[1] Rental Girlfriend—The Meeting

Title: Rental Girlfriend Author: cilliajung Length: Multichapter Genre: Romance, angst Pairing(s): KaiYoon, HanSica, ChanFany, SeoHun

rental girlfriend

Teaser

art&poster: cafeposterart | g.lin

“Menjadi orang kaya, bukan berarti kau akan selalu berbahagia.”

“Karena dirimu, aku dapat menemukan diriku sendiri, berbahagia bersamamu.”

“Kaulah alasan mengapa aku bisa tersenyum begitu lebaruntuk pertama kalinya layaknya seorang idiot.”

“Terima kasih, telah menemukan diriku.”

 

Kim Kai Jongin

“Menjadi orang kaya, bukan berarti kau akan selalu berbahagia.”

“Jongin, hari ini appa dan eomma akan pergi ke San Fransisco. Baik-baiklah di rumah.” suara berat itu terdengarsuara berat sang ayah, memberikan pamitan kepada putra semata wayang mereka sambil tersenyum tipis kepada putra mereka.

Biasanya, sang buah hati pasti akan tersenyum dan mengatakan kepada orang tua mereka untuk selalu menjaga diri mereka, makan yang sehat dan teratur, dan jangan terlalu banyak bekerja.

Biasanya.

Jonginbuah hati dari keluarga Kim itu, memutar kedua bola matanya sambil melepas headphone putih yang menempel di kedua telinganya. “Kalian tidak usah repot-repot berpamitan kepadaku.” ujarnya singkat sambil membaca buku novelnya yang cukup tebal sambil menghela nafas panjang dengan kedua matanya yang terpejam.

Pasangan Kim itu tersentak mendengar jawaban dari putra semata wayang mereka. Namun mereka memang tidak bisa menyalahkan Kim Jongin. Putranya menjadi seperti ini karena kesalahan mereka yang tidak mendidik anak dengan benar, dan tidak berada di sisi Jongin ketika Jongin benar-benar membutuhkan kedua orang tuanya.

Sang ibu tersenyum, tipis sekali. “Baiklah kalau begitu. Kami pergi dulu Jong

“Kai. Aku tidak ingat mempunyai nama seperti Jongin.”

Kedua orang tuanya benar-benar merasa akan menangis pada saat itu ketika mendengar jawaban dari putra semata wayang mereka.

Xi Luhan

“Karena dirimu, aku dapat menemukan diriku sendiri, berbahagia bersamamu.”

Terduduk, sendirian di teras pribadi kamarnya sendiri. Menatap langit gelap bertaburan bintang serta bulan yang senantiasa menempel kepada langit kelam bersama sobat-sobat kecilnya yang bersinar begitu terang pada malam ini.

Luhan terdiam sambil memejamkan matanya, berusaha merasakan hawa malam yang begitu dingin menerpa permukaan kulitnya.

kapan terakhir kali ia tersenyum dengan tulus?

Entah kenapa, Luhan merasa dirinya tiba-tiba menjadi dingindan jujur saja, sosok dinginnya seperti bukan dirinya sendiri. Ia bahkan merasa ia tidak mengenal dirinya sendiri. Bodoh sekali. Tentu saja bodoh. Kau sampai tidak mengenal dirimu sendiri, tubuh yang kau kendalikan. Bukankah itu sangat konyol dan

TOK TOK TOK

Luhan perlahan membuka matanya sambil menghampaskan nafas dengan kasar. Ia berdiri perlahan dan berjalan menuju pintu kamarnya dan bercat cokelat kayu itu. Perlahan Luhan memutar kunci dan membuka pintu perlahan.

Ia menatap sinis manusia yang berada di hadapannya. “Apa?”

Lelaki paruh bayaayahnya, tersenyum tulus. “Nak, ayo makan. Ibumu sedang menunggu di bawah.”

Luhan mengernyitkan alis matanya dan tersenyum sarkastis sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. “Whoa, ingin mencoba bersikap baik, heh?” ejeknya sambil tertawa kecil.

Ayahnya terdiam sambil mengepalkan tangannya dengan erathingga buku-buku jarinya memutih. Namun perlahan, sang lelaki paruh baya itu mengulum senyuman kecil. Ia mengangkat tangannyahendak menyentuh puncak kepala putranya.

“Nak

“Whoa! Jangan seenaknya menyentuhku!”

Luhan menepis tangan ayahnya pelan lalu berjalan mundur. “Aku tak sudi.”

Ia berjalan berbalik ke dalam kamarnya dan membanting keras daun pintu itu. Di senderkan dirinya di belakang daun pintu itu sambil bernafas dengan terengah-engah.

apa yang baru saja ia lakukan?

Park Chanyeol

“Kaulah alasan mengapa aku bisa tersenyum begitu lebaruntuk pertama kalinya layaknya seorang idiot.”

Lelaki jangkung itu terus duduk di bangku taman belakang rumahnya, merapatkan sweater rajut hangatnya yang tebal sambil menatap gerbang besar bercat putih yang begitu elegangerbang utama rumah.

Sesekali ia menggosok-gosokan telapak tangannya, kiranya ada kehangatan yang akan datang dan menghangatkan dirinya di tengah musim dingin ini. Lelaki itu menatap gerbang itu dengan sayu, namun harapannya tidak punah.

Ia akan menunggu kedua orang tuanya pulang.

Namun sesekali ada saja pertanyaan yang melayang, berputar-putar di dalam otaknya dan membuatnya berfikir sejenak.

Apakah ia tidak terlalu bodoh untuk menunggu kedua orang tuanya?

Chanyeollelaki jangkung itu terdiam. Ia menghela nafas dan membuat gumpalan embun itu keluar dari mulutnyamenandakan bahwa udara sangat dingin pada hari dan musim dingin kali ini.

Bibirnya gemetar, rambutnya terasa beku, tenggorokkannya tercekat.

Apakah ia tidak di inginkan lagi pada kedua orang tuanya?

Padahal ia benar-benar ingin melihat kedua orang tuanya, walaupun mereka sama sekali tidak memerhatikan putra mereka, tidak menyayangi dan bahkan mau melihat putra mereka.

Entah kenapa, Chanyeol tidak bisa membawa dirinya untuk membenci kedua orang tuanya.

Apakah ia bodoh?

Oh Sehun

“Terima kasih telah menemukan diriku.”

“Aku kecewa padamu, Oh Sehun!”

Teriakan itu terdengar menggema di ruangan tengah kediaman keluarga Oh. Sang kepala keluarga terlihat panas dan penuh amarah, di belakangnya sang ibu hendak menenangkan sang ayah dengan sabar.

Tatapan marah itu tertuju kepada putra mereka, Oh Sehun.

“Kau gila? Apa yang kau pikirkan sehingga kau ingin berhenti meraih cita-citamu menjadi dokter, Sehun?!”

Sehunlelaki itu terdiam. Diam-diam ia mengepalkan kedua tangannya di belakang tubuhnya. Ia terdiam seribu kata dan hanya menunduk kebawah sambil memejamkan kedua matanya.

“Jawab aku, Oh Sehun!”

“Tenanglah! Berikan dia waktu!”

Di saat dirinya di bentak, Sehun diam-diam berfikir di dalam otak dan hatinyabertanya-tanya.

Apakah ia tidak pantas berbahagia?

Apakah ia tidak pantas untuk meraih cita-citanya untuk menjadi seorang pilot?

Sehun menghela nafas kecil. Ia mengangkat kepalanya, menatap kedua orang tuanya lalu membuka mulutnya. “A

“Sudahlah! Aku tak ingin mendengar penjelasanmu! Pokoknya, kau harus tetap belajar tentang kedokteran!”

Sehun jelas tahu.

Bahwa ia memang di takdirkan untuk tidak berbahagia sejak lahir.

Author’s pov; Kim Kai Jongin

Lelaki itu kembali terdiam sambil membaca novelnyalebih tepatnya hanya melihat novelnya saja, karena sedari-tadi, ia sama sekali tidak membaca, entah kenapa, barisan-barisan tulisan itu tampak sangat tidak menarik di kedua mata Jongin. Ia menghempaskan nafas kasar dan berdiri sambil melepaskan headsetnya.

Dengan cepat, ia mengambil jaket miliknya yang sebelumnya tersampir di sebelahnya. Jongin memakainya dan dengan cepat ia berjalan keluar menuju pintu utama rumahnya. Jongin membuka pintu itu dan akhirnya menutupnyadengan pelan.

Tidak ada seorang maid ataupun butler yang menyapanyaatas perintahnya kepada mereka untuk ‘jangan repot-repot menyapaku karena aku takkan pernah membalasnya’ kepada semua petugas di dalam mansion rumahnya.

Udara dingin itu langsung menusuk ke permukaan kulitnya. Sesekali Jongin meringis akan betapa dinginnya udara siang itu yang menerpa kulitnya. Walaupun siang, langit yang biasanya cerah kini tertutupi awan yang begitu tebal hingga menutupi seluruh permukaan langit yang biru. Sepertinya hari ini akan turun salju.

Jongin memilih berjalan kaki daripada berkeliling kota sambil menggunakan limo milik keluargaah. Mungkin maksudnya, milik orang tuanya. Ia tidak terlalu suka menarik perhatian orang-orang, dan sepertinya berjalan di tengah kedinginan merupakan suatu tantangan yang cukup menarik untuk Jongin.

Entah kenapa, ia justru merasa angin dingin itu mencairkan suasana hatinya yang tadinya beku. Ia kembali tersenyum kecil. Memang tidak salah, ia benar-benar menyukai musim dingin. Ia jauh lebih menyukai kedinginan, ketimbang kepanasanmaka dari itu Jongin sangat tidak suka dengan musim panas.

oOo

Setelah berjalan cukup lama, Jongin terhenti di depan sebuah kafe kopiyang biasanya di sebut Starbucks itu. Jongin menarik kedua sudut bibirnya menjadi lengkungan tipis dan berjalan masuk ke dalam kafe tersebut dengan kedua tangan di dalam saku jaketnya.

Suasana kafe pada hari itu cukup sepi. Entah mengapa, kafe yang biasanya ramai dan sering di kunjungi oleh remaja-remaja maupun orang dewasa itu terlihat agak suram. Ia berjalan mendekati kasir dan memesan sebuah americano.

Setelah membayar untuk segelas americano-nya, ia berjalan ke konter sebelah untuk menunggu namanya di panggil untuk mengambil pesanan Jongin. Nampaknya, ada seorang gadis juga yang tengah memesan. Jongin tidak menatap gadis itu lama-lama, ia hanya melihatnya sekilas dan menangkap bahwa gadis itu tersenyum manisbahkan sampai membuat sang kasir terpana.

“Kim-ssi!”

Lamunannya terbuyar begitu saja ketika mendengar namanya di panggil. Ia memang memesan americano tersebut dengan menggunakan nama Kim ketimbang menggunakan Jongin ataupun Kai. Ia tidak terlalu suka menggunakan kedua nama tersebut, jadi ia hanya menggunakan marga keluarganya saja.

Ketika Jongin hendak mengambil kopi pesanannya tersebut, ia malah mendapati sebuah tangan yang mengambil kopinyalebih cepat dari dirinya. Jongin mengerutkan keningnya. Ia lalu menatap ke atas dan mendapatkan seorang gadisorang yang sebelumnya tersenyum kepada si kasir tersebut.

Gadis itu lalu menatap Jongin kembali. Ia tersenyum bingung ke arah Jonginyang mengangkat tangannya seolah hendak mengambil kopi miliknya.

“Anu, ada apa, ya?” gadis itu bertanya kepada Jongin sambil memiringkan kepalanya sembari tersenyum bingung.

Jongin menatap gadis itu bingung. Ia menghela nafasnya kecil. “Kopi itu milikku.” jawabnya singkat.

“Eh?”

Gadis itu mengerjap-kerjapkan matanya bingung. Ia lalu mengencek kopi tersebut dan menatap gelasnya yang tertera tulisan ‘Kim’ dengan huruf kapital yang besar dan smiley yang tengah tersenyum.

Setelah mengetahui yang tertulis di sana adalah ‘Kim’ gadis itu tampak malu. Ia lalu memberikan kopi itu kepada Jonginyang di terima oleh Jongin dengan bingung.

“Maaf, kukira nama yang di panggil adalah ‘Im’ bukan ‘Kim’. Padahal aku juga memesan sebuah americano. Maaf, ya.” gadis itu terkekeh kikuk dengan kedua pipinya yang bersemu merah. Ia membungkuk sedikit dan meminta maaf kepada Jongin.

Untuk pertama kalinya, Jongin tertawa hari ini.

“Haha, konyol sekali. Tampaknya memang nama kita tidak jauh berbeda, ya.” Jongin berkata sambil tertawa geli melihat kekonyolan gadis itu.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. “Aku ‘kan sudah minta maaf.” ujarnya.

“Tidak apa, aku tidak mempermasalahkannya.” Jongin berkata sambil sekilas menepuk puncak kepala gadis itu.

Nampaknya gadis itu agak sedikit terkejut. Ia lalu teringat sesuatu dan meraba-raba tasnya sampai ia menemukan sesuatu. “Ini sebagai permintaan maafku.”

Jongin melebarkan matanya. “Sudah kubilang tidak

“Terimalah, kumohon~” gadis itu memberikan aegyo puppy eyes kepada Jongin yang membuat lelaki itu sulit menolaknya.

“Baiklah.” Jongin lalu mengambil benda tersebut. Alisnya mengkerut ketika melihat benda yang di terimanya. “Kartu?”

Gadis itu lalu mengangguk semangat. “Baca saja! Aku yakin kau pasti tertarik.” gadis itu lalu tersenyum ceria kepada Jongin.

“Im-ssi!”

Dengan cepat, gadis berambut cokelat ikal itu menolehkan kepalanya dan mengambil kopi miliknya. “Kali ini kopinya memang milikku, jadi pastikan kau membaca kartu itu, ya!” gadis itu tertawa ringan lalu berjalan pergisambil melambaikan tangannya kecil.

Jongin tertawa kecil. ‘Gadis yang menarik‘.

Ia lalu membalikkan kartu itu, matanya menyipit ketika melihat tulisan kecil yang bercat pink itu.

“Rental…Girlfriend?” Jongin lalu menatap tulisan di bawahnya yang lebih besar. “Im Yoona?”

Author’s pov. Xi Luhan

Luhanlelaki itu, tengah berjalan di tengah malamnya kota Seoul hari ini dengan perasaan yang tidak menentu. Sesekali yang menendang salju di kakinya kecil untuk sekedar melepas penat dan melampiaskan amarahnya yang acak-acakan.

Di tiupnya mulut miliknyamembuat beberapa uap dingin keluar dari tiupan mulutnya. Luhan tersenyum kecil melihat uap-uap kecil itu terbuat setiap kali ia membuang ataupun menarik nafasnya.

Hingga akhirnya

BRUK!

Seorang gadis menabraknya sampai-sampai gadis itu terjatuh. Luhan yang sempat hampir terjatuh, dapat mengontrol tubuhnyamengingat dirinya cukup atletis. Ketika ia menyadarri apa yang terjadi, buru-buru ia mengulurkan tangannya kepada gadis yang tersungkur di hadapannya.

“Kau tidak apa-apa?” Luhan menatap gadis itu sambil mengulurkan tangannya.

Gadis itu tampak meringis sambil memegang punggungnya. “Ukh..”

Luhan tetap diam sambil menatap gadis itu dengan tatapan yangcukup khawatir, sampai akhirnya gadis itu menyambut uluran tangannya lalu berdiri dan menepuk-nepukkan tangannya di sekitar pantatnya untuk sekedar membersihkan salju yang menempel.

“Terima kasih, dan maafkan aku telah menabrakmu!” gadis itu menepuk kedua tangannya dan membungkuk meminta maaf kepada Luhan.

Luhan mengerjapkan matanya. “Tidak apa, apakah kau terluka?”

Gadis itu lalu mengangkat wajahnyaLuhan bahkan dapat menatap wajah gadis itu yang tampak manis namun cantik. “Aku tidak apa-apa, terima kasih telah bertanya!” gadis itu tersenyum manis ke arah Luhan yang sempat membuat Luhan terpana.

Tak lama kemudian, gadis berambut cokelat panjang itu menatap pergelangan tangannyadi mana jam tangannya melekat. “Oh, tidak!” ujarnya sambil melebarkan kedua mata cokelatnya.

“Maafkan aku, ya! Aku benar-benar harus pergi!” pamitnya dan tersenyum bersalah ke arah Luhan sambil melambaikan tangannya kecil. Gadis itu merapihkan rambutnya sesaat lalu berlari kecil meninggalkan Luhan.

Luhan mengerutkan keningnya. “Gadis aneh.” gumamnya.

Sesaat ketika Luhan hendak melanjutkan perjalannya lagi, Luhan merasa bahwa ia menginjak sesuatu. Dengan cepat, ia menunduk dan benar saja, ia menginjak sebuah kertaslebih tepatnya sebuah kartu.

Luhan mengambil kartu tersebut dan membalikkannya. Ia membaca baris per baris di kartu nama tersebut.

“Rental girlfriend, Jung Jessica Sooyeon?”

Author’s pov. Park Chanyeol

Hujan turun cukup deras pada hari ini. Chanyeol hanya menatapnya datar sesekali mengulurkan tangannyasekedar membuat tangannya basah dan kembali mengelapnya dengan tisu agar membuat tangannya kering kembali.

Untung saja Chanyeol membawa payungnya, salah satu butlernya berkata bahwa hari ini ramalan cuaca berkata bahwa akan hujan pada hari ini. Chanyeol hanya menurutinya dan berkata terima kasih kepada butlernya. Kini, ia benar-benar berterima kasih kepada butlernya karena hujan memang benar-benar turun.

Ketika dirinya hendak membuka payung tersebut, tampaklah seorang gadis berambut cokelat kemerahan yang panjangdi sebelahnya tampak kerepotan membuka payungnya. Ekspresinya tampak begitu lucu ketika ia kesusahan membuka payungnya.

“Payungnya susah di buka sekali..” Chanyeol jelas mendengar gumaman gadis itukarena jarak mereka yang tidak jauh.

Chanyeol merasa penasaran. Ia lalu menoleh dan menatap gadis di sampingnya. “Ada apa dengan payungmu?”

Gadis itu lalu menatap Chanyeol dan memberikan senyuman tersipu. “Payungku sepertinya rusak. Aku lupa mengeceknya dan hanya membawanya pergi dari rumah. Kikuk, ya.” jawabnya sambil terkekeh malu.

Lelaki jangkung ituChanyeol, merasa geli juga. Konyol sekali gadis di sebelahnya. Ia tiba-tiba ingat bahwa ia mempunyai sebuah payung.

“Kau boleh menggunakan punyaku.” tawar Chanyeol sambil memberikan payung putih miliknya kepada gadis itu.

Gadis itu melebarkan kedua matanya. “Tidak, terima kasih! Kau pasti membutuhkannya!” tolak gadis itu mentah-mentah sambil membuat tanda ‘X’ dengan tangannya.

Chanyeol tertawa. “Tidak apa-apa. Ada sebuah mini-market tidak jauh dari sini, kurasa dengan berlari aku bisa membeli satu di sana.”

“Benarkah?” gadis itu menatap Chanyeol dengan mata berbinar.

Untuk pertama kalinya, Chanyeol merasa begitu aman. “Tentu saja, pakailah.”

Gadis itupun mengambil payung milik Chanyeol dan tersenyum girang. Ia meraba saku celananya dan memberikan sebuah kartu kepada Chanyeol.

“Bacalah. Itu tanda terima kasihku, dan kuharap kita bisa bertemu lagi agar aku bisa membalas kebaikanmu!” gadis itu tertawa kecil dan melambai ke arah Chanyeol seiring kakinya membawa dirinya pergi dari hadapan Chanyeol.

Lelaki itu menatap kartu tersebut bingung, namun tetap membacanya.

“Hwang Tiffany Miyoung, Rental Girlfriend?”

Author’s pov. Oh Sehun

Hari itu, lelaki bermarga Oh ituSehun, terduduk di sebuah convenience store sambil menikmati sebuah ramen instan. Cuaca cukup dingin membuat dirinya ingin memakan sesuatu yang panas dan hangat. Masa bodoh dengan tidak sehat, yang penting ia ingin memakannya.

Sampai ia melihat seorang gadis berambut hitam lurus, duduk di sebelahnyalebih tepatnya, dua bangku dari tempat ia duduk. Gadis itu memegang sebuah botol minuman bervitamin dan sebuah biskuit bergandum.

Sehun mengerutkan keningnya. Bingung dengan makanan gadis itu.

Gadis itu lalu merasakan ada yang menatapnya. Ia menoleh dan mendapatkan lelaki ituSehun, menatapnya dengan tatapan bingung. Gadis itu buru-buru memasang senyum sopan ke arah Sehun.

“Hai.” sapanya sambil tersenyum ramah ke arah Sehun.

Sehun yang di sapasontak terkejut lalu berdeham kecil. “Ya.” balasnya singkat.

Mata gadis itu lalu tertuju ke arah makanan yang tengah di santap oleh Sehun. “Kau memakan itu? Itu tidak sehat, lho.”

Sehun langsung menatap ramennya. Ia lalu tersenyum kecil. “Cuaca hari ini cukup dingin membuatku ingin memakan yang hangat. Lalu, kau? Memakan biskuit bergandum saja?” tanya Sehun kembali.

Gadis itu mengangguk perlahan sambil tersenyum ceria. “Iya! Aku sangat menyukai biskuit bergandum,” gadis itu menggantungkan kalimatnya dan membuka bungkus biskuit itu. “Kau mau mencobanya?”

“Tidak, terima kasih.” Sehun menolaknya yang membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya kecil.

Sehun diam-diam tertawa melihat ekspresi gadis di hadapannya.

“Padahal ini ‘kan sehat.” gumam gadis itu yang terdengar oleh Sehun.

“Aku tahu itu sehat.” Sehun berkata lalu tertawa kecil ketika melihat gadis itu tengah menatapnya dengan wajahnya yang berona merah karena maluSehun mendengar gumamannya.

Tiba-tiba gadis itu terdiam. Ia nampak mengambil sesuatu dan memberikannya kepada Sehun. “Kau mau mencobanya?” tawarnya kepada Sehun.

Sehun yang semula hampir memakan ramen miliknya, langsung menoleh ke arah gadis tersebut yang tengah memberikannya sesuatu yang tampaknya seperti sebuah kartu.

Entah kenapa, tangan Sehun bergerak untuk menerima kartu tersebut. “Terima kasih.” ujar Sehun sambil tersenyum kecil ke arah gadis itu.

Gadis itu mengangguk. Ia berdiri lalu kembali tersenyum ke arah Sehun. “Kuharap kita akan bertemu lagi!” dan ia langsung pergi pada saat itu juga.

Sehun yang merasa agak penasaran, ia membaca kartu itu perlahan.

“Rental girlfriend…Seo Seohyun Joohyun?”

~To~Be~Continued~

a/n:

Cieilah, ketahuan juga kan pairingnya!😉

Oke readers, aku pengen minta pendapat kalian dong! Bantu ya, demi kelanjutan fic ini juga! Cukup berikan jawabannya di kolom komentar ya!😀

1. Fanfiction ini ‘kan tentang cerita pairing KaiYoon, HanSica, ChanFany, dan SeoHun. Mendingan sekali publish chapter selanjutnya keempat pairing itu langsung satu cerita, atau;

2. Ngepublish fanfiction chapter selanjutnya tentang keempat pairing itu tapi chapternya dipisah?

Ex; Chapter 2-KaiYoon, Chapter 2-HanSica, Chapter 2-ChanFany, Chapter 3-SeoHun?

Tolong bantu ya! Gamsahamnida! Silahkan tanya kalau bingung di kolom komentar yaa!😀

177 thoughts on “[1] Rental Girlfriend—The Meeting

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s