. Jessica menjadi photo model untuk pakaian yang terbaru di Butik ini. Selain itu, setiap kali model pakaian terbaru yang di hasil kan dari butik ini selalu jadi trendsentter. Dan Jessica bangga bekerja sekaligus menjalani hobby nya di sini.

Setiap musim di butik ini selalu muncul dengan desain yang fresh, unik, dan out of the box.

“Tidak ada apa-apa. Oh iya Yuri, kau bisa membuat desain flat shoes nya?”

“Bi, itu tentu.”

“Bagus.”

Yuri segera masuk keruang persiapan. Ia juga di temani Jessica yang sibuk men-cat kuku-kuku nya.

Yuri mulai membuat sketsa desain. Ia mencoba memikir model yang bagus dan tentu nya tidak ada dua nya di toko, atau butik lain nya.

“Perfect nails!”

Ucap Jessica bersemangat. Yuri hanya melihat kelakuan Jessica dengan menggelengkan kepalanya.

“Kau sudah selesai Yuri?”

“Ya.”

Yuri bangkit dari meja nya dan berjalan melalui Jessica yang duduk dengan membaca majalah di sofa merah.

“Eh? Kau mau kemana?”

Yuri menghentikan jalan nya dan berbalik menatap Jessica heran.

“Tentu saja aku ingin menyerahkan sketsa ini kepada Bibi.”

Jessica bangkit. Berjalan dan merangkul Yuri, yang lebih tinggi dari nya.

“Ayo ikut aku.”

Jessica membawa Yuri keruangan depan di mana biasanya Bibi Jang menerima tamu.

“Ayolah, lihat ke sana!” Tunjuk Jessica. Ia dan Yuri lihat Bibi Jang sedang menemui tamunya.

“Kenapa?”

Jessica ingin menepuk jidat nya. Begitu polos kah Yuri? “Tentu saja kita harus menunggu Bibi Jang yang sedang menemui tamu nya itu.”

“Oh,” Yuri berbalik menuju tempat persiapan tadi. Dan lagi Jessica menahan Yuri.

“Ada apa lagi?”

“Lihat lah Pria itu!”

“Waeyo?” Yuri menata sketsa di tangan nya.

“Dia Luhan, dia itu sangat baik, Tampan, dia pengusaha muda. Dan teman bisnis Bibi Jang.” Seru Jessica. Dilihat nya Yuri yang juga mulai antusias dengan apa yang di ceritakan nya.

“Lalu?” Yuri menoleh ke Jessica.

Sebenarnya gadis itu tidak begitu tertarik dengan cerita Jessica. Tapi Yuri sedikit penasaran kenapa Jessica menceritakan Luhan. Yang bisa di katakan lelaki itu sempurna.

“Sayang sekali orang tua nya meninggal.”

“Kenapa orang tua nya meninggal?”

Entah kenapa Yuri juga mulai tertarik dengan asal usul Luhan. Namja yang bahkan tak sama sekali ia kenal.

“Orang tua nya tewas terbunuh oleh orang yang tak begitu di kenal. Keluarga Luhan sangat kaya, maka dari itu banyak orang di luar sana yang ingin menghancurkan bisnis keluarga Luhan. Dan Luhan pun sekarang di angkat menjadi pewaris utama perusahaan keluarga mereka.”

Jessica menarik nafas nya. “Yang aku tahu Luhan mempunyai Yeojachingu yang sangat cantik dan juga baik. Tapi sayang sekali hubungan mereka kandas di tengah jalan. Lantaran Kakek Luhan yang tidak setuju dengan hubugan cucu nya itu. Kalo tidak salah mantan Luhan itu. Dara dan Yoona.”

Yuri menganga mendengar cerita singkat namun jelas dari Jessica. Ia begitu takjub. Sahabat nya ini sangat tahu semua hal tentang Luhan. Dari keluarga dan kekasih Luhan.

Yuri yang melihat Jessica menceritakan tentang Luhan. Di buat curiga, sedari tadi gadis ber-marga Jung itu selalu menyunggingkan senyum nya ketika menyebut nama ‘Luhan’.

“Kau menyukainya ya?”

Jessica menatap Yuri tak menyangka “tidak!” Tolak Jessica tegas. Yuri hanya mendelikkan bahunya.

“Baiklah, aku tak akan menggodamu lagi.” Yuri sengaja acuh dan tak mengungkit-ngungkitkan ini lagi.

“Yuri..” seru Jessica.

“Hm.”

“Ngomong-ngomong soal Kakek Luhan. Dia itu sangat keras kepada Luhan. Semua tindakan Luhan selalu di awasi oleh Kakek Luhan. Yang aku tahu Luhan itu jomblo sejati.”

Yuri tertawa mendengarnya, sedangkan Jessica malah bingung. “Apa yang lucu?”

“Tidak apa-apa. Baiklah Nona Jung. Kau akan aku berikan predikat sebagai ‘Penggemar Luhan’.”

Ucap Yuri penuh penekanan. Seperti nada mengejek tepatnya.

“Mungkin kau bisa mendapatkan Luhan, Jessica-ah.” Usul Yuri. Jessica melirik ke Yuri.

“Itu tidak mungkin. Aku bukan gadis yang cantik seperti mantan-mantan Luhan. Dan aku adalah seorang Model dan mahasiswi biasa. Mana mungkin Luhan menyukai ku.”

“Apa lagi aku.” Canda Yuri dan ia terkekeh pelan di ikuti Jessica yang tersenyum lebar.

“Yuri, Jessica kalian sudah lama di sana? Ayo ke sini!” Panggil Bibi Jang. Mereka berdua menganggukan kepala dan menghampiri Bibi Jang dan Luhan.

Jessica membungkukkan badan nya mengarah ke Luhan. Sedangkan Yuri masih kikuk. Tak terbiasa dengan orang asing. “Yuri perkenalkan dirimu.” Suruh Bibi Jang.

“Hello my name is Kwon Yuri. pleased to meet you,”

Yuri memberi Hormat kepada Luhan dan mengulurkan tangan nya. Luhan pun membalas uluran tangan Yuri. Seraya berkata “aku Xi Luhan.”

Mereka melepaskan tangan mereka yang berjabat tangan masing-masing.

Luhan terlihat cool dan wibawa di mata Yuri.

“Oh iya Yuri. Kau sudah membuat desain nya?”

“Oh ini.” Yuri menyerahkan sketsa nya kepada Bibi Jang.

“Baiklah, nyonya Jang. Aku permisi dulu.” Luhan membenarkan dasi nya dan berlalu begitu saja. Tepat nya tidak sopan dan tidak membungkukkan badanya. Apalagi tersenyum ramah.

“Dia sangat sombong!”Gumam Yuri yang mengejek.

Tentu saja Bibi Jang yang berada di sebelahnya dan Jessica dapat mendengar gumaman Yuri yang sangat pelan itu.

“Kwon Yuri!” Ucap mereka berdua bersamaan.

Yuri tahu maksudnya. Dan dia berpamitan pulang karena ini sudah pukul sembilan malam. Ia takut tak ada taksi atau bus nantinya.

“Mau ku antarkan?” Tawar Jessica.

“Tidak usah dan terimakasih.”

-O-

Luhan mengentikan mobil nya tiba-tiba. Ada sesuatu yang salah pada mobil Luhan.

Luhan keluar dari mobil nya. Dan benar ban depan mobil Luhan bocor. Luhan menendang ban tersebut dengan kesal. “Ah. Sial!”

Alhasil Luhan harus mencari bengkel terdekat di sini. Ia tak membawa dongkrak itu kesialan kedua nya.

Ia berjalan di tengah kota yang begitu dingin ini. Luhan tahu semua orang tak mungkina mengiranya seorang gembel di jalanan.

Lihatlah! Ia mengenakan Jas dan kemeja rapi layaknya seorang presdir di suatu perusahaan dan itu benar.

Jengkel.

Karena Luhan tak menemukan bengkel atau tempat yang bisa menolong mobil hitam nya itu. “Ahhh..” Luhan mengacak rambut nya frustasi.

Ia tersadar akan sesuatu. Luhan merogoh benda persegi panjang di dalam saku jas nya. Tapi naas ia baru menyadari kebodohan nya lagi. Ponsel itu tertinggal di dalam mobil nya.

Ia berjalan berbalik menuju mobil nya. Yang pastinya memerlukan jalan sekitar 7 menit dari sini.

Selama berjalan kaki. Luhan menendang kaleng yang berada di depan nya dengan kaki nya. Bisa-bisa nya dirinya lupa bahwa ada asisten yang bisa membantu dirinya. Menjemput atau sekedar membenarkan ban yang bocor itu.

Luhan  dapat melihat pecahan kaca di aspal tak jauh dari mobil nya. Ia melihat ke mobil nya dan alangkah kaget nya ketika melihat dua orang preman yang sedang memecahkan kaca mobil kesayangan dirinya.

“Hei!!!! Apa yang kalian lakukan?!!!!” Teriak dengan sangat Luhan.

Pria-pria bertubuh besar itu melihat ke arah Luhan.

“Oh jadi kau pemilik mobil ini?”

Mereka mendekat ke arah Luhan. Mereka memaksa Luhan menyerahkan uang nya.

“Enak saja!!!”

Luhan tak mau kalah. Ia melepaskan pukulan dahsyat nya kepada preman yang meneriakki Luhan.

Tentu preman itu tak mau kalah.

BUGH

Satu tinjuan sudah mengenai wajah tampan Luhan. Ia tersungkur di aspal dengan sudut bibir yang yang mengeluarkan darah.

Luhan bangkit dan memukul dua pria mengerikan ini. Tapi tetap saja Luhan kalah. Ia harus di banting ke bawah. Pinggang nya sangat nyeri bahkan sakit karena dorongan yang begitu kencang.

Luhan tak kuat lagi. Rasanya tulang pinggang sudah remuk.

Oh tidak adakah yang menolong presdir tampan ini?

Dua preman itu merasa menang. Ia mengambil paksa kunci mobil di jas Luhan. Luhan sempat menahan kunci itu. Di dalam mobil terdapat berkas-berkas penting perusahaan. Dan mana mungkin ia menyerah kan segampang itu kepada dua orang yang sudah membuat dirinya menyedihkan seperti ini.

“Ya! Hei! Kau.”

Teriakan itu membuat mereka menoleh.

“Yuri?” Gumam Luhan seraya berusaha bangun dan membersihkan darah yang berada di sudut bibirnya dan sikunya.

“Wah.. perempuan ini mencoba menjadi pahlawan rupanya..”

“Hahahahaha.” Tawa preman itu dan meremehkan Yuri.

Yuri berlari mengarah ke mereka tampa basa-basi dirinya berhasil memukul wajah salah satu preman itu.

Tak segen-segan ia menginjak perut preman yang ingin meninjunya.

Hingga terjadi baku hantam anatara mereka bertiga.

Sedangkan Luhan hanya melihat kejadian itu sambil menahan rasa sakit di perut, dan di pinggang nya. Akibat ulah para preman sialan itu.

“Rasakan!” Yuri berteriak begitu hebat nya. Ia merasa menang dan ini sungguh hebat. Yuri menyemburkan debu di mata para preman ini. Sehingga preman itu merasakan perih di matanya. Dua preman itu segera pergi dengan terseok-seok.

Yuri menepuk-menepuk tangan nya agar debut dan tanah itu bisa hilang dari tangan nya.

“Terimakasih Yuri-ssi, aku sangat berhutang budi terhadap mu.”

“Aku tidak mengharap ucapan terimakasih mu. Lagi pula aku juga tak sengaja lewat saja. Dan oh! Aku pergi dulu.”

Luhan segera menahan Yuri. “Ada apa?” Yuri nampak nya kebingungan.

“Bantu aku. Aku tidak bisa pulang. Mobil ku sudah rusak begini.”

“Kau kan punya handphone kenapa tidak menghubungi orang lain saja?”

Yuri segera berlalu begitu saja. “Tapi handphone ku sudah rusak. Terkena pecahan kaca itu.” Teriak luhan sekeras-keras nya.

“Cepat ikuti aku!” Tandas Yuri. Dengan nada yang sedikit ketus.

Luhan tersenyum miring. Sebelum mengikuti Yuri dirinya mengambil Handphone nya yang terletak di kursi mobil nya dan ia mengambil berkas-berkas penting nya. Tampa pengetahuan Yuri yang sudah berjalan jauh di sana.

Luhan terus mengikuti Yuri yang sekarang berhenti di halte yang sepi. “Kenapa tak naik taksi saja?”

“Tidak ada taksi jika sudah larut seperti ini.”

“Oh,”

Luhan menggosok telapak tangan nya satu sama lain. Mencari sebuah kehangatan di malam yang dingin ini.

Luka di seluruh badan Luhan masih terasa sakit nya. “Kamsahamnida.”

“Untuk?”

“Yang tadi.”

Yuri terkekeh. “Tidak perlu berterimakasih seperti itu.”

Luhan penasaran dengan sikap Yuri yang agak terbuka.

Merasa kikuk Yuri mengetuk-ketukan ujung sepatunya ke lantai. Tak seberapa lama bus pun datang. Mereka melesat masuk kedalam.

Ketika duduk Yuri dapat melihat Luhan yang begitu asing dan tidak nyaman di dalam bus ini.

Seolah tahu dengan apa yang di pikir kan Yuri. Luhan menjawab “ini adalah kali pertama aku masuk ke dalam dan menaikki bus.

Gadis ber-marga Kwon itu membelakkan matanya tak percaya. “Apakah orang kaya dan berpangkat tinggi itu selera nya hanya dengan kemewahan?” Entah itu pertanyaan atau sindiran yang terlontar begitu bebas nya di mulut sang empu.

“Mungkin.” Jawab Luhan asal dan ia masih gelisah dengan kondisi di dalam bus merah bertingkat ini.

 

 

 

 

 

TBC

 

 

Annyeong akhirnya chapter satu sudah selesai. Whaha.. semoga suka ya. Btw, ini adalah ff chapter pertama saya. Jadi maklumi ya kalo kurang menarik.

Dan…

Jangan lupa tinggalkan komentarnya ya sahabat.. #SKSD_Kumat

Pliss hargai aku di sini.NO Siders

28 thoughts on “[Freelance] What, Marriage? (Chapter 1)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s