[Freelance] Confessions (Chapter 3)

jbrQRBZ97VvXc1

Judul:Confessions (chapter 3)

Author: Jung Eun Gi

Rating: PG-15

Length: chaptered

Genre: romance,angst,family

Main cast: Jessica Jung, Kris Wu

Support cast: Krystal Jung, Suho, Im Yoona, others find in the stories

Author’s note: cerita ini murni dari hasil pemikiran otakku, so don’t bash don’t judge and please appreciate it. Please tinggalkan jejak setelah membaca sebagai penyemangat untuk melanjutkan part seterusnya, gomawo readers~ sorry for typos, imperfection is human! Enjoy reading ^^

Poster by http://www.minus.com/baboracoon

 

Previous

Jessica POV

            “Johahae”, aku berkata sepelan mungkin tepat saat bola yang tadi ia masukkan dalam ring jatuh dan memantul di lapangan, tidak tahu apakah ia mendengarnya atau tidak.

 

            “Mwo?”, Kris membelalakkan kedua matanya dan membalikkan badannya, menatapku.

 

            Tidakkah ia mendengar ucapanku barusan? Mengucapkan satu patah kata itu saja sudah sulit dan sekarang ia ingin aku mengulangnya? Geez, yang benar saja. aku bisa gila.

 

             “Kris Wu, na neo johahae”

 

***

Jessica POV

Aku mengatakannya dengan suara sedikit lebih lantang daripada yang sebelumnya. Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam dan mengepalkan kedua tanganku, aku yakin wajahku sudah memerah saat ini. Jantungku berdebar-debar tak karuan menunggu reaksi darinya. Rasanya, aku ingin segera menghilang saja dari tempat itu.

            Aku mendengar langkah kakinya mendekat ke arahku dan tiba-tiba saja wajahnya sudah berada tepat di depan wajahku. Ia menggenggam kedua bahuku dengan tangan kokohnya.

            “Ya Jessica, ada apa denganmu? Kau sakit?”, aku memberanikan diriku menatap wajahnya dan ia menatapku dengan tatapan khawatir sekaligus bingung.

            Aku menggelengkan kepalaku, merasa lemas seketika. Dasar Kris Wu babo! Apakah kata-kataku masih belum jelas juga? Aish jinjja!

 

            Ya! aku serius dengan kata-kataku. Aku menyukaimu Kris Wu.” Aku mekankan kata-kataku.

            Ia melepaskan genggamannya dari bahuku. Selama beberapa detik, hening menyelimuti kami. Aku menundukkan kepalaku kembali, tidak berani menatap Kris yang berdiri di hadapanku.

            “Tapi…maksudku, bagaimana bisa? Bukankah kita baru saling mengenal kurang lebih 2 minggu?”,Kris menggaruk kepalanya, ia terlihat bingung apa yang harus ia katakan.

            “Arayo. Aku juga tidak tahu kenapa dan sejak kapan aku…”,aku menggantungkan kalimatku. Tidak mungkin kan aku mengatakan kata-kata “menyukaimu” berkali-kali?

            “Kris, aku tidak memintamu untuk menjawabku atau membalas pernyataanku ini. I just want you to know, that’s all. Aku mohon, jangan bersikap canggung denganku. Kita masih bisa berteman kan?”, aku melanjutkan kalimatku sambil tersenyum pahit. Aku sudah tahu jawaban apa yang akan ia berikan dan aku tidak ingin mendengarnya, jadi aku hanya menyimpulkannya saja.

            “Ne…”,hanya itu yang keluar dari mulut Kris. Entahlah, aku tidak dapat mengartikan ekspresi pada wajahnya saat ini.

            Aku menatap pergelangan tangan kiriku yang dilingkari dengan jam tangan Baby-G berwarna Hot Pink dan memutuskan untuk segera keluar dari tempat itu.

            “Baiklah, sebaiknya aku pulang sekarang. Supirku sudah menunggu dari tadi. Anyeong”, aku melambaikan sebelah tanganku dengan canggung ke arahnya.

            Ia tidak membalas lambaianku dan malah menatapku lekat-lekat. Aku membalikkan tubuhkan dan berjalan ke arah pintu dengan kepala tertunduk.

            “Jessica Jung!”, langkahku terhenti begitu mendengar teriakan dari Kris. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya.

            “Just… Don’t. Don’t wait for me. Aku tidak menjanjikanmu apa-apa. Aku… hanya tidak ingin menyakitimu. Mianhae”, Kris menatapku dengan serius saat ia mengucapkan kata-katanya.

            Aku mendengarkannya dengan seksama dan tersenyum lemah. “I know. Well, I’ll try. I’ll try not to wait for you, Kris

 

***

Kris POV

            Aku terpaku di tempat saat gadis itu meninggalkan tempat ini, masih tidak percaya dengan apa yang aku alami. Jessica Jung menyatakan perasaannya padaku. Sangat sulit dipercaya. Aku tidak tahu bahwa, well, selama ini ia menyukaiku. Apa yang harus kulakukan? Ia pasti sakit hati. Haruskah aku bercerita pada Suho? Ya, mungkin sebaiknya aku bercerita padanya. Mereka sudah berteman lama. Pasti ia punya solusi baik untukku maupun Jessica. Kalau ia tahu, ia pasti akan menghibur gadis itu, kan?

            Aku langsung mengambil tas ranselku yang terletak di pinggir lapangan dan langsung menelpon Suho.

            “Suho-ya, ada yang ingin aku bicarakan tentang Jessica.”

***

            “MWO?!”, Suho membelalakkan matanya. Hampir saja ia menyemburkan minuman yang ada dalam mulutnya itu. Kami bertemu di sebuah café setelah aku menelponnya tadi.

            “Jinjjaro? Eyy maldo andwae. Gojitmal “, elak Suho masih tidak percaya.

            “Ya, kenapa kau sangat terkejut seperti itu? apakah ia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya?”, tanyaku penasaran. Apakah Jessica tidak pernah menyatakan perasaannya terhadap orang lain yang ia sukai selain diriku?

            “Tentu saja tidak pernah. Ia termasuk orang yang tertutup dan sulit percaya dengan orang lain. Dan selama ini ia tidak pernah menyukai seseorang, kecuali kau”, jelas Suho.

            “Mwo? Jadi… aku yang pertama?”,tanyaku lebih kepada diriku sendiri.

            Aku makin merasa bersalah terhadap Jessica. Aku sudah membuat perempuan itu sakit hati! Pasti ia telah mengumpulkan segenap tekad dan keberaniannya untuk menyatakan perasaannya terhadapku, apalagi ini baru pertama kalinya ia menyatakan perasaannya sendiri. Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar bingung.

            “Suho-ya, kau mau membantuku, kan? Hiburlah Jessica. Hanya kau yang bisa melakukannya. Aku akan sangat berterima kasih padamu dan jangan ceritakan hal ini pada orang lain”

            “Tentu saja. kau bisa percaya padaku”,Suho tersenyum menyemangati dan sekarang ia terlihat sangat mengkhawatirkan Jessica.

***

Jessica POV

            Aku baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi yang terletak di sebelah TV kamarku  saat iphone-ku berdering untuk yang kesekian kalinya. Masih dengan mengenakan jubah mandi, aku mengangkat telepon dengan sebelah tanganku tanpa membaca nama yang tertera pada layar dan langsung menempelkannya pada telinga kananku.

            “Sica-ya?”

            “Eo? Suho-ya? Ada apa?”,jawabku begitu mendengar suara Suho di seberang sana.

            “Neo eodisseo?”

            “Aku di rumah. Ada apa?”

            Hening.

            “Ya! Suho-ya? kau mendengarku?”

            “Gwenchanha?” Okay, this is weird. Aku mencium sesuatu yang tidak beres di sini. Tidak biasanya Suho membanjiriku dengan banyak panggilan melalui ponsel tengah malam seperti ini hanya untuk bertanya apakah aku baik-baik saja atau tidak. Setahuku yang tadi pagi terluka itu Yoona, bukan aku. Kecuali …

            “Aaa, jadi kau sudah tahu ya? dari Kris?”, tanyaku langsung.

            “Ne… kau tidak apa-apa? Apa kau sedang menangis?”

            “Ya babo! Ani, nan gwenchanha. Jangan khawatir, jika aku menangis, aku akan  mencarimu dan menyuruhmu menemaniku sampai aku berhenti menangis”, jawabku jahil.

            “Mwo? Baiklah baiklah. Hubungi aku kapan saja jika kau ingin menangis”, Suho tertawa di sela-sela perkataannya.

            “Sudah dulu ya? Aku baru selesai mandi. Anyeong”, aku mengakhiri percakapanku dengan Suho.

            Tanpa kusadari, sebutir air mata membasahi pipiku yang segera kuhapus menggunakan punggung tanganku. Tidak, tidak. Kau tidak boleh menangis Jessica Jung! Aku menasihati diriku sendiri. Saat ini hanya ada beberapa hal yang dapat memperbaiki moodku: Chatting with Steph, drawing & coloring a fashion sketch and sewing!

            Aku memegang gagang pintu yang berada di pojok ruangan kamarku dekat tempat tidur dan membukanya lalu masuk ke dalam. Ruangan itu adalah ruangan tempat dimana aku menyimpan semua fashion item-ku: tas, sepatu, baju semuanya tersusun dengan rapi di dalam sana. Meja rias dan cermin besar juga ditempatkan di dalam sana.

            Selain itu, ruangan ini juga termasuk ruang kerjaku. Aku menggambar dan menjahit baju di sana. Ada sebuah meja panjang berwarna putih tempatku menggambar dan menggunting pola baju, mesin jahit elektronik, mannequin dan benda-benda untuk menjahit lainnya. Aku melarang semua orang di rumahku untuk masuk ke dalam ruangan ini kecuali Kim ahjumma karena ia orang kepercayaanku.Bahkan Mom and Dad tidak pernah masuk ke dalam ruangan ini. sepertinya mereka juga tidak tahu aku bisa menjahit dan bahkan membeli mesin jahit dan barang-barang menjahit lainnya.

            Aku duduk pada bangku empuk dengan beludru merah di meja rias dan mengeringkan rambutku menggunakan hairdryer. Setelah rambutku kering, aku segera menyisirnya dan mengenakan piyama lalu menggambar sketch baju pada sketchbook-ku dan mewarnainya.

            Setelah selesai, aku menengok pada jam kecil di atas meja yang sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam. Aku segera keluar dari ruangan itu sambil memeluk sketchbook di depan dada dan memasukkannya pada ransel hot pink-ku. Aku menyalakan computer Macintosh-ku dan chatting dengan Stephanie sampai tengah malam. Ya, aku menceritakan semuanya pada Steph. Aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu darinya, dia selalu tahu jika ada yang tidak beres denganku.

***

Author POV

            “Jessica bangun!!!”

            Jessica tersentak dari tidur nyenyaknya saat seluruh badannya diguncang-gucang oleh Kim ahjumma. Ia tidak meladeni Kim ahjumma yang sudah berteriak-teriak dari tadi dan malah menarik selimutnya kembali untuk menutupi seluruh badannya.

            Kim ahjumma yang melihat itu langsung menarik selimut Jessica dan membuangnya ke lantai.

            “Ya! Kau mau tidur sampai kapan? Sudah setengah 7! Kau bisa terlambat ke sekolah!”, teriak Kim ahjumma lagi.

            Jessica langsung membuka kedua kelopak matanya yang berat dan langsung loncat dari tempat tidurnya. Ia melihat jam dinding dan tahu kalau Kim ahjumma tidak berbohong.

            “Oh No”, gumam Jessica yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.

***

            Jessica memakan rotinya dalam mobil dan tidak henti-hentinya menyuruh Shin ahjussi untuk ngebut. Bahkan, ia mengenakan kaos kaki dan sepatunya serta menyisir rambutnya dalam mobil. Ia sudah benar-benar terlambat. Ia hanya mengenakan bando kecil berwarna hijau untuk membebaskan dahinya dari poni dan membiarkan rambutnya cokelatnya tergerai.

            Ia kesal kenapa Kim ahjumma baru membangunkannya tadi dan Shin ahjussi? Ia bahkan meninggalkan dirinya untuk mengantar Krystal terlebih dulu ke sekolah. untunglah pelajaran pertama hari ini diajarkan oleh wali kelasnya, Choi sonseng. Tidak mungkin kan seorang wali kelas mengusirnya keluar? Bagaimanapun juga dia kan wali kelasnya. Seorang wali kelas pasti ingin yang terbaik untuk murid-muridnya dan selalu membela mereka dengan caranya masing-masing. Jessica menghibur dirinya sendiri.

            Begitu sampai di sekolah, Jessica langsung membanting pintu mobilnya dan berlari menuju kelas sekuat tenaga. Ia berlari sambil menaiki tangga dan sampai di depan kelasnya yang terdapat pada lantai 3. Gedung TK, SD, SMP dan SMA memang di pisah karena memang sekolahnya yang luas.

            Jessica berdiri di depan pintu kelasnya dengan napas terengah-engah, melihat jam pada pergelangan tangannya dan berusaha untuk menenangkan irama napasnya. 15 menit. Ia telat 15 menit.

            Jessica mengetuk pintu kelasnya yang dibukakan oleh Choi sonseng. Ia tersenyum polos pada gurunya itu dan seperti dugaannya, wali kelasnya yang baik hati itu mempersilahkannya masuk dan mengikuti pelajaran. Kemudian Jessica berjalan memasuki kelas dengan tatapan murid-murid lain yang terus mengekorinya. Saat berjalan melewati Suho, laki-laki itu tersenyum mengejek ke arahnya dan Jessica hanya memutar kedua bola matanya.

             Jessica sampai pada meja tempat duduknya, menarik kursi lalu duduk manis di situ, di sebelah Kris yang menolak bertemu pandang dengannya. Jessica menghela napas lalu mengeluarkan buku-bukunya dan menaruhnya di atas meja. Ia mengelap keringat yang bercucuran pada dahi dan lehernya dengan tissue lalu segera memperhatikan Choi sonseng yang sedang menerangkan gerak parabola di papan tulis. Pikirannya sedang melantur kemana-mana, ia berusaha keras memikirkan strategi untuk menghindari Kris sepanjang hari. Ya, laki-laki yang menolak perasaannya kemarin itu, laki-laki yang menjadi teman sebangkunya. Tidak heran Jessica selalu resah di bangkunya.

            Sebenarnya Jessica masih mengantuk. Ia kurang tidur semalam karena chatting dengan Stephanie sampai larut malam. Bahkan sampai terdapat lingkaran berwarna hitam di bawah matanya. Ia sering menguap sepanjang pelajaran Fisika berlangsung namun sekuat tenaga berusaha untuk focus sebagai rasa terima kasihnya untuk Choi sonseng. Tanpa ia sadari, Kris mengamatinya diam-diam.

***

            Bel pulang sekolah telah berbunyi. Jessica segera mengirimkan pesan singkat untuk Shin ahjussi yang mengatakan bahwa ia akan pulang sendiri. Ia memang berniat untuk mengunjungi suatu tempat dahulu sebelum pulang ke rumah. Ia juga mengirimkan pesan singkat untuk Kim ahjumma bahwa ia tidak akan makan malam di rumah hari ini.

            “Ya, mau kemana kau?”, Tanya Suho ketika menyadari Jessica cepat-cepat ingin keluar kelas.

            “Aku ada urusan. Aku harus pergi ke suatu tempat. Aku pergi dulu ya? Anyeong!”, sahut Jessica sambil berlari-lari kecil keluar kelas. Sudut matanya sempat menangkap sosok Kris yang memperhatikannya dengan kedua mata tajamnya, namun Jessica langsung memalingkan wajah seolah tidak menyadari tatapan dari Kris.

***

            Jessica turun dari bus dan berjalan menuju gedung tinggi di hadapannya yang bertuliskan Kang Company&Designs. Ia begitu bersemangat karena hari ini, ia akan memulai pemotretan dengan tema Summer untuk sebuah majalah mengenakan pakaian hasil rancangan eomma-nya alias Song Ji Hyo.

            Ia kenal dengan Song Ji Hyo sejak 2 tahun yang lalu saat masih di kelas 1 SMA. Mereka bertemu secara tidak sengaja di mall dan Jihyo memintanya untuk menjadi model hasil rancangannya. Sejak saat itu, hubungan mereka semakin dekat dan Jessica memanggilnya eomma karena ia memang sudah seperti eomma bagi Jessica sendiri. Jihyo juga tidak keberatan dipanggil eomma oleh Jessica. Ia hanya tinggal berdua dengan suaminya, Kang Gary sedangkan anak satu-satunya sedang kuliah di luar negeri. Jihyo lah yang mengajarkan Jessica menjahit dan membekalinya dengan banyak ilmu untuk menjadi seorang designer.

            Jessica sampai di lantai tempat ruang kerja Jihyo berada dan menyapa sekretaris Jihyo yang langsung mempersilahkannya masuk ke dalam ruang kerja Jihyo, Ia memang sudah kenal dengan beberapa karyawan di sini.

            Jessica mengetuk pintu ruang kerja Jihyo yang langsung dibukakan oleh pemiliknya.

Eomma!”, pekik Jessica senang sambil memeluk wanita di hadapannya.

Anyeong! Kau sudah makan? Mau ice cream?”, jihyo membalas pelukan Jessica.

“Tentu saja!”, jawab Jessica. Ia tidak bisa menolak jika sudah berurusan dengan ice cream.

“Baiklah kalau begitu. Kajja! Sehabis ini kita langsung ke lokasi pemotretan dengan mobilku”

***

Jessica POV

            Aku duduk di bangku depan sebelah Jihyo eomma yang sedang menyetir sambil menikmati ice cream rasa chocolate mint. Begitu menyalakan radio, lagu 2AM yang berjudul A Friend’s confession berkumandang dalam mobil yang segera mengingatkanku pada Kris.

            “Eomma, kemarin aku menyatakan perasaanku pada seseorang” Aku kembali menjilati sendok ice cream-ku.

            “Eo jinjja? Ya daebak! Lalu bagaimana?”, ia mengalihkan pandangannya kepadaku sejenak dan kembali focus pada jalanan di depannya.

            “Tidak seperti yang kuharapkan. Aku duduk bersebelahan dengannya di kelas dan bahkan hari ini, kami tidak mengatakan sepatah katapun satu sama lain”, aku menghela napas.

            “Gwenchanha sica-ya. Semuanya akan baik-baik saja. kau gadis yang kuat, aku percaya itu”, Jihyo eomma mengelus belakang kepalaku dengan sebelah tangannya.

            Tidak lama kemudian, kami sudah sampai di lokasi pemotretan dan aku segera di make-up oleh stylist di sana. My hair was dyed with red color! Love it! I looked totally different and stunning with this red hair. Tentu saja begitu keramas, warna merah ini akan segera hilang. Aku tidak dapat membayangkan jika aku ke sekolah dengan rambut merahku ini. Setelah itu, rambutku di curly ber-volume sehingga panjang rambutku hanya terlihat sebahu. Aku melakukan pemotretan dengan berganti-ganti baju, pakaian dan setting tempat. Pemotretan selesai saat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, namun aku tidak merasa lelah. I really enjoyed it.

 

            Setelah pemotretan selesai, aku makan malam bersama Jihyo eomma dan kru-kru pemotretan di sebuah restoran dekat situ. Stylist yang tadi mendadaniku untuk pemotretan, menghadiahiku sebuah topi berwarna hitam dengan bagian bawahnya yang berwarna hijau tosca dan bertuliskan VOGUE berwarna silver di tengah-tengah bagian depan topi. Ia bilang bahwa aku cocok mengenakannya dan memang aku menyukai topi itu sejak aku memakainya untuk pemotretan tadi siang. Oh, tentu saja aku langsung selca dengan mengenakan topi itu pada rambut merahku.

***

            “Tidur dan beristirahatlah, Sica-ya. kau sudah bekerja keras hari ini”, Jihyo eomma membuka kaca mobilnya saat menurunkan-ku di depan rumah.

            “Kau juga, Eomma. Tidurlah yang cukup dan jangan bekerja terlalu keras. Aku tidak mau kau sakit karena terus-terusan lembur demi menyelesaikan sebuah baju. Hati-hati di jalan! Gomawoyo untuk hari ini, sangat menyenangkan! Anyeong! Salam untuk Gary appa”, balasku sambil melambaikan tangan.

            “Arasseo arasseo. Kau bawel sekali. Baiklah aku pulang dulu. Anyeong!” aku menunggu mobilnya sampai berbelok di kejauhan dan tidak terlihat lagi, lalu masuk ke dalam rumah.

            Begitu aku masuk ke dalam rumah dan menutup pintu di belakangku, aku mendengar Dad berteriak ke arahku dengan suara lantang.

            “JESSICA JUNG! Dari mana saja kau baru pulang larut malam begini seorang diri? Wait, what happens with your hair?

            Aku membalikkan badanku dan mendapati Mom and Dad serta Kim ahjumma berdiri di hadapanku. Aku sedang kesal dengan kedua orang tuaku belakangan ini yang selalu memperhatikan Krystal. Oh bukan hanya itu saja, mereka sering membanding-bandingkanku dengan gadis itu. Aku mengakui kalau Krystal adalah gadis pintar, tapi aku tidak suka dibanding-bandingkan! Setiap orang kan punya kelebihannya masing-masing.

            “Bukan urusan kalian”, aku berniat menembus mereka saat Dad dengan teganya menamparku yang disertai pekikan dari mom dan Kim ahjumma terlihat membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, tidak menyangka Dad tega menamparku.

            Aku terlalu kaget untuk berkata-kata dan hanya bisa memegang pipiku yang baru ditampar Dad. Bagaimana bisa ia tega melakukannya terhadap anak satu-satunya ini? Oh iya, aku hampir lupa kalau aku sudah bukan anak satu-satunya lagi, toh masih ada Krystal.

            Air mata sudah menggenang di kedua mataku dan hanya satu kalimat yang bisa kuucapkan di hadapan Mom and Dad dengan mata yang kusipitkan.

            “I hate you”

            Setelah mengatakan hal itu, aku segera berlari menaiki tangga menuju kamarku dengan air mata yang sudah membasahi pipiku. Setiap hal yang kulakukan selalu saja salah di mata mereka. they just judge me without knowing the truth! Apakah mereka tahu kalau aku menjadi model? Tidak! Mereka tidak tahu itu atau tidak mau tahu, entahlah. Aku benar-benar sakit hati dengan kedua orang tuaku.

            Aku berpapasan dengan Krystal di lorong menuju kamarku. Ia menatapku dengan penuh tanda Tanya dan khawatir? Yang benar saja, aku tidak butuh belas kasihan darinya. Aku berlari melewatinya dan menabrak sebelah bahunya. Aku membuka pintu kamarku dengan kasar dan membantingnya dengan keras sampai tertutup.

            And yes, I was crying all night long.

***

Kris POV

            Aku memandang dengan tatapan kosong ke arah papan tulis seakan sedang memperhatikan Seo sonseng yang sedang menjelaskan tentang kesetimbangan kimia, padahal pikiranku sudah entah kemana. Aku mendengus pelan dan meregangkan otot-otot pinggangku, lagi-lagi tatapanku terpaku pada bangku disebelahku yang kosong. Dimana anak itu? Kenapa ia tidak masuk sekolah? Tidak mungkin, kan jika ia telat sampai selama ini?

            Ya, aku tidak mendapati sosok Jessica sejak tadi pagi, bahkan Suho pun tidak tahu apa-apa tentangnya. Biasanya saat aku tiba di kelas, aku akan mendapati sosok gadis itu entah sedang memperhatikan kuku-kuku lentiknya, memoleskan lipbalm stroberi pada bibir mungilnya, membaca majalah, melamun menghadap jendela atau bahkan tidur. Entah sejak kapan aku jadi menghafal kebiasaan-kebiasaan Jessica di luar kepala seperti ini.

            Akhirnya bel istirahat yang kutunggu-tunggu berdering juga. Saat Seo sonseng sudah meninggalkan kelas, aku langsung menepuk pundak Suho.

            “Suho-ya, kemana sahabatmu?” aku melirik ke arah Yoona karena setahuku belakangan ini ia sering terlihat bersama dengan Jessica. Tunggu, kenapa aku bisa tahu? Apa benar aku berbakat menjadi seorang paparazzi? Aku langsung mengenyahkan pikiran melanturku ketika Yoona mengangkat kedua bahunya, tidak punya petunjuk apapun tentang Jessica.

            “Eo? Maksudmu Jessica? Na ddo molla. Akan aku telpon, sebentar.”

            Suho langsung memencet nomor Jessica yang sudah berada pada speed dial handphonenya dan menempelkan iphone hitamnya pada sebelah telinganya.

            “Tidak diangkat”, Suho mencoba menelpon sekali lagi dan tetap tidak ada hasil.

            “Aku sudah mengirimkan pesan singkat untuknya. Mungkin akan ia balas nanti siang. Dia kenapa ya? Padahal hari ini hari terakhir sekolah sebelum summer break”, Suho  menatapku yang hanya kujawab dengan mengangkat kedua bahuku.

            Suho saja tidak tahu kenapa Jessica tidak masuk, apalagi aku yang belakangan ini tidak pernah berbicara dengannya? Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? apakah ia sakit? Aku mengacak rambutku. Kenapa aku mulai peduli pada gadis itu? gadis yang semula ingin kuhindari dari kehidupanku. Apa aku terlalu pengecut untuk menghadapinya?

TBC

Hai hai! Sesuai janji, kl comment d chapt sblmny bnyk ak bakal kirim chapt slnjtny meski ak mencium bau2 siders:/ tp ak tetep ga mau kecewain readers setia jd chapt ini ttep ak kirim hehe ak ga mau ambil pusing tntg siders bahkan mereka itu alien dr planet mn aj ak jg ga tau. Smoga mereka sadar aj dh y. Duhh mian y d chapter ini lbh pendek drpd chapter sblm2nya. Mian jg kl feel ny krg dpt, dsb. D chapter ini jg ga ad sweet moment krissica, mianhae >< sst, bocoran nih d chapter slnjtny bakal ada krisica moment bagi yg menantikan sweet moment mereka hehe so keep comment kl mau cepet d post. Gomawo readers~

66 thoughts on “[Freelance] Confessions (Chapter 3)

  1. aku benci orang – orang yang menyakiti jessica secara langsung, orang tua jessi juga sangat nyebelin…thor please deh jangan buat jessi menderita..salah jessi apa coba dan aku juga benci kris karna menolak gadis sebaik sepintar dan semodis jessica.

  2. aw aw cerita masanya anak muda ya~
    bagus!
    krystal, peran dia apa/?
    apa dichap selanjutnya ada cinta segitiga antara jessie, kris sama krystal/?

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s