Hesitate – Chapter 5

Hesitate Cover

Tittle : Hesitate – Chapter 5

Author : Riri ( @bubblehun_ )

Cast(s) :

  • Im Yoona
  • Oh Sehun
  • Kim Jongin/Kai
  • Lei Hao Wen as Kevin Im/Im Jonghun

Other Cast(s) :

  • Oh Hayoung – A Pink
  • Lu Han
  • Kim Minseok/Xiumin
  • Byun Baekhyun
  • And others

Genre : Romance, Family, Sad

Rating : PG – 13

Length : Chapter

Previous Chapter :

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

Side Story :

Piece (The Beginning)

Hesitate 

“Kita belum benar-benar berpisah kan?” Sehun menatap Yoona yang menunduk di hadapannya, Sehun rasanya ingin berteriak di hadapan Yoona bahwa dia mencintai perempuan itu. Tapi suaranya seakan tertahan, bibirnya terkatup rapat.

Yoona terdiam, menatap genggaman tangan Sehun. Mengangkat kepalanya menatap laki-laki dihadapannya sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia merasa pertanyaan Sehun membuat dirinya kehilangan arah, membuatnya tak tahu jalan mana lagi untuk menghindari seorang Oh Sehun. Bergumul dengan perasaannya sendiri, bertarung dengan egonya, mencari jabawan yang sebenarnya kala perasaan itu masih terus tumbuh hingga saat ini.

“Lepaskan,” Yoona menarik tangannya, “Aku mau pulang.”

Tapi Sehun kembali meraih tangannya, “Setidaknya biarkan aku mengantarmu.”

“Aku bisa pulang sendiri,” Sehun enggan untuk melepaskan genggamannya.

“Kau tidak berhubungan dengan laki-laki lain?”

“Maksudmu?”

“Menikah atau menjalin hubungan dengan laki-laki lain selain aku.”

“Bukan urusanmu,” Yoona kembali berusaha melepaskan tangannya, tapi kali ini genggaman Sehun lebih kuat. “Aku mau pulang.”

“Tentu saja itu urusanku,” Yoona dapat dengan jelas mendengar gumaman Sehun.

Sehun segera beranjak dari kursi, “Biarkan aku mengantarmu dan jangan membantah.”

Sehun menariknya tiba-tiba membuat Yoona hampir tersungkur, laki-laki itu membayar makanan, sebelum mereka berakhir di dalam mobil bersama kesunyian. Lama keheningan itu menyelimuti mereka, sampai akhirnya Yoona menoleh saat tangan itu kembali meraihnya, kembali menyatu membuat rasa hangat mengalirinya.

“Biarkan seperti ini,” ucap Sehun, laki-laki itu masih tetap fokus menyetir –dengan satu tangan.

Dan sebenarnya, jauh dalam relung hati Yoona yang tak terselimuti ego, dia enggan untuk melepaskan tautan tangan itu bahkan sekalipun Sehun tak memintanya.

***

Jongin meregangkan tubuhnya, dia tertidur di sofa. Kemudian ia menangkap sosok Kevin juga tertidur di karpet dengan mainan berserakan di sekitarnya. Jongin mematikan televisi yang masih menyala, rupanya ia tertidur saat menemani Kevin bermain. Dia kemudian menggendong Kevin, membawanya ke kamar dan membaringkan Kevin di tempat tidur.

Jongin keluar dari kamar Kevin,  melangkah ke dapur. Tenggorokannya kering dan dia butuh minum sebelum kembali melanjutkan tidur. Jongin melirik jam dinding, hampir tengah malam. Tapi sepertinya dia tidak melihat tanda-tanda Yoona –sang pemilik apartemen pulang, dia keluar dari dapur. Berhenti tepat di depan kamar Yoona, tangannnya yang terangkat untuk mengetuk pintu terhenti di udara. Jongin mengurungkan niatnya, mungkin Yoona memang belum datang, atau Yoona sudah tidur duluan.

Jongin kembali mundur beberapa langkah ketika akan kembali ke kamarnya saat mendengar suara pintu. Dia melihat Yoona sedang membuka high heelsnya dan mengganti dengan sandal rumah.

“Kau belum tidur?” Yoona menyimpan tas miliknya di sofa.

“Aku terbangun dari tidurku,” jawab Jongin.

“Kevin sudah tidur? Kalian tidak lupa makan malam?” Yoona melangkah menuju dapur, mengambil minum.

“Ya, dia sudah tidur. Tadi aku memesan makanan dari restoran.”

Jongin memperhatikan Yoona yang duduk di sofa dan menyalakan televisi, “Kalau begitu aku tidur duluan.”

Yoona hanya mengangguk kecil, dia melirik pintu kamar Jongin yang tertutup dengan sudut matanya. Yoona menatap televisi di hadapannya –yang sama sekali tidak menarik perhatian, bayangan pertemuannya dengan Sehun kembali terulang.

Yoona kemudian mematikan televisi, tidak ada yang menarik sama sekali dari tayangannya. Dia melangkah menuju kamarnya, menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Menarik sebuah boneka beruang ke pelukannya, hadiah pertama untuknya dari Sehun. Yoona masih menyimpannya, boneka ini masih menemani tidurnya, masih menemani hari-harinya. Potongan kenangan itu tersimpan dalam boneka ini, dia tak akan pernah membuangnya. Dia bahkan melarang orang lain untuk memainkan boneka ini, hanya dia dan Sehun yang berhak atas boneka dalam pelukannya.

Pertemuannya dengan Sehun terlalu cepat, dia tidak memprediksikan ini sebelumnya. Dia belum siap dan –sepertinya tak pernah siap selama perasaan itu masih tersimpan rapi, selama ego masih mengendalikan semuanya. Dia masih terlalu naif untuk mengakui perasaannya.

***

Sehun bergerak gelisah dalam usahanya untuk mencoba tidur, sejak tadi dia tak bisa benar-benar menutup matanya. Sehun menyerah, alam mimpi mungkin sedang tak ingin dikunjungi olehnya saat ini. Dia menatap langit-langit kamar, banyak hal yang menari-nari dalam benaknya. Terlalu banyak hingga rasanya butuh waktu lama untuk mengeluarkan semuanya satu persatu.

Tapi setidaknya Sehun bisa bernafas sedikit lega, dia tahu Yoona tidak menjalin hubungan apapun dengan laki-laki lain. Dia tahu meskipun Yoona tidak menjawabnya, dia tahu gerak-gerik perempuan itu. Sehun mengenal Yoona lebih dari setengah hidupnya, lebih dari setengah eksistensinya di dunia.

Dia terlalu pengecut untuk mengungkapkan semuanya, bahkan sejak dulu. Dia terlalu pengecut untuk sekedar menahan Yoona agar tidak pergi, dia terlalu pengecut bahkan untuk menelepon perempuan itu saat Luhan dengan baik hati memberikan nomor ponsel Yoona yang baru. Dan sekarang dengan bodohnya dia menyia-nyiakan waktu yang susah payah dia dapatkan untuk berbicara dengan Yoona, dia bahkan tak sempat untuk meminta perempuan itu kembali padanya.

“Aku memang bodoh,” ucapnya.

Sudut matanya melirik bingkai foto yang terpajang rapi di dinding kamarnya, dia sengaja menyusun foto-foto tersebut. Bingkai foto tersebut berisi fotonya, keluarganya, sahabatnya, dan Yoona.  Sehun beranjak dari tempat tidurnya, dia melangkah menuju foto-foto yang terpajang rapi. Matanya menelusuri foto-foto tersebut, senyum tipis menghiasi bibirnya.

Matanya berhenti pada satu foto, dirinya dan Yoona. Foto itu diambil saat ulang tahunnya yang kesebelas, setahun setelah pertemuan dengan gadis cilik yang menjadi tetangga barunya. Ingatan 16 tahun lalu itu masih tersimpan rapi, saat Yoona lupa memberikan hadiah kepadanya dan dia malah memberikan salah satu hadiah untuknya –sebuah boneka beruang kepada Yoona. Dia bilang karena gadis itu tidak membawa hadiah jadi dia yang memberi Yoona hadiah, terdengar konyol jika mengingatnya kembali, harusnya dia yang mendapat hadiah kan?

Apa Yoona masih menyimpan hadiahnya?

***

Hayoung melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya, sudah waktu makan siang. Sebuah senyum kembali merekah di bibirnya, dia masih ingat betapa gila detakan jantungnya saat Luhan menelepon kemarin dan mengajak makan siang, hanya berdua. Bahkan hanya mengingat nama laki-laki itu jantungnya kembali berdetak cepat.

Meskipun Luhan memintanya karena Minseok tidak bisa menemani laki-laki itu, meskipun tujuan awal Luhan bukan makan siang dengannya, dia tetap senang. Setidaknya Luhan masih ingat padanya, tapi jika dipikir ulang, makan siang ini hanya sebatas makan siang bersama sahabat. Ingat Hayoung, ini bukan kencan. Dia tidak terlalu peduli dengan hal ini –atau pura-pura tak peduli karena sebenarnya hal tersebut mengusiknya.

Hayoung segera mengambil ponselnya dan menelepon Luhan, menunggu beberapa saat sebelum suara laki-laki itu terdengar.

Yeobeoseyo.’

Oppa, kau tidak lupa dengan ajakanmu kemarin?”

‘Tentu saja tidak, aku akan menjemputmu.’

“Kalau begitu aku tunggu di taman dekat kantorku.”

‘Oke, aku akan segera kesana Hayoung-ah.”

Sambungan telepon terputus, senyuman di bibir Hayoung semakin merekah. Dia meletakkan ponselnya di meja dan membereskan meja kerjanya. Hayoung beranjak dari duduknya, berbasa-basi sebentar dengan teman satu divisi di kantornya yang masih setia mengerjakan sesuatu sebelum pergi menuju taman di seberang kantor.

***

Yuri keluar dari butik tempatnya bekerja, dia hampir melewatkan makan siang seperti kemarin jika sang asisten tidak mengingatkannya. Banyak desain yang harus dikerjakan, dia mengambil tasnya dan pamit makan siang pada karyawan lain. Yuri berjalan di trotoar, mencari cafe yang menarik perhatiannya. Dia mempunyai cafe langganan tak jauh dari butiknya, itu yang menjadi tujuan makan siang Yuri sekarang.

Tapi langkahnya terhenti saat sebuah mobil berhenti di sampingnya, Yuri memperhatikan mobil tersebut. Dia berniat untuk melanjutkan langkahnya saat seorang laki-laki turun dari mobil tersebut.

“Hai, noona.”

“Oh, hai.”

***

Sehun mengendarai mobilnya di jalanan Seoul, dia tak tahu tujuannya ke mana, hanya berputar-putar sesuai keinginannya. Ini waktu makan siang, dia tak tahu harus menghabiskan makan siangnya dimana. Sehun juga berniat untuk tidak kembali ke kantor setelah makan siang, dia akan mengganti setengah hari jam kerjanya di hari sabtu atau minggunya –yang berharga nanti.

Dia sedang tidak ingin bekerja, entah kenapa. Sebut saja dia atasan pemalas, tapi mau bagaimana lagi. Daripada nanti hasil kerjanya hancur, Sehun tak mau repot-repot merevisi lagi. Dia masih merasa ganjil dengan keadaan Yoona sekarang, banyak hal yang tidak diketahui olehnya. Tentu saja, hampir 8 tahun dia tak bertemu Yoona.

Kalau saja dulu dia bisa menahan Yoona, kalau saja dia tak terlalu pengecut. Sehun refleks menginjak rem saat dia hampir menerobos lampu merah, untung tidak menabrak pejalan kaki. Sehun menghembuskan nafasnya, menyenderkan kepanya di kaca mobil. Matanya terus menatap lampu lalu lintas, memperhatikan angka-angka yang tertera di sana.

Sehun segera melajukan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah hijau. Dia mengemudikan mobilnya tanpa tahu tujuan, harus kemana dia sekarang? Pulang ke apartemen atau mencari tempat menarik yang lain?

Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu, ralat, seseorang. Sehun menginjak remnya secara mendadak, beberapa pengemudi dibelakangnya membunyikan klakson tanda kesal karena Sehun tiba-tiba behenti. Dia hanya membiarkan mobil di belakangnya lewat, kemudian memundurkan mobilnya.

Di depan gerbang sebuah sekolah dasar, berdiri bocah laki-laki yang membuatnya mendapat sumpah serapah dari pengemudi lainnya. Anak laki-laki bernama Kevin yang ditemuinya tempo hari, anak laki-laki berambut hitam kecoklatan dengan seragam sekolahnya. Sehun mematikan mesin mobil dan keluar menghampiri Kevin.

“Hei, tidak pulang?” Kevin mendongak, melihat seorang laki-laki di hadapannya.

“Oh, Sehun ahjussi?”

Sehun tersenyum, dia tidak terlalu tertarik pada anak kecil –tidak berarti dia membenci juga. Dia anak terakhir di keluarganya, Sehun hanya memiliki satu orang kakak laki-laki. Dia juga tidak terlalu berminat untuk memiliki adik, satu-satunya orang yang dia anggap adik adalah sepupunya, Hayoung. Sehun tertarik pada anak laki-laki di hadapannya ini, entah kenapa, tapi Kevin juga memang lucu dan tampan.

“Sendirian? Kenapa tidak pulang?” Sehun memandang area sekolah di hadapannya, sepi.

“Aku menunggu daddy, tapi sepertinya dia telat.”

“Mau kutemani?”

Kevin mengangguk antusias, dia bosan menunggu sendiri. Sehun segera memarkirkan mobilnya di halaman sekolah, dia tidak mau mengambil resiko karena memarkirkan mobil di pinggir jalan.

***

Mobil Jongin memasuki halaman sekolah Kevin, dia terlambat menjemput anak laki-laki itu. Jongin segera keluar dari mobil, dia melangkahkan kakinya menuju koridor tetapi langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok Kevin tengah duduk di kursi taman bersama seorang laki-laki. Jongin segera menghampiri Kevin yang tengah tertawa bersama laki-laki asing, tapi Jongin sepertinya pernah melihat laki-laki ini.

“Kevin, kau mau pergi ke taman bermain bersamaku?” Jongin mendengar ucapan laki-laki asing tersebut.

“Tentu saja.” Kevin menjawabnya dengan semangat.

“Kevin, maaf aku terlambat menjemputmu.”

Kevin segera menoleh mendapati seseorang memanggil namanya.

Daddy,” seru Kevin.

Sehun segera berdiri dan menundukkan kepalanya kepada ayah Kevin, dia tidak terbiasa membungkuk kepada orang lain –ini adalah kebiasaan buruknya. Jongin yang mengerti ikut menundukkan kepalanya dan tersenyum pada laki-laki di hadapannya itu.

“Sehun ahjussi menemaniku,” Kevin meraih telapak tangan Sehun dan menggenggamnya, “Daddy bolehkah aku pergi ke taman bermain bersama Sehun ahjussi?”

Jongin menatap Kevin, “Sebentar.”

Jongin segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel, bagaimana pun Kevin bukan anaknya. Dia harus meminta izin Yoona, tapi panggilannya tak kunjung di jawab sampai suara operator menyahut.

“Bagaimana?” Kevin menatap Jongin dengan pandangan penuh harap, Jongin juga bingung harus bagaimana. Yoona tak mengangkat teleponnya, tapi dia juga tak tega dengan Kevin.

Sehun segera merogoh dompetnya dan mengeluarkan kartu nama, lalu menyerahkannya kepada Jongin.

“Aku hanya akan mengajak anakmu bermain, itu kartu namaku dan kau boleh melaporkanku ke polisi jika aku tidak mengembalikan Kevin.”

Sehun mengerti jika Jongin ragu untuk mengizinkan dia pergi bersama Kevin, Jongin tidak mengenalnya dan pantas untuk seorang ayah khawatir kepada anaknya.

“Oh? Baiklah kau boleh pergi Kevin, tapi ingat kau harus pulang sebelum makan malam.”

Kevin tersenyum senang, “Tentu saja daddy.”

“Aku akan mengantarkan Kevin pulang, Jongin-ssi. Dan kau bisa kirimkan alamat rumah kalian ke nomorku.”

Jongin hanya mengangguk, dia menatap punggung Sehun dan Kevin berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir di sebelah mobilnya. Kevin terlihat senang, dia akan meminta izin kepada Yoona nanti. Jongin segera menuju mobilnya, dia kembali menghubungi Yoona tapi selalu berakhir dengan suara operator yang menjawabnya.

Dia melirik kartu nama di tangannya, Oh Sehun. Sehun tidak terlihat seperti penculik, memangnya ada penculik memakai setelan jas formal dan mengendarai mobil mahal? Dia segera memasukkan kartu nama tersebut ke dompetnya dan menyalakan mesin mobil.

Jongin segera meninggalkan area sekolah, dia berniat untuk makan siang. Jongin ingat sebuah cafe yang sering dia datangi bersama teman-temannya. Dia mengemudikan mobilnya sembari sesekali ikut bersenandung mengikuti lagu yang tengah diputar.

Jongin menginjak pedal rem secara mendadak, dia terkejut saat hampir menabrak orang. Dia segera keluar dari mobil, untuk saja dia tidak menabrak perempuan yang sekarang berdiri di depan mobilnya itu.

“Nona kau tidak apa-apa?”

Tepat setelah dia menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara benda jatuh yang sedikit keras. Perempuan di hadapannya pingsan, Jongin membulatkan matanya dan segera mengangkat perempuan tersebut ke dalam mobil. Dia melajukan mobilnya menuju apartemen Yoona, melupakan tujuannya untuk makan siang.

***

Jongin menatap televisi dengan pandangan bosan, tidak ada acara menarik. Dia melirik jam dinding yang terpasang di ruangan tersebut, masih sore. Pandangannya beralih ketika seseorang keluar dari pintu kamarnya, perempuan yang nyaris dia tabrak. Jongin bersyukur dia tidak menabrak perempuan tersebut, tapi dia tidak mungkin meninggalkan perempuan itu di jalanan saat pingsan tadi.

“Kau sudah sadar?” Jongin segera beranjak dari duduknya, “Aku tadi memesan makan siang, makanlah. Sekarang makanannya sudah dingin, aku akan memanaskannya.”

Jongin melangkah menuju dapur, perempuan itu mengekor di belakangnya.

“Tidak usah, kau tidak perlu memanaskannya.”

“Kalau itu yang kau minta,” Jongin menoleh sekilas. “Aku juga memesankan untukmu tapi karena kau belum sadar jadi aku menyimpannya.”

Setelah mempersilahkan perempuan tersebut duduk, Jongin segera mengambil kotak makanan yang dia simpan di pantry dan menuangkan makanan tersebut ke piring lalu meletakkannya di meja makan.

“Makanlah.”

“Terimakasih,” Jongin balas tersenyum saat perempuan itu menyunggingkan senyum untuknya.

Jongin mendengar suara pintu apartemen, dia segera menuju ruang tamu dan mendapati Yoona di sana. Tidak biasanya Yoona pulang, ini masih sore.

“Di mana Kevin?”

“Kevin pergi bersama seseorang,” Jongin menyerahkan kartu nama milik Sehun. “Tadi aku berusaha menghubungimu untuk meminta izin, tapi tidak diangkat.”

“Oh Sehun,” hati Yoona mencelos, Oh Sehun? Dia membaca nama perusahaan yang tertulis di sana.

“Aku juga hampir menabrak orang tadi, orang itu pingsan dan aku membawanya ke sini. Maaf jika aku lancang membawa orang sembarangan.”

Yoona tidak terlalu memperhatikan ucapan Jongin, dia tidak peduli jika Jongin benar-benar menabrak orang. Sekarang katakan padanya kalau Oh Sehun yang sedang bersama Kevin bukan ayah kandung anaknya itu. Tapi kenyataan berkata lain, jelas-jelas nama perusahaan yang tertera di kartu nama sudah cukup untuk membuktikan bahwa itu adalah Oh Sehun yang dia kenal.

“Kenapa kau biarkan Kevin pergi?”

“Kevin bilang dia mengenalnya,” Yoona menatapnya dingin, Yoona tidak pernah menatap Jongin seperti ini sebelumnya.

“Suruh Kevin pulang dan jangan izinkan Kevin dengan orang asing kecuali aku mengizinkannya,” terselip ketakutan dalam nada bicara Yoona yang tidak disadari Jongin. Yoona takut Kevin akan mengetahui identitas Sehun, tidak sekarang. Belum saatnya Kevin mengetahui sosok ayah kandungnya.

Jongin mengangguk dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Sehun, dia memang salah telah mengizinkan Kevin, tapi tadi keadaannya mendesak. Yoona tidak mengangkat teleponnya dan Kevin yang memohon-mohon padanya. Lagipula, Jongin bisa melihat kalau Sehun tidak berbahaya.

Yoona memijat keningnya yang tiba-tiba pusing, dia berniat untuk mengambil minum saat melihat seorang perempuan tengah duduk membelakanginya. Perempuan tersebut berbalik saat menyadari kehadiran orang lain di ruangan tersebut.

Mata Yoona melebar saat melihat siapa perempuan yang tengah duduk tersebut.

Eonni?

[To Be Continued]

Hei, adakah yang mengingat ff ini? Maaf, aku udah nggak update berapa bulan nih? Sekali lagi maaf banget, aku cuma ngecek blog doang beberapa bulan ini tanpa update. Aku kelas 9 sekarang dan aku UN tahun ini. Maaf banget ya, semester kemarin aja udah sibuk banget gak tau semester sekarang :’). Kemaren aku udah uts langsung TO 2 kali dan uas. Maaf juga kalo ada typo yang lolos dari pengecekan.

Kalau kalian lupa dengan jalan ceritanya silahkan dibaca kembali ya, maaf maaf maaf nggak bermaksud buat kalian nunggu. Aku nggak tau apakah masih ada yang mau membaca ff ini setelah beberapa bulan nggak update. Maaf juga jarang membalas komen, aku baca kok komen kalian lewat hp, tenang aja🙂 . Tapi kalo ada waktu pasti aku bales ya. Maaf banget juga ya buat kak Ega, aku jarang jarang update gini. Maaf juga aduh ini panjang banget cuap-cuapnya. Enjoy~

58 thoughts on “Hesitate – Chapter 5

  1. Author pliss ff nya dilanjut lagi, ceritanya bagus banget sayang kalo gak dilanjut lagi. Penasaran sama kelanjutannya. Pliss pliss author ff nya dilanjut lagi ya😭 jebal

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s