Beautiful Husband [Part 7]

Beautiful-Husband

Beautiful Husband [Part 7: Main Conflict]

Writing by Priskila (@priskilaaaa)

Byun Baekhyun [EXO K] – Kim Taeyeon [SNSD] | Others cast(s) can find in here

Series | Teen | Romance – Family – Marriage Life

Disclaimer:

I don’t own the cast. But the storyline and the plot is mine. Everything here belongs to God and their family, their agency too. I just used their physical representation.

 

 

Baekhyun merasa anggota tubuhnya melemas. Tidak, Taeyeon disana. Tanpa menyadari kedatangannya, sedang berada dalam pelukan lelaki lain. Lelaki mesum yang tidak tau diri yang masih saja menggoda istri orang lain.

 

Tangan Baekhyun terkepal keras hingga memutih. Detik rasanya lama sekali berlalu. Kakinya memberontak mengikuti keinginannya untuk berlari dan memukul Jongin. Semua melawan dirinya.

 

“Kim Taeyeon…” Dirinya mendesah melihat Jongin tampak begitu bernafsu mencium Taeyeon. Taeyeon yang mulanya tampak menolak dengan ciuman Jongin pun, mulai menikmati dan membalas ciuman itu lebih panas. Ciuman yang tampaknya tak pernah diberikan Taeyeon. Cara Taeyeon mencium Jongin berbeda dengan caranya mencium Baekhyun.

 

Baekhyun mendesah dalam hati. Dia baru menyadari satu hal.

 

Taeyeon memang tidak mencintainya. Ungkapan gadis itu selama ini semata – mata untuk menyenanginya dan membuktikan pada Eommanya bahwa dia bisa membuat Baekhyun menjadi lelaki jantan. Baekhyun memang mendengar pembicaraan mereka waktu itu.

 

Tanpa sadar, air matanya mengalir membasahi pipinya. Membuatnya harus berulang kali membersihkan air matanya itu. Walau menyakitkan, Baekhyun tetap berdiri di sana. Di dalam kegelapan hingga tak disadari. Dia tetap disana hingga dia melihat Taeyeon kembali menarik Jongin – yang sebelumnya sempat melepaskan ciuman mereka – dan mencium lelaki itu lagi.

 

Tidak, Baekhyun tak sanggup. Lelaki itu akhirnya memilih untuk meninggalkan club itu. Sendirian dengan tangis yang pecah dalam mobilnya.

 

“Kau tidak mencintaiku, Kim Taeyeon…”

 

Baekhyun berpura – pura terlelap ketika pintu kamarnya terbuka. Taeyeon sudah pulang. Dengan keadaan yang kacau. Jaket yang semula dipakainya ketika mereka datang ke club sudah dilepas, menyisakan dress ketat hitam yang hanya sependek setengah pahanya itu. Rambutnya juga sudah berantakan – padahal sebelumnya dia tau betul jika Taeyeon mengikat samping rambutnya itu.

 

“Baek—sudah tidur…” Taeyeon tersenyum kecil melihat suaminya yang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut itu. Mulutnya mendesah pelan sambil menatap langit – langit kamarnya. Kakinya melangkah memasuki kamar mandi di kamar mereka, lalu membersihkan diri.

 

Sesal menetap dalam hatinya. Baekhyun pasti kecewa padanya. Dan dia salah. Taeyeon menyadari hal itu.

 

Mianhae Baekhyun-ah. Mianhae” bisiknya. Taeyeon mendudukkan dirinya di kasur mereka, dan menaikkan kedua kakinya ke atas tempat tidur, lalu menyandarkan tubuhnya pada headboard. Matanya tertuju pada tubuh Baekhyun yang terlelap di sebelahnya. Gadis itu tersenyum lagi. Entah mengapa setiap melihat suaminya itu, ingin sekali rasanya dia mengukir senyum terindah miliknya.

 

Tangannya bergerak mengelus pelan rambut Baekhyun. Lalu mencondongkan tubuhnya pelan ke arah Baekhyun, dan mencium pelan dahi lelaki itu. “Mianhae

 

Pagi itu datang. Suasana rumah tangga itu tampak kaku. Lebih kaku dan dingin daripada saat malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri kurang lebih dua minggu yang lalu. Haha, lucu sekali. Padahal mereka terbilang pasangan yang masih sangat baru. Tapi ada saja konflik yang terbilang konyol yang dapat membuat hubungan renggang.

 

Baekhyun hanya terduduk di depan televisi tanpa ada niat untuk menontonnya sama sekali. Lelaki itu merasa kosong. Dirinya sudah terbiasa dengan Taeyeon yang selalu memeluknya ketika mereka menonton. Dia sudah terlalu terbiasa dengan kecupan selamat pagi yang selalu diberikan Taeyeon di pipinya. Dan pagi ini, semua kebiasaan itu seperti lenyap dibawa angin.

 

Wajahnya mendadak memerah. Baekhyun ingin menangis saat itu juga mengingat moment mereka selama ini. Taeyeon memegang tangannya, Taeyeon memanjakannya, Taeyeon menciumnya, Taeyeon memeluknya,… tapi semua itu rupanya tak dilakukan gadis itu dengan cinta yang tulus. Taeyeon tidak mencintainya, dia mencintai kekasih lamanya – Jongin.

 

“Hikk—hiks.. Hiks..” Baekhyun mulai terisak. Kakinya yang semula diluruskan, perlahan beringsut menjadi sandarannya untuk menangis. Lelaki itu memeluk kakinya dan menangis. Tidak peduli dengan suara isak tangisnya, toh takkan ada yang mendengar apalagi melihat. Istrinya – ah tidak, Taeyeon, gadis itu pergi pagi – pagi setelah menyiapkannya sarapan.

 

Entah apa yang dilakukannya. Taeyeon hanya meninggalkan pesan di pintu kulkas, ‘Aku pergi sebentar ya. Mungkin pulang agak malam. Sarapan ada di meja. Mian mendadak’.

 

Baekhyun menangis dalam kesepiannya. Kondisi rumah tangganya yang baru ini sudah kacau. Entah bisa diperbaiki lagi atau tidak. Entah perasaannya ini bisa utuh kembali atau tidak tanpa adanya Taeyeon. Dia sudah terlanjur. Terlanjur mencintai Taeyeon.

 

Dia sudah terlanjur mencintai Kim Taeyeon, istrinya itu. Tapi…. Taeyeon tidak mencintainya.

 

Hatinya terasa sangat sakit. Dan ini untuk pertama kalinya, pertama kali dia menangisi seorang wanita yang begitu berarti baginya setelah Eommanya sendiri.

 

 

Benar kata Taeyeon. Gadis itu memang pulang larut. Baekhyun mendesah dalam kamarnya ketika melirik jam dinding. Sudah jam setengah sebelas malam, dan gadis itu belum juga datang. Dia melakukan apa sampai selama ini?

 

Baekhyun berpikiran buruk. Mungkinkah dia menemui Jongin dan bersama dengan lelaki itu sampai semalam ini? Atau bahkan mungkin dia tidak pulang hari ini? Lelaki itu memeluk lututnya dalam kamar yang lampunya – sengaja – tidak dinyalakan itu. Dia menunggu Taeyeon, menunggu istrinya itu pulang. Dia ingin meminta penjelasan Taeyeon. Dia tidak sanggup hidup dalam sepi ini. Sudah ditekankan kan kalau dia terlanjur terbiasa dengan kehadiran Taeyeon?

 

Kepalanya yang semula tenggelam dalam lututnya itu mendadak menegak ketika dia mendengar pintu apartemen itu terbuka. Baekhyun buru – buru menggunakan sendal tidurnya dan segera berjalan keluar dari kamar. Lelaki itu hanya tertegun ketika melihat sosok Taeyeon yang tampak lesu berjalan memasuki apartemen mereka. Sekali lagi pertanyaan, apa yang sebenarnya gadis itu lakukan?

 

“Oh, Baekhyun…” Gadis itu mengangkat kepalanya dan menyapa suaminya yang berdiri di depan pintu kamar mereka. Suaminya itu tampak manis sekali dengan sweater rajut berwarna krem dengan celana jeans favoritnya. “Kenapa belum tidur?” tanyanya dengan nada – yang diusahakan – tenang.

 

Baekhyun terdiam, tak menjawab. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeansnya dan berjalan menghampiri gadis yang telah duduk manis di sofa itu. Taeyeon menengadahkan kepalanya ke langit – langit dan menghembuskan nafas lelah. Namun sesaat kemudian, gadis itu menyadari kedatangan Baekhyun. Dirinya tersenyum ketika Baekhyun beringsut duduk di sampingnya.

 

“Darimana?”

 

Taeyeon menoleh dalam diam. Baekhyun bertanya, namun tak sama sekali menatapnya.

 

“Pergi pagi sekali, lalu pulang malam begini. Apa yang kau lakukan sebenarnya, Taeyeon?” Baekhyun tetap tak menatapnya. Dia memilih untuk menatap meja yang kosong itu.

 

Taeyeon mendesah. Dia tak ingin bertengkar ataupun beradu mulut dengan Baekhyun hari ini. “Aku lelah,” ujarnya lalu bangkit berdiri.

 

“Kim Taeyeon!” Baekhyun menatap tajam punggung Taeyeon yang sudah berjalan ke kamar mereka itu, membuat Taeyeon berhenti melangkah. “Aku sedang bertanya padamu!” bentaknya.

 

“Aku sedang tak ingin berbicara banyak, Baek…” Taeyeon kembali melangkah masuk.

 

Baekhyun geram. Spontan saja dia berdiri dengan amarahnya yang memuncak, “KIM TAEYEON!”

 

Mian…” bisiknya sebelum kembali menutup pintu kamar.

 

Jujur, Taeyeon tak tenang dalam tidurnya. Lelaki itu mendiaminya lagi. Setelah pertengkaran yang terjadi tadi, Baekhyun masuk ke dalam kamar tanpa banyak bicara – melainkan memandangnya dengan tajam. Mengambil bantal dan selimut lalu keluar. Lelaki itu tidur di luar, dengan arti… lelaki itu menolak tidur bersamanya malam ini.

 

Taeyeon menutup mulutnya, matanya mulai berkaca – kaca. Tak perlu mengulir waktu, dirinya sudah terisak.

 

Kim Taeyeon memang bodoh! Ini semua salah dirinya sendiri, tapi kenapa dia harus menangis? Seakan Baekhyunlah yang salah. Baekhyun sama sekali tidak bersalah, dia yang salah. Bagaimana mungkin ketika kau tau dirimu sudah berstatus menjadi istri orang lain, kau malah asyik berciuman dengan mantan kekasihmu? Dimana mata dan hatimu, Kim Taeyeon?!!

 

Taeyeon masih saja terisak seiring waktu yang berjalan. Gadis itu merasa bersalah. Tapi dia tidak mampu untuk mengungkapkan kesalahannya pada Baekhyun. Dia tau Baekhyun melihatnya berciuman dengan Jongin. Sempat dia ingin mengejar Baekhyun, namun perasaannya menahannya. Apa yang mau kau jelaskan, Kim Taeyeon? Baekhyun sudah melihatnya. Tak ada yang perlu dijelaskan.

 

Mianhae mianhaejeongmal mianhae, Baekhyun-ah

 

Dia hanya dapat berucap maaf. Hanya maaf, tapi tak dapat meluapkan semua dosa – dosanya pada Baekhyun.

 

Istri macam apa dia… masih saja mau berciuman dengan orang lain selain suaminya sendiri.

 

Taeyeon menggeleng – geleng ketika bisikan – bisikan menuduh itu menghampiri telinganya. Itu bisikan setan, Taeyeon.

 

Taeyeon…  Kau penjahat!

 

Baekhyun kecewa padamu, Taeyeon. Kau istri yang tidak tau diri!

 

Shireoshireo… Baekhyun, mianhae

 

Entah sudah hari keberapa mereka saling mendiamkan diri. Mereka tinggal seatap, namun bertingkah seorang yang tidak mengenal yang lain. Mereka suami istri, namun bersikap seolah yang lain adalah asing bagi dirinya.

 

Byun Baekhyun hari ini memilih pergi ke luar. Dia merasa malas untuk berpandang dengan Taeyeon – yang tumben sekali tidak keluar hari ini. Tak peduli dengan hujan yang membasahi jalan raya Seoul pagi itu. Lelaki yang perasaannya sedang tersakiti itu memilih untuk sarapan di cafe yang sudah cukup lama tak dikunjunginya itu.

 

Baekhyun melipat payungnya ketika dirinya sudah berada dalam cafe. Dirinya tersenyum kecil pada ahjumma pemilik cafe langganannya ini. Dulu, sebelum menikah, dia sering sekali datang kesini. Entah hanya untuk sekedar memesan minuman atau duduk – duduk saja.

 

“Sudah sebulan kau tak kesini, Baekhyun. Kudengar kau sudah menikah ya?” Baekhyun tersenyum kecut. Dia hanya mengangguk kecil ketika ahjumma itu mengantarkannya duduk di tempat favoritnya.  “Ne ahjumma. Aku sudah… menikah” Dia mencicit di kata menikah. Ah, rasanya canggung sekali mengakui bahwa dia telah menikah, apalagi dengan fakta bahwa pernikahannya sebentar lagi akan hancur.

 

Ahjumma itu tertawa riang – dia tak menyadari kalau Baekhyun tak seceria biasanya. “Astaga, aku senang mendengar akhirnya kau menikah juga. Dulu aku khawatir sekali kalau kau takkan menikah, apalagi dengan sikap feminim itu. Hahaha…”

 

Baekhyun masih saja tersenyum tanpa ketulusan. Feminim ya… Ah, rasanya sejak kerenggangan hubungannya dengan Taeyeon ini, Baekhyun sudah tidak melakukan perawatan rutin yang selalu menjadi aktivitas wajibnya itu. Peralatan make upnya juga sudah tak pernah disentuh.

 

“Istrimu itu pasti sudah membawamu ke ‘jalan yang benar’, Baekhyun. Hahaha” lanjut ahjumma itu sambil menilai penampilan Baekhyun. Penampilan lelaki itu sekarang memang benar – benar biasa. Tidak heboh seperti biasa. Hanya sweater biru tua, celana jeans, dan sneakers. Benar – benar terlihat lebih manly.

 

Baekhyun hanya tersenyum kecut – lagi. Tak berapa lama, menu favoritnya di cafe ini sudah berada di depannya. Ah, ahjumma ini memang hafal sekali menu pelanggan setianya. Chocolate smoothies dan choco lava cake. Ngomong – ngmong, apa dia tau kalau menu favoritnya adalah menu favorit Taeyeon juga? Ah sudahlah. Jauhkan kata Taeyeon untuk Baekhyun saat ini saja.

 

Lelaki itu memotong choco lava cakenya ketika matanya menangkap sosok lelaki berjaket kulit hitam yang baru saja memasuki cafe. Lelaki itu….

 

Jongin. Penyebab masalah retaknya hubungan rumah tangga Baekhyun dan Taeyeon.

 

Dan sialnya, Jongin melihat Baekhyun di cafe ini. Tanpa rasa bersalah yang mengikuti, dia berjalan santai ke arah Baekhyun dan duduk di hadapan Baekhyun.

 

“Hai, lelaki cute” ledeknya.

 

Baekhyun mendengus. Dia tak menjawab. Berpura – pura sibuk pada makanannya dan bersikap seolah tak ada Jongin di hadapannya.

 

Jongin menyeringai kecil. Sikap Baekhyun seperti itu membuatnya lebih semangat untuk mengerjai dan meledek lelaki itu. Dan kali ini, tanpa sopan santun, dia menarik gelas chocolate smoothies Baekhyun dan menyeruputnya hingga habis. “Hah, aku haus sekali. Trims ya untuk minumannya” ujarnya sambil menunjukkan gelas yang sudah kosong itu dengan tatapan polos.

 

Baekhyun lagi – lagi mendengus. Matanya melirik tajam pada Jongin dan kemudian mendorong pelan piring cakenya yang sudah habis. “Apa maumu sebenarnya, Kim Jongin!?” bentaknya kasar.

 

Alis Jongin terangkat satu, sebelum akhirnya dia tertawa meledek. “Kau kenapa? Apa aku berkata kasar padamu sehingga kau membentakku seperti itu, hm?”

 

“Masa bodoh! Aku hanya ingin meminta tanggung jawabmu!”

 

“Tanggung jawab? Apa aku menghamilimu, Baekhyun-ssi?”

 

“Kim Jongin…” Baekhyun mengepalkan tangannya. Dia menggeram marah. Lelaki ini benar – benar memancing amarahnya untuk meledak. Karena perkataannya yang ‘apa aku menghamilimu?’ itu membuat beberapa orang dalam cafe itu tertawa kepadanya. Meledek dirinya. Sialan kau, Kim Jongin.

 

“Taeyeon pasti sial sekali mendapatkan lelaki sepertimu, Baekhyun. bisik Jongin sambil memajukan tubuhnya beberapa cm. Lelaki itu berkata kebalikan dari perkataan Suho saat di club dulu.  “Pantas saja dia tak puas denganmu”

 

Baekhyun menahan nafasnya. Apa? Taeyeon tak pernah puas dengannya?

 

“Berani bertaruh?” Jongin menatap Baekhyun dengan tatapan remehnya. “Kau tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengannya kan?”

 

Baekhyun kembali terdiam. Dia merasa seperti dilempar batu besar. Jongin benar, mereka belum pernah melakukan hubungan itu. Walaupun sudah dipaksa oleh Taeyeon, Baekhyun memang selalu menolak. Dia…. terlalu takut untuk melakukannya. Takut melakukan kesalahan. Takut menyakiti Taeyeon. Takut dirinya terbawa nafsu yang berlebihan. Semua ketakutan yang membuatnya harus menahan diri itu.

 

Jongin tertawa kecil, “Sudah kutebak”

 

Baekhyun menunduk. Tangannya diremas – remas – bingung harus melakukan apa. Apa yang dikatakan Jongin semua benar adanya. Lelaki itu berhasil menebak hubungan mereka. Lelaki itu berhasil membuatnya lebih down dari sebelumnya.

 

“Taeyeon itu suka pada lelaki yang jantan. Apa kau tau kalau pacar pertamanya itu aku?” Baekhyun segera mendongak. Menatap Jongin dengan pertanyaan – pertanyaan yang berputar di kepalanya. Jongin pacar pertama Taeyeon?

 

Jongin tersenyum miring, lalu melanjutkan ceritanya, “Aku pacaran dengan Taeyeon sejak SMP. Haha, kau tidak tau kan? Kami pacaran hingga SMA kelas 3, yeah walaupun memang Taeyeon juga berpacaran dengan beberapa lelaki lain, tapi kami tetap saja berpacaran secara terang – terangan. Kami dibilang pasangan paling romantis oleh seantero sekolah. Hebat kan?”

 

Baekhyun mendengus. Dia mengambil ponselnya dan berpura – pura sibuk dengan ponsel itu. Kalau lelaki itu berniat untuk pamer tentang hubungannya dengan Taeyeon, maaf saja. Baekhyun tidak tertarik.

 

Dan dasar keras kepala, Jongin tak peduli walaupun dia tau Baekhyun tidak fokus pada dirinya. “Taeyeon yang cantik, dan Jongin yang tampan. Kami serasi sekali kan? Taeyeon selalu menempel padaku, mencium pipiku, memelukku, dan menyuapiku – sesekali. Dia selalu mengungkapkan kesukaannya padaku, dia bilang aku tampan, keren, manis, humoris, agresif, dan jantan. Karena itu memang tipe lelaki kesukaannya, dan semua itu ada padaku! Hah, aku memang sempurna hingga gadis secantik Taeyeon suka padaku!” bangga Jongin pada dirinya sendiri – dan hal itu membuat Baekhyun ingin muntah akan kenarsisan Jongin.

 

“Ey, cantik, kenapa kau tidak berniat jadi lelaki jantan saja kalau kau mau Taeyeon cinta padamu?” Baekhyun mendelik pada Jongin. Tampak lelaki itu tengah bertanya padanya dengan mata mengedip geli. Oh, dia sedang berniat mengejek Baekhyun ya?

 

“Aku tak berminat” jawab Baekhyun pendek, dan membuat Jongin mengeluarkan tawa khasnya – yang dapat membuat hati para wanita meleleh, namun tidak dengan Baekhyun. Tapi tunggu, memangnya Baekhyun wanita? Wah, hapus!

 

Jongin menghentikan tawanya sesaat, lalu kembali berkata, “Kalau begitu, kenapa kau tidak mencoba merealisasikan malam pertama kalian saja? Memangnya kau mau kalau aku yang membantumu melakukannya pada Taeyeon?”

 

Apa?! Baekhyun mendongak dan menatap Jongin dengan tatapan membunuh. Lelaki itu segera berdiri dan menepuk meja dengan keras, “Taeyeon itu istriku! Jangan berani macam – macam padanya, atau kau—”

 

“—Atau apa? Kau mau membunuhku?” potong Jongin dengan nada meledek.

 

Baekhyun menggeram, “—atau aku akan membuat kau menyesal seumur hidupmu, Kim Jongin” ucapnya dengan penuh penekanan sebelum berjalan pergi. Dia masih dapat mendengar Jongin yang tertawa lalu berkicau, “Uh, aku takut… Hahahaha”

 

Byun Baekhyun melangkah memasuki apartemen mereka yang telah gelap. Rupanya Taeyeon sudah mematikan seluruh lampu apartemen, mengingat waktu memang telah menunjukkan pukul 12 malam. Baekhyun menghela nafasnya. Cukup lelah juga mengitari seluruh kota Seoul. Dari pagi sampai malam begini, dia tak melakukan banyak hal. Hanya duduk – duduk di taman sambil merenung, berputar – putar ke seluruh pelosok Seoul dengan mobilnya, lalu makan di beberapa tempat. Dia hanya terlalu malas untuk cepat – cepat pulang ke rumah.

 

Lelaki itu melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu ketika lampu dapur apartemen dinyalakan. Baekhyun berdiam, tak mengeluarkan sepatah katapun. Dia lebih memilih untuk berjalan memasuki apartemen dengan langkah yang pelan. Apa Taeyeon belum tidur?

 

“Hahhh…”

 

Dia dapat melihat Taeyeon yang tampak segar dengan tenggorokannya ketika baru saja meneguk air dingin. Gadis itu menutup pintu kulkas dua pintu mereka, dan berbalik setelah tiba – tiba Baekhyun muncul di hadapannya. “AAAAHH!!!” Tak heran jika gadis itu berteriak kaget. Gelap – gelap, tiba – tiba saja ada orang yang muncul di hadapanmu, apa kau tidak kaget?

 

“Hey…” Baekhyun berusaha untuk hanya tersenyum – bukan tertawa seperti keinginan terdalamnya melihat Taeyeon saat ini.

 

“Ba—baekhyun? Astaga, aku kira siapa” Taeyeon mengelus – ngelus dadanya pelan. Baekhyun nyaris membuatnya mati terkejut.

 

Baekhyun tersenyum geli sambil menunduk sesaat. Sikap Taeyeon sangat lucu. Membuatnya berhasrat untuk mencubit pipi gadis itu yang mengembung kesal.

 

Setelah keadaan tampak lebih normal, mereka berdua memutuskan untuk duduk di meja makan sambil mengobrol. Dan sialnya, tak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan. Hingga akhirnya…

 

“Tae—“

 

“Baek—“

 

Mereka berdua tersenyum satu sama lain. “Kau dulu” kata Baekhyun. Namun Taeyeon menggeleng dan mengatakan hal yang sama pula, “Kau dulu”. Dan mereka tertawa.

 

“Maaf”

 

Mereka berdua tertegun ketika dalam waktu yang hampir bersamaan mengatakan hal yang sama. Baekhyun dan Taeyeon tersenyum canggung satu sama lain. Baekhyun mengusap tengkuknya lalu mendesah pelan, “Maaf. Aku salah”

 

Mata Taeyeon membulat. Apa? Baekhyun bilang dia salah? Gadis itu buru – buru menggeleng cepat, “Ka—kau tidak salah, Baek… Aku yang salah” ucapnya dengan nada menyesal. “Seharusnya aku tak melakukan hal itu dengan Jongin, maaf. Aku harusnya sadar lebih cepat. Harusnya aku tidak terbawa nafsu dengannya, maafkan aku… Aku—“ Mulutnya terkatup ketika telunjuk Baekhyun menempel pada bibirnya.

 

Dia dapat melihat Baekhyun yang tersenyum kecil – dalam cahaya remang malam ini. Dan Baekhyun menggeleng pelan, “Harusnya aku menjadi suami yang dapat memuaskan hasratmu, Taeyeon. Ini semua terjadi karena aku yang menyebalkan, ‘kan? Maaf”

 

Taeyeon melongo dalam bibirnya yang masih saja ditempel dengan telunjuk lentik Baekhyun. Suami yang dapat memuaskan hasrat? Baekhyun….

 

“Harusnya aku berusaha membuatmu senang dengan menjadi tipe lelaki idealmu. Harusnya aku tampan, keren, manis, humoris, agresif, dan jantan. Itu tipemu kan?” Alis Taeyeon mengernyit. Darimana Baekhyun mendapat kata – kata itu? Hey… Tunggu dulu. Gadis itu menyingkirkan dengan pelan telunjuk Baekhyun dari bibirnya, lalu membuka mulutnya.

 

“A—“

 

“—Taeyeon, dengarkan aku dulu” Gadis itu menurut.

 

“Maaf kalau selama ini aku membuatmu kesal dan malu. Maaf kalau selama ini aku tak bisa menjadi yang terbaik bagimu. Maaf kalau selama ini tingkahku berlebihan hingga membuatmu harus menutup muka di depan orang lain. Maaf kalau aku—“

 

“—Baekhyun, ini semua tidak seperti yang kau pikirkan.” Taeyeon memotong dengan cepat.

 

Dia menunduk dan meremas tangannya sesaat, sebelum mendongak dan menatap Baekhyun dengan penuh keyakinan, “Aku bangga memiliki suami yang unik sepertimu, Baekhyun… Aku sayang padamu”

 

Dan kenapa Baekhyun harus menggeleng ketika dia mengucapkan itu?

 

Dan kenapa Baekhyun tiba – tiba merogoh mantel miliknya lalu mengeluarkan sebuah map berwarna biru dan pulpen?

 

Taeyeon menatap map biru itu sesaat dan balik menatap Baekhyun penuh tanya, “Baekhyun, itu apa?”

 

Baekhyun tersenyum – walaupun dia hampir mengeluarkan air matanya yang sudah memaksa keluar. Dia meletakkan map berwarna biru itu di atas meja dan memberikan pada  tangan Taeyeon pulpen itu. “Aku tau kau memang tak pernah menginginkan adanya pernikahan ini, Taeyeon. Dan sekarang, aku rela melepasmu” Taeyeon terperangah. “… Aku tau kalau selama ini kau melakukan ini hanya demi kesenanganku saja. Demi Eomma dan demi keluargamu. Maafkan kalau aku memaksamu selama ini. Maaf kalau aku selama ini membuatmu terjerat…”

 

Air mata Taeyeon menetes. Gadis itu mengerti maksud Baekhyun sekarang, dan tidak… tidak… Gadis itu menggeleng cepat, “Tidak, Baekhyun… Tidak…”

 

Baekhyun menggeleng dalam sedihnya. Matanya sudah perih. “Taeyeon, aku rela. Kau akan bebas setelah menandatangi surat cerai ini. Kita akan selesai dan kau akan bebas melakukan apa yang kau mau. Aku sudah bicara dengan keluarga kita, dan mereka mengerti…”

 

“Baekhyun, andwae…”

 

“…Aku rela kau pergi dan bersama cintamu, Taeyeon. Aku rela…”

 

“Baekhyun, andwaee…” Taeyeon terisak sambil menggeleng. “Aku mencintaimu, Baekhyun. Aku…”

 

“Terima kasih. Tapi aku tau, itu tidak tulus dari hatimu… Maaf membuatmu tersiksa…” Lelaki itu menangis. Terlihat dari air matanya yang jatuh, walau lelaki itu berusaha untuk terlihat setegar mungkin. “Aku mencintaimu… Oleh sebab itu, aku rela kau pergi dan berbahagia dengan cintamu”

 

“Tidak, Baekhyun. Aku hanya mencintaimu, dan aku bahagia denganmu—Baekhyun…” Tangisnya pecah saat itu juga. Keduanya menggeleng dalam maksud yang berbeda.

 

Taeyeon meraih tangan suaminya itu dan berlutut di hadapannya, “Baekhyun… Kumohon. Kumohon jangan lakukan ini…” Gadis itu memohon dalam tangisnya. Sedangkan Baekhyun? Lelaki itu menangis juga. Dia harus melepas Taeyeon demi kebahagiaan gadis itu. Gadis itu bahagia, dan dia senang akan kebebasan. Begitu kan?

 

“Taeyeon, jangan begini. Berdirilah…” Baekhyun berusaha menarik Taeyeon berdiri, dan gadis itu menolak. Dia tetap bersikukuh berlutut memohon pada Baekhyun. “Taeyeon… Kumohon, berdirilah…”

 

“Tidak… Baekhyun… Kumohon… Jangan tinggalkan aku”

 

Baekhyun menggeleng. Lelaki itu menguatkan hatinya untuk tidak menarik Taeyeon ke dalam pelukannya. Dia harus melakukan ini. “Taeyeon, ini demi kebahagiaanmu…”

 

Aniya… Baekhyun-ah…” Gadis itu masih saja terisak perih. Dia tidak mau rumah tangganya hancur. Tidak, jangan…

 

“Taeyeon-ah…” Baekhyun membersihkan air mata gadis itu, lalu menariknya berdiri – bersamaan dengan dirinya juga yang berdiri berhadapan dengan gadis itu. Baekhyun meremas kedua pundak Taeyeon, dan menatap mata gadis itu yang basah. “… Tanda tangani itu dan kita akan sama – sama berbahagia, oke? Kau akan bebas…” bisiknya lembut kemudian melepas gadis itu hingga jatuh merosot di lantai.

 

Baekhyun menahan nafasnya dan menghelanya pelan, sebelum akhirnya dia melangkah keluar dari apartemen itu. Meninggalkan Taeyeon yang terisak sambil memeluk kedua lututnya. Meninggalkan tempat tinggal, tanda cinta mereka.

 

“Baekhyun-ah…. Andwae…”

 

TBC

Author Note:

Haloo~~~ Kembali lagi dengan Beautiful Husband dalam 3 hari! Hehe, karena aku lagi dapat feelsnya, makanya aku posting sekarang dan selesaaai~~ /yeeei/

Tapi disini gak ada lucu – lucunya sama sekali ya :-p Ini merekanya mau pisaaah~ Gak mesra – mesraan lagiii /narihulahula//dihajar/

Apa kalian mau membunuhku sekarang? xD Kan BaekYeon disini mau ceraai~ Udah nangis – nangis juga😄 /senangbanget//Baekhyunjadiduda//Baekhyun,dudaganteng//apaini-_-/

Ya sudahlah, sampai disini dulu ya part 7nyaa. Part 8 menyusul! Pai paiiii~

 

207 thoughts on “Beautiful Husband [Part 7]

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s