[Freelance] Miracle In December

miracle-in-december-exo

Poster by: http://icydork.wordpress.com

Author: Lee Yae Jin

Tittle: Miracle In Decemebr

Cast: Jessica and Hyoyeon with Kai, Kris, Sehun, and Kyungsoo

Genre: Sad

Rating: PG-15

Disclamer: FF ini hasil pemikiran saya, jadi mohon jangan di CoPas🙂 Konsep nya mungkin saya mengikuti ff Her Time Machine yang ditulis oleh Ara Yeon, jadi jangan bilang saya plagiat yah🙂

Author Note: FF ini terinspirasi dari mv nya EXO yang berjudul Miracle In december. Dan saya hanya membuat 4 cerita saja. Ff ini juga dipost ditempat lain, jadi jika kalian melihat yang sama, itu milik saya semua🙂 dan satu lagi, kalimat yang di italic itu, berarti flashback, tapi yang ada diakhir cerita itu bukan flashbaack yah🙂 Hope You Like It, jangan lupa Komentar nya, saya membuat ini bukan untuk para siders yah🙂

 

=Miracle In December=

 

 

Kai-Hyoyeon

Kai mencium anak anjing miliknya dengan gemas. Anak anjing berwarna kecoklatan dan pita merah muda dibadan nya itu memang benar-benar menggemaskan. Kai memainkan kedua tangan anjing nya, yang bernama Jjanggu.

Setelah puas, Kai membaringkan tubuhnya diatas kasur miliknya. Tatapan nya menatap langit-langit kamarnya, memorinya kembali membayangkan tentang seorang wanita yang menjadi kekasih nya dulu, Kim Hyoyeon, begitulah namanya. Tapi lamunan itu harus terhenti ketika ia merasakan sesuatu yang basah menjilati pipi kanan nya. Kai menatap kearah kanan nya, dimana Jjanggu berada tepat diwajah nya kini, Kai tersenyum.

“Bagaimana kabarmu sekarang Hyo?” Gumam Kai, airmata telah menggenang matanya, hanya tinggal selangkah lagi utnuk keluar. Kai segera membawa Jjanggu dalam dekapan nya. Ia mendekap Jjanggu dengan erat, seakan-akan Kai takut kehilangan anjing kecilnya itu.

Perlahan, airmata Kai turun, membasahi pipi tirusnya. Mata Kai yang terpejam itu masih saja membayangkan wanita nya, Kim Hyoyeon. Ia masih ingat, bagaimana ia harus kehilangan wanita yang dicintai nya hanya karena penyakit sialan yang diderita Hyoyeon secara turun-temurun, kanker hati. Karena penyakit itu Kai harus berpisah dengan Hyoyeon.

“Nah, kau sudah cantik sekarang.” Ucap Kai bangga. Ia mencondongkan badan nya sedikit kebelakang untuk melihat hasil dekorasi nya pada wajah Hyoyeon, lalu mengangkat kedua jempol nya setelah dirasa Hyoyeon cantik. Hyoyeon terkekeh menlihat Kai.

 

“Ayo berangkat.” Teriak Kai semangat, dan lagi, Hyoyeon hanya tersenyum manis melihat wajah ceria Kai.

 

o0o

 

“Aku mau itu Kai, ayo lihat dulu.” Rengek Hyoyeon pada Kai. Tapi Kai tetap pura-pura tidak mendengar rengekan Hyoyeon, Kai terus saja mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh Hyoyeon. Hyoyeon hanya mengerucutkan bibirnya kesal dengan kelakuan Kai yang berpura-pura itu. Segera ia menurunkan kedua tangan nya dan memegang roda dari kursi yang ia tumpangi, dan berhasil kursi roda itu berhenti.

 

Kai yang merasa kursi roda yang ia dorong berhenti langsung melihat kearah Hyoyeon, ia menghela napas nya melihat kelakuan dari Hyoyeon, Kai berjalan kedepan Hyoyeon, kemudian berjongkok, mensejejarkan tinggi nya dengan Hyoyeon. Kai menghela napas. “Memang untuk apa anjing-anjing itu Hyo?” Hyoyeon mentap wajah Kai.

 

“Jebal, kita kesana dulu yah?” Hyoyeon menaruh kedua tangan nya didepan wajah Kai, tangan yang menggenggam satu sama lain, berharap agar Kai menuruti keinginan nya. Kai menghela napasnya pasrah, bagaimana pun Kai tidak akan mungkin bisa menolak permintaan Hyoyeon, Kai hanya menganggukkan wajah nya pasrah, sedangkan Hyoyeon tersenyum bahagia.

 

o0o

 

Kai memandnag kesal Hyoyeon yang sedang bermain-main dengan anjing baru nya, ia menghela napas, kemudian berjalan mendeka kearah Hyoyeon dan duduk disamping ranjang yang Hyoyeon tempati.

 

“Memangnya untuk apa anjing itu?” Tanya Kai sembari memangku wajahnya pada tangan nya.

 

“Untukmu.” Kai mengerutkan dahinya heran.

 

“Untukku? Bukankah kau sudah tau aku tidak suka binatang?” Hyoyeon tersenyum menanggapi ucapan dari Kai.

 

“Kalau aku sudah tidak ada…. Mungkin anjing ini yang akan menemanimu.” Hyoyeon tersenyum miris sembari melihat anjing baru nya. Sedangkan Kai terdiam, ia semakin

mendekat kearah Hyoyeon kemudian memeluk wanita itu erat.

Kai berjalan ke arah lemari yang menampung semua baju nya. Ia mengambil sebuah jaket berwarna merah, lalu tersenyum sejenak, Hyoyeon, sangat menyukai jaket ini.

Ia berjalan kearah Jjanggu, mengangkatnya kemudian memasukkan nya pada jaket Kai yang memberikan kehangatan lebih untuk Jjanggu. Kai tersenyum melihat tinggah Jjanggu didalam jaket nya yang sangat lucu itu, ia mengusap pelan kepala Jjanggu, lalu meneruskan langkah nya menuju sebuah tempat.

Dan ini lah tempatnya, taman. Taman ini yang terakhir kali dikunjungi oleh Kai dan Hyoyeon, sebelum Hyoyeon pergi tentunya. Kai berjalan kearah bangku didekat air mancur, ia duduk disitu. Matanya masih tidak lepas dari Jjanggu yang sedang bermain-main dengan jaket nya. Tapi kemudian Kai mengalihkan pandangan nya menuju langit malam yang terlihat sangat cerah, meskipun saat ini salju sedang turun. Kai tersenyum, terakhir kali ia ke sini bersama Hyoyeon saat ia sakit, tapi sekarang ia datang kembali bersama dengan Jjanggu.

Kai tersenyum miris, ia berharap dalam hati bahwa akan ada keajaiban padanya. Yang ia butuhkan pada malam natal ini bukan lah hadiah, tapi sebuah keajaiban, yang mungkin akan datang bersama Hyoyeon nya. Tapi ia sadar, semua itu hanya khayalan semata. Hyoyeon telah pergi, ia tidak mungkin kembali. Kai memjamkan matanya, membayangkan kembali Hyoyepn yang mungkin saat ini sudah bahagia bersama malaikat-malaikat disana.

“Terimakasih sudah pernah mengisi hari-hari ku Hyo. Sampai kapan pun aku tetap mencinaimu.”

 

=Miracle In December=

 

Kris-Jessica

 

Kris memandang hasil lukisan nya, ia tersenyum miris melihat hasilnya. Sebuah lukisan yang menggambarkan seorang wanita cantik. Kris kembali melanjutkan lukisan nya, ia menulisakan sebuah kalimat pada ujung lukisan nya ‘Jessica Jung, The One I Love’. Kris tersenyum menatapnya, mata nya sudah dipenuhi oleh airmata yang sudah siap untuk keluar.

Ia meraba pelan gambar wajah dari lukisan yang ia buat, seolah gambar itu adalah wujud asli dari pemilik wajah. Kris ingat dengan jelas, bagaimana wajah cantik Jessica, ia masih sangat bisa membayangkan bagaiman wajah Jessica ketika ia tersenyum, ketika ia tertawa, Kris masih bisa mengingat nya dengan jelas.

Kris menunduk, sebuah kejadian yang membuat ia menyesal sampai saat ini kembali berputar dalam pikiran nya. Keegosian nya, keegoisan nya yang telah membuat Jessica pergi dari hidupnya. Kris menunduk, airmata nya tumpah, semua penyesalan dalam dirinya memang tidak bisa ia maafkan, “Sica, kembali. Aku mencintaimu.”

“Kris, ayolah. Sudah lama kita tidak pergi bersama, memang nya kau tidak rindu padaku?” Jessica tersenyum, walapun saat ini Kris masih saja diam sembari melukis. Jessica mengerucutkan bibirnya. “Kris, ayo sebentar saja. Sejak kau menjadi pelukis kita bahkan jarang bertemu.” Jessica menggoyang goyangkan tangan Kris pelan. Tapi Kris masih saja tidak bergeming, entahlah ia mendngar Jessica atau tidak.

 

Jessica berjongkok dihadapan Kris, menatap wajah tampan lelaki nya yang masih saja berkutat dengan kuas, cat air dan kanvas dihadapan nya. Tapi sesaat kemudian Jessica berdiri, sebuah ide muncul dikepalanya. Ia mengambial kuas Kris yang sedang dipakai nya untuk melukis, Kris menatap Jessica tajam, lukisan Kris yang hampir jadi sedikit rusak karena Jessica mengambil paksa kuas nya. Kris berdiri menatap marah pada Jessica, sedangkan Jessica masih dengan senyum manisnya.

 

“APA KAU BODOH HAH? LIHAT, LUKISAN KU JADI HANCUR!” Jessica terdiam mendengar suara Kris yang menggema diruangan ini. Jessica menundukkan kepalanya dan memegang kuas Kris dengan sangat erat.

 

“K..Kris.. Aku… Maaf.” kris menggeretakkan gigi nya kesal, ia mendesah prustasi melihat Jessica.

 

“Pergi!” Desis Kris tajam. Tangan kanan panjang nya ia gunakan untuk menunjuk sebuah pintu. Jessica menatap wajah Kris lirih.

 

“Kris, aku hanya ingin mengajakmu jkencan.” Kris tersenyum sinis mendengar jawaban dari Jessica. Tangan nya ia kepalkan, rasa kesal dihati nya sudah membutakan semua nya, termasuk hilang nya rasa iba melihat Jessica yang sekarang sudah mengeluarkan air mata.

 

“Kencan? Kau tidak lihat aku sedang melukis? Aku sdan sibuk.” Ucap Kris kesal.

 

“Kau, berubah Kris.” Kris tersenyum sinis.

 

“Lebih baik kau pergi dari sini Jessica.”

 

“Baik. Tapi sebelum nya, aku ingin kita putus.” Jessica terdiam, airmata nya semakin berlomba-lomba untuk turun. Kris pun terdiam, tangan nya yang sedari tadi mengepal semakin lama semakin mengendur, ia menatap wajah Jessica tidak percaya.

 

“Kita putus. Kau lebih mementingkan lukisan dan pekerjaan mu dari pada aku bukan? Terimakasih untuk semua nya Kris.” Jessica berjalan mendekat kearah Kris, kemudian mengecup pipi Kris, setelah itu ia pergi dari hadapan Kris.

 

Kris terdiam, ia masih merasakan kecupan hangat dari jessica. Tangan nya yang tadi menggantung bebas kini memegang pipinya. Ia menoleh kebelakang, kearah pintu yang tadi dipakai Jessica untuk keluar. Ia ngin ia melangkahkan mengjar Jessica. Tapi kaki nya terasa berat, seperti ada sebuah besi raksasa yang menghalangi nya. Ia masih memandang nanar pintu tersebut. “Ka… Kajima.”

 

Airmata yang sedari tadi ditahan nya kini turun. Ia menutup mulutnya dengan tangan nya, mencegah agar isakan nya tidak terlalu terdengar, tangan kkiri nya ia pakai untuk memegang hati nya yang teras sakit, penyesalan memang selalu datang terakhir.

Bungi lonceng dari gereja sebelah terdengar. Kris menatap jendela yang berada disebelah kanan nya, bahkan salju yang sudah turun sedari tadi pun Kri sidak merasakan nya, ia masih memikir kan penyesalan nya pada Jessica. Kris berdiri, kemudian berjalan keluar sembari membawa hasil lukisan nya yang sudah terbungkus rapi. Entahlah, Kris hanya berjalan mengikuti langlah kakki nya.

 

o0o

Kris terdiam, ia berhenti disebuah taman. Ia menatap sekeliling nya, berharap ia menemukan wanita yang selama ini pergi dari kehidupan nya. Taman ini, taman yang dulu sering ia kunjungi bersama Jessica. Kris berjalan kearah sebuah bangku yang sudah disediakan khusus untuk pengunjung taman. Ia duduk, dan menaruh lukisan nya diamping nya.

Kris mengadahkan wajah nya keatas. Langit malam yang sudah dipenuhi oleh salju itu memang indah, apalagi saat ini malam natal. Kris tediam dalam lamunan nya, ia memejamkan matanya sejenak, merasakan hawa dingin yang menusuk tubuh nya walau pun ia sudah memakai baju dan jaket yang cukup tebal. Matanya masih saja terpejam, tapi hati nya berdoa, ia berdoa pada malam natal ini,

“Aku mohon sebuah keajaiban tuhan. Biarkan sekali lagi aku bersama Jesssica. Aku janji setelah ini aku tidak akan mengecewakan nya, tolong kabulkan doa’ku.”

 

=Miracle In December=

 

Sehun-Hyoyeon

 

Sebuah sepedah ontel yang sudah tua terus saja ia kayuh. Sehun pria yang mengayuh sepeda itu adalah Oh Sehun, seorang artis yang sedang naik daun. Siapa yang tidak mengenalnya? Magnae dari boygroup buatan SM entertaimant yaitu EXO. Wajah nya yang menggemaskan ketika mengisi acara-acara ditelevisi tentu saja membuat semua orang mengagumi sosok Oh Sehun itu. Tapi, siapa sangka, wajah ceria dan juga senyum cerah nya itu menyimpan sebuah penyesalan, yang mungkin hanya diketahui oleh dirinya, dan beberapa member EXO.

Sehun terus saja mengayuh sepeda nya, tidak memperdulikan semua orang yang menatap kagum kearah nya karena berani keluar tanpa memakai sesuatu untuk menyembunyikan wajahnya, ia terrus mengayuh sepedanya tanpa arah dan juga tujuan. Ia berhenti tepat

didepan sebuah toko bunga, ia tersenyum, menaruh sepeda nya di tepian kemudian berjalan masuk kedalam toko itu.

Kringg

Lonceng yang dipasang pemilik toko diatas pintu berbunyi ketika Sehun memasuki toko itu. Ia menatap sekeliling nya, banyak sekali bunga, sangat indah dan wangi.

“Pantas ia menyukai bunga.” Gumam Sehun.

“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Sehun mendongkakkan kepala nya ketika ia mendengar sebuah suara. Sehun tersenyum, kemudian menghampiri pelayan toko bunga tersebut.

“Mmm.. Bisa kau pilihkan bunga yang cocok untuk wanita?” Sang pelayang wanita tersebut tersenyum mendengar ucapan Sehun.

“Bunga cocok untuk semua wanita tuan.” Sehun menyadari kebodohan nya, ia hanya tersenyum bodoh, kemudian menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.

“Aku mengerti. Tunggu sebentar tuan.” Sang pelayan tersenyum melihat tingkah Sehun.

Ia segera berjalan menuju belakang, tempat dimana ia akan merangkai bunga yang Sehun pesan.

Sehun berjalan mengelilingi toko bunga itu. Sesekali itu berjongkok untuk mencium bau bunga yang sekira nya ia anggap menarik. Dan tepat dihadapan bunga mawar berwarna putih, Sehun kembali berjongkok, mencium bau bunga yang mengingatkan nya pada sang kekasih, Kim Hyoyeon. Hyoyeon hanya lah wanita biasa, berbeda dengan Sehun yang seorang artis besar.

“Akh..” Sehun segera menjauhkan tubuh nya dari bunga mawar itu. Ia segera memeriksa tangan nya yang terkena duri dari bunga mawar. Sehun memandang bunga mawar itu lirih, “Bahkan sampai bunga mawar itu pun marah padaku. Mianhae Hyoyeon.” Gumam nya lemah.

Hyoyeon berlari tergesa-gesa menuju sebuah taman. Ia tersenyum ketika sang lelaki, atau kekasih nya yang bernama Oh Sehun sudah berada disana. Hyoyeon mempercepat lari nya.

 

“Oh Sehun.” Hyoyeon melambaikan tangan nya pada Sehun yang menatap nya datar. Hyoyeon tersenyum tipis, kemudian melanjutkan larinya menuju Sehun. Sehun berdiri, dan menatap wajah Hyoyeon malas.

 

“Bukankah aku sudah bilang jadwal ku padat. Aku tidak punya banyak waktu sekarang.”

 

“Hey, aku tau jadwal mu hari ini kosong.” Hyoyeon menyikut tangan Sehun pelan, hanya untuk menggoda kekasih nya yang terlihat lucu saat ini. Sehun menaikkan salah satu alis nya, dan menatap Hyoyeon heran.

 

“Dari mana kau tau?” Hyoyeon kembali tersenyum.


“Tidak penting. Sekarang, ayo kita habis kan waktu bersama.” Hyoyeon segera menarik Sehun sebelum ia mendengar omelan lelaki itu.

 

Hyoyeon membawa Sehun mengelilingi kota Seoul hari ini, sebuah momentum langka yang dialamai Sehun, mengingat popularitas nya sebagai artis besar membuat ia tidak mempunyai banyak waktu untuk berjalan-jalan, jika ada pun, Sehun hanya akan memakai nya untuk istirahat dan tidur, sama sekali tidak ada dipikiran nya untuk bertemu bahkan kencan dengan Hyoyeon, kekasih nya.

 

Sudah 2 jam, dan Hyoyeon hanya mengajak nya berkeliling. Dan sekarang ia sedang berada di toko bunga, yah Hyoyeon sangat menyukai bunga. Sehun kesal, ia melepaskan tautan tangan nya pada Hyoyeon dengan kasar, Hyoyeon memandang Sehun aneh, ia hanya mencoba tersenyum kemudian menyodorkan bunga mawar putih pada Sehun tepat dihadapan wajah lelakinya itu. Sehun hanya menutup mata nya geram, segera ia mengambil bunga mawar itu dari Hyoyeon dan membuang nya begitu saja. Hyoyeon terdiam, ia menatap Sehun tidak percaya.

 

“Apa yang kau….”

 

“Aku lelah… Aku ingin pulang.” Sehun membalikkan badan nya tidak peduli pada Hyoyeon yang saat ini masih memandang nya tidak percaya. “Kau pulang sendiri saja.” Lanjutnya.”

 

Sehun keluar dari taman itu dengan senyum mengembang, ia mencium wangi dari bunga yang baru saja ia pesan. Sehun kembali menaiki sepeda nya dan mengayuh nya menuju taman yang sudah ia tentukan untuk bertemu dengan Hyoyeon, ia akan menjelaskan semua nya, mencoba mengulang lembaran baru pada hubungan nya dengan Hyoyeon.

 

o0o

Sehun terdiam, sudah setengan jam ia menunggu ditaman ini. Sudah malam, lonceng berbunyi dari segala penjuru daerah, merayakan hari suci umat Kristen yang jatuh tepat malam ini.

“Sehun..” Sehun segera membalikkan badan nya, setelah ia merasa bahwa ada seseorang yang memanggil nama nya. Sehun tersenyum, bunga nya ia simpan dibelakang punggung agar Hyoyeon tidak mengetahui nya.

“Mianhae.. Aku… Ingin mengakhiri semua nya….” Sehun terdiam, ia menatap Hyoyeon tidak percaya, Sehun ingin membalas ucapan Hyoyeon, tapi lidah nya terasa kelu.

“Terimakasih untuk semua nya. Kau hal terindah yang pernah ada dalam hidupku, maaf aku selalu menyusahkan mu.” Sehun terdiam mendengar ucapan Hyoyeon, dan semakin terdiam ketika Hyoyeon menagis dan pergi meninggalkan nya. Bunga yang sedari tadi berada dibelakang punggung nya pun kini terjatuh. Sehun menatap nanar kearah Hyoyeon pergi. Ia sadar, sangat sadar bahkan kenapa Hyoyeon bisa meninggalkan nya, sikapnya yang terlalu dingin, bahkan terkesan cuek sehingga tidak pernah memperhatikan Hyoyeon, dan sekrang, semua terlambat.

“Mianhae.. Hyoyeon…”

 

=Miracle In December=

 

Kyungsoo-Jessica

Kyungsoo terdiam melihat suasana didapurnya. Bahan makanan yang begitu saja terccecer, dan semua alat memasak yang berantakan sama sekali tidak membuat lelaki itu bergeming. Ia tetap diam menatap semua nya. Kyungsoo menghela napas nya pelan, entah kenapa perasaan sesak kini memenuhi hatinya, dan tatapan nya masih saja kosong. Kyungsoo memegang bahan masakan yang akan ia buat menjadi sebuah kue nanti. Tapi tidak bisa, semua yang akan ia lakukan didapur ini pasti saja akan membuat hatinya merasa sesak.

Kyungsoo terdiam, betapa ia sangat membutuhkan Jessica saat ini. Kadang ia berfikir kenapa penyesalan harus datang terakhir? Kenapa dulu tuhan tidak memberi nya kesadaran bahwa Jessica adalah wanita yang terbaik yang telah diberikan oleh nya. Ia egois, seharus nya ia mempercayai semua ucapan orang tua nya yang berkata bahwa Jessica adalah anak yang baik, mempercayai semua orang yang berkata bahwa Jessica adalah orang yang berhati mulia. Tapi Kyungsoo hanya menutup telinga nya ketika orang-orang mulai membicarakan Jessica, hanya karena ia dan Jessica dijodohkan, ia sangat membenci Jessica.

Kyungsoo semakin terdiam, semua kejadian tentang bagaimana ia menyekiti Jessica kembali teringat, bahkan ia merasa seperti berada disebuah gedung yang sangat besar, dan menamplkan film-film tentang erlakuan kasar nya pada Jessica, ia bahkan tidak pernah memandang Jessica dan menyapa nya sebentar. Ia terdiam, andai saja Jessica kembali kerumah ini, ia akan meminta maaf yang sebesar-besar nya pada wanita itu.

Kyungsoo melangkah keluar rumah nya tanpa menyapa Jessica terlebih dahulu.Jessica  hanya diam menatap Kyungsoo yang sudah menjauh dari rumah nya. Sebuah kotak bekal yang sudah ia persiapkan pun hanya ia tatap dengan sendu. Jessica menghela napas nya pelan, berharap bahwa sakit didada nya bisa hilang, tapi percuma saja, semua nya tidak akan pernah terjadi.

 

Sudah hampar satu tahun pernikahan antara Kyungsoo dan Jessica terjalin, tapi tetap saja, tidak pernah ada hal spesial yang terjadi, sama seperti awal mereka menikah, datar dan hampa.

 

Jessica terdiam di kamarnya, ia segera menghampiri jendela ketika ia mendengar sebuah suara mobil memasuki halaman rumahnya. Jessica tersenyum, tapi ia sama sekali tidak berniat untuk mengahmpiri Kyungsoo, ia terlalu takut, takut jika Kyoongsoo akan kembali marah padanya.

 

o0o

 

Jessica masih sibuk dengan semua kegiatan nya didapur, dan selama itu pula senyuman terus saja merekah di bibirnya. Sesekali bahkan ia bernyanyi menyalurkan rasa senang nya.

 

“Kyungsoo~ya! Mulai saat ini aku akan mencoba membenahi hubungan kita, kau tunggu aku yah.” Gumam Jessica pelan pada semua masakan dihadapan nya. Ia masih tidak prcaya pada hal yang dilakukan oleh Kyungsoo kemarin, memakan semua masakan nya. Hey, tentu saja itu hal yang membahagiakan bagi Jessica, lelaki berwajah imut tapi bersikap dingin itu mencoba semua masakan nya, sungguh sebuah keajaiban bukan.

 

Jessica terus melangkah kan kaki nya menuju sebuah gedung tempat diaman Kyungsoo, suaminya bekerja. Sesekali ia membalas senyuman dan juga sapaan orang-orang yang melihatnya. Dan sekarang, disinilah Jessica tepat dihadapan ruangan Kyungsoo. Dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung membuka pintu ruangan Kyungsoo.

 

Dan betapa terkejut nya Jessica, ketika mendapati Kyungsoo tengan bercumbu dengan seorang wanita. Kotak bekal yang sedari tadi Jessica bawa terjatu, menimbulkan sebuah suara. Kyungsoo, dan orang yang tadi bersama nya menatap ke sumber suara. Sang wanita yang tadi bercumbu dengan Kyungsoo segera berdiri dan membetulkan bajunya, kemudian berlari pergi, tanpa meminta maaf sedikitpun pada Jessica.

 

Jessica terdiam, tatapan nya masih mengarah pada Kyungsoo, mencoba meminta penjelasan pada Kyungsoo.

“Apa lagi yang harus aku jelaskan? Semua sudah jelas bukan.” Kyungsoo menunjukkan smriknya. Jessica tertunduk, seharus nya ia sadar sejak awal, Kyungsoo tidak benar-benar menyukai nya, seharusnya sejak awal Jessica tidak harus sesenang ini, Kyungsoo tetap lah Kyungsoo, lelaki brengsek yang harus singgah dihati Jessica .

 

Kyungsoo terdiam, ia memejamkan matanya ketika dada nya merasakan sakit. Kenapa perasaan ini tidak datang sejak awal? Kenapa ia tidak menyadari bahwa senyuman Hyoyeon itu sangat indah, kenapa? Kenapa? Kenapa?

“Arghh…” Kyungsoo berteriak prustasi. Tangis nya pecah kini, ia sama sekali tidak tau apa yang harus ia lakaukan sekarang. Ia salah, semua ini salah nya, semua orang bahkan menyalahkan nya ketika Jessica menangis dan kembali pada orangtua nya, ini semua salah nya.

 

o0o

Kyungsoo terus berjalan menyusuri taman yang sudah dipenuhi oleh salju ini. Ia memperat pelukan nya pada sebuah kotak makanan, tekad nya sudah bulat sekarang, ia harus meminta maaf pada Jessica, dan mebawa nya kembali pada nya.

Tapi langkah nya terhenti disebuah tangga, ia menatap keatas, langit yang saat ini sedang menurunkan bulir-bulir salju, dan lonceng-lonceng yang berbunyi merayakan hari natal malam ini. Kyungsoo memejamkan matanya, dan semakin mempererat dekapan nya pada kotak makanan yang ia bawa.

“Tuhan, aku mohon beri aku keajaiban malam ini. Biarkan aku memperbaiki hubungan ku dengan Jessica , aku menyesal, benar benar menyesal tuhan.”

 

=Miracle In December=

The End

 

Jangan lupa tinggalakan jejak dengan membuat komentar oke. Saya pertegas sekali lagi, ff ini bukan untuk kalian para siders, melainkan unmtuk para readers yang mau berkomentar🙂

28 thoughts on “[Freelance] Miracle In December

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s