[Freelance] The Reason

The

The Reason

.

.

Written by dinadinasty for PG-15+
With Kim Taeyeon [GG], Byun Baekhyun [EXO], and Kwon Yuri [GG]
About Angst, Friendship, Sad, Romance, Horror, etc.
{Alur cerita berdasarkan otak dan pengalaman saya. Dengan beberapa inspirasi dari film-film dan beberapa fanfiction lain. Kesamaan alur cerita, tokoh, latar, dan kejadian merupakan ketidaksengajaan. Jika anda merasa terganggu dan tidak menyukai fiksi ini, dimohon dengan sangat untuk tidak membaca apalagi mengolok ataupun menjatuhkan.}

—0o0—

Seoul, 03 November 2013
10.47 p.m.

Yuri berjalan diantara malam yang semakin mencekam. Bayangkan saja kalian berjalan disaat bulan bersinar. Itu artinya, tak ada teknologi modern bernama lampu yang masih memancar. Ditambah lagi, hewan-hewan yang bahkan masih bertenaga untuk memperkerjakan pita suaranya. Juga kondisi jalanan yang lebih parah dari tempat pembuangan limbah. Oh, dan jangan lupakan bayangan yang sedari tadi masih mengikutinya.

Untung saja, wajah datar— yang melebihi lembaran laporan yang setiap hari dibuatnya— itu menutupi raut gelisahnya. Buru-buru Yuri menaikkan ritme langkahnya. Takut bayangan tak bertuan itu melakukan hal yang tak wajar.

Segera ia masuk rumahnya. Tangannya langsung menekan tombol password, menarik gagang pintu, dan menutupnya rapat-rapat. Ketika Yuri hendak melenggang masuk, tak sengaja sebuah benda— yang memiliki panjang dan lebar— tertangkap oleh indra penglihatannya. Benda itu terjepit pintu masuk.

Diletakkan buku bertumpuknya keatas meja. Tak lama kemudian, Yuri membungkuk hendak mengambil kertas dibawah sana. Setelah mengambilnya, ia segera bangkit karena ransel punggung memberatkannya. Yuri bergerak ingin mencari tahu apa yang sedang digenggamnya.

Oh, itu adalah amplop yang berisi kertas bertuliskan Happy 10th Anniversary.

Dahi Yuri menumpuk. Ingin, ia mencari tahu makna dibalik 3 kata tersebut. Tapi lelah lebih besar dari rasa penasarannya. Jadi, ia hanya meletakkan amplop bersama isinya, di samping ia meletakkan buku bertumpuknya.

—0o0—

Seoul, 01 November 2008
07.01 a.m.

Yuri berlari menuju gerbang—yang hanya menyisakan lebar tak lebih dari penggaris 30 cm. Disekitarnya juga tampak beberapa orang yang telah dikenalnya dengan baik. Biasanya, Yuri bertemu dengan mereka saat menyapu halaman Universitas, membersihkan toilet, atau saat menulis pernyataan permintaan maaf. Mereka adalah anak-anak yang gemar berlari, mengejar waktu sebelum guru penjaga menutup gerbang.

Yuri tidak mau dihukum menyapu halaman Universitas, membersihkan toilet, atau pekerjaan-pekerjaan lainnya—yang menyebabkan keringatnya terperas. Tapi apa boleh buat, Yuri tak bisa mengelak.

Dan disinilah Yuri, bukan menyapu halaman Universitas, bukan membersihkan toilet, bukan juga untuk menulis surat penyataan. Ini adalah yang paling Yuri kutuk. Yang paling Yuri hindari. Dan yang paling Yuri benci. Ini adalah—

“Cari saja bahannya diperpustakaan! Bintang bukan hal yang akan membuat kalian mati! Apalagi kau, Kwon Yuri! Kau jurusan Astronomi, bukan? Lagipula bla bla bla . . .”

Yuri sudah kenyang dengan khotbah sang guru penjaga. Ingin sekali Yuri melempar guru itu ketengah Samudera Pasifik, agar sang guru penjaga bisa berhenti berkhotbah.

—0o0—

Hiruk pikuk tempat ini tak pernah berubah. Selalu ramai seperti biasa. Apalagi pada jam makan siang seperti ini. Bersantai, tidur, belajar, jalan-jalan. Hampir semua hal dapat dilakukan ditempat ini. Yuri termasuk didalamnya. Hanya saja, Yuri menggunakannya untuk duduk dibawah pohon sambil melamun.

“Yuri!” seru seseorang.

“Hm.”

“Sudah kukerjakan.”

Dua kata yang membuat Yuri memancar, hanya dengan mendengarnya saja.

“Taeyeon, terima kasih.” Yuri menerima kertas dihadapannya.

Eoh.”

“Dimana dia?” Bingung Yuri.

“Seperti biasa.” Taeyeon hanya menanggapinya datar. Seolah itu adalah hal yang wajar. Taeyeon duduk disisi Yuri. Membaca novel sangat cocok untuk moodnya hari ini.

 “Afternoon, ladies.” Suara lain, menyeruak gendang telinga kedua gadis tadi.

“Kau sudah selesai?” tanya Taeyeon. Otot itu menarik bibirnya. Tangannya menyambut sebelah tangan yang tergantung dipundaknya. Sedangkan Yuri masih sibuk memeriksa lembaran tugas rangkumannya tadi—walaupun sebelah tangan itu juga tergantung dipundaknya.

Eoh. Hari ini tugasku lebih mudah. Profesor memberikan kelonggaran padaku. Mungkin ia kasihan pada asistennya ini. Aku sangat kewalahan.” Suara tadi juga menarik bibirnya.

“Hei, Yul. Kau sedang apa?” ia berbicara lagi.

“Aku?” Yuri bersuara bingung.

“Tentu saja kau, tak biasanya kau memegang kertas. Biasanya kau memegang bantal, cermin, ponsel, si-”

“Berhenti membicarakanku, Byun Baekhyun.” Yuri berlogat—logat yang dipakai oleh presenter acara gosip saat berucap nama Baekhyun. Sementara Baekhyun berdecak karena perkataannya dicegat begitu saja. Sementara Taeyeon tak menghiraukan debat mereka. Taeyeon selalu dijamu adegan itu setiap hari.

“Itu adalah hukuman Yuri, Baekhyun.” Taeyeon, yang semula berniat tak peduli, akhirnya menengahi perdebatan kedua orang—temannya. Tak berapa lama kemudian, fokusnya kembali ke novel yang ia baca.

“Tebakanku benar.” Baekhyun berbusung dada, bangga.

“Apa yang sebenarnya kau lakukan disini? Menghinaku?” Yuri berkilat.

“Hey, nona. Aku tak ada urusan denganmu. Aku ada urusan dengan Nona Novel disampingku ini.” Baekhyun mengarahkan kepalanya ke‘Nona Novel’ disampingnya.

“Aku?” Pandangan Taeyeon menyiratkan kebingungan.

“Tentu.”

“Sejak kapan kau memanggilku dengan nama itu?”

“Sejak semalam.” Jawab Baekhyun cepat.

“Semalam?” Tanya Yuri tak ingin kalah.

“Semalam Taeyeon memintaku untuk menemaninya ketoko buku hari ini.” Tanggap Baekhyun. Yuri hanya mengangguk. Sedangkan Taeyeon menyimpan novelnya kedalam tas.

“Ayo, Taeng.” Telapak tangan Baekhyun menarik pergelangan tangan Taeyeon.

“Kami pergi dulu, Yuri.” Ujar mereka serempak. Yuri hanya berdehem datar.

Tak lama waktu berlalu, Yuri bangkit hendak mengumpulkan tugasnya. Yuri sangat berterima kasih pada Taeyeon—yang dengan ikhlasnya mengerjakan tugas hukumannya karena terlambat hari ini. Sebelum Yuri melenggang lebih jauh dari taman, ia mempererat jaketnya. Sekarang bukan hanya guru penjaga atau waktu saja yang Yuri kutuki. Musim dingin tahun ini mungkin juga akan Yuri kutuki. Salju memang tidak turun. Namun, kehadiran angin cukup kuasa untuk menurunkan derajat termometer.

 

—0o0—

Keesokan harinya.
Seoul, 02 November 2008
10.02 a.m.

“Hey, Baekhyun!” Seru Yuri. Yang dipanggil menolehkan kepalanya ketempat Yuri berada.

“Kau tak bersama Taeyeon?” tanya Yuri. Yang ditanya hanya menggeleng. Sedetik kemudian, Baekhyun kembali fokus pada novelnya. Hal itu menyebabkan Yuri bingung. Apa Baekhyun sedang belajar bahasa isyarat?

“Kau bisu, ya?”

Ya!” Baekhyun beroktaf tinggi. Yuri membekap kedua telinganya dengan telapak tangan. Ck. Mengapa Baekhyun berlebihan sekali? Padahal ‘kan Yuri hanya bertanya.

“Aku hanya bertanya, Tuan Muda Byun.” Oh, terjadi lagi. Yuri menggunakan logat yang sama seperti kemarin. Belum sempat Baekhyun memberikan oktaf tingginya pada Yuri, teknologi modern bernama ponsel bersuara dari dalam saku celananya.

“Halo. Eoh. Bagaimana hasilnya? Kau sudah memilihkan untukku? Terima kasih. Aku akan segera datang. Tunggu aku.”

“Aku harus pergi. Aku tak mau membuatnya menunggu. Bye, Yuri!”

Belum sempat Yuri memahami bertumpuk kata yang diucapkan Baekhyun, Baekhyun sudah menghilang. Sekarang hanya Yuri sendiri ditaman ini—walaupun banyak mahasiswa lain yang berlalu lalang.

“Kenapa selalu aku yang paling akhir disini?”

Yuri duduk sendiri ditempat itu. Pohon rindang yang hampir membeku disetiap daunnya. Namun, mereka— Taeyeon, Baekhyun, juga Yuri— tak menghiraukannya. Hal ini sudah berlaku sejak awal masa pertemanan mereka. Duduk disana, sambil bermain bersama.

 

—0o0—

Keesokan harinya.
Seoul, 03 November 2008

06.34 p.m.

Yuri hanya bertatap bingung dengan bangunan dihadapannya. Seingatnya, kemarin Taeyeon tidak masuk kuliah. Baekhyun juga melewatkan jam terakhir. Dan malamnya, Taeyeon mengiriminya pesan agar datang kerestoran Jepang disekitar Universitas—tempat mereka belajar— keesokan harinya. Taeyeon juga bilang ia akan menyambut Yuri didepan restoran.

Tapi apa?

Yuri belum melihat sosok Taeyeon disini. Padahal ini sudah lewat berpuluh menit dari waktu awal. Yuri bahkan tergesa-gesa kemari, ia tak mau mendengar khotbah seorang Kim Taeyeon (jika Yuri terlambat). Khotbah dari guru penjaga sudah cukup bagi Yuri.

Sebelum Yuri memperbanyak rutukan dan umpatan dalam pikirannya, mobil hitam kelam terparkir disamping mobilnya. Yah, itu Taeyeon. Sedangkan yang membukakan pintu untuk Taeyeon adalah Baekhyun.

Hah?

Baekhyun dan Taeyeon?

“Maaf membuatmu menunggu, Yuri.” Taeyeon, yang baru saja menjejakkan kakinya ke lahan parkir, bersuara.

“Tak apa.” Sahut Yuri. Belum genap sedetik, bibir bawahnya tertarik searah seakan tak memilik daya gravitasi. Bagaimana tidak? Yuri yakin. Korneanya membeberkan bahwa Taeyeon berpegangan tangan dengan Baekhyun. Otak Yuri bekerja secepat lari siput sekarang ini.

“Kau tak apa?” Telapak tangan kanan Baekhyun berayun didepan wajah Yuri.

Dengan gelagapan Yuri menjawab, “Aku… tak apa.”

Orang normal bisa langsung berkata—tanpa berpikir—kalau raut Yuri berubah sejak Taeyeon turun dari mobil. Sayangnya, Taeyeon dan Baekhyun bukan orang yang termasuk dalam kalimat diatas.

Taeyeon menarik pengelangan tangan Yuri dengan tangan kirinya, ­­­sedang tangan kanannya sedang bersinggungan dengan tangan kiri Baekhyun, bermaksud menarik Yuri masuk kedalam restoran. Yuri mengelak. Dilepasnya tangan Taeyeon pelan. Hal ini membuat Taeyeon bertumpuk dahi.

“Aku harus mengambil sesuatu dimobilku.” Seakan mengerti, Yuri menjawab. Disertai dengan senyumnya.

“Cepat masuk diluar dingin.” Itulah perkataan Taeyeon sebelum tubuhnya masuk kedalam restoran.

Yuri berjalan kesamping mobil hitam kelam. Sesaat Yuri sempat terhenti. Dengan segera ia melangkah lagi. Namun sekarang langkah Yuri benar-benar terhenti. Dari spion mobil Taeyeon, terpantul sebuah pemandangan.

Bukan pemandangan Baekhyun yang menggenggam Taeyeon. Namun, Baekhyun yang berjalan sambil memeluk pinggang Taeyeon.

—0o0—

Yuri menarik pintu ruang restoran Jepang. Dilihatnya dua sahabatnya telah duduk melingkari meja penghangat. Inilah gunanya ruang VVIP.

“Maaf, aku lama.” Kira-kira kalimat itu yang diucapkan Yuri, setelah duduk dan melipat kakinya kedalam meja penghangat.

“Tak apa. Taeyeon, kau sudah-”

“Aku sudah mengurus semuanya.” Dengan mudahnya Taeyeon menghentikan Baekhyun.

“Hari ini aku punya 2 kabar gembira.” Sambungnya. Kalimat terakhir diselingi dengan nada ceria. Seakan itu adalah hal yang paling mengesankan yang pernah ada.

“Benarkan, Baekhyun?” Pandangannya menoleh ketempat Baekhyun duduk disamping kanannya. Yuri hanya mengikuti pandangan Taeyeon.

“Aku hanya tahu 1 kabar gembira saja.” Bola mata Baekhyun bergerak tak tentu arah, seakan berpikir. Sebelum Taeyeon mengumumkan kabar gembira yang mengesankan hidupnya, suara pelayan dari balik pintu menyeruak masuk. Tak lama kemudian, makanan-makanan itu berjejal masuk kedalam ruang.

“Wah, Taeyeon.” Baekhyun bersinar kala melihat berjejer makanan asal Negeri Tirai Bambu berbaris diatas meja.

“Ayo bawa masuk makanan utamanya.” Taeyeon berkata. Baekhyun, yang merasa perkataan tadi bukanlah untuknya, bingung dibuatnya. Bingungnya hilang ketika melihat seorang pelayan masuk dengan membawa roti besar berselimutkan krim dan cokelat. Juga bertancapkan lilin diatasnya.

“Wah, Taeyeon!” Baekhyun mengulangi perkataannya. Baekhyun menaikkan oktafnya ketika kue besar terhidang dihadapannya. Bukan hanya Baekhyun, Yuri juga kaget karenanya. Mereka berdua terkejut. Suara pelayan yang memintanya menikmati makanan pun tidak dihiraukan.

Cha! Happy 5th Anniversary, my beloved friends.” Taeyeon berkata layaknya seorang pendemo. Sedangkan Baekhyun dan Yuri bergerak memeluk orang termungil yang ada diruangan ini. Taeyeon adalah orang pertama yang ingat ulang tahun mereka setiap tahunnya. Ini adalah kabar bahagia yang pertama.

Setelah meniup lilin, berdoa, dan perang kue. Akhirnya mereka kembali kesuasana seperti 1 jam yang lalu.

“Baekhyun, ayo kita berfoto. Yuri, ayo kemari.” Taeyeon menggerakkan sendi pergelangan tangannya, mengisyaratkan untuk mendekat.

“Tidak usah. Aku tadi tergesa-gesa kemari. Jadi aku tak sempat berdandan. Hehe.”

Dilihatnya wajah Taeyeon mengkerut.

“Kemarikan ponselmu. Aku yang akan memotret kalian.”

—0o0—

“Taeyeon, lihatlah. Kau sangat cantik disini.” Telunjuk Baekhyun tertempel dilayar ponsel Taeyeon. Sekedar informasi, foto itu adalah foto yang dipotret Yuri. Dengan Baekhyun dan Taeyeon sebagai objeknya. Juga berjejer makanan dipojok bawah foto.

“Tidak. Aku terlihat imut disini.” Ucap Taeyeon sambil menunjuk bagian yang semula ditunjuk Baekhyun. Dirinya yang bergaya puppy eyes.

“Kurasa kau terlihat tampan disini.” Imbuh Taeyeon, menunjuk bagian foto Baekhyun yang sedang berpose mengerucutkan bibirnya sambil menyipitkan matanya.

“Tidak. Aku terlihat imut disini.” Ucap Baekhyun meniru perkataan Taeyeon. Tawa terdengar sampai sudut ruangan. Untung ruang ini kedap suara. Inilah gunanya ruang VVIP.

 “Aku ketoilet sebentar.” Yuri yang semula berstatus ‘Yuri yang terlupakan’ bersuara. Ditanggapi anggukan oleh kedua objek foto tadi.

—0o0—

“Hey, Taeyeon dimana?” Yuri yang baru saja kembali dari toilet memulai pembicaraan.

“Dia tadi ketoilet. Apa kau tak berpapasan dengannya?” Tanya Baekhyun. Ia sudah memulai memakan makanannya.

“Tidak.” Ucap Yuri pendek.

“Apa yang kau pegang itu?” Yuri bingung. Tangan kanan Baekhyun digunakan untuk makan, sedang tangan kirinya digunakan untuk­ memegang—

“Oh, ini undangan. Sepasang kekasih akan segera menikah sebentar lagi.” Jelasnya.

“Oh, ya. Aku akan ketoilet sebentar.” Tambal Baekhyun.

“Minumlah tehmu, dulu. Udara ditoiletnya dingin. Kurasa pihak restoran tidak memasang penghangat ditoilet.” Yuri menerangkan.

“Baiklah.” Dibandingkan dengan kilat, waktu yang digunakan Baekhyun untuk meneguk tehnya lebih cepat. Segera Baekhyun membuka dan langsung menutup pintu begitu ia keluar.

“Kenapa aku selalu sendirian?” Yuri sebal sambil menopang dagu.

—0o0—

Oh, sekarang sudah bertumpuk kekesalan Yuri. Sudah lebih dari 15 menit ia menopang dagu. Mengapa mereka belum kembali?

Dengan langkah kesal, Yuri berjalan keluar menuju toilet. Yuri sudah memeriksa toilet wanita untuk mencari Taeyeon. Yuri tidak mungkin ‘kan memeriksa toilet pria?

Yuri hanya berjalan tak menentu. Siapa tahu saja ditengah jalan ia bertemu setidaknya salah satu dari mereka.

Yah, dan detik ini Yuri menemukannya. Bukan salah satu, tapi keduanya sekaligus.  Yuri bersyukur karena tak harus mengelilingi seluruh restoran untuk mencari mereka. Tak sampai sepersekian detik, Yuri menarik rasa syukurnya. Yuri bersumpah, lebih baik ia mati kebosanan daripada datang kemari.

Lebih buruk dari saat Baekhyun dan Taeyeon berpegangan tangan.

Lebih buruk daripada melihat Baekhyun memeluk pinggang Taeyeon.

Lebih buruk daripada melihat Taeyeon dan Baekhyun bermesraan.

Hati Yuri terkapar melihat dua orang dihadapannya berbagi kehangatan bersama. Saling memejamkan mata tanpa menghiraukan sekitarnya. Seakan-akan dunia dan seisinya milik mereka berdua.

“BaekYeon?” Setelah bersusah menguasai dirinya sendiri, Yuri bersuara. Wajahnya masih datar, pandangannya menyiratkan kekecewaan. Sangat kontras dengan dua orang yang masih setengah berbagi kehangatan dihadapan Yuri. Mereka tak tahu harus melakukan apa. Mereka; Yuri & BaekYeon.

Mengerikan.

—0o0—

Baekhyun pergi ketoilet untuk mencari Taeyeon. Baekhyun menghela nafasnya. Hampir saja ia mengatakannya pada Yuri.

“Hei.” Baekhyun tersenyum mendengarnya. Ia berbalik, menatap perempuan yang menegurnya beberapa detik yang lalu.

“Kenapa kau lama sekali?” sebal Baekhyun, bertampang sok marah. Membuat Taeyeon menarik otot-otot pipi Baekhyun, gemas.

“Maafkan aku, sayangku. Ayo kita kembali. Yuri menunggu kita.” Ajak Taeyeon. Yang diajak menyuarakan penolakannya. Baekhyun justru mengajaknya berkeliling taman restoran.

“Aku ingin berdua denganmu.” Baekhyun merentangkan kedua tangannya.

 “Cepatlah! Disini dingin.” Tambahnya.

Taeyeon menurut. Lagipula cuacanya sangat dingin. Taeyeon membenarkan kalau pelukan itu bisa memperpanjang umur. Hahaha.

“Hangat.” Wanita dalam dekapan bersuara. Baekhyun tersenyum saat otaknya menghasilkan ide.

“Mau yang lebih hangat?” Tawar Baekhyun. Taeyeon mengangguk dalam pelukan calon suaminya.

“Kau mau mencicipi teh yang baru kuminum?” Itu menyebabkan Taeyeon mengangguk. Baekhyun memberikan teh yang barusan diminumnya. Dengan cara yang biasanya ia pakai, seusai berkencan dengan Taeyeon.

Kissing.

“BaekYeon?”

—0o0—

Yuri hanya duduk dan menangis ketika undangan itu tergeletak dihadapannya. Beberapa menit yang lalu, Baekhyun dan Taeyeon sudah mendahuluinya pulang. Sekarang, Yuri tahu, apa kabar bahagia yang kedua.

“Kami minta maaf. Awalnya kami tak ingin merahasiakan ini darimu. Kami juga akan memberitahumu hari ini. Besok adalah hari pernikahan kami. Lusa adalah pesta resepsi kami. Aku mohon kau mau hadir. Beribu maaf dari kami untukmu, Yuri.”

Yuri ingat, Baekhyun mengatakan kalimat berlapis-lapis itu tanpa jeda dan tanpa gugup. Seakan Baekhyun sudah berjuta kali mempersiapkan kata-kata itu jauh-jauh hari. Sedang Taeyeon? Yang bisa Yuri lihat hanya Taeyeon yang menunduk, tanpa suara. Tak lama kemudian Baekhyun membopong Taeyeon yang tergopoh. Meninggalkan surat undangan, yang sempat Yuri singgung pada Baekhyun beberapa jam yang lalu.

 

—0o0—

Seoul, 03 September 2008
10.02 p.m.
Beberapa jam kemudian.

Bukan karena insomnia. Bukan juga karena waktu. Seorang Kwon Yuri tak pernah mengenal waktu tentang tidur. Tapi sekarang berbeda. Yuri juga tidak merebahkan tubuhnya. Lagipula Yuri tidak memiliki niat untuk tidur. Sama sekali tidak.

Orang normal mana yang bisa tidur sementara dirinya tertimpa masalah?

Haruskah Yuri melepasnya? Haruskah Yuri melakukannya?

Hanya ada dua pilihan.

Yuri sudah tak memiliki apapun untuk dibanggakan sekarang. Jikalau Yuri harus melepasnya, itu berarti Yuri benar-benar tak memiliki apapun. Jadi, yang harus Yuri lakukan adalah . . . . .

The Second Choice.

—0o0—

Baekhyun menggendong Taeyeon kekamarnya. Rumah sebesar ini sangat sepi ditambah hanya ada dua orang yang menghuninya. Taeyeon dan kakaknya, Jongwoon. Jongwoon sedang menghadiri workshop keluar provinsi. Jadi, hanya ada Baekhyun dan Taeyeon dirumah keluarga Kim ini.

Baekhyun tahu, baik Taeyeon ataupun Yuri sedang terpuruk. Yuri memang tidak marah apalagi membentak pada Taeyeon. Hanya saja, Yuri menangis. Baekhyun bisa merasakan kalau Yuri merasa terkhianati. Yuri pasti merasa dibohongi selama 2 tahun lamanya. Apalagi orang yang telah melakukannya adalah dua sahabat karibnya. Orang mana yang tidak terluka karenanya?

Dan Baekhyun tahu, hal ini telah menambah lapisan rasa bersalah Taeyeon pada Yuri. Taeyeon adalah wanita yang mudah terluka. Wanita yang sering menangis. Apalagi setelah kedua orang tuanya telah tiada. Taeyeon benar-benar menjadi wanita yang lebih rapuh dari gelas kristal. Dan Baekhyun, tidak akan membiarkan sebutir debu pun melekat pada gelas kristal tercintanya.

—0o0—

Seoul, 04 Semptember 2008
05.54 a.m.
Keesokan harinya.

“Ayo. Buka mulutmu, Nona. Say Naya~” Baekhyun masih bersemangat merawat sang kekasih.

Sudah sekitar 3-4 jam ia duduk disamping kasur. Sang kekasih masih tidak ingin bergerak sedikitpun. Baekhyun menghela nafas. Diletakkannya bubur itu keatas meja. Ia bertatap iba, khawatir, sedih, dan tatapan lain yang tak bisa diartikan. Jangankan bicara, Taeyeon bahkan tidak bergerak sedari bangun tidur 2 jam yang lalu. Padahal, beberapa jam lagi mereka harus berangkat. Bukan karena Taeyeon tidak mau menikah dengan Baekhyun. Hanya saja,  kejadian kemarin membuatnya terbebani.

“Ayolah, Nona Kim. Makanlah sedikit saja.” Baekhyun mengerang. Ia terlalu lelah. Taeyeon masih berbaring memunggunginya.Tanpa suara. Untuk kesekian ribu kalinya, Baekhyun menghela nafas.

“Sedikit saja, Taengie. Kau bisa maag kalau begini terus.”

“Aku sudah lelah, Taeyeon. Makanlah sedikit saja, eoh?”

“Baiklah. Kau tidak mau bicara padaku? Tak apa. Kau marah padaku? Aku tak keberatan. Kau mau menendangku? Menamparku? Memukulku? Mengutukku? Apapun itu aku bersedia. Tapi makanlah sedikit saja.”

“Apa kau tak mau makan bubur? Kau mau apa? Ramyeon? Bulgogi? Junkfood? Sup? Mie hitam? Kue beras? Makan tradisional? Tak apa. Aku akan membelikannya untukmu. Kalau kau mau aku akan membelikanmu tokonya langsung untukmu.”

“Kau tahu, Taeyeon? Jika kau tak mau makan, nutrisi untukmu tidak akan tercukupi. Dan kau tahu, Taeyeon? Itu bisa berakibat fatal untuk jan-”

Baekhyun tercengang. Taeyeon sedang duduk dihadapannya. Apa yang terjadi?

“Berikan bubur itu padaku.”

Baekhyun tersenyum. Usahanya selama berjam-jam membuahkan hasil.

—0o0—

Dengan tangan kanan yang membawa dompet, Yuri melangkah menuju gereja. Yuri sudah memantapkan hatinya. Ia sudah siap dengan semuanya. Tak ada wajah kecewa, sedih, ataupun terluka. Seluruh cucu Adam menampakkan wajah bahagianya hari ini.

Yuri pergi ke ruang pengantin wanita. Dibukanya pintu itu pelan. Indranya menunjukkan bahwa Taeyeon sedang duduk didepan cermin. Lengkap dengan penampilan pengantin wanita pada umumnya. Yuri tersenyum, tubuhnya mendekati Taeyeon.

“Kau tak perlu gugup. Kau sangat cantik.” Ucapnya.

“Yuri?” Taeyeon bangkit. Dipeluknya sahabat tercinta.

“Hm. Aku tak apa. Jangan mencemaskan aku. Sekarang kau harus berbahagia. Berbahagialah dengan Baekhyun. Aku merestui kalian.” Yuri ingin menenangkan Taeyeon dengan ucapannya. Ia juga balas memeluk Taeyeon.

“Kenapa kau melakukan ini? Aku pikir kau akan murka dan membenciku selamanya.” Singgah Taeyeon.

“Aku harus memberikanmu waktu untuk bahagia bersama Baekhyun.” Jawab Yuri.

“Terima kasih.”

—0o0—

Seoul, 05 Semptember 2008
08.54 a.m.
Keesokan harinya.

Hari ini adalah hari resepsi pernikahan Baekhyun dan Taeyeon. Yuri sudah membereskan perlengkapannya. Semua sudah siap. Hanya saja Yuri yang belum siap. Padahal kemarin ia sudah siap merelakan Baekhyun. Yang Yuri ragukan bukanlah tentang merelakan Baekhyun. Tapi, tentang yang orang yang membuatnya merelakan Baekhyun.

Yuri keluar dari mobilnya. Ia mulai memasuki gedung resepsi. Gedung ini adalah villa milik keluarga Baekhyun.

Yuri mencari diseluruh sisi gedung. Ia masih belum menemukan Taeyeon. Salahkan saja luas villa, yang sudah seperti gedung hotel, ini. Namun, pada akhirnya Yuri menemukan Taeyeon. Ia menghampiri Taeyeon, yang duduk diruang ganti. Taeyeon nampak kelelahan setelah acara resepsi berakhir. Sementara Baekhyun tidak diketahui keberadaannya.

“Kau lelah? Resepsi tadi memang sangat melelahkan. Minumlah.” Yuri menyodorkan botol isotonik pada Taeyeon.

“Bukan karena resepsinya, aku sudah lelah sejak semalam. Terima kasih.” Taeyeon menyabet botol yang dipegang Yuri. Memutar tutupnya dan meminumnya seteguk.

“Sebenarnya aku lelah karena- ”

“Taeyeon!” Baekhyun datang dari arah depan gedung, membawa sebotol minuman isotonik, menyodorkannya kehadapan Taeyeon.

“Aku sudah diberi oleh Yuri.” Jelas Taeyeon. Baekhyun mendengus. Direbutnya botol Taeyeon dan menggantinya dengan botol yang dibawanya.

“Ini untukku saja. Kau harus minum yang dariku.” Tegas Baekhyun. Ditanggapi anggukan oleh Taeyeon.

Bibir bawah Yuri tertarik kebawah melihat Baekhyun yang meminum isi botol dari yang diberikannya pada Taeyeon. Itu berarti . . . . .

“Aku pergi dulu.” Yuri beranjak dari kursinya. Tak kuasa melihat pemandangan yang ada dihadapannya.

—0o0—

Seoul, 04 November 2013
02.32 a.m.

Yuri tidak bisa tidur. Padahal, biasanya, ia langsung peka jika sudah melihat bantal. Jadi, Yuri lebih memilih untuk keluar, mencari angin segar.

Yuri membuka pintunya.

.

.

.

.

Pintu terbuka.

.

.

.

.

.

Bayangan itu belum hilang.

Bayangan itu dihadapannya.

Bayangan itu berdiri dihadapannya.

Bayangan itu sedari tadi menunggunya.

.

.

.

.

.

Yuri tertunduk. Matanya masih belum lelah. Yuri masih bisa melihat dengan jelas.

.

.

.

.

.

.

.

.

Itu adalah Taeyeon.

Orang yang dirindukannya. Sekarang ada disini, dihadapannya.

“Aku merindukanmu.” Yuri merinding mendengarnya. Bulu romanya berdiri tegak seolah diperintah oleh komandan pleton.

“Yul.” Panggilnya lagi. Yuri mendongak, menatap sosok yang berpenampilan layaknya seorang pengantin wanita. Sama seperti yang dilihat Yuri 5 tahun yang lalu.

“Taeyeon.” Butuh waktu 16 detik bagi Yuri untuk mantap menyelesaikan satu kata itu.

“Aku merindukanmu, Yuri.” Ulang Taeyeon.

“Aku juga.” Jawab Yuri. Taeyeon berjalan mendekati Yuri, dengan uKwon gaun yang menabrak tanah becek selepas hujan. Mengakibatkan sisa noda yang menempel digaun putih, yang sudah kusam dan berdebu itu.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Yuri.

“Baik. Baekhyun juga bahagia bersamaku.” Taeyeon memeluk leher Yuri. Yuri membalasnya.

“Mengapa kau tak yakin kalau Baekhyun akan bahagia bersamaku? Mengapa kau tak memahami keadaanku? Dan kenapa kau tidak merelakan Baekhyun untukku?” Nada bicaranya sangat tenang. Lebih tenang dari Taeyeon 5 tahun lalu.

“Maafkan aku, Taeyeon.” Hanya satu kalimat yang bisa diucapkan Yuri.

“Kau tahukan, aku selalu bisa memahamimu. Aku juga selalu bisa memaafkanmu.” Nada bicara Taeyeon tak berbeda dari sebelumnya.

 “Tapi aku tidak bisa memaafkanmu untuk satu hal.” Tambah Taeyeon. Nada bicaranya mulai berbeda.

Bulan purnama mulai tertutup oleh tebalnya awan malam. Ranting-ranting pohon saling bersuara karena kerasnya angin malam. Daun-daun mulai memucat karena suhu angin.

“Kau telah membunuh anakku!” Didorongnya Yuri kesamping, hingga terhempas keras ketembok. Penampilan Yuri kacau. Ia lebih cemas dari sebelumnya.

Taeyeon mendekat ke Yuri. Matanya merah. Tatapannya juga siap membunuh. Yuri bergetar karenanya. Burung gagak bertengger nyaman didahan pohon sambil menyaksikan film yang baru saja dimulai. Suara-suara aneh mulai mengalun. Tangisan mulai bernyanyi.

Taeyeon berada tepat di hadapan Yuri. Rautnya berubah drastis. Taeyeon tersenyum mengerikan sambil merapikan rambut Yuri. Ditariknya Yuri kepelukannya. Sangat erat. Yuri mulai sesak. Suara air  mengalir mulai terdengar. Mata Yuri menangkap bayangan-bayangan lain yang bersahut-sahutan. Burung gagak yang mulanya hanya seekor, sekarang sudah tidak bisa dihitung dengan jari. Seakan film yang diputar adalah film best seller.

Yuri tak bisa berkutik. Yuri tak bisa bernafas. Nafasnya tercekat. Oksigen benar-benar sudah punah dari planet ini. Yuri benar-benar tidak ingin melihat wajah Taeyeon yang menyeramkan. Datar dan mengerikan.

Taeyeon menarik leher Yuri agar kepala Yuri bisa bersandar dipundaknya. Tinggi Yuri yang melebihi tingginya sendiri membuat tangan Taeyeon menarik leher Yuri untuk lebih menunduk. Sedangkan badan Taeyeon menahan agar badan Yuri tetap tegak berdiri.

Yuri mulai takut. Ia sudah berkeringat dingin. Badannya kaku. Darahnya seakan mengikis tubuhnya sendiri. Taeyeon terus menariknya. Hingga akhirnya-

Krek.

Taeyeon melepaskan Yuri, yang tampak lemas dari pelukannya. Tanpa Yuri ketahui, Baekhyun sedari tadi berdiri diam diantara burung-burung gagak yang bertengger.

Tak sampai jarum jam bergerak, Baekhyun sudah berada disamping Taeyeon. Dilihatnya Taeyeon yang berpandang mengerikan kepada Yuri yang sedang lemas. Baekhyun mengenggam telapak tangan Taeyeon. Taeyeon menatap Baekhyun datar, begitu pula sebaliknya. Mereka berdua berpenampilan seperti sepasang pengantin. Walaupun baju mereka sedikit berdebu dan bernoda. Juga beberapa helai kain yang sudah mulai robek.

“Ayo, urusan kita sudah selesai disini. Hilangkan dendammu pada Yuri.” Taeyeon mengangguk mendengarnya.

Sinar bulan purnama yang awalnya tertutup awan kembali bersinar. Sepasang pengantin tadi masih berpegang tangan. Hanya saja ada yang berbeda. Baju mereka bersih. Seakan baru keluar dari toko. Tatapan mereka juga melembut. Seakan film yang baru diputar tadi adalah film romantis. Raut mereka juga berbeda dari sebelumnya. Keduanya tersenyum bahagia. Angin malam mulai menghangat. Bayangan-bayangan tadi sudah hilang. Burung-burung gagak juga mengepakkan sayap satu persatu. Semuanya kembali seperti semula. Seolah film horor barusan tidak pernah dibuat.

—0o0—

5 tahun yang lalu.

“Bagimana kronologinya?”

“3 hari sebelum kematian, tepatnya tanggal 1 November 2013, kedua korban pergi ketoko buku bersama.”

 “Kau tahu? Aku takut kau akan berkata macam-macam kepada Yuri tadi.” Taeyeon sibuk menerawang buku-buku dihadapannya.

“Aku tidak akan melakukannya, Taeyeon. Bukankah aku sudah berjanji?” Baekhyun yang berada dibelakangnya menjawab.

Taeyeon tersenyum. Seorang Byun Baekhyun tidak pernah melanggar janjinya.

“Kau terlihat sangat cantik semalam. Aku senang. Ternyata kau adalah wanita yang dijodohkan denganku.”

“Ck. Dasar pesilat lidah.” Taeyeon mencibir. Dirinya masih belum menemukan buku yang dicarinya.

Baekhyun tersenyum miring. Gadis ini terlalu menarik baginya. Taeyeon adalah pengaruh terbesar dalam kehidupan Baekhyun. Tanpa perjodohan pun, mereka juga akan menikah dimasa depan.

“Tanggal 2 November 2008 mereka berdua fitting baju pernikahan.”

“Kau sudah memilihnya?” Baekhyun mendorong gagang pintu.

“Tentu. Bagaimana dengan yang itu?” Taeyeon berdiri sambil melipat tangannya. Tuxedo hitam dan gaun putih sedang menjadi santapan tatapannya.

“Apapun yang kaupakai selalu bagus. Kenapa kau tak mencobanya saja?” Baekhyun yang baru saja berdiri disamping Taeyeon langsung melipat tangan kedalam saku. Ia mengikuti tatapan Taeyeon.

“Aku tak mau mengotorinya. Aku akan memakainya saat resepsi nanti.” Taeyeon bahkan tak berniat mengganti objeknya.

“Mengapa tidak saat hari pernikahan saja?” Dilirik Taeyeon yang berada disampingnya. Dari mimiknya, tercentang bahwa Baekhyun sedang bertanya.

“Aku akan memakai gaun milik ibuku dulu saja.” Taeyeon mengganti objeknya sambil tersenyum. Membuat sang objek barunya juga meniru apa yang dilakukan olehnya.

“Ayah dan ibuku tetap bersama sampai mereka berdua mati. Aku juga ingin kita berdua bisa seperti mereka.” Segera Taeyeon menyambung ucapannya. Senyum Taeyeon semakin panjang kala Baekhyun berjalan. Mendekat padanya. Panjangnya bertambah saat Baekhyun mendekapnya. Namun Taeyeon sudah tidak bisa memanjangkan senyumnya lagi saat Baekhyun mengelus punggungnya. Yang Taeyeon lakukan hanya membalas dekapan sang kekasih. Dekapan itu berlangsung selama beberapa putaran jarum jam. Dan dekapan itu runtuh ketika sang gadis mulai bersuara.

“Baekhyun, sekarang aku punya bulan.”

“Maksudmu?” Baekhyun terpusingkan.

“Bulan.” Jelasnya lagi.

“Taeyeon.” Baekhyun mulai paham. Dipandangnya sang gadis dengan tatapan takjub. Tak sampai jarum jam berotasi, Taeyeon sudah berada didekapan sang lelaki. Taeyeon juga Baekhyun tersenyum. Senyum yang panjang, senyum yang lebar.

Baekhyun menamatkan dekapannya. Ditatap gadisnya. Ekspresi mereka masih sama. Gusi Baekhyun lebih terlihat saat Taeyeon tersenyum lebih sambil menganggukkan kepalanya. Mereka benar-benar telah terikat. Apalagi sekarang mereka terikat oleh segumpal darah.

“Esok harinya, 3 November 2013, mereka berdua merayakan hari jadi persahabatan dengan seorang wanita bernama Kwon Yuri.”

“Kau yakin akan memberitahukannya?” Suara pertama Baekhyun, setelah dirinya selesai memarkirkan mobil.

“Aku sudah merahasiakannya sangat lama. Mungkin ini saat yang tepat untuk mengungkapkan kebenarannya.” Taeyeon menyudahi kegiatan menatap jalanan diluar kaca mobil. Ditatapnya Baekhyun dengan pandangan yakin. Sudah seharusnya ia mengungkapkan hal yang sebenarnya. Hanya saja Taeyeon takut. Takut akan murka Yuri nantinya.

“Aku bersamamu.” Baekhyun bisa merasakan ketakutan gadisnya. Ia akan melindungi sang gadis tak peduli apapun yang terjadi. Dari sorot matanya terlihat iris seorang malaikat. Malaikat yang akan menjalankan tugasnya sebagai seorang pelindung. Tak peduli walaupun ia harus menjadi tameng yang selalu tergores pedang.

Taeyeon bersyukur dalam hati. Dirinya sama sekali tidak salah memilih. Sama sekali tidak. 3 tahun lalu adalah waktu yang paling ia segani. 3 tahun lalu adalah pertemuannya dengan Baekhyun. Berawal saat Baekhyun dan Taeyeon mengambil buku yang berseberangan. Baekhyun ingin mengambil buku ekonomi didepan Taeyeon. Sedangkan Taeyeon hendak mengambil novel yang berada didepan Baekhyun. Sungguh, Taeyeon sangat berterima kasih pada perpustakaan yang membuatnya bertemu Baekhyun. Juga yang membuatnya mengenal Baekhyun. Dan tentu saja, yang telah membuatnya jatuh cinta pada Baekhyun.

Diberikan senyum termanisnya untuk sang kekasih. Seakan menyampaikan rasa terima kasihnya pada sang kekasih. Sekarang ia sanggup mengatakannya pada Yuri. Ia juga sanggup menanggung murka Yuri. Karena ada seorang Byun Baekhyun disampingnya. Cinta telah memberikan kekuatan untuk Kim Taeyeon.

Taeyeon mengganti pandangannya. Terlihat seorang Kwon Yuri berdiri didepan restoran. Taeyeon berani bertaruh kalau sekarang Yuri pasti sedang mengutuk dirinya. Itulah sifat Yuri. Tidak suka menunggu.

“Ayo kita turun. Yuri telah lama menunggu.”

“Mereka juga memberitahu saudari Yuri bahwa mereka akan menikah hai itu. Tapi, ada yang janggal. Pegawai restoran bilang, saudara Baekhyun keluar dengan membopong seorang wanita. Sedangkan 1 jam kemudian saudari Yuri keluar dengan mata sembab.”

“Jadi, menurutmu apa yang membuat mereka meninggal tiba-tiba?”

—0o0—

Seoul, 04 November 2013
07.47 p.m.
NFS Office.

“Nama, Kwon Yuri. Umur, 26 tahun. Tinggi badan, 165 cm. Berat badan, 43 kg. Tidak ada riwayat penyakit. Bekerja dikantor Astronomi pusat. Ditemukan meninggal diteras rumahnya dengan tulang leher patah. Dugaan sementara, bunuh diri.”

“Apa penyebab kematiannya?”

“Tidak ada sidik jari atau hal aneh lainnya. Jadi pihak kepolisian menyimpulkan bahwa ini adalah bunuh diri.”

“Bukankah sangat mustahil jika gadis sekurus Kwon Yuri kuasa mematahkan lehernya sendiri?”

“Entahlah. Mungkin saja hantu yang mematahkan lehernya.”

“Hilangkan khayalan anehmu itu. Ayo kita mulai otopsinya.”

—0o0—

Seoul, 06 November 2008
11.33 a.m.
NFS Office.

“Nama, Kim Taeyeon. Umur, 21 tahun. Tinggi badan, 163 cm. Berat badan, 43 kg. Tidak ada riwayat penyakit. Mahasisiwi Universitas Dongguk Jurusan Astronomi Semester 5. Ditemukan meninggal setelah resepsi pernikahannya. Apa penyebab kematiannya?” Lelaki itu mengalihkan pandangannya, dari kertas yang telah ia baca kearah orang dihadapannya.

“Racun Antimony telah diekstrak dari minuman isotonik yang diminumnya sesaat sebelum pasien meninggal. Ini adalah berkas yang menyatakan bahwa korban sedang hamil 4 bulan.” Seorang wanita menjawab pertanyan sang lelaki sembari mengangkat sebuah dokumen.

“Bukankah suami korban juga meninggal?” Tanya sang laki-laki lagi.

“Benar, Dokter. Suami pasien yang bernama Byun Baekhyun. Umur, 21 tahun. Tinggi badan, 174 cm. Berat badan, 58 kg. Tidak ada riwayat penyakit. Mahasiswa Universitas Dongguk Jurusan Ekonomi Semester 5. Saudara Byun Baekhyun ditemukan meninggal berdampingan dengan saudari Kim Taeyeon setelah resepsi pernikahan. Penyebabnya kematiannya sama.”

“Mereka pasangan yang serasi.” Lelaki yang dipanggil dokter itu beropini. Dilihatnya dua orang yang tidur berdampingan diranjang yang berbeda dengan selimut putih menutupi sampai batas bahu.

“Pasangan sehidup semati.” Sang wanita juga ikut beropini. Diikutinya pandangan sang dokter.

“Baiklah, ayo kita mulai otopsinya.”

Sang dokter dan asisten wanitanya mulai memakai masker dan mengambil pisau bedah.

END

Epilog

Hanya ada dua pilihan.

Yuri sudah tak memiliki apapun untuk dibanggakan sekarang. Jikalau Yuri harus melepasnya, itu berarti Yuri benar-benar tak memiliki apapun. Jadi, yang harus Yuri lakukan adalah . . . . .

The Second Choice.

Pandangan yang semula kosong itu terisi dengan pandangan botol 35ml diatas meja rias.

Antimony Poison.

—0o0—

“Jaga kesehatanmu baik-baik. Aku tidak mau kau dan anakku sakit.” Baekhyun tersenyum pada gadisnya. Taeyeon tersenyum menyanggupinya.

Baekhyun dan dirinya belum berganti pakaian. Padahal pesta sudah berakhir 2 jam yang lalu. Lagipula, Baekhyun tidak memiliki waktu lagi. Beberapa jam lagi, ia harus bersandang ke New Delhi untuk mengurus beberapa masalah.

“Sekarang semuanya telah berakhir. Yakinlah, lambat laun Yuri akan menerima kenyataan ini.” Taeyeon kembali tersenyum

“Aku mencintaimu.” Perasaan Taeyeon untuk Baekhyun.

“Ehm. Aku juga.” Baekhyun mendekapnya lagi.

Tak berapa lama kemudian, Taeyeon merasa aneh. Mengapa nafasnya sangat berat? Kepalanya pusing. Pandangannya juga mulai memburam. Ada apa?

“Taeyeon.”

Baekhyun janggal dengan istrinya. Dilepaskan dekapannya. Dilihatnya Taeyeon yang gelagapan. Baekhyun bingung. Bukankah Taeyeon tak memiliki asma? Apa wanita hamil selalu seperti ini?

“Taeyeon. Kau tak apa? Ada apa denganmu? Hey, Taeyeon. Kim Taeyeon.”

Baekhyun mengguncang bahu Taeyeon. Taeyeon gelagapan. Firasatnya muncul. Air matanya menetes. Baekhyun panik. Apa yang harus ia lakukan? Jarak antara tempat resepsi dan kamar villa sangat jauh. Tak akan ada yang mendengar jika ia berteriak.

Taeyeon lemas. Ia sudah tidak kuasa untuk menjaga keseimbangannya. Tubuhnya terhempas keatas kasur yang berada disampingnya. Matanya masih menatap Baekhyun. Taeyeon gemetar. Membuat Baekhyun refleks terduduk dikasur. Dengan sigap, ia langsung memeluk Taeyeon. Ia kalap. Apa? Bagaimana? Mengapa?

Baekhyun bisa mendengar detak jantung Taeyeon yang mulai melemah. Taeyeon membuka mulutnya, ingin mengeluarkan suara. Sekuat apapun Taeyeon berusaha, suara itu tak bisa keluar dari bibirnya. Nafasnya tidak teratur, sesak sekali.

“Taeyeon.” Baekhyun mengguncang tubuh Taeyeon. Tangan Taeyeon terangkat membelai pipi Baekhyun. Ia mulai berurai air mata.

“Taeyeon!”

Taeyeon menangis. Sesingkat inikah? Padahal dirinya baru saja memiliki Baekhyun.

“Taeyeon!” Baekhyun menangis. Taeyeon sedang sekarat sekarang. Taeyeon sudah mulai melemas. Tangannya masih berada dipipi Baekhyun. Menyeka air mata Baekhyun dengan sedikit tenaga yang ia punya. Baekhyun memejamkan mata. Berharap ciumannya bisa mengurangi sakit sekarat sang gadis. Ciuman itu dibumbui oleh berbagai perasaan dan air mata.

Deg.

Deg.

Deg.

Deg.

Aku mencintaimu, Byun Baekhyun.

Tangannya terhempas begitu saja. Baekhyun melepas ciumannya. Dilihatnya sang gadis sudah tenang. Air matanya kembali menggenang. Dipeluknya Taeyeon sangat erat. Seakan tidak ingin melepas gadis itu untuk selama-lamanya.

“Aku mohon. Taeyeon. Aku mohon. Jangan. Jangan lakukan ini padaku. Kim Taeyeon!” Air mata Baekhyun semakin banyak dari sebelumnya. Tidak ada tangan yang akan menyeka air matanya. Taeyeon sudah pergi.

“Argh!” Teriaknya.

“Berhenti bercanda, Taengie. Ini tidak lucu. Ayolah.” Baekhyun sesak. Dirinya tak bisa bernafas, nyawanya telah mati. Taeyeon masih dalam dekapannya. Baekhyun juga masih menangis meraung-raung. Memanggil nama Taeyeon.

1

2

3

Suara Baekhyun terhenti. Bukan, bukan karena nyawanya yang telah mati. Nafasnya tak teratur. Detak jantungnya juga mulai melemah. Baekhyun sudah tidak kuat menahan keseimbangan dirinya sendiri. Akhirnya ia terjatuh diatas kasur. Tangannya masih belum lepas dari punggung Taeyeon.

Dipandangnya Taeyeon dengan tatapan damai. Kesedihan Baekhyun sirna, ia bahagia. Sebentar lagi ia akan bersama Taeyeon. Baekhyun mencoba tersenyum, walaupun ia sedang sekarat.

Deg.

Baekhyun mempererat dekapannya.

Deg.

Baekhyun mencium kening gadisnya.

Deg.

Baekhyun memejamkan matanya.

Deg.

Aku juga mencintaimu, Taeyeon.

Sepasang cucu adam yang dulu berjanji selalu bersama. Kini mereka menepati janjinya. Mereka adalah pasangan serasi didalam kehidupan. Dan mereka adalah pasangan abadi didalam kematian. Tanpa sengaja, tangan Taeyeon memeluk pinggang Baekhyun. Baekhyun masih setia memeluk punggung Taeyeon. Bibirnya juga masih berada dikening Taeyeon. Taeyeon adalah nyawa Baekhyun. Baekhyun adalah nyawa Taeyeon.

On Somewhere

Yuri duduk dibawah pohon rindang. Dirinya tersenyum menikmati tarian angin dimusim semi yang baru saja dimulai ini. Dihadapannya, ada seorang anak kecil yang berlarian kesana kemari. Juga seorang wanita yang mengejar dibelakangnya.

“Taehyun, berhenti. Eomma lelah mengejarmu.” Teriak sang wanita.

Shireoyo.” Suara imut itu terdengar. Pemiliknya masih berlarian tak menentu. Hingga akhirnya anak itu bersembunyi dibalik pohon besar.

“Hap! Kau tertangkap, Hyunnie.”

Appa, lepaskan aku.” Anak kecil itu meronta-ronta dalam gendongan sang ayah. Sementara ayahnya tersenyum kemenangan.

“Kau tidak akan menang melawan ayahmu, Hyunnie.” Sang wanita bersuara.

Appa! Lepaskan aku, Appa.”

“Tapi kau harus berjanji untuk tidak membuat eommamu kesal lagi. Mengerti?” Sang anak mengangguk. Ayahnya menurunkan sang anak dari gendongannya. Tak berapa lama kemudian sang anak berlari menghampiri wanita lainnya yang sedang duduk dibawah pohon.

Ahjumma.” Panggilnya.

“Apa?” Yuri melotot. Acara bersantainya diganggu.

Ahjumma.” Panggilnya lagi.

“Taehyun, aku masih muda. Dan kau memanggilku Ahjumma?” Yuri masih memasang wajah masamnya.

“Memangnya kenapa?” tanyanya. Rupanya anak 4 tahun ini terlalu polos untuk memahami Yuri.

“Taeyeon! Lihatlah! Taehyun mengejekku!” teriak Yuri. Taeyeon menghampiri Yuri. Diikuti seorang lelaki dibelakangnya.

“Ada apa, Yuri?” tanya Taeyeon lembut.

“Lihatlah. Semakin hari dia lebih mirip ayahnya saja.” Tunjuk Yuri pada Taehyun.

“Memangnya kenapa? Itu berarti ayah dan anak kompak.” Itu bukan suara Taeyeon. Itu adalah suara khas mengejek dari seorang Baekhyun.

“Hah? Dasar kalian berdua! Ayah dan anak sama-sama evil!” teriak Yuri.

“Hahahaha.” Baekhyun dan Taeyeon tertawa. Sementara Taehyun tersenyum lebar dalam gendongan Taeyeon. Yuri cemberut dibuatnya.

“Menyebalkan. Kalian keluarga Byun sama-sama evil!”

Bukannya berhenti, ketiga Byun itu justru mengeraskan tawanya.

“Yak!”

Musim dingin yang kejam telah berakhir. Digantikan musim semi yang menyenangkan. Dengan senyum dan keceriaan. Tanpa ada dendam dan kesedihan. Semua makhluk berhak bahagia. Yang hidup didunia. Ataupun yang berada disurga.

THE REAL END

Jelek? Kepanjangan? Kacau? Rumit? Susah dipahami?

Mohon maklum -_-

Maaf jika ff ini hancur lebur. Ini adalah ff debut saya. Sumpah, ini ff ngasal doang -_-  Pakek bunuh-bunuhan segala lagi -___- Dan juga, maaf kalo saya tdk mengeksekusi ceritanya dengan ‘wow’. Maklum, masih belajar ._.V

Terima kasih untuknya yang selalu menjadi inspirasiku. Terima kasih juga untuk semua orang yang selalu ada untukku. I Love You, guys. Last, don’t forget to leave comment. I need your opinions. Thanks.

98 thoughts on “[Freelance] The Reason

  1. Hi! FFnya menarik, bahasanya juga udah lumayan meskipun agak sedikit gimanaa gitu. Typo juga masih ada. alurnya maju-mundur, so konsentrasi saya harus penuh pas baca FF ini. But over all, nggak begitu masalah sih, semua penulis ‘kan nggak selalu sempurna. Pasti punya kesalahan sekecil apapun, entah itu sengaa-nggak sengaja. Keep writing aja deh, oke? Ditunggu FF lainnya.

    Bye, eonni! , wakakakkkk #ketawatanpadosa

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s