[Freelance] Back To December

back-to-december_resized

Back To December

By Lee Yoon Ji

Main Cast

Choi Sooyoung | Huang Zitao

Support Cast

Random Idol

Genre

Romance | Happy | Friendship

Length

Oneshot

Rating

Teen

Disclaimer

Cast milik orangt tua, Tuhan dan SM Ent. Cerita murni milik saya. Maaf jika ada typo yang tersebar juga cerita yang rada aneh. I am not a perfect author. Poster by icydork.

**

Prolog

Kaca tembus pandang yang memisahkan bagian dalam rumah minum di salah satu pinggiran kota Seoul itu semakin lama semakin kabur karena hawa musim dingin yang terus-terusan datang. Titik-titik putih juga terus turun menutupi seluruh bagian jalan. Memberi kesan suci dan bersih di setiap sudut bahkan yang tidak terjangkau mata. Beberapa hiasan berwarna merah juga sudah memenuhi beberapa sudut jalan.

“Aku lebih memilih berada di dalam rumah jika cuacanya seperti ini”. Ucap seorang yeoja jangkung yang terus-terusan mengeluarkan asap putih dari bibir mungilnya. Namja yang berada di sampingnya terkekeh lalu mulai mencubit hidung mancung yeoja itu.

“Tapi akhirnya kau memilih keluar bersamaku kan?”. Balas namja itu dengan kekehan puas sudah berhasil mengerjai yeoja di sampingnya. Huang Zitao meraih gelas latte­-nya dan berfikir bahwa mungkin ini adalah saat yang tepat untuk menaikkan level hubungannya bersama Choi Sooyoung. Yeoja asal Korea Selatan yang selama 3 tahun terakhir ini berstatus sebagai pacarnya.

“Choi Sooyoung”. Panggil Tao pelan. Sooyoung yang sibuk memperhatikan lalu lintas jalanan langsung menoleh dan menaikkan alis melihat wajah serius seorang Huang Zitao yang sangat jarang ia lihat. Pelan tapi pasti Tao meraih tangan kanan Sooyoung dan langsung melingkarkan cincin perak yang ia beli di toko perhiasaan beberapa minggu lalu.

“Huang Zitao…ini…”. Sooyoung tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Mata tajam Huang Zitao sedang mengawasi matanya. Menuntut sebuah jawaban atas pertanyaan tersirat yang baru saja Tao ajukan padanya.

“Would you marry me?”.

Choi Sooyoung ingin mengiyakannya, namun hatinya menolak. Sebuah batu bata besar seperti tiba-tiba masuk melesak ke dalam dadanya. Menembus sebuah lubang yang sudah lama Sooyoung berusaha tutup.

Seoul, 4 tahun yang lalu…

-Sooyoung-

“Aku pulang”. Sahut sebuah suara dari arah pintu. Aku yang masih sibuk mencicipi nasi untuk membuat kimbap langsung melesat keluar dan menemukan Yoona sudah berdiri di depan pintu dengan butir-butir salju menempel di rambut hitamnya. Di tangan kirinya tergantung sebuah tas dengan merk sebuah toko coklat yang cukup terkenal.

“Merry Christmas!!”. Teriak Yoona sambil memberiku sebuah pelukan. Aku yang belum siap menerima pelukannya langsung terhuyung sedikit ke belakang. Kudengar Yoona terkekeh kecil lalu dia melepaskan pelukannya.

Mwoya?? Natal masih 1 minggu lagi”. Tanyaku bingung.

Gweancana. Ini untuk eonni. Aku menghabiskan waktu 1 jam untuk mengantri hanya untuk ini. Coklat madu kesukaan eonni”. Aku menerima tas yang di sodorkan Yoona dan mengintip isinya. Sedikit celah pada kotak itu mengeluarkan wangi khas coklat yang sudah lama menjadi kesukaanku. Tanpa menunggu ucapan terima kasihku Yoona langsung melesat menuju kamarnya yang berada di lantai dua dengan menghasilkan derak keras pada tangga kayu yang tepat berada di samping dapur. Anak itu…

Dert!!

Aku langsung tersentak mendengar getar ponselku yang kutaruh di atas meja. Sebuah nomor asing terpampang pada layar dan tanpa memikirkan hal buruk apapun aku mengangkatnya. Seperti mendapat sebuah bom molotov, aku merasa dunia di sekitarku hancur. Suara berat yang mengatakan bahwa dirinya adalah polisi mengabarkan bahwa Choi Siwon, namja yang selama 5 tahun terakhir ini menjadi kekasihku telah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di daerah Gangnam.

Dalam keremangan yang kurasakan,bisa kudengar langkah kaki dari atas sudah menuruni tangga dengan cepat.

 “Eonni!!”. Teriak Yoona. Aku bisa mendengarnya tapi aku tidak dapat melihat wajahnya. Gelap.

-Zitao-

Aku melirik jam pada tangan kiriku dan mendapati bahwa waktu sudah sampai pada angka 11 malam. Gerimis bercampur salju yang sedari tadi membasahi Seoul sepertinya tidak ingin berhenti. Aroma aneh antara debu dan tanah yang basah menyeruak ke dalam rongga hidungku.

“Zitao”. Panggil seseorang dari arah belakangku. Aku menoleh dan menyelesaikan kegiatanku menyalakan pemantik api untuk membakar rokok yang baru saja kubeli. Kehangatan langsung mengaliri tubuhku walau hanya sepersekian detik kurasakan karena tangan besar seorang namja sudah menarik benda itu dari mulutku, membuangnya di jalan dan membiarkannya dilindas ban mobil yang baru saja lewat.

“Berhentilah merokok. Jaga kesehatanmu”. Ucap Kris dengan nada memerintah. Aku mendengus kesal memandang namja itu walau kuakui tatapan tajamnya membuatku tidak berani menarik puntung rokok lain dalam kantongku.

Mwoya, hyung?”. Tanyaku sedikit kesal.

“Sudah saatnya kau berhenti berkeliaran jam segini Huang Zitao. Besok kau sudah mulai bekerja”. Aku menaikkan alis mendengar ucapan Kris barusan. Bekerja?.

“Apa maksud hyung?”. Tanyaku lagi. Kris terkekeh lalu mengeluarkan sebuah berkas warna putih dari balik punggungnya yang bidang dan bisa kulihat pada ujung atas berkas tersebut bertengger nama sebuah restoran, ‘EXOSHIDAE Restaurant’.

“Ini restoran milik temanku dan aku merekomendasikan kau untuk bekerja di sini. Aku sudah tidak tahan melihat banyak air mata keluar dari para yeoja yang berpacaran tidak lebih dari 3 hari denganmu”. Tanpa sadar aku langsung terkekeh mendengar ucapan Kris barusan. Memang benar kata Kris, hubunganku dengan seorang yeoja tidak akan pernah lebih dari 3 hari hanya karena aku merasa yeoja itu tidak cocok untukku. Mungkin terdengar kejam tapi yeoja-yeoja itulah yang punya otak dangkal. Menyukai seorang namja dengan reputasi rendah di mata masyarakat. Rasakan akibatnya. Hahaha.

-Author-

Kerumunan orang berbaju serba hitam itu langsung keluar dari sebuah tempat yang di jadikan tempat peristirahatan terakhir untuk seorang namja bernama Choi Siwon. Hanya tersisa 6 orang dalam tempat tersebut.

Oppa”. Ucap Sooyoung parau. Yoona yang merasa kasihan melihat kondisi eonni-nya itu hanya bisa mengusap punggung Sooyoung dengan pelan. Berusaha mengalirkan kehangatan dan ketenangan ke dalam jiwa kakak perempuannya yang sedang bersedih itu.

“Sudah Sooyoung~ah. Siwon pasti tidak ingin melihatmu menangis terus seperti ini”. Ucap Ahjumma Choi ikut menenangkan Sooyoung. Walau hati ahjumma itu masih belum bisa menerima kematian anak pertamanya itu, dia yakin anaknya itu tidak ingin melihat yeoja yang dicintainya terus-terusan bersedih. Sooyoung mengusap air mata yang mengering di pipinya dan menatap ahjumma Choi dengan tatapan sendu.

“Kenapa ini harus terjadi ahjumma? Kenapa?”. Tanya Sooyoung masih dengan suara paraunya. Yoona memberikan segelas air pada Sooyoung yang sayangnya ditolak.

“Sudah Sooyoung~ah, kita tidak bisa melanggar kuasa Tuhan”. Jawab Ahjumma Choi masih terus berusaha menenangkan yeoja yang sebenarnya akan menjadi menantunya beberapa hari lagi seandainya putranya yang bernama Choi Siwon tidak meninggal dunia. Ahjumma Choi tahu bahwa anak laki-lakinya itu sudah melamar Sooyoung, namun siapa sangka Tuhan berkata lain.

Akhirnya entah karena sudah lelah menangis atau tidak tahan melihat peti kekasihnya tersebut, Sooyoung mohon pamit kepada Ahjumma Choi sementara Ahjussi Choi masih sibuk mengurus kerabat yang akan pulang. Yoona yang kebetulan datang bersama Luhan menawari eonni-nya itu tumpangan yang lagi-lagi di tolak Sooyoung.

“Tapi eonni…”. Ucap Yoona ingin membantah penolakan Sooyoung. Sooyoung langsung mengangkat tangannya ke depan wajah Yoona dan sukses membuat yeoja itu diam. Dengan terpaksa Yoona memasukkan dirinya dalam mobil putih Luhan dan meminta namjachingu-nya itu untuk melajukan mobilnya menuju rumah.

-Sooyoung-

Aku hanya bisa menatap jalanan sepi di depanku dengan perasaan kosong. Aku tidak punya tujuan kali ini dan membiarkan kaki jenjangku melangkah sendiri. Langkahku terhenti ketika melihat sebuah kedai minum pinggir jalan yang sama sepinya dengan perasaanku.

“Ahjussi tolong soju”. Pintaku langsung setelah aku duduk. Ahjussi berumur kira-kira 35 tahun itu langsung menyerahkan satu botol soju dan juga menawarkan kue beras yang sayangnya kutolak. Aku tidak punya selera makan saat ini.

Hatiku masih tidak ingin percaya. Choi Siwon. Namja yang 1 minggu yang akan datang lagi berjanji akan menjaga ku hingga kami menghadap Tuhan justru melanggar janjinya dengan pergi terlebih dahulu. Dokter bilang hantaman keras pada mobilnya membuat diri Siwon tidak bisa bertahan hingga tiba di rumah sakit. Aku tidak akan menyalahkan siapapun dia yang menabrak mobil Siwon. Yang ingin kusalahkan adalah diriku sendiri. Aku yang dengan bodohnya membiarkan Siwon pergi ke Gangnam bahkan ketika hari sudah larut malam dan memintanya membelikanku sekotak coklat madu. Jika saja aku tidak memaksanya, aku yakin dia masih bersamaku sekarang. Mencubit hidung mancungku dengan jahil. Mendorong kepalaku hanya karena dia ingin menggodaku. Semua hal kecil yang Siwon lakukan padaku seperti sebuah butir-butir salju yang sekarang ini sudah kembali turun. Bahkan cincin perak yang sekarang terlingkar di jariku tidak terasa hangat lagi.

-Zitao-

Aku mengulurkan tangan melewati kanopi sebuah toko coklat yang sudah tutup beberapa jam yang lalu. Butir demi butir salju langsung memenuhi tanganku yang sudah teraliri hawa dingin dan menusuk. Aku baru saja kembali setelah bekerja di restoran tempat Kris mempekerjakanku dan menemukan bahwa untuk kali ini saja tindakan Kris membantuku. Pekerjaan ku tidak terlalu berat juga tidak terlalu ringan. Menyapa tamu yang baru masuk, memberi mereka menu dan menunggu untuk beberapa saat untuk mencatat pesanan mereka.

Srkk…srkkk

Bunyi langkah kaki yang di seret dengan paksa itu langsung memecah kesunyian yang sedari tadi menyelimutiku. Aku memasang kuda-kuda untuk berjaga-jaga namun ternyata suara tersebut berasal dari kaki seorang yeoja yang memakai baju hitam dengan rambut coklat sedikit acak-acakan.

Buk!

Tubuhku langsung terhuyung ke belakang ketika tubuh yeoja itu roboh tepat di pelukanku. Astaga, apa-apaan ini??.

Agashi irona…agashi?”. Ucapku sambil mengguncang-guncangkan tubuh yeoja itu yang tidak juga memberikan respon bahkan ketika kurasa aku sudah melakukannya hampir 5 kali. Akhirnya karena tidak ada pilihan lain aku langsung mencari ponsel milik yeoja itu dan menghubungi sebuah nama yang sepertinya punya hubungan dekat dengan yeoja ini.

Yeoboseo, eonni wae? Eonni dimana?”. Sapa suara dari seberang sana.

“Tunggu, aku bukan eonni-mu walaupun aku yakin yeoja ini-lah yang kau maksud”.

Ya! Nuguya? Kenapa ponsel Sooyoung eonni ada padamu? Kau menculiknya?”. Teriak suara yeoja itu dengan beruntun. Aku menjauhkan ponsel hitam itu dari telingaku. Setelah yakin yeoja itu tidak akan melanjutkan teriakannya lagi aku lalu kembali mendekatkan benda itu pada telingaku.

“Tenanglah agashi. Aku bukan penculik. Sooyoung eonni-mu ini pingsan dan kebetulan aku melihatnya. Bisakah kau menjemputnya?”. Kudengar gumaman persetujuan dan sambungan telepon itu langsung diputus saat itu juga bahkan ketika aku belum membuka mulut.

-Author-

Ruangan berwarna kayu natural itu terbangun keesokan paginya dengan masih diselimuti hawa musim dingin yang semakin kuat menjelang Natal tiba. Sooyoung masih berusaha membiasakan diri dengan cahaya yang matanya terima dan akhirnya sadar bahwa ia ada di kamarnya sendiri.

“Ughh”. Desah Sooyoung sambil mencengkram kuat kepalanya yang terasa sakit. Perutnya juga terasa mual dan akhirnya dengan tenaga yang entah tinggal berapa, Sooyoung memaksakan dirinya masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya ke dalam kloset. Cairan demi cairan terus mengalir lewat mulutnya bersamaan dengan menguarnya bau khas minuman keras yang sering ada di kedai pinggir jalan.

Eonni, gweancana?”. Tanya sebuah suara dari luar kamar mandi. Sooyoung ingin menyahut tapi kerongkongannya terasa kering. Akhirnya setelah merasa yakin dia tidak akan muntah lagi, Sooyoung memutar kenop pintu dan membiarkan Yoona menuntunnya menuju meja.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa ada di kamarku?”. Tanya Sooyoung setelah meneguk segelas air pemberian Yoona. Yoona menatap Sooyoung dengan khawatir lalu mendesah nafas pelan.

Eonni pingsan di pinggir jalan, tapi untungnya ada seorang namja yang menolong eonni dan menghubungiku”. Jawab Yoona sambil terus mengusap punggung Sooyoung. Sooyoung membentuk kata ‘O’ di bibirnya lalu terdiam. Tidak ada perbincangan yang terjadi antara keduanya selama beberapa menit sampai akhirnya suara ketukan dari arah pintu memecah keheningan dan Yoona yang sudah meyakinkan Sooyoung bahwa dirinya akan membawakan sarapan Sooyoung langsung melesat keluar.

-Sooyoung-

Noona gweancana?”. Tanya Luhan yang sudah menuangkan air panas pada teh hijau di hadapanku. Aku mengangguk pelan lalu mulai mengingat-ngingat lagi apa yang membuatku bisa pingsan dan muntah sangat parah seperti tadi pagi.

“Aku akan mandi”. Ucapku tiba-tiba ketika teringat janji cuti sehariku pada Tiffany dan Suho, owner restoran tempatku bekerja. Yoona yang kutahu sedang berada di dapur langsung pergi keluar dan menatapku dengan tatapan tidak setuju. Aku maju mendekatinya dan menyentuh bahunya dengan pelan.

“Izinku hanya berlaku satu hari Yoong, lagipula eonni sudah tidak apa-apa”. Ucapku sambil menatap Yoona. Desahan putus asa keluar dari bibir madunya dan akhirnya dia mengizinkanku pergi bekerja dengan syarat Luhan harus mengantarku.

Restoran

Kling~

Bunyi bel pintu yang kutahu selalu di pasang oleh Tiffany dan Suho ketika menjelang natal langsung menyambutku ketika aku mendorong pintu restoran.

“Selamat pagi”. Sapa seorang pelayan dengan perawakan tinggi berisi. Otot-otot keluar dengan nyata lewat seragam yang dia kenakan. Seakan tidak rela kerja keras mereka untuk terbentuk harus tertutupi.

“Ah ne”. Balasku bingung. Wajah namja itu terasa asing untuk beberapa saat yang berarti dia mungkin karyawan baru di restoran ini, tapi entah kenapa ada sesuatu dalam nada suara namja itu yang membuatku yakin aku pernah mendengarnya di suatu tempat.

 “Sooyoung~ah”. Panggil suara lain yang berasal dari arah dapur restoran. Aku menengok dan melihat Tiffany sudah berjalan ke arahku dengan gerakan anggun.

“Fany~ah”. Balasku sambil memeluknya. Dari ekor mataku, kulihat Suho juga ikut-ikutan muncul. Dia hanya mengangkat tangan lalu kembali sibuk dengan sesuatu seperti serbet berwarna merah.

“Apa kau baik-baik saja? Yoona bilang kau sakit jadi kupikir kau tidak akan masuk hari ini”.

“Ah gweancanayo, hanya pusing. Lagipula aku sudah tidak masuk kemarin. Aku kan tidak ingin gajiku di potong menjelang Natal”. Jawabku sedikit bercanda. Kudengar Suho ikut tertawa bersamaku dan Tiffany.

-Zitao-

Aku hanya bisa memandang yeoja jangkung yang baru saja masuk itu dengan alis terangkat. Aku ingat yeoja itu. Yeoja yang sama yang tadi malam pingsan tepat di depanku dan membuatku kesusahan untuk beberapa menit.

“Zitao, bisakah kau kemari sebentar?”. Panggil Tiffany noona ketika aku masih sibuk memandangi butir demi butir salju yang kembali turun lewat kaca jendela besar restoran. Aku langsung mengangguk dan berdiri di samping Tiffany noona dengan kikuk.

“Perkenalkan, ini Choi Sooyoung, dia manajer restoran ini. Dia orang kepercayaan kami, jadi tolong patuhi perintahnya jika kau tidak ingin gajimu di potong menjelang Natal”. Ucap Tiffany dengan nada bercanda. Aku terkekeh kecil lalu mulai memandang yeoja bernama Choi Sooyoung yang berdiri di hadapanku.

Annyeonghaseo, Choi Sooyoung imnida”.

N…ne. Annyeonghaseo Huang Zitao imnida”.  Ucapku untuk membalas perkenalan diri Sooyoung. Tiffany tersenyum puas lalu kembali menyuruhku untuk bekerja sementara dirinya dan Sooyoung menghilang dari balik pintu yang memisahkan dapur dengan bagian dalam restoran.

“Choi Sooyoung’.

-Author-

Bintang-bintang redup kembali muncul pada malam musim salju yang semakin menjelang Natal menjadi semakin dingin. Salju turun lebih cepat tahun ini. Bahkan Natal-pun seperti di majukan. Hiasan-hiasan khas berwarna merah dan emas sudah memenuhi restoran yang berada di sudut jalan kota Seoul. Menambah semarak penuh semangat para pelayan restoran yang terus bekerja tanpa henti. Melayani banyak pelanggan yang semakin sering datang seiring waktu cepat berlalu. Tak ingin melewatkan makanan khas EXOSHIDAE Restaurant yang hanya akan ada ketika Natal.

“Huang Zitao, kau boleh istirahat. Biar Ki Bum yang melanjutkan pekerjaanmu”. Sahut Sooyoung yang sibuk berdiri di belakang meja kasir. Mengawai kepuasan para pelanggan terhadap layanan yang diberikan para bawahannya. Zitao menoleh lalu mengangguk dan segera menuju ke bagian belakang restoran untuk mengambil jatah makanannya.

Noona tidak makan?”. Pertanyaannya itu meluncur begitu saja dari mulut Huang Zitao. Bahkan namja itu sendiri terlihat terkejut setelah menanyakan pertanyaan yang sangat jarang ia ajukan bahkan kepada yeojachingu-nya sendiri.

“Ah sebentar lagi. Kau duluan saja”. Jawab Sooyoung tanpa memperhatikan keterkejutan Zitao. Akhirnya masih dengan kebingungan yang memenuhi kepalanya, Zitao menghilang dari balik pintu.

-Zitao-

Bagaimana bisa mulutku yang sering menghisap rokok ini mengeluarkan pertanyaan semanis tadi?. Menanyakan kepada seorang yeoja yang notabene baru kukenal selama beberapa jam apa dia tidak makan. Pasti aku sudah gila.

Setelah meminta izin kepada Suho hyung untuk mengambil beberapa porsi makanan, aku langsung menuju sebuah ruangan yang memang menjadi tempat makan para karyawan restoran. Kupilih sebuah kursi yang berada di sudut dan mulai menyendokkan nasi dengan kepiting saus yang menjadi pilihan wajib para pelanggan restoran.

Klik

Bunyi handel pintu yang diputar itu seketika menghasilkan sebuah gema kikuk yang memekakan telingaku. Di depan pintu sudah berdiri sosok jangkung yang tadi menyuruhku untuk beristirahat.

“Apa aku mengganggumu?”. Tanya Sooyoung yang sudah menenteng sebuah kotak makan berwarna pink-putih. Aku menggeleng lalu kembali memusatkan perhatian pada makanan di hadapanku. Kurasakan tatapan Sooyoung masih menuju ke arahku namun aku terlalu sibuk memikirkan bahan pembicaraan apa yang bisa ku ajukan padanya. Aku tidak suka suasana yang awkward.

“Kudengar dari Tiffany, kau baru-baru saja bekerja disini?”. Tanya Sooyoung setelah kulihat dari ekor mataku ia membuka kotak makanannya.

Ne, baru kemarin”. Jawabku singkat. Akhirnya dengan penuh percaya diri aku bisa mengangkat kepalaku yang sudah mulai sakit karena terus-terusan menunduk dan melihat Sooyoung sudah mengangguk-anggukan kepalanya.

“Entah bagaimana mengatakannya, tapi aku merasa aku pernah bertemu denganmu. Bagaimana menurutmu?”. Aku tersentak mendengar pertanyaan Sooyoung barusan. Apa dia ingat bahwa aku namja yang menolongnya kemarin malam?.

 “Jinjja? Apa noona benar-benar tidak ingat dengan kejadian kemarin malam?”. Tanyaku memberanikan diri. Sooyoung mengangkat alis lalu menempelkan sumpitnya di mulut. Manis.

Untuk beberapa saat Sooyoung tidak membuka mulut namun akhirnya dia melebarkan matanya dan menatapku tidak percaya.

“Kau…namja yang menolongku?”. Tanyanya sambil menunjuk diriku dengan sumpit putihnya yang kotor dengan saus.

-Sooyoung-

Aku menatap namja bernama Huang Zitao di hadapanku ini dengan rasa tidak percaya. Dunia memang sudah semakin sempit sekarang. Sungguh.

“Mmm. Aku yang menolong noona”. Jawab Zitao seperti tidak perduli dia mengatakannya atau tidak. Pantas aku merasa familier dengan suaranya. Suara yang memanggil-manggilku ketika aku melihat seluruh dunia diselimuti kegelapan. Hanya samar-samar memang tapi aku tetap bisa mendengarnya. Suara yang di telingaku seperti desiran angin hangat di musim dingin ini.

“Pantas aku merasa familier dengan suaramu”. Zitao mengangkat bahu lagi-lagi dengan gaya tidak perduli lalu kembali memasukkan sesendok nasi kedalam mulutnya. Kesunyian langsung meresap cepat seperti spoon meresap air karena tidak ada perbincangan yang terjadi antara kami.

“Tao~yaa, kau bukan orang Korea kan?”. Dihadapanku Zitao langsung tersedak makanannya sendiri. Cepat-cepat diraihnya minuman soda yang ada di depannya dan meneguknya dengan cepat. Aku yang tidak dapat menahan tawa melihat kejadian itu hanya menatap Zitao dengan geli sekaligus bersalah.

Mianhae noona, pertanyaan noona benar-benar mengejutkanku. Tapi ya, aku bukan orang Korea. Waeyo?”.

Kali ini giliran aku yang mengangkat bahu. Kulihat Zitao mengangkat alisnya, bingung.

“Itu berarti kau tidak ada keluarga di sini kan?…” Zitao mengangguk dalam diam namun ekspresi bingung pada wajahnya belum juga hilang “…bagaimana kalau kau merayakannya bersamaku? Maksudku, bersama adikku juga…anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku untukmu”.

“Patut di perhitungkan”. Jawab Zitao dengan nada bercanda yang membuatku tidak tahan untuk tidak melayangkan sebuah jepitan jari pada tangannya. Dia mengerang kesakitan yang kali ini membuatku tidak tahan untuk tidak tertawa.

-Author-

Dua pasang kaki itu berganti-gantian melangkah di atas jalan yang basah. Memberi kesan bahwa dua orang pemilik kaki-kaki tersebut berjalan bersisian. Gerimis sudah berhenti sejak 10 menit yang lalu tapi aroma aneh debu basah yang ada di sepanjang trotoar tetap menguar. Huang Zitao sudah hampir menarik puntung rokok dari balik kantung celananya ketika ia sadar ia sedang bersama siapa sekarang.

“Maaf jika aku menanyakan ini, tapi…kenapa kemarin malam noona minum-minum hingga mabuk?”. Kali ini Zitao duluan yang membuka suara dan menghasilkan sebuah keganjilan tersendiri baik di antara dirinya dan diri Choi Sooyoung. Sooyoung menghela nafas dalam lalu mulai menatap Zitao dengan tatapan sendu.

“Karena aku baru saja di tinggalkan oleh seseorang yang sangat kucintai”. Sooyoung menjawab dengan nada suara sangat pelan hingga Zitao bisa bersumpah bahwa dirinya hampir tidak bisa mendengarnya seandainya saja tadi dia tidak menggeser tubuhnya lebih dekat ke arah Sooyoung.

“Dia pergi menghadap Tuhan terlebih dahulu”. Lanjut Sooyoung ketika Zitao tidak memberikan respon apa-apa. Zitao membentuk bibir merahnya menjadi ‘O’ dan mendengar Sooyoung terkekeh kering.

“Apa dia…namjachingu noona?”. Tanya Zitao sembari memasukkan kedua tangannya dalam kantung celana. Sooyoung mengangguk pelan di iringi sebuah desahan lain yang keluar dari bibirnya. Huang Zitao tidak bisa menahan diri. Untuk pertama kalinya selama 20 tahun ia hidup, ini pertama kalinya ada sebuah desiran aneh bercampur simpati merasuk ke dalam hatinya yang sering di sebut Kris ‘sekeras batu’. Dan hal itu-lah yang membuat diri Zitao sudah menarik Choi Sooyoung dalam pelukannya. Membiarkan yeoja itu terkejut walau akhirnya Zitao sadar bagian bahu bajunya sudah mulai lembap oleh air mata. Tak ada kata yang terucap sejak saat itu. Taman yang kosong, jalan yang ramai. Semua hal itu hanya menjadi saksi bisu bagaimana diri seorang Huang Zitao mulai mengerti apa yang orang-orang dewasa pada masa kecilnya sebut tentang ‘Cinta pada pandangan pertama’.

**

Epilog

“Ini…”. Sooyoung masih terus menunjuk cincin perak yang melingkar di tangannya dengan perasaan campur aduk. Tak pernah terlintas dalam fikirannya bahwa seorang Huang Zitao bisa bersikap begini romantis. Acara lamaran tiba-tiba yang di susun Zitao membuatnya terharu sekaligus sedih. Tak persis tapi sama. Bulan Desember, menjelang Natal dan salju. Tiga hal itu seperti sebuah magnet yang menempel kuat dalam kehidupan Sooyoung.

“Would you marry me?”. Zitao mengulang pertanyaannya. Kali ini dengan nada lebih tegas. Sooyoung mengerjapkan matanya lalu memandang Zitao yang masih terus menatapnya dengan penuh pengharapan.

“I will, but please don’t bring me back to the last December”. Zitao mengangguk mengerti lalu mendaratkan sebuah ciuman di punggung tangan Sooyoung.

Dia mungkin kembali ke bulan Desember 4 tahun lalu, tapi dia tahu akhir yang ia dapat tak lagi akan sama. Kejadian memilukan itu tak akan lagi terulang. Janji sucinya bersama Huang Zitao akan berjalan mulus hingga ke hadapan Tuhan.

END.

7 thoughts on “[Freelance] Back To December

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s