[Freelance] Story of EXOTaeng : My Someone Special (Chapter 3)

mss1

My someone special chapter 3

 

Author : RYN

Length : multichapter

Rating : PG 17            +

Main Cast :

@ Taeyeon SNSD

@ Kris EXO

Other Cast :

Find it by yourself

Genre : fantasy, romance

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

Warning typo bertebaran di mana-mana~

– – –

Taeyeon setengah hati membanting pintu mobil lalu berjalan masuk ke dalam cafe sambil bersungut kesal. mengabaikan ucapan Kris yang akan datang menjemputnya lagi sebelum ia benar-benar pergi dari tempat itu. Saat pertama membuka pintu kaca cafe, Yuri dan Sunny sudah memasang senyum lebar itu di wajah mereka. tidak perlu mencari tahu alasan mengapa mereka begitu sangat tidak biasa, keduanya mungkin telah melihat Kris yang tadi mengantarnya sampai di depan.

“sepertinya tadi itu mobil Kris. apa Kris yang mengantarmu?” Sunny sedikit berjingjit sambil melongokkan kepalanya menatap keluar kaca etalase cafe.

Taeyeon dengan malas menoleh, ikut melihat ke arah yang sama dengannya. Kris sudah tidak berada di tempat tadi saat ia menurunkannya.

“bukankah sudah jelas?” Taeyeon menjawabnya dengan ketus.  Sunny cemberut. Bukan itu jawaban yang di harapkannya.

Masih merungut kesal, Taeyeon mencoba mengabaikannya dan langsung masuk ke ruang ganti. Dia tahu seberapa penasarannya Sunny tentang hubungannya dengan Kris dan dia tidak menginginkan pertanyaan macam-macam Sunny nantinya akan menganggu moodnya. Tapi ketenangannya tidak berlangsung lama karena Sunny ternyata mengikutinya hingga ke dalam.

“kau bilang Kris bukan kekasihmu, tapi kulihat kalian akrab sekali.” Sunny tersenyum menggodanya. tapi detik selanjutnya, wajahnya berubah cemberut. “kenapa kau tidak mengakuinya saja?”

Taeyeon tetap diam sembari mengganti bajunya. Dia masih kesal dengan Kris, terlebih lagi dia juga belum sempat memarahi vampir itu karena telah merebut ciuman pertamanya dan sekarang, Sunny datang padanya dan menuntut penjelasannya tentang hubungan mereka. Itu sama sekali tak membuatnya merasa lebih baik. gadis mana yang mau mengatakan kalau dirinya menjalin hubungan dengan makhluk penghisap darah? yah mereka memang menjalin hubungan tapi itu adalah hubungan sepihak yang di dasari oleh pemaksaan. Siapa yang bisa menjamin kalau makhluk bernama Kris itu tidak akan menggigitnya? Membayangkannya lagi membuat Taeyeon kembali bergidik ngeri. Tapi apakah dia punya pilihan lain? jawabannya tidak.

Sunny mengernyit, wajah Taeyeon tiba-tiba berubah pucat dan pandangan gadis itu nampak kosong.

“hei kau kenapa? kau baik-baik saja?” Sunny mencemaskannya.

Taeyeon hanya menggeleng.

“kau kelihatan pucat. Apa kau yakin baik-baik saja?” tanya Sunny lagi. masih cemas, Taeyeon tidak seperti biasanya.

“aku baik-baik saja.” Taeyeon memaksakan senyumnya.

Sunny menatapnya. dia tak begitu percaya, apa yang di lihatnya sepertinya tidak demikian. Ada sesuatu yang tidak baik-baik saja pada Taeyeon.

Taeyeon merasakan tatapan Sunny padanya, menarik nafasnya dalam-dalam lalu memutar tubuhnya menghadap sahabatnya. dia sudah menduga, Sunny pasti tidak akan membiarkannya begitu saja. “aku baik-baik saja. sungguh.” Ucapnya mantap.

Sunny awalnya masih ragu tapi begitu melihat senyum cerah Taeyeon padanya, dia ikut tersenyum.

“ok. tapi…” gadis itu melipat kedua tangannya menatap Taeyeon dengah rasa penasaran yang tinggi. “aku masih penasaran dengan satu hal.” Ujarnya serius.

“aku tidak ingin membicarakannya.” Taeyeon menyahut dengan ketus. Dia sudah bisa menangkap kemana arah pembicaraan Sunny selanjutnya.

“Taeyeon~aku ingin tahu~” dari tampang serius, Sunny kemudian memasang tampang memelas lengkap dengan aegyo andalannya.

Taeyeon melirik tasnya, mengabaikan Sunny sejenak. dia merutuk dalam hati mengingat apa yang terjadi di mobil Kris tadi. rasa sesal dan jengkel pada vampir itu masih menumpuk di dalam sana karena jawabannya. jika saja dia mengetahui sedikit saja tentang dunia vampir, ia tak akan repot-repot menyimpankan makanan untuknya.

Wajah Sunny cemberut, Taeyeon berlalu dari hadapannya tanpa menjawab ataupun mengatakan kalimat lainnya.

“kau pelit sekali.”

Ucapan Sunny menghentikan langkah Taeyeon. dia berbalik dan bertemu dengan raut kecewa Sunny.

“setidaknya kau memberitahuku. Aku tidak menyangka kau akan berbohong padaku. Aku merasa kau tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi.” Sunny mulai mengomentarinya dengan kalimat-kalimat yang sangat tidak masuk akal.

Taeyeon menjadi merasa bersalah. Sunny membuat wajahnya sesedih mungkin. gadis itu tahu, Taeyeon akan menyerah jika dia melakukan akting seperti itu. ini sudah terbukti puluhan kali. Taeyeon, meskipun dia sangat keras kepala, dia juga memiliki hati yang sangat lembut dan gampang merasa bersalah.

“Sunny…”

Sunny menggeleng, semakin berakting. “kau tetap tidak ingin memberitahuku?” tatapnya penuh harap.

Taeyeon menutup rapat bibirnya. apa yang harus ia jawab? Berbohong atau mengatakan yang sejujurnya? Akhirnya, setelah lama berdebat dengan pikirannya, dia pun memutuskan.

“aku dan Kris…” Sunny mengerjap-ngerjap, menanti dengan antusias kelanjutan kalimatnya. “kami..” Taeyeon menghela nafas pelan lalu berucap, “kami memang memiliki hubungan.”

Rasanya seperti beban berat yang terlepas perlahan-lahan dari pundaknya ketika mengucapkan kalimat itu. meskipun ia tak berniat untuk menceritakan semuanya, paling tidak ia lega karena tidak perlu lagi merasa bersalah berbohong pada sahabatnya.

Kedua bola mata Sunny berkedip berulang kali. Gadis itu terkejut. sangat. Taeyeon tersenyum malu, rona merah tampak samar-samar di kedua pipinya. hanya sedetik setelah pengakuannya itu keluar, Sunny langsung bersorak kegirangan.

“yay! Akhirnya kau mendapat kekasih juga!! Aku bangga padamu Taeyeon!!”

Taeyeon cukup terkejut dengan reaksinya. dengan kata-katanya yang blak-blakan seperti itu, dia bisa memastikan Sunny pasti mendukungnya 100%. Tepat seperti dugaannya. Di sisi lain, dia lega karena dengan begini Sunny tidak akan bertanya-tanya lagi tentang Kris. namun kemudian, apa yang dikiranya tidak akan terjadi, malah terjadi. Sunny semakin menjadi. Tentu saja, ini adalah Sunny. Mana mungkin ia akan puas dengan hanya pengakuan singkat seperti itu.

“sejak kapan? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?”

“bagaimana kalau kita mengerjakan pekerjaan kita sekarang sebelum Yuri unni marah?” sindir Taeyeon.

“tapi aku sungguh-sungguh ingin tahu~beritahu aku Taeyeon~”

“Kau tahu sendiri aku tidak berbakat mendongeng.” Taeyeon menjawab dengan setengah bercanda sebelum meninggalkannya.

Sunny menggembungkan pipinya, dengan langkah berat ikut keluar bersamanya. Taeyeon hanya tersenyum keli melihatnya. terkadang, Sunny bisa sangat lucu jika rasa ingin tahunya tak terpenuhi.

– – –

“kau darimana saja?”

Suara yang sangat familiar terdengar begitu Kris melangkahkan kakinya memasuki ruangan di depannya. sebuah ruangan yang berada tepat di ujung koridor. Tidak berbeda dengan ruangan lainnya, ruangan itu pun tak begitu terang, tidak pula begitu gelap. Beberapa lilin yang di pakai sebagai penerang ruangan, sudah tersusun rapi di atas sebuah meja bundar besar di tengah ruangan. ruangan yang cukup luas itu pun nampak remang-remang dan terkadang terlihat menakutkan jika saja yang tinggal di puri itu bukan jenis immortal seperti Kris dan keluarganya.

Tidak jauh dari pintu, seorang pria dengan wajah yang tenang, tengah duduk di sofa hitam sambil memandang ke arahnya. seorangnya lagi berdiri sembari melipat tangannya, bersandar pada kosen jendela yang tertutup rapat oleh tirai beludru berwarna biru pekat. Mengabaikan tatapan kedua orang itu juga pertanyaan yang terlontar untuknya, Kris berjalan ke salah satu sudut lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa merah yang ada disana. matanya seketika terpejam seolah memberi isyarat kalau ia sedang tak ingin diganggu oleh siapapun meski itu kedua saudaranya.

“kau ke dunia manusia lagi.” kali ini bukan kalimat pertanyaan, lebih tepat sebuah pernyataan jelas yang mau tak mau membuat Kris otomatis membuka matanya. saudaranya tertuanya itu tersenyum senang karena berhasil meraih perhatiannya.

Ekspresi Kris tetap datar menanggapi komentarnya. Tindakan saudaranya untuk memintanya kembali lewat bantuan beberapa pengawal, masih membuatnya marah dan dia tak berniat memaafkan mereka begitu saja.

Helaan nafas panjang kemudian lolos dari mulut pria itu melihat reaksinya. niatnya untuk menggodanya hilang seiring dengan tatapan dingin Kris padanya.

“kau tidak seharusnya memperlakukan ‘mereka’ seperti itu. mereka hanya mengikuti perintah.”

“aku tahu.” Kris menyahut dengan dingin. raut wajahnya tidak melunak. matanya berkilat tajam, pandangannya yang tadinya dingin berubah menjadi pandangan marah yang tertahan. tidak tanggung-tanggung, setiap kali dia melakukannya, melihat orang dengan tatapan menakutkan seperti itu, siapapun akan merinding melihatnya termasuk kedua saudaranya. keduanya terkadang merasa ngeri dengan kekuatan besar yang tersembunyi dalam dirinya. aneh memang, meski keduanya adalah saudara tertuanya, itu tak menjamin mereka lebih kuat darinya. Kris, hanya dengan tatapannya saja sudah bisa membuat orang mati ketakutan. Kedua saudaranya mengkhawatirkannya jika suatu saat Kris tidak bisa mengendalikan kekuatannya sendiri.

“aku tidak ingin hyung atau siapapun menghalangiku.” Kris menambahkan. Suaranya jelas dan tegas, penuh nada peringatan di dalamnya.

“ck, keras kepala seperti biasanya.” pria yang berdiri disana itu pun akhirnya bersuara. ia berbicara dengan santai namun nada dingin dari suaranya terdengar sangat jelas. tapi itu tak membuat Kris terpengaruh.

Kris hanya tersenyum dingin atas kalimat sinisnya. Kedua kakaknya mengirim orang untuk mengawasinya, hal itu membuatnya marah pada keduanya.

“ayah tidak akan suka jika dia tahu kau ke dunia manusia. lagi.” saudara tertuanya yang pertama kali berbicara dengannya tadi kembali berujar dengan tenang.

Kris menatap lurus ke arahnya, ekspresi wajahnya tetap sama. Dingin. “kita memang berada di dunia manusia.”

“kita berdua tahu bukan itu yang ku maksud.” Pria itu menggeleng lalu tersenyum.

Kris mengepal kuat tangannya. Rahangnya mengeras, aura gelap terpancar dari wajahnya. melihat bagaimana reaksinya, saudaranya masih tersenyum tetap tenang, seolah tak terintimidasi dengan perubahannya.  Dia sangat tahu bagaimana kerasnya adiknya jika sudah menginginkan sesuatu. apapun yang mereka katakan padanya tak akan berarti apa-apa. meski demikian, mereka tak bisa membantu banyak untuk mewujudkannya karena mereka tak sepertinya. Kris adalah satu-satunya orang yang berani melawan perintah ayah mereka.

“kau menemui gadis manusia itu lagi.”

“itu bukan urusanmu hyung!” geram Kris sambil memberikan tatapan tajam ke arah pria yang tadinya bersandar di dekat jendela.

Sebelum suasana dalam ruangan semakin menegang, sebuah ketukan pelan di pintu berhasil membuat ketiganya teralih. Pintu terbuka menampakkan seorang pria berwajah pucat dengan pakaian serba hitam yang perlahan memasuki ruangan itu. Kris mengenalinya. Dia adalah pria yang di perintahkan oleh kedua saudaranya. tubuh pria itu seketika menegang dan ia langsung menundukkan kepalanya begitu menyadari kehadiran Kris. dia merasa terintimidasi dengan tatapan Kris padanya. takut dan gelisah sekaligus menyelimutinya.

Kedua saudaranya hanya diam memperhatikan Kris yang sibuk melayangkan laser lewat tatapannya pada pria itu sementara dia terus menunduk takut. tidak banyak yang bisa mereka lakukan jika Kris sudah seperti itu.

“Kris kau bisa melobangi kepalanya jika kau terus menatapnya seperti itu.” ujar saudaranya setengah bercanda. Dia melihat pria itu dengan perasaan kasihan. tidak seharusnya Kris menakutinya dengan hampir membunuhnya.

“katakan apa yang ingin kau sampaikan dan keluar dari sini secepatnya.” Kris menatap pria itu dengan geram.

Pria itu menunduk hormat sekali lagi. “yang mulia ratu ingin bertemu dengan anda.” Ucapnya hati-hati.

Tanpa menunggu pria itu keluar dari ruangan, Kris seketika lenyap dari hadapan mereka. jelas dia pasti segera ke kamar ibunya.

Sepanjang jalan yang Kris lewati tak luput dari perhatian beberapa pasang mata yang setiap saat menunduk hormat padanya. pemandangan ini sudah menjadi aktifitas rutin setiap hari. Setiap kali Kris lewat di depan mereka, mereka tak pernah bosan diam-diam meliriknya hanya untuk

sekedar melihat sosoknya meskipun kepala mereka tengah menunduk. Siapa yang akan tahan jika hampir seluruh pelayan itu terdiri dari beberapa gadis-gadis muda yang masih labil dan gampang tertarik pada pria yang memiliki fisik yang mendekati sempurna? dan para pelayan muda itu menaruh perhatian padanya.

Siapa yang tidak? di anugrahi wajah yang sangat tampan, postur tubuh yang tinggi nan atletis, rahang yang kokoh, alis yang tebal, bibir merah yang membuat siapapun berharap ingin merasakan ciumannya, dan terakhir, kedua mata icy bluenya yang begitu tajam sekaligus sangat menarik. Semuanya sangat sempurna. Semua orang di dalam puri itu mengakui, Kris adalah vampir yang paling tampan yang pernah mereka temui dan mereka merasa sangat beruntung memilikinya sebagai yang mulia mereka. Meski begitu, tak ada yang sungguh-sungguh berani mendekati Kris. mereka terlalu takut pada tatapannya yang selalu lurus dan tajam, membuat siapapun merasa terintimidasi. Kris bahkan tidak pernah terlihat tersenyum pada siapapun, terkecuali pada ibunya.

Beberapa pelayan segera menghentikan pekerjaan mereka dan menunduk hormat ketika Kris melintas di depan mereka. Sejujurnya, dia tak pernah perduli dengan kehadiran mereka. meskipun setiap orang menunduk padanya tiap kali ia menampakkan dirinya, dia tak pernah sekalipun melihat ataupun melirik ke arah mereka. dia akan terus berjalan seolah tidak ada siapapun di sekitarnya. tapi itu tak membuat orang-orang dalam puri itu mengurangi rasa ketertarikan mereka. Kris yang bersikap seperti itu membuatnya semakin keren di mata mereka.

Koridor panjang yang di lewati Kris hanya di terangi oleh lilin-lilin kecil dan besar. Setiap lilin berbaris rapi di hampir setiap dinding. Beberapa di antaranya telah mati dan sebagian lagi hampir habis karena belum di ganti dengan yang baru. Sebagai vampir, kehidupan yang mereka jalani hampir sama seperti manusia. berbeda dari manusia yang sangat menyukai sinar terang, vampir lebih menyukai suasana yang gelap atau remang-remang karena itu membuat mereka merasa nyaman dan terlindungi. Bukan pula karena mereka takut pada sinar matahari yang katanya akan membakar kulit mereka hingga menjadi abu, tapi lebih tepatnya mereka hanya kurang nyaman saja dengan suasana seperti itu. film-film yang di pertontonkan oleh orang-orang mengenai vampir itu jauh berbeda dengan kenyataan. para manusia, itulah bagaimana para vampir menyebutnya, membuat mereka tampak lemah dengan cara mereka menggambarkan sosok vampir.

Kris berhenti di salah satu ruangan yang masih tertutup rapat. Kamar utama ibunya berada tepat di depannya.

“yang mulia, pangeran Kris sudah ada disini.” Seorang pelayan wanita melapor pada wanita yang tengah berbaring di atas ranjang.

Tepat setelah ia selesai mengucapkan kalimat itu, Kris telah berada di dalam kamar, tersenyum hangat pada wanita yang kini duduk bersandar di headboard ranjang. Pelayan wanita itu menunduk hormat lalu meninggalkan mereka berdua. Kris mendekat ke sisi ranjang dimana ibunya membutuhkannya.

“bagaimana kabar ibu hari ini?” tanyanya setelah duduk di sisinya.

Wanita yang di panggilnya ibu itu tersenyum kemudian menggenggam tangannya. “aku baik-baik saja, kau tidak perlu mencemaskanku.”

Kris menatap kedua tangan ibunya dan ikut tersenyum. “aku senang ibu baik-baik saja. akhir-akhir ini kesehatanmu sedikit memburuk, aku jadi cemas.” ucapnya lirih.

Wanita itu terkekeh pelan, namun raut wajahnya berubah serius ketika melihat perubahan Kris. Dia bisa melihat putranya itu sedang ada masalah. “apa yang kau pikirkan?” tanyanya kemudian. Kris mengangkat kepalanya. “kau tahu, aku tidak bisa mendengar apa yang kau pikirkan.” Candanya.

Kris tersenyum. candaan ibunya berhasil membuat moodnya kembali baik.

“akhir-akhir ini kau terlihat sibuk dan jarang berada di rumah.”

Tubuh Kris menegang. apakah ibunya sudah tahu tentang ia pergi ke dunia manusia? tapi begitu melihat wanita di depannya itu menghela nafas dalam-dalam, Kris pun tahu jawabannya.

“apa kau ke dunia manusia lagi?”

Kris memilih diam. tidak ada gunanya menyembunyikan semuanya dari ibunya.

“kau mengabaikan perintah ayahmu lagi.” Wanita itu tahu alasannya mengapa putranya lagi-lagi tidak menuruti perintah.

Reaksi Kris masih tetap sama. Tidak ada gunanya menyembunyikan semuanya dari ibunya.

“Kris..” ibunya memandangnya dengan khawatir. “kau menemui gadis itu lagi?” tanyanya memastikan.

“aku tidak bisa melupakan gadis itu.” akhirnya Kris membuka suara. dia menatap serius ibunya seakan mengatakan kalau dia benar-benar sungguh dengan ucapan dan tindakannya.

Wanita itu menghela nafas panjang, dia tahu tentang gadis yang dimaksud putranya. bagaimana tidak, gadis itu yang membuat Kris tak berminat pada gadis lain. satu-satunya gadis yang membuat putranya itu sanggup melanggar perintah ayahnya karena menentang peraturan mereka.

“Kris, gadis itu adalah manusia.”

“aku tidak perduli!” Kris langsung menyelanya.

Wanita itu terkejut menatapnya. dia bisa melihat kesungguhan yang terpancar di matanya ketika putranya menyatakan kalimat itu dengan tegas. Dia senang melihat bagaimana putranya mampu memegang ucapannya, namun di sisi lain ia juga mengkhawatirkannya. Peraturan bangsa mereka tetap tak bisa di langgar.

“vampir tidak bisa menikahi manusia terkecuali jika dia juga memiliki darah vampir yang berasal dari nenek moyang mereka sebelumnya.”

“itu hal yang mustahil.” Geram Kris. Benar, itu adalah hal yang sangat mustahil. Di dunia manusia, sulit untuk mencari manusia yang terlahir dengan darah vampir.

Ibunya tersenyum pahit. “memang hal yang mustahil.” Gumamnya pelan.

Kris membungkam, berbagai macam pikiran bergejolak di dalam kepalanya. dia tidak ingin menerima penjelasan ibunya tapi dia juga tak bisa mengabaikannya begitu saja.

“itulah mengapa kami menjadi sangat istimewa.” Lanjut ibunya.

Kris memahami penjelasan ibunya. Ibunya yang seorang manusia setengah vampir menikah dengan ayahnya yang adalah vampir murni. Hal ini tidak menetang peraturan pernikahan bangsa vampir. Tapi jika dia bersikeras menjalin hubungan dengan Taeyeon, bukan tidak mungkin semua bangsa vampir akan menentangnya karena hubungan terlarang mereka. Kris terpekur menyadari betapa rumitnya peraturan mereka. bangsa vampir seperti mereka tidak boleh sembarangan menikah dengan bangsa manusia biasa karena ini akan menjadi masalah dengan kerajaan dan bangsa vampir lain. karena, menikah dengan manusia murni akan menghilangkan darah vampir pada anaknya kelak. Jika hal ini terjadi berulang-ulang, perlahan-lahan komunitas vampir akan punah secara total dan itu tidak boleh terjadi. Untuk mempertahankan komunitas bangsa mereka, mereka hanya di perbolehkan menikahi manusia yang juga memiliki darah vampir dari nenek moyang mereka. dalam artian lain, manusia setengah vampir. Tapi, hal ini tidak semudah yang dibayangkan, populasi manusia setengah vampir bisa di bilang sangat langka.

Entah sejak kapan peraturan ini di tetapkan, yang jelas peraturan ini sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Mungkin itu juga yang menjadi penyebab berkurangnya manusia setengah vampir. Taeyeon adalah manusia murni sementara Kris adalah vampir murni, jika Kris tetap bersikeras menikahinya, ini akan membahayakan nyawa Taeyeon.

“jangan pernah bermimpi bisa menikahi gadis itu.”

Kris dan ibunya menoleh ke asal suara. raut wajah Kris segera menunjukkan ketidak sukaannya pada dua orang pria yang baru saja memasuki kamar itu tanpa di undang. Tatapan tajam Kris langsung jatuh pada saudara keduanya yang tadi menyela pembicaraan mereka. tapi yang di tatap hanya memasang wajah datarnya. Pembawaannya yang selalu dingin terkadang membuat orang-orang di sekitarnya yang tidak begitu mengenalnya menjadi takut untuk mendekatinya.

Berbeda dengan saudaranya yang lain yang juga berjalan di sampingnya, pria itu tersenyum cerah ke arah ibunya lalu menuju ke samping ranjangnya.

“jika kau tahu konsekuensi yang akan kau terima nanti, sebaiknya kau meninggalkan gadis itu secepatnya.” Pria itu-Kyo kembali berujar dingin.

Kris memandangnya dengan geram, belum hilang amarahnya karena ulah keduanya kini dia harus mendengar kalimat dingin dari saudaranya itu lagi yang menginginkannya meninggalkan Taeyeon. bagaimana dia bisa meninggalkan gadis itu begitu saja? selama ini dia selalu menunggu kesempatan akhirnya bersama lagi dengannya dan sekarang saudaranya itu menyuruhnya meninggalkannya? Hell no!

Melihat ekspresi Kris yang siap meledak kapan saja, ibunya menjadi khawatir. Dia sangat mengerti perasaan putranya terhadap gadis itu.

“jika ayahmu tahu tentang ini, dia akan sangat marah dan menentang hubungan kalian.” ibunya memberitahunya.

Kris menegang, ayahnya memang belum mengetahui tentang ini tapi ia yakin ayahnya pasti sudah mencurigainya.

“bukankah masih banyak gadis lain? kau bisa memilih salah satu di antara mereka yang kau suka.” Kyuhyun, saudara tertuanya memberi saran. Senyum masih setia di bibirnya.

Kris menatapnya tajam, “mudah bagimu mengatakannya. Aku hanya menginginkannya. Tidak yang lain.” ucapnya penuh penekanan.

Kyuhyun mengangkat bahunya dengan acuh, “aku hanya memberi saran.” Pernyataannya membuat Kris menggertakkan giginya dengan geram. Saudaranya itu selalu ingin menggodanya hingga membuatnya marah.

Ibunya hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sikap putranya, kemudian dia kembali fokus pada Kris.

“pikirkan kembali Kris, kita adalah vampir yang sampai kapanpun tidak akan bisa bersatu dengan manusia murni. Ibu berharap kau selalu mengingat hal penting ini.” tatapnya dalam-dalam pada putranya.

Kris menggeleng kemudian beranjak dari tempatnya. sudah cukup ia mendengar semuanya. dia menatap ibu dan kedua kakaknya dengan wajah serius. tatapannya sulit di artikan, namun ibunya tahu Kris telah membuat keputusan dan itu membuatnya makin khawatir. Sifat keras kepala putranya sulit untuk di ubah.

“aku tidak akan melepaskannya. Aku menyukai gadis itu. aku akan memilihnya sebagai pasanganku dan menikahinya jika saatnya tiba.” Tegasnya.

Ibunya, Kyuhyun dan Kyo sangat terkejut. tapi itu tak berlangsung lama karena mereka tahu betul bagaimana sifat Kris. tak mudah mengendalikannya. Sejak dulu, Kris sudah menjadi pusat perhatian. Semuanya seperti otomatis tunduk padanya. dia punya kharisma yang bisa membuat orang-orang takluk padanya.

Usai mengucapkan kalimat itu, Kris berbalik melangkah pergi.

“apa kau yakin bisa melindunginya?” Kyuhyun bertanya padanya sebelum ia sempat meraih knob pintu. Kris menoleh. Kyuhyun melanjutkan, “cepat atau lambat, ayah pasti akan mengetahuinya.”

“aku sudah mengatakannya dengan sangat jelas hyung. aku tidak perduli.” Kris menanggapinya dengan santai. dia kemudian tersenyum kecil dan bergumam pelan. “bagiku, selama gadis itu bersamaku, aku tidak mengkhawatirkan yang lainnya.”

“lalu bagaimana dengan Vanhust?”

Kris tiba-tiba membeku di tempat. Pertanyaan Kyo memberi efek yang besar padanya. dia melupakan satu hal yang penting. Vanhust.

“aku tidak akan membiarkan siapapun menghalangiku. Tidak juga ‘mereka’” jawabnya.

“kau sadar apa yang kau katakan Kris?” Kyuhyun berubah serius. “kau secara tidak langsung menentang perjanjian itu dan kau juga membuat gadis itu dalam bahaya!” serunya keras.

Kris tersentak. untuk beberapa saat dia diam disana. entah apa yang di pikirkannya, setelah itu dia membuka pintu dan menghilang disana tanpa menoleh lagi. Kyuhyun dan Kyo saling bertukar pandang lalu sama-sama beralih ke arah ibu mereka. wanita itu terlihat resah.

Hening menyelimuti ruangan itu sejenak.

“ibu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” suara Kyuhyun memecah kesunyian.

Kyo memandangi burung-burung yang berterbangan di dekat jendela kamar sembari memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celananya. Ekspresinya yang selalu datar membuat orang tidak tahu apa yang tengah di pikirkannya. Dia hanya berdiri diam disana tanpa mengalihkan pandangannya. Namun, telinganya mendengar dengan jelas suara Kyuhyun yang bertanya pada ibunya. Kedua matanya memejam rapat, kedua telinganya yang mampu mendengar suara sekecil apapun, kini sibuk menikmati suara-suara cicitan burung-burung kecil di luar sana.

*cinta huh?* Kyo tersenyum pahit begitu kata itu terlintas di pikirannya. kata yang membuatnya merasa kosong tiap kali mendengarnya. sejujurnya, ia merasa iri terhadap Kris. Adiknya itu selalu bisa mengikuti kemauannya sendiri tanpa di pengaruhi orang lain, termasuk menentang perintah ayahnya. dibandingkan dirinya sendiri, melindungi orang yang paling berharga dalam hidupnya saja ia tak mampu. Entah sudah berapa tahun berlalu, namun ia masih belum bisa melepaskan ingatannya tentang orang itu. orang yang membuatnya sempat merasa bahagia di saat yang begitu singkat.

“adikku itu sungguh-sungguh jatuh cinta pada gadis manusia itu. membuat orang khawatir saja.”

Kyuhyun terkekeh pelan dengan ucapannya sendiri. Kyo membuka matanya dan menoleh. Sebaris senyum kecil nampak tersungging di bibirnya.

Ibunya ikut tersenyum lalu mengangguk setuju. “dia sudah dewasa.”

“ibu masih ingat sepotong cake coklat yang di bawanya waktu itu?”

Kedua mata ibunya mengerjap kemudian berpikir sejenak, “ah..cake coklat yang di atasnya ada buah ceri?” tanyanya memastikan. Kyuhyun mengangguk cepat. ibunya tersenyum geli mengingatnya.

Kyo mengeryit. Mereka masih mengingatnya dengan jelas. suatu hari, Kris kecil membawa pulang sepotong cake coklat dengan hiasan buah ceri di atasnya. Dengan polos, adiknya itu memberitahu mereka kalau cake itu adalah pemberian dari seseorang yang ia suka dan melarang

mereka untuk memakannya. Betapa manisnya adiknya saat itu, dia begitu protektif terhadap cake coklat-nya.

“aku hampir tak percaya saat melihatnya. cake coklat itu masih awet sampai sekarang, terbungkus rapi di dalam kotak kaca miliknya.” Kyuhyun tersenyum lebar menceritakan apa yang di lihatnya di kamar Kris.  ibunya pun cukup terkejut mendengarnya. Kris benar-benar mencintai gadis ini. bahkan, beberapa tahun yang terlewat tidak bertemu dengan gadis itu, Kris masih menyukainya hingga kini.

“apa ibu menyetujui hubungan mereka?” Kyo tiba-tiba bertanya. Kyuhyun menatapnya kemudian menoleh pada ibunya. Dia juga penasaran dengan jawabannya.

Wanita itu terdiam sejenak memandang kedua putranya bergantian. dia bahagia jika Kris bahagia, tapi dia juga tak ingin gadis itu berada dalam bahaya.

“ketika saat itu tiba, kita tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. dan gadis itu…” wanita itu menggantung kalimatnya. keraguan menghampirinya, apakah pilihannya ini tepat atau tidak. karena jika dia salah, bukan hanya dia dan keluarganya yang akan menjadi taruhannya tapi juga bangsa mereka. “…ibu ingin kalian menjaga gadis itu.” akhirnya ia memutuskan.

Kyuhyun dan Kyo tersentak kaget mendengar pemintaan ibunya. Tidak pernah terbayangkan kalau ibunya akhirnya menyetujui hubungan Kris dan gadis itu.

“tapi ibu..” Kyuhyun ingin menyela tapi melihat ibunya menggeleng, dia kembali diam.

“aku tahu kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku meminta kalian untuk melindungi gadis itu.”

“lalu kenapa ibu melakukannya? bagaimana kalau ayah sampai tahu masalah ini? ayah pasti akan sangat marah dan Vanhust-“

“itulah sebabnya ibu meminta kalian melindungi gadis itu.” lagi, ibunya memotong kalimat Kyuhyun. “mengenai ayah kalian, biar aku yang akan mengurusnya.”

“ibu melakukan semua ini demi Kris dan gadis itu. mungkinkah ibu percaya kalau gadis itu…” Kyuhyun tidak melanjutkan kalimatnya. dia menatap ibunya dengan mata membulat lebar. Kyo juga ikut terkejut.

Ibunya menggeleng pelan. “aku belum bisa memastikannya.” jawabnya. Dia memandang kedua putranya dengan serius, “kalian tentu tahu apa yang akan terjadi jika sampai para black knight itu mengetahui hal ini. mereka tidak akan tinggal diam.”

“sejujurnya, kami masih belum mengerti mengapa ibu menginginkan kami melindungi gadis itu. dia hanyalah gadis manusia biasa.” Kyuhyun tersenyum tipis.

Wanita itu mengalihkan perhatiannya ke arah jendela. dari raut wajahnya, Kyuhyun dan Kyo bisa menebak kalau ibunya sedang berpikir keras untuk itu. “aku takut dengan apa yang akan terjadi nanti..” ia berujar lirih.

Kyuhyun dan Kyo tidak punya pilihan lain selain mengikuti permintaannya. Jika ibunya sudah seperti itu, berarti ada hal yang di ketahuinya dan dia masih mencoba merahasiakannya dari mereka.

“aku hanya mempercayai kalian berdua. awasi gadis itu dan pastikan dia baik-baik saja.”

“kami mengerti ibu.” Kyuhyun menyahut. Kyo hanya diam, tapi dia juga akan memenuhi permintaan ibunya.

– – –

Taeyeon mundur selangkah demi selangkah ke belakang. matanya merefleksikan ketakutan yang sangat, tubuhnya bergetar tak terkendali. Sambil merutuki kebodohannya dan keangkuhannya sendiri karena tidak menunggu Kris menjemputnya, juga menolak tawaran Sunny dan Minhyuk untuk pulang bersama. maka disini lah dia, sendirian dan ketakutan di jalan yang gelap dan sunyi, berhadapan dengan dua makhluk yang membuatnya ingin segera menghilang dari tempat itu. dengan cepat.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, dua orang pria sengaja menghadang jalannya. Keduanya menatapnya tajam dengan warna mata yang merah menyala. Pertama melihatnya Taeyeon sudah menduga kalau mereka bukanlah manusia biasa. Keduanya memiliki warna kulit yang pucat. Pria berpostur tubuh tinggi dengan rambut warna merah dan pria yang satunya mempunyai rambut berwarna hitam ke unguan. Jalan itu memang sedikit gelap tapi kedua pria yang berhenti tepat di bawah lampu membuatnya bisa mengenali ciri-ciri mereka. berbeda dengan enam pria yang dulu menganggunya, aura menyeramkan yang ada pada kedua pria itu membuatnya makin takut.

Taeyeon terkesiap, kedua telapak tangannya refleks membungkam mulutnya, aliran darah di wajahnya seketika berhenti begitu melihat dua taring yang tiba-tiba muncul di antara gigi mereka. tanpa diberi tahupun, dia sudah tahu kalau dua orang itu adalah vampir.

Pria dengan rambut hitam ke unguan menyeringai. Ia memainkan ibu jarinya di ujung bibirnya dan menjilatnya sembari melihat Taeyeon seperti singa kelaparan dan ingin memakannya hidup-hidup saat itu juga.

“kau lezat juga. Darahmu bisa melepas rasa dahaga kita berdua. kkkkkk.” Ucapannya yang dingin membuat Taeyeon semakin gemetar. Dia berdoa dalam hati, apa yang terlintas di pikirannya tidak akan benar-benar terjadi. Tapi harapan tinggal harapan, tidak mungkin para vampir itu melepaskannya begitu saja sebelum mengisap darahnya. Hanya memikirkan saja sudah membuatnya tubuhnya lunglai.

Pria berambut merah hanya tertawa terbahak-bahak menikmati reaksi Taeyeon. di sela ketakutannya, Taeyeon masih menggantung harapannya, seseorang yang mungkin saja akan datang menolongnya. Namun mengingat jalanan yang sunyi, hal itu tentu saja tidak akan terjadi.

*aku belum ingin mati. aku tidak ingin mati disini!* pekiknya dalam hati. dia tak mengira akan bertemu vampir lain lagi. bagaimana mungkin vampir bisa bebas berkeliaran di kota tanpa di ketahui manusia? darimana mereka datang? atau mereka memang hidup bersama manusia? jika seperti itu, bukankah negara ini tidak aman lagi? sibuk dengan pertanyaannya sendiri, Taeyeon tak menyadari kalau salah satu pria itu telah berdiri di hadapannya dalam waktu sekejap mata.

Taeyeon tersentak dan hampir tersandung ke belakang karena terkejut. pria berambut merah tersenyum sinis padanya. dia mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Taeyeon tapi gadis itu langsung memalingkan wajahnya. bukannya marah, pria itu malah tertawa. Sepertinya sebelum memangsa gadis itu, dia ingin bersenang-senang terlebih dahulu. Pria itu mencobanya lagi, Taeyeon refleks memejamkan matanya dan berteriak dalam hati memanggil nama Kris. hanya beberapa detik usai Taeyeon memanggil namanya, hembusan angin tiba-tiba terasa di sekitarnya.

Taeyeon menangkap aroma yang begitu familiar dari kehadiran seseorang. Dia masih belum ingin membuka matanya meskipun dia sudah bisa menebak siapa orang itu. suara-suara yang di timbulkan dari ringisan kesakitan dua orang pria itu membuatnya gelisah. Mungkinkah Kris yang menyelamatkannya lagi? Taeyeon membuka matanya, ingin melihat apa yang telah terjadi. Pandangannya melembut, sosok Kris yang membelakanginya tengah berdiri di depannya. matanya berkaca-kaca, bukan karena ketakutan tapi karena senang akhirnya Kris datang menolongnya. Untuk sesaat dia melupakan kekesalannya dan kemarahannya terhadap pria itu.

Kris menatap tajam ke arah dua vampir itu. kedua matanya berubah menjadi dark blue yang entah bagaimana membuat dua vampir itu merinding ketakutan. Matanya berkilat menyiratkan kemarahan yang meluap-luap. Nyali kedua vampir itu langsung menciut. Mereka berdua bisa merasakan aura tajam yang di miliki Kris.

“k-kau..” pria berambut merah itu tak melanjutkan kata-katanya. Dia terlalu terkejut karena tak menduga akan bertemu dengan salah satu jenis vampir yang memiliki kekuatan lebih di atas mereka. jenis vampir yang tidak hanya hidup dari darah manusia dan tidak menggunakan darah manusia sebagai sumber kekuatan mereka, itulah jenis vampir seperti Kris. sangat berbeda dengan mereka.

Kris tersenyum dingin. “untuk apa vampir demon berkeliaran di dunia manusia hm?”

Kedua vampir itu gugup seketika.

*vampir demon?* Taeyeon mengernyit heran. ada banyak jenis vampir, kau beruntung bertemu dengan vampir yang tidak tertarik dengan darah manusia. setidaknya tidak sekarang. Yah, Taeyeon mengingatnya. Kris pernah mengatakan informasi itu padanya. berarti jenis yang bertemu dengannya sekarang adalah jenis vampir yang tertarik dengan darah manusia? berarti Kris memang berbeda dengan para vampir itu?

“k-kau tidak perlu ikut campur. Ini urusan kami dengan gadis itu!” seru pria berambut hitam ke unguan. Dia sedikit gugup, Kris begitu mengintimidasinya.

Taeyeon meremas baju Kris sambil bersembunyi di belakangnya. Kris menoleh sekilas, tatapannya melembut melihat Taeyeon yang begitu ketakutan di belakangnya. dia kembali mengalihkan perhatiannya ke depan. Memandang pria itu dengan geram.

“kau tidak tahu apa yang kau katakan.” Ucap Kris menggertakkan giginya.

Vampir berambut merah tiba-tiba menyerangnya. Kris secepat kilat mendorong Taeyeon menjauh darinya dan membalas serangan vampir itu. Taeyeon terkejut menyaksikan perkelahian di depannya. vampir berambut hitam ke unguan yang tadi berdiri kini ikut menyerang membantu temannya. namun karena kekuatan keduanya tidak seimbang dengan Kris, Kris bisa mengalahkan mereka dengan sempurna. dia tidak membutuhkan kekuatan yang banyak karena keduanya sudah lemah sejak pertama ia memberinya pelajaran tadi.

Gerakan Kris dan dua vampir yang menyerangnya tidak bisa terbaca karena kecepatan mereka. terkadang ia melihat Kris di sana tapi tiba-tiba dia sudah berada kembali di depannya. kedua vampir itu masih belum menyerah, kebencian karena Kris lebih membela manusia semakin membuat serangan mereka membabi buta. Keduanya menyerang bersamaan tapi Kris yang lebih cepat dari mereka, mampu mengelak dari serangan keduanya dan langsung menghajar mereka ketika mereka lengah.

Taeyeon tak pernah melepaskan pandangannya dari mereka. dia sangat mengkhawatirkan Kris. dia takut jika Kris terluka karena pertarungan tidak seimbang itu. tapi Kris, kelihatannya tidak bermasalah dengan itu. dia menyerang kedua vampir itu tanpa belas kasihan. pada akhirnya, kedua vampir itu menyerah. Kris menghempas mereka ke tanah dengan kasar hingga untuk beberapa saat mereka tak sanggup untuk berdiri.

“jangan pernah menyentuhnya.” Kris bersuara dengan lantang. Dia tak akan membiarkan siapapun melukai Taeyeon.

“kenapa? bukankah dia hanya manusia?!” salah satu vampir itu berteriak kesal.

“bukankah kau juga vampir?! Kenapa kau melarang kami?!” seru yang lainnya tak terima.

“karena dia milikku!”

Taeyeon terkejut begitupun kedua vampir itu. tapi kemudian vampir itu tertawa keras dan bangkit berdiri.

“kkkkk..kenapa kau tidak bilang sejak tadi, kami bisa saja membaginya denganmu.”

Bulu kuduk Taeyeon menegak. Wajahnya langsung pucat. Ucapan vampir itu membuatnya takut. bagaimana seandainya Kris tidak datang tepat waktu, mungkin dia sudah menjadi santapan para vampir itu.

“atau bagaimana kalau begini saja, kau bisa mendapatkan gadis itu tapi setelah itu berikan dia pada kami. Bagaimana?” vampir berambut merah menawarkan. Dia tersenyum menyeringai pada Taeyeon.

Kris benar-benar hampir di ujung kemarahannya. Dia ingin sekali memusnahkan kedua vampir itu kalau saja Taeyeon tidak menggenggam erat bajunya.

“k-kita p-pergi dari sini. a-aku takut.” suara Taeyeon terputus-putus. Dia sejak tadi memang ingin pergi dari tempat itu dan tidak ingin melihat Kris terlibat perkelahian lagi dengan mereka.

Kris akhirnya luluh. Melihat wajah Taeyeon yang memelas padanya dan wajah pucat gadis itu membuatnya merasa bersalah. gadis itu terpaksa melihat pemandangan yang tidak seharusnya di lihatnya tadi. Perlahan warna matanya kembali seperti semula. Dia kemudian berbalik memandang kedua vampir itu.

“sebaiknya kalian pergi dari sini. jangan sampai aku menghabisi kalian.” geramnya.

“kenapa kami harus pergi? kau tidak ingin membagi gadis itu?”

Kris tersenyum sinis. “perlukah aku mengingatkan kalian kembali peraturannya?”

Kedua vampir itu tersentak kaget. untuk beberapa saat mereka terpaku di tempatnya. mata mereka terlihat ketakutan. Keduanya saling berpandang lalu melihat Kris dengan tatapan penuh kebencian.

“kami tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja.”

Tidak butuh lama, keduanyapun akhirnya menghilang dari tempat itu.

*vampir-vampir yang tidak berguna.* Kris hanya tersenyum dingin menanggapi kalimat ancaman mereka.

Dia berbalik mengecek keadaan Taeyeon. gadis itu masih diam di tempatnya sementara tubuhnya masih gemetar karena kejadian yang baru saja di alaminya.

“kau baik-baik saja?” tanyanya cemas. Taeyeon masih tidak bergeming.

Kris segera memeriksa hampir seluruh tubuh Taeyeon, siapa tahu saja ada bagian yang terluka. Dia tak akan memaafkan vampir-vampir itu kalau mereka melukai gadisnya. Bersyukur ia datang tepat waktu, kalau tidak, dia tak sanggup memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. jantungnya tadi berdebar keras ketika merasakan Taeyeon tidak baik-baik saja. dan ternyata benar, dua vampir hendak menjadikan Taeyeon sebagai korbannya.

Kris akhirnya bisa bernafas lega setelah mengetahui Taeyeon tidak terluka sedikitpun. Tapi, kediaman Taeyeon masih membuatnya khawatir. Gadis itu hanya diam menunduk, tak menjawabnya. bahkan dia juga tak menolak saat dia memeriksanya.

Kris menangkup wajahnya dan tersenyum lembut menatapnya. “bicaralah padaku love, aku ingin mendengar kau baik-baik saja.” ucapannya yang lembut membuat Taeyeon otomatis berdebar-debar.

“kau..sudah menolongku sebanyak dua kali..itu berarti tidak lama lagi kau pasti akan memintaku untuk menjadi istrimu..” Taeyeon terbata-bata. tubuhnya melemas usai mengucapkan kalimat itu, dia bahkan tak berani menatap mata Kris.

Kris tersentak kaget. dia hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Mengapa gadis itu masih bisa memikirkan hal itu sekarang padahal dia hampir saja mati?

“apakah itu lebih penting dari nyawamu?!”

Taeyeon terlonjak kaget dengan amarah Kris yang tiba-tiba meledak. “kenapa kau selalu merasa terbebani dengan permintaanku?! Tidak bisakah kau tidak mengatakan hal itu sekarang?! aku hampir mati mencemaskanmu karena kau pulang sendiri tanpa menungguku dan sekarang, kau malah mengungkit tentang 3 permintaanku itu setelah apa yang terjadi?! My love kau sungguh-sungguh membuatku hampir gila!” serunya keras.

Entah mengapa, dari tatapan Kris yang tajam padanya, Taeyeon juga bisa merasakan perasaan terluka disana. tapi Taeyeon di sisi lain tidak ingin luluh karena itu. dia memang merasa bersalah tapi dia merasa sejak awal ini tidak benar. hati kecilnya melarangnya untuk membantah tapi dorongan pikirannya membuatnya sanggup mengeluarkan kalimat itu.

“kau yang membuatku seperti ini!” suasana diantara mereka menegang tatkala rahang Kris mengeras mendengar ucapannya, kedua kepalan tangannya mengepal kuat di bawah sana. Terkadang, melihat Kris yang seperti ini membuat nyalinya menciut. Dia takut Kris akan melukainya. Tapi faktanya, Kris tak akan pernah melukai gadis yang ia sukai. Taeyeon terlalu salah paham karena statusnya sebagai makhluk bukan manusia.

“kau membuatku dalam bahaya. Andai saja kau tidak pernah muncul dan menggangguku, kehidupanku akan baik-baik saja hingga sekarang! kau membuatku ketakutan!” *apa yang kau lakukan Taeyeon, kau bisa menyakitinya!* hati kecilnya berulang kali memekik disana, tapi Taeyeon sengaja mengabaikannya. “aku tidak pernah mengenalmu tapi kau selalu menganggap seakan-akan aku mengenalmu, apa kau tidak tahu betapa bodohnya itu?!”

Kris terpaku di tempatnya. tatapannya yang tajam berubah menjadi dingin. kata-kata Taeyeon menyakitinya tapi dia tak bisa menyalahkan gadis itu sepenuhnya. sejak awal ini salahnya.

“aku tidak pernah ingin menikah dengan vampir sepertimu. Aku ingin kehidupanku kembali normal sebelum kau datang. aku tidak ingin menikah karena 3 permintaan bodoh itu. Aku membenci-“

Cukup sudah! Kris tak ingin mendengarnya lagi. Kedua mata Taeyeon langsung membulat sempurna. Kris mendadak mencium bibirnya. dia berusaha melepaskan diri tapi kedua telapak tangan Kris terlalu kuat menahan wajahnya. seperti sebuah bom yang meledak, tiba-tiba sesuatu melintas dalam kepalanya. bukan satu atau dua tapi itu lambat laun berubah menjadi sebuah rangkaian. Seolah bekerja otomatis, rangkaian itu terhubung antara satu dan yang lainnya hingga akhirnya menjadi rangkaian sebuah ingatan.

*i-ini…* Taeyeon tercekat. Matanya seketika terpejam dan membiarkan ciuman Kris mengambil alih kesadarannya. *a-apa ini? i-ingatan siapa ini?* pekiknya dalam pikirannya bersamaan dengan ingatan yang terus memutar dalam kepalanya.

Seorang gadis kecil bertemu dengan seorang anak laki-laki. Tunggu, gadis kecil dan anak laki-laki itu terlihat familiar. Mata yang berwarna biru, dia seperti pernah melihatnya. tapi dimana? Dari waktu ke waktu, gadis kecil itu selalu bersama anak laki-laki itu. mereka terlihat sangat akrab. siapa mereka?

*t-tidak mungkin…* mendadak semua menjadi masuk akal. Taeyeon tersentak kaget, dia baru menyadarinya. gadis kecil itu adalah refleksi dari dirinya dan anak laki-laki itu…semua itu adalah ingatannya. Ingatan yang sudah lama terlupakan. Ingatannya seolah terkurung dalam peti. Peti yang membutuhkan kunci untuk membukanya dan kini setelah terbuka, semua ingatannya akhirnya menyeruak keluar.

*akhirnya kau mengingatnya my love..*

*siapa disana? Kris..kaukah itu?*

*maafkan aku my love, aku tidak punya pilihan lain.*

*Kris jangan tinggalkan aku..lagi.*

*…*

*Kris…*

*tidak akan pernah my love..tidak akan pernah.*

Jantung Taeyeon berpacu dengan cepat, tubuhnya melemas sampai akhirnya jatuh ke dalam pelukan Kris. Kris adalah kunci untuk membuka peti itu. ciuman itu bukan sekedar ciuman. Kris sengaja menciumnya untuk membuatnya kembali mengingat semuanya.

Kris tersenyum memandangi wajah polos Taeyeon yang tertidur di lengannya. Gadis itu tidak sadarkan diri sesaat setelah ia menciumnya tadi. dia kemudian mengangkat tubuh mungil Taeyeon dan membawanya pulang. Sesampainya di kamar Taeyeon, hati-hati Kris meletakkan gadis itu di atas ranjangnya. Dia kemudian duduk di sisi ranjang. Tangannya terangkat mengelus halus pipi Taeyeon, tak lupa menyingkirkan rambut-rambut kecil yang sedikit menghalangi wajahnya.

Kelopak mata Taeyeon bergerak pelan, mungkin ia terusik dengan sentuhan di wajahnya. senyum Kris melebar ketika Taeyeon akhirnya membuka matanya.

“Kris?” seperti tak percaya Kris ada di kamarnya, Taeyeon mengeryit heran. “kau masih ada disini?” tanyanya dengan suara yang parau.

Kris hanya tersenyum. senyuman hangat yang selalu berhasil membuat Taeyeon berdebar-debar.

“kau ingin aku pergi?” tanyanya lembut. dia tak berniat menurunkan tangannya dari wajah Taeyeon.

Taeyeon bersemu merah, menghindari tatapannya. Setelah apa yang terjadi tadi dan bagaimana ia mengingat sedikit demi sedikit ingatan masa kecilnya, ia masih belum bisa berhadapan dengan Kris tanpa jantungnya berdebar kencang di dalam sana. Belum lagi Kris yang tadi menciumnya tiba-tiba. Itu semua membuatnya gugup di depan Kris.

Kris terkekeh pelan. dia selalu menyukai wajah malu-malu Taeyeon. cute dan manis bersamaan. dia mengacak rambut Taeyeon dengan sayang lalu beranjak dari tempatnya. Taeyeon menjadi panik. *apa dia akan pergi?* batinnya memekik.

“k-kau mau kemana?”

Kris menatapnya sejenak. Taeyeon menundukkan kepalanya, dia entah mengapa tidak bisa melihat langsung ke mata Kris. “a-aku t-tidak ingin kau pergi.” ucapannya terdengar seperti rengekan. Tapi Taeyeon sudah tidak perduli. Dia sadar, tidak seharusnya ia bersikap seperti itu tapi mau bagaimana lagi. kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya dan tangannya yang refleks menggenggam ujung baju Kris.

Masih dengan senyumnya, Kris meraih tangan Taeyeon dan menggenggamnya. Taeyeon sedikit tersentak tapi kemudian memberanikan diri mendongakkan kepalanya. Kris yang tersenyum padanya membuat wajahnya semakin merah padam.

*ada apa denganmu Kim Taeyeon? kemarin kau berusaha keras menolak tapi sekarang…* seseorang yang lain dalam dirinya seolah mengejeknya.

*itu karena..karena..* Taeyeon tidak bisa menemukan kalimat yang pas untuk menjawabnya. dia hanya diam sembari menatap Kris yang kembali duduk di tempatnya.

“kau tidak tahu betapa senangnya aku ketika kau melarangku pergi my love.” Kris tersenyum menggenggam tangannya lalu mengecupnya. Taeyeon mencoba untuk tidak bersemu merah karena ucapan dan tindakan Kris tapi ternyata tak berhasil. Kris menatapnya dalam-dalam, “kau tinggal memintanya love, aku akan mengabulkan apapun yang kau inginkan.”

Taeyeon berusaha keras tidak tersenyum lebar mendengarnya dengan cara menggigit bibirnya, tapi Kris masih bisa melihatnya. Taeyeon ingin meminta satu hal tapi dia tak berani mengatakannya. Dia merasa malu meminta hal itu pada Kris. seperti bisa mendengar apa yang di pikirkannya, Kris hanya tertawa kecil. dia lalu membaringkan tubuhnya tepat di sampingnya. kedua mata Taeyeon langsung membulat lebar, dia menjadi ragu apakah Kris memiliki kemampuan mendengar pikiran orang lain atau tidak.

Sementara sibuk mengatur debaran jantungnya, Taeyeon hampir meledak ketika Kris tiba-tiba menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.

“kenapa kau tegang sekali?” Kris bertanya padanya. “aku sudah dua kali memelukmu dan dua kali juga menciummu, apa kau masih belum terbiasa denganku?”

Wajah Taeyeon merah padam. dia langsung memukul dada Kris membuat pria itu bergetar karena tertawa tanpa suara. Kris selalu berhasil menggodanya dan dia membencinya. Kris membuatnya tampak bodoh karena selalu gugup tiap kali bersamanya dan bersemu merah tiap kali ia menggodanya.

“hm sepertinya aku harus selalu melakukan skinship denganmu.”

“Kris!”

Kris hanya terkekeh. Wajah Taeyeon berubah cemberut. “kau menyebalkan!” gerutunya.

Kris mengeratkan pelukannya dan Taeyeon pun tak keberatan dengan itu. dia malah menyandarkan kepalanya di dada Kris dan memejamkan matanya. sepertinya ia mulai membiasakan dirinya. sebaris senyum terukir di bibir Kris kala mendengar detak jantung Taeyeon. detak jantung gadis itu selalu menjadi musik yang paling indah baginya.

Ruangan itu berubah hening sejenak. Kris dan Taeyeon sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya, Kris bersuara.

“maafkan aku my love.” Kris memulai, Taeyeon mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang ingin disampaikan oleh Kris meskipun awalnya ia sempat heran mengapa Kris meminta maaf padanya. “mengenai kejadian tadi, aku hanya terlalu mengkhawatirkanmu.”

Taeyeon akhirnya mengerti. Kris meminta maaf karena telah membentaknya tadi. dia merasakan dagunya ditarik ke atas oleh Kris. “apa aku menakutimu?” tanyanya halus.

Taeyeon bisa melihat betapa cemasnya Kris ketika menanyakan pertanyaan itu padanya. dia kemudian tersenyum dan menggeleng pelan menjawabnya. Kris kembali merengkuh tubuhnya. memeluknya dengan erat seolah tak ingin melepaskannya sembari mengucapkan permintaan maaf sekali lagi.

Taeyeon mengingat kembali apa yang terjadi padanya beberapa waktu yang lalu. Ingatan yang baru saja di ingatnya ketika Kris menciumnya. Darimana datangnya ingatan lama itu? Mungkinkah ciuman Kris tadi berfungsi untuk memunculkan lagi ingatan itu?

“Kris..” Taeyeon melihat ke atas menatap Kris. “kenapa aku tidak mengingat ingatan itu sebelumnya?” tanyanya serius. dia tak tahu mengapa dia menanyakan pertanyaan itu padanya, tapi hatinya merasa yakin Kris pasti tahu jawabannya.

Kris terdiam. dia berpikir sejenak, mencari alasan yang pantas untuk menjawab pertanyaan Taeyeon. tak lama kemudian dia tersenyum. ini hanya dirinya atau memang perasaannya saja, Taeyeon merasa di balik senyumannya, Kris pasti menyimpan sesuatu.

*maafkan aku my love, aku terpaksa harus melakukan semua itu untuk membuatmu kembali mengingatku.* “aku akan memberitahumu nanti. Sekarang tidurlah..aku akan tetap disini sampai kau tertidur.” Kris mengelus pipinya dan memberikan kecupan lembut di keningnya.

Meski masih penasaran, Taeyeon akhirnya mengangguk patuh dan mulai memejamkan matanya. dia memang belum sepenuhnya mengingat semuanya tapi dia mengingat siapa anak laki-laki yang bersamanya waktu itu. dia adalah Kris.

Kris meninggikan sedikit tubuhnya dengan bertumpu pada sikunya sementara kepalanya bertumpu di telapak tangannya. sebelah tangannya membelai rambut hitam panjang Taeyeon dan tersenyum setelah mendaratkan kecupan di keningnya lagi. untuk beberapa saat dia hanya diam memperhatikan Taeyeon yang tertidur pulas di sampingnya tanpa berkedip. Nafas gadis itu kembali teratur dan tenang. Melihat gadis yang di sukainya tertidur di sampingnya merupakan pemandangan yang selalu ingin di lihatnya. Raut wajah Kris tiba-tiba berubah datar. Dia kembali mengingat pembicaraannya dengan ibu dan kedua kakaknya tadi. tidak pernah terlintas dalam pikirannya akan meninggalkan gadis itu lagi. dia sudah cukup lama bersabar hingga akhirnya bersama gadis itu lagi. Dan sekarang, mereka menginginkannya meninggalkannya? Tidak akan pernah.

Kris mengecup bibir Taeyeon cukup lama lalu beranjak dari ranjang itu. dia berjalan ke depan jendela dan berhenti sejenak disana. sebelum ia benar-benar pergi, dia menoleh sekilas ke belakang untuk melihat Taeyeon lagi. *mimpi yang indah my love* Kris tersenyum dan akhirnya sosoknya tidak berada di kamar itu lagi.

 

To be continued…

Sory lama. but, kalian puas kan? lumayanlah 16 lembar gini kok. heheheh

FYI, Di chapter sebelumnya, sepertinya banyak yang salah paham terhadap hubungan Kris dan Taeyeon karena ‘katanya’ mereka berciuman. Ralat, Kris yang mencium Taeyeon. seperti yang kujelaskan, dia hanya menempelkan bibirnya dan Taeyeon juga tidak membalas. Artinya,  Taeyeon masih belum menyukai Kris. dia memang berdebar-debar tapi itu bukan berarti dia sudah jatuh cinta padanya. => abaikan, aku sendiri ga tau apa yang ku jelaskan-_-

Masih banyak penjelasan mengenai isi cerita ff ini dan masih banyak kejutan-kejutan lain, tapi ku harap kalian bisa mengerti dan mau bersabar menunggu.

Note : untuk ratingnya mengapa ku cantumkan PG 17 (yang sebagian bilang terlalu ketinggian) karena aku memang ga suka dengan rating ff yang terlalu rendah (disamping itu, aku bukan anak umur 20 tahun ke bawah, makanya mengapa rata-rata ffku kuberi rating PG 17 ke atas). Malah aku ingin meminta pada kalian untuk waspada karena semakin lama, rating ff ini akan semakin ku naikkan. Bukan tidak mungkin akan ada rating M di chapter-chapter selanjutnya sama seperti ffku yang lain. *wink

Foolow me — @Haime_Fa

—> RYN^^

 

57 thoughts on “[Freelance] Story of EXOTaeng : My Someone Special (Chapter 3)

  1. Akhirnya dipost juga next chapnya ^^
    penasaran banget tentang kelanjutan kisah cinta kris sm taeyeon 🙂
    penasaran juga apa yang dipikirin sama ibunya kris.
    next chapnya ditunggu ^^

  2. Keren bnget thor,
    kalau bisa next chap nya di publish secepatnya, gak sabaran pengen baca yg selanjutnya… Author Daebak ^^

  3. Lanjut dong seru bgt!!
    Jd penasaran sma kelanjutan’‎​°♧ȋȋ̊γ̲̣̣̥ÿ̲̣̣̣̥γ̥ɑ̤̥̈̊α̣̣̥α̍̍̊α̇̇̇̊♧°
    Qu tunggu lanjutan,y

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s