[Freelance] Oneshot : Winter Game

Winter Games_resized

 

Winter Games

By Lee Yoon Ji

Cast

Im YoonAh | Xi Luhan

Support

Random Idols

Genre

Romance | Happy | Friendship

Length

Oneshot

Rating

Teen

Disclaimer

Cast milik orang tua, Tuhan dan SM Ent. Cerita murni milik saya.

**

Prolog

Titik demi titik putih terus turun mengguyur kota Seoul. Menjadikan ibukota Korea Selatan itu seperti sebuah istana es yang suci. Salju-salju berserakan di jalan baik besar maupun kecil. Lalu lintas sedikit terhambat akibat volume salju yang turun semakin hari semakin besar.

Appa, apa kita bisa sampai tepat waktu?”. Tanya seorang anak perempuan kecil yang duduk di kursi bagian belakang mobil bersama boneka beruangnya. Yeoja kecil itu bertanya pada appa-nya yang sedang menyetir di depan bersama sang umma.

“Tentu saja Lami sayang, kita pasti bisa sampai di rumah Ji Sung tepat waktu”. Jawab sang umma sambil membelai rambut coklat si anak.

Yeobo, apa kau yakin kita benar-benar bisa sampai tepat waktu?”. Tanya umma Lami kepada sang suami yang masih sibuk menyetir. Sesekali namja berambut coklat seperti rambut Lami itu menginjak pedal gas untuk mengisi spot kosong jalanan di depannya.

“Tentu saja chagi”. Jawab appa Lami sambil melemparkan senyum hangatnya.

Dertt…

Getar ponsel yang di letakkan di atas dasbor mobil putih itu langsung memecah kesunyian yang sebelumnya di isi dengan suara merdu Lami yang menyanyikan lagu ‘Santa Claus is Coming To Town’.

Yeoboseso”.

“Yoona~yaa, kalian di mana?”. Tanya suara seorang yeoja yang merupakan sahabat karib Yoona sekaligus umma dari sahabat Lami di sekolah, Jessica.

Eonni, kami terjebak salju. Mungkin akan sedikit lama”. Jawab Yoona sambil terus memperhatikan jalanan Seoul yang tertutup salju. Dari arah seberang terdengar suara helaan nafas panjang disertai teriakan seorang anak laki-laki.

“Kalau begitu kalian harus hati-hati. Dimana Lami? Ji Sung ingin berbicara katanya. Ini sayang”.

“Lami, ini Ji Sung ingin berbicara padamu”. Ucap Yoona sambil menyerahkan ponsel biru miliknya pada Lami yang wajahnya langsung bersinar mendengar nama Ji Sung di sebut. Yoona diam-diam tersenyum lalu kembali menghadap depan. Sesekali matanya melirik sosok namja di sampingnya yang sudah selama 1 tahun ini menjadi suaminya. Luhan yang menyadari sedari tadi mata Yoona terus-terusan menatapnya langsung membalas tatapan Yoona dan membuat Yoona merasa masuk ke dalam sebuah dimensi lama. Sebuah waktu di mana dirinya dulu dan Luhan pertama kali bertemu.

Apa ia ingat detailnya?

6 Tahun Yang Lalu…

-Yoona-

Aku mendorong pintu tembus pandang yang memisahkan bagian taman dengan bagian dalam Universitas SM dan langsung memasukkan diri untuk menghindari serangan dingin yang terus menyerang sejak tadi pagi. Ya. Saat ini Seoul sedang kebagian musim dingin dan aku benar-benar benci jika harus pergi sekolah di cuaca ekstrem seperti ini.

Kunaiki satu persatu tangga menuju lantai dua tempat kelasku berada namun belum sampai kakiku melangkah pada tangga kelima, sebuah tangan kecil menyentuh bahuku.

“Minseok~ah”. Ucapku pelan sambil menurunkan tangan tersebut. Terdengar suara kekehan kecil dari belakang dan kemudian Minseok langsung menunjukkan wajah baby-nya di hadapanku.

“Bagaimana kau bisa tahu?”. Tanya Minseok sambil mensejajari langkahnya dengan langkahku.

“Dari semua namja yang kukenal, hanya kau yang memiliki tangan sekecil itu”. Jawabku setengah bercanda setengah mengejek. Minseok langsung memajukan bibir bawahnya yang sukses membuatku tertawa kecil. Kami berpisah di pertigaan lantai dua karena kelas Minseok berada di sebelah barat universitas sementara kelasku berada di sebelah timur. Beberapa kali aku melempar senyum pada mahasiswa yang kebetulan berdiri di sepanjang koridor untuk mendiskusikan banyak hal.

Buk!

Tas bahuku yang tergantung langsung terjatuh bersamaan dengan sebuah tangan yang sudah menahan berat tubuhku yang akan menghantam lantai seandainya tangan tersebut lambat meraihnya dalam beberapa detik.

Gweancana?”. Tanya sebuah suara yang kutebak berasal dari kerongkongan seorang namja dan benar saja. Ketika aku membuka mata, sepasang mata hitam langsung menyambutku. Kening namja yang berkerut itu menandakan bahwa dia sepertinya khawatir terjadi sesuatu padaku.

Gweancanayo”. Jawabku cepat sambil berdiri. Namja itu menarik tangannya yang melingkar di pinggangku dan langsung meraih tasku yang terjatuh. Ditepuknya bagian belakang dan depan tas tersebut untuk menyingkirkan debu yang mungkin menempel dan diam-diam aku tersenyum.

“Ini. Aku minta maaf karena sudah menabrakmu. Permisi”.

“Tunggu, cheogiyo…”. Aku tidak menyelesaikan kalimat yang ingin kukatakan pada namja itu karena namja itu keburu pergi dan menghilang dari pandanganku.

-Luhan-

Aku hanya bisa duduk di kursi piano kelas dan menatap partitur di hadapanku dengan hati membuncah senang. Untuk pertama kalinya sejak 6 bulan yang lalu aku pindah sekolah di Universitas SM, aku bisa memandangi wajah yeoja yang selama ini selalu berhasil membuat hatiku deg-degan dalam jarak sangat dekat. Im YoonAh. Adalah satu-satunya yeoja yang bisa membuat hari-hariku penuh kesenangan. Senyum dan tawa lebarnya yang khas menjadikan dirinya sebagai yeoja incaran seluruh namja di Universitas SM tidak terkecuali aku.

Hyung”. Panggil Sehun sambil menaik-turunkan tangannya di depan mataku dan membuat kejadian beberapa menit lalu yang tadi ku alami langsung menghilang secepat salju turun tahun ini.

Mwo~yaa Sehun~nie?”. Tanyaku kesal lalu membuka lembar demi lembar partitur di hadapanku dan berhenti ketika aku sudah mendapatkan lagu yang kuinginkan.

“Aku sudah memanggil hyung sejak 5 menit yang lalu dan hyung tidak menyahutiku”. Jawab Sehun dengan nada sama kesalnya. Aku terkekeh kecil lalu mulai menekan tuts piano sesuai dengan nada pada partitur.

“Apa hyung sudah membaca pengumuman di bulletin board koridor masuk?”. Tanya Sehun ketika aku sudah masuk pada bagian tengah lagu ‘Moon Light’ karya Bethoven yang merupakan pianis kesukaanku. Aku mengangkat bahu tidak perduli namun sepertinya Sehun tidak menangkap maksudku karena kemudian dia berkata dengan nada antusias.

“Kita akan pergi bermain ski minggu ini dan katanya akan beberapa Winter Games yang akan di adakan. Yoona noona yang akan menjadi panitianya”. Jari-jariku yang masih sibuk menekan tuts piano untuk menyelesaikan baris terakhir partitur Moon Light langsung berhenti dan membeku. Kepalaku otomatis menoleh dan mataku menatap Sehun dengan tidak percaya.

Hyung, kau baik-baik saja?”. Tanya Sehun dengan nada takut. Aku langsung menggelengkan kepala dan memasukkan partitur-partitur milikku ke dalam tas dan berlari keluar menuju bulletin board yang di maksud Sehun.

-Author-

Sekitar 6 bus besar berwarna pink-putih berjalan beriringan dengan rapi ketika matahari yang sinarnya cukup lemah menyinari Seoul di pertengahan bulan Desember.Banner putih yang berada di setiap sisi kanan bus menyiratkan bahwa ada rombongan besar mahasiswa Universitas Seoul Music yang sedang menuju resort ski.

Annyeonghasimika”. Sapa Yoona yang memimpin bus pertama yang juga di isi oleh Luhan dan Sehun. Luhan tersenyum mendengar suara madu Yoona dan langsung memusatkan perhatiannya pada yeoja tersebut.

“Apa kalian sudah menerima mission card dari Kris?”. Tanya Yoona sambil mengedarkan pandangannya pada banyak surat berwarna-warni yang tiba-tiba sudah teracung di udara. Yoona mengangguk puas lalu kembali mendekatkan mikrofon pada mulutnya yang terkenal sebagai ‘Alligator’ jika tertawa.

“Ketika kita sampai, kalian di haruskan berganti baju secepat mungkin dan mulai melaksanakan misi yang di perintahkan. Satu sunbae bersama satu hoobae karena Mr.Park ingin terjalin kerja sama yang baik antara sunbae dan hoobae Universitas SM, arraseo?”.Lagi-lagi bus itu di penuhi oleh dengungan mengerti mahasiswa yang rata-rata berumur 18 dan 19 tahun. Luhan langsung membuka amplopnya dan menemukan sebuah robekan pada ujung mission card yang di milikinya. Hampir milik semua hoobae seperti itu dan dia sadar bahwa dia harus menemukan mission card milik sunbae yang potongannya sama seperti miliknya.

“Boleh aku lihat punyamu?”. Tanya sebuah suara dari arah atas kepala Luhan. Luhan langsung mengangkat kepalanya dan menemukan sepasang mata hitam pekat sedang menatapnya dengan intens. Yoona.

N…ne sunbae-nim”. Jawab Luhan untuk menutupi kegugupannya.

“Tunggu, bukankah kau yang beberapa hari lalu menabrak sekaligus menolongku?”. Tanya Yoona ketika kertas Luhan sudah ada di genggamannya. Luhan mengangkat alisnya tinggi-tinggi demi menutupi kegugupan dan ketidakpercayaan bahwa Yoona masih mengingat kejadian yang Luhan pikir memalukan sekaligus menyenangkan.

“Ah, ne…”. Jawab Luhan pelan. Yoona tersenyum lalu mulai mencocokan robekan kertas miliknya dengan robekan kertas milik Luhan.

“Sama. Kita satu tim”.

-Luhan-

Aku hampir tidak ingin mempercayai telingaku saat suara madu Yoona mengatakan bahwa kami satu tim. Yoona memberikanku robekan kertas milikku dan miliknya agar aku percaya walaupun akhirnya aku masih tidak bisa percaya ketika dua robekan itu saling menutupi satu sama lain.

Wae? Ekspresi wajahmu seperti tidak senang karena kita satu tim”. Tanya Yoona dengan alis terangkat. Aku langsung memperbaiki ekspresi wajahku yang pasti terlihat bodoh dan menggeleng pelan.

Anio sunbae-nim…aku…aku hanya tidak percaya bisa satu tim bersama sunbae”. Kudengar Yoona terkekeh lalu mulai mengeluarkan earphone dan iPod putih miliknya dari dalam tas dan memasukkan hijack earphone pada benda pemutar musik itu.

“Ah benar juga. Panggil aku noona saja, jangan sunbae…aku risih”. Aku segera mengangguk cepat dan melihat ekspresi puas dalam wajah Yoona yang sudah mulai bersenandung mengikuti lagu yang sedang ia dengarkan entah apa judulnya.

All I want for Christmas…is you~

-Yoona-

Matahari yang bersinar lemah langsung menyambut ketika rombongan Universitas SM turun dari masing-masing bus yang membawa mereka. Aku yang masih sibuk melepas earphone dari telinga terpaksa menyipitkan mata ketika menerima serangan cahaya tidak terduga itu.

“Mau pakai ini?”. Tanya Luhan yang sudah menyodorkan sebuah topi hitam dengan angka ‘88’ pada bagian depannya. Aku tersenyum lalu menggeleng pelan dan mendorong topi itu dengan sopan.

Gweancana”. Jawabku lalu menghampiri bagian bagasi bus untuk mengambil koper pink milikku yang ternyata berada di bagian dalam. Sial.

“Ini noona”. Ucap Luhan tiba-tiba yang sudah mengangkat koperku dan memberikan pegangan koper untuk kutarik. Astaga namja ini…

Gomawo”. Balasku lalu mulai menarik koper itu keluar dari kerumunan yang berdesak-desakan. Aku berbalik ke belakang untuk melihat Luhan yang sepertinya masih berjuang mengeluarkan koper miliknya.

“Yoong”. Panggil sebuah suara dari arah depanku. Aku menoleh dan mendapati Jessica, Kris, Minseok serta Kai sudah melambai-lambaikan tangannya padaku. Aku balas melambaikan tangan dan untuk terakhir kalinya berbalik pada Luhan yang anehnya sudah tidak ada. Sedikit perasaan kesal menyelinap dalam hatiku karena sebenarnya aku dari tadi menunggui namja itu, tapi nyatanya justru dia yang meninggalkanku. Akhirnya dengan perasaan kesal aku langsung menarik koper pink milikku dan menghampiri orang-orang yang tadi memanggilku. Awas kau Xi Luhan!.

-Author-

Pegunungan salju pada dataran rendah itu langsung ramai dengan celotehan para mahasiswa Universitas SM yang beberapa masih sibuk mencari potongan kertas yang cocok dengan yang mereka miliki. Beberapa sudah berpasang-pasangan sementara sisanya masih ada yang sibuk bermain-main salju.

“Sayang sekali kita tidak satu tim noona”. Ucap Kai dengan nada jelas-jelas kecewa ketika mengetahui Yoona sudah mendapatkan robekan kertas yang menutupi miliknya. Yoona terkekeh lalu menepuk bahu Kai dengan lembut.

“Kau ingat kan kata Jessica eonni, tim ini tetap bisa berubah sewaktu-waktu”. Balas Yoona berusaha menghibur Kai. Dari ekor matanya Yoona bisa melihat Luhan sedang berjalan ke arahnya di ikuti oleh seorang yeoja yang dengan genitnya melingkarkan lengannya pada lengan Luhan.

“Apa yang oppa lakukan disini?”. Tanya yeoja itu langsung tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Kai yang mendapat pertanyaan itu langsung memandang yeoja itu dengan kesal.

Wae? Aku hanya ingin berbicara dengan Yoona noona”. Jawab Kai ketus lalu langsung berdiri di samping Yoona.

“Ahh, jadi yeoja ini yang menjadi pasangan oppa?”. Tanya yeoja itu lagi. Kali ini pada Luhan yang masih berusaha melepaskan lingkaran lengan yeoja itu pada lengan kirinya. Yoona mengangkat alis karena merasa tidak familier dengan wajah yeoja tersebut.

“Mmm. Kau sudah melihatnya sendiri kan? Jadi tolong lepaskan tanganmu, Sandara~ssi. Aku bisa dibunuh Chanyeol jika dia melihat kita”. Luhan menjawab pertanyaan yeoja itu sama ketusnya seperti Kai yang sukses membuat lingkaran lengan yeoja itu terbuka.

“Jadi noona berpasangan dengan Luhan?”. Kai menunjuk Luhan dengan tatapan iri. Yoona mengangguk lalu langsung memberi tanda pada Luhan untuk berdiri di sampingnya. Luhan yang mendapati tatapan Yoona langsung beringsut bergeser dengan kikuk.

-Yoona-

Angin musim dingin bercampur dengan hangatnya sinar matahari yang menyelimuti dataran rendah tempat resort ski yang kami kunjungi berada seperti memberi tanda bahwa kegiatan Winter Games hari pertama kami akan berjalan lancar. Sudah 10 menit berlalu sejak kami memulai misi yang di berikan Jessica-Kris, Ketua dan Wakil dari organisasi mahasiswa Universitas SM dan sampai saat ini aku tidak terlalu merasakan dingin yang menusuk.

“Apa noona kedinginan?”. Tanya Luhan dengan mulut mengeluarkan asap-asap putih. Aku menggeleng lalu kembali memperhatikan isi mission card yang kami punya. Menurut kertas putih pucat itu kami harus menemukan setidaknya 5 benda yang biasa ada di resort ski, memotretnya lalu menunjukkannya pada panitia WG yang menunggu di beberapa rumah peristirahatan. Selain itu juga kami harus membawa paling sedikit 3 dari 5 benda yang di sembunyikan oleh panitia dengan stiker SM.

“Kita sudah memotret 5 benda namun belum menemukan sama sekali benda-benda yang di sembunyikan. Ahhh ini melelahkan”. Keluhku sambil menjatuhkan diri di hamparan salju putih. Kudengar Luhan terkikik kecil lalu ikut duduk di sampingku.

“Kau mengambil jurusan apa di SM?”. Tanyaku membuka percakapan.

“Musik”. Jawab Luhan singkat namun anehnya terasa manis.

“Tunggu, apa kau yang  waktu itu memainkan lagu Moon Light karya Bethoven ketika acara penggalangan dana?”. Tanyaku lagi dengan antusias ketika mengingat jari-jemari seorang namja yang dengan lincah menari di atas tuts piano dan memainkan lagu karya pianis kesukaanku sepanjang masa. Aku tidak pernah tahu nama namja itu namun satu yang kuingat bahwa dia memiliki senyum khas dan sifat lincah. Persis seperti rusa yang juga merupakan julukanku. Deer Yoong.

-Luhan-

Lagi-lagi aku dibuat tidak percaya dengan ucapan Yoona. Pertanyaannya menyiratkan bahwa dia mengingatku. Aku ingat hari itu. Hari dimana SM mengadakan penggalangan dana dan aku diharuskan melakukan pertunjukan cepat. Alhasil karena kurang persiapan aku hanya memilih lagu yang pertama kali terlintas di pikiranku yaitu Moon Light. Lagipula hanya lagu itu yang not-nya sangat kuhafal.

“Mmmm. Bagaimana noona bisa tahu?”. Tanyaku setelah mengangguk.

“Aku tidak sengaja mengingatnya ketika tadi kau bilang kau mengambil jurusan Musik. Penampilanmu saat itu benar-benar hebat”. Bisa kurasakan telinga dan pipiku memerah mendengar pujian Yoona. Semakin lama aku berbicara dengannya semakin aku merasa aku mengenal yeoja ini. Rambut hitamnya, tawa Alligatornya, dan tentu saja…suara madunya. Seperti sebuah dewi dalam cerita-cerita dongeng yang dulu sering dibacakan umma untukku.

Kajja, semakin lama kita duduk semakin banyak salju yang menutupi tubuh kita”. Ucap Yoona sambil berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya yang di penuhi sedikit salju. Aku mengikuti gerakannya dan kembali berjalan di belakangnya. Sesekali Yoona menoleh dan mengajakku berbincang-bincang dan aku merasa seperti orang bodoh saat itu. Ini satu-satunya kesempatan aku bisa berbicara berdua dengan yeoja idaman para mahasiswa universitas dan aku tidak punya apa-apa untuk di bicarakan. Pabo kau Xi Luhan!.

-Author-

Langit sudah menghitam dan bintang-bintang juga sudah naik ke permukaan ketika dua orang mahasiswa berbeda jurusan itu masih sibuk mengais-ngais salju yang mungkin menutupi benda yang mereka cari. Yoona dan Luhan sudah menemukan dua benda yang di sembunyikan panitia WG Universitas SM dan mereka masih kekurangan satu benda lagi agar bisa menghangatkan diri dalam rumah peristirahatan yang tersebar di beberapa sudut dataran resort ski.

“Aku lelah”. Keluh Yoona dengan nafas yang sudah tidak teratur. Luhan yang menyadari bahwa sedari tadi nada suara Yoona semakin berubah langsung mengeluarkan jaket tebal dari tasnya dan memakaikannya pada tubuh tinggi Yoona.

Go…maw…”. Tangan Luhan yang kebetulan masih berada di balik punggung Yoona reflex langsung menahan berat tubuh Yoona yang tiba-tiba melemah dan hampir terjatuh di hamparan salju yang semakin lama semakin dingin.

Noona…noona gweancana?”. Tanya Luhan panik sambil mengguncang-guncangkan tubuh Yoona. Tidak ada respon. Dengan penuh kekuatan, Luhan langsung mengangkat tubuh Yoona dan berjalan pelan. Dari kejauhan tampak sebuah cahaya temaram yang Luhan tebak berasal dari rumah peristirahatan resort. Akhirnya dengan sisa tenaga yang masih dia miliki, Luhan terus berjalan menuju asal cahaya tersebut. Perlu waktu hingga 15 menit ketika akhirnya Luhan dapat mencapai pintu kayu rumah peristirahatan. Mendorongnya dan langsung membaringkan tubuh Yoona di sofa panjang yang dekat perapian.

-Yoona-

Aku membuka mata dalam keadaan kepala pusing yang menusuk. Mataku mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan pencahayaan yang sedikit temaram dan ketika dua organ penglihatan itu sudah beradaptasi dengan baik, aku bisa melihat dengan jelas ada tiga kursi kayu tinggi dan sebuah meja yang menyatu dengan meja dapur. Tunggu, di mana ini?.

Noona sudah sadar?”. Tanya sebuah suara yang terasa familier di telingaku beberapa waktu terakhir. Luhan tersenyum lega lalu membantuku untuk bangun dan mengatur sandaran kursi di belakang punggungku.

“Dimana kita?”. Tanyaku dengan parau. Luhan yang sadar akan hal itu langsung memberikanku segelas air putih hangat yang langsung membasahi kerongkonganku.

“Salah satu rumah peristirahatan”. Jawab Luhan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang di dominasi warna coklat tersebut. Aku mengikuti pandangannya dan tiba-tiba mengingat bahwa aku pingsan di tengah perjalanan kami menyelesaikan mission card.

Jingle Bells Jingle Bells Jingle All The Way~

Bunyi ponsel itu langsung memecahkan keheningan menyejukkan yang sedang mengelilingi diriku dan Luhan. Kuraih ponsel putih itu dari dalam tas dan melihat bahwa nama Kai terpampang jelas di layar.

Yeoboseo”. Sapaku.

Noona, kau di mana sekarang? Kami sudah mencarimu dan Luhan berjam-jam, hanya kalian berdua yang belum kembali”. Ucap Kai dengan nada khawatir. Aku langsung menjelaskan apa yang aku dan Luhan alami dan Kai membalasnya dengan mengatakan bahwa dia, Jessica, Kris dan Minseok akan segera menjemput kami.

-Luhan-

“Sica eonni dan yang lainnya akan segera ke sini untuk menjemput kita”. Ucap Yoona sambil melemparkan ponselnya di pinggir sofa. Aku langsung melempar senyum dan kembali memusatkan pikiranku pada pilihan yang tiba-tiba tadi muncul ketika Yoona masih berbincang dengan Kai di telepon. Hanya ini satu-satunya kesempatan aku bisa mengungkapkan perasaan yang selama ini kupendam pada Yoona. Dan kalaupun nanti dia tidak menerimanya, aku tidak akan menyesal karena aku sudah berhasil memberitahu apa yang kurasakan selama ini kepadanya.

Noona”. Panggilku pelan. Yoona mengangkat kepalanya dari selimut dan menatapku dengan alis terangkat. Sekarang atau tidak selamanya Xi Luhan!.

Aku langsung mendaratkan bibirku pada bibir madu Yoona. Untuk sepersekian detik aku bisa merasakan Yoona terkejut dengan tindakanku namun akhirnya dia tenang dan bahkan mulai membalas ciumanku.

Saranghae”. Ucapku dengan terengah-engah karena kehabisan nafas. Yoona tersenyum, mengangguk lalu langsung melingkarkan tangannya pada leherku.

“Merry Christmas Xi Luhan”. Ucap Yoona tepat di telingaku. Ini akan menjadi natal paling indah yang pernah ku alami.

**

Epilog

Chagi?”. Panggil Luhan sambil menatap Yoona yang masih sibuk menatapnya dengan intens. Yoona mengerjap dan menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali dan membuat Lami tertawa.

Umma melamun”. Ejek Lami sambil masih terus terkekeh. Yoona menatap anak perempuannya itu dengan tatapan pura-pura kesal namun kemudian dia ikut tertawa.

“Apa yang dari tadi kau fikirkan?”. Tanya Luhan penasaran. Yoona tersenyum rahasia lalu membuka dasbor mobil dimana ada sebuah kotak lusuh berwarna merah yang menjadi tempat kenangannya dengan Luhan.

“Aku memikirkan bagaimana aku bisa dulu memilih bersamamu Xi Luhan”. Jawab Yoona yang sudah menarik sebuah foto dirinya dan Luhan yang di ambil ketika Luhan sudah selesai perform di acara kelulusan sekolah. Luhan tersenyum dan mengambil alih foto tersebut. Dibaliknya foto tersebut dan senyum di wajahnya semakin tergambar jelas.

“Tentu saja karena kau memang mencintaiku”. Ucap Luhan dengan nada menggoda.

“Sok tahu. Bukan itu”. Luhan langsung menaikkan alisnya mendengar ucapan Yoona yang kali ini menarik foto lain dari dasar kotak. Dalam foto tersebut ada seorang anak laki-laki kira berumur 11 tahun sedang duduk di atas kursi taman. Di tangan kanannya ada sebuah balon berwarna putih.

“Itu…”. Luhan tidak menyelesaikan kalimatnya karena dia sadar siapa namja dalam foto tersebut.

“Dia cinta pertamaku. Dan tato naga ini…” Yoona menunjuk sebuah gambar kecil yang ada ada pada lengan namja itu “…adalah tato yang sama dengan yang ada di tanganmu”. Yoona menunjuk lengan Luhan yang tertutup jaket tebal.

“Jadi…” kali ini Lami yang berbicara “…umma sudah mencintai appa sejak dulu?”. Yoona berbalik untuk menghadap Lami dan mengusap kepala anak perempuan itu dengan lembut.

“Mmmm. Appa-mu adalah cinta pertama dan terakhir umma”.

END.

4 thoughts on “[Freelance] Oneshot : Winter Game

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s