[Freelance] Star Guardian

Star Guardian2

Star Guardian

DINADINASTY

Kim Taeyeon and Byun Baekhyun.
Romance, Loyalty, Family, Fantasy, Angst, etc.
| Oneshot | Teen

 

Bintang itu retak. Pertanda sesuatu yang buruk telah terjadi.

 

Taeyeon menutup pintunya kasar. Tak lupa mengunci pintunya kuat-kuat. Hatinya merasa terluka, luka yang dalam. Dan luka yang susah untuk disembuhkan. Walaupun disembuhkan dengan 1001 obat yang paling berkhasiat didunia. Gendang telinganya masih mendengar umpatan-umpatan dari seberang pintu.

“Jika aku adalah seorang iblis, maka kau adalah ibu seorang iblis.” Desisnya kasar. Tak berguna. Lagipula kata-katanya tak terdengar oleh seberang sana. Taeyeon bersyukur, ibunya tak mendengar perkataannya. Karena, sesungguhnya ia sama sekali tidak memiliki niat untuk menyakiti ibunya. Biarlah, dia menjadi peran yang paling terluka disini.

Kakinya segera berlari keranjang. Merebahkan diri adalah yang terbaik untuk sekarang ini. Tak ingin mendengar kata kasar dari ibunya, gadis berklan Kim itu segera menyumbat kedua telinganya dengan earphone, yang terhubung dengan ponselnya.

Tak ingin kepalanya pusing, Taeyeon menaikkan volume dengarnya. Hal yang dia lakukan selanjutnya adalah memejamkan mata. Mencoba meredam emosi yang mendidih dalam dirinya. Taeyeon menarik oksigen sambil menutup matanya dengan tangan kirinya. Ketika karbon dioksida melayang dari pernafasannya, suara mengiris terdengar. Ia sangat sulit bernafas sekarang. Tak peduli tentang oksigen, Taeyeon segera melanjutkan acara yang baru saja ia mulai.

Menangis.

Taeyeon menangis sambil menutup kedua matanya. Terdengar suara sesak nafas yang mulai beritme cepat.

ɅłȠɅ

Taeyeon masih ingat pertengkaran antara dirinya dan ibunya. Mengapa ibunya tega menusuk anaknya sendiri dengan kata-kata yang menyesakkan dada? Taeyeon tahu. Dia memang bukanlah manusia sempurna. Dia bukanlah karang yang bisa bertahan ditengah derasnya arus air asin. Dia hanyalah seorang manusia biasa. Ia hanyalah seorang Kim Taeyeon yang bisa terluka.

Taeyeon masih meneruskan acaranya. Seolah acara itu tidak memiliki sedikit jeda untuk iklan.

Taeyeon bukanlah orang yang berani durhaka pada orang tuanya. Terutama ibunya. Taeyeon adalah seorang yang menghormati orang lain tanpa pandang bulu. Ia tidak mau orang lain terluka, tersinggung, ataupun marah padanya. Ia selalu menjaga kepercayaan orang lain kepadanya.

Dan sekarang Taeyeon telah menyesal. Ia telah merusak pendirian hidupnya sendiri. Ia telah membuat sang ibu murka karenanya.

Sungguh. Demi tuhan. Seorang Kim Taeyeon tidak pernah berharap sang ibu akan murka. Seorang Kim Taeyeon tidak pernah berharap ibunya akan mengeluarkan kata-kata menusuk. Taeyeon selalu berharap sang ibu mengeluarkan kata-kata nasehat dan doa-doa penyemangat untuk dirinya. Karena ibu adalah surga bagi seorang Kim Taeyeon. Selama ini Taeyeon selalu berusaha agar sang Surga selalu bangga terhadap dirinya. Taeyeon selalu ingin agar sang Surga bisa bahagia karena dirinya.

ɅłȠɅ

Hari mulai menjelang malam. Taeyeon keluar dari kamarnya. Ia sedikit merenggangkan ototnya yang tegang karena lelah. Itu karena ia baru saja pulang sekolah. Taeyeon masuk kelas unggulan dengan jam yang lebih padat dari kelas lainnya. Taeyeon menyongsong kakinya agar berjalan kearah ruang keluarga. Dilihatnya sang ibu duduk disofa bersama bibinya. Juga sang adik yang sedang bercengkrama dengan seorang gadis muda (yang berstatus sebagai sepupu Taeyeon).

Taeyeon duduk disofa. Sang adik yang menyadari keberadaan Taeyeon pun berpindah kesisi kiri Taeyeon. Mencoba mengajak berbicara sang kakak.

Taeyeon tak menggubrisnya. Ia sibuk beradaptasi dengan pembicaraan ketiga wanita bermarga Kim didepannya. Merasa lawan bicaranya tak bergeming, sang adik mulai memeluk lengan sang kakak sambil merengek manja.

Sang adik geram. Semakin diperbesar volumenya hingga sang lawan mulai merespon.

Wae? Aku lelah, Seohyunie.” Sang adik yang dipanggil Seohyunie itu tersenyum lebar. Akhirnya sang lawan merespon perlakuannya. Dan dengan respon tadi, Seohyun akan memulai permainannya.

“Eonnie, aku mau ice cream. Belikan aku ice cream. Ice cream, eonnie. Berikan aku ice cream.” Taeyeon menggerakkan otot bola matanya. Harus diberi tahu berapa kali agar anak ini mengerti? Kenapa ia selalu meminta hal yang sama setiap hari? Itulah yang Taeyeon suarakan dalam hati. Dipandangnya sang adik, yang sedang berekspresi memelas dengan bibir yang dimajukan dan mata yang disipitkan. Selalu bermuka seperti ini jika sedang memelas.

“Tidak bisa, Hyunie. Ibu dan Ayah melarangmu untuk hal itu.” Taeyeon masih sabar untuk menjelaskan. Meskipun ini sudah yang ke– err– emm– yang ke– entahlah. Taeyeon lupa, sudah berapa kali ia menjelaskan hal ini kepada sang adik.

 “Eonnie.” Seohyun masih merengek, seolah dirinya sudah mengetahui jika sang kakak akan menjelaskan hal itu.

Taeyeon jengah. Ia sudah merasa, kalau alasannya itu takkan mempan untuk sang adik. Dikarenakan Taeyeon selalu memakai alasan yang sama, jika Seohyun merengek tentang hal yang sama juga.

Taeyeon memandang ketiga wanita dihadapannya. Dua wanita kepalang 4 yang asyik bercakap. Dan gadis muda, yang tadi bersama dengan Seohyun, yang juga sesekali ikut dalam percakapan dua wanita lainnya. Taeyeon menggeleng. Ia tidak boleh melanggar aturan mainnya. Tidak bisa. Ia terus berpikir, bagaimana caranya agar Seohyun kalah telak dalam permainan yang dibuatnya sendiri.

“Tidak bisa, Seohyun. Sudahlah aku lelah. Aku akan istirahat. Besok ada jam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.” Gotcha! Akhirnya Taeyeon mensyukuri IQ yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Dengan IQ-nya, ia mencoba keluar dari permainan Seohyun. Walaupun dengan IQ itu dirinya tidak bisa menguasai pelajaran yang satu itu. Menyebalkan.

Sementara itu, Seohyun semakin memajukan bibirnya, karena alasan yang diperdengarkan kakaknya. Seohyun sudah hapal semua kelemahan sang kakak. Dan Pengetahuan Sosial adalah salah satu darinya. Lalu, bagaimana dengan kelebihan?

Eonnie, please~

Bicara tentang kelebihan, Taeyeon punya berlusin-lusin kelebihan. Termasuk kelebihan yang harus ada dalam setiap wanita, keibuan. Buktinya, sekarang Taeyeon tak sampai hati mendengar Seohyun berkata seperti itu. Bukan karena perkataan Seohyun. Namun karena ekspresi Seohyun yang berkaca-kaca dan matanya yang memerah karena menahan air mata. Dalam hati Seohyun bersorak. Sang kakak berhasil masuk kedalam permainannya kembali.

“Maafkan aku, Seohyun.”

Seohyun menghentikan permainannya. Ia gagal menjerat kembali sang kakak kedalam permainannya. Sebelum kakaknya melangkah, buru-buru ia bangkit, sambil mencegat sang kakak dengan tangan kirinya.

Eonnie.” Ada sedikit perubahan mimik dalam perkataannya.

“Maaf, Seohyun. Aku tidak mau mengecewakan ayah dan ibu.”

Eonnie.

Taeyeon mendongak. Tak ada ekspresi memelas ataupun mata merah dalam raut Seohyun. Dihempasnya tangan kiri Seohyun dari tangan kirinya.

Eonnie.” Sekarang mimiknya berbanding terbalik dengan mimik yang digunakannya beberapa menit berlalu. Tangan yang dihempaskan oleh Taeyeon tadi justru semakin erat. Taeyeon geram.

“Seo, sudahlah.”

“Eonnie.” Sedetik setelah Seohyun berucap, orang yang dipanggil Eonnie itu menghempaskan tangan Seohyun. Berbeda dengan tubuh Taeyeon, tenaga yang digunakan oleh Taeyeon terlalu berlebih. Menyebabkan Seohyun tersungkur diubin.

Tak hanya itu. Seohyun, yang terlalu kurus—hanya untuk sekedar menjaga keseimbangan, menyenggol botol parfum yang berada diatas meja.

Menyebabkan isi botol tersebut meluber kesegala arah. Itu memang salah satu sifat benda cair. Dan Taeyeon tahu itu. Taeyeon juga tahu jika Seohyun langsung terbatuk-batuk ketika cairan itu mulai meresap kekarpet. Taeyeon tahu jika itu adalah daya kapilaritas yang dimiliki benda cair. Dan sekali lagi Taeyeon mengetahui jika ketiga wanita Kim telah berhamburan menuju Seohyun, yang masih terbatuk sambil menutup mulutnya. Meninggalkan Taeyeon, yang masih berpandang kosong kearah keempat marga Kim, yang mulai berpandang khawatir.

“Apa yang kau lakukan, Kim Taeyeon?” Pandangan Taeyeon terpecah ketika salah satu wanita bermarga Kim sudah dihadapannya. Sementara pecahan pandangan Taeyeon yang lainnya memberitahunya, jikalau Seohyun sedang digotong oleh kedua wanita bermarga Kim yang lainnya.

“Jawablah, Kim Taeyeon.” Sang ibu berkata layaknya seorang detektif. Membuat Taeyeon, yang berperan sebagai tersangka, harus menjawab semua pertanyaan yang diajukannya. Sedangkan Taeyeon masih memproses apa yang telah dirinya lakukan sekarang.

“Apa kau lupa jika Seohyun tidak boleh mendekati benda terlarangnya?” Sang ibu masih memakai logat yang sama.

“Apa kau lupa Seohyun adalah adikmu? Adik yang harus kau lindungi?” Taeyeon telah menyelesaikan prosesnya. Sekarang ia sadar apa yang telah dirinya lakukan.

“Kau adalah gadis jahat, Kim Taeyeon. Kau bahkan tidak bisa menjaga adikmu sendiri. Lalu bagaimana caramu merawat anakmu saat kau sudah menikah nanti?”

Taeyeon menahan air matanya.

“Aku tahu kau selalu sibuk setiap hari. Bersekolah disekolah favorit, bergaul dengan orang-orang luar, menikmati masa mudamu sepuasnya, bebas mengejar mimpi dan cita-citamu,  mempunyai teman-teman yang memperhatikanmu, pintar dalam segala hal, peraih ranking umum disetiap sekolah yang kau masuki, mempunyai kriteria seorang wanita impian.”

Taeyeon tersenyum tipis mendengar ibunya berbicara tentang kebaikannya. Itu tandanya sang ibu tidak marah kepada diri—

“Tapi kau bukanlah kakak yang baik. Apa kau tahu? Seohyun bahkan tidak bisa melakukan satu dari semua hal yang kaulakukan.”

Senyum Taeyeon terlempar begitu saja.

“Kau telah menghancurkan kepercayaan ibu padamu.”

Taeyeon tidak bisa bertahan, ketika mendengar perkataan sang ibu. Secara tidak langsung, sang ibu berkata bahwa Kim Taeyeon telah merubuhkan pendirian hidup yang telah ia bangun berwaktu-waktu.

Ia sudah cukup sabar. Ia sudah tidak bisa bersabar lagi. Ini, tentang pendirian hidupnya.

Eomma, aku sadar apa yang telah kulakukan. Aku memang bukan kakak yang baik bagi Seohyun. Aku memang gadis jahat. Tapi aku tidak lupa jika Seohyun tidak boleh mendekati benda terlarangnya. Aku tidak lupa jika Seohyun tidak boleh menghirup bau alkohol. Aku juga tidak lupa kalau Seohyun tidak boleh terlalu lelah. Aku juga tidak lupa kalau Seohyun tidak boleh berada diruang yang terlalu panas ataupun dingin. Aku tidak lupa jika Seohyun tidak boleh memakan makanan berlemak yang panas ataupun dingin. Aku juga tidak akan pernah lupa jika seorang Kim Seohyun yang sangat disayang oleh Kim Jongwoon dan Park Hyomin itu menderita penyakit. Kanker pita suara!” Taeyeon gelagapan. Ia tidak menghirup oksigen sejak kata pertama yang ia ucapkan. Semakin banyak yang ia ucapkan, semakin banyak ia menaikkan oktafnya.

“Aku selalu melakukan hal-hal yang bisa membuatmu bangga kepadaku. Ranking umum, pandai bergaul, belajar menjadi seorang wanita sempurna. Itu semua agar kau bisa bangga padaku. Agar kau bisa melihatku. Agar kau mau memperhatikanku. Aku juga ingin kau memperlakukanku selayaknya ibu yang menyayangi anak perempuannya.” Oktafnya sudah mengecil, seiring dengan setiap kata yang diucapkannya. Taeyeon menunduk. Seakan air mata itu lebih berat dibanding apapun yang ada.

“Apa kau bilang? Kau tidak lupa? Lalu apa yang Seohyun alami tadi bukan salahmu, eoh? Kau pikir Seohyun yang bersalah? Jelas-jelas kau yang mendorongnya, Bodoh!”

Taeyeon mendongak. Respon ibunya terlalu mengejutkan. Jantungnya berdenyut menyesakkan. Apalagi karena satu kata terakhir yang disuarakan sang ibu.

“Kau memanggil kedua orang tuamu dengan nama. Kau memanggilku dengan sebutan ‘kau’! Dan kau masih menginginkan ibu menyayangi dirimu? Jangan pernah bermimpi tentang hal itu.”

Taeyeon sudah tidak mampu bertahan. Raganya memang masih utuh. Tapi jauh dalam dirinya, Kim Taeyeon telah hancur. Dengan sesegukan, Taeyeon berlari menuju kamarnya. Melewati kamar Seohyun yang berbau obat-obatan.

“Kau bukan Kim Taeyeon. Kau bukan Taeyeon-ku yang manis dan penurut. Kau adalah setan. Kau adalah setan yang menyamar sebagai Taeyeon-ku. Kau adalah iblis!”

Suara nyonya Kim dan hantaman pintu menggema bersamaan. Diikuti kata-kata kasar yang dilontarkan oleh sang Nyonya besar.

 

ɅłȠɅ

 

Taeyeon yakin, otak sang ibu sekarang penuh dengan Seohyun. Dan Taeyeon yakin, dari bermilyar-milyar sel otak milik ibunya, tiada satu sel pun yang sedang memikirkannya. Taeyeon menarik nafas panjang. Diantara suara musik yang ditangkap gendang telinganya, Taeyeon masih bisa mendengar suara Miyoung, bibi Sijung, dan sang ibu. Tak berapa lama, suara-suara itu lenyap. Dikarenakan waktu yang sudah menggapai tengah malam.

Ngomong-ngomong, seumur-umur, Taeyeon belum pernah bertengkar sehebat ini dengan ibunya. Yang telah terjadi hanyalah pertengkaran-pertengkaran biasa. Taeyeon hanya ingin diperhatikan ibunya saja. Tapi mengapa ibunya memberikan hal yang sebaliknya?

Ini benar-benar hari sial.

Lambung kosong, tugas sekolah yang menghantuinya, dan kantuk yang tidak mau mampir padanya. Lengkap sudah penderitaan Taeyeon. Dan sekarang harus ditambah dengan lampu yang tidak mau menjalankan tugasnya. Tapi kenapa harus sekarang?! Seolah mengerti, alam juga ikut menyumbang penderitaan Taeyeon.

Jika ditotal, semuanya komplit. Benar-benar komplit.

Taeyeon telah menamatkan acaranya. Sekarang telinganya tidak diberi makan musik bervolume tinggi lagi. Hujan deras diluar sana sudah setia menjadi teman Taeyeon sejak lampu mati beberapa jam yang lalu.

Saat ini, Taeyeon sedang duduk dipinggir ranjang. Mungkin ia lelah berbaring selama 3 jam lamanya. Termometer ruang telah sampai pada titik 22º. Hujanlah penyebabnya. Ada bekas mengering diwajah Taeyeon. Air mata-lah penyebabnya. Sekarang dingin tidak terlalu bersarang ditubuh Taeyeon. Aura hangat-lah penyebabnya.

Hangat?

Taeyeon tertegun. Kenapa angin hujan malam menjadi hangat? Bukankah hujan masih turun? Apakah pemanasan global sudah separah ini?

Taeyeon bangkit. Hanya untuk menjawab soal-soal yang ada diotaknya. Gelap malam sedikit menghambatnya. Ia berjalan beberapa langkah lurus kedepan. Pupilnya membesar. Mencari cahaya diantara gelap. Sampai akhirnya kakinya berhenti. Taeyeon yakin. Disinilah sumber aura hangat itu. Aura hangat itu berasal dari sini.

Taeyeon menimbang. Taeyeon berpikir. Taeyeon ragu. Taeyeon bingung. Taeyeon kaget.

Dengan sekali hentak, Taeyeon memeluk sosok didepannya. Sosok itu juga balik memeluknya. Entah kebetulan atau tidak, hujan telah lelah. Lampu kembali melaksanakan tugasnya kembali.

Hah, ini seperti drama yang kutonton beberapa hari yang lalu.

“Kau melanggarnya.” Satu suara yang meruntuhkan pelukan itu. Sementara yang ditanya hanya menunduk.

“Jelaskan padaku.” Seolah tak cukup, suara itu menambah satu-

“Jawab aku, Taeyeon.” Dua perintah yang tak kunjung Taeyeon laksanakan.

 “A-aku- Maafkan aku.” Perintah itu dilaksanakan dengan segala keberaniannya.

“Sudahlah.” Kalimat itu diakhiri dengan helaan nafas. Sosok itu kembali membawa Taeyeon kepelukannya.

D

itengah hujan yang mulai mereda karena lelah,
itengah cahaya lampu yang bersinar terang,
itengah suhu angin malam yang mulai naik,
itengah waktu yang bersandar pada pukul 1 pagi,

Taeyeon menangis dipelukan sang kekasih hati.

Tak usah bertanya, itu adalah Baekhyun.

ɅłȠɅ

 

Entah ada berapa tali yang digunakan untuk menggantung jutaan bintang diatas sana. Terlalu banyak untuk dihitung. Terlalu rumit untuk dibayangkan. Terlalu berat untuk diperkirakan. Dan seorang Kim Taeyeon, sedang mencari rumus matematika untuk memecahkannya. Ada berapa jumlah bintang diatas sana?

“Jadi, apa kali ini?”

“Aku mendorong Seohyun sampai terjatuh hingga membuat sebotol parfum tumpah hingga membuat Seohyun batuk-batuk sehingga penyakitnya kumat sehingga aku dimarahi oleh ibu sehingga aku mengurung diri dikamar sehingga aku menangis sehingga aku merasakan kau didekatku sehingga aku memelukmu sehingga aku mengajakmu keteras untuk melihat bintang.” Taeyeon berucap dengan nada datar dan tanpa jeda. Baekhyun menghela nafas. Dilihatnya Taeyeon yang duduk disampingnya. Berekspresi datar dan berpandang kosong.

“Kenapa kau mendorongnya?”

“Dia meminta ice cream padahal sudah jelas-jelas ia tidak boleh memakannya tapi ia tetap saja memaksa dan itu membuatku kesal sehingga aku mendorongnya.” Masih tetap saja.

“Kenapa kau tidak bilang ke ibumu kalau Seohyun meminta ice cream? Mungkin jika kau mengatakannya, ia tidak marah padamu.”

“Percuma saja jika aku berkata seperti itu pada ibu.” Taeyeon memajukan bibirnya. Kedua matanya sedang menyimak rerumputan yang berembun.

“Mengapa?” Baekhyun mengalihkan sorot matanya dari para bintang.

“Ibu pasti akan membela Seohyun padahal Seohyun bukanlah balita lagi dia adalah remaja 17 tahun yang sebentar lagi akan dewasa tapi kenapa ia terus bertingkah seperti anak TK itu pasti karena ibu yang terlalu memanjakannya.” Taeyeon kembali menggunakan gaya lamanya.

Baekhyun tercengang. Mengapa Taeyeon jadi suka melantur seperti ini? Hah.

“Berapa nilai sastramu?”

“A+” Taeyeon masih sibuk melihat embun dirumput.

Baekhyun menarik nafas dan membuangnya kasar. Ternyata nilai tidak selamanya benar.

“Sudahlah. Aku mengalah. Lain kali jangan melanggar peraturan lagi.” Baekhyun kembali menatap para bintang.

“Memangnya kenapa? Apa tidak boleh kalau aku menangis?” Taeyeon beralih menatap Baekhyun.

“Tidak. Jika kau menangis, aku harus turun kebumi untuk menenangkanmu.” Baekhyun melirih.

“Jadi kau tidak suka bertemu denganku?” Taeyeon berdenyit.

“B-bu- ”

“Menangis adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk bertemu denganmu. Dan kau?! Kau melarangku untuk melanggar peraturan?! Melarangku untuk menangis?!” Taeyeon setengah berteriak. Beruntung, dirinya ingat, sekarang ini masih lingkup jam tidur. Bisa-bisa, ia membangunkan seluruh penghuni rumah.

“Taeyeon-ah.” Matanya terluka, melihat gadis itu menangis untuk yang kesekian kalinya.

Bintang itu semakin rapuh.

ɅłȠɅ

 

Kurasa, Taeyeon masih belum menemukan rumus matematika yang tepat untuk menghitung para bintang. Niatnya untuk menyapa para bintang tadi terbatalkan. Jika saja Baekhyun tidak menyuruhnya tidur, mungkin sekarang dirinya masih bercakap-cakap dengan para bintang diteras. Jarang-jarang dirinya bisa leluasa melihat berjuta gantungan bintang dimalam hari.

“Tidurlah.” Bisikannya terdengar.

“Dan kau akan pergi, sebelum aku bangun nanti?”

Baekhyun tidak menjawab. Ia mengeratkan tangannya. Menghirup aroma gadis dalam pelukannya. Dalam hati ia meminta maaf. Karena, dirinya telah menggendong paksa Taeyeon tadi. Ia hanya tidak ingin Taeyeon terlambat kekampus besok. Baekhyun tahu, kalau Taeyeon sudah lelah. Baekhyun juga yakin, Taeyeon belum makan sedari tadi. Gadis ini terlalu menyayangi rumus-rumusnya. Baekhyun kaget, ketika Taeyeon belum mengerjakan tugas rumahnya. Biasanya gadis itu selalu mementingkan buku-bukunya. Tumben sekali. Baekhyun barus sadar kalau pertengkaran mereka (Taeyeon dan sang Ibu) kali ini benar-benar tidak biasa.

Baekhyun bisa merasakan bantal yang ditidurinya masih basah. Berapa banyak air mata yang dikeluarkan oleh Taeyeon? Ah, benar juga. Taeyeon suka menangis. Bukankah itu yang dikatakan Taeyeon tadi?

“Tidurlah.” Taeyeon menggeleng.

“Tidak sebelum kau berjanji akan berada disampingku sampai aku bangun nanti.”

“Tugasku disana belum selesai, Taeyeon.”

“Belum selesai?” Taeyeon mendengus. “Setiap kita bertemu kau selalu berkata kalau tugasmu belum selesai. Lalu kapan tugasmu itu akan selesai?!” emosi yang sudah tertahan itu akhirnya menguap.

“Sshhh.” Baekhyun mengelus rambut Taeyeon. Berusaha menenangkan binatang buas yang sedang mengamuk.

“Satu bulan. Tunggulah selama satu bulan.”

“Baiklah, satu bulan. Berjanjilah satu bulan lagi kau sudah menyelesaikan tugasmu.” Taeyeon luluh. Air mata itu berselancar dipipinya.

“Tentu. Aku berjanji. Tunggulah aku satu bulan lagi.” Papan selancar itu juga melewati pipi Baekhyun.

Mereka menangis dalam diam. Sampai akhirnya Taeyeon tak kuasa menahan tangisnya. Tanggul itu tidak kuat menahan air mata yang berapi-api dalam dirinya. Baekhyun menepuk-nepuk punggungnya agar Taeyeon berhenti menangis sesegukan.

Bintang itu semakin retak.

“Berjanjilah juga kau tidak akan menangis. Berjanjilah, kau berbaikan dengan ibumu dan juga Seohyun.” Baekhyun melepas pelukannya. Dilihatnya Taeyeon sedang mengangguk. Air mata itu masih senang berselancar diwajah keduanya. Baekhyun mengusap air mata sang gadis. Tangannya merogoh sesuatu dari dalam saku mantelnya. Ia menghirup oksigen singkat sebelum memulai kata-katanya.

“Untukmu.” Baekhyun mengalungkan sebuah kalung perak dileher Taeyeon.

“Bintang?” Taeyeon memegang pucuk liontin kalung tersebut. Baekhyun mengangguk. Papan selancar itu sudah tak memiliki tempat untuk berselancar lagi.

“Jika kau menangis, bintang itu akan retak.” Jelas Baekhyun. Taeyeon menyimak liontin itu beberapa kali. Ah, benar juga. Bintang itu sedikit retak.

“Aku tahu. Aku berjanji padamu.” Taeyeon kembali menangis. Dan untuk yang kesekian kalinya, Taeyeon menangis dalam pelukan sang malaikat pelindungnya.

Itu adalah tetes terakhir sebelum Taeyeon tertidur. Baekhyun menghela nafas lega. Setidaknya ia tidak akan khawatir tentang Taeyeon saat ia kembali nanti.

Baekhyun mengeluarkan sayapnya. Kedua sayap putih itu menyelimuti keduanya. Baekhyun mengecup kening itu perlahan. Menyampaikan pesan isyarat yang hanya dipahami oleh para malaikat.

“Aku mencintaimu.”

ɅłȠɅ

 

Ternyata 1 bulan itu tidak sama dengan 1 menit. Taeyeon menghabiskan 1 bulannya untuk melakukan banyak hal. Dirinya memang masih menyayangi rumus-rumusnya. Tapi sekarang sayang itu telah dibagi rata untuk adik, ibu, ayah, keluarga, dan teman-temannya. Sedangkan cintanya masih untuk seorang malaikat pelindung idiot bernama Byun Baekhyun.

Disamping itu, Taeyeon juga masih mencari rumus apa yang bisa menghitung jumlah para bintang diatas sana. Ia hanya ingin mengabsen kehadiran para bintang itu. Taeyeon ingin memastikan bintang-bintang itu selalu terbang diam diatas sana. Sampai sekarang, ia masih duduk diteras tengah malam, hanya untuk memahami apa yang disampaikan para bintang. Terkadang, Taeyeon meminta para bintang untuk menyampaikan sayang rindunya pada kekasih. Semoga saja, malaikat pelindung bodoh itu paham bahasa isyarat.

Setiap hari Taeyeon selalu berdoa demi keselamatan sang kekasih. Dirinya tidak pernah absen untuk menyimak kalung bintang dilehernya. Siapa tahu saja ada pesan atau petunjuk rahasia yang Baekhyun sembunyikan disana.

Hah, imajinasi Taeyeon memang yang terbaik.

Sebentar lagi Taeyeon akan menyelesaikan janjinya. Taeyeon tidak tahu mengapa ia tiba-tiba berjanji pada Baekhyun malam itu. Padahal Taeyeon tidak tahu menahu tentang apa yang dilakukan Baekhyun selama satu bulan lamanya. Tatapan malaikat itu menghipnotisnya. Padahal Taeyeon yakin, pada saat itu Baekhyun tidak mengayunkan bandul ataupun alat hipnotis lainnnya. Bagaimana bisa tatapan digunakan untuk menghipnotis?

Bulan yang selalu menemani para bintang itu sedang bersembunyi. Memberi tahu jika waktu telah berlalu. Hari ini adalah hari ketiga puluh dibulan Mei. Taeyeon menghabiskan harinya dengan membaca novel dipekarangan belakang rumahnya. Ibunya sedang menemani Seohyun cek up.

Cuacanya tidak terlalu buruk. Pemandangan itu terlalu menyanjung mata. Siang yang tidak terlalu panas membuat Taeyeon betah berlama-lama diluar rumah. Tak bertahan seberapa lama. Suasana yang menyanjung ini tertampar oleh kedatangan tamu yang tak diundang.

Tiga tahun yang lalu, Taeyeon bertemu seorang lelaki yang mengaku sebagai seorang malaikat. Padahal penampilannya sangat tidak mendukung. Tidak punya sayap, tidak punya wajah layaknya malaikat, orang itu bahkan tidak punya kebaikan hati seperti malaikat pada umumnya.

Tiga tahun kemudian, Taeyeon bertemu seorang lelaki yang mengaku sebagai seorang manusia. Padahal penampilannya sangat tidak mendukung. Dirinya punya sayap yang tidak terlihat, wajahnya yang persis seperti seorang malaikat yang pernah ia temui, hanya dengan sekali lihat saja Taeyeon tahu bahwa lelaki itu punya kebaikan hati melebihi seorang malaikat.

Dia adalah malaikat pelindungnya. Dia adalah kekasihnya.

Malaikat pelindung idiot. Malaikat pelindung bodoh.  Kekasih yang ia rindu. Kekasih yang ia cinta.

Tanpa ada definisi atau hukum, Taeyeon berlari memeluknya. Seperti biasa, gadis itu menangis dipelukannya,  menyiramkan berkubik-kubik rindu.

Matahari menjadi saksi kedua takdir, yang sama sekali tidak memiliki benang merah, itu menjadi satu. Para awan menunggu, untuk menyampaikan berita ini kepada para bintang nanti malam. Sedangkan rumput hijau itu diam. Membiarkan takdir memeluk cintanya. Membiarkan kedua takdir itu berbahagia. Jika rumput itu bisa berbicara, rumput itu akan membuat film tentang sepasang cucu adam, yang sedang berpelukan bahagia karena dipertemukan setelah waktu yang lama.

ɅłȠɅ

 

Pertemuan mereka diawali oleh pisau yang sudah berada diatas pergelangan tangan Taeyeon. Baekhyun yang terkejut langsung menghancurkan pisau dapur itu hanya dengan tatapannya. Baekhyun iba melihat keadaan gadis berumur 17 tahun yang akan ia lindungi nantinya. Apalagi setelah gadis itu berkata, “Hidupku tidak berguna. Aku tidak butuh kepandaian atau kepopuleran. Yang kubutuhkan adalah cinta dan kasih sayang. Tapi aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan. Ibuku sendiri mengacuhkanku.”

Taeyeon tidak menyadari. Sejak saat itu, Baekhyun telah menjadi apa yang ia butuhkan.

Taeyeon tertawa keras saat Baekhyun berkata bahwa ialah malaikat pelindungnya. Apa? Malaikat pelindung? Hahaha. Ternyata dongeng fantasi sedang tren dimasyarakat.

Pada akhirnya Taeyeon menyerah. Baekhyun benar. Lelaki, yang mengaku menjadi seorang malaikat pelindung, itu selalu menepati janjinya. Baekhyun juga selalu datang saat Taeyeon memanggil namanya. Dan yang menjadi sorotan, Taeyeon selalu menangis dalam pelukan Baekhyun.

Semua berjalan lancar hingga 1 tahun terlewati. Sampai akhirnya Taeyeon bertanya pada Baekhyun, “Kenapa kau mau menjadi malaikat pelindungku?” Dan dengan kerennya Baekhyun menjawab, “Itu sudah menjadi tugasku sebagai malaikat.”

Taeyeon mengangguk. Jawaban Baekhyun tidak menuntaskan pertanyaannya. Bukan itu jawaban yang Taeyeon minta. Seharusnya Baekhyun menjawab, ‘Karena aku menyayangimu’ atau ‘Karena aku menyukaimu’ atau mungkin ‘Karena aku mencintaimu.’

Taeyeon telah jatuh cinta pada malaikat pelindungnya.

Sama seperti dibayangan kalian bukan? Seorang wanita bertemu dengan seorang lelaki lalu jatuh cinta pada akhirnya mereka menikah and happily ever after. Kenyataannya tidak begitu. Butuh waktu 2 tahun hingga sang malaikat pelindung bisa membalas cintanya.

Siapa bilang, ketika dua orang saling mencintai bisa langsung berbahagia?

Mereka berbeda. Dan takdir harus merubah salah satunya. Tujuannya hanya satu. Agar cinta itu bisa saling memiliki satu sama lain. Lucu bukan?

Setelah malam itu, Baekhyun harus menjalani proses–err–emm–apalah itu namanya. Proses yang memakan waktu sedikitnya satu bulan. Hingga akhirnya, cinta itu bisa memiliki satu sama lain. Hingga cinta itu bisa melindungi apa yang dicintainya.

Semua orang memang selalu mengalami ketidak adilan. Semua orang selalu berpikir jika tidak ada orang yang menyayanginya didunia ini. Mereka semua salah. Salah besar. Mereka hanya belum melihat seberapa banyak orang yang menyayanginya. Seiring waktu bergulir, cinta itu tumbuh, cinta itu runtuh, cinta itu bertahan.

Jadi, jangan berpikir bahwa dirimu adalah orang yang paling tidak berguna didunia ini. Hiduplah seolah-olah kau adalah orang yang paling berguna didunia ini, orang yang paling dibutuhkan didunia ini, orang yang paling disayangi didunia ini. Bukannya aku sok atau sombong. Tapi itu adalah caraku bertahan hidup ditengah ketidak adilan ini.

Dan kurasa Taeyeon tidak memerlukan rumus untuk menghitung para bintang. Kurasa Taeyeon tidak perlu memastikan para bintang selalu terbang diam. Kurasa Taeyeon tidak perlu mengabsen para bintang. Karena Baekhyun akan memastikan bintang itu selalu hadir disana. Karena Baekhyun akan selalu melindungi para bintang. Agar bintang itu selalu bisa menghiasi malam yang gelap.

Kim Taeyeon adalah bintang yang paling dibutuhkan oleh Byun Baekhyun.
Byun Baekhyun adalah seorang malaikat yang paling dibutuhkan Kim Taeyeon.

___

epilog

“Apa kau tidak curiga? Bisa saja dia adalah seorang penguntit yang memanfaatkan Taeyon un-”

“Tidak.”

“Apa-”

“Aku sudah mengawasinya dari awal. Dia bukan seorang penguntit, pencuri atau apapun itu. Dia selalu bersama Taeyeon. Lelaki itu selalu datang ketika Taeyeon menangis. Awalnya aku pikir bahwa laki-laki itulah yang membuat Taeyeon menangis. Tapi anehnya, Taeyeon seolah-olah memanggil lelaki itu dengan air matanya.”

“Jadi, lelaki itu selalu bersama Taeyeon?” Wanita itu mengangguk, menanggapi pertanyaan wanita yang berdiri disampingnya.

“Aku sempat takut jika sewaktu-waktu lelaki itu menyakiti Taeyeon. Jadi aku memasang kamera pengintai dikamar Taeyeon.”

“Lalu?”

“Dan benar saja, lelaki itu selalu datang ketika Taeyeon menangis. Buktinya sekarang ini mereka sedang berada dikamar Taeyeon.”

“Apa maksudmu, Park Hyomin?!”

“Kau ingat, Sijung? Tadi Taeyeon sehabis bertengkar denganku. Jadi kemungkinan besar, ia sedang menangis.” Wanita itu masih menatap pintu kamar Taeyeon yang berjarak beratus jengkal dari tempatnya berdiri.

“Apa lelaki itu datang setiap hari?” tanyanya. Membuat Wanita, yang telah bermarga Kim sejak 21 tahun lalu, itu menggeleng.

“Kurasa lelaki itu adalah malaikat yang dikirimkan Sang Kuasa untuk putrimu.” Bibi Sijung tersenyum simpul.

“Jika saja lelaki itu bisa merubah takdirnya sebagai malaikat, aku akan mengikat mereka berdua sekarang juga.” Ucapnya tenang.

“Maksudmu, jika lelaki itu adalah manusia, kau akan menikahkan mereka?”

“Tentu saja. Aku hanya ingin memberikan hal yang terbaik untuk Taeyeon-ku. Secara tak sengaja, kesibukanku mengurus Seohyun telah membuatnya merasa diacuhkan olehku.”

“Aku bersumpah. Aku yang akan merancang gaun pernikahan mereka Taeyeon saat mereka menikah nanti.”

END

Dinasty notes:

#Sorry for bad fanfic and story. Sebenarnya, aku masih baru dalam dunia fanfic. Jadi aku belum seterampil author lainnya. This is my 2nd (masih belajar, kakak ^^)

#Terima kasih untuknya yang selalu menjadi inspirasiku. Terima kasih juga untuk semua orang yang selalu ada untukku.

#Last, don’t forget to leave comment. Thanks.

Dengan cinta untuk Wolf 88,

dinaDinasty

75 thoughts on “[Freelance] Star Guardian

  1. bagus thor ffnya aku sukaaaaa*rusuh
    bikin ff yg laennya ya author yg kyeoptaaaa*plakkk
    ini saya arista atas nama deva arma wkwkwkwkwkw :*

  2. bagus eonni ff nyaa,well gue tau siapa PARK HYOMIN hahahaha😀
    trus endingnya kenapa ngegantung gue bingung thor(?) bkin sequel nya ya eonni*kedipkedip YA UDAH BYEEEEE
    ini saya arista atas nama anggita putri wkwkwk

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s