G-A-M-E-O-V-E-R (Chapter 4)

gameover1(ladyoong's created)

JESSIE KIM

PROUDLY PRESENT

 

.

.

 

“Apa kalian setuju?” tawar Jongin.

Hyoyeon menatap lelaki itu dengan mantap, “tentu, aku ikut.”

Lelaki hitam itu mengarahkan pandangannya kearah Jessica, “bagaimana denganmu?”

Jessica menarik nafas sebelum tertawa dengan hambar, “Keh, untuk apa kau bertanya, huh?” alisnya tertarik keatas sebelum menyunggingkan seringainya, “tentu, aku juga ikut.”

Hyoyeon yang mendengarnya segera mengalihkan pandangannya kearah Jessica. Bukankah wanita itu tadi menolaknya?

Jessica yang menyadari tatapan Hyoyeon juga berbalik menatap wanita itu. Sebuah senyuman terlukis di wajah cantiknya, “kita partner, kan?”

Pertanyaan retoris yang membuat Hyoyeon ikut menyunggingkan senyumannya.

 

 

 

 

With Hyoyeon, Jessica and  Kim Jongin as a main cast

Check the new cast out as a main cast too

With action and friendship

(poster by Ladyoong at HSG)

.

.

.

.

“I found him, Miss,”

Seorang ahli pelacak membuat Tiffany langsung mengalihkan perhatiannya kearah pria tersebut, mengacuhkan kertas-kertas yang sedang ia perhatikan sebelumnya, “show me,”

Si ahli pelacak langsung menekan beberapa tombol di keyboardnya yang mengartikan kode-kode biner. Tak berapa lama kemudian layar besar berukuran hampir menutupi tembok dibelakangnya menampilkan gambar tata letak suatu negara dengan titik berwarna merah yang terus berkedip-kedip. Ada angka-angka di sisi layar yang menunjukkan seberapa jauh target dari letak mereka berada saat ini, “it is located in the southwest, Republic of Korea,”

Mata Tiffany menyipit lebih tajam, “zoom it.”

Satu tombol di tekan membuat layar mengekspos tata jalan lebih jelas, “Seoul, Yonsei University, Miss.”

Tiffany menyeringai. Mendapatkan mangsanya ternyata tidak sesulit seperti yang dibayangkan. Belum ada sehari dan dia sudah menemukan dimana letak tikus pembuat masalah itu. Is now my lucky day, huh?

Track and find out more precisely where he is!” ahli pelacak tersebut langsung mengangguk dan secepat kilat mencoba melacak targetnya, “make sure he doesn’t know what we’ll do.” lanjut Tiffany sambil mengaktifkan alat komunikasinya yang terpasang di telinga.

“Aku sudah menemukannya. Universitas Yonsei.” Kata Tiffany to the point kepada orang yang terhubung dengannya.

“Aku mengerti.” Jawab suara diseberang yang terhubung ke Tiffany.

“Jangan bergerak tanpa aba-aba dariku.”

“Kau tak perlu khawatir, Tiff,”

“Ah, satu lagi,” tanpa Tiffany bisa ketahui lawan bicaranya mengangkat alisnya, “pastikan sekarang tikus itu benar-benar masuk ke dalam kandangnya.” Seringai kembali terukir di wajah cantik wanita berambut merah itu.

Dan bunyi tut mengakhiri percakapan singkat Tiffany dengan lawan bicaranya yang berada di negara yang berbeda itu.

Kali ini ia tak boleh gagal. Jika kali ini gagal, maka ia pastikan bukan hanya dia seorang yang akan menanggung akibatnya.

.

.

.

Jessica menghembuskan nafasnya kasar lalu berjalan kearah sebuah lemari di dalam sebuah ruang tidur dan membukanya. Ada tumpukan pakaian, sepatu dan sebuah koper yang berada di dasar lemari, “Demi Tuhan! Aku tak percaya akan membuka tempat ini lagi!” ucapnya sambil menatap kesal kearah Hyoyeon–yang ditatap hanya melihat dengan tatapan polos tak berdosa.

“Kalian tak pernah membuka…lemari?” tanya Jongin dengan sebelah alis yang terangkat. Bagaimana pun akan terasa aneh bila seseorang tak pernah membuka sebuah…lemari? What a funny joke!

Hyoyeon menatap kearah Jongin, “itu bukan lemari biasa. Karena bentuk dan modelnya mirip dengan yang asrama sediakan maka kami menukarnya Tak ada orang yang tahu. Tak ada yang curiga.”

Ah, Jongin mengerti.

Jessica meraba-raba sesuatu di balik pakaian yang di gantung di dalamnya. Ketika tangannya merasakan sebuah benda kecil yang menempel di dinding belakang lemari, ia tersenyum, “I got it.” Dan langsung menekan tombol tersebut.

Sekarang Jongin mengerti kenapa kedua gadis itu menukar lemari yang disediakan asrama dengan yang mereka miliki. Lemari itu memang terlihat biasa pada awalnya tapi setelah tombol tersembunyi yang berada di dalamnya di tekan, terjadi perubahan. Sekat-sekat yang ada di lemari tiba-tiba melipat dan masuk kedalam sisi-sisi lemari. Lalu dinding belakang lemari maju dan memutar balik arah kebelakang, membuat baju-baju tergantikan dengan alat-alat dan juga senjata khusus yang di letakkan di dinding tersebut. Dan sentuhan keterakhir, dinding tersebut mundur kembali dan kembali berada di posisi awalnya.

Sekarang lemari yang asalnya berisikan baju-baju mereka berubah menjadi lemari dengan alat-alat agen yang terpasang rapih disana.

Hyoyeon maju dan menatap peralatan yang terpasang rapih disana lalu mengelusnya, “sudah lama sekali sejak terakhir kali kita menggunakannya.”

“Aku bahkan berharap kita tak menggunakannya lagi.” Jessica sudah berdiri di samping Hyoyeon, ikut menatap benda-benda yang ada di hadapannya.

“Kenapa kalian masih menyimpan ini semua?”

Satu pertanyaan dari Jongin membuat bibir mereka kelu.Kenapa? Entahlah. Sebuah kewajiban, mungkin?

Memilih untuk tak menjawabnya, Jessica mengambil sebuah ransel berwarna hitam yang tergantung di lemari tersebut. Lalu memasukkan alat-alat yang berada di hadapannya ke dalamnya. Ransel itu memang berukuran sedang–cenderung kecil malah–tapi meski dimasukkan oleh alat-alat yang bisa dibilang besar tak ada perubahan sama sekali dari ukuran ransel tersebut.

Jongin mencoba menyentuh sebuah alat yang menarik perhatiannya, sebuah kamera yang berukuran sebesar biji jeruk dan ada antenna kecil diatasnya, saat tiba-tiba sebuah tangan menahan tangannya, “tak ada yang mengijinkanmu menyentuhnya,” Jessica dengan tatapan tajamnya kembali mengarah kearah Jongin.

Jongin mengangkat sebelah alisnya, “kukira kita bekerja sama?”

“Ya. Kau hanya sebatas penunjuk jalan.” Kini Hyoyeon yang bersuara membuat Jongin menghembuskan nafasnya kesal. Jadi maksudnya ia hanya sebagai penunjuk arah ke orang yang mereka tuju? Hell!

Tiba-tiba perasaan itu kembali lagi, membuat Hyoyeon memicingkan matanya tiba-tiba. Perasaan saat seseorang mengawasimu. Jessica yang merasakan perubahannya, langsung menghentikan kegiatannya dan memandang Hyoyeon yang mulai berjalan kearah jendela yang terletak di kamar tersebut, “ada apa?” tanyanya.

Hyoyeon tak langsung menjawab. Ia membuka sedikit tirai tipis yang menutupi jendela tersebut dan langsung terhampar pemandangan jalanan sepi dan deretan toko diseberangnya, letak asrama mereka yang memang berada di lantai satu memberikan akses mudah mereka untuk langsung melihat kearah jalanan.

Tak ada yang aneh. Semuanya normal. Jalan yang tidak terlalu sepi dengan beberapa orang yang berjalan di sana lalu toko-toko yang berada di seberangnya. Saat hendak menutup kembali tirai tersebut–mengabaikan perasaan curiganya–ia tersadar ada sesuatu yang ganjil. Sedetik kemudian pandangannya beralih kearah seorang nenek yang duduk di dekat jendela kafe yang berhadapan langsung dengan kamar asramanya yang terlihat sedang menelepon seseorang.

Bukan si nenek lebih tepatnya tetapi benda yang di genggamnya. Telepon dengan sebuah antenna diatasnya. Bukan karena Hyoyeon menyukai benda yang berbau kuno tapi ada yang aneh dari benda itu.

Dan setelah itu, ia mengutuk dirinya sendiri yang terlambat menyadari hal itu. Tak ada handphone dengan antenna yang diproduksi lagi pada zaman seperti ini. Itu bukan handphone tapi alat pelacak dengan pengintai!

Shit!” Hyoyeon mengumpat sambil kembali berjalan cepat kearah Jessica dan Jongin.

“Ada apa?” kata Jongin.

Mereka mengetahui keberadaanmu. Dan sekarang mereka juga mengetahui keberadaan kami.” Jawab Hyoyeon.

Jessica yang mendengarnya langsung mempercepat kegiatannya untuk membereskan alat-alat tersebut, “lihat akibat kau disini!”

“Ini bahkan belum sehari!” Jongin membela diri.

“Kau yakin kau tak diikuti siapapun saat berjalan kearah lingkungan asrama ini?” tanya Hyoyeon. Ia sendiri pun yakin bahwa tak ada seorang pun yang mengamatinya saat ia membawa Jongin ke kamar asrama mereka. Hari masih terlalu pagi saat ia membawa lelaki tersebut.

Jongin mengangguk. Sepintas sebuah ide terlintas dikepalanya.

Lelaki itu berjalan kearah sofa tempatnya ia tidak sadarkan diri tadi, mengambil jaket hitam dengan hoodie miliknya dan kembali lagi ke tempat ia berdiri tadi, “Kita akan keluar dari sini sebelum mereka menyadarinya. Aku bisa memakai jaket ini–“

“Jangan!” Jessica menahannya, “terlalu beresiko menggunakan jaket yang kau pakai saat berhadapan dengan mereka. Mereka pasti mengenalimu.”

Benar juga.

Hyoyeon mengambil sesuatu dari gantungan pakaian di kamar tersebut, “aku punya ide.”

.

.

.

Jongin menatap tak percaya dengan apa yang dua wanita itu lakukan pada dirinya. Ia mengerti menyembunyikan identitasnya saat ini adalah penting. Hanya saja, kenapa harus begini?! Kenapa ia harus didandani dengan mantel pink wanita dan sebuah scarf motif harimau yang dilitkan di sekitar mulutnya?! Hell!

“Kalian seharusnya menyembunyikan identitasku bukan menjadikanku sebagai badut percobaan.” Ucap Jongin dengan nada kesal pada dua wanita yang juga sedang menyamarkan diri mereka tanpa membuat curiga. Jessica memakai masker dan sebuah coat hitam sedangkan Hyoyeon memakai topi dan kacamata berwarna hitamya juga sebuah sweater berwarna gelap, “kenapa penampilan kalian lebih baik dariku?!” lanjut Jongin lebih kesal.

Hyoyeon menoleh, “Hey, hitam!” oke, Jongin cukup tersinggung dengan panggilan ini, “berpikirlah. Tak ada lelaki yang keluar dari lingkungan asrama wanita. Kita akan menarik lebih banyak perhatian kalau seperti itu.” Lanjutnya.

Oh, benar juga

Jongin menarik nafas. Baiklah, sepertinya ia harus menuruti kemauan kedua wanita ini.

Jessica siap dengan sebuah ransel di gendongannya. Hyoyeon dan Jongin juga membawa sebuah kantung kecil di pinggang mereka yang tersamarkan di balik baju dan mantel. Ada sebuah revolver dengan peluru sedang di dalamnya. Dan masing-masing dari mereka juga memakai earphone untuk berkomunikasi satu sama lain–rencananya mereka tidak akan berjalan dengan berdekatan agar tidak terlalu menarik perhatian.

Hyoyeon menarik nafas. Sekilas dirinya merasa tidak asing dengan semua ini. Ia menatap Jessica kemudian beralih kearah Jongin–yang balik menatapnya dengan pandangan fokus, “baiklah, begini rencananya,”

.

.

.

Hyoyeon melangkah sendiri keluar dari gedung asramanya dengan langkah biasa. Tugasnya adalah memastikan bahwa keadaan diluar cukup aman sampai mereka berhasil naik kedalam sebuah taksi untuk kabur dari para pengintai. Beruntung, keadaan asrama sangat sepi ketika ia keluar–entah karena akhir minggu.

Wanita itu menekan sebuah tombol di earphone-nya yang tersembunyi di balik topi dan kacamatanya, “semua aman. Jaga jarak kalian dua meter dariku.”

Sesaat kemudian, dua orang keluar dari gerbang asrama. Tak ada yang menaruh curiga pada orang yang berjalan bersama Jessica saat mereka keluar karena memang biasanya ada keluarga yang berkunjung ke asrama. Jessica menarik pergelangan tangan Jongin ketika lelaki itu sedikit limbung darinya, “tetap dekat denganku. Jangan menarik perhatian seperti apapun.”

Jessica dan Jongin berada sekitar dua meter di belakang Hyoyeon yang berpura-pura sibuk mengecek jam tangannya. Beberapa orang yang mengenalnya, berhenti sejenak untuk menyapanya yang dibalas oleh senyuman begitupun Jessica, namun tak ada satupun yang menanyakan siapa orang yang berjalan bersama Jessica.

Ketika mereka berada di pinggir jalan yang bersebrangan dengan kafe tadi, Hyoyeon melirikkan matanya sedikit kearah jendela kafe tersebut. Nenek yang tadi ia lihat masih berada disana–tetap dengan sebuah benda berantena di genggaman dekat telinganya. Hanya saja ada yang aneh dengan nenek itu. Ekspresinya. Wanita tua itu terlihat seperti…ketakutan? Detik itu juga ia menyadari suatu hal.

Jessica yang menyadari sikap Hyoyeon langsung menghubungkan earphone mereka, “ada apa?” lalu arah pandangannya menatap ke direksi yang sempat Hyoyeon perhatikan. Jessica mengangkat alisnya ketika melihat nenek yang sedang menelepon.

“Tetap jalan ke persimpangan depan. Ada hal lain yang harus kulakukan,” dan setelah itu Hyoyeon langsung melesat kedalam kafe tersebut.

Jessica dan Jongin terus berjalan sampai melewati kafe tersebut. Wanita itu terus memikirkan apa yang dipikirkan Hyoyeon ketika tiba-tiba ia mengingat ada sesuatu yang ganjil dengan nenek tadi. Matanya membulat ketika menyadari suatu hal.

Baru saja ia akan berbalik ketika sebuah suara tembakan terdengar dari arah belakang mereka. Secepat kilat, kedua orang tersebut langsung berlari menerjang orang-orang yang kaget dengan tembakan tersebut dan membaur diantara mereka. Menyamarkan diri.

“Tetap dekat denganku.” Kata Jessica sambil menarik lengan Jongin.

.

.

.

Hyoyeon memasuki kafe tersebut setenang mungkin, memastikan dirinya tidak menarik banyak perhatian. Pandangannya lalu beralih kearah nenek yang berada dekat jendela lalu mendekatinya.

Annyeong, halmeoni! Lama tidak berjumpa, ne?”

Hyoyeon bisa melihat dengan jelas wajah bingung sekaligus kaget dari nenek tersebut. Ia tersenyum lalu menarik kursi di hadapannya. Mendekatkan dirinya kepada nenek itu lalu berbisik, “apa yang mereka suruh padamu?” tanyanya to the point.

Wanita tua tersebut membalas dengan suara bisikan, “tolong aku,” lalu melirik kesebuah direksi. Hyoyeon mengikuti arah lirikannya dan melihat seorang lelaki yang terus melirik kearah mereka meski ia sedang sibuk dengan tablet ditangannya. Ah! Jadi dia pengintainya?

“Orang itu memaksaku.” Jawab si nenek dengan nada bergetar.

Sekali lihat Hyoyeon tahu benda apa itu. Benda yang serupa dengan handphone itu adalah pengintai sekaligus pelacak. Mereka pasti mengetahui dimana Jongin dengan benda itu, hanya saja bagaimana caranya. Sedetik kemudian ia sadar sebuah kesalahan sepele membuat mereka akhirnya terlacak. Handphone Jongin.

“Ikuti kataku jika halmeoni ingin selamat.”

“Ta-tapi benda ini–“

“Berpura-puralah tak tahu.” Kafe ini cukup ramai. Jika ia membawa nenek itu keluar, pengintai tersebut pasti tak akan langsung menunjukkan reaksi yang menarik banyak perhatian.

Nenek itu menaruh benda yang mirip handphone tersebut di mejanya.

Hyoyeon bangkit dari duduknya lalu menarik tangan nenek itu, “Ayo, halmeoni! Umma memasak banyak makanan.” Nada bicaranya dibuat senormal mungkin agar orang-orang tak curiga.

“N-ne,”

Ketika mereka keluar dari kafe tersebut, Hyoyeon bisa merasakan lelaki itu mengikuti mereka, semakin cepat.

Ketika mereka bertambah cepat bahkan sampai berlari, si pengintai langsung mengeluarkan sebuah revolver dan mengarahkannya kearah Hyoyeon. Beruntung, ia melirik sedikit kearah belakang sebelumnya lalu dengan cepat mendorong diri dan nenek itu ke sebuah gang kumuh. Suara tembakan menggema.

Dan banyak teriakan yang terdengar.

Halmeoni, tetaplah disini dan jangan bersuara.” Ditekannya tombol earphone-nya, “dimana kalian?”

Dengan cepat wanita itu mengeluarkan sebuah revolver dari kantungnya dan mendekat kearah bibir gang.

.

.

.

“Dimana kalian?”

“Mencoba berlindung,” jawab Jongin pada sebuah suara di earphone-nya dengan sebuah bisikan.

Ia dan Jessica sekarang berada di balik tembok sebuah toko. Beberapa warga juga sama dengan mereka, berlindung di balik tembok setelah tembakan tadi.

“Jongin, matikan handphonemu sekarang. Mereka sudah melacak kita.”

DEG!

Jongin baru menyadarinya. Ia memaki dalam hati. Kenapa malam itu–saat ia berhasil kabur dari gerombolan yang mengejarnya–ia lupa mematikan handphonenya?! Shit!

Jessica memelotot kearah Jongin, “bagaimana mungkin kau–“

DOR!

Jongin mendorong tubuh seorang lelaki yang hampir terkena tembakan tadi. Ia memelotot. Jarak dirinya dengan lelaki itu cukup dekat. Targetnya pasti dia tadi.

Setelahnya Jongin berdiri berpunggungan dengan Jessica dan berlindung di bibir tembok yang satunya, menarik revolver sambil menghitung jumlah sniper yang bisa ia lihat. Helaan nafas terdengar..

Jessica mengeluarkan revolver dari kantungnya, mengabaikan pekikan kaget dari beberapa warga, lalu mendekat ke bibir tembok. Ada seorang sniper di atas gedung yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, menyiapkan peluru lalu menekan tombol earphone-nya, “I’m sorry, Hyo. We’re busy now.”

Ini tak akan sebentar

.

.

.

.

“I’m sorry, Hyo. We’re busy now.” Kata terakhir yang Hyoyeon dengar sebelum sambungan mereka terputus.

Wanita itu menarik nafas, menyiapkan revolvernya, mengabaikan tatapan ketakutan dari nenek yang tadi ia tolong.

Ia berdiri dekat dengan bibir tembok lalu mengarahkan revolvernya pada targetnya, mengakuratkan bidikannya.

Ini adalah pertama kalinya ia kembali memegang revolvernya setelah sekian lama sejak kejadian itu.

Berkosentrasi lalu menarik nafas.

DOR!

.

.

.

“Aku harus menghubungi seseorang yang bisa membantu kita!” mereka mencoba berlindung dari tembakan dibalik tembok salah satu toko. Suara teriakan warga membuat ia harus berteriak untuk berbicara meski mereka saling berpunggungan.

Jessica langsung mengeluarkan smartphonenya dari kantung jaketnya dan memberikannya kepada Jongin. Memakai ponsel Jongin saat seperti ini sangatlah berbahaya, gerombolan itu mungkin sudah mengawasi ponselnya dan bisa melacaknya kapan saja. Untunglah Jessica ingat untuk membawa benda penting tersebut. Ia menghela nafas saat sadar mungkin setelah ini ia harus membuang smartphonenya ke sungai dan menggantinya dengan yang baru.

Jongin menyentuh beberapa angka di layar dan langsung menempelkannya di telinga kanannya. Nada tunggu yang cukup lama membuatnya memaki orang yang seharusnya mengangkat telepon tersebut. Setelah terdengar empat kali sambungan, akhirnya digantikan dengan suara khas bangun tidur seorang lelaki di seberang telepon, “Halo?”

“Luhan, aku butuh bantuanmu. Sekarang!”

TBC

Such a long chapter haha :’) Hai. Ini update lagi. Kenapa saya memutuskan buat update lagi? Karena kemaren review dari reader ya cukup banyak dan bikin saya semangat buat update lagi:). Tapi msh ada kemungkinan saya berentiin kalo reviewnya bikin ga semangat. Chap ini panjang karena action udh mulai disini. Semoga kerasa ya:).

Read and review sangat diwajibkan^^

39 thoughts on “G-A-M-E-O-V-E-R (Chapter 4)

  1. maaf ya kak aku baru komen di part 4, soalnya kemarin waktu mau komen id ku error, jadi ngga bisa ngirim komen ㅠㅠ tapi aku dari awal suka banget sama genrenya apalagi main castnya hyosic, mendukung banget. sifatnya hyoyeon disini dewasa banget, dan kayaknya keren kalo bisa punya lemari yang isinya senjata-senjata gitu x) aku masih kurang jelas apa motif pelaku ngejar-ngejar kai, ada yang salah kah sama dia? bahkan sampai manfaatin nenek-nenek. ditunggu chapter selanjutnya. keep writing and fighting kak jessie!^^

  2. Wah…. ffnya daebak thor!! hehehehe ditunggu next chapternya sumpah ada Luhan Oppa ya seneng2 tambah penasaran!! Jjang thor…..🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s