[Freelance] Ballerina (Chapter 4)

Ballerina

Tittle : Ballerina

Author : PinkyPark

Cast : GG’s Tiffany Hwang || EXO’s Xi Luhan

Other cast : EXO’s Kim Joonmyun || 2PM’s Nickhun || GG’s Kim Taeyeon

Genre : Romance || Angst

Rating : PG – 15

Length : Chaptered

Disclaimer : This Fanfic pure by me. This fanfic is 100% mine and if  you found some similar on other fanfic, it maybe just a chance. Please leave your comment and I’ll continuing this fanfic. And then, the cast is belong to their parents and themrselves .. Thank you ~

***

Aku tidak pernah tahu, dan berharap tidak pernah tahu ..

Pria itu, dalam tangisan bisunya ..

Mencoba memberitahuku,

Bahwa dunia takkan selamanya mengulurkan tangannya.

 

 

Ballerina.

 

Tiffany menatap Luhan dengan penuh tanda tanya, pria itu tampaknya baru saja menyadari bahwa apa yang baru saja dilakukannya terlampau berlebihan. Jadi, kini pria itu menyimpan ponselnya pada meja –lalu menatap Tiffany dengan gugup.

Gadis itu menatap Luhan dengan pandangan aneh—tidak terbaca apa maksudnya. “Luhan ?”

Luhan menggigit bibirnya, kemudian tangannya menggenggam tangan Tiffany yang dingin. “Liu Fang—dia adalah seseorang dari masa laluku.” Pria itu untuk sesaat memperhatikan respon Tiffany—gadis itu menatapnya bingung. “Dia adalah teman sekolahku dulu –kami bersekolah di tempat yang sama. Liu Fang dan aku adalah satu-satunya warga cina yang bersekolah disana.”

Tiffany tampak berpikir sebentar, kemudian sebuah senyuman melegakan terpancar di bibirnya. “Benarkah ? kalau begitu itu hal baik, kalian pasti sangat dekat—apakah kalian sudah lama tidak bertemu ?”

Luhan meneguk air liurnya dengan perlahan –benar-benar tidak ingin menceritakan apapapun tentang Liu Fang kepada Tiffany. “Dia pindah ke China—lalu kami tidak pernah bertemu lagi,” Tiffany mengangguk, hendak berucap namun Luhan memotongnya. “Ini, aku sudah siapkan air panasnya—kau mandilah dan hangatkan dirimu—lihatlah kau seperti kucing sekarang.” Pria itu menyerahkan handuk putih pada Tiffany. Gadis itu menerimanya dengan sebuah senyuman, kemudian mengangguk dan melenggang pergi ke kamar mandi.

Luhan terdiam, memandangi siluet tubuh Tiffany yang kian menjauh. Jika dia bisa—dia ingin mengatakan semuanya, tentang Liu Fang dan segalanya. Tapi—bahkan Luhan benar-benar tidak ingin mengingat apapun itu dari masa lalunya.

Waktu terus berlalu—ponsel Luhan berbunyi. Pria itu mengambilnya dan membuka sebuah pesan yang baru saja sampai.

 

Xi Luhan ..

 

Melihatnya saja Luhan tahu jelas siapa yang mengirim pesan itu—Liu Fang pasti terkejut mendengar suara Tiffany. Sejak dulu selalu seperti itu—takut pada wanita siapapun yang bersama Luhan.

Pria itu mendesah, lalu menelepon dengan berat hati. Jantungnya bertalu –bagaimana jika Tiffany selesai mandi dan mengetahui bahwa dirinya menelepon Liu Fang ?

“Halo.” Suara di ujung telepon menggema, melayang-layang di pikiran Luhan yang kosong.

“Liu Fang ?” Luhan berucap dengan pelan –pria itu gugup.

“Luhan kau tahu aku—”

“Maaf Liu Fang, bagaimana jika kita bicara besok saja—hari ini aku sedang bersama seseorang.”

Tidak ada jawaban, Luhan mengerti jelas Liu Fang sedang terkejut. “A—apa wanita yang tadi itu k—kekasihmu ?”

Luhan menarik nafas panjang, sakit di dadanya kembali terasa—seperti saat-saat dulu. “Ya, dia kekasihku.”

 

Ballerina.

 

Luhan menatap Tiffany dari kejauhan, melihatnya bergerak dan tersenyum seperti itu saja sudah membuatnya sangat bahagia. Pria itu melambaikan tangannya saat Tiffany tersenyum kearahnya—Tiffany sedang berlatih, dan saat ini adalah untuk pertama kalinya Luhan menemani Tiffany berlatih.

Gadis itu bergerak beraturan, dengan sentuhan lembut dan anggun di setiap gerakannya—Luhan sepenuhnya terpesona. Saat menari seperti ini—Tiffany terlihat sangat cantik. Mata obsidiannya berkilau dan bibir mungilnya selalu bergerak untuk tersenyum.

Musik berhenti mengalun –Tiffany membungkukkan badannya pada Luhan dan pria itu menjawabnya dengan anggukan kepala dan tepukan tangan yang menggema.

Gadis itu setengah berlari menuju kekasihnya, kemudian duduk tepat di samping pria yang paling disayanginya itu.

“Kau lelah ?” Luhan menyentuh pelipis gadis itu, Tiffany hanya tersenyum dan mengangguk. “Ini minumlah—”

Tiffany menerima air mineral yang di berikan Luhan dengan ceria, gadis itu meneguknya sedikit kemudian menyandarkan kepalanya pada Luhan. Hari ini suasana hatinya sedang baik—entah karena Luhan datang untuk melihat latihannya atau karena tugas kuliahnya yang sudah selesai.

Luhan mengelus rambut gadis itu, mengelusnya dengan sayang dan hati-hati. “Luhan ?”

“Hmm ?”

Tiffany menarik kepalanya dari bahu Luhan, kini mencondongkan tubuhnya untuk menatap Luhan lebih dekat. “Aku menyukaimu.”

Luhan terkekeh, tangannya terangkat untuk mengacak rambut Tiffany. “Aku tahu,”

Gadis itu mencubit pinggang Luhan dengan gemas, “Kau hanya mengatakan itu ?” tanya Tiffany sebelum memutar bola matanya—lagi, Luhan hanya terkekeh.

“Aku juga menyukaimu—lebih dari kau menyukaiku.”

Tiffany tersenyum lebar, memeluk leher Luhan dengan senang. Pria itu balas memeluknya. Merasa penuh saat tubuh kurus gadis itu kini ada dalam dekapannya. Memeluk Tiffany seperti ini—Luhan sadar betul, Tiffany adalah miliknya, dan memilikinya berarti menjaganya. Bahkan sampai kapanpun, Luhan berjanji tidak akan pernah melepaskan tangan Tiffany.

“Tapi aku jauh—jauh—jauh—jauh lebih menyukaimu,” Tiffany melonggarkan pelukannya, menatap wajah Luhan yang kini sangat dekat.

Luhan menatap dalam sepasang mata indah milik gadis itu, kemudian mencium kilas bibirnya, “Kau salah –aku lebih—lebih—lebih menyukaimu.”

Tiffany melepaskan pelukannya, menatap Luhan tidak mau kalah. “Tidak, aku jauh lebih menyukaimu—lebih dalam dari pada lautan manapun di muka bumi ini.”

Luhan merenggut, mendelik canda pada Tiffany. “Tidak, rasa sukaku padamu bahkan lebih luas dari pada alam semesta ini.”

Tiffany mulai merasa sebal—Tiffany memang tidak pernah ingin kalah dalam berargumentasi. “Rasa sukaku lebih banyak dari pada bintang-bintang di angkasa.”

Luhan menggelengkan kepalanya, “Aku bahkan lebih banyak dari pada air hujan yang turun ke muka bumi.”

Tiffany memutar bola matanya, menatap Luhan kesal. “Aku jauh lebih menyukaimu!”

Luhan memang suka menjahili gadis itu, jadi pria itu hanya menggeleng lagi. “Aku lebih menyukaimu!”

“Ah kau ini !”

Luhan tertawa keras, menikmati ekspresi kesal di wajah gadis itu. Kemudian Luhan menarik Tiffany dalam pelukannya lagi, kali ini dengan sebuah senyuman bahagia yang saat dulu sangat sulit ditunjukkannya. “Siapapun yang lebih menyukai, bukanlah hal penting—asalkan kita selalu bersama—itu artinya kita sangat-sangat menyukai satu sama lain. Aku menyukaimu, begitupun kau.” Luhan menarik Tiffany dari pelukannya, gadis itu hanya menatapnya polos. “Aku menyukaimu, kau juga menyukaiku. Jadi mari kita lihat, apa masalahnya kali ini ?”

Gadis itu berpikir singkat, kemudian mengangguk dan tersenyum lebar—menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ah, belakangan ini aku jadi sedikit kekanakan. Maafkan aku—”

Luhan tertawa lagi, kemudian kembali memeluk Tiffany erat. “Tidak apa—toh aku juga tetap suka.”

Tiffany tersenyum, mengeratkan pelukannya dengan Luhan. Apapun yang ada di dunia ini bahkan tidak bisa mengungkapkan betapa bahagianya mereka saat ini.

“Oh, aku salah masuk.”

Keduanya melepaskan pelukan saat sebuah suara menggena di ruang latihan itu. Berdiri disana Kim Taeyeon dengan kaca mata burung hantu yang nyaris jatuh di pelupuk matanya. Gadis mungil itu hendak kembali menutup pintunya, tapi Tiffany berdiri dan merapikan baju tutunya.

“Tidak apa—kami sudah selesai.” Jawab Tiffany dengan sebuah cengiran garing. Taeyeon menatap gadis itu dengan malas kemudian melangkah masuk dengan dua kantung plastik di tangannya.

“Melihat kau tersenyum seperti tadi aku pikir kau tidak lapar—jadi makanannya untuk aku saja.” Taeyeon bergumam rendah seraya mengeluarkan makanan-makanan dari dalam kantung. Luhan mencairkan suasana dengan membantu gadis itu mengeluarkan makanan-makanannya.

“Ah apa maksudmu—aku lapar, sekali—” sanggah Tiffany dengan senyuman kecil, gadis itu kembali duduk di samping Luhan. Memperhatikan pria itu membuka beberapa bungkus makanan.

“Aku akan makan diluar, takutnya nanti aku muntah karena melihat kalian saling menyuapi atau semacamnya.” Taeyeon kembali berdiri dengan beberapa makanan, membuat kedua insan yang diajak bicaranya menengadah.

“Ah Unnie, kau ini apa-apaan?” Tiffany bertanya jengah, dan Taeyeon hanya memeletkan lidahnya seraya berjalan pergi.

Luhan terkekeh lagi, menyerahkan makanan pada Tiffany. “Dia memang sedikit tidak ramah ya ?”

Tiffany menarik nafas pelan, “Dia hanya iri karena kekasihnya berada di tempat yang jauh. ”

“Memangnya dimana ?”

“Baekhyun Oppa bekerja di China—mereka bertemu dua bulan sekali atau mungkin tiga, atau empat, atau lima, atau—”

“Ya—ya baiklah aku mengerti, sekarang makan makananmu.”

Tiffany tertawa menatap kekasihnya, kemudian memiringkan kepalanya untuk menatap Luhan. “Tapi kau tidak akan menyuapiku makan seperti yang Taeyeon katakan ?”

Luhan mendelik seraya mengacak rambut Tiffany, “Makanlah dengan bahagia, dan jadilah wanita dewasa eoh ?”

Tiffany tertawa lagi, menatap Luhan yang kini mulai memakan makanannya, gadis itu menyenggol perut Luhan dengan sikunya yang tajam, “Kau benar-benar tidak akan menyuapiku ?”

Luhan mendesah dengan mulut penuh makanan, kemudian bergumam tidak jelas sembari memasukkan sesendok makanan kedalam mulut Tiffany.

“Dasar kepala batu.”

“Tapi setidaknya aku cantik.”

“Ya, terserah padamu.”

“Tapi kau benar-benar hanya menyuapiku satu suap saja ?”

“Ya tuhan, bisakah kau makan dengan tenang ?”

 

Ballerina.

 

Malam ini mereka pergi berkencan—seperti pasangan lainnya, pergi ke bioskop, bersepeda malam, membeli pojang, dan masih banyak lagi. Tiffany sejatinya adalah gadis yang manja. Luhan tahu itu setelah selama ini mengenalnya, perlahan-lahan Tiffany menunjukkan sikap tersembunyinya. Seperti selalu tertawa untuk hal-hal kecil, memeluk lengan Luhan, merengek, jahil dan masih banyak lagi.

Dan Luhan tidak pernah kecewa. Baginya, Tiffany adalah Tiffany—Ballerina yang telah mencuri gravitasi hidupnya. Pria itu tahu jelas, semenjak dirinya bertemu dengan Tiffany—selalu ada yang baru setiap harinya. Seperti Tiffany yang merengek ingin sebuket bunga lili, Tiffany yang membuatnya seperti orang bingung karena bersembunyi di balik wc wanita atau Tiffany yang membuatnya terkejut setengah mati karena gadis itu berpura-pura pingsan atau semacamnya.

“Luhan aku ingin baju pasangan.” Tiffany berujar sembari menunjuk sebuah toko dengan lampu kelap-kelip pada bannernya.

“Baiklah, apapun keinginanmu tuan putri.”

Tiffany menepuk pundak pria itu pelan, “Kau hanya perlu diam—aku yang akan memilih bajunya, memangnya kau tahu apa tentang fashion ?” Tiffany berucap sembari berjalan mendahuli Luhan.

Pria itu mencelos, mulutnya menganga dan tangannya bergerak-gerak memanggil Tiffany. “Ya!! Apa kau bilang tadi ! Ya!!” Pria itu berlari menyusul Tiffany dengan sebuah senyuman kecil. “Apa tadi dia bilang ? aku tidak tahu apa-apa soal fashion ? awas saja kau !”

.

.

.

Tiffany tersenyum senang, menatap pantulan tubuhnya pada cermin besar. Jika sejatinya Tiffany bertingkah seperti gadis kecil dengan manisan di tangannya, berbedan dengan Luhan—Pria itu menatap pantulan tubuhnya dengan ngeri.

“Ini bagus Luhan, percaya padaku—”

Luhan memutar bola matanya, menatap Tiffany tidak percaya. “Apapun memang bagus, tapi mengapa harus warna pink ?”

Tiffany menyipitkan matanya, menatap Luhan dengan senang. “Pink itu gayaku.”

“Tapi itu bukan gayaku.” Luhan berujar frustasi dan Tiffany lagi-lagi hanya menepuk pundaknya.

“Percaya padaku, kau bahkan terlihat sangat tampan saat ini. Pretty Boy.”

Luhan menggerak-gerakan mulutnya tidak jelas, dan Tiffany membungkam gerakan itu dengan tangannya. “Ssst.. sudahlah, sekarang ayo kita pergi.”

Luhan mendesah lagi, dan Tiffany tidak hentinya meyakinkan pria itu. Walau memang sebenarnya Tiffany juga ingin tertawa melihat pria itu gelisah.

“Percaya padaku kau akan baik-baik saja dengan baju ini.”

Keduanya berceloteh singkat, Luhan akhirnya pasrah saja dan membiarkan semuanya sesuai keinginan Tiffany. Pria itu menganggukkan kepalanya dan menjawab apapun yang ditanyakan Tiffany. Sesekali pria tu juga menatap was-was kesekeliling, takut-takut ada Jongin atau yang lainnya melihat dirinya memakai baju berwarna pink seperti ini. Bisa-bisa Luhan di tertawakan hingga mati jika teman-teman bodohnya itu tahu.

Luhan mengenggam tangan Tiffany, gadis itu hanya tersenyum cerah dan kembali berjalan. Luhan memang selalu melihat kesekeliling—tapi kali ini pandangannya tertahan pada seorang gadis. Gadis berambut pendek itu sangat tidak asing di mata Luhan. Luhan kenal jelas itu adalah Liu Fang. Masalahnya, kini Liu Fang tengah merondang kesana-kemari di atas rumput taman yang basah. Sepertinya gadis itu kehilangan sesuatu dan sepertinya sangat kesulitan dengan mata yang tidak bisa melihat seperti itu.

Luhan bingung, antara tetap menggenggam tangan Tiffany atau menolong gadis itu. Tapi melihat Liu Fang seperti itu benar-benar membuat Luhan menderita, jadi—pria itu melepaskan genggamannya dan menatap Tiffany penuh maaf.

“Bisakah kau tunggu disini sebentar ?”

Tiffany membulatkan matanya, “Apa ? baiklah—aku akan menunggu disini.”

Luhan berlari saat Tiffany menganggukan kepalanya, gadis cantik itu berjalan pada bibi tua yang duduk diam menunggui beberapa pernak-pernik yang dijualnya. Luhan berlari, lalu berhenti saat tubuhnya sudah tepat di hadapan gadis itu. Luhan membungkukkan badannya, menatap Liu Fang dengan nanar.

“Liu Fang ?”

Gadis itu berhenti bergerak, matanya yang tidak berfungsi menatap Luhan dengan kosong. “A—apa ini Luhan ?”

Pria itua mengangguk, walaupun dirinya sadar Liu Fang tidak akan pernah tahu. “Ya.”

Gadis itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan, kemudian berusaha menyentuh wajah pria itu. “B—benarkah ?”

Luhan menahan tangannya yang bergetar, Liu Fang menangis, terus menangis saat indera perabanya memberikan konfirmasi bahwa wajah itu benar-benar wajah pria yang dirindukannya.

“Kau sedang apa ?” Luhan bertanya pelan, menatap Liu Fang dengan sendu.

“Kalungku hilang, bisakah kau mencarinya ?”

Luhan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu merenggut sedih saat ternyata kalung itu bergelung dekat dengan kaki Liu Fang sendiri, pria itu meraih kalung itu dengan gemetar.

“Aku menemukannya—”

Liu Fang tersenyum, “Terimakasih, bisakah kau memakaikannya ?” Pria yang ditanya tidak menjawab, merasakan bingung yang luar biasa mengganggu pikirannya. Liu Fang tampaknya mengerti dengan kesunyian yang ditemuinya, gadis itu tersenyum lagi. “Tidak apa, berikan saja padaku.”

Luhan menyerahkan kalung itu pada Liu Fang, melihat Liu Fang seperti ini benar-benar membuat hatinya hancur.

“Terimakasih Luhan.”

Luhan menatap gadis itu bingung, “Untuk apa ?”

 “Untuk menepati janjimu—janji bahwa kau akan menjadi mata untukku.”

Pria itu terdiam, demi apapun merasakan sesak di dadanya, mengingat kejadian di masa lalu itu berarti kembali membuka perban yang selama ini membungkus luka di hatinya. Dan kini, luka itu kembali terbuka –setelah sekian tahun.

“Aku harus pulang, bisakah kau mengantarkan aku pulang ?”

Luhan kembali membelalakan matanya, perasaan bingung itu kini benar –benar mengganggunya. Satu sisi Liu Fang yang buta karena dirinya membutuhkan dirinya, satu sisi Tiffany sedang menunggu dirinya saat ini.

“Aku tidak bisa pulang sendirian, ” Liu Fang menegaskan itu pada Luhan. Membuat Luhan bimbang setengah mati.

“Baiklah, aku akan mengantarmu. Bukankah itu tidak akan lama ?”

Liu Fang tidak bisa menutupi kegembiraannya—gadis itu tersenyum lebar dan bangkit untuk berdiri. “Ya, itu tidak akan lama.”

Luhan mendesah pelan, merasakan sesak pada kondisi yang di hadapinya saat ini. Tiffany tunggulah, ini hanya sebentar.

“Ayo.” Liu Fang menggandeng tangan Luhan. Membuat Luhan kembali tertegun, lagi pula mana mungkin Luhan menepis tangan gadis yang buta karena dirinya ?

 

Ballerina.

 

Xi Luhan menghentikkan gerak kakinya yang terlampau cepat. Pria itu menatap singkat arloji perak yang melekat di pergelangan kirinya. Luhan mendesah—ini sudah tiga puluh menit semenjak Luhan meninggalkan Tiffany, dan kini gadis itu tidak ada dimanapun. Benar-benar tidak ada.

Pria itu bingung—antara ingin menangis dan kembali berlari untuk mencari gadis itu. Perlahan-lahan perasaan gelisah menggerayapi tubuhnya, membuat jantunya bertalu dan pria itu mulai merasakan penyesalan dalam benaknya,

Seharusnya aku tidak meninggalkan Tiffany sendirian.

Luhan meringgis singkat saat panggilannya tidak terhubung pada Tiffany. Pria itu semakin khawatir—walaupun tidak mungkin Tiffany sedang menangis karena tidak tahu jalan pulang. Tetap saja, Luhan merasa bersalah.

Seharusnya aku tetap menggenggam tangan Tiffany.

Luhan menerawang jauh pada toko-toko pakaian yang berjajar layaknya tentara, pria itu kembali menghubungi Tiffany dan kemudian bisa mendesah lega saat gadis itu pada akhirnya mengangkat teleponnya.

“Tiffany kau dimana ?” Luhan segera menyerang dengan cepat. Terdengar beberapa keributan di ujung telepon, namun Tiffany sepertinya segera menjauhkan diri dari tempat yang di diaminya saat itu.

“Ya—halo Luhan, tunggu sebentar—yah, ini ribut sekali.”

“Kau dimana ?”

“Ha ? Oh, aku ada di toko kosmetik—di seberang cafe. Kau dimana ?”

Luhan menggerak-gerakkan kepalanya untuk mencari café yang dimaksudkan gadis itu, lalu menelan air liurnya, “Aku kesana.”

Pria itu berlari lagi—seolah kakinya memiliki kemampuan lebih untuk melakukan hal itu. Beberapa wanita keluar dengan beberapa kantung berwarna-warni. Pria itu menatap jauh ke dalam toko—ya, gadis itu disana. Menatap beberapa etalase dengan wajah berpikir. Melihat ekspresi gadis itu Luhan jadi ingin tertawa. Sebelumnya Luhan sempat berpikir saat ini Tiffany sedang menggerutu kesal dan akan memarahinya karena pergi terlalu lama. Tapi apa ini ? gadis itu disana, dengan perhatian yang sepenuhnya tertuju pada kosmetik-kosmetik yang tidak pernah Luhan mengerti apa namanya.

Luhan melangkahkan kakinya—perlahan—perlahan, dan semakin cepat.

Dalam sekali gerakan, pria itu memeluk Tiffany. Membuat gadis itu terhenyak kaget dan membelalakan matanya. Luhan memeluknya erat—dan semakin erat lagi, seolah berusaha mengutarakan betapa dirinya tidak suka jika Tiffany jauh-jauh darinya.

Gadis itu menggeliat pelan, berusaha menengadahkan kepalanya untuk menatap Luhan. Mata keduanya bertemu, gadis itu menunjukkan ekspresi bingungnya. “L—luhan ? ada apa ?”

Luhan tersenyum kecil, kembali mengeratkan pelukannya dan lagi-lagi Tiffany hanya menggeliat pelan untuk melonggarkan pelukan mereka. Gadis itu menatap jengah pada beberapa orang yang memperhatikan mereka, lalu tersenyum aneh. “T—tapi Luhan ini sedikit berlebihan,” gadis itu mendorong pelan dada Luhan—tapi Luhan mengeratkannya lagi. “Kau tahu mereka semua melihat kita,” Tiffany berucap lewat sela-sela giginya. Luhan hanya tersenyum.

“Maafkan aku.”

Tiffany menatap kekasihnya dengan bingung. “Untuk apa ? Oh—tapi kumohon, lepaskan dulu ini.” Kali ini Tiffany bergerak lumayan keras—sepenuhnya membuat Luhan melepaskan pelukannya. Pria itu merenggut. “Apa ? mengapa kau berekspresi seperti itu? ”

Kemudian pria itu terkekeh, hendak memeluk lagi tapi Tiffany menahan tangannya. “Aku hanya merindukanmu.”

Gadis itu memerah sepenuhnya, antara tersanjung oleh ucapan pria itu dan rasa malu karena kini mereka menjadi pusat perhatian. “A—apa yang kau katakan? A—aku hanya membeli beberapa kosmetik dan—”

“Dan karena itu aku sangat merindukanmu.” Potong Luhan dengan senyuman lebar di bibirnya. Pria itu mengedarkan pandangannya, menaikkan alisnya saat menyadari mereka benar-beanr menjadi pusat perhatian. “Dan aku minta maaf karena membuatmu menunggu lama.” Kali ini Luhan berbisik, Tiffany hanya menatapnya dalam.

“Tidak apa-apa. Lagi pula aku juga tidak begitu menyadari berapa lama kau pergi.” Jawab Tiffany seraya menaikkan kedua bahunya acuh. Gadis itu membuang wajahnya dari Luhan, menatap kembali pada etalase untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Kau mau aku menunggumu disini atau diluar ?” Tanya Luhan berusaha menatap wajah Tiffany—gadis itu menoleh.

“Well. Aku lebih suka kau menunggu diluar, kecuali jika kau ingin membeli beberapa kosmetik tentu saja.”

Luhan terkekeh, kemudian menganggukan kepalanya. “Oh, tidak terimakasih.” Pria itu berbalik, kemudian kembali berjalan keluar. Tiffany mencuri pandang melalui ekor matanya, entah kenapa jantungnya masih berpacu dengan cepat—sangat cepat.

Gadis itu menelan air liurnya, kembali menatap etalase seperti sebelumnya.

Seorang pegawai mendekati Tiffany, tersenyum lebar dan menyerahkan kantung pada Tiffany. “Ini –terimakasih sudah membeli,dan—” pegawai itu menatap punggung Luhan yang kini bersandar pada dinding kaca toko itu. “Apa dia kekasihmu ?”Tiffany menolehkan kepalanya kebelakang—mendapati Luhan berada disana. Gadis itu kembali bersemu merah, antara menjawab jujur dan berkilah. “Kalian sangat serasi, dan pria itu juga sangat romantis—selamat atas hubungan kalian.”

Tiffany tergagap di tempat, mengerjapkan matanya berkali-kali karena gugup. Gadis cantik itu membungkukkan badanya singkat, lalu berbalik pergi.

Oh tidak—pipiku merah.

Ballerina.

 

Tiffany terdiam di balik pinu. Menikmati degup jantungnya yang bertalu-talu. Gadis itu kembali menarik nafas berat untuk kesekian kalinya. Namun rasa sesak di dadanya tidak kunjung menghilang.

Gadis itu menyentuh daun pintu dengan keraguan yang tidak dapat di sembunyikan. Perlahan memaksakan tangannya yang gemetar untuk segera membuka pintu.

“Tenanglah.”

Gadis itu menoleh, mendapati Nickhun ada disana. Pria tampan itu berdiri dengan percaya diri—selalu seperti biasanya. Rambut yang tertata rapi dan sebuah senyuman menenangkan.

“Dokter..”

Nickhun melangkahkan kakinya untuk mendekat, senyuman itu tidak pernah hilang dari bibirnya. “Tidak perlu gugup—berapa kali aku harus mengatakannya padamu.”

Tiffany tersenyum kecil, membalas tatapan lembut pria itu dengan sebuah tatapan nanar yang sendu. “Aku hanya takut—saat ibu tidak mengenaliku atau tidak menganggapku, aku selalu merasa tidak punya siapa-siapa.”

“Dia mengenalmu, dia menganggapmu—dia hanya sulit mengutarakannya. Dia ibumu—jadi percayalah padanya.”

Gadis itu tertunduk, menatap sepatunya dengan hampa. Setelah cukup berpikir, Tiffany mengangkat kepalanya, menatap Nickhun dengan percaya. “Baiklah. Aku akan masuk.”

Nickhun mengangguk, menatap Tiffany yang perlahan-lahan membuka pintunya.

Tiffany melangkah masuk, sepelan mungkin kembali menutup pintu. Gadis itu menatap sosok paruh baya di dekat jendela. Ibunya disana—rambut yang mengembang dan tangan yang mulai sedikit berkerut. Ibunya duduk di dekat jendela—selalu seperti itu, menerawang keluar jendela.

Gadis itu mendekat—kali ini langkahnya sedikit diberi nyata agar ibu bisa mendengarnya—dan menyadari keberadaan dirinya.

Sosok tua itu sama sekali tidak menoleh. Dan Tiffany merasakan rasa sakit abadi itu mulai menjalarinya.

“Ibu ?”

Tidak ada yang menjawab—hanya suara bising kendaraan di bawah sana. Tiffany menatap punggung ibunya dengan sendu, kembali melangkahkan kakinya untuk mendekat.

“Ibu aku datang—”

Sama seperti sebelumnya—tidak ada jawaban. Gadis itu membuang nafas berat, perlahan mengangkat tangannya untuk menyentuh pundak ibunya. Tangannya bergetar—tapi hatinya lebih dari sekedar itu. Rasa penolakan yang ditakutinya adalah salah satu penyebabnya.

Pundak ibunya dingin—dan Tiffany merasakan itu lewat tangannya yang hangat. Gadis itu tersenyum getir, membuka jaket putih yang dipakainya dengan pelan. Tiffany menyampirkannya pada bahu sang ibu, kemudian mengusap-usap dengan tangannya.

“Ibu kau kedinginan, apa ibu ingin aku memelukmu ?”

Walaupun tidak ada jawaban, Tiffany lebih suka menjawabnya sendiri. Jadi gadis itu merunduk—memeluk tubuh ringkih ibunya dengan sayang. Gadis itu memeluknya semakin erat—dalam hati meraung-raung betapa dirinya merindukan sang ibu.

“Ibu—” suara gadis itu mulai bergetar, dan Tiffany tidak bisa menahan air matanya lagi. “Ibu aku merindukanmu—tidak peduli apapun selain itu, aku merindukan ibu.” Gadis itu mulai terisak, perlahan menenggelamkan kepalanya pada leher sang ibu. “Ibu aku tahu kau mendengarkanku, ibu dengarlah—aku mencintai ibu. Sampai kapanpun itu aku tetap mencintai ibu. Jadi, kumohon tetaplah seperti ini, menjadi ibuku yang seutuhnya. Aku tidak akan menuntutmu untuk kembali seperti semula, karena—” gadis itu terhenti ditengah isakannya. “karena asalkan kau tetap ada di sisiku, aku tidak masalah. Aku hanya ingin bersama ibu—aku tidak ingin ibu meninggalkanku.”

Tiffany menarik kepalanya, mengusap bahu ibunya dengan tangan sebelah kiri. “Jadi kumohon, jangan katakan kau bukan ibuku atau aku bukan anakmu lagi. Karena itu—karena itu melukaiku ibu.”

Detik selanjutnya yang terdengar hanya tangisan Tiffany, gadis itu terus menangis dan menangis. Ibunya tetap diam, menatap kosong pada jendela—seolah Tiffany tidak pernah ada.

Gadis cantik itu menguatkan hatinya, kembali berdiri tegak dan menghapus asal air matanya. “Baiklah—aku harus pulang bu. Ibu baik-baiklah disini. Aku pergi.”

Tiffany berbalik, melangkahkan kakinya yang terasa semakin berat saking tidak inginnya dirinya  meninggalkan sang ibu. Pintu terbuka, dan Tiffany menghilang di balik pintu.

Detik berganti menit. Ibu mulai beranjak dari duduknya, menatap jendela kaca dengan tatapan kosongnya. Tapi kali ini berbeda—ibu menangis, menangis dengan tatapan kosong itu. Bahunya bergetar, kemudian ibu terus menangis. Memeluk jaket Tiffany yang sengaja gadis itu tanggalkan untuk ibunya.

Ballerina.

 

Tiffany masih dalam keadaan sedih. Jadi dirinya hanya berjalan dengan kepala tertunduk. Gadis dengan rambut tergerai panjang itu baru saja keluar dari gerbang rumah sakit yang menjulang tinggi. Kemudian hatinya kembali ngilu mengingat ibu tidak mengatakan apapun hari ini.

Gadis itu hendak melangkah lagi—tapi kemudian tertahan saat sepatu lain tinggal di dekatnya. Tiffany mencari pusatnya, dan kemudian mendapati mataharinya ada disana.Luhan berdiri disana—menatap Tiffany dengan gelisah. Gadis jelita itu tersenyum kecil, kemudian menunduk lagi untuk menyembunyikan wajah sembabnya.

“Tiffany—kau bisa mengatakan semuanya padaku. Kau tahu, aku selalu ada untukmu jadi—kumohon katakan semuanya padaku.”

Tiffany mengangkat kepalanya—kemudian menangis lagi mendapati Luhan tengah menatapnya khawatir, gadis itu memeluk Luhan dalam sekali gerakan, membenamkan wajahnya disana dan menangis sekeras-kerasnya. Luhan tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, pria itu mengusap punggung Tiffany dengan pelan.

.

.

.

“Ayah meninggal saat aku masih tingkat dua SMA.” Tiffany membuka pembicaraan, menatap Luhan yang kini duduk di hadapannya. Semilir angin sore menggelitik keduanya, namun ada sesuatu yang harus satu sama lain sampaikan—dan itu tidak membuat mereka urung untuk bicara.

“Ayah adalah segalanya bagiku. Ayah—adalah pahlawanku. Sosok bijaksana yang rela berjalan kaki di tengah malam hanya untuk mencarikan aku beberapa buku pelajaran.” Gadis itu tidak menatap Luhan, hanya menatap dua cangkir teh yang kini asapnya mengepul di sekitar meja. “Ayah sangat dekat denganku, juga ibu—sebenarnya kami sangat dekat satu sama lain. Aku, ayah, dan ibu—tidak akan lengkap jika salah satunya tidak ada. ”

Kali ini Luhan mengangguk, berusaha menjadi pendengar yang baik untuk kekasihnya dan kemudian Tiffany berdehem pelan. “Ayah adalah seorang detektif. Inspektur Hwang yang selalu jujur apapun yang terjadi.” Tiffany kembali mengingat sosok ayahnya yang memarahi Tiffany kecil karena gadis itu berbohong. “Saat itu ayah menerima tugas penting. Mengenai penyelundupan illegal dari suatu kapal. Ayah tidak pulang selama berhari-hari, menghabiskan waktunya dengan duduk diam di dalam mobil dekat pelabuhan. Ayah meneleponku tiga jam sekali, menanyakan kabar kami dan mengatakan bahwa dirinya sangat merindukan kami.” Tiffany mulai menangis, menceritakan itu berarti kembali memuka lubang di hatinya. “Tapi hari itu ayah sama sekali tidak menelepon. Paginya ayah bilang  bahwa itu adalah hari terakhir untuk waktu melelahkannya, dia bilang saat semuanya selesai ayah akan pulang dan makan bersama kami lagi. Tapi kemudian aku tidak mendengar kabar apapun. Ayah tidak menelepon dan aku menangis seharian, ” gadis itu menenangkan suaranya yang semakin bergetar—tangannya gemetaran namun Tiffany tidak menghiraukannya. “Lalu ibu menerima telepon—mereka bilang ayah meninggal karena tertembak saat penyergapan terjadi. Mereka bilang ayah sempat koma, namun meninggal saat di perjalanan, mereka bilang—mereka bilang ayah sudah meninggal sejak satu jam yang lalu.” Tiffany menatap Luhan dengan mata yang berlinang—pria itu balas menatap dengan nanar. “Ayah tidak pernah menghubungiku semenjak saat itu—dan aku selalu menunggu ayah meneleponku, menepati janjinya untuk pulang ke rumah dan makan bersama kami lagi.”

Terjadi keheningan untuk semantara, dan Tiffany menangis lebih hebat. “Lalu kemudian semuanya bertambah buruk—ibu tidak mau makan dan menolak berbicara. Ibu selalu mengamuk dan menghancurkan barang-barang. Ibu tidak mau menatapku atau siapapun itu.” Tiffany menyampirkan sebelah rambutnya ke belakang telinga, kembali tertuduk menatap tangannya yang bergetar. “Lalu ibu di vonis mengalami gangguan jiwa—dan aku hanya sendirian di rumah. Sampai sekarang ibu belum pernah mengatakan apapun padaku selain kalimat aku bukan ibumu atau kau bukan anakku.”

Luhan bangkit dari duduknya, bergerak untuk memeluk Tiffany dan membawanya dalam dada. Tiffany menangis keras, meraung dan membasahi kemeja Luhan yang tipis. Pria itu juga menangis—namun tidak sesakit Tiffany. Pria itu mengerti betul, Tiffany –selama ini gadis itu sedang sakit hatinya.

“Para penyelundup itu—mereka dari mana ?”

Tiffany menjauhkan wajahnya dari dada Luhan, menatap pria itu dengan mata yang terlampau sedih. “Cina.”

 

Ballerina.

 

To be continued…

22 thoughts on “[Freelance] Ballerina (Chapter 4)

  1. ini kyaknya endingnya bkalan kagak happy end deh, liat genrenya angst trus liu fang comeback (?)😦
    lanjut thor yg cpet ya,#maksa
    berharap lufany terus maju, berasa kya pemilu,,hehe #abaikan..
    aku terus menanti ff mu thor,,hehe..keep writing ^^

  2. aigo aku kira tiffany akan marah dengan luhan yang meninggalkannya begitu lama eh malah asik milih milih kosmetik haha…

    Kasian bngt yah tiffany harus berjuang sendiri, punya ibu tpi tdk ingn mengakuinya, mudah mudahan luhan selalu menjaga fany..

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s