[Freelance] The Cursed Angel (Chapter 5)

the-cursed-angel

The Cursed Angel (Chapter 5)

Author             :  _agrn

Main Cast        : Tiffany,Yoona, Jessica, Taeyeon, Seohyun
Suho, Luhan, Baekhyun, Baekhyun, Sehun.

Genre              : Romance, Fantasy, Family, Angst, Friendship.

Rate                 : PG 15

Length             : Multichapter

A/N                 : Hai kalian ._.)/ kembali saya hadir membawakan ff yang sumpah pusing mikirin apa-apa yang harus ditulis-_- makasih buat yang masih mau baca walau lama banget update ff ini :”)

DON’T LIKE DON’T READ and RCL

oOoOoOo

“Aku butuh bantuanmu untuk mencegah Taeyeon dan Baekhyun… saling mencintai.”

Jessica menatap Kris dalam-dalam. Sesungguhnya dia terkejut ketika Kris mengatakan itu tiba-tiba. Bahkan Jessica sempat berpikir bahwa Kris adalah malaikat yang ada di bumi dan ditugaskan untuk menjaga mereka. Tapi ia segera menyingkirkan pikiran tanpa dasarnya itu. “Kenapa?”

“Kenapa? Apa kau tidak mau melakukannya?”Kris balik bertanya.

“Aku menanyaimu duluan. Jawab dulu pertanyaanku”balas Jessica.

Kris berdeham kecil lalu meminum air putih yang ada di hadapannya. “Kau tahu Taeyeon memiliki kekurangan. Aku takut lama-lama Baekhyun akan merasa lelah lalu pergi meninggalkan Taeyeon. Aku tidak ingin Taeyeon merasakan yang namanya sakit hati karena mencintai.”

“Maksudmu Baekhyun adalah namja yang bisa dengan mudah meninggalkan yeoja yang mungkin mencintainya?”tuding Jessica. Entah kenapa ia merasa tidak suka.

“Bukan begitu, aku kenal Baekhyun dan yakin dia tidak mungkin tega. Tapi ada baiknya kita mempersiapkan sesuatu untuk yang terburuk kan?”

Jessica menghela nafas. Jessica mengerti. Kris adalah kakak Taeyeon, dan sangat menyayangi Taeyeon. Mungkin itu juga yang dirasakan Jessica untuk Baekhyun. Menyayangi sebagai seorang keluarga.

“Aku akan membantumu”putus Jessica akhirnya. Bukankah bagus jika ia membantu Kris. Karena jika Taeyeon jatuh cinta pada Baekhyun, dan Baekhyun adalah cinta sejatinya… maka Taeyeon akan kesulitan untuk menghancurkan kutukan ini. Jessica juga tidak ingin Baekhyun menghilang karena dimanfaatkan untuk menghancurkan kutukan ini.

“Secepat ini kau memutuskannya?”

Jessica menatap Kris. “Sepertinya aku tidak bisa menolak”

Kris terkekeh. “Ya, kau tidak akan bisa menolak”

“Cih, tipe yang selalu ingin mendapatkan apa yang dia inginkan”cibir Jessica pelan. “Lalu apa langkah pertama yang harus kita lakukan?”

“Mencegah Baekhyun menemui Taeyeon?”saran Kris. Terdengar ragu. Jessica hanya diam namun Kris menganggap Jessica setuju.

“Baiklah”jawab Kris singkat. “Pulang?”

Jessica tahu Kris sedang menawarinya pulang. “Pulang”

oOoOoOo

Yoona memakai masker yang sudah dibelinya kemarin. Ia flu. Suhu tubuhnya juga sedikit meningkat. Sepertinya 38◦ C. Ia berjalan perlahan menuju dapur. Beruntung ia sudah sangat hapal dengan struktur tempat tinggalnya ini. Tidak sulit baginya untuk menemukan lemari es.

“Bagus. Tidak ada makanan”batinnya. Memang hari ini adalah hari belanja baginya. Ia harus segera  sarapan, lalu pergi ke super market. Ia benci pergi kesana sendirian. Orang-orang akan menganggapnya remeh dan menabraknya. Kalau saja ia tidak buta, ia akan menghajar orang-orang itu.

“Han”ujarnya sambil berjalan kearah kandang Han. Anjing itu menyalak ramah ketika Yoona membuka kandangnya. Yoona merasakan jilatan Han pada tangannya. Yeoja itu tersenyum. “Kau sudah ingin keluar ya? Ayo kita berjalan-jalan.”

Yoona mulai bersiap-siap. Setelah siap ia membawa tas jinjingnya yang tentunya berisikan ponsel dan dompet. Terkadang ia takut pada para pencuri diluar sana. Kalau ia ingin selamat, ia harus menghajar mereka, sayangnya, ia sulit melakukannya karena kutukan ini. Kalaupun ia nekat, ia harus bersusah payah mengerahkan kepekaannya.

Yoona masih akan melamun kalau suara perutnya tidak menyadarkannya. Ia lapar. Dan sarapan yang bisa didapatkan dengan dan lezat adalah roti. Roti di toko roti Luhan.

“Kajja, Han. Luhan.”Yoona mengucapkannya sambil mengelus bulu lembut Han. Han menyalak tanda mengiyakan. Yoona berdiri lalu mulai berjalan dengan tuntunan Han.

Tak lama kemudian, Yoona bisa mendengar suara bel yang sudah ia kenal jelas ketika ia mendorong sebuah pintu. Aroma roti yang menggungah selera itu memenuhi ruangan. Yoona merasa semakin lapar saja. Han kembali menuntunnya untuk menemukan kursi.

“Yoong?”

Yoona menoleh keasal suara. “Luhan-a?”

Tawa khas Luhan terdengar. Yoona tersenyum. Memang Luhan, dan jujur dia sedang merindukan tawa itu. Namja itu meraih lengannya lalu mengarahkannya ke meja kosong. Yoona bisa mendengar suara kursi ditarik sebelum Luhan menyuruhnya duduk.

“Apa yang hari ini ingin kau makan?”tanya Luhan.

Yoona berpikir sejenak. “Tentukan saja menuku. Aku tahu seleramu tidak buruk”

Luhan kembali terkekeh. Ia berjalan menjauh untuk mengambil dua potong donat dan secangkir teh hangat. Namja itu meletakkan nampan di meja dan berkata “Donat dan the hangat. Bagaimana menurutmu?”

Yoona tersenyum. Ia mengambil sepotong, langsung memakannya tanpa garpu dan pisau. Ia sedang malas bertele-tele karena setelah ini ia harus pergi ke super market.

Tiba-tiba ia merasakan tangan Luhan menyentuh ujung bibirnya. Mengelap sesuatu dari sana.

“Kau makan masih belepotan. Seperti anak kecil saja”ujarnya. Yoona hanya dapat terdiam. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dan dia tidak bisa menormalkannya kembali jika tetap berbicara.

“Omong-omong, kau membawa tas yang cukup besar. Kau akan pergi kemana?”

“Hanya ke supermarket.”ujar Yoona kecil. “Kau tidak makan?”tanyanya.

Luhan menggeleng “Belum, aku akan melakukannya nanti. Kau akan kesana sendiri?”

“Tentu saja Luhan. Kau pikir dengan siapa aku belanja kebutuhan dapurku selama ini?”

Luhan meringis. “Pergilah dengan orang lain untuk menemanimu. Bersyukur supermarket itu memperbolehkan Han masuk.”

“Dengan siapa aku harus pergi? Seohyun? Dia sibuk”

“Kau bisa pergi…”

“Unni!!”

Ucapan Luhan terhenti saat Seohyun dan Sehun sudah berdiri disamping meja mereka. “Unni sedang sarapan? Jeez, kenapa tidak mengajakku?”

Seohyun duduk disamping Yoona, sedangkan Sehun duduk disamping Luhan. “Kau mau kemana dengan tas besar itu Unni? Tidak biasanya…”

“Super market”jawab Yoona kalem sambil meminum tehnya.

“Berbahaya kalau Unni pergi sendiri… aku akan menemanimu.”putus Seohyun.

“Kau punya jadwal wawancara Seo Joo Hyun”Sehun memperingatkan. Seohyun yang mendengarnya (ya, ia sudah dapat mendengar) menghela nafas. “Kalau begitu, Sehun-a…”

“Luhan akan pergi bersamaku”

Ketiga orang itu terdiam mendengar ucapan spontan Yoona. Bahkan Luhan menahan nafasnya. Yoona sendiri kaget mendengar apa yang sudah ia ucapkan. Buru-buru ia menambahkan “Kau dan Sehun pasti sibuk. Kau mau menemaniku, Luhan-a?”

Luhan tersenyum senang. “Tentu saja”

Seohyun menghela nafasnya, terdengar kurang senang dengan keputusan itu. “Baiklah, jaga Unni-ku baik-baik Oppa”

Luhan mengangguk. “Kau akan pergi sekarang?”

Yoona mengangguk. Ia berdiri dan Han mulai berjalan, tak lupa, Yoona mengucapkan sampai jumpa pada Seohyun dan Sehun. Diikuti Luhan di belakangnya.

“Aku senang kau mengajakku. Biasanya kau selalu menolak jika aku mau menemani”Luhan membuka percakapan.

“Itu karena aku tidak ingin menyusahkan Seohyun dan Sehun”

Luhan diam sejenak. “Apa… hubunganmu dengan Sehun?”

Yoona menghentikan jalannya. Ia menatap lurus kedepan namun kedua alisnya bertaut. Heran kenapa Luhan menanyakan hal seperti ini. “Tidak ada yang khusus. Memangnya kenapa?”

“Aku… terkadang merasa tidak suka kalau kau dekat-dekat dengannya”ujar Luhan. Kalau saja Yoona tidak buta, yeoja itu bisa melihat rona merah di pipi Luhan.

“Kenapa bisa begitu?”

Luhan menatap Yoona dalam. Namja itu menggenggam tangan Yoona dan berkata dengan suara halus “Karena aku… menyukaimu”

oOoOoOo

Seohyun menyeruput teh-nya dan menghela nafas. Tangannya masih mencoret-coret kertas dialog yang ada dihadapannya. Ia masih memikirkan hal yang sama. Hal yang membuatnya sulit tidur semalam. Untunglah ia bisa bekerja dengan baik hari ini.

Sehun yang baru saja selesai dengan bagiannya dalam drama itu segera menghampiri Seohyun yang terlihat kesal. “Ada apa?”tanyanya.

Seohyun menghela nafas lagi dan menatap Sehun penuh tanya. “Apa kau juga berpikir kalau Yoona Eonni dan Luhan Oppa saling menyukai?”

Sehun tahu Seohyun akan mengatakan ini. Ia tahu Seohyun menyukai Luhan. Ia tahu Seohyun mengincar Luhan dan tidak menganggapnya khusus selama ini. Padahal jelas-jelas Sehun menyukai Seohyun. “Kalau menyukai dalam arti teman, itu pasti”

“Maksudku, apa mereka saling tertarik? Apa mereka saling mencintai?”

Ya. Jadi berhentilah mengejar Luhan dan lihat aku. Hampir saja Sehun menyebutkannya. Tapi tentu ia tidak akan mau menyebutkannya. Seohyun pasti akan menjauhinya. Tapi, Luhan dan Yoona sudah pasti memiliki rasa tertarik satu sama lain. Terutama Luhan. Sehun bisa tahu dari cara Luhan menatapnya ketika ia mendekati Yoona. Yoona sendiri sebenarnya tidak terlalu menunjukkannya. Tapi kebersamaan mereka membuktikannya. Kemungkinan Yoona juga tertarik ada.

“Entahlah. Kalau tertarik sih, mungkin”jawab Sehun akhirnya.

Seohyun kembali menghela nafas untuk yang ketika kalinya. “Ottokhae?”

“Memangnya ada apa?”

Seohyun menatap Sehun. Ingin menjelaskannya, tapi tidak bisa. Jika ia langsung mengatakan tentang hal-hal semacam kutukan Sehun pasti menganggapnya demam sehingga melantur.

Seohyun mengambil 3 gula. “Ini A, B dan C”ujarnya seraya menunjuk ketiga benda itu berurutan.

“A memerlukan B karena B adalah kunci baginya untuk mencapai kebahagiaannya.”Seohyun mendekatkan satu gula dengan gula lainnya. “Suatu hari, A bertemu dengan C. C adalah teman baiknya. Tapi ternyata B juga teman baik C” Kali ini Seohyun mendekatkan gula yang terakhir. “Awalnya A merasa dengan begitu, C bisa membantunya untuk mendapatkan B. Sayangnya, C sepertinya juga membutuhkan B untuk mencapai kebahagiaannya.”Seohyun mendekatkan kerikil kedua dan kerikil terakhir. Rautnya terlihat tak rela. “A tidak ingin B bersama C dan juga tidak ingin membuat usaha C sia-sia. Tapi A juga tidak ingin tersakiti. Jadi apa yang harus A lakukan?”

Sehun mendengarkan dengan seksama ucapan Seohyun. Dan dia tahu siapa-siapa saja A B dan C itu. Ia tidak mengerti apa kebahagiaan yang dimaksudkan Seohyun, tapi yang jelas, ia punya saran.

“Jika A merebut paksa B dari C,” Sehun menarik kerikil pertama dan kedua. “kau akan menyakiti hati C dan tentunya B. Seperti yang kau katakan tadi, usaha C selama ini akan sia-sia. Begitupun sebaliknya kalau C merebut B dari A.”

Seohyun mengangguk-angguk.

Sehun mengambil satu gula lagi. Ia mendekatkan gula pertama dan gula yang baru. “Kalau A pada akhirnya bersama dengan orang lain, yang tentunya juga bisa membawanya ke kebahagiaannya. Kalian semua tidak akan tersakiti.”

Alis Seohyun bertaut, tanda bingung. “Kenapa harus A?”

Sehun mendengus. Karena A memiliki pilihan kedua yang sangat dekat dengannya. Sehun sekali lagi hampir menyebutkannya. “C juga bisa melakukan hal yang sama”

Seohyun mengangguk-angguk lagi, lalu tersenyum. “Gomawo Sehun-a. Terimakasih karena sudah ada untukku selama ini”

Sehun tersenyum tipis. “Ya, Cheonma”

Namun didalam hatinya, Sehun menambahkan. Lebih baik lagi jika aku-lah yang akan mendampingimu Seo-a

oOoOoOo

“Ed”

Lelaki berkantung mata yang tinggi tegap itu menatapnya. “Ada apa, Stephanie?”

“Kau masih menjaga gerbang? Bukannya ini sudah waktu pergantian penjaga?”tanya Stephanie dengan suara yang begitu lembut hingga setiap orang luluh. Termasuk Ed, semua bisa melihat rona merah di pipi Ed.

“Ya, tapi Mike belum juga datang. Entah kemana orang itu. Tadi dia memintaku menggantikannya sebentar”jawab Ed enteng. Mike memang temannya, Ed sudah pasti tidak akan keberatan.

“Emm… Tapi Mike sedang sibuk minum bersama Catherine disana”Stephanie menunjuk taman yang ada tak jauh dari sana. Benar saja, Catherine sedang bercengkrama bersama Mike dengan asiknya.

Hal itu sukses membuat Ed panas. Ia tidak menyangka Mike sedang asyik dengan salah satu primadona sedangkan Ed sedang menggantikannya berjaga. “Bajingan…”

Ed mengepakkan sayap besarnya dan terbang menuju Mike dengan kecepatan penuh. Saat merasa sudah dekat, pukulan keras mengenai wajah tampan Mike.

Mike terjatuh dengan keras dan memegang pipinya yang terasa sangat sakit. “Ed!! Apa yang kau lakukan?!!!”tanya Mike keras.

“Seharusnya aku yang bertanya begitu!! Kau asik disini bersamanya dan meninggalkan tanggung jawabmu!!? Dasar bajingan!!”

“Jaga ucapanmu Edison!!!”

“Untuk apa menjaga ucapanku pada seorang bajingan!!!?”seru Ed dengan suara keras, membuat Mike ikut panas dan menghajarnya. Perkelahian pun tak terhindari.

Namun disaat keributan itu terjadi, Stephanie justru tersenyum senang. Sekali lagi, ia berhasil menciptakan hal menarik. Catherine yang membantunya pun tersenyum dari jauh.

“Apa-apaan itu… seperti itukah yang dimaksud primadona? Primadona busuk”

“Huh, hanya karena wajahnya cantik ia merasa hebat? Kelakuannya sungguh buruk”

“Jika saja aku bisa menendangnya keluar, aku akan menendangnya jauh dan menyiksanya”

“Kalau aku bukan malaikat kelas bawah, aku akan menjambaknya dan menghancurkan wajahnya”

“Munafik, pengecut, penghancur, pengadu domba, perayu, pembohong. Lengkap sudah keburukannya”

Saat itu, Stephanie sadar. Umpatan-umpatan itu untuknya. Umpatan penuh amarah itu adalah umpatan untuknya.

 

Tiffany membelalak dan langsung duduk dari posisi tidurnya. Nafasnya memburu dan keringat meluncur dari pelipis ke dagunya. Badannya pun gemetaran. Ketakutan menguasainya. Mimpinya tadi, mimpinya yang paling buruk. Mimpinya tentang malaikat yang paling mengerikan. Dan… Stephanie. Malikat bernama Stephanie itu… Tiffany turun dari tempat tidur dan melihat cermin.

Malaikat bernama Stephanie itu adalah dirinya.

Tiffany yakin. Selain nama dan wajah yang sama, ia merasa sakit saat mendengar umpatan itu. Ia juga senang saat berhasil mengadu domba malaikat bernama Ed dan Mike. Astaga, apa yang ia lakukan… apa itu masa lalunya? Apa itu yang sudah ia lakukan?

“Fany-a, ada apa? Kau bermimpi buruk?”

Mendengar suara Suho, Tiffany langsung berbalik dan memeluknya. Memeluk lelaki yang ia cintai, lelaki yang selalu ada untuknya dan selalu menjaganya.

Suho tahu Tiffany ketakutan. Wajahnya pucat dan tubuhnya gemetaran. Tangannya tergerak memeluk balik Tiffany dan mengusap rambutnya. “Tenanglah Tiffany-a. Ada aku disini. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri. Tidak akan pernah. Aku akan menjagamu”

Tiffany melepaskan pelukannya dan bergumam kecil meski tidak ada satupun suara yang keluar. Suho bisa membaca gerak bibir Tiffany. Dan lelaki itu membelalak ketika tahu apa yang Tiffany katakan.

“Sepertinya, aku bukan manusia”

 Itu yang dikatakan Tiffany. “Apa maksudmu? Kau bukan manusia? Jelas-jelas kau manusia Fany-a”

Tiffany kembali menggerakkan mulutnya. “Kita akan bertanya pada Jessica besok”

oOoOoOo

“Aku pulang”ujar Jessica sambil membuka pintu rumah. Ketika ia masuk, ia sudah dapat melihat Baekhyun dengan kemeja dan jins. “Mau kemana?”

“Ke rumah Kris”ucap Baekhyun enteng.

“Untuk apa?”tanya Jessica berbasa-basi. Ia ingin Baekhyun tinggal di rumah. Seperti rencananya dan Kris tadi, ia harus mencegah Baekhyun dan Taeyeon bertemu.

“Membawa cerita baruku untuk Taeyeon. Dia ingin aku menceritakannya. Aku juga suka ada yang mau mendengarkan ceritaku”Baekhyun tersenyum saat mengatakannya.

“Kau tidak pernah menceritakannya padaku”ujar Jessica terlihat cemberut.

“Kau yang tidak pernah mau mendengarkannya Jess”balas Baekhyun sambil memakai sepatunya. “Baiklah, aku per…”

“Kalau begitu ceritakan sekarang”Jessica berhati-hati mendudukkan tubuhnya di sofa.

Baekhyun menatap Jessica kaget. “Ceritakan?! Ini cerita fiksi Jess!”

“Lalu? Ceritakan saja”

Baekhyun tersenyum riang dan melepas sepatunya. Ia duduk disamping Jessica dan mulai bercerita. Ia bercerita sambil menggerakkan tubuhnya sesuai dengan adegan di cerita. Membuat Jessica mau tak mau tersenyum. “Lumayan menarik”batin Jessica. Setidaknya, ia mendapatkan kesenangan dan berhasil mencegah Baekhyun dan Taeyeon bertemu.

Tiba-tiba saja, Bel berbunyi. Baekhyun menghentikan ceritanya. “Aku akan membuka pintu”

Jessica mengangguk. Sebenarnya sedikit tidak rela karena cerita tadi sudah hampir mencapai klimaks.

“Kris? Taeyeon?!”

Jessica membelalak saat mendengarnya. “Apa-apaan ini?! Kenapa dia tidak mencegah Taeyeon?!”batin Jessica tak terima.

“Sorry, Taeyeon ingin sekali bertemu denganmu. Dia menangis meraung-raung tadi. jadi…”ucapan Kris terdengar oleh Jessica.

Baekhyun menyuruh mereka masuk. Taeyeon memeluk Baekhyun manja. Oh, anak kecil memang manja bukan?

Jessica menatap Kris yang ada di belakang mereka dengan tatapan tajam. Kris memang memasang wajah datar, tapi Jessica tahu Kris sekarang menjadi gugup. Tatapan mautnya memang bekerja pada siapapun juga.

“Terkutuklah kebodohan Kris dan keautisan tubuhmu Wu Taeyeon… sia-sia saja aku mencegahnya”batin Jessica.

TBC

Done!!! Maafkan author karena keterlambatan updatenya L kan lagi liburan, lappy ditinggal huehue…

Oh ya, aku baru bikin wordpress, hehe. Karena masih bego soal wordpress terus belum ada isinya, jadi mending gausah di kasih tau dulu deh ya. Hehe…

Mungkin segini dulu ya. Mau ngelanjutin ff lain nih-_- makasih buat pengertiannya yah… RCL~

Advertisements

45 thoughts on “[Freelance] The Cursed Angel (Chapter 5)

  1. lanjut thor plis jgn lama2, pnasarn bgt
    luhan sma yoona? seohyun sm sehun? tiffany sm suho? jessica sm kris? taeyeon sm baekhyun?

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s