[Freelance] Mianhae

Untitled-1a

Story by : Han Neul Ah

Kwon Yuri || Kim Jongin

Romance || Angst || PG-16

Oneshot

Inspired by a novel

The cast belong to God, their management and their parents

No copying allowed! No bashing allowed! And no silent reader(s) allowed!

Respect me with leave a comment after you read the story

Warning typo everywhere!

Langit mengeluarkan bebannya, menjadi bulir-bulir air yang deras membasahi tanah kering yang berada di halaman sebuah rumah. Rumah bergaya minimalis dengan dua lantai yang berwarna keabuan. Menelisik ke dalam kamar yang berada di lantai dua. Ada seorang gadis yang meringkuk dibalik selimutnya yang menenggelamkan seluruh badannya. Dia terduduk bersender pada tembok menghadap jendela kamarnya yang terlihat berembun akibat suhu kamarnya yang lebih panas dibanding dengan suhu di luar jendela.

Air mata terlihat menggenang di kedua mata indahnya, di pipinya yang dulu tak setirus itu terlihat jejak-jejak air mata yang mengering. Kenangan yang dahulu terngiang di kepalanya, bagaikan sebuah film yang terus memutar kenangannya bersama dengan lelaki yag dicintainya.

“Yuri-yah kemari!” ucap seorang lelaki pada gadis yang bernama Yuri.

Tetapi sang punya nama tetap asyik dan larut dalam buku yang dibacanya tak menghiraukan panggilan dari lelaki itu.

“Yuri-yah!!!” lagi-lagi lelaki itu memanggil gadis yang bernama Yuri, tapi kali ini dia menaikan satu oktaf nada suaranya. Dan lagi-lagi pula Yuri tetap diam tak menghiraukan panggilan tersebut. Frustasi, akhirnya lelaki itu menyerah dan berlari menghampiri Yuri yang tengah terduduk di dalam payung besar yang melindunginya dari sengatan sinar matahari di pantai yang memiliki pasir seputih kapas.

Rambutnya berterbangan ketika berlari menghampiri Yuri, di tangan kirinya tergenggam handycam berwarna hitam yang sedaritadi sudah merekamnya semenjak dia meneriaki nama Yuri.

Dengan napas yang terengah kini dia berada di hadapan Yuri. Yuri melihatnya sekilas namun kembali larut dengan buku bacaannya. Sesekali dia menyeruput lemon tea yang ada di sebelah kirinya.

Lelaki itu yang melihatnya sudah benar-benar frustasi dengan kelakuan Yuri. Dia merebut buku bacaan itu dari tangan Yuri. Yang secara sengaja dia bagaikan telah membangunkan seekor beruang yang tengah tertidur lelap di masa hibernasinya. Wajah cantik Yuri kini berubah menjadi mengkerut, pandangan matanya tajam menembus mata lelaki di depannya. Lelaki itu malah tertawa melihatnya dan menjulurkan lidahnya mengejek.

“Ya!!!” akhirnya Yuri meledak dalam kekesalannya.

“Lihat! itu Yuri, kini dia tengah marah sepertinya padaku hahahaha.”lelaki itu berbicara pada handycamnya sembari mengarahkan lensanya pada Yuri.

“Ya!!! Namja jelek berikan bukunya.” Teriak Yuri pada lelaki itu. Kedua tangannya dia letakkan di pinggangnya, kini dia bertolak pinggang bak peragawati tapi bedanya dia peragawati dengan mata tajam dan bibir yang mengrucut karena kesal.

“Shireo, haha. Lihat jelek ya wajahnya jika sedang kesal begitu.” Lelaki itu masih tergelak dalam tawanya, lensanya masih focus merekam wajah Yuri yang kesal.

“Ya! Tuan Kim Jongin awas kau ya!!!” tak tahan dengan ledekkan lelaki yang kita ketahui bernama Jongin, akhirnya Yuri berinisiatif merebut sendiri buku tersebut dari Jongin. Tapi Jongin mengangkat buku tersebut setinggi-tingginya memanfaatkan postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi dari Yuri.

Yuri terus berjinjit untuk menggapainya, tapi percuma dia kalah tinggi dengan Jongin. Akhirnya dia menyerah dan membalikkan badannya dari hadapan Jongin, baik kini dia merajuk pada Jongin. Jongin yang melihatnya hanya terkikik geli. Dia tetap mengarahkan lensanya pada Yuri.

“Hai yeoja cantik, kau marah padaku?”

“……” Yuri tak menjawab candaan dari Jongin

Jongin kini mendekati Yuri dan memeluknya dari belakang, dagunya dia sampirkan di pundak kiri Yuri. Handycamnya kini dia arahkan ke hadapan mereka. Yuri sempat terkejut sebenarnya tapi dia berpura-pura diam dan mengalihkan wajahnya kesamping kanannya.

“Yuri, lihat kemari,”

“Shireo!”

“Hahaha lihat kini ada yang sedang merajuk, lihat lihat wajahnya jelek sekali seperti ikan Dori teman Nemo hahaha.”

Yuri yang mendengarnya menengokkan wajahnya menghadap Jongin, matanya melotot seakan-akan dia akan menelan lelaki di hadapannya hidup-hidup. Jongin hanya tersenyum manis melihatnya

“Tapi aku sayang padanya.” Kecupan singkat dia layangkan di bibir mungil Yuri. Pipi Yuri bersemu merah mendapatkan perlakuan seperti itu.

 “Aigoo, pipinya memerah seperti tomat haha.” Jongin lagi-lagi meledek Yuri. Yuri memukul pelan pundak Jongin, lalu tersenyum.

“Aku juga sayang pada kodok di belakangku ini, haha.” Lagi-lagi Jongin melayangkan kecupan lembut di bibir Yuri. Mata Yuri terpejam dan menikmati setiap kecupan yang di layangkan oleh bibir Jongin di bibirnya.

Yuri tersenyum miris mengingat kenangan manisnya dengan lelaki bernama Jongin. Satu-satunya lelaki yang memenuhi relung hatinya. Satu-satunya lelaki yang menjadi segalanya baginya. Satu-satunya lelaki yang kini di bencinya, dia benci jika lelaki itu telah menampakkan wajah lucifernya di depan Yuri.

Kenangan pahit kini tergambar jelas diingatannya. Kenangan wajah lucifer itu. Wajah yang di bencinya.

Lilin berbentuk angka dua kini tetancap di kue blackforest berbentuk lingkaran itu. Di atas kue itu tertulis ‘Happy 2nd Anniversary Jongin & Yuri’ . Di sumbu lilin itu kini terlihat api yang sudah menyala. Api itu terus begoyang tak stabil karena angin yang mengganggunya, tak rela jika api itu berdiri diam dengan tenang. Kedua pasang mata saling memandang diam kemudian tergelak. Kedua pasang mata itu dimiliki oleh Yuri dan Jongin, mereka tergelak mengingat kenangan dari hubungan mereka yang telah terjalin selama 2 tahun.

“Ayo, kita tiup sama-sama chagi.” Ucap Jongin antusias. Yuri tersenyum melihat tingkah lucu Jongin yang seperti anak kecil. Dia mengangguk menanggapi ajakan Jongin.

“Hana, dul, set!” keduanya meniup lilin itu berbarengan. Api itu mati digantikan dengan kepulan asap yang berwarna putih. Asap itu membumbung tinggi melewati mereka berdua dan melambung lebih jauh menuju ke langi-langit rumah sampai akhirnya menghilang melewati celah langit-langit. Mereka berdua bertepuk tangan kegirangan seperti anak bocah yang mendapat sebuah mainan baru.

“Happy 2nd Anniversary sayang, I love you.” Ucap Jongin kepada Yuri sembari merangkulnya ke dalam dekapannya. Yuri membalas dekapan Jongin merasakan kehangatan tubuh Jongin yang kini tersalur sepenuhya ke seluruh tubuhnya.

“I love you too, Jongin sayang.”

-o0o-

Setelah acara tiup lilin mereka sudahi, Yuri bangkit dari duduknya dan menuju dapur untuk mengambil piring dan pisau.

“Nah, kita potong kuenya sekarang!”  kali ini Yuri yang bersemangat, Jongin menganggukan kepalanya setuju. Tangan mereka saling menggenggam pisau dan membelah setengan permukaan kue bulat itu. Lagi-lagi mereka bertepuk tangan kegirangan, entahlah apa yang di rasakan mereka berdua sebenarnya. Selebihnya Yuri yang melanjutkan memotong dan membagi potongan tersebut menjadi potongan-potongan yang  lebih kecil. Yuri menyuapi Jongin, begitu pun sebaliknya.

Sisa-sisa kue, lilin, dan piring kotor masih berserakan di lantai apartement Jongin. Mengundang para kawanan semut yang dengan senang hati akan membawa sisa-sisa kue manis itu ke sarang tempat mereka tinggal. Sang pemilik kue-Jongin dan Yuri- kini terduduk di sofa berwarna putih, di depannya terpampang televisi yang terus bersuara meski sang majikan yang menyalakannya tak bertanggung jawab dan tak menghiraukannya.

“Yul.”

“Ne?” mata mereka kini saling bertemu. Jongin lalu memainkan rambut Yuri yang tergerai dengan jari-jarinya.

“Apa kau masih ikut klub menari?” Tanya Jongin masih dengan memainkan rambut Yuri dengan jarinya.

“Tentu saja, memangnya kenapa ?”

“Bagaimana kalau kau berhenti dari klub tari itu.”

Yuri membelalakan matanya tak percaya, tangannya melepaskan jari-jari Jongin dari rambutnya. Dia menatap intens mata Jongin, dari tatapannya seperti  tergambar pertanyaan ‘Apa maksudmu?’ . dia tak percaya dengan apa yang Jongin katakan.

“Aku tak suka melihatmu menari dengan pakaian yang minim, belum lagi jika tariannya berpasangan. Aku benar-benar tak suka melihatnya.”

Yuri mendengus kesal mendengarnya, alasan macam apa itu. Sebelumnya Jongin tak pernah begini, tapi kenapa akhir-akhir ini dia menjadi berubah. Terlalu posesif, pencemburu dan mudah tersulut amarahnya. Bukankah sebagai seorang penari itu adalah hal yang wajar, itu adalah sebuah profesionalitas.

“Kau cemburu dengan teman seklubku Jongin ? Itu kan hal yang biasa bagi seorang penari Jongin, itu sebuah bentuk profesionalitas. Lagi pula kau tau kan menari itu segalanya bagiku, aku bukan hanya menjadikannya sebagai hobi saja, menari bagiku sudah seperti oksigen.”

“Aku tau itu Yuri! Aku tau! Tapi aku benar-benar tak suka jika ada lelaki yang dengan bebasnya menyentuh tubuhmu, kau tau pandangan mereka jika sedang melihatmu menari dengan pakaian minim itu ?! Apa kau mau jika kau menjadi objek asusila  mereka ?! Apa kau senang jika di jadikan objek asusila Yuri-yah?! Hah apa kau senang ?!”

Yuri benar-benar marah dengan perkataan Jongin barusan, dia tak habis pikir jika Jongin bisa berkata seperti itu padanya. Tanpa meladeni kata-kata Jongin, dia lalu bangkit berdiri dari sofa berniat untuk segera meninggalkan tempat ini yang entah mengapa serasa menjadi neraka kali ini.

“Kau mau kemana ?! Kau belum menjawab pertanyaanku Yuri-yah!”

Yuri baru memegang gagang pintu apartement Jongin, tapi lengannya langsung di tarik kasar oleh tangan kekar Jongin. Wajah Jongin terlihat merah padam, menahan emosi. Urat-urat nadinya tercetak jelas di tangannya yang sedang menarik lengan Yuri. Yuri meringis kesakitan memegang lengannya yang masih digenggam Jongin dengan sangat kencang, dia tau ini pasti akan meninggalkan berkas kemerahan di lengannya.

“Jongin, lepaskan!” perintah Yuri, tapi Jongin malah mempererat genggamnya. Tatapan matanya benar-benar berbeda dengan tatapan Jongin yang biasanya. Tatapan ini tatapan iblis, tatapan lucifer.

“Kau belum menjawab pertanyaanku nona Kwon Yuri!”

“Pertanyaan apa Jongin.”

“Pertanyaan kau berhenti dari klub tari!”

“Aku tidak mau dan tak akan!” kekeh Yuri pada pendiriannya, membuat Jongin benar-benar marah padanya. Tangannya kini beralih mencengkeram wajah Yuri. Perih dirasakan Yuri di sekita pipi kirinya, dapat dipastikan kuku Jongin menancap di permukaan pipinya yang mulus. Yuri mundur sampai menabrak pintu apartemen Jongin.

“Aku tak suka berbagi nona Kwon, tak ada lelaki lain yang boleh melihat dan menyentuhmu selain aku. Kau hanya milikiku, milik Kim Jongin! Kau mengerti!” Jongin mengucapkannya dengan penuh penekanan dan melabeli Yuri sebagai miliknya bagaikan sebuah anak kecil yang tidak mau membagi mainan kesayangannya pada anak kecil lainnya.

“Sakit…” rintih Yuri setelah di lepaskannya cengkeraman tangan Jongin dari wajahnya.

Yuri merasakan perih di hatinya mengingat kenangan itu, tangannya secara spontan memegang pipinya yang dulu sempat menjadi saksi bisu perlakuan kasar Jongin pada Yuri. Bekasnya sudah menghilang sejak lama, tapi perihnya masih dengan jelas dia rasakan.

Yuri memejamkan matanya lagi, lagi-lagi dia menangis. Kepalanya terasa berat, pusing yang hebat dirasakannya akibat tak henti-hentinya dia menangis. Dia beranjak dari duduknya dan pindah ke tempat tidurnya. Air mata masih terus mengalir dari kedua mata indahnya yang kini berubah menjadi lebam dan bengkak. Yuri akhirnya tertidur, lelah karena tak henti-hentinya menangis.

-o0o-

Suara decitan terdengar dari kamar Yuri, decitan antara rangka tempat tidurnya dengan kasur empuk yang sedang ditidurinya. Belum ada satu jam Yuri tertidur tapi badanya sudah bergerak gelisah di dalam tidurnya. Keringat bercucuran di wajah Yuri, kepalanya terus menerus menggeleng ke kanan dan kiri. Air mata menggenang kembali dari matanya yang meskipun sedang tertutup rapat. Air mata itu jatuh dari sudut-sudut mata Yuri, hingga turun membasahi bantalnya. Dia terus bergumam dalam tidurnya mengucapkan kata “Andwae dan Mianhae.” Hingga akhirnya tubuhnya tersentak bangun dari tidurnnya, mimpi buruk itu datang lagi pikirnya. Mimpi yang membuatnya susah untuk kembali menata hidupnya yang menjadi kacau balau ini. Kejadian mengerikan itu, kejadian malam itu terus menghantuinya selama 6 bulan ini. Kejadian yang bahkan menjadi bunga tidur mengerikan untuknya. Jika

tidur bukan menjadi kebutuhan untuknya, mungkin Yuri lebih memilih untuk tidak tidur sama sekali, daripada dia harus tidur dan lagi-lagi memimpikan mimpi mengerikan itu.

Napasnya kembali normal, dia mengahapus peluh yang masih tertinggal di dahinya dengan punggung tangannya. Kemudian tangannya menelusuri nakas yang berada di samping tempat tidurnya dan mengambil segelas air  yang terisi setengahnya, diteguk habis air itu dalam satu kali tegukan. Kakinya dia tekuk, kedua tangannya dia gunakan untuk memeluk kedua kakinya yang sudah dia tekuk. Dagunya dia letakkan di kedua lututnya, tatapannya kosong lurus ke depan. Tak ada hal yang dilakukannya setelah itu, selain memikirkan kembali kenangan buruk itu yang kembali datang dalam bunga tidurnya.

Masih melekat kuat kenangan malam itu diingatannya, wajah lucifer itu yang datang lagi. Bahkan lebih mengerikan dari itu. Malam itu, tepatnya sabtu malam pada bulan Juli.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, ruang latihan klub tari yang sebelumnya ramai kini terlihat kosong, hanya ada seorang gadis cantik yang masih asyik menari dengan diiringi irama lagu beat yang menggema di seluruh ruangan itu. Suara deringan ponsel gadis itu-Kwon Yuri- terdengar di selingan musik yang keras, tapi Yuri tetap asyik dengan kegiatannya, entah dia tak mendengarnya atau memang di sengaja tak menghiraukkanya. Dua kali dering ponselnya berbunyi, tapi Yuri masih saja tak menghiraukannya. Tiga kali, empat kali, bahkan hingga kelima kalinya dering ponselnya berbunyi Yuri masih saja tak menghiraukannya. Sampai tiba-tiba lantunan music beat itu berhenti dengan tiba-tiba. Yuri refleks menengokkan kepalanya, dan Bingo! Kim Jongin kekasihnya dengan wajah marah terlihat berdiri di samping sumber music yang mengirinya menari sedaritadi. Perasaan Yuri mulai tak enak melihat raut wajah kekasihnnya.

Jongin menyuruh Yuri mendekat dengan gerakan tangannya, dengan patuh Yuri mendekati Jongin meski dengan perasaan yang tak enak. Yuri menundukan kepalanya ketika berdiri di hadapan Jongin, dia benar-benar takut saat ini, wajah lucifer itu yang dia takutkan akan datang kembali. Lama Yuri berdiri di hadapan Jongin tapi Jongin belum juga bersuara, keduanya diselimuti kesunyian yang mencekam bagi Yuri.

“Kau kenapa tak mengangkat teleponku ?” akhirnya Jongin bertanya pada Yuri memecah kesunyian. Dari nada suaranya terdengar menuntut penjelasan.

“He ? Kau meneleponku ? Aku bahkan tak mengetahuinya.” 

“Periksa ponselmu!” perintah Jongin ketus pada Yuri.Yuri segera berlari menuju tasnya yang berada di pojok ruangan. Dia mengambil ponselnya yang berada di kantong depan tasnya. Dan benar saja lima panggilan tak terjawab dari Jongin terlihat di layar ponselnya. Jongin tersenyum miring melihatnya.

Yuri kembali di hadapan Jongin, perasaan takutnya semakin menjadi ketika melihat senyum miring Jongin.

“Maafkan aku, aku tak mendengarnya Jongin.” Ucap Yuri lirih. Jongin tak menghiraukan ucapan maaf Yuri. Dia berlari menambil tas Yuri dan langsung menarik Yuri kasar.

“Ayo pulang!”

-o0o-

Jongin mengajak Yuri pulang ke apartementnya. Setibanya di apartementnya, Jongin segera menutup pintu dengan kasar, dia menghempaskan Yuri di sofa putihnya denga keras. Sampai Yuri mengaduh kesakitan.

“Kau tau apa kesalahanmu Yuri ?”

“Bukankah tadi aku sudah meminta maaf padamu Jongin, iya aku tau salah tak menghiraukan panggilan teleponmu. Maafkan aku Jongin.”

Jongin lagi-lagi mencengkeram pipi Yuri dengan tangan kanannya. Wajah itu kembali lagi, wajah lucifer. Yuri bergidik ngeri melihat wajah itu kembali lagi.

“Bukan hanya itu kesalahanmu nona Kwon Yuri! Pertama kau memakai rok pendek! Sudah berapa kali aku bilang padamu bahwa aku membenci jika kau keluar dengan rok pendek sialan itu! Kedua ! Kau mengabaikan panggilanku dan membuatku setengah mati kesal dengan tindakanmu itu! Dan ketiga! Kesalahan yang amat fatal! Tatap mataku jika aku sedang berbicara Yuri!” Yuri yang sedaritadi hanya memejamkan matanya tak berani menatap langsung mata Jongin, dibuat kaget dengan bentakan Jongin. Mau tak mau dia menuruti perkataan Jongin, dia menatap balik mata Jongin yang benar-benar mengerikan saat ini. Dia bersumpah rasanya dia ingin menghilang saja dari dunia ini dari pada dia harus menatap langsung mata Jongin yang berubah menjadi mata iblis.

“Kau tau apa kesalahan ketigamu Yuri?! Hah?!” Yuri menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Jongin.

“Sudah ku duga!” tanpa menjelaskannya lebih lanjut Jongin segera mencium kasar bibir Yuri, hingga membuat Yuri merasakan perih dan bau anyir di bibirnya. Yuri terus memberontak di sela-sela ciuman kasar itu, namun Jongin tak mengiraukannya. Yuri benar-benar merasa tersakiti dengan perlakuan Jongin, dia akhirnya melayangkan tangannya menampar pipi mulus Jongin.

Jongin terkesiap kaget mendapatkan tamparan dari kekasihnya Yuri.

“Apa yang kau lakukan ?!” Teriak Jongin pada Yuri.

“Harusnya aku yang menayakannya padamu Jongin, apa yang sebenarnya kau lakukan?! Kenapa kau menjadi berubah seperti ini?! Dan kesalahan ketiga, kesalaha fatal apa maksudmu? Hah!” Jongin lagi-lagi manampakan seringaian iblisnya.

“Oh, jadi kau masih belum mengerti.” Jongin berkata dengan lembut dan mengelus rambut Yuri, dia menelusuri rambut Yuri dengan jarinya. Tiba-tiba dia menariknya kasar. Yuri berteriak kesakitan. Jongin membisikan sesuatu di telinga Yuri membuat Yuri semakin katakutan.

“Bukankah kemarin aku sudah menyuruhmu untuk berhenti dari klub tari bodoh itu, Yuri ?”

“Tapi kan aku tak menyetujuinya Jongin.” Yuri dengan ragu-ragu mengatakannya lirih.

“Apa ? Aku tak mendegarnya Yuri.” Ucap Jongin di telinga Yuri

“Coba bisikan padaku apa yang kau  katakana tadi, Yuri.” Tanpa rasa curiga Yuri memberanikan diri mendekati Jongin dan membisikan perkataannya tadi di telinga Jongin.

“Aku tak menyetujuinya Jongin-ya” tanpa diduga Jongin malah semakin menjambak rambut Yuri.

“Apa kau bilang ?! Kau tak menyetujuinya  ?! Kau tau kan aku tak suka sebuah penolakan!” Jongin benar-benar kalap kali ini, tiba-tiba suara dering ponsel Yuri menggangunya. Dia melepaskan kasar tangannya dari rambut Yuri, dan segera menyambar tas Yuri dan mengambil ponsel Yuri. Nama Kai terlihat di layar ponsel Yuri sebagai nama pemanggil. Jongin semakin marah di buatnya, Yuri masih meringkuk ketakutan di atas sofa Jongin. Jongin dengan penasran menggeser tanda hijau di ponsel Yuri dan mengloudspeakerkannya.

“Yeoboseyo, noona! Ini aku Sehun, noona besok jangan lupa kita akan laihan dance couple untuk perlombaan tepat pukul sembilan ya.” Tak ada jawaban yang terdengar, Sehun kembali mengeluarkan suara.

“Noona, yeob…” tanpa mendengar lanjutan dari perkataan Sehun, Jongin langsung membanting kasar ponsel Yuri ke lantai apartementnya. Ponsel Yuri dengan sukses hancur berantakan dibuatnya. Yuri hanya menangis ketakutan melihatnya, Yuri benar-benar harus keluar dari tempat neraka ini. Yuri berlari menuju pintu apartement Jongin, dengan napas yang memburu Jongin menghentikan Yuri.

“Jadi ini yang kau lakukan tiap malam, bertelepon ria dengan anak kecil itu hah ?!” Yuri menggeleng menanggapi perkataan Jongin. Jongin tanpa basa-basi menarik Yuri hingga Yuri menabrak meja yang berada di tak jauh dari pintu, Yuri hanya dapat meringis kesakitan.

“Jongin lepaskan! Ini benar-benar menyakitkan! Sadar Jongin, sadar!” Yuri berteriak histeri, tapi Jongin hanya memandangnya tajam. Yuri manampar pipi Jongin lagi berusaha menyadarkan Jongin, tapi Jongin malah semakin marah padanya. Dia lagi-lagi menjambak rambut panjang Yuri. Yuri menengadahkan kepalanya kesakitan, dia meraba apapun yang ada di atas meja dan memukul kepala Jongin dengan benda itu yang ternyata adalah sebuah vas bunga. Jongin mengaduh kesakitan, dirabanya kepalanya dan terlihat darah mengalir di kepala dan dahinya. Yuri bergetar ketakutan melihatnya, tak lama Jongin ambruk dihadapannya. Yuri menangis meraung melihatnya, dia benar-benar bingung apa yang harus dilakukannya. Dia hanya berjongkok menangis di hadapan Jongin.

“Jongin-ya ireona, mianhae Jongin-ya, ireona!” Yuri mengguncang-guncangkan bahu Jongin panik. Namun, Jongin tetap saja diam seolah-olah dia lebih betah tergeletak tak berdaya seperti ini. Yuri segera memeriksa denyut nadi Jongin di lehernya, nihil! Tak terasa apa-apa di sana, Yuri semakin panik. Dia kemudian meletakkan telinga kanannya di dada sebelah kiri Jongin, berharap detak itu masih bisa terdengar. Tapi tetap sunyi, detak itu tak ada. Jongin sudah tak ada berkat tindakan bodohya, dia hanya dapat memeluk tubuh tak berdaya Jongin dan meraung seperti orang gila menangisi Jongin.

Yuri kembali menghapus air mata yang tanpa diperintahkannya mengalir di matanya yang masih lebam membengak, di sela-sela isakkannya dia terus begumam.

“Mianhae Jongin-ya…”

||Fin||

Huaaaaaaa selesai juga, fiyuhhh-____- *elap keringet*

Gimana ff angst oneshot perdana, hehe

Ini aslinya Minyul, atpi aku ganti jadi Kaiyul hehe

Maaf ya kalo aneh dan feelnya gak berasa, RCL ya^^

Gomawo~

21 thoughts on “[Freelance] Mianhae

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s