[Freelance] Multichapter : Between Two Options (Chapter 12/END)

Between Two Options end

Title : Between Two Options

Author : Selvy

Length : Chapter

Rating : PG 17

Genre : Romance, Family, Comedi, Sad

Main Cast : Taeyeon

Sehun

Luhan

Kris

Other Cast :Siwon, Tiffany, Sunny, Yoona, Jessica, Yuri

Disclaimer : Tanda seperti ini ‘*****’ menandakan bahwa adegan itu bersamaan dengan adegan sebelumnyaJ. Mengerti readers? Ngerti dong kan readeresnya pinter- pinter #rayuanmaut #plak

. . . . . . . . . . . .

Entah berapa kali atau mungkin tak terhitung  lagi namja berwajah innocent itu mengelap tangannya pada saku celana jeans miliknya yang sudah basah karena air di tangan itu. Air mata yang memaksa keluar seolah menembus dua kaca hitam yang menutupi matanya.

Bagaikan angin tornado yang mengguncang hatinya karena bayangan pahit kisah cintanya yang berakhir sad ending itu.Tanpa cahaya, tanpa lampu, tanpa matahari, tanpa bulan, dan tanpa bintang semua menjadi gelap setidaknya itulah yang dapat menggambarkan suasana hatinya.

Tak bisa dipungkiri hatinya masih berharap, harapan yang masih tertumpu pada yeoja yang menjadi cinta pertamanya, yeoja cerdas, cantik, namun terlalu polos.Yeoja yang sangat mudah membuat orang jatuh cinta tetapi begitu gampang juga meninggalkan luka sayatan bagi orang yang mencintainya.

Ia mengambil nafas dalam kemudian membuangnya seperti membanting kekecewaan. Ia dari awal memang sudah siap dikecewekan dan siap memompa harapannya. Namun ia baru tahu bahwa rasa sakit karena cinta akan membuatnya benar- benar meringkuk dalam kegalauan.

Dengan pelan namja itu mengangkat kepalanya menatap langit agar air yang semenjak tadi berlinangan diwajahnya sedikit mengurang. Kemudian dengan besar hati ia kembali menatap batu nisan yang semenjak tadi tak bergeming sama sekali dihadapannya, “Mian eomma aku tak bisa mengabulkan permintaan eomma. Bukan karena aku tak mencintainya jujur aku sangat mencintainya namun hatinya bukan untukku” ia sedikit menarik air kental yang juga sudah mendesak keluar dari lubang pernafasannya.

Setelah sedikit menetralkan perasaannya ia kembali berucap dalam Suasana yang tiba- tiba mencekam, “Mungkin inilah ending dari segalanya eomma. Taeyeon harus menentukan pilihan yang sulit, bukan antara dua pria yang dicintainya. Namun antara seorang sahabat dan namjachingunya, aku tak mau memaksakan perasaannya eomma . . . . “

“Siapa bilang aku memaksakan perasaanku” suara lembut namun tegas muncul dari arah belakang yang membuat luhan namja itu menengok.

Luhan terpaku menatap senyuman di hadapannya. Kaca yang semenjak tadi menempel pada matanya akhirnya ia buka dan menampakkan iris matanya yang memerah. Deg .Pandangannya tak salah taeyeon ada dihadapannya dengan lambaian tangan khas miliknya.

Ia tak tahu apa maksudnya ini namun desakan dalam hatinya membuat ia sesak dan semakin sakit menatap yeoja yang sudah berusaha ia lupakan kembali muncul dihadapannya.

Seperti hati luhan tiba- tiba langit ikut menangis, kilatan dan gelegarnya suara petir menghiasi pertemuan dramatis itu.Pertemuan biasa namun dengan makna yang luar biasa untuk mereka saat ini.Hujan akhirnya bergemuruh dan membasahi tubuh dua sejoli itu membuat badan dan jantungnya seketika membeku.

“Kenapa kau diam?” ucap taeyeon merentangkan tangannya seolah menginginkan namja dihadapannya itu memeluknya dengan sangat erat di tengah hujan deras saat itu. Tak ada respondari luhan, ia hanya bengong dengan perasaan bingung. Namun ia terus menatap wajah polos dengan mata bening yang menatapnya dengan intens.

Walaupun agak kecewa dengan respon luhan taeyeon tetap tersenyum, perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati namja yang berdiri tegak dihadapannya. Waktu berjalan sangat lambat saat kaki mungil taeyeon membelah genangan air hujan di sekitar daerah pemakaman.

Kepalanya sedikit terangkat ketika sudah tepat berada di hadapanya luhan, “Kau terlalu sok tahu.Katanya kau tahu diriku lebih dari aku sendiri.Dan ternyata pendapatmu salah karena sekarang aku ada disini.Aku kembali untukmu. Untuk kita, untuk pernikahan kita”

Flashback

“Mian sehun tanpa sadar aku mencintai luhan, aku bahkan tak tahu kapan rasa ini melandaku yang jelas aku hanya tahu aku mencitainya” taeyeon menunduk dengan ekspresi sedikit merasa bersalah kepada namja jangkung yang sedang berdiri dan tersenyum ke arahnya.

Dengan tatapan dan senyuman yang terkesan sangat teduh namja itu mengangkat lembut dagu taeyeon, “Aku sudah memberimu pilihan jadi semua adalah hakmu untuk memilih.Taeyeon aku sangat mencintaimu namun ada seseorang yang mengatakan padaku bahwa ‘Cinta bukan sebuah paksaan tapi ketulusan, ketulusan yang dimaksud bukan hanya tulus mencintai seseorang dan menjaganya tapi juga tulus untuk melepasnya ketika ia mencintai namja selain kita.Itulah cinta yang sebenarnya’ dan aku ingin melakukan itu taeyeon.Biakan aku menunjukkan besarnya cintaku dengan ketulusan untuk melepasmu hidup bahagia bersamanya.meskipun mungkin akan sangat sakit tapi aku akan tulus melepasmu sebagai bukti cintaku”

“Hiks . . . hiks . . . hiks . . . .” Taeyeon semakin tertunduk sedih, sungguh hati nuraninya tak ingin menyakiti sehun namun ia juga tak bisa membohongi hati kecilnya yang selalu berkoar meneriakkan nama luhan.

Dekapan namja itu akhirnya ia dapatkan, taeyeon membalasnya dengan sangat erat, “Pergilah dengan cintamu dan aku akan menemukan cintaku juga. Aku janji akan menghadiri pernikahanmu dan luhan”

Taeyeon merenggangkan pelukannya, matanya yang sembab namun teduh memandang sehun yang tersenyum namun tak bisa menutupi raut wajahnya yang menunjukkan raut kekecewaan, “Gomawo sehun- ah” ucapnya tersenyum lalu dengan langkah lambat mulai membelakangi dan berjalan menjauh dari sehun.

Sekali lagi ia memalingkan pandangannya kebelakang terlihat dibelakang sana sehun melambaikan tangan sambil tersenyum lembut yang juga di balas oleh taeyeon.

Taeyeon telah hilang dari pelupuk matanya membuat perasaannya yang semenjak tadi tertahan tertumpah dengan nyamannya.Air mata lagi dan lagi menetes meskipun masih ada senyum ‘munafik’ di wajahnya.Memang senyuman selalu terhias diwajahnya namun itu hanya sebuah sandiwara.‘Mungkin cintaku saat ini sedang membuktikansebuah arti cinta yaitu ‘ketulusan’ namun cintaku saat ini juga seperti silet yang mengiris- iris hatiku dengan sangat kejam’

Flashback End

“Aku memilihmu baby, aku memilihmu” ucap taeyeon dengan berseri.

Tak ada jawaban namun luhan langsung menarik taeyeon kasar ke dalam pelukannya saking senangnya.Ia tak mampu berkata apa- apa lagi, dan sudah seperti sebelumnya hanya air mata yang bercampur air hujan yang mengekspresikan kebahagiannya.

Debaran jantung mereka saling berlomba saking kencangnya alat itu berpacu.Perlahan kontak antara mereka merenggang membuat taeyeon sedikit kecewa.Luhan memandang wajah kecewa taeyeon dengan kekehan pelan, ‘”Saranghae” akhirnya luhan membuka mulutnya dan berucap singkat yang membuat taeyeon mengangkat kepalanya.

Chu. . . .

Mata taeyeon terbelalak lebar karena bibir luhan yang tiba- tiba membungkam mulutnya, ciuman yang sangat cute dan manis. Jantung taeyeon semakin berpacu dengan cepat membuatnya terasa nyeri saking kerasnya goncangan di dalam sana. Bukan ciuman pertama bagi taeyeon namun rasanya yang baru pertama kali ia alami, serasa terbuai dan memeleleh. Seluruh darahnya bahkan berkumpul di wajahnya yang membuat warna merah mendominasi warna pipinya.

Hanya sebuah ciuman singkat ditengah hujan, tapi mungkin akan menjadi sejarah yang tak akan terhapus bagi namja dan yeoja itu. Hujanlah yang menjadi saksi cinta luhan yang akhirnya terbalas setelah penantian yang tak kurang dari sepuluh tahun.

. . . . . . . . . . . . .

Taeyeon POV

Aku meringkuk sendiri di kamar yang penuh akan warna dan jenis bunga ini. Gaun putih panjang yang kukenakan kubiarkan mengampai ke lantai keramik putih kamar yang akan menjadi kamar pengantiku hari ini.

Yah hari ini adalah hari dimana aku dan luhan akan meresmikan hubungan kami pada suatu tali pernikahan. Rasa takut dan degdegan sungguh melandaku saat ini, apalagi mengingat usiaku yang baru akan memasuki 17 tahun.

Namun dibalik itu semua, ada rasa yang lebih mendominasi perasaanku. Rasa perih dan sakit mengingat kedua orang tuaku yang tak akan mungkin hadir di acara pernikahan ini. Lalu siapa yang akan menggandengku memasuki gereja? Siapa yang akan menjadi saksi pernikahanku? Oh inikah rasanya tak mempunyai orang tua? Hanya seorang diri di dalam kamar menjelang hari terpenting dalam hidup kita?

Ditengah kegudaan hatiku kudengar suara pintu mulai tebuka, kulayangkan pandanganku pelan ke arah itu.Nampak jelas dimataku sosok ber- jas hitam dengan dasi panjang dihadapanku.Mataku mulai perih karena sesuatu yang sedang berperang untuk keluar disana, aku tak sanggup menatapnya hingga aku hanya menunduk dan mengeluarkan sesuatu tadi.

“Taeng kenapa?” tanya oppa siwon setelah menghampiriku. Dapat kurasakan kehangatan kecupan di bagian atas alisku.

Aku memeluknya erat bahkan mungkin tak mau melepasnya, hanya oppa yang saat ini mengerti perasaanku Karena ia juga merasakan apa yang sedang mengguncang jiwaku. “Oppa aku . . . aku . . .” Ucapku tak mampu menyambung kalimatku karena suaraku yang sudah tercekat.

Ia sedikit melonggarkan pelukan kami hingga matanya tepat terfocus hanya pada sepasang indra penglihatanku, “Jangan khawatir, oppa yang akan menjadi eomma sekaligus appa untukmu. Kau tak perlu menangis lagi, kau tahu itu akan membuat wajah cantikmu sedikit berkurang” ia dengan lembut menghapus air mataku dengan tisu yang berada di atas meja, mungkin ia agak sedikit takut untuk bersentuhan langsung dengan wajahku yang sudah dipolesi dengan make up.

Taeyeon POV End

“Sudah ah acara sedih- sedihannya ditunda dulu dari tadi luhan sudah menunggu tahu” Suara tiffany yang tiba- tiba hadir membuat kedua saudara itu melayangkan pandangan ke arahnya.

“Iya sepertinya sedari tadi kita disini hanya dianggap sebagai nyamuk” Lagi gadis yang lebih pendek dari tiffany menyambung.

Taeyeon dan siwon tertawa kecil sedikit mengurangi kekhawatiran hati mereka dengan kehadiran dua sahabat taeyeon.“Tanya pada sahabat kalian ini kenapa di selalu saja menangis?Aku sampai bosan melihatnya” ucap siwon dengan kekehan pelan.

“Ya!Oppa” rengek taeyeon sedikit memukul manja lengan siwon.

“Kalau begitu oppa tunggu diluar yah, perbaiki make upmu. Lima belas menit lagi kita berangkat” sebelum pergi kecupan manis sedikit mendarat ke kening taeyeon yang menampatkan kerutan kekecewaan karena akan berpisah dengan oppanya. Saat ini hanya oppanyalah keluarganya satu- satunya.

“Ya!Kau ini sahabat datang malah diacuhkan” ucap tiffany mengerucut setelah kepergian siwon.

Senyuman kecil yang hanya ditunjukkan oleh taeyeon mendengar cibiran sahabatnya itu, “Hehehe kau ini bisa saja. Oya sunny kemana?” tanya taeyeon sedikit mengalihkan pembicaraan.

Tiffany menghembus namun kemudian melanjutkan kalimatnya, “Dia katanya tadi mau ke toilet setelah kepergian oppamu.Sepertinya belakangan ini dia sangat aneh. Kau tahu dia bahkan sering senyum- senyum sendiri”

Taeyeon mendongakkan kepalanya sedikit ke atas dengan kerutan di keningnya yang menandakan ia sedang memikirkan sesuatu, “Apa yah yang terjadi pada bocah itu?” ucapnya sedikit memukul- mukul jarinya ke dagu kecilnya.

“YA!Tak usah memikirkan itu sekarang waktunya putri cantik kita bertemu pangerannya kajja!” dengan eye smilenya tiffany menarik tangan taeyeon yang sedikit kesusahan karena gaun pengantinnya yang sangat panjang dan sedikit mengembang pada bagian bawa, persis gaun yang sering digunakan princess.

“Seandainya aku bukan sahabatmu aku tak akan mau melakukan ini” gegutu tiffany lagi yang sedang mengangkat bagian belakang baju taeng ketika menuruni tangga.

Taeyeon hanya tersenyum geli mendengarnya, “Kau ini, untuk sahabat saja sangat perhitungan. Lihat saja nanti kalau kau menikah aku tak akan mau menjadi pengiring pengantinmu” ucapnya dengan mata sedikit disipitkan yang menunjukkan bahwa ia sedang kesal, namun tentunya hanya dibuat- buat.

“Tapi kau harus membayar perbuatanku ini, jadi kau harus YA! . . “tiffany memegang kepalanya yang sakit karena menghantup bagian belakang taeyeon. yah maklum saja sekarang ini taeyeon memakai sepatu dengan heels yang tinggi, sedangkan tiffany hanya memakai sepatu flat coklat kesukaannya yang senada juga dengan dress selututnya.

“YA!Kenapa kau menabrakku tiba- tiba sih?” taeyeon memegangi punggungnya yang sedikit sakit akibat sundulan (?) tiffany.

“Kau yang berhenti tiba- tiba” tiffany mulai menyalahkan taeyeon yang memang menjadi tersangka atas kejadian ini.

Taeyeon mulai menyadari hal yang membuatnya berhenti tiba- tiba.Ia menaruh jari telunjukkanya pada bibir mungilnya yang menandakan agar tiffanya tak mengeluarkan suara melengkingnya. “Ussh jangan ribut, coba kau lihat apa yang dilakukan sunny disana” ucapnya dengan suara yang sangat pelan dan ringan seolah tak ingin seorang pun mendengar percakapan mereka.

Dengan malas gadis berambut hitam pekat itu mengalihkan pandangannya dan mulai mengcopas ekspresi bingung taeyeon. “Entahlah ayo kita kesana. Siapa tahu ada sesuatu yang anak itu lihat di balik jendela.”

Taeyeon hanya mengangguk tanpa suara membenarkan ucapan tiffany.

Taeyeon dan tiffany menatap aneh sunny yang senyam senyum sendiri melihat siwon yang sedang berdiri diluar dengan sesekali melihat jam yang melingkar ditangannya. ‘tidak mungkin kan sunny memperhatikan siwon oppa’ batin taeyeon dan tiffany seolah kompat menyuarakan ketidak mungkinan kecurigaan mereka.

“Kau tak sedang memperhatikan oppa kan?” tanya taeyeon mulai mengintrogasi sunny.

Sunny tersentak sekaligus tergagap kerena pertanyaan sobatnya yang menunjuk jari telunjuk kecilnya ke arah dirinya, “A . .ni . . .” Jawabnya putus- putus serta menunduk karena mukanya yang sudah mirip dengan warna tomat segar itu.

“Oh . . . “ sayangnya taeyeon hanya merespon santai, sepertinya semua harus mengerti jika sewaktu- waktu penyakit polosnya akan kembali kambuh, mungkin seperti kali ini.

Sunny menarik nafas lega mendengar ucapan taeyeon, “Tapi kau harus menebalkan make upmu. Kau kan pendamping pengatinku masa kau mendampingiku dengan wajah yang merah itu” ucap taeyeon kemudian beranjak sendirian dengan mengangkat gaunnya sendiri menghampiri siwon. Kali ini ia sepertinya tak ingin mendengar ocehan tiffany.

Sunny kembali memerah setelahnya, ia tak sadar bahwa tiffany tidaklah sepolos taeyeon. dari tadi yeoja itu memperhatikan gelagak aneh yang ditunjukkan sunny, “Geraeyo??” tanyanya menyelidik, sangat terlihat dari tatapan matanya yang membuat sunny semakin terpojokkan.

“SUNNY TIFFANY KAJJA!”Keringat dingin sunny sedikit mengurang karena terselamatkan oleh teriakan menggelegar (?) taeyeon dari luar rumah.

“Urusan kita belum selesai arraji?” ucapan tiffany sebelum keluar mendahului sunny itu membuat sunny sangat stress memikirkan apa yang selanjutnya harus dijelaskan kepada tiffany yang sudah ia tahu tak akan melepaskannya sebelum ia berkata jujur tentang ‘perasaannya’ kepada oppa dari sahabatnya sendiri.

. . . . . . . . . . . . .

Kakinya melangkah kecil melewati karpet berwanra merah di ruang suci yang juga penuh dengan bunga dan dekorasi dengan nuansa pink seperti warna kesukaannya. Orang- orang duduk dengan rapi menyaksikan kedatangannya yang sungguh membuat semua orang terpikat akan kecantikan yang terpancar dari wajahnya.

Tangannya mengalung lembut di lengan pria yang berprofesi (?) sebagai oppanya yang selalu setia mendampinginya.Dan tak lupa kedua sahabatnya dengan bunga berwarna pink juga tentunya berdisi di sisi kanan dan kirinya. Dilihatnya seorang namja yang akan mengikat janji padanya sedang menatap dan melayangkan pandangan lembut ke arahnya.

Taeyeon POV

Hari ini pernikahanku, tanpa appa dan tanpa eomma.Fikiranku menjadi kacau tanpa arah, tuhan kumohon ini hari bahagiaku aku tak ingin merusaknya.Tapi mengapa rasanya aku sangat sakit, aliran darahku seakan tak mau mengalir.Hatiku seperti tertusuk belati tajam.Jangan menetes kumohon, aku mohon jangan.Aku tak ingin merusak moment ini, tidak ingin.

Aku tak mampu menahannya juga.Perlahan butir- butir air mataku menampakkan wujudnya.Mulai jatuh, jatuh dan semakin banyak membasahi pipiku.Aku tak sanggup, kuhentikan langkahku, dapat kulihat semua orang menatapku dengan pandangan yang paling aku benci, pandangan kasian.Aku tak suka arti pandangan itu.

Tak kusangka bayangan seseorang mulai menghampiriku hingga kurasakan daguku mulai terangkat. Luhan, ia tersenyum sangat teduh padaku, tak ada pandangan kasihan di matanya. Hanya ada teduh dan cinta dimata itu, mengapa selama ini akutak pernah menyadarinya?

Ibu jarinya terangkat menghapus butiran- butiran kecil di wajahku dengan senyumannya, entah kenapa aku merasakan kehangatan yang seolah membuang jauh- jauh kekhawatiranku.Ku pejamkan mataku menikmati setiap sentuhan lembutnya dan Kurasakan tangan yang semenjak tadi berinteraksi denganku menjauh.Mungkin oppa siwon ingin meluangkan lebih banyak waktu untukku dan luhan.

Luhan kemudian beralih ke sisiku, ia menggantikan posisi oppa didekatku. Memang aku mencintai oppa siwon melebihi segalanya, namun mengapa kehadiran luhan memberikan sensasi berbeda?

Ia meraih lenganku lembut kemudian mengiringnya agar mengaitkannya dengan lengannya. Ia menatapku sekali lagi lalu mengangguk singkat seperti memberikan kata ‘Kajja’

Aku menarik ulur nafasku sampai akhirnya kakiku kembali melangkah menuju altar hingga tiba dihadapan seorang pendeta yang kuyakini akan mewakili appa untuk ‘menghantar’ kami mengucapkan janji suci.

“Saudara Xi Luhan maukah anda menerima wanita ini sebagai istri sah anda dan terus menjaganya sampai maut memisahkan?”

Suara pendeta itu menggetarkan jiwaku, aku juga tak mau terus terpuruk seperti ini.Berdiam diri dalam kesedihan, hari ini hari paling bahagia dihidupku apakah salah jika aku mengharapkan kehadiran orang yang telah membuatku berada di dunia?Apakah salah jika aku menginginkan itu? Walaupun mungkin secara logis aku sendiri mengetahui bahwa itu tak akan mungkin terjadi.

“Iya saya mau” jawab luhan dengan tegas dan lantang seolah memberi semangat padaku agar tak terus tenggelam dalam kesedihan seperti saat ini.

“saudari Kim Taeyeon maukah anda menerima pria ini sebagai suami yang terus menjaga anda sampai maut memisahkan?”

Hening tak ada yang bersuara, semua terpaku menatapku yang sedang menunduk.Ku naikkan wajahku menatap pendeta yang menunggu jawabanku lalu beralih kepada ‘namjaku’ yang sudah terlihat khawatir. Aku tak tahu pasti apa yang membuatnya khawatir, namun akhirnya kutarik nafaskku dalam- dalam. “Iya saya mau”

Senyum lega dengan jelas terpancar di wajah luhan, dan begitu pula dengan seluruh orang yang menghadiri upacara pernikahan kami.Semua terlihat bahagia, dapat kulihat oppa siwon mulai mengeluarkan air matanya yang membuatku kembali mengingat ‘kesendirianku’ saat ini.

Dengan kehangatannya luhan menarikku ke dalam pelukannya, didekapnya aku lembut.Hingga kurasakan angin menyapu telingaku “Tenang, masih ada aku yang akan terus bersamamu. Kau tak akan pernah sendirian. Aku tak meninggalkanmu walaupun nantikau meninggalkanku, aku akan terus setia padamu, meskipun wajah mulusmu sudah membentuk lipatan, walaupun suara merdumu sedah diselingi dengan suara batuk, walaupun akhirnya kau tak mencintaiku lagi. Tapi aku akan terus menjagamu. Itu janjiku dan tuhanlah yang menjadi saksi” kueratkan pelukanku mendengar perkataannya.Haru menyelimuti hatiku, apakah selama ini aku terlalu bodoh untuk menyadari besarnya cinta yang luhan berikan untukku?

Kehangatan itu perlahan menjauh yang menyadarkanku bahwa luhan telah merenggangkan tautan kami, aku melihatnya tersenyum lagi dan kemudian ia mulai mendekatkan wajahnya ke arahku, ke pejamkan mataku karena sudah kutebak apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Sampai akhirnya kurasakan kehangatan saat bibirnya mulai meneyentuh bibitku. Setetes air mata cinta dan kasih menjadi pengiring dari ciuman yang menandakan bahwa aku telah menjadi milik seseorang.

Taeyeon POV End

Melihat pernikahan anaknya nyonya Seo tersentuh, ia tak menyangka bahwa akhirnya keinginannya bersama sahabatnya Kim Hyoyeon semenjak taeyeon dan luhan masih kecil akhirnya terwujud, ‘Tenang taeyeon sayang aku akan menjadi ibumu’ ucapnya sambil menghapus air matanya yang menetes menggunakan tisu.

Tuan Xi mengelus- elus lengan istrisnya agar istirnya itu sedikit menjadi tenang. “Dan aku adalah ayahnya” ucapnya dengan alis sedikit terangkat yang membuat Nyonya seo tersenyum, setidaknya tuan Xi sedikit menghiburnya.

******

“Manisnya . . . . “Ucap yoona saat melihat dua sejoli yang tengah bertautan bibir dihadapannya.

“Kuharap aku segera menyusul” ucap yuri kemudian.

Berbeda dengan keduanya salah satu diantara mereka masih menampakkan wajah kusut bersalahnya yang membuatnya menjadi pusat perhatian, “Ya! Kenapa kau menunjukkan ekspresi semengenaskan itu?” tanya yoona pada Jessica dan yuri hanya mengangguk membenarkan.

“Hmmm . . . . ” desahnya pelan, menunjukkan bahwa ada yang tengah mengganjal dihatinya. “Aku masih merasa bersalah pada taeyeon atas segalanya” ucapnya sedikit menunduk.

Kedua temannya yang tadinya ceria pun perlahan ikut larut dalam penyesalan, “Benar juga kita sudah terlalu bersalah” ucap yuri.

“Kita memang banyak salah padanya” tambah yoona.“Apalagi aku” lanjutnya kemudian namun sedikit menurunkan volume suaranya.

Yuri menghirup udara lebih banyak kemudian kembali berucap, “Hari ini hari bahagia taeyeon, mengapa kita sedih sih?” hibur yuri memegang kedua pundak temannya.

Ketiganya memang sengaja mendatangi pernikahan taeyeon, sekaligus ingin meminta maaf dengan ‘resmi’ pada ‘calon sahabat baru’ mereka tersebut.

“Iya masa kita datang jauh- jauh ke Beijing hanya untuk sedih- sedihan sih?Lebih baik kita mencari hal- hal yang membahagiakan” ucap yoona kemudian sambil menatap namja yang berada agak jauh di sebelah kanannya.

Jessica juga beralih menatap ke rah pandangan yoona, namun bedanya pandangannya sedikit ke kanan, “Iya lebih baik kita mencari sesuatu yang membuat hati kita berbunga- bunga” ucapnya tanpa sadar.

“Kalian datang kesini ternyata bukan karena ingin meminta maaf pada taeyeon, bilang saja kalau kau yoona ingin mendekati sehun” ucap yuri menunjuk yoona. “Dan kau pasti ingin mendekati namja di samping sehun kan?” tambahnya kemudian sambil memutar bola matanya.

Kadua sahabatnya tak memperdulikan ucapan yuri namun hanya fokus pada dua namja jangkung yang sedang bercakap memperhatikan taeyeon dan luhan. Yuri hanya menggeleng- geleng frustasi karenanya.

******

Tanpa menyadari dua orang gadis tengah memperhatikan mereka, dua namja yang duduk dengan damai itu hanya memerhatikan dua pengantin baru yang sedang bercumbu mesrah di hadapan mereka.Sakit?Pantinya.Perih?Tak udah ditanyakan lagi.Jika saja rasa sakit itu terlihat bahkan bumi tak mampu menampungnya. Bagaimana tidak, bagaimana kah perasaan kau jika melihat orang yang sangat kau cintai menikah dengan orang lain?

Salah seorang diantara dua namja itubertepukan tangan seperti orang- orang lainnya. Tangannya menepuk menunjukkan bahwa ia ikut bahagia dari luar. Tapi tak ada yang tahu hatinya yang juga sedang ditepuk oleh besi yang telah dilelehkan saking sakitnya.

Melihat wanita itu mengingatkannya pada sebuah masa. Terhitung saat ia pertama kali bertemu di bandara dan akhirnya menjadi tetangga. Sungguh kebetulan yang sangat luar biasa, bahkan karena itu ia sempat berfikir bahwa wanita itulah yang kelak menjadi pendampingnya. Tetapi ternyata takdir berkata lain. Dan pada akhirnya ia hanya menjadi penonton dari ikrar janji suci dari yeoja tersebut.

“Apakah sakit?” tanya namja disampingnya yang sudah mengusir paksa kebungkaman yang semenjak tadi menjadi adegan antara mereka.

Tersenyum kecut, itulah yang ditunjukkan setelah pertanyaan kris melayang padanya.“Sakit. Bahkan kau tak akan bisa merasakannya sekarang ini” ucapnya statistic menatap kris yang sudah tersenyum penuh akan makna.

Kris kembali beralih menatap ke depan tanpa melepaskan senyuman itu, “Paling tidak taeyeon sudah mengetahui bahwa kau mencintainya” ucapnya kemudian menunduk dengan gelagak aneh yang membuatfikiran sehun berputar- putar berusaha mencerna perkataan kris yang penuh dengan teka- teki.

“Maksudnya?” tanyanya dengan mata menyipit dan dahi mengeriput menandakan bahwa ia sedang menyelidik.

Tak ada jawaban, hanya senyuman yang berbicara, senyuman yang mungkin hanya Kris dan Tuhan yang tahu.

‘Cintaku mungkin akan terus seperti ini, tanpa ada pengakuan.Kau mungkin merasakan sakit tapi aku lebih berkali lipat merasakan sakit itu sehun. Aku tak bisa mengungkapkannya pada siapapun, mungkin sampai nafasku sudah tak ada sekalipun tak akanada yang mengetahui bahwa aku mencintainya. Biarlah semua ini akan tersimpan seperti tuhan menyimpan rahasia takdir seseorang, aku tak akan pernah membiarkannya menderita walaupun dari awal aku yang sudah tersiksa dengan semuanya’ Ingin rasanya kris mengatakan semua itu, namun apa daya ia tak mau menambah masalah taeyeon hanya karena dirinya.

. . . . . . . . . . . . . . .

Luhan tersenyum kepada taeyeon untuk memberi isyarat bahwa itulah waktunya ia melempar sebuket bunga yang digenggamnya. Tamu- tamu pun berkumpul untuk hanya sekedar mendapat bunga itu, bukan karena mereka tidak mampu membelinya. Tapi tentunya semua sudah tahu akan makna dari bunga lemparan dari pengantin wanita.

Dengan ayunan pelan taeyeon sudah berisap- siap melepas bunga itu dari genggamannya, namun sebuah tangan menahannya, “Kita lempar sama- sama” ucap luhan membuat lengkungan tipis dibibirnya dengan pancaran mata yang hangat.

Taeyeon tentu membalasnya, mereka mengayunkan tangan sambil terus bertatapan mesrah. Para gadis hanya tersenyum geregetan melihatnya karena iri akan kebahagian mereka, bahkan sehun dan kris pun tersenyum. Sepertinya mereka akan benar- benar melepas taeyeon dengan sangat ikhlas.

Terdengar teriakan dari para gadis ketika bunga itu terlempar, bukannya berbalik dan melihat siapa yang mendapatkan bunga itu luhan malah segera menarik taeyeon memasuki mobil berwarna silver yang sudah sedari tadi tersedia dihadapan mereka. Lemparan bunga memang diadakan di halaman gereja tepat di depan mobil pengantin dengan kalung bunga berwarna pink di moncong mobil tersebut.

“Sepertinya luhan akan menyiksa adikku” ucap siwon dengan ekspresi khawatir namun waktu berikutnya kembali terkekeh.

Di lain sisi tiffany sangat girang karena mendapat lemparan dari taeyeon, ia tak menyadari bahwa dirinya sendiri melompat dengan sangat happy sampai- sampai hak dari sepatunya perlahan mulai menunjukkan retakan, memang itu bukanlah miliknya karena tadi ia terpaksa bertukaran sepatu dengan sunny yang kakinya sakit karena iritasi.

“YA!” Teriak tiffany saat merasakan nyeri pada pergelangan kakinya, ia jatuh dan hampir terpengkal ke karpet merah yang terbentang rapi. Semua orang terbungkam saat menyaksikan kejadian tersebut.Tak ada yang bersuara waktu berubah menjadi sangat lambat sampai akhirnya sebuah tangan menggapai pinggangnya yang membawanya ke dalam rangkulan orang itu.

“Neo gwaenchana?” tanya suara sedikit seksi ditelinga tiffany. Suara yang tidak asing karena sudah sekitar setahun satu sekolah dengannya, namun ia baru menyadari tatapan mata teduh dari sana yang membuat hatinya bergetar, berdenyut, dag dig dug atau apalah istilahnya yang pasti hanya satu di dalam fikirannya.

‘Tampan’ ia hanya terus menatapnya , dan orang- orang di sekitar situ juga memperhatikan mereka dengan malu- malu karena kelakuan tiffany yang sangat ‘memalukan’ itu. Tak tanggung- tanggung sunny sudah bersembuyi diantara kerumunan orang karena tak mampu melihat kelakuan sahabatnya itu.

“noona tak apa?” tanya sehun lagi, ia khawatir melihat tiffany yang sama sekali tak bisa berkedip, ditambah lagi lengannya yang sudah pegal karena menahan berat tubuh tiffany yang tentunya tak seringan taeyeon #plak

“Ya!Lepaskan sehunku” suara melengking yoona terdengar yang membuat tiffany mengerjapkan matanya. Tak sempat saja ia berdiri dengan tegap yoona sudah menarik tangan sehun yang menyebabkan

Bruak . . . .

Bokong tiffany mendarat dengan mulus dipermukaan karpet yang membuat semua tertawa kecuali tiffany tentunya yang sudah memerah karena malu, apalagi di depan namja yang mungkin saja akan menjadi ‘gebetan’ barunya.

“Ya!Yoona apa yang kau lakukan?” ucap sehun menghempaskan tangan yoona yang membuat senyuman wanita itu luntur secara permanen.

“Sehun-ah kenapa kau membelanya?” tanyanya manja sambil mengaitkan tangannya kembali di lengan sehun.

Sehun hanya menggeleng pelan dengan kelakuan yoona yang masih sama yaitu ‘kekanak- kanakan’. “Sini aku bantu” ucap sehun setelah melepas tautannya dengan yoona. Tiffany menunjukkan eye smilenya setelah itu, rasanya sakit pada bokongnya sudah berganti menjadi kebahagian.

Yoona mengerucutkan bibirnya kesal melihat sehun membopong tiffany, “Ya!Sehun- ah lepaskan” ucapnya seraya berusaha melepaskan tangan tiffany dari leher sehun.

Sehun memandangnya tajam, “Yoona- ya tak bisakah untuk kali ini saja kau tidak egois?Lihatlah tiffany sedang sakit tak mungkin kan ia berjalan sendirian?” ucap sehun malas.

Yoona dengan segera menarik tangan tiffany dan merangkulnya, “Biar aku yang membantunya” ucapnya tapi membuang mukanya dari tiffany, menunjukkan bahwa ia tidak senang pada yeoja itu. Sedangkan tiffany tentu saja kecewa pada sikap yoona yang menghancurkan moment kebersamaannya dengan sehun.

‘Dasar yeoja gila’ umpatnya dalam hati.

Orang- orang hanya memperhatikan mereka, ada yang dengan malas dan ada juga yang antusias karena suka dengan perkelahian antara tiffany dan yoona yang terkesan imut dan lucu.Apalagi kedua yeoja cantik itu begitu imut ketika sedang mengerucut.Sehunlah yang sangat beruntung saat ini menurut sebagian besar namja yang menyaksikan mereka, bagaimana tidak dua yeoja cantik tengah memperebutkan cintanya.

Bibir kris tertarik ke atas namun dengan mulut yang masih tertutup, “Sepertinya aku harus pensiun menjadi penasehat cinta, karena sepertinya akanada Between Two Options lagi. Sehun sehun nasibmu sepertinya akan terus terjebak dalam cinta segitiga” kemudian ia kembali tersenyum geli.

Tanpa sengaja ujung matanya sedikit menyelinap ke samping dan menangkap sosok yang sedang mencuri pandang padanya, “Kau temannya taeyeon kan?” tanya kris bersahabat pada yeoja itu.

Jessica hanya menunjukkan barisan gigi atasnya, tentu ia malu. Pipinya pun sudah merona merah, “Ne” jawabnya menunduk malu.

Kris hanya mengerutkan keningnya bingung dengan sikap aneh jessica, namun selanjutnya ia tersenyum geli ketika menyadari kesalah tingkaan Jessica, “Hmm, kalau begitu aku duluan yah. Soalnya aku harus pulang ke korea hari ini” tungkas kris selanjutnya.

Jessica melongo lucu yang membuat kris semakin terkekeh, “Jinjja?Aku juga hari ini mau kembali ke korea” ucapnya malu- malu.

“Kalau begitu kita bisa kembali bersama” Jessica mendonga kaget, senang tentu saja.Kris memberikan respon yang sangat baik dari sikapnya, ‘Kupikir dia teman yang lucu’ batin kris.

Yuri yang semenjak tadi memperhatikan merekatersenyum sinis, “Hmmm, giliran lagi bahagia aja teman dilupakan.”

. . . . . . . . . . . . .

Sunny sesekali menghentakkan kakinya keras saat melewati jalan aspal yang tidak berdosa itu.Tak pernah lelah mulutnya mengeluarkan komentar makian yang tentunya tertuju pada sahabatnya sendiri, tiffany.“Lihat tiffany kau akan kugantung untuk ini” umpatnya kesal.

Suara klakson mobil yang terparkir rapi disampingnya mengagetkannya, “Ya! Apakah kau tak bisa . . . . . “ Sunny tak melanjutkan ucapannya setelah melihat siapa yang duduk manis di kursi depan mobil itu.

“Hy sunny, apakah kau ingin pulang bersama oppa?” tanya siwon setelah membuka kaca jendela mobilnya.

Sebentar sunny menahan nafas, sangat terkejut tentu dengan kehadiran siwon yang tiba- tiba. Ia kemudian tersenyum malu, “Boleh “ jawabnya singkat dengan anggukan salah tingkah khas orang yang sedang diam- diam suka.

. . . . . . . . . . . . .

“YA!APAKAH KAU INGIN MEMBUATKU MATI?” Suara melengking taeyeon memenuhi segala ruang mobil pengantin yang ia baru saja tumpangi, luhan yang berada di sampingnya hanya menutup indra pendengarannya.

“Dear bisakah kau tak berteriak seperti itu?” tanyanya pasrah dengan nada selembut mungkin.

Taeyeon kesal, ia mulai mengerucut dan mengacuhkan luhan, “Dear mian, tadi itu aku terlalu terburu- buru” bujuknya namun taeyeon hanya membuang muka.

“Ayolah dear kalau kau marah nanti keriput diwajahmu makin banyak loh” luhan membekap mulutnya sendiri ketika kalimat itu secara spontan keluar.

Taeyeon mengecilkan matanya namun tetap focus menatap luhan yang tersenyum kuda sambil membuat tangannya berbentuk ‘peace’ pada taeyeon. namun sayang luhan telah memancing anak kelinci untuk berubah menjadi seekor macan ganas, “YA! APA KATAMU?” Taeyeon memajukan badannya ke arah luhan, luhan sudah menempel ke pintu tak bisa bergeser lagi.

“YA! . . . . . . .  “ Taeyeon memukul dada luhan keras bertubi- tubi sambil menutup matanya. “Kau jahat?Aku membencimu.”Ucapnya masih memukul luhan.

Luhan tak bergerak dan tak bersuara yang membuat taeyeon sedikit mengintip dengan membuka sebelah mata kirinya, “Baby . . . “ Sapanya lembut namun luhan tetap diam tak bergeming.

Taeyeon menyandarkan kepalanya pada dada luhan, ia mendengar detakan yang sangat cepat dari dalam sana yang membuatnya sangat amat khawatir, “Baby bangun . . . .” ucapnya menggoncang pelan badan luhan.

Air matanya mulai menetes karena sangat khawatir, “Baby mianhae, bangun hwaaaaa . . . . “ Kembali ia memeluk luhan yang terbaring tidak berdaya dihadapannya. Tanpa taeyeon sadari luhan tersenyum tipis.

“Kau janji tak akan marah lagi?” tanya luhan masih menutup matanya.

Dengan polosnya taeyeon mengangguk di dada luhan, “Aku janji” jawabnya yakin namun dari suaranya terdengar nada parau.

“Kalau kau melanggar janjimu kau harus dihukum ne?” tambah luhan kemudian, seolah ia memastikan agar istrinya itu tak akan ngambek lagi.

“Tidak akan” dengan cepat taeyeon menjawabnya.“Hwaaa . . .  tapi kau harus sadar, saranghae luhan. Saranhae . . .  kau bilang tak akan meninggalkanku hiks hiks . . . “ ucapnya terisak masih memeluk luhan. Sepertinya penyakit taeyeon mulaikambuh, bagaimana mungkin ia tidak sadar bahwa sedari tadi ia mengobrol dengan namja yang bernama luhan.

Luhan membalas pelukan taeyeon, “Mianhae baby aku telah menyakitimu hwaaaa . . . aku memang bukan istri yang baik hiks . . . .hiks . . . .hiks . . . .” Taeyeon menangis dengan sangat keras membuat luhan merasa bersalah.Iamembaguskan posisinya lalu menatap dalam taeyeon.

Jemari lentiknya menghapus air mata yeojanya itu, “Kau tahu kan aku tak suka air mata itu?” tanya luhan dan taeyeon hanya mengangguk patuh namun tentu saja ia masih menangis. Luhan mendekatkan wajahnya, mencium mata kanan dan kemudian berlaih ke mata kiri taeyeon.“Saranghae” ucapnya lalu mengiring taeyeon ke pelukannya.

Karena perasaan bersalah taeyeon masih terisak di dalam dekapan luhan, hati luhan teriris mendengar itu.Bagaimana pun juga ini salahnya, ialah yang menjadi penyebab air mata itu.‘Aku lebih menyukai sikapmu yang kekanak- kanakan dari pada harus menjadi dewasa namun terus sedih darling’

“Sudahlah ayo kita masuk, aku tahu pasti kau sangat lelah” ajak luhan dan taeyeon hanya mengangguk untuk itu.

Awalnya luhan yang keluar dan segera beralih membukakan pintu untuk taeyeon dengan sangat manis, “Silahkan tuan putri” sambutnya yang membuat taeyeon tersenyum tipis.

Taeyeon keluar dari mobil malaupun sedikit kesusahan karena gaunnya, ia mendaratkan ciuman manis dipipi luhan, “Gomawo” ucapnya singkat lalu mulai berjalan memasui kawasan rumahnya.

Luhan tersenyum memegang pipinya yang baru saja dikecup oleh taeyeon.ia berlari kecil menghampiri yeoja imut itu lalu dengan segera mengangkatnya, “Ya! . . . “Perkik taeyeon karena sedikit tersentak dengan kelakuan luhan.

“Tuan putri tak boleh kecapean jadi biar hamba bantu oke?” ucapnya dengan kedipan mata.

Sekali lagi taeyeon dibuat berbunga kerenanya, “Hmmm, luhan- ah” sapa taeyeon lembut.

“Hmmm” luhan hanya membalas dengan kata singkat itu, karena jujur saja dengan gaun seribet itu ia agak kesusahan menggendong taeyeon.

“Apakah kau keturunan kerajaan?” tanya taeyeon yang membuat luhan menatapnya dengan tatapan tak percaya akan pertanyaan yang sungguh tak masuk akal itu.

“Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Karena sedari tadi kau memanggilku tuan putri. Aku bukan keturunan raja berarti kau yang keturunan kerajaan, karena jika aku menikah dengan putra kerajaan otomatis aku menjadi seorang putri kan?” jelas taeyeon bangga karena menganggap pengetahuannya benar- benar hebat.

Luhan menghentikan pergerakannya dan mentapa yeoja dalam gendongannya aneh, “Aku pintar kan? Beberapa hari ini aku sangat banyak peningkatan untuk menjadi lebih dewasa.Jadi sekarang aku sangat peka” ucap taeyeon kemudian dengan tatapan angkuhnya membanggakan diri.

Luhan menahan kekehannya, “Sangat peka, saking pekanya kau menjadi tidak jelas.Aku sangat kasian mendapatkan istri pabo sepertimu” ucapnya menyentil dahi taeng.

Taeyeon yang sudah mencerna perkataan luhan setelah beberapa menit segera memaksa untuk turun dari gendongan luhan, “Ya!Kau benar- benar mau mati yah?” ucapnya sambil melepaskan heelsnya.

Luhan sedah kabur karena tahu apa yang akan taeyeon lakukan, dengan sigap taeyeon melempar satu sepatu heelsnya, “Gak kena gak kena” ucap luhan menjulurkan lidahnya ke arah taeyeon yang membuat yeoja itu berapi- api hingga timbul tanduk di kepalanya.

“RASAKAN INI . . . “

Bruak . . .

 

. . . . . . . . . . . . . .

*Special Scenes*

Ting tong . . . .

Siwon yang tertidur di sofa karena sangat lelah terganggu dengan suara bel rumahnya, “Siapa yang datang semalam ini sih?Apakah ia tak tahu aku sangat lelah hari ini” ucapnya malas namun tetap bangun dan beralih membuka pintu itu.

“SURPRISE . . . “ Siwon tercengang melihat dua makhluk aneh dihadapannya.

“Changmin ryeowook?” tanyanya heran.“Bagaimana mungkin kalian berada di sini?”

Kedua namja itu hanya menggaruk tengkuk mereka sambil tersenyum bersama deretan gigi putih yang berbaris rapi, “Kami datang untuk pernikahan taeyeon dong” ucap changmin dengan bangga.

“Tapi pernikahannya sudah dilaksanakan tadi pagi” info siwon dengan tatapan malas seperti orang mengantuk lainnya.

Ryeowook memunculkan smirk diwajahnya, “Hehehe, kita memang tak berniat untuk ikut acara itu.Tapi kami perlu mengikuti acara malam ini” alisnya terangkat menatap changmin yang juga tersenyum penuh makna.

. . . . . . . . . . . . .

Ekspresi kasihan memenuhi wajah taeyeon, “Awww “ ringis luhan setiap kali taeyeon menyentuh dahinya yang mengeluarkan darah dengan kapas putih dengan merkurokrom pada ujungnya.

“Sakit yah baby?” tanya taeyeon selembut mungkin.

Luhan hanya mengerucut kesal, “Bagaimana ini tidak sakit? Kau tahu heelsmu itu sangat tinggi”

Taeyeon meraih plester dari kotak P3K disampingnya lalu menempelkannya pada luka luhan.Ia tersenyum perlahan ia mendekat dan memberi kecupan singkat pada luka itu. “Mian baby tapi kau yang selalu membuatku marah” tambah taeyeon sedikit membela diri.

Luhan perlahan luluh dengan perlakuan taeyeon, “Kurasa ciumanmu adalah obat dari segala lukaku” rayunya.

Taeyeon menatapnya sangat gembira, “Wow itu sangat bagus, berarti kita tak perlu membeli obat jika kau sakit” ucapnya memulai kembali perkataan konyolnya.

Luhan hanya tersenyum ngeri mendengar itu, “Kurasa aku harus lebih banyak beribadah agar dijadikan orang yang sabar” tambahnya pasrah.

“Itu sangat bagus” Puji taeyeon tanpa mengerti akan maksud tersirat dari perkataan luhan.

Sebentar mereka diam sampai akhirnya taeyeon memegang perutnya, “Baby aku kebelet” tungkas taeyeon.

Luhan juga menatap taeyeon dengan ekspresi aneh, “Aku juga, sepertinya kita terlalu banyak minum tadi siang” anggukannya juga menunjukkan bahwa ia merasakan apa yang taeyeon rasakan. Hmmmm, maksudnya sama- sama ingin p*pis.

“Baby aku yang duluan” taeyeon langsung berlari ke arah toilet yang memang terletak di dalam kamarnya.

Luhan dengan sigap melompat untuk mendahului taeyeon, “Aku saja, aku sudah tidak kuat lagi nih”

Akhirnya mereka saling dorong di depan pintu tolet.

“Baby aku duluan yah please”

“Dear aku sudah kebelet nih”

“Ini sangat sempit”

“Tapi aku mau masuk baby”

“Aww baby aku terjepit, ini sangat sempit”

Luhan dan taeyeon seketika terdiam saat mendengar suara seperti kekehan dari arah depan pintu mereka. Dengan langkah sangat hati- hati luhan mendekati pintu sedangkan taeyeon hanya memamerkan ekspresi polosnya.

Dari luar tiga orang namja sedang menempelkan telinga mereka dengan saksama pada pintu, “Sepertinya adikku benar- benar tersiksa” ucap siwon yang awalnya tidak berniat menguping malam pertama adiknya, namun karena terpengaruh oleh kedua sahabatnya akhirnya ia yang paling antusias saat ini.

“Coba lihat orang itu, tadi dia yang melarang kita tapi sekarang? . . . “Changmin menggeleng- gelengkan kepalanya yang juga diikuti oleh ryeowook.Siwon yang mendengar itu segera memandang mereka dengan tajam yang membuat kedua sahabatnya itu sedikit menciut nyalinya.

Praakkkk . . . .

“HYUNG GGGGGGG . . . . “Luhan berteriak histeris saat membuka pintu dan ketiga hyungnya dengan mulus terjatuh hampir mencium kakinya.

“Hehehe peace”

. . . . . . . . . . . . .

Karena sangat malu atas kejadian semalam luhan sama sekali tak bisa memejamkan matanya sampai sinar matahari sudah memaksa masuk ke dalam jendela kamarnya. Berbeda dengan taeyeon yang tidak tahu apa- apa, bahkan ia tertidur sangat nyaman.

Perlahan ia memerhatikan wajah yeoja itu, sampai sekarang pun rasanya seperti mimpi taeyeon bisa menjadi miliknya. Jika mengingat kembali perjalanan cintanya yang penuh dengan tangis dan pengorbanan.

Taeyeon terlelap nyenyak sekali, hingga luhan sangat betah memandanginya. Sejenak ia pandangi wajah cantik yang tergolek itu. Kata orang untuk melihat wajah asli seseorang adalah ketika sedang tidur, dan benar saja kecantikannya semakin terpancar.

Naluri namja seorang luhan mulai muncul, ‘keinginan’nya semakin mendesak.Wewangian khas yang lembut dengan sedikti aroma apple.Mungkin wewangian itu khusus dibuat untuk kamar pengantin dan itu membuat gairahnya semakin meningkat. Entah kenapa ia baru merasakannya, tidak seperti tadi malam tak ada fikiran apapun yang memasuki rongga fikirnya. Mungkin karena taeyeon yang terus berbicara tidak jelas.

Wangi itu telah meraba perasaannya, tanpa ia sadar tiba- tiba sesuatu menyesak hatinya. Ia bergeser mendekati taeyeon sampai akhirnya nafas lembut taeyeon mengalun di lehernya memberikan sensasi aneh yang membuat tubuhnya bergetar.

Tangannya melayang lembut menyentuh kening istirnya lalu mulai beralih mengelus pipi taeyeon dan ia menggelengkan kepalanya saat hendak menyentuh bibir berwana soft pink taeyeon. seperti ada sebuah magnet yang menarik tubuhnya semakin dekat dengan yeoja itu.

Karena terganggu dengan tangan luhan yang mengalun di pinggangnya taeyeon mulai membuka matanya.Luhan memandang mata pengantinnya, dadanya berdebur keras.Telinganya menampung suara mesrah.“Morning baby” matan taeyeon masih dihujam kantuk.

Tak bisa menahan hormon dalam tubuhnya, luhan segera bangkit.Ia menatap lagi mata pengantinnya dengan lembut dan mencium kening yang laksana porselin itu. “Dear mian aku sudah tak tahan lagi. Kali ini kau harus menjalankan tugasmu sebagai seorang istri”

Taeyeon mengerutkan keningnya sampai luhan melumat bibirnya lembut.“YA!”Tolak Taeyeon berusaha mendorong tubuh suaminya saat menyadari apa yang hendak dilakukan oleh namja itu. “Jangan hancurkan masa depanku?”

Luhan menghentikan ‘aktifitasnya’ lalu menatap taeyeon bingung, “Kau adalah istriku jadi tak apa kita melakukan ‘itu’” jelasnya.

Taeyeon semakin memberontak, “TIDAK AKU MASIH PERAWAN” Perkiknya keras.

Luhan tersenyum aneh menunjukkan smirknya, “Sepertinya perlu sedikit paksaan” ucapnya pelan membuat taeyeon sangat ketakutan.

“SIWON OPPPA TOLONGGGGGGGGG . . . . . . . “

END

Finally, ff ini selesai juga J

Kamsahammida untuk readers yang sudah dengan setia menunggu setiap chapter dari ff B2O ini. Walaupun kadang updatenya lama tapi readers selalu sabar menunggu . . . . . .

Sebenarnya aku termasuk baru dalam dunia fanfiction, namun tidak sampai sebulan bergabung sebuah ide konyol masuk ke dalam otakku yang rada tidak normal ini hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuat ff pertamaku yaitu ‘Between Two Options’ . . . . .

Support dari readers sangat berperan penting dalam setiap ide- ideku. Seperti, awalnya ending dari ff ini sangat bertolak belakang dengan yang di atas.Sampai akhirnya coment- coment dari teman- teman sekalian kebanyakan memilik LuYeon sebagai pairing. Mian untuk SeYeon dan KrisTae sipper, tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya aku memutuskan LuYeon lah sebagai pairing . . . . .

Dengan bahasa yang sangat terbatas, alur yang aneh, dan tak lupa typo yang selalu hadir dalam setiap ffku membuat aku sempat berfikir berhenti menjadi author. Tapi sekali lagi teman- teman readers selalu membuatku rindu untuk kembali menulis dan rindu akan berbagai coment- coment lucu dari teman- teman . . . . .

Hmmm, Mianhae karena aku kurang bisa mengekspresikan perasaan orang yang sedang jatuh cinta dan sakit hati. Maklum aku juga belum pernah merasakannya, biasa masih polos gimana gitu, wkwkwkwkwkwk . . . .

Untuk sahabat dekatku Arwini yang selalu mendesakku baik di kolom coment maupun di sekolah untuk pairing LuYeon. Berbahagialah karena keinginanmu terwujud, hehehe . . . . .

Karena B2O dan BAB eh? Maksudnya Brother And Boyfriend udah end, jadi target selanjutnya adalah Love Is Not For My Husband. Walaupun itu ff baru tapi aku udah kepikiran jalan ceritanya sampai akhir sejak pertama kali ide ff itu muncul . . . . .

Sekali lagi KAMSAHAMMIDA . . . . . . .

Advertisements

67 thoughts on “[Freelance] Multichapter : Between Two Options (Chapter 12/END)

  1. happy ending, senengnyaaaaaa… oppa2nya taeyeon pervert semua kekekekke,, thor kalo sempet buat sequelnya yaaa hehehehe,, oya buat ff nya yg SeYeon yaaa 😀

  2. Happy ending… walaupun gak sama sehun. daebak!!! ternyata luyeon akhirnya dikira seyeon. bikin ff lutae dongg….

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s