[Freelance] Little Boy (Chapter 1)

LITTLE BOY

LITTLE BOY POSTER

Author

Shin Hyun Gi

Main Cast

Oh Sehun || Kim Taeyeon

Other Cast

Kris Wu || Victoire Wu (OC) || Hwang Miyoung || etc

Genre

Family || Life || Psychology || etc

Length

Chaptered

Rating

T/PG-13

Disclaimer

Inspired by “Chicken Soup for Single Parent’s Soul” and also my life experiences. The main character was inspired by my bestfriend’s brother, but not totally same at all. If there are some similarities with the other fanfictions, that’s absolutely an incident.

 

Author’s Note

Sesuai janji saya yang kemarin-kemarin, akhirnya saya coba lagi untuk menulis fanfic dengan genre family yang satu ini. Mungkin konfliknya akan sedikit berat ke depannya, but I really hope that you can enjoy this story as well. And once again, don’t forget to give your comments, guys🙂

Oh ya, sebelumnya fanfic ini juga sudah saya post lebih dulu di personal blog saya yang baru, bagi yang tertarik silahkan membuka ya.

http://beautifuljuly.wordpress.com/

———————–

This isn’t a story of a girl who falls in love with a guy. But this is a story of the power of a family’s love.”

———————–

 

“Karena cinta tak harus tumbuh dari pertalian darah.”

-Kim Taeyeon-

“Ibuku, ia wanita tercantik di dunia.”

-Oh Sehun-

———————–

He’s my little boy

He’s my sunshine

And he shines brighter than the brightest diamond in the world

 

Present

Butuh beberapa lama bagi sosok bocah lelaki itu untuk menggerakkan pensil kayunya, menulis beberapa huruf hangeul untuk membentuk ejaan namanya. Setetes keringat dingin mengalir dari pelipisnya ketika sebuah huruf akhirnya berhasil ia tulis dengan seluruh perjuangan—tetapi untuk yang selanjutnya, masih ada beberapa huruf lagi yang harus ia tulis untuk membentuk sebuah nama indah yang disebut ‘Sehun’, begitulah sang ibu memanggilnya dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah kesunyian kala malam itu, Sehun masih terus berusaha menyelesaikan tulisannya, sekalipun beberapa orang rumah telah mematikan lampu luar secara keseluruhan. Di tengah keremangan malam, hanya suara pelan jangkrik dari luar jendela lah yang masih terus setia menemaninya, tetapi malam ini Sehun sudah bertekad. Ia harus bisa menunjukkan kepada ibunya bahwa ia sudah mampu menuliskan namanya dengan baik.

“Se-Hun,” ia bergumam pelan sembari mengeratkan pegangannya pada pensil kayu kesukaannya—benda tersebut merupakan kado ulang tahunnya dari Taeyeon sekitar dua tahun yang lalu—kemudian dengan agak ragu, ia mulai melirik petunjuk penulisan hangeul-nya lagi. Ia bergidik ngeri memperhatikan salah satu huruf yang paling sulit untuk ditulisinya, sebaik apapun ia berusaha, pada ujung-ujungnya ia akan gagal juga.

Dan tiba-tiba, “PRANGGG!!!” suara pecahan kaca tersebut akhirnya terdengar kembali tepat di bawah kedua lengan Sehun, bocah lelaki berusia tiga belas itu—lagi-lagi—telah memukul keras kaca pelapis meja belajarnya. Ia sudah menyerah untuk melanjutkan kegiatan belajar menulisnya kali ini, dan hal itu benar-benar menekan perasaannya, ia tak ingin mengecewakan ibunya. Tetapi apa yang ia lakukan?

Kedua tangan gegabahnya kini telah menghancurkan kaca pelapis meja belajarnya sendiri untuk yang kesekian kali.

Setetes air mata penuh penyesalan mengalir dari kedua pelupuk mata Sehun, ia menangis bukan karena menyesali lengannya yang kini berlumuran darah karena tindakannya memukul kaca meja tadi, tetapi sesuatu yang seharusnya harus lebih ia sesali lagi ialah ketika ia harus menyadari bahwa kemampuannya yang di bawah rata-rata telah menyebabkannya tak bisa menulis, bahkan hanya sekedar nama lengkapnya sendiri.

Mendadak, ketika Sehun baru saja hendak memisahkan beberapa beling kaca mejanya yang hancur berantakan, pintu kayu kamarnya lagi-lagi berderit cepat, dan sepasang orang dewasa dengan ekspresi khawatirnya kini langsung menjeblak dari sana. Sehun masih dapat mendengar dengan jelas ketika seorang wanita muda berteriak keras memanggil namanya, wanita itu lalu menghampirinya khawatir dan mengusap tubuh Sehun ketakutan—wanita itu ialah ibunya, malaikat satu-satunya.

Tetapi tak seberapa lama setelah itu, pandangan sang bocah lelaki kembali mengabur seperti setiap kali ia melakukan suatu tindakan aneh yang seharusnya ia hindari agar tak melukai dirinya sendiri. Bersamaan dengan pancaran darah yang terus mengalir dari kedua telapak tangan kecilnya yang tertusuk oleh beberapa beling pecahan kaca, kesadarannya langsung hilang dan ia jatuh terjerembab ke dalam pelukan sang ibu.

———————–

 

Past

Kim Taeyeon baru berusia dua puluh tahun ketika ia akhirnya memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi lelaki tampan dari sebuah rumah sakit tempatnya bekerja dulu. Dan menurut beberapa tetangga apartemennya, ia pasti sudah nekat sekali dalam mengambil keputusan yang satu ini—ia sendiri merupakan seorang pengangguran dengan pekerjaan yang tak pernah menetap, bagaimana caranya ia dapat mengasuh seorang manusia kecil lagi di dalam kehidupannya yang tergolong amat jauh dari cukup? Ditambah lagi, seorang bayi juga membutuhkan perawatan yang ekstra dalam menjamin kesehatannya.

Tetapi bagi Taeyeon, janji adalah janji. Ia tak akan mengingkari janjinya kepada Hwang Miyoung—seorang gadis remaja yang notabene-nya ialah ibu biologis dari bayi angkatnya—yang baru saja bunuh diri beberapa pekan yang lalu. Menurut Taeyeon, bukan salah Miyoung jika ia tak mampu untuk menjaga putera kecilnya itu, karena sebenarnya gadis itu juga sama sekali tak bersalah dalam proses bagaimana Sehun, begitulah nama panggilan bayi tersebut, dapat terlahir di dunia. Gerombolan pemuda brengsek tak bertanggung jawab itu yang seharusnya menanggung penderitaan yang selama ini dialami Miyoung, sehingga tak seharusnya ia mati lebih dulu sekarang.

Oleh karena itulah, ia pun meyakinkan dirinya untuk mengangkat Sehun sebagai puteranya, sementara kedua orang tua Miyoung pergi meninggalkan Kota Seoul tanpa mau mengakui cucu mereka tersebut. Dan dimulai dari hari itu pulalah, Taeyeon—secara resmi—menjadi seorang ibu dari seorang Sehun yang paling dicintainya.

Menjaganya, membimbingnya, dan mengasihinya, segalanya telah menjadi tanggung jawab Taeyeon bagi putera kecilnya itu.

Bahkan ia pun rela harus keluar dari rumah sakitnya dan meninggalkan profesinya sebagai seorang perawat hanya untuk menjaga Sehun lebih intens di apartemen kecilnya. Prioritasnya sekarang bukan lagi dirinya sendiri, tetapi putera angkat yang paling dicintainya.

———————–

 

Ketika dedaunan berjatuhan di musim gugur, serpihan salju bertebaran di musim dingin, lalu serbuk-serbuk bunga dandelion bergerak bersama angin di musim semi, maka selama itulah Sehun telah tumbuh menjadi seorang bocah kecil tampan berusia dua tahun yang amat sehat. Banyak kemajuan yang sudah tercipta darinya, kedua matanya sudah mampu untuk mengerjap berkali-kali kepada sang ibu, tangan mungilnya telah dapat bergerak lincah menggapai-gapai sesuatu yang diinginkannya, bahkan kedua kaki kecilnya itu pun terkadang juga ikut bergerak memainkan permainan bola kaki kesukaannya.

Di saat itu, pancaran cerah sinar matahari pagi benar-benar mendukung Taeyeon untuk membawa Sehun berjalan berkeliling mengelilingi taman kompleks apartemen. Dengan langkah ringan, ia tersenyum manis kepada putera kecilnya sembari meraih pergelangan tangan kanan Sehun dan mengenggamnya erat-erat. Mereka tertawa bersama sembari memperhatikan beberapa anak lain yang sedang bermain dengan lincah dan serunya seraya menikmati pagi indah musim panas tahun itu.  Ditambah lagi, beberapa bunga matahari pun ikut merekah kuning cerah untuk menyapa setiap warga apartemen dengan lambaian lembutnya. Segalanya benar-benar sempurna.

Hyung, berikan kepadaku!” seorang anak tiba-tiba berteriak keras sembari melangkahkan kaki kecilnya mendekati bocah lelaki lain yang sedikit lebih tinggi darinya, mereka sedang berebutan layang-layang musim panas kali ini.

“Tidak mau!” anak yang lebih tinggi memekik jahil.

Hyungggg!!!”

Seulas senyum tercipta dari bibir Taeyeon ketika ia memperhatikan beberapa tingkah laku para bocah kecil tersebut, ada rasa penasaran yang agak menghentak hatinya ketika ia menyadari bahwa kebanyakan anak-anak kecil yang berusia tak seberapa jauh dengan puteranya telah mampu berbicara panjang lebar dan menertawakan banyak hal bersama teman-temannya. Terkadang, beberapa pekikan penuh amarah yang cukup membuat Taeyeon terkejut pun juga keluar dari bibir-bibir mungil mereka yang notabene-nya masih sangat polos.

Bagaimana dengan Sehun? Bocah kecilnya itu bahkan masih sedikit terbata-bata dalam menggunakan beberapa kata sederhana dalam kehidupan sehari-hari—seperti memanggilnya dengan sebutan ‘umma’, memberitahukannya jika ia ingin makan, minum, atau bahkan buang air kecil—perkembangan lisan Sehun memang agak terhambat akhir-akhir ini.

Sehun ah,” Taeyeon berseru lembut sembari menatap Sehun yang sedang memainkan mobil-mobilannya pada bagian tersudut dari taman, ia sepertinya masih setia bermain bersama teman-teman imajinasinya sendiri.

Sehun ah, kemarilah, sayang.” Ia akhirnya dapat kembali menghembuskan nafasnya lega ketika pada akhirnya Sehun mulai mendongakkan kepalanya menatap wajah Taeyeon sesaat lalu segera beranjak meninggalkan mainannya dan memeluk tubuh sang ibu erat.

Umma,” bocah lelaki itu bergumam pelan seraya mengatupkan kedua kelopak matanya rapat, kedua lengan mungilnya kini semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Taeyeon. Ia menahan pelukan tersebut selama beberapa saat sebelum pada akhirnya pelukan tersebut terlepas kembali.

“Bolehkah Umma memintamu melakukan sesuatu?” Taeyeon berbisik pelan seraya meraih kesepuluh jemari Sehun perlahan, ia mengusap kedua telapak tangan puteranya itu penuh sayang, “Bisakah Sehun mengucapkan beberapa hal sederhana saja untuk Umma?”

Puteranya itu mulai mengerutkan dahinya tak mengerti, Sehun kini menatap Taeyeon sedikit kebingungan—sebenarnya apa tujuan ibunya meminta ia melakukan hal seperti itu? Apakah ibunya memiliki tujuan lain yang tak pernah ia mengerti? Ada beribu pertanyaan yang berpusar di dalam dirinya ketika sebuah jeda panjang tercipta di antara mereka.

“Katakan saja sesuatu, Nak.” Taeyeon kini mulai menatapnya penuh harap, Sehun benar-benar dapat merasakan ada rasa panik aneh yang menjalar dari dalam tubuh ibunya ke dalam dirinya sendiri pula. Namun Sehun masih tak bergeming di sana, ia juga tak tahu mengapa, tetapi lidahnya memang sulit sekali untuk memulai berkata-kata saat itu. Ia memang sangat ingin berbicara kepada ibunya—menceritakan berbagai hal penting tentang koleksi gambar-gambar krayon-nya , lalu kupu-kupu yang ditangkapnya , dan masih banyak hal lainnya lagi—tetapi seperti yang kerap terjadi  sebelumnya, ia masih sangat kesulitan merangkai kata-katanya.

Sehunnie,” sang ibu mulai menggerak-gerakkan kedua pundak Sehun ketakutan. Wanita itu tiba-tiba meneteskan air matanya lalu membenamkan seluruh bagian wajahnya ke kedua belah telapak tangannya yang dibuka lebar.

Sedikit ketakutan, bocah lelaki tersebut berusaha merangkul tubuh mungil sang ibu sembari mengusap surai panjang hitam lebatnya lembut. Ia masih terlalu muda untuk dapat memahami makna apa yang sebenarnya terkandung dari dalam tangisan ibu-yang secara naluriah ia sayangi tersebut—demi apapun juga, Sehun tak akan pernah membiarkan sang ibu meneteskan air matanya.

Karena dari sudut perspektif terjauh bocah cilik tersebut, setetes air mata merupakan pertanda dari sebuah duka yang mendalam. Dan ia sama sekali tak ingin jika ibu yang paling disayanginya itu harus menangis karena sesuatu yang dibencinya.

Ia benar-benar tak tahu dan sama sekali tak mengerti bahwa yang sedang ditangisi oleh ibunya itu ialah keadaannya sendiri. Secara emosional, ia dikatakan tak dapat berkembang dengan sempurna.

———————–

 

Pria berjas putih itu menggelengkan kepalanya getir ketika sebuah tangisan putus asa kembali tercipta dari sosok seorang wanita muda yang sedang membicarakan kondisi kesehatan puteranya kepada dirinya itu. Ia terus menggelengkan kepalanya tidak percaya sejak tadi, karena untuknya, tidak mungkin bocah kecilnya itu menderita kelainan mental hingga seperti yang dijelaskan oleh sang pria tua. Segalanya mustahil terjadi.

“Kumohon jangan berbohong kepadaku. Tidak mungkin.” Ia terus terisak dan mengusap kedua pipinya perlahan, kedua mata jernihnya kini memerah menahan rasa emosi yang terus berbaur menyesaki dadanya. Kim Taeyeon meraih kedua pergelangan tangan sang dokter lagi, namun hasilnya nihil, ia masih terus menggelengkan kepalanya prihatin.

Lelaki tua tersebut hanya mampu menundukkan kepalanya lemah dan mengusap perlahan jemari halus sang wanita muda, “Maafkan aku. Tetapi putera Anda memang terdiagnosis menderita autisme—penyakit kelainan pada sistem saraf otak—semenjak ia dilahirkan.”

“Ti…, tidak bisakah kita mengobatinya?” Taeyeon berbisik parau sembari menatap sang dokter penuh harap, “Bisakah kita mengobatinya hingga ia dapat kembali normal seperti anak-anak lainnya?”

Lagi-lagi pria tersebut menggelengkan kepalanya dan tertunduk lesu, sekalipun ia seorang dokter terhebat di Korea—tak ada satu manusia pun di dunia yang mampu melangkahi garis Tuhan yang satu ini—penderita autisme memang tak dapat disembuhkan. Itu penyakit bawaannya sejak lahir.

“Sekali lagi aku minta maaf, Nyonya. Tetapi penyakit tersebut akan terus menetap pada dirinya sepanjang hidup,” perlahan lelaki tua tersebut berdehem menahan pembicaraannya selama beberapa saat, “yang dapat kita lakukan saat ini hanyalah menahan puteramu agar tidak melakukan sesuatu yang jauh meninggalkan batas garis normal.”

“Jika kau terus menahannya untuk tetap bertahan pada batas-batas tersebut, kupastikan segalanya akan berjalan baik-baik saja.”

“Apakah Anda yakin?”

Sang dokter hanya menganggukkan pelan dan melanjutkan diagnosa-nya lagi.

———————–

 

Hari ini, bertepatan dua tahun semenjak peristiwa tersebut terjadi. Perkembangan Sehun ternyata memang sangat terlambat dibandingkan para bocah lelaki lainnya. Secara fisik, ia memang terlihat sempurna—dengan tubuh semampai yang melesat meninggalkan teman-teman sebayanya, wajah Sehun juga tergolong sangat tampan jika saja kedutan pada matanya tersebut menghilang—namun tak lebih dari itu, kondisi psikologis Sehun masih sama seperti seorang bayi kecil berusia dua tahun dibandingkan dengan umurnya saat ini yang akan menginjak lima tahun.

Bocah lelaki kecil itu hanya mampu mengucapkan beberapa kalimat sederhana, walaupun tentu saja, sedikit jauh lebih baik dibandingkan kemampuan berbicaranya dulu. Selain itu, beberapa hobi yang ditekuninya semenjak dua tahun yang lalu pun masih terus sama, Sehun gemar sekali menggambar menggunakan krayon kesayangannya. Ia senang melukis sesuatu yang disebutnya dengan dinosaurus—sekalipun Taeyeon pun tak yakin jika gambar tersebut dapat dikatakan mendekati bentuk binatang purba itu—namun di balik itu semua, Sehun memang sangat berbakat dalam melukis pemandangan alam, sekalipun sang ibu tahu bahwa Sehun agak tak terlalu suka dengan lukisannya yang satu itu.

Lalu berbicara mengenai lima tahun semenjak pertumbuhan Sehun, segala perjuangan Taeyeon kini telah memulai untuk menampakkan hasil manisnya. Ia mendapatkan pekerjaan yang cukup baik sebagai salah seorang staf perusahaan periklanan besar di Kota Seoul, yang oleh karena itu, ia sudah dapat memboyong dirinya dan putera kecilnya—Sehun—untuk menetap di apartemen yang jauh lebih besar dibandingkan tempat yang dulu mereka tempati. Bayang-bayang buruk mengenai kekurangan makanan, ruangan sempit yang menjepit pernafasan, segala hal tersebut telah kandas begitu saja seakan tak meninggalkan bekas apapun di dalam dirinya dan Sehun.

Kemudian alangkah beruntungnya ia juga karena seorang pemuda tampan, yang paling ia cintai, telah bersedia untuk menemaninya selama beberapa tahun belakangan sebagai seorang kekasihnya. Pria itu ialah Kris Wu, salah seorang rekan kantornya yang merupakan seorang imigran asal Cina. Lelaki itu benar-benar melengkapi tipe idealnya—ia seorang pemuda baik hati yang bertanggung jawab—tetapi selain dari itu, Taeyeon juga mencintainya karena pria tersebut juga turut mencintai Sehun seperti putera kandungnya sendiri.

Dari sekian banyak pria yang pernah mendekatinya, hanya Kris lah yang benar-benar disukai oleh Sehun dan begitu pula sebaliknya.

Taeyeon bahkan masih mengingat saat-saat pertama dimana puteranya, Sehun, yang ketika itu masih berusia tiga tahun menemui Kris yang sedang bercengkrama bersamanya di ruang depan apartemen. Pada awalnya, Sehun memang sempat berjingkat ketakutan dan memeluk tubuh Taeyeon erat ketika Kris memulai untuk menyapa sosok kecilnya itu. Mungkin ia memang agak takut dengan tubuh tinggi besar Kris yang jarang sekali ditemuinya dimana-mana.

Memang butuh perjuangan besar bagi Kris untuk dapat menarik hati Sehun, namun setelah melalui berbagai proses perkenalan dan adaptasi yang cukup panjang, Sehun pun akhirnya sudah dapat menerima kehadiran sosok Kris sebagai ayahnya sendiri. Dan sesuatu yang paling membuatnya merasa bahagia ialah ketika Sehun yang pada dasarnya tak akan terlalu baik dalam berinteraksi kepada orang lain secara normal kini telah memulai untuk menyebut Kris dengan sebutan ‘appa’.

Peristiwa ini terjadi sekitar beberapa bulan yang lalu, ketika Sehun sedang memainkan bola basketnya bersama Taeyeon. Ibunya yang memang pada dasarnya sangat payah dalam bermain basket itu pun akhirnya berkali-kali terus melakukan kesalahan dalam melempar atau bahkan memantulkan bola basketnya, hingga hanya dalam beberapa menit saja, bola mereka dapat terlempar kemana saja tanpa pernah bisa dikendalikan. Bahkan mereka—atau lebih tepatnya Taeyeon—juga sempat nyaris sekali melukai kepala botak Tuan Kang yang saat itu sedang bermain ping pong bersama beberapa pria setengah baya lainnya. Benar-benar gila. Tuhan benar-benar memberkati mereka karena Tuan Kang bukanlah seorang lelaki tua yang pemarah.

Mendadak, di tengah seluruh keceriaan itu, sosok besar Kris menghampiri kedua ibu-anak yang sedang sibuk memainkan bola basket milik mereka itu. Ia melangkahkan kaki panjangnya lebar-lebar dan segera merampas benda bundar yang sedang dipantulkan oleh sang gadis lalu bergabung bermain bersama Sehun dan Taeyeon. Saat-saat itu memang agak mengejutkan bagi Sehun—namun demi apapun juga, ia sangat menyukainya, Kris merupakan salah satu pemain basket terhebat yang pernah ia temui—hingga beberapa menit seusai permainan ‘basket gila’ mereka berakhir, Sehun berujar pelan kepada Kris dengan suara kecilnya,

Gomawo, Appa.”

Seluruh lapisan udara panas Kota Seoul siang itu langsung terasa terangkat dari sana, dan atmosfer kebahagiaan itu tiba-tiba saja menghampiri hati Taeyeon yang notabene-nya ialah ibu dari Sehun. Ia tersenyum bahagia dan langsung memeluk tubuh kecil Sehun erat, sebuah kemajuan besar telah terucap lagi dari Sehun hari itu. Dan sama seperti sang kekasih, Kris pun langsung memeluk erat calon putera angkatnya itu—jika Taeyeon merasa bahagia, ia juga akan merasakan bahagia yang sama dengannya.

Bagi seorang ibu dengan putera yang berkekurangan seperti Sehun, maka besar artinya jika Sehun telah berhasil mengucapkan satu kata bermakna baru dari bibir mungilnya. Terlebih lagi, kata itu ialah sesuatu yang sudah lama sekali dinantinya untuk diucapkan oleh malaikat kecilnya itu—satu kata saja, ‘appa’, yang disebutkan oleh putera kecilnya yang berketerbelakangan mental itu telah merubah segalanya.

Ia benar-benar bangga menjadi seorang ibu dari Sehun.

———————–

 

September 18th 2003

Setelah bertahun-tahun menanti, hari membahagiakan itu akhirnya datang juga. Di usianya yang telah menginjak dua puluh enam tahun, Taeyeon pun akhirnya menerima pinangan Kris Wu yang telah menantinya selama beberapa tahun untuk menikah. Memang ada banyak sekali yang harus dipertimbangkan dari pernikahan itu—entah mengenai kesiapan Sehun, kehidupan finansial, dan beberapa alasan lainnya—tetapi kesabaran itu telah berbuah sama manisnya dengan perjuangan yang selama ini mereka melakukan. Tepat di musim gugur yang indah ini, Taeyeon memberikan dan menyatukan hatinya bersama Kris Wu, kekasih sekaligus rekan kantornya yang paling ia cintai.

Dentang jam telah menunjukkan pukul sepuluh pagi di Seoul kala itu, alunan hentak kaki para pengujung gereja yang sejak tadi memantul di setiap sudut dinding gereja kini telah menghentikan gerak sepatunya. Para undangan langsung mendaratkan tubuh mereka pada bangku kayu gereja, dan tiba-tiba saja, suara lembut bel penanda kedatangan pangantin wanita pun berbunyi. Perlahan, ketika pintu mulai terbuka, sesosok wanita itu pun muncul dari ujung gereja dengan gaun pengantin panjang putih gadingnya. Ia sedang berdiri di sana seraya menggenggam buket bunganya erat, tersenyum cerah kepada sang mempelai pria yang tak lain ialah Kris Wu-nya sendiri.

Perlahan, Taeyeon menghembuskan nafasnya sesaat, wajahnya sudah sangat merona merah saat ini—jadi mustahil sekali jika orang-orang mengatakannya tidak gugup sama sekali—ini pernikahan pertamanya sekalipun ia telah menjadi seorang ibu tunggal selama enam tahun lamanya! Kesepuluh jemari gadis itu menggengam buket mawar merahnya erat-erat, yang kelihatan kontras sekali dengan kulit porselennya yang putih bersih. Jangan gugup, Kim Taeyeon. Jangan pernah kelihatan gugup, ia mulai memperingati dirinya sendiri.

Ketika musik pengiring pengantin mulai dimainkan, sebuah tangan mungil seseorang meraih pergelangan tangannya erat. Taeyeon segera menolehkan kepalanya pelan, ia menatap wajah tampan bocah mungilnya itu sesaat, Sehun kini sedang tersenyum cerah kepadanya.

Kedua mata mungil cokelat indah yang paling disukai Taeyeon itu berpendar memandangi wajahnya beberapa detik, “Umma jangan takut. Sehun akan selalu ada di sini untukmu.” Ia berujar lembut seraya mengecup jemari sang ibu lembut. Lantas, sekalipun dirinya kembali diliputi rasa haru yang tak terhitung jumlahnya, Taeyeon pun hanya tersenyum kecil dan mengelus puncak kepala Sehun lembut. Dan tak seberapa lama kemudian, mereka berdua pun melangkah—tentu Sehun sebagai pengiring sang ibu—berjalan mendekati altar pernikahan. Pemberkatan sebentar lagi akan segera dilaksanakan.

“Kepadamu, Wu Yi Fan, bersediakah kau menjaga, membahagiakan, dan melengkapi kehidupan gadis yang berada di sampingmu ini?” sang pastor berujar penuh kehikmatan kepada Kris sembari memegang alkitabnya erat-erat. “Ya. Saya bersedia.” Pria jangkung itu langsung mengangguk cepat dan menggenggam tangan kekasihnya erat. Ia benar-benar tak sabar untuk menunggu Taeyeon mengucapkan janji pernikahan mereka pula.

“Dan untukmu, Kim Taeyeon, bersediakah kau menjaga, membahagiakan, melengkapi kehidupan Wu Yi Fan, serta menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anak kalian nanti? Bersediakah kau melakukannya?” belum sempat sang pastor setengah baya itu menghentikan jeda kalimatnya selama beberapa waktu, Taeyeon segera menyambar ucapan lelaki pemuka agama kristiani itu cepat, “Ya. Aku sangat bersedia.” Ia tersenyum cerah melirik wajah Kris yang agak memerah kesenangan, ketegangan yang diliputi mereka kini telah mencair bersamaan dengan terdengarnya tawa para tamu pagi itu.

Di balik kedua pasangan itu, Sehun berdiri memperhatikan sang ibu dan ayahnya yang kini tengah saling mengecup bibir masing-masing pasangan mesra. Ia tersenyum kecil menyadari kedua pipi halus milik ibunya telah merona merah—seperti warna kepiting rebus kesukaannya—tetapi tak lebih dari itu, ia merasa sangat bahagia sekalipun ia tak terlalu mengerti dengan upacara apa yang sebenarnya dilakukan oleh beberapa orang di bangunan besar yang sedang ditempatinya. Yang ia tahu hanyalah, setelah mereka melakukan beberapa ‘hal penting’ di gereja, maka Kris akan benar-benar hidup bersama ia dan Taeyeon, ibunya.

Dan bagi seorang bocah cilik sepertinya, melihat Taeyeon bahagia sama artinya dengan kebahagiaannya sendiri.

———————–

 

Sehun ah,” Taeyeon bergumam pelan seraya memutar kenop pintu kamar baru Sehun perlahan—sekarang sudah lima bulan semenjak pernikahan indah itu terjadi—dan keluarga kecil itu kini menetap di rumah mungil milik Kris yang berada pada bagian pinggir Kota Seoul yang cukup rindang. Mereka memilih untuk tinggal di sana dibandingkan bergabung dengan pusat kota yang cenderung tak pernah tenang dan rawan dengan perampokan. Setelah cukup lama tak mendapatkan sahutan dari Sehun, wanita itu akhirnya memutuskan untuk menghampiri bocah lelakinya itu, ia kelihatannya sibuk sekali dengan beberapa tugas matematikanya di sekolah.

Taeyeon menghampiri sang putera yang sedang menyilangkan kakinya di atas ranjang dan berusaha mengintipi tugas matematika yang bagaimana yang sedang dikerjakan oleh bocah kecil itu. Perlahan, kedua mata Taeyeon kembali berpendar memandangi tubuh kurus Sehun lekat-lekat, rambut hitam kecokelatannya sudah agak panjang hingga melewati matanya ketika bocah lelaki itu semakin menundukkan kepalanya dan menatap lembaran-lembaran soalnya dalam-dalam.

Di tengah kesunyian yang dipenuhi rasa serius itu, Sehun bergumam pelan dan menggerakkan pensil kayunya hati-hati, “Tujuh ditambah tiga,” ia mendesahkan nafasnya sesaat dan mengangkat kesepuluh jemarinya, “Satu, dua, tiga, empat, lima, …, sepuluh!” Sehun langsung berseru riang ketika ia berhasil menemukan jawaban soalnya, pensil yang dipegangnya lagi-lagi bergerak dan menggoreskan angka sepuluh di atas kertas kotak-kotaknya.

Tanpa sadar, Taeyeon tersenyum kecil sembari terus memperhatikan Sehun yang sedang mengerjakan soal matematikanya dengan giat. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Sehun akan sekeras ini dalam mencoba untuk belajar di tengah seluruh keterbatasannya.

Sehunnie,” ia bergumam penuh sayang dan mengelus puncak kepala Sehun lembut, hingga menyebabkan bocah cilik yang dielusnya itu kini mendongakkan kepalanya dan menengadah menatap Taeyeon penuh tanya.

Umma belum tidur?” Sehun berseru polos dan segera meraih jemari sang ibu lembut, ia mengusapnya sesaat, lalu segera membenamkan wajahnya pada pundak Taeyeon dalam-dalam.

“Menurutmu, sayang?”  wanita itu balik bertanya, ia mengusap punggung Sehun pelan, “aku hanya sedang memperhatikanmu belajar. Dan kau hebat sekali dapat menyelesaikan soal-soal itu!” ia berseru cepat dan segera menurunkan tubuh Sehun dari pelukannya. Kedua matanya benar-benar dapat menangkap semburat kemerahan yang sedang membuncah dari kedua pipi Sehun malam itu—seperti kebanyakan bocah lainnya, ia juga merasa senang sekali dipuji sebagai anak yang pintar.

Sehun memainkan buku-buku jarinya yang putih bersih perlahan, wajahnya yang tampan kini sedang menyibakkan senyum terbaiknya kepada Taeyeon. Hingga dalam beberapa detik, wanita itu merasa seakan disadarkan kembali oleh Tuhan tentang betapa sempurna dan manisnya figur bocah kecilnya itu. Sebagian besar diri Sehun memang sangat menggambarkan diri Miyoung yang sempat menjadi sahabat antara perawat-pasiennya di rumah sakit dulu. Kenangan indah yang sudah lama ia kubur dalam-dalam untuk menghilangkan rasa duka atas kepergian Miyoung itu kini telah menampakkan tanduknya kembali.

Umma?” beberapa detik berlalu semenjak Taeyeon memutar kembali ‘rol film’ masa lalunya ketika Miyoung masih hidup dulu, hingga perlahan namun pasti, kesepuluh jemari Sehun kembali meraih kedua pergelangan tangannya. Nafas hangat Sehun terasa benar-benar menguasai bulan Februari mereka yang dingin, “Ada apa, sayang?” kedua bola mata Taeyeon menemui dua iris indah milik Sehun yang diwarisi Miyoung untuknya.

“Sehun dengar dari appa, kita akan mempunyai seorang adik kecil di rumah,” Taeyeon langsung membulatkan kedua matanya tak percaya ketika Sehun baru saja selesai mengucapkan perkataannya ini. Karena baru saja ia ingin memberitahukan puteranya itu mengenai perihal membahagiakan ini, namun ternyata Kris, suaminya, telah mendahuluinya dengan memberi tahu Sehun lebih awal.

Lantas, Taeyeon segera meraih dan menggenggam kedua tangan Sehun lembut dan memeluknya di dalam kesepuluh jemarinya erat-erat, ia tersenyum lebar dan berusaha menatap Sehun dengan ekspresi senang terbaiknya—di balik seluruh rasa bahagianya karena kehamilan pertamanya ini, ia justru juga merasa cukup gusar memikirkan kesiapan Sehun untuk mendapatkan seorang adik yang baru, sementara untuk mengenali orang baru di kehidupannya saja, bocah lelaki itu masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membangun hubungan emosional yang erat dengan orang yang baru dikenalinya—dan sesuatu yang paling ditakutinya nanti ialah, bagaimana jika suatu saat nanti Sehun akan menganggap adiknya itu sebagai seorang saingan hebat dalam mencapai kasih sayang kedua orang tuanya?

Taeyeon sedikit menahan nafasnya sesaat sebelum ia memutuskan untuk berujar kepada Sehun kembali, jantungnya bertalu-talu memikirkan reaksi apa yang akan diberikan Sehun terhadap kehadiran calon adiknya itu.

Sehun ah,” bocah lelaki itu menganggukkan kepalanya pelan, matanya sedikit berkedut kembali ketika sang ibu menatapnya dengan sedikit gusar, “apakah kau senang mendapatkan seorang adik baru, sayang?”

Bocah lelaki itu tiba-tiba menundukkan kepalanya lemah, raut wajahnya yang semenjak tadi begitu cerah semenjak sang ibu menemuinya kini kembali meredup menjadi cukup sayu selama beberapa waktu. Wajahnya memucat dan beberapa peluh mulai mengalir dari kedua dahinya—udara sangat dingin malam ini, jadi tak mungkin sekali keringatnya mengalir karena kepanasan—Sehun pasti gugup sekali dalam mengemukakan pendapatnya. Namun tak lebih dari itu, walaupun ia sebenarnya tak terlalu mengerti tentang pengertian kehadiran seorang adik dan

bagaimana sosok adik itu dapat hadir di dalam keluarga mereka, Sehun benar-benar dapat menangkap bahwa ada rasa takut berlebihan yang mulai mendera dirinya ketika ayahnya, Kris, yang saat itu menceritakan tentang sosok adik kecil itu dengan penuh keceriaan. Bohong benar jika ia tak merasa cemburu saat itu.

Sehun agak tergagap ketika ia berusaha untuk memulai kata-katanya, ia benar-benar tak tega menatap wajah Taeyeon yang kini sedang memandanginya penuh rasa cemas. “Sehun…,”

“Sehun pasti senang sekali menyambut seorang adik baru!” tiba-tiba kalimat seperti itu terucap begitu saja dari bibirnya, ia sudah hampir menangis kali ini. Matanya sudah memerah menahan lesakan-lesakan air mata dahsyat yang sepertinya hendak mengalir dari kedua pelupuk matanya. Hingga perlahan, air mata itu akhirnya tumpah juga, Sehun kini menangis menghadapi letupan emosi aneh yang sedang menyesaki dadanya ini.

“Apakah kau tak siap, sayang?” suara lembut Taeyeon akhirnya mengalun pelan memasuki telinganya, sang ibu mulai mendekap tubuh Sehun erat, seakan tak berniat untuk melepaskannya sedikit pun. Wanita itu mengelus punggung Sehun selama beberapa saat, “Kau tak suka dengan adik kecil kita?” ada rasa yang semakin menusuk ulu hati Sehun ketika ibunya itu membisikinya dengan suara bergetar yang dibuat setenang mungkin.

Lelaki cilik itu menggigit bibirnya kebingungan, “Sehun…,” ia menarik nafasnya dalam-dalam dan mengelap hidungnya yang basah dengan punggung tangan, “Sehun takut umma dan appa tidak menyayangi Sehun lagi karena adik kecil itu.”

“Jangan pernah berpikir seperti itu, sayangku,” Taeyeon meraih beberapa helai rambut putera kecilnya itu pelan dan menyibak poni hitam kecokelatan Sehun yang memang sedikit menutupi matanya. Semakin lama jarak waktu yang terjadi di antara mereka, maka semakin kuat pula pandangan yang diberikan Taeyeon kepadanya puteranya, “Apapun yang terjadi nanti, bahkan ketika adik kecil lahir, maka appa dan umma akan tetap menyayangimu.”

Jeongmalyo?” bibir mungil Sehun bergerak tak percaya.

Taeyeon segera menganggukkan kepalanya cepat dan mengecup kedua pipi Sehun, “Benar, sayang. Bahkan kasih sayang yang akan kau dapatkan akan semakin bertambah nantinya, karena adik kecilmu itu juga akan ikut menyayangimu! Bukankah hal itu menyenangkan?”

Kedua bola mata jernih milik Sehun berputar sesaat, ia masih memikirkan hal yang baru saja diucapkan oleh ibunya selama beberapa saat. Sebuah rasa keraguan masih menyertai hatinya malam itu, tetapi bukankah ibunya tak pernah berbohong sebelum ini? Sehun selalu mempercayai apapun yang dikatakan oleh Taeyeon sebelumnya, sehingga pada akhirnya, ia memutuskan untuk menganggukkan kepalanya pelan. Ia tersenyum cerah kepada Taeyeon dang mengecup dahinya sekilas, mereka lalu tertawa bersama selama beberapa saat—Sehun bahkan sudah dapat melupakan rasa khawatirnya akan adik kecilnya yang akan segera hadir itu.

Saranghae, Umma.”

Nado saranghae.”

Sekali lagi, Sehun mendaratkan bibir mungilnya pada dahi sang ibu, sementara Taeyeon masih terus memeluk tubuhnya erat. Harum tubuh bocah kecil itu, derai tawa lucunya, senyum indahnya, ia benar-benar mencintai segala hal yang berada di dalam diri Sehun—sekalipun ia juga cukup tahu, bahwa ada satu malaikat kecil lagi yang kini hadir di dalam rahimnya yang sedang bersiap untuk lahir dan menjadi pelengkap kebahagiaan rumah tangganya bersama Kris.

Tiba-tiba, suara pintu kayu yang bergesekan dengan ubin terdengar lagi, Kris sedang mendongakkan kepalanya dari balik pintu. Ia tersenyum cerah di sana, sekalipun air mukanya jelas-jelas menggambarkan bahwa dirinya sedang terserang rasa kantuk yang luar biasa.

“Bisakah Appa ikut bermain bersama kalian berdua?” ia menyeringai jahil dan melirik Sehun dengan tatapan cerianya seperti biasa. Dan benar saja, tak butuh waktu lama bagi Sehun untuk menyadari hal apa yang harus dilakukannya ketika sang ayah mulai memberinya tatapan jahil seperti itu—ia harus memeluk Kris, dengan pelukan terbaik miliknya.

———————–

 

July 5th 2004

Orang-orang sedang merayakan indahnya musim panas di Kota Seoul ketika pada hari suatu hari, tepat di hari kelima di bulan Juli, seorang bayi cantik lahir di kediaman keluarga Kris Wu yang agak jauh dari pusat kota. Beberapa keluarga akhirnya memilih untuk menetap di sana sebagai pesta penyambutan bayi kecil pertama yang lahir dari pernikahannya bersama Kim Taeyeon—bahkan kedua orang tuanya yang selama ini tinggal jauh di Beijing pun memutuskan berangkat ke Seoul untuk menemui cucu pertama mereka itu. Ada banyak sekali perlengkapan bayi yang dibawa dari Cina sana, hingga menyebabkan rumah mungil Kris yang selama ini ia tempati bersama istri dan putera angkatnya kini terasa semakin disesaki oleh beberapa perlengkapan bayi yang seharusnya tak perlu dibeli lagi.

Kris tertawa kecil seraya memperhatikan ibunya yang sedang menyusun beberapa barang perlengkapan milik bayinya pada sudut ruangan. Wanita paruh baya itu terlihat cukup kelelahan dalam membuka bungkus-bungkus kado cucunya itu satu-persatu, ada banyak sekali hadiah yang diberikan oleh sanak keluarga mereka dan beberapa rekan kerja Kris.

“Boks bayimu sudah ada enam buah, jadi kau harus memilih boks yang mana yang paling sesuai untu bayimu. Lalu sisanya, mungkin kita bisa menjualnya, sayang!” wanita itu terkekeh geli setelah perjuangannya menyusun barang-barang itu akhirnya terbayar sudah. Ia kini sudah dapat menyedekapkan kedua lengannya lega dan hendak beranjak dari sudut ruangan untuk menemui beberapa sanak famili lainnya untuk membahas betapa cantiknya Victoire—nama puteri pertama Kris—yang baru saja dilahirkan oleh Taeyeon, menantu kesayangannya.

“Sudahlah, Mama,” Kris menahan tubuh sang ibu selama beberapa saat, menatapnya dalam-dalam dan mempersilahkannya duduk pada salah satu sofa berwarna pastel yang sedari tadi didudukinya, “Kau duduk saja, aku tak ingin melihatmu kelelahan.”

“Tetapi bagaimana dengan Victoire?”

“Tenang saja. Gadis kecil itu sedang berada di dalam kamarku bersama Taeyeon dan Sehun,” Kris menimpali pertanyaan sang ibu dengan agak sedikit geli, ia benar-benar tak menyangka bahwa wanita itu akan benar-benar se-obsesif  ini kepada cucu perempuan pertamanya—sementara pada kelahiran adik perempuannya bertahun-tahun yang lalu, ibunya itu bahkan tak pernah setertarik ini dengan Anne, adik perempuan satu-satunya.

Umma! Coba lihat, matanya mengerjap!” Sehun berseru tak percaya sembari semakin mendekatkan pandangannya kepada sang adik yang baru saja dilahirkan beberapa hari yang lalu. Ia menggerakkan jari-jarinya cepat dan terlihat begitu antusias ketika jemari mungil milik Victoire—adik perempuannya yang masih bayi—menggenggam tangannya selama beberapa saat.

“Victoire cantik sekali!” lagi-lagi ia berdesis pelan dengan nada bicara terkagum-kagum, lalu mengecup pipi sang adik selama beberapa kali. Ia benar-benar merasa jatuh cinta dengan Victoire yang pada awalnya sempat ia khawatirkan akan menganggu hubungannya bersama ibu dan ayahnya.

“Apakah kau menyukai Victoire, sayang?”

Sehun segera menganggukkan kepalanya tanpa ragu, ia menatap ibunya yang masih mendekap tubuh kecil Victoire di antara kedua lengannya. Ia tersenyum manis sekali sembari mengelus pipi gembul kemerahan Victoire selama beberapa saat.

“Aku sangat menyukainya, Umma! Ia sama cantiknya dengan wajah Umma, ia seperti malaikat,” tanpa sadar Sehun mengucapkan kalimat itu dari bibirnya, matanya masih berkedut selama beberapa saat karena autisme yang dideritanya, namun tak lebih dari itu, Taeyeon merasa senang sekali karena bocah kecilnya itu sudah dapat menerima kehadiran Victoire dengan kedua lengan yang terbuka hangat.

“Jika begitu, apakah kau bersedia untuk menjadi seorang kakak laki-laki yang baik untuk Victoire?”

Tanpa basa-basi atau ba-bi-bu terlebih dahulu, Sehun segera menganggukkan kepalanya cepat. Rasanya ia bangga sekali ketika Taeyeon memberinya tugas sebesar itu—ia benar-benar tak menyangkanya—karena menjaga seorang adik baru tentunya merupakan salah satu tugas hebat bagi seorang bocah kecil yang tak terlalu mengerti banyak hal sepertinya.

“Kau baik sekali! Peluk Umma, sayang!” sontak sang ibu langsung tersenyum cerah kepadanya dan mengelus rambut Sehun selama beberapa saat. Hingga kemudian, ia meletakkan bayi Victoire pada pinggir ranjangnya selama beberapa menit lalu memeluk tubuh puteranya seerat apapun yang ia mampu. Baginya, ia sudah punya tiga orang malaikat terindah saat ini—yang pertama Sehun, putranya, yang kedua Kris, suaminya, dan yang ketiga ialah Victoire, bayi kecilnya yang baru saja hadir ke dunia dengan wajah cantik nyaris tak bercelanya.

Ia yakin benar, bahwa dibalik semua kekurangan secara mental dan kesulitan emosional yang selama ini dialami oleh Sehun, tersimpan sebuah rasa sayang indah yang tersimpan secara rapat di dalam hati lembut puteranya itu.

Mungkin Sehun memang tak akan menjadi seorang kakak laki-laki sempurna bagi Victoire, sementara dirinya sendiri masih tak terlalu bisa mengontrol pikiran dan gerakannya di usianya yang sudah menginjak tujuh tahun. Tetapi Taeyeon percaya, bahwa Sehun akan tetap berusaha memberikan sesuatu yang memang terbaik darinya untuk membahagiakan Victoire.

Sehun—bocah lelaki kecilnya yang berhati malaikat.

 

TBC

37 thoughts on “[Freelance] Little Boy (Chapter 1)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s