[Freelance] Like a Star

[new] hyo-yeol like a star

Title: Like a Star || Author: Soshikkum || Lenght: Oneshot || Rating: PG 14 ||
Genre: Romance, Friendship, Sad || Main Cast: Hyoyeon – Chanyeol || Other Cast: Tiffany, Xiumin, Suho || Note: Enjoy reading, and don’t forget for leave a comment😉

…………………

Angin yang berhembus begitu damai menemaniku menikmati langit sore yang berwarna jingga. Indah sekali. Angin nakal mulai membuat rambut yang kugerai ini menari mengikuti arah perginya. Perlahan kududukkan diriku di atas rerumputan. Kenyamanan ini membuat memori yang tersimpan apik kembali mucul dalam pikiranku.


5 years ago

Tempat yang dipenuhi oleh rak-rak yang menyimpan buku ini merupakan tempat kesukaanku. Disaat waktu senggang, aku memilih tempat ini, hanya untuk sekedar membaca beberapa buku. 5 buku dengan ketebalan yang tak bisa dibilang tipis sudah kubaca dalam waktu 30 menit.

Kulangkahkan kakiku keluar dari tempat itu –perpustakaan. Sampai dimana selembar kertas yang sudah terlipat membentuk pesawat kecil mendarat tepat di kakiku yang dibalut  flat shoes. Tanganku bergerak mengambilnya dan membuka lipatan demi lipatan kertas putih itu. ‘Lihatlah ke kananmu.’ Kira-kira seperti itu pesan yang tertulis. Kualihkan pandanganku sesuai perintah.

Seorang berdiri memunggungiku. Yang kutahu dia adalah namja. “Permisi, apa kau pengirim kertas ini?” tanyaku hati-hati pada namja  yang berjarak kurang lebih 3 meter dari tempatku sekarang. Ia membalikan badannya perlahan menghadap kearahku, wajahnya tertunduk, namun beberapa detik kemudian ia mengangkatnya. Dengan penuh kegugupan aku menatapnya. Namja yang memiliki kulit putih susu, dengan bibir merah muda, senyum memikat, dan memiliki tinggi yang tak bisa dibilang pendek itu kini menatapku dengan mata indahnya. Dia adalah seseorang yang selama 2 tahun belakangan ini mengisi fikiranku dan hatiku.

“C-chanyeol, kau yang menerbangkan ini?” Kegugupan melanda hatiku, bahkan kertas yang kutunjukan padanya sedikit bergetar karena tanganku yang juga bergetar. “Err, i-iya aku yang menerbangkannya.” Terdengar keraguan dari suaranya. “Kalau begitu ini milikmu, jadi kukembalikan.” Aku berjalan perlahan mendekat dan tanganku mengulur untuk menyerahkan kertas itu. Kepalaku otomatis tertunduk saat jarak kami hanya beberapa puluh senti saja.

Perlahan tangannya mengambil kertas itu, lalu membuangnya ke tong sampah yang berada tak jauh darinya. Keringat dingin mengucur perlahan dari dahiku saat tangan miliknya menggenggam tanganku. Apa yang ia lakukan? Aku bisa gila karena kegugupan ini.

“Hyoyeon-sshi­.” Suara berat yang selama ini aku sukai, suara berat yang sering kali terngiang di kepalaku memanggil namaku lembut. Perlahan kuangkat kepalaku, mata kami bertemu, tak dapat aku hindari kupu-kupu yang terbang bebas di perutku, dan jantungku yang terpompa cepat. Astaga.

“Hyoyeon-sshi.” Panggilnya sekali lagi. “Saranghaeyo.” Satu kata yang berhasil membuat seluruh organku berhenti bekerja, satu kata yang berhasil membuat mataku membelalalak seketika, satu kata yang berhasil melemahkan kaki yang membantuku bertumpu, satu kata itu meluncur bebas dari mulutnya. “Saranghaeyo, Kim Hyoyeon.”

Aku menatapnya tak percaya, menyelidik apakah ada kebohongan dan keisengan disana, dan hasilnya nihil, aku tak menemukan itu semua. “C-chanyeol kau, k-kau…” Tangannya makin menggenggam tanganku erat. “Ya, aku mencintaimu Hyoyeon, dan ini tak bercanda, aku mencintaimu. Would you be my girl?” Bang!

Mataku terasa memanas, sekumpulan cairan bening bak kristal sudah memenuhi pelupuknya berdesakkan ingin keluar, hanya butuh waktu sepersekian detik saja buliran kristal itu akan membentuk sungai kecil dipipiku yang kuyakini sudah bersemu merah. 1, 2, 3 yap seperti yang kuduga, tetes demi tetes perlahan merembes di pipiku.

“Jawablah aku Hyoyeon.” Ucapnya sembari menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Kutarik nafasku, mengambil oksigen sebanyak yang kumampu, dan membuangnya perlahan. Senyum terpatri di bibirku. Tanganku dengan cepat merengkuh tubuhnya, memeluknya sebagai jawaban ‘Ya’ atas pertanyaannya. Dengan sigap ia balas pelukanku.

Malam sunyi di bukit, hamparan bintang-bintang menghiasi langit hitam pekat kini menemaniku dan Chanyeol. Tepat pada malam ini, hubungan kami sudah berjalan selama 2 tahun.

 “Hyoyeon-ah coba kau tatap langit disana.” Kutatap langit malam yang indah itu, ribuan bintang menggantung bagaikan permata. “Sangat cantik.” Kagumku. Tak henti-hentinya aku mengagumi ciptaan tuhan yang cantik itu.

Cup. Sebuah ciuman mendarat di pipi kiriku, refleks aku menengok kearah seseorang yang melakukan itu, siapa lagi kalau bukan Chanyeol, namja-ku. Kurotasikan mataku, lalu kulipat tanganku di depan dada, oh jangan lupakan pipiku yang mengembang karena ku-pout kan bibir ini seakan bersikap kesal dengan apa yang diperbuatnya.

“Chanyeol-ah~ kau ini.” umpatku. Bukannya kata maaf yang diucapnya, melainkan kata-kata yang membuat pipiku makin bersemu. “Aigoo, kau sangat cantik Hyo-ah, bahkan lebih cantik dari ribuan bintang di atas sana.” Senyum mengembang dengan tulusnya di wajahku. “Terimakasih.” Ucapku seraya memeluknya. “Saranghae.” Kuanggukan kepalaku tanda mengerti. Tentu aku mengerti dan tau bahwa ia mencintaiku.

23 November 2011

Tangan besarnya kini menggenggam tanganku lembut. “Channie, fokus pada menyetirmu itu.” Nasihatku, jujur aku khawatir, tapi melihat senyumnya rasa khawatir sedikit demi sedikit memudar.

“CHANYEOL!” sebuah truk berada tepat di hadapan mobil yang kami gunakan. Tabrakan tak terelak lagi. Yang kuingat untuk terakhir kali sebelum aku tak sadarkan diri adalah, tangan hangatnya yang masih menggenggam erat tanganku.

Dapat kurasakan tangan seseorang menggenggam tanganku, isakan kecil samar-samar memasuki indra pendengaranku. “Chan, chanyeolli.” Hanya itu yang mampu kuucapkan. “Hyoyeon-ah kau sudah sadar?” ucap seseorang, yang kutahu itu bukan Chanyeol.

“Tiff?” Panggilku pada seseorang tadi setelah aku mengenalinya, suara Tiffany sahabatku. Aku berusaha membuka mataku, tapi mengapa masih gelap? “Tiff, kenapa disini gelap?” Tiba-tiba terlintas pemikiran buruk. Ah tidak-tidak, ini tidak mungkin. “Tiff kumohon jawab, kenapa disini gelap? Aku tak bisa melihat apapun.” Tanganku berusaha mencari tangan Tiffany dan mulai menggenggamnya erat, sangat erat. “Hyo maaf, tapi kau, kau sudah, sudah..”

“Sudah apa? Cepat katakan!” dapat kudengar ia menangis, dapat kurasakan getaran tubuhnya. “Kau sudah tak bisa melihat lagi, kau buta Hyo.” Kata-kata yang menyakitkan bukan? Hidupku seakan hancur hanya karena kata-kata itu.

Tersadar aku melewatkan sesuatu. “Fany-ah, bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia baik-baik saja? Aku percaya dia baik bukan? Apa mungkin sekarang dia disini? Katakan Tiff.” Kuguncangan tubuhnya, air mata terus menerus mengalir di wajahku.

“Ia baik Hyo, hanya butuh sedikit pemulihan saja, dia akan segera membaik.” Lega mendengar itu. “Lebih baik kau istirahat lagi, besok kau bisa bertemu dengannya.” Senyum yang hilang beberapa saat itu kini kembali. “Sungguh? Kau janji?” tanyaku antusias. “Iya, aku janji, dan kau harus janji padaku untuk tersenyum saat menemuinya, you got it?” kuanggukan kepalaku lalu kubaringkan tubuh yang terasa lelah ini.

Pagi yang sudah sangat kutunggu, karena aku akan bertemu dengan Chanyeol setelah 2 hari –begitu penuturan Tiffany– aku koma. Walaupun aku tak bisa melihatnya, tapi setidaknya aku dapat mendengar suaranya, dan merasakan hangat tangan dan tubuhnya.

“Hyoyeon-ah!” panggil suara disebrang sana, yang kuyakini suara seseorang yang selama ini aku tunggu. “Channie!” kuarahkan tongkat yang membantuku berjalan keberbagai arah. Tap tap tap kuyakin sudah dekat. “Hyoyeon-ah.” Entah mengapa suaranya melemah, apa ia sedih melihatku begini?

“Chan? Itukah dirimu?” tangannya kini memelukku erat. “Ne, ini aku Hyo, Chanyeol.” Senang rasanya mengetahui ia baik-baik saja –sepertinya. “Hyo kau…” jangan dilanjutkan, aku sudah tau apa yang ia ingin ucapkan.

“Aku buta? Hahaha begitulah.” Jawabku berusaha tegar. Hei aku sudah dapat bertemu dengannya saja sudah merasa bahagia, jadi untuk apa bersedih lagi?

Setiap hari ku lalui bersama Chanyeol di rumah sakit. Tak ada tangis antara kami, hanya tawa yang lepas begitu saja. Kebutaan ini tidak membuatku bersedih, toh aku punya Chanyeol dan

Tiffany yang selalu menjagaku, walaupun sering aku merasa rindu untuk menatap wajah mereka.

“Chan, kata dokter aku tak buta permanen, aku bisa melihat lagi asalkan ada pendonor mata.” Senang sekali bisa memberi kabar bahagia ini. “Begitukah? Chukkae Hyo.” Ucapnya seraya memelukku. Sungguh aku tak sabar untuk kembali melihat.

3 bulan aku menunggu keajaiban datang. Keajaiban dimana aku mampu melihat lagi. 3 bulan pula aku dirawat di rumah sakit ini.

Dan keajaiban yang kutunggupun datang, tepat satu hari sebelum tanggal 17 Januari 2012 yang merupakan hari jadiku yang ke 3 bersama Chanyeol.

“Hyoyeon-ah, besok kau bisa menjalani operasi.” Kabar yang sangat membahagiakan bagiku. “Sungguh? Kapan? Jam berapa Tiff?” sungguh aku sangat tak sabar. “Pukul 9 pagi Hyo, jaga kesehatanmu ok?” Senang rasanya dapat melihat dunia yang sangat kurindukan ini.

Gugup. Itu yang melanda hatiku sekarang. “Tenang Hyo, semua akan baik-baik saja.” baiklah aku akan mencoba tenang. Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu, Chanyeol. Dimana dia sekarang? “Fany-ah dimana Chanyeol?” hening sesaat.

“Err, dalam perjalanan kesini Hyo.” Aku harap dialah yang kulihat pertama kali saat aku sudah dapat melihat lagi.

“Sekarang coba kau buka matamu.” Kata seseorang yang ku ketahui bernama Xiumin, dia dokterku. Ku kerjapkan mata ini berkali-kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Perlahan tapi pasti aku bisa melihat, walaupun sedikit buram. Kukerjapkan sekali lagi, dan hasilnya aku dapat melihat kembali.

Dapat kulihat Tiffany dengan wajah gugup bercampur senang, 2 orang suster, dan seorang dokter dengan wajah manis yang sepertinya dokter Xiumin. Tunggu, dimana Chanyeol?

“Kau bisa melihatku sekarang?” tanya dokter Xiumin memastikan. “Ne aku bisa, aku bisa.” Akhirnya aku bisa melihat lagi. “Chukkae Hyoyeon-ah.” Ucap Tiffany lalu memelukku. Kulepaskan pelukan itu perlahan. “Chanyeol?” Tiffany terdiam, ada apa dengannya, dokter Xiumin-pun terdiam. “Tiff, Chanyeol dimana?” tanyaku sekali lagi. Ah sungguh mengapa semua hanya diam, membuatku penasaran saja. Kuambil cepat telpon genggamku, dan mulai menghubunginya, tak ada jawaban. Apa yang terjadi sebenarnya.

“Hyo-ah kau mau kemana? Kondisimu belum pulih!” teriak Tiffany saat aku pergi begitu saja meninggalkan mereka. Kususuri lorong rumah sakit ini, sampai dimana aku melihat seseorang yang kukenal terduduk sedih di kursi tunggu rumah sakit.

Ajhumma?” wanita itu adalah Ibu Chanyeol. “Hyoyeon-ah? Kau sudah baik sayang?” ia memelukku lembut, menatapku sendu dengan mata yang penuh dengan genangan air mata. “Ne, aku sudah baik ajhumma. Apa yang membuatmu menangis? Dimana Chanyeol.” Sesaat setelah aku bertanya seperti itu, ia kembali mendudukan dirinya. Aku berlutut di depannya sambil menggenggam tangan yang sudah mulai keriput itu. Ia menangis. Apa yang terjadi sebenarnya? Perasaanku mulai tak enak.

“Hyoyeon-ah!” kualihkan pandanganku pada seseorang yang memanggilku, Tiffany. “Kenapa kau kabur begitu saja?” nafasnya sedikit tak teratur, sepertinya habis berlari. Kukembalikan pandanganku pada Ibu Chanyeol, menunggu jawaban darinya. “Ajhumma, dimana Chanyeol?”


Dadaku terasa sesak karena terus menerus menangis. Pahit sekali mengingat semua kejadian itu. Langit sudah hampir gelap, tapi aku masih setia duduk manis disini, tempat dimana aku menyaksikan ribuan bintang berhamburan di langit bersama Chanyeol. Kutatap nanar kertas berwarna merah muda yang berada di genggamanku.

Aku merindukanmu Chan, mengapa kau meninggalkanku? Mengapa kau sangat jauh di atas sana? Bahkan kau tak menemuiku disaat aku sudah dapat melihat.

Satu bintang bersinar sangat terang, lebih terang diantara yang lainnya. Apa itu dirimu? Apa kau melihatku yang sedang terpuruk karena kehilangan sosok yang sangat aku cintai? Chanyeol, tunggulah aku disana. Cepat atau lambat aku akan menyusulmu. Jangan terbuai dengan bidadari-bidadari disana yang lebih cantik dariku. Tunggulah aku dengan senyum yang selama ini aku rindukan.

Aku akan menunggu sampai waktuku tiba untuk bertemu denganmu lagi, aku akan menunggu karena aku mencintaimu, Park Chanyeol.

END

[Extra Story]

Namja bertubuh tinggi itu membuka pintu suatu ruangan. “Chanyeol? Silahkan duduk.” Ia menurut dan duduk disalah satu kursi yang tersedia. “Ada apa?”

“Suho, berapa lama lagi aku akan bertahan hidup?” Suho –yang merupakan sahabat sekaligus dokter Chanyeol– tercengang. “Mengapa bertanya seperti itu? Jangan bercanda Chanyeol.”

Chanyeol membenarkan posisi duduknya. “Apa kau melihat wajah bercanda dariku Suho? Tak perlu berpura-pura, 3 tahun aku hidup dengan penyakit ini.” sesaat ia terdiam, berusaha menahan air mata yang bisa meluncur bebas kapan saja. “Dan kau pasti tau hidupku tak akan lama kan? Katakan saja yang sejujurnya.”

Suho menyandarkan tubuhnya, menenangkan dirinya. Sulit untuk mengatakan ini. “Entahlah, tapi melihat kondisimu, terlebih setelah kecelakaan itu, mungkin tak akan lama, 1 atau beberapa minggu lagi sepertinya.” Keduanya terdiam, berkutik dengan pemikiran masing-masing. “Begitukah?”

Senyum tipis terukir di bibir Chanyeol. “Terimakasih sudah berusaha yang terbaik kawan, terimakasih. Titip salamku pada teman-teman yang lain jika nanti aku tak dapat menemui mereka sebelum tiba waktuku.” Ia bangkit dari duduknya, hendak pergi.

“Jika kau pergi, bagaimana dengan Hyoyeon?” langkah Chanyeol terhenti seketika. Dibalikkan badannya untuk menghadap Suho lagi. “Aku tak tau, tapi yang pasti aku akan memberinya sesuatu yang berharga.” Ucapnya lalu pergi keluar ruangan Suho.

Kali ini ia pergi ke suatu ruangan dengan nama ‘dr. Minseok Kim’ tertera dipintunya, dibuka perlahan pintu itu. Sama halnya dengan Suho, ia mempersilahkan Chanyeol duduk, lalu bertanya apa yang membawanya ke ruangannya.

“Dokter Kim.” Ucapnya dengan nada keraguan, takut, sedih, khawatir tercampur menjadi satu. “Panggil saja Xiumin.” Jawabnya dengan ramah.

“Ah, ne.” Xiumin menatapnya penasaran dan lembut. “Jika ada yang ingin kau tanyakan tentang Hyoyeon, tanyakan saja.” Chanyeol mengangkat kepalanya yang semula tertunduk untuk menatap Xiumin. “Sampai sekarang, apa tak ada pendonor untuk Hyoyeon?”

Yang ditanya hanya menghembuskan nafas lesu. “Maafkan aku, tapi sampai sekarang belum Chanyeol.” Sejenak Chanyeol berfikir, berusaha memastikan perasaannya. “Xiumin.” Katanya. “Ada apa?”

“Kau bisa gunakan mataku untuk Hyoyeon.” Xiumin menatap Chanyeol tak percaya. “Maksudmu?”

“Gunakan mataku untuk pemulihan Hyoyeon.” Ucapnya. Ia meremas tangannya, gugup dan takut melanda hatinya. “Apa yang kau fikirkan?”

Lagi-lagi Chanyeol hanya tersenyum tipis. “Umurku tak lama lagi, penyakit yang kuderita sudah cukup parah.” Disesapnya oksigen sekitar, lalu menghembuskannya. “Jika sebelum tanggal 17 Januari nanti aku sudah tak bernyawa, berikan mataku ini untuk Hyoyeon. Itu akan menjadi hadiah terakhir di ulang tahun hubungan kami yang ketiga.”

“Kau tak mungkin melakukan ini Chanyeol, Hyoyeon akan sedih kehilangan dirimu.” Tiffany sungguh tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Fany-ah, ini kesempatan terakhirku sebelum aku benar-benar meninggalkannya. Jika aku pergi, setidaknya ada bagian tubuhku yang selalu menemani Hyoyeon sepanjang hidupnya. Aku akan terus bersamanya, membantunya melihat nanti.”

Tiffany tertunduk, hatinya kalut tak tau harus berbuat apa. Ia bahagia jika Hyoyeon dapat melihat dan menjalani hidupnya dengan normal, tapi dibalik itu ia bertanya-tanya, apakah nantinya ia rela melihat Hyoyeon bersedih karena kehilangan seseorang yang sangat ia cintai?

“Hyoyeon pasti mengerti Tiff, ia pasti mengerti. Aku sangat mengenalnya, aku tau dia pasti bisa menjalani harinya tanpa aku yang seutuhnya.” Chanyeol menggenggam tangan Tiffany, lalu memberikan sesuatu. “Berikan ini pada Hyoyeon, sampaikan salamku padanya. Jika ia menangis, hapuslah air matanya. Jangan pernah kau tinggalkan dia, aku percaya padamu Tiff.” Ucapnya seraya memberikan kertas yang sudah terlipat menjadi pesawat kecil berwarna merah muda pada Tiffany.

Tak lama setelah itu bunyi ‘piiiip’ yang sangat panjang yang berasal dari alat pendeteksi jantung menggema diseluruh ruangan. Chanyeol benar-benar pergi untuk selamanya.

Hyoyeon, maaf tak memberi taumu sebelumnya. Aku akan pergi jauh darimu. Aku pergi ketempat yang sangat indah. Kau tak perlu bersedih, aku akan selalu menjagamu dari atas sana. Aku akan selalu menemanimu, karena aku ada di hatimu. Aku akan selalu membantumu melihat, dan membuatmu menjalani hari-harimu seperti biasa. Aku akan menemanimu di malam hari saat kau tertidur, karena aku adalah bintangmu yang selalu bersinar terang. Aku sungguh mencintaimu, Kim Hyoyeon. Sampai Jumpa lagi.

Love, Channie~

END

Selesai juga FF ini. Baru pertama kalinya buat pairing selain Hyo-Hun hehehe, jadi maklum ya kalo rada aneh /emang ada hubungannya?/ Leave comment ya /puppy eye bareng Chanyeol/ oiya maaf banget nih kalo rada gimana /bow bareng Sehun/ tapi aku buat FF ini dengan sepenuh hati kok /nyengir-nyengir bareng Hyoyeon/ well thanks udah nyempetin diri buat baca ini😀

23 thoughts on “[Freelance] Like a Star

    • knp dgn chanyeol? wahaha… ff HyoTaeng otw(?) maksudnya dlm proses, cm masih ga ada waktu buat nerusinnya. tp ga pure hyotae jg sih.. liat aja deh pokoknya.. just wait ok?

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s