[Freelance] story of Exotaeng : Be Mine ( Chapter 3 )

 

be mine 1

Be Mine chapter 3

 

Author : RYN

Length : multichapter

Rating : PG 17+

Cast :

@ Taeyeon SNSD

@ Chanyeol EXO

@ Suho EXO

@ Tiffany SNSD

Genre : drama, romance

 

Note : yang udah kirim poster lewat email-ku, maaf banget aku belum pakai posternya. Mungkin next chap. D tggu aja ya..

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

SILAHKAN CARI IDE KALIAN SENDIRI TANPA MENCURI IDE ORANG LAIN!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

Typo bukan ART jadi tolong di maklumi.^^

 

– – –

*berani-beraninya dia melawanku. Lihat saja Taeyeon, kau akan merasakan akibatnya.* geram Suho dalam hati. amarahnya memuncak mengingat betapa Taeyeon mengabaikannya dan pergi bersama pria tinggi itu. tanpa sadar kedua tangannya mencengkeram stir dengan kuat sebelum membantingnya ke kiri dengan paksa. Mobilnya berhenti di tepi jalan. Dia segera mengeluarkan ponselnya dari sakunya, menghubungi nomor yang pastinya sudah berada di kontak telponnya.

“aku tidak suka berbasa basi tuan Kim. Langsung ke intinya, kau tidak pernah memberitahuku kalau putrimu saat ini memiliki kekasih.”

“…”

“aku tidak memintamu untuk berbicara dengan putrimu, aku ingin kau segera membereskan masalah yang ditimbulkan oleh putrimu. Aku tidak suka pria lain mendekati calon istriku.” Suho menggertakkan giginya menahan emosinya yang hampir meluap.

“…”

“kau tentu tidak ingin perusahaanmu bangkrut bukan? Jika kau menginginkan semuanya terkendali, kau harus melakukan semua yang ku inginkan. Ingat, semua tergantung pada keputusanmu.” Tegas Suho sebelum menutup sambungan telpon. Dia memandang kosong jalanan di depannya, ponsel di genggamannya perlahan-lahan mengerat.

– – –

Taeyeon menutup pintu di belakangnya lalu melangkah dengan santai menuju kamarnya. sejak tadi senyumnya tak pernah hilang dari bibirnya. setelah memasuki kamarnya, tubuhnya di hempaskan begitu saja di atas ranjangnya. Dia bahagia sekali hari ini, Chanyeol resmi menjadi kekasihnya. Tidak terbayangkan betapa dia hampir meledak karena itu. membayangkan wajah Chanyeol saja sudah membuatnya merona merah. Pria yang selalu di panggilnya idiot kini menjadi orang yang paling penting baginya, waw dahulu dia tak pernah memikirkan hal itu tapi sekarang…

Taeyeon tersenyum lalu terkikik sendiri mengingat kejadian tadi. dia menyentuh bibirnya dan senyumnya makin melebar. Ciuman pertamanya bersama Chanyeol. dia bersyukur karena Suho belum pernah menciumnya dan sekarang, dia memberi ciuman pertamanya pada pria itu. ia bahkan belum pernah berpacaran sebelumnya. Taeyeon masih merasakan perasaan berdebar-debar di dalam sana. Setiap mengingat Chanyeol, dia pasti akan merasa seperti ini. waktu itupun dia merasakan hal yang sama hanya saja dia berpikir mungkin dia memiliki penyakit kelainan jantung atau sebagainya. Sekarang semuanya telah berbeda. Kini, dia dengan bangga mengatakan pada hatinya kalau dia sangat menyukai Chanyeol.

Ponselnya yang tiba-tiba bergetar menyadarkannya. Dia menarik tasnya yang berada di dekatnya lalu meraba ponsel yang ia letakkan di dalamnya. Mulutnya langsung berdecak kesal begitu tahu siapa yang mengiriminya pesan. Berapa kali pesan dan telpon dari pria itu tak pernah digubrisnya.

Kita harus bicara.

Dengan cekatan ia pun membalas pesannya.

Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi Suho-sshi!

Tidak lama kemudian balasannya pun masuk.

Aku tidak perduli Kim Taeyeon. besok kita harus bicara. Kau tidak ingin aku menyeretmu di depan kampusmu bukan? Jadi turuti perintahku. Aku akan menjemputmu.

Taeyeon menghela nafas panjang. Dia mulai merutuki kebodohannya sendiri, kenapa dia selalu menuruti permintaan Suho? Kenapa pria itu selalu saja punya cara membuatnya tak berdaya? Baru saja dia ingin menikmati kelegaannya karena berpikir pria itu tak mungkin lagi mengganggunya, kini dia harus kembali berhadapan dengan pria itu beserta ancamannya.

Baiklah.

Taeyeon sadar, tidak selamanya dia bisa menghindari Suho. Mungkin tadi bisa tapi esok dan seterusnya, ia tidak mungkin bersembunyi terus darinya.

Taeyeon beranjak dari ranjang menuju closetnya. Setelah mengganti pakaiannya, ia kembali berbaring di ranjang. Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering. awalnya ia ingin mengabaikannya tapi begitu melihat siapa yang menelpon, jantungnya otomatis berdetak kencang dan ia mulai panik.

Sembari meremas jarinya dengan gugup, Taeyeon mengangkat ponselnya. dia belum menjawab, hanya memandangi layarnya yang berkedip-kedip dengan tatapan kosong. Hatinya menjerit, dia tak tahu mengapa dia tiba-tiba menjadi salah tingkah dan bertingkah seperti orang bodoh. Ini bukan kali pertama Chanyeol menelponnya tapi mengapa jantungnya di dalam sana hampir melompat keluar.

*oh tidak!* Taeyeon panik, wajahnya berubah cemberut. Karena terlalu lama mengangkat, telponnya mati begitu saja. *ini semua salahmu, kenapa kau tidak langsung mengangkatnya?!* rutuknya pada dirinya. hanya selang beberapa detik setelah itu, ponselnya kembali berdering.

Taeyeon tersenyum lebar, kedua pipinya bersemu merah. Tentu saja Chanyeol tidak akan semudah itu menyerah jika dia tak mengangkat telponnya. Itulah yang ia pikirkan sampai terkikik sendiri. dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menjawab telpon Chanyeol.

Taeyeon tak bisa menahan dirinya, telinganya dan wajahnya terasa panas hanya dengan mendengar Chanyeol yang menyapanya dari seberang telpon.

“apa yang sedang kau lakukan jagi?”

Taeyeon terkejut. tubuhnya tiba-tiba membeku beberapa saat sebelum tersadar kembali. Chanyeol bertanya dengan suaranya yang khas, tapi ada yang sedikit berbeda. terdengar manja dan paling penting, Taeyeon terkejut karena mendengar panggilan Chanyeol untuknya. Jagi. Jantungnya berdebar-debar, kupu-kupu dalam perutnya serasa berterbangan keluar begitu mendengar panggilan itu.

“j-jagi?” setengah tak percaya dengan apa yang di dengarnya, Taeyeon menggigit bibirnya, menekan nervousnya.

“b-bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan itu? a-aku…sejak dulu sangat ingin memanggilmu dengan panggilan itu.”

Taeyeon merona merah. Chanyeol yang bicara terputus-putus seperti itu terdengar sangat cute. Kalau saja ia tahu, saat mengucapkan kalimat itu Chanyeol tengah mengusap-usap punggung lehernya sembari tersenyum malu. wajahnyapun bersemu merah sama sepertinya.

“t-tentu saja.” Taeyeon sontak memukul bibirnya karena gagap menjawab.

Chanyeol terkekeh pelan di ujung sana membuatnya semakin malu.

“y-yah kau menertawaiku?”

Chanyeol langsung membungkam. Diam-diam dia tersenyum geli membayangkan muka Taeyeon yang kesal padanya. Meski telah menjadi kekasihnya, Taeyeon tidak berubah. tanpa sadar, dia menggeleng cepat. Tapi mengingat sedang berbicara lewat telpon, diapun kemudian menjawabnya.

“tidak jagi.”

Taeyeon mau tidak mau bersemu merah lagi mendengar nama panggilan itu. “idiot.” Gumamnya sembari tersipu malu.

Chanyeol tersenyum, meski dia ingin mendengar Taeyeon memanggilnya dengan panggilan jagi sama sepertinya, dia tetap menyukai panggilan ‘idiot’ itu.

“aku mencintaimu jagi.” Ucapnya kemudian.

Taeyeon melembut, dia tersenyum. “aku juga mencintaimu.”

Chanyeol tersenyum cerah. Kalimat Taeyeon semakin meyakinkannya kalau semua yang terjadi di antara mereka bukanlah mimpi.

Dan seperti itulah mereka mengawali perbincangan mereka. semuanya mengalir begitu saja. Mereka kemudian saling bertukar cerita yang selama ini tak pernah mereka lakukan. Waktu yang dihabiskan serasa tak cukup bagi keduanya meskipun besok mereka akan bertemu lagi di kampus.

 

***

Suasana di ruang makan terasa berbeda dari biasanya. Dari jarak yang jauh pun siapapun bisa melihat ketegangan antara Taeyeon dan ayahnya. ibunya yang duduk disisi ayahnya diam-diam menarik nafas sebelum kembali menikmati makanannya. Dia bukannya tak ingin ikut campur tapi jika putri dan suaminya bersitegang, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menonton, seperti pagi ini.

“mau sampai kapan kau terus begini? Mengabaikan ucapanku dan menentangku?” tanya ayahnya penuh kesan dingin.

“sampai ayah melepaskanku dari perjanjian pernikahan itu.” Taeyeon menyahut sambil tetap menikmati makanannya. Dia mengabaikan pandangan mematikan ayahnya ke arahnya.

Brak! ayahnya memukul keras meja membuat Taeyeon dan ibunya terlonjak kaget. Taeyeon memandangi ayahnya dengan pandangan marah. dia menekan kuat-kuat garpu dan sendok yang masih berada di tangannya.

“harus berapa kali kukatakan, aku melakukan ini semua demi kebaikanmu! Kenapa kau tidak berhenti membangkang dan menjadi anak yang patuh?!” seru ayahnya.

“karena aku tidak ingin! Aku memiliki kehidupan sendiri dan aku tidak ingin Suho atau siapapun pilihan ayah datang mengacaukannya!!”

“Taeyeon..” suara lirih ibunya membuat Taeyeon memalingkan mukanya. Rasa bersalah menghampirinya. sarapan pagi mereka yang selalu damai kini hancur sudah. Dia tak ingin menatap ibunya juga ayahnya. semakin ia melihat keduanya, semakin ia menjadi anak yang pembangkang.

Ayahnya memejamkan matanya sejenak, berusaha mengontrol emosinya. Dia menatap Taeyeon dengan serius setelahnya.

“siapa pria itu?” tanyanya, mencoba untuk tidak berteriak.

Taeyeon tersentak, begitupun ibunya. Ibunya memandang ke arah ayahnya dengan penuh tanda tanya sementara Taeyeon masih menutup rapat mulutnya sembari menundukkan kepalanya. apakah ayahnya tahu tentang Chanyeol? darimana ia tahu? dia makin mengeratkan genggamannya pada kedua benda di tangannya, giginya gemertak, Suho pasti telah memberitahu ayahnya.

“kau belum menjawabku Kim Taeyeon.” ayahnya menekan kalimatnya.

Taeyeon mengangkat kepalanya memandang lurus ke arah ayahnya. dari tatapan ayahnya, wajahnya langsung berubah pucat. Dia sangat mengenal ayahnya hingga bisa menduga apa yang pria itu pikirkan sekarang.

“a-apa Suho yang memberitahu ayah tentang Chanyeol?”

Ayahnya tersenyum sinis. “jadi nama pria itu Chanyeol. apa pekerjaannya? Bagaimana latar belakang keluarganya? Apa pekerjaan ayah dan ibunya?” tanyanya berentetan, mengabaikan kalimatnya.

“ayah!” Taeyeon tidak suka cara ayahnya menanyakan tentang Chanyeol. kelihatan sekali ayahnya merendahkan pria yang di cintainya.

“kenapa? kau tidak suka ayah bertanya tentang kekasih putriku?”

Entah mengapa Taeyeon bergidik ngeri mendengarnya. ayahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi. ini membuatnya khawatir.

“Chanyeol tidak seperti yang ayah kira. Dia adalah pria yang baik.”

“pria yang baik adalah pria yang bisa memberimu kehidupan yang baik dan segalanya. Jika dia tak bisa menjamin kehidupan yang layak untukmu, tinggalkan dia.” Tegas ayahnya.

Taeyeon menggeleng. “aku tidak akan meninggalkannya ayah. Aku mencintainya. Aku tidak bisa menikah dengan pria pilihan ayah.”

Di luar dugaan, ayahnya tiba-tiba tertawa keras. Taeyeon mengernyit heran. Ibunya memandangnya, kelihatan dari wajahnya kalau ia sangat mengkhawatirkannya.

Setelah tawanya reda, ayahnya menatapnya dengan tatapan mengejek. “sudah berapa lama kau bersamanya? itu adalah cinta yang sesaat, kau tidak akan bertahan lama dengannya.”

“ayah tidak berhak meremehkan kami!”

“aku kecewa padamu. kau tidak seperti putriku.”

Taeyeon menundukkan wajahnya. jauh dalam hatinya, ia merasa bersalah pada ayahnya.

Mendadak ayahnya bangkit dari kursinya. “aku tidak ingin melihatmu berhubungan dengan pria itu. dia bukan kelas kita. Jika kau masih berhubungan dengannya, kau tahu sendiri apa akibatnya.”

Taeyeon terpaku. Ayahnya memberinya peringatan. Mendengarnya saja sudah membuatnya matanya berkaca-kaca.

“ayah kumohon..jangan menyakitinya ayah..” Taeyeon memelas. Pertahanannya runtuh. Dia tak bisa terus berdebat dengan ayahnya jika ayahnya telah memberinya peringatan.

Ayahnya menggeleng tegas. “jauhi pria itu.” ujarnya berbalik pergi. namun baru beberapa langkah, ia berbalik lagi. “kau tidak punya pilihan lain selain menikah dengan Suho jadi simpan sifat keras kepalamu itu dan terima kenyataan.” Usai mengucapkan kalimat itu, ayahnya berlalu pergi.

Taeyeon tak kuasa menahan air matanya dan akhirnya tumpah membasahi pipinya. baru saja dia merasakan kebahagiaan, kini ayahnya ingin merampasnya darinya.

“Taeyeon..apa yang sudah kau lakukan?” ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya, kelihatan kecewa dengan sikapnya. “membantah ayahmu tidak ada gunanya.” Ucapnya menasehati.

Taeyeon beranjak dari tempatnya sembari mengusap air matanya. bersama ibunya tidak membuatnya lebih baik. niat ibunya baik, tapi dia sedang tidak mood untuk mendengarkan pembelaannya terhadap ayahnya.

“aku pergi.” ucapnya tanpa menoleh lagi.

Keluar dari pagar rumahnya semakin membuat Taeyeon merasa lebih buruk apalagi ketika melihat Suho sudah berdiri di dekat mobilnya. dengan perasaan kesal, Taeyeon segera menghampirinya.

“apa yang kau lakukan disini?” Taeyeon menanyainya dengan ketus. Dia memasang wajah se-boring mungkin, tidak ingin terlalu lama bersama Suho.

Suho tersenyum manis. Taeyeon memutar bola matanya. Suho tidak pernah belajar dari pengalaman kalau senyuman manisnya itu tak mempan padanya.

“bukankah aku sudah mengatakannya? Aku ingin bicara denganmu.” Ujar pria itu, masih dengan senyumnya.

Taeyeon mengangguk. “bicaralah.”

“tidak disini. Aku punya tempat yang lebih baik.” Suho mengedipkan sebelah matanya dan lagi-lagi Taeyeon membalasnya dengan rotasi matanya sebelum masuk ke dalam mobil.

– – –

“aku tidak punya banyak waktu jadi sebaiknya kau bicara sekarang.” desak Taeyeon. sejak tadi mereka hanya diam dalam mobil. Tidak ada yang berbeda memang, tapi tepat di depan sana, ada sebuah danau yang luas dimana Suho pernah membawanya.

Suho masih menundukkan kepalanya di depan stir mobil. Pria itu masih diam. sikapnya yang seperti itu membuat Taeyeon cemas. dia takut Suho akan berbuat sesuatu padanya. dia akhirnya bernafas lega ketika Suho mengangkat kepalanya, menatapnya.

“kenapa kau begitu membenciku?”

Taeyeon cukup terkejut dengan pertanyaannya. dia tak mengira Suho akan menanyakan pertanyaan itu. Taeyeon mengernyit, Suho tidak seperti biasanya. wajah pria itu kelihatan sedih. ada apa ini?

“a-aku tidak membencimu.” Taeyeon heran dengan suaranya yang tiba-tiba menjadi gugup. pandangan teduh Suho membuatnya merasakan sesuatu yang aneh.

“lalu kenapa?” kerutan di kening Taeyeon semakin dalam, sebenarnya apa yang ingin dikatakan pria ini padanya. “kenapa kau ingin membatalkan pertunangan kita baby?”

Amarah Taeyeon yang entah darimana tiba-tiba muncul begitu mendengar panggilan itu. bayangan Suho yang mengkhianatinya bersama Tiffany melintas dalam kepalanya. dan dia tak bisa menahan diri untuk tidak marah pada Suho karena itu.

“jadi kau repot-repot menjemputku hanya untuk membicarakan aibmu padaku?” Taeyeon tersenyum sinis. “maaf kau sudah membuang-buang waktuku. Aku tidak ingin membicarakannya lagi. hubungan kita selesai.”

Suho terkejut. Taeyeon mencoba membuka pintu mobil tapi dia langsung menahan tangannya.

“apa yang kau lakukan?! Jangan menyentuhku!!” pekik Taeyeon.

Suho memandangnya dengan geram. “aku tidak semudah itu melepaskanmu! Kau pikir kita sudah selesai? Kau salah kim Taeyeon, kau salah!!”

Taeyeon menggelengkan kepalanya. dia sudah di ambang kesabarannya. “aku tidak pernah mencintaimu Suho.” Suho tersentak, Taeyeon tersenyum pahit. “dulu sekali..aku pernah suka padamu tapi perasaanku tidak pernah lebih dari itu.”

Suho hampir tak bisa berkata-kata mendengar pengakuannya. “aku calon suamimu Taeyeon, mengapa kau tidak bisa menerimaku?”

Taeyeon memalingkan mukanya. “kau tahu alasannya Suho. Aku tidak akan pernah bahagia bersamamu.”

“apa karena pria itu?”

Taeyeon menoleh. “fyi, namanya Chanyeol.”

“thanks sudah memberitahunya.” Suho menjawabnya dengan sinis.

Taeyeon merasakan ponselnya bergetar. dia segera tahu siapa yang menelponnya. tak peduli Suho kini menatap tajam padanya, dia langsung menjawab telponnya.

“kau dimana? apa kau baik-baik saja? Apa kau sudah selesai berbicara dengannya?”

Taeyeon tersenyum tipis. Chanyeol sangat mengkhawatirkannya sejak ia mengatakan kalau dia akan pergi bersama Suho.

“aku baik-baik saja. aku akan menghubungimu setelah selesai.” Tanpa menunggu jawaban Chanyeol, Taeyeon menutup telponnya.

Di layarnya tertera 5 pesan dan 20 panggilan tak terjawab, semuanya dari Chanyeol. perasaan Taeyeon langsung luluh, dia tersenyum.

“jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku akan pergi sekarang. Chanyeol menungguku.” Ucapnya pada Suho. Dia ingin segera mengakhiri pembicaraannya dengan pria itu dan menikmati waktunya bersama Chanyeol. tiba-tiba saja dia merindukannya.

“jadi benar karena pria itu.” Taeyeon yang hendak membuka pintu mobil, terhenti. dia menoleh dan melihat senyum misterius Suho. “kau menolakku karena dia bukan? Jika tidak ada pria itu, kau akan kembali padaku.”

Kedua mata Taeyeon langsung membulat, pandangannya berubah horor. “a-apa maksudmu? K-kau ingin..”

Suho menggeleng memutuskan kalimatnya. Taeyeon menghela nafas lega. *thank god*

“aku tidak akan menyerahkanmu padanya. ingat itu.”

Taeyeon merinding melihat tatapan Suho yang berubah tajam padanya. “kenapa kau tidak meninggalkanku saja Suho? Kau bisa mendapatkan gadis manapun yang kau sukai. Tidak akan ada yang menolakmu.”

“kau adalah gadis yang menolakku Taeyeon.” Taeyeon tersentak, nada suara Suho berubah dingin. “aku akan pastikan, pernikahan kita akan terlaksana.”

“kau tidak bisa memaksaku!”

“aku memang tidak, tapi ayahmu bisa.” Suho menyela dengan santai. “ah, aku juga ingin melihat perjuanganmu. Apa kau bisa membuat ayahmu mengubah jalan pikirannya? kurasa tidak.”

“kau gila Suho.”

Suho tersenyum manis. “benarkah?” tanyanya sembari memasang tampang innocent-nya.

Taeyeon tidak tahan lagi. dia segera keluar dari mobil dan membanting pintunya dengan keras. “brengsek!”

– – –

Chanyeol sejak tadi tidak berhenti melihat ke arah gerbang. Matanya sibuk meneliti satu persatu gadis yang melewati gerbang itu. gadis mungil berkulit putih yang di carinya tidak kelihatan di antara mereka. mungkin karena dia terlalu pendek atau bagaimana, Chanyeol bahkan sampai berjingjit agar bisa menemukannya. Tak terhitung sudah berapa kali ia melihat ke arah jam tangannya, juga melirik ponselnya dimana wajah gadis yang di cintainya menjadi wallpapernya sekedar untuk mengurangi perasaan cemasnya kemudian kembali menatap ke arah yang sama. Bahunya menurun, Taeyeon belum muncul sejak ia mematikan ponselnya tadi. segelintir pertanyaan harap-harap cemas mulai menghantuinya. Apa gadis itu baik-baik saja? mau apa Suho mengajaknya pergi? apa yang mereka bicarakan? Mendadak pikiran negatif muncul dan seketika wajahnya berubah pucat. Apa Suho memintanya untuk berbaikan? Apa mereka akan menjadi pasangan kekasih lagi? apa gadis itu menerimanya kembali? Lalu bagaimana dengannya? apa gadis itu akan meninggalkannya?

Chanyeol menggelengkan kepalanya dengan cepat, menepis semua mimpi buruk yang mungkin akan di dengarnya sebentar lagi. dia tidak ingin kehilangan Taeyeon. mereka baru bersama, mimpinya baru menjadi kenyataan dan dia tak ingin Taeyeon meninggalkannya. Tapi, kembali lagi pada hatinya, jika gadis itu bahagia, dia akan ikut bahagian dan merelakannya. Dia terduduk di bangku taman, kepalanya menunduk memikirkan kebahagiaannya bersama Taeyeon yang sebentar lagi sirna.

“hei.”

Chanyeol awalnya tak mendengar suaranya karena begitu kecil. tapi begitu suara itu kembali terulang di sertai sentuhan di bahunya, kepalanya sontak terangkat. Wajah gadis yang di carinya sejak tadi, gadis yang membuatnya hampir gila karena tak menemukannya, gadis yang membuatnya cemas dengan semuanya, kini berdiri di hadapannya dengan senyuman yang selalu membuat hatinya berdebar-debar.

“maaf ak-“

Chanyeol langsung memeluknya. Dia tak ingin mendengar kalimat selanjutnya dari gadis itu. dia takut apa yang di pikirkannya sesuai dengan apa yang ingin dikatakan gadis itu padanya. dia masih ingin menikmati waktunya yang singkat bersamanya. *sial!* rutuknya frustasi. Dia bahkan tidak mampu melepaskan gadis itu. dia tidak bisa.

Wajah Taeyeon seketika merona merah, dia tersenyum membalas pelukannya. Meskipun ia tak tahu mengapa Chanyeol tiba-tiba memeluknya dengan erat, itu tak jadi masalah karena setidaknya ia akhirnya bisa bersama pria itu lagi.

“a-aku pikir kau tidak akan datang menemuiku.” Suara Chanyeol berbuah lirih. Dia masih belum ingin melepaskan pelukannya. namun sebuah kata yang sering di ucapkan Taeyeon tiba-tiba terdengar membuatnya kedua matanya sontak membulat.

“idiot.” Taeyeon bergumam.

Chanyeol meregangkan pelukannya, masih dengan matanya yang membulat lebar menatap gadis di hadapannya. Taeyeon tertawa geli, wajah Chanyeol sungguh sangat cute dengan mata yang besar seperti itu. dia terlihat seperti anak anjing yang butuh kasih sayang majikannya.

Taeyeon menghentikan tawanya, dia memiringkan kepalanya lalu mengernyit heran. Chanyeol hanya diam menatapnya.

“oi Chanyeollie, kau kenapa?” tanyanya setengah bercanda.

Ekspresi Chanyeol masih belum berubah. dia menatap Taeyeon dalam-dalam. entah mengapa, ditatap seperti itu, Taeyeon menjadi salah tingkah.

*idiot.* Taeyeon membatin. Dia memalingkan mukanya, tidak ingin wajahnya yang merah padam di lihat Chanyeol.

Chanyeol yang tiba-tiba menghela nafas panjang membuat Taeyeon menoleh kembali padanya. Chanyeol menghindari tatapannya. Dia terlihat seperti seseorang yang sedang memiliki masalah. Ada yang tidak beres dengan sikapnya.

“apa kau marah padaku karena tidak menjawab telponmu?”

“tentu saja tidak.” bantah Chanyeol cepat. namun suaranya yang sedikit meninggi itu membuat Taeyeon tersentak kaget. Chanyeol pun terkejut. dia segera meminta maaf. “a-aku tidak bermaksud..”

Taeyeon tersenyum. dia meraih kedua tangan Chanyeol membuat pria itu menatapnya.

“katakan padaku, apa yang terjadi. Kau kelihatan berbeda. kau bahkan tidak ingin melihatku.”

“apa kau dan Suho baik-baik saja?” Taeyeon mengernyit. Chanyeol cepat-cepat menambahkan. “maksudku, apa kau dan Suho akan kembali bersama? kau langsung memutuskan telponku dan tidak membalas pesanku. Aku pikir kau akan kembali bersamanya.” suaranya makin pelan seiring dengan kepalanya yang menunduk.

Taeyeon tertegun. Dia diam beberapa saat mencoba mencerna maksud ucapan Chanyeol. akhirnya semuanya menjadi jelas. Chanyeol yang tiba-tiba memeluknya ketika ia datang dan tiba-tiba berubah menjadi pendiam, itu karena dia mematikan telponnya saat bersama Suho.

Taeyeon tertawa geli, betapa cute dan manisnya kekasihnya itu. Dia mengkhawatirkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Chanyeol sontak mengangkat kepalanya, memandangnya dengan heran.

“bagaimana kalau aku dan Suho kembali bersama?” Taeyeon lalu memasang tampang pura-pura seriusnya. Dia jadi ingin menggoda Chanyeol. sesuai keinginannya, Chanyeol sangat terkejut. wajahnya tiba-tiba memucat. Dalam hati Taeyeon sebenarnya tidak tega melihatnya.

“ a-aku..aku…” Chanyeol berubah gagap. Dia tak tahu bagaimana menjawabnya. ini sangat sulit. Dia tidak ingin melepaskan Taeyeon, tapi bagaimana kalau Taeyeon lebih bahagia bersama Suho?

“idiot.” Gumam Taeyeon lalu berjingjit mengalunkan kedua lengannya di leher Chanyeol dimana kedua tangan Chanyeol otomatis bersandar di pinggangnya dan kemudian mendaratkan sebuah ciuman di bibir pria itu.

Chanyeol masih dengan matanya yang membulat lebar ketika Taeyeon melepas bibirnya tanpa melepaskan lengannya dari tempatnya. wajahnya yang seperti itu membuat Taeyeon lagi-lagi tersenyum geli. dia kemudian mengerucutkan bibirnya, “kau ingin menyerahkanku pada Suho?” tanyanya polos.

Chanyeol masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Matanya mengerjap berulang kali. Betapa Taeyeon ingin sekali mencubit pipinya dengan gemas karena hal itu.

“k-kau tidak kembali bersama Suho?” Chanyeol bertanya kembali. Dia ingin memastikan sebelum harapannya kembali melambung tinggi.

Taeyeon mendecak kesal lalu menjawabnya, “untuk apa aku bersamanya sementara aku punya kekasih yang sangat cute disini.”

Pernyatannya membuat Chanyeol hampir berteriak girang saking bahagianya. Dia tersenyum lebar, rona merah di wajahnya samar-samar muncul. Dia terlihat seperti anak kecil yang malu-malu. Taeyeon tertawa melihatnya. tapi tawanya seketika terhenti ketika Chanyeol tiba-tiba merapatkan tubuh mereka. Taeyeon tersenyum sebelum menutup matanya. Bibir keduanya kemudian menyatu dalam gerakan yang berirama. Perasaan cinta yang mereka miliki seolah-olah beterbangan mengitari mereka. Chanyeol tak bisa menahan dirinya, perasaan cintanya serasa membuncah di dalam dadanya hingga satu ciuman saja tak cukup ‘tuk menggambarkannya. Begitupun dengan Taeyeon. melupakan tempat dimana mereka berada, mereka saling berbagi ciuman, memberikan kasih sayang sebanyak yang mereka inginkan satu sama lain.

 

***

Taeyeon berulang kali merubah posisi duduknya, berusaha menyamankan dirinya. Berjam-jam duduk disana sembari memainkan ponselnya membuatnya bosan. Belum lagi suasana dalam ruangan yang membuatnya ingin keluar dari tempat itu. Hari ini dia menemani Chanyeol menyelesaikan sesi foto terakhirnya. Sebagai seorang fotografer, ini merupakan pekerjaan sampingannya.

Bosan bermain game di ponselnya, Taeyeon mengalihkan perhatiannya pada Chanyeol. kekasihnya itu tengah sibuk memotret beberapa model. Bunyi jepretan kamera yang di pegangnya membuat Taeyeon memfokuskan matanya. Para model begitu profesional, mereka melakukan banyak gaya dan terkadang Chanyeol mengoreksi dan memberitahu mereka apa yang harus di lakukan jika dia tidak puas dengan hasilnya.

Taeyeon tersenyum, Chanyeol yang bekerja dengan serius seperti itu terlihat sangat keren. Apalagi rambutnya yang sengaja di ikat setengah ke atas membuatnya semakin tampan. Taeyeon merasa beruntung memilikinya. Tapi mengingat pekerjaan Chanyeol yang selalu bersama model-model yang cantik membuatnya tak bisa menahan diri untuk tidak cemburu. Chanyeol mungkin saja profesional dalam melakukan pekerjaannya seperti menyentuh model itu atau sekedar memberi arahan pada mereka, tidak lebih dari itu,  tapi di matanya, para model itu seperti sengaja menggoda kekasihnya. Taeyeon ingin sekali menarik Chanyeol pergi dari tempat itu jika melihat beberapa model mendekati kekasihnya.

Di sisi lain, dia merasa tersentuh dengan sikap Chanyeol. pria itu selalu menyempatkan diri untuk menemaninya jika para model itu sedang beristrahat atau mengganti baju mereka. tapi sering kali setiap ia bersama Chanyeol, ada-ada saja halangan yang datang. beberapa model menghampiri mereka dan memulai pembicaraan dengan Chanyeol atau menanyakan hal-hal yang menurutnya tidak begitu penting. Jika sudah seperti itu, Chanyeol pasti akan fokus menjawab pertanyaan mereka dan tidak sengaja mengabaikannya.

Taeyeon berusaha memahami pekerjaannya, tapi gadis-gadis itu semakin lama semakin membuatnya kesal. Chanyeol mungkin saja tidak tahu tapi beberapa dari model itu selalu memberinya pandangan yang sinis dan tersenyum mengejeknya.

“kau kenapa jagi?” Chanyeol bertanya padanya begitu gadis-gadis model itu pergi.

Taeyeon mendengus kesal. *sekarang kau baru memperhatikanku.* gerutunya sambil melotot tajam pada kekasihnya.

Chanyeol yang memang tidak tahu mengapa Taeyeon berubah menjadi pendiam dan kini melotot padanya, semakin heran.

“jagi..” Chanyeol berusaha menyentuh tangannya tapi Taeyeon yang sudah kesal, menepis tangannya kemudian membuang mukanya.

“jangan jagi-jagi padaku.”

Senyum Chanyeol menghilang. “ada apa jagi? Apa kau marah padaku?”

*pergi sana. Habiskan waktumu bersama para modelmu dan jangan pedulikan aku!* Taeyeon mendongkol dalam hati. dia kesal, sangat kesal. tampang tak berdosa Chanyeol padanya membuatnya semakin kesal juga merasa bersalah. kalau sudah seperti ini, dia balik menanyakan pada dirinya, mengapa ia setuju menemani Chanyeol di sini?

Chanyeol masih berusaha membujuk Taeyeon ketika tiba-tiba dari arah pintu, seorang gadis yang begitu familiar masuk ke dalam. Taeyeon ikut melihat ke arahnya dan seketika ia terkejut. Tiffany berjalan ke arah mereka. tidak sepertinya, Chanyeol hanya mengerutkan keningnya. kelihatan biasa saja menanggapi keberadaan Tiffany.

“apa yang kau lakukan disini?” geram Taeyeon.

Tiffany tersenyum seolah mengejeknya. “kau lupa? Aku model disini dan Chanyeol adalah fotograferku.”

“aku bukan hanya fotografermu.” Chanyeol dengan tegas membantahnya. Dia tak suka keberadaan Tiffany karena itu akan membuat Taeyeon kesal.

Tiffany memutar bola matanya. “terserahlah.” Ujarnya kemudian berlalu pergi.

Taeyeon mengepal kedua tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras. Dia tak suka berada satu ruangan dengan Tiffany. Dia membenci gadis itu. ralat, mereka memang saling membenci. Suasana hatinya yang buruk kini semakin memburuk dengan kehadiran Tiffany. Seperti yang di katakannya, Tiffany adalah seorang model. Di sudut sana, sekitar tiga orang staf sedang mengelilinginya.

Taeyeon mendadak terpaku di tempatnya, Chanyeol tiba-tiba saja memeluknya. Dia bisa merasakan bagaimana orang-orang di sekitar mereka, tentunya juga Tiffany melihat mereka berdua.

“C-Chanyeol..” Taeyeon tersipu malu hingga tak bisa berkata apa-apa.

Chanyeol melepaskan pelukannya dan menyandarkan keningnya. dia tersenyum mengelus pipi Taeyeon dengan lembut. “jangan biarkan gadis seperti Tiffany membuat suasana hatimu buruk jagi. Aku tidak akan membiarkan Tiffany melukaimu lagi.” ucapnya tulus.

Taeyeon perlahan luluh. Dia tersentuh mendengarnya. Kecemburuannya tadi seketika menghilang hanya dengan kalimat Chanyeol. Taeyeon mengangguk kemudian tersenyum. Chanyeol pun ikut tersenyum.

“aku akan kembali bekerja. setengah jam lagi, aku akan kembali jadi milikmu sepenuhnya.”

Taeyeon mengerjapkan matanya, Chanyeol hanya tertawa ringan. “aku tahu jagi, kau cemburu pada model-model itu.”

Wajah Taeyeon langsung merah padam. “m-mwo? S-siapa yang cemburu, aku tidak.” ujarnya membela diri.

Chanyeol memicingkan matanya, “benarkah?” godanya.

“y-ya!” Taeyeon memukul dadanya, tapi Chanyeol makin tersenyum lebar.

Taeyeon tersenyum malu. dia tidak ingin melihat sekelilingnya karena ia bisa merasakan tatapan tajam para model itu termasuk Tiffany di belakangnya. Chanyeol kemudian menciumnya dan ia dengan senang hati membalasnya.

“aku akan segera kembali. Aku mencintaimu.” Chanyeol mengucapkannya lagi.

“aku juga mencintaimu.” Bisiknya.

Chanyeol tersenyum, sebelum kembali bekerja, ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Taeyeon. Taeyeon tersenyum cerah sebelum kemudian tersenyum sinis pada beberapa pasang mata yang memandangnya dengan pandangan tidak suka.

*hah! Chanyeol adalah milikku.*

Beberapa menit kemudian berlalu..

Taeyeon menggertakkan giginya dengan geram melihat pemandangan di depannya. sedikit lagi, dia hampir meledak. Sejak tadi Tiffany sungguh-sungguh melatih kesabarannya. Gadis itu sengaja mendekati Chanyeol dan berbicara dengan santai dengannya. Chanyeol yang kelihatan tidak keberatan membuatnya semakin kesal. yang tidak di tahu oleh Taeyeon bahwa Chanyeol sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk mengabaikan gadis itu. tapi sepertinya memang Tiffany yang sengaja ingin membuat Taeyeon kesal. dia melakukan segala hal, menyentuh Chanyeol dan sengaja menempel pada pria itu. karena dia adalah salah satu model yang terbaik, Chanyeol tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

“Tiffany!” seru Chanyeol hampir frustasi. Sikap Tiffany membuatnya tidak nyaman ditambah lagi dengan Taeyeon yang sejak tadi melayangkan tatapan tajam ke arahnya. dia sungguh tidak ingin membuat Taeyeon marah padanya.

Tiffany tersentak namun kemudian tersenyum dengan tanpa merasa bersalah.

“kenapa? jadi sekarang kau marah padaku hm?”

Chanyeol memejamkan matanya berusaha mengontrol emosinya. “jaga sikapmu Tiffany.” Geramnya.

Tiffany melirik ke tempat Taeyeon dan tersenyum puas melihat wajah Taeyeon yang merah padam karena marah.

“aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini. jika kau ingin membuat Taeyeon marah, sebaiknya hentikan sekarang. kau sudah membuatnya terluka lebih dari cukup.” Chanyeol menatap lurus padanya.

Tiffany mengangkat bahunya dengan cuek dan tersenyum kembali memperlihatkan eye smilenya.

“katakan padaku..” Tiffany berujar dramatis, “apa dia tahu kalau aku dulu menyukaimu?” tanyanya dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin.

Chanyeol membeku di tempatnya. dia menatap Tiffany tak percaya. sebenarnya apa yang Tiffany rencanakan dengan menanyakan hal itu padanya?

“lihat..kau sama sekali tidak bisa menjawabnya, berarti Taeyeon memang belum tahu apa-apa tentang ki-“

Belum habis kalimatnya, Chanyeol tiba-tiba mencengkeram lengannya dengan kuat membuat memekik karena terkejut.

“sekali lagi kau mengungkit hal itu, aku tidak akan segan lagi padamu.”

Tiffany gugup. Chanyeol yang menatapnya dengan tatapan yang tajam, menyiratkan kemarahan yang sudah siap meledak membuatnya takut. tapi Tiffany masih keras kepala. Semakin Chanyeol membela Taeyeon, semakin ia membenci gadis itu dan ingin menghancurkannya.

“Chanyeol kau menyakitiku!” Tiffany berusaha melepaskan dirinya tapi cengkraman Chanyeol terlalu kuat.

Mengabaikan pandangan orang-orang di sekitar mereka termasuk Taeyeon, Chanyeol menarik Tiffany pergi dari tempat itu. Taeyeon tercengang, dia hampir tak percaya kalau Chanyeol baru saja menarik Tiffany pergi bersamanya. matanya memanas, hatinya tiba-tiba terasa berat. Ia cemburu. Seperti ribuan pisau yang menusuk jantungnya, semuanya menjadi tidak menarik lagi dan akhirnya, dengan susah payah ia menyeret kakinya keluar dari tempat itu.

Setelah berada diluar, Chanyeol langsung menghempaskan Tiffany dengan kasar.

“apa maksudmu mengungkit semua itu?!” Chanyeol berseru keras. dia mendengus kasar sembari kedua tangannya menarik rambutnya dengan frustasi.

Tiffany tidak tinggal diam. dia tidak menyukai perlakuan Chanyeol padanya.

“memangnya kenapa kalau aku mengungkitnya?!” teriaknya.

Wajah Chanyeol mengeras, kedua tangannya mengepal kuat. “jangan membuatku membencimu Tiffany. Kau tahu semua yang terjadi itu adalah kesalahan dan kita sudah sepakat untuk melupakannya.”

Tiffany sontak memeluknya. “kenapa? aku menyukaimu Chanyeol dan sampai saat ini pun aku masih menyukaimu.”

Chanyeol menggeleng melepaskan Tiffany darinya. “aku menyukai Taeyeon. hanya dia satu-satunya gadis yang kucintai. Sekarang dan selamanya akan tetap seperti itu.”

Mata Tiffany berkaca-kaca dan sedetik kemudian, air matanya mengalir membasahi pipinya. “kenapa kau juga seperti ini padaku? Suho meninggalkanku demi gadis itu dan sekarang kau juga begitu. Apa kelebihan gadis itu yang tidak ada pada diriku!”

Chanyeol tersenyum tipis. “kau tidak perlu menjadi seperti dirinya karena dia tidak sama sepertimu.”

“kau jahat!!” jerit Tiffany tak terkontrol. Chanyeol berbalik pergi. “apa kau juga tidak ingin menceritakannya tentang apa yang terjadi pada malam itu?”

Langkah Chanyeol seketika terhenti. dia menoleh dan Tiffany bisa melihat Chanyeol yang tiba-tiba berubah pucat. Matanya menyiratkan ketakutan yang sangat. Tiffany menyunggingkan smirk, dalam hatinya puas melihat reaksi Chanyeol.

“di lihat dari ekspresimu, kau pasti takut Taeyeon mengetahuinya bukan?”

Tangan Chanyeol makin mengepal. Dia tidak bisa membiarkan Tiffany mengontrol perasaannya.

“hubungan kita tidak seperti itu dan kau sangat tahu itu jadi, berhentilah membangun asumsi yang berlebihan Tiffany.” Ujar Chanyeol dingin.

Tiffany terpaku menatap kepergian Chanyeol.

– – –

Chanyeol berusaha menghubungi nomor Taeyeon tapi sepertinya gadis itu sengaja menon-aktifkan ponselnya. berapa kalipun dia menelpon, panggilannya selalu masuk di pesan suara. Chanyeol semakin frustasi, dia menyadari kesalahannya yang meninggalkan Taeyeon begitu saja tanpa penjelasan. Pastilah gadis itu salah paham padanya. sepanjang malam Chanyeol terus mencoba menelpon tapi hasilnya tetap sama.

Sementara itu, di kamarnya, Taeyeon tidak bisa tidur. Sudah tak terhitung berapa kali ia melirik ponselnya dan berperang dengan batinnya, haruskah dia mengaktifkan kembali ponselnya atau tidak? dan pada akhirnya, dia memilih untuk membiarkannya saja. dia terluka, tentu saja. tapi bukan hanya itu. berbagai macam pertanyaan muncul dalam benaknya. Mengapa Chanyeol dan Tiffany bersikap seperti itu? apa yang mereka bicarakan hingga harus pergi dari tempat itu? dan berbagai macam pertanyaan lainnya. Hubungan mereka yang baru terjalin, mungkinkah akan selesai begitu saja? Taeyeon sedang tidak ingin memikirkannya.

 

***

Taeyeon sengaja menghindari Chanyeol. begitulah yang terjadi di kampus hari ini. dari kejauhan ia sudah melihat Chanyeol mencarinya dan yang ia lakukan adalah bersembunyi. Tapi ada saatnya, ia harus menyerah karena Chanyeol akhirnya menemukannya.

“jagi..maafkan aku..” entah sudah berapa kali Chanyeol meminta maaf dan mencoba membuat Taeyeon berbicara padanya tapi yang ada gadis itu malah memalingkan mukanya, tak ingin menatapnya.

“aku harus berbuat apa agar kau bisa memaafkanku?” sekali lagi Chanyeol memohon. kedua tangannya kini menggenggam tangan Taeyeon. Dia berharap Taeyeon mau berbicara dengannya. kediaman gadis itu membuatnya gelisah.

“kau meninggalkanku begitu saja.”

“aku tahu. aku minta maaf jagi.”

“kau pergi bersama Tiffany.”

“aku hanya membicarakan sesuatu dengannya. saat aku kembali kau sudah tidak berada disana.”

Taeyeon akhirnya menatapnya. Chanyeol bisa melihat betapa terlukanya Taeyeon dan ia sangat menyesal.

“aku sungguh menyesal jagi, maafkan aku..” suara Chanyeol memelan. Dia sungguh-sungguh menyesal.

“untuk apa sekarang kau meminta maaf? Kau membiarkanku sendirian seperti orang bodoh disana!” Taeyeon tiba-tiba meninggikan suaranya. Chanyeol membungkam dan hanya bisa menundukkan kepalanya. semua ini memang salahnya. Andai saja dia tidak menyeret Tiffany keluar, andai saja dia tak mengajak Taeyeon ke studio hingga gadis itu tak perlu merasa kesal, andai saja ia segera menyelesaikan pekerjaannya, andai saja…terlalu banyak yang di sesalinya.

“kau menyakitiku..” Taeyeon berujar lirih. air mata yang sejak tadi berdesakan keluar, kini turun membasahi pipinya. dia marah sekali tapi di lain pihak ia juga tidak tega terus menerus memarahi Chanyeol. Chanyeol dan Tiffany sudah saling mengenal sebelum ia bertemu mereka jadi wajar jika mereka bersikap seperti kemarin.  Kenapa dia baru merasa cemburu sekarang?

Chanyeol tersentak. dia tak pernah berniat untuk menyakiti Taeyeon apalagi sampai membuatnya menangis.

“jagi maafkan aku..” ucapnya tulus. Dia mengusap air mata di pipi Taeyeon lalu menariknya ke dalam pelukannya. Taeyeon tak memberontak.

Chanyeol terluka. dia ingin memukul dirinya sendiri karena melihat Taeyeon menangis karenanya. *dasar bodoh! Kau membuatnya menangis Chanyeol! kau benar-benar brengsek!* rutuknya pada dirinya. Chanyeol melihat ke bawah, seketika pandangannya berubah teduh. Taeyeon masih terisak di pelukannya. tangannya terangkat mengusap rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang. Dia sungguh mencintainya. Sangat. Namun, ada satu hal yang membuatnya tak bisa memaafkan dirinya sendiri yaitu tidak berterus terang pada Taeyeon. ucapan Tiffany selalu tengiang-ngiang di telinganya. Sejak kemarin, kalimat itu sudah menjadi mimpi buruknya. Dia takut menyakiti Taeyeon tapi dia lebih takut jika Tiffany…

Chanyeol menggeleng. Dia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika Taeyeon mengetahui hal yang di sembunyikannya. Dia tidak bermaksud untuk tidak mengatakannya tapi dia tak tahu kapan dan bagaimana harus mengatakannya pada Taeyeon. kini tinggal waktu, cepat atau lambat Taeyeon pasti akan tahu atau mungkin jika dia beruntung, Taeyeon tak akan pernah tahu. Chanyeol menyesal menuruti keadaan, dia terlalu terbawa suasana hingga melupakan semuanya. saat itu, pikirannya hanya di penuhi Taeyeon hingga dia tak sadar kalau Tiffany memanfaatkan kelemahannya.

Taeyeon mengangkat kepalanya. Chanyeol masih dalam lamunannya hingga tak menyadari kalau saat ini Taeyeon tengah melihatnya dengan heran.

“Chanyeol..” panggilnya.

Chanyeol tersentak kemudian menatapnya. “ya jagi?” dia tersenyum menangkup wajah Taeyeon.

Taeyeon ingin bertanya mengapa kekasihnya itu melamun tapi niatnya di urungkan.

“jangan lakukan itu lagi. jangan menyakitiku.” Pintanya.

Chanyeol tersenyum, tapi tidak ada yang tahu di balik senyumannya itu, hatinya hancur. Taeyeon begitu mempercayainya dan menaruh harapan padanya. dia semakin takut akan menyakiti gadis itu.

“aku tidak akan menyakitimu jagi. Tidak akan pernah.” Janjinya. Chanyeol bersungguh-sungguh dalam hati. dia akan berusaha menepati janjinya apapun yang terjadi.

Taeyeon perlahan-lahan tersenyum. Chanyeol mengusap sisa air mata di pipinya kemudian menurunkan wajahnya, memberikan ciuman manis yang panjang di bibirnya.

 

To be continued…

 

How is it? Kalian menyukainya? or ?

Terlalu banyak kissing-nya, I know. Sengaja. ~kekeke.

Well untuk kisah cinta mereka, aku membuatnya berbeda dari yang ffku yang lain. kisah mereka tidak akan sesempurna kelihatannya. Satu hal yang ku minta dari kalian, tolong jangan men-judge Tiffany or Suho disini. Cukup kalian mendalami saja karakternya tapi tidak membenci mereka.

—> RYN

58 thoughts on “[Freelance] story of Exotaeng : Be Mine ( Chapter 3 )

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s