[Freelance] Story of Exotaeng : Crush (Chapter10)

crush picCRUSH chapter 10

 

Author : RYN

Length : multichapter

Rating : PG 17 (sewaktu-waktu akan berubah)

Main cast :

@ Taeyeon SNSD

@ Tao EXO

Other cast : silahkan temukan sendiri

Genre : drama, romance

 

Note : yang udah kirim poster lewat email-ku, maaf banget aku belum pakai posternya. Mungkin next chap. D tggu aja ya..

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

SILAHKAN CARI IDE KALIAN SENDIRI TANPA MENCURI IDE ORANG LAIN!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

Typo bukanlah seni tapi kesalahan. So, mohon di maklumi^^

 

***

Taeyeon sibuk menelusuri setiap nomor di depan pintu ruang perawatan yang di lewatinya.

*401…402…403..ah ketemu!* air mukanya seketika berubah cerah begitu melihat nomor 403 yang terpampang di depan pintu. Tao yang sejak tadi berdiri di belakangnya, diam-diam tersenyum memperhatikannya. sudah berapa kali ia mendapati Taeyeon bersikap kekanakan, sangat berbeda dengan sikap dewasa yang selalu ia tunjukkan. Tao tak begitu terkejut, gadis yang lebih tua 3 tahun darinya itu ternyata tak sedewasa umurnya, di tambah lagi dengan bentuk tubuhnya yang lebih menyerupai anak SMA seumurannya. Itu malah semakin membuatnya tertarik. Taeyeon sekarang terlihat seperti anak kecil yang bahagia mendapat permen. Saking senangnya gadis itu tak menyadari keberadaannya.

Ragu-ragu, Taeyeon membuka pintu di depannya perlahan-lahan. Kepalanya melongok kedalam, memastikan bahwa ia memang tak salah ruangan. di sudut sana, di dekat sebuah jendela yang cukup besar, seorang wanita tua yang berumur kira-kira 50 tahunan, tengah berbaring lemah di atas ranjang berseprei putih khas rumah sakit. wanita tua itu sedang memandang ke arah jendela hingga tak sadar kalau Taeyeon sudah membuka pintunya lebar-lebar.

“halmoni!!”

Wanita tua itu tersentak kaget. dia menoleh dan kesan terkejut dari raut wajahnya kini terlihat lebih jelas. bibirnya membentuk sebuah lengkungan ke atas begitu tahu siapa yang memanggilnya.

“T-Taeyeon?” bisiknya tak percaya.

Taeyeon tersenyum sumringah, memperlihatkan gigi-giginya. “surprise!!” serunya girang.

Wanita tua yang di panggilnya halmoni itu setengah bangkit dari ranjangnya ketika Taeyeon menghambur ke pelukannya.

“aku rindu halmoni~” Taeyeon dengan suara cutenya, merengek manja padanya.

Wanita tua itu hanya terkekeh pelan sembari mengusap lembut rambutnya. “aku tidak tahu kalau kau akan datang.”

Taeyeon melonggarkan pelukannya, senyum masih setia di bibirnya. “tentu saja kami datang. kami sangat.sangat.sangat merindukan halmoni.” Ujarnya bersemangat.

“kami?” wanita tua itu tampak bingung. Taeyeon mengangguk dengan cepat.

“Sooyoung dan Jungjin juga ikut.” Ujarnya menambahkan.

“benarkah?” wanita tua itu tampak tak percaya namun sedetik kemudian berubah menjadi rasa haru. Sekali lagi Taeyeon mengangguk, tersenyum memperlihatkan gigi-giginya.

“lalu kemana mereka berdua?” wanita tua itu melongok ke belakang Taeyeon dan seketika kerutan di keningnya makin mendalam begitu melihat Tao berdiri disana. “pria itu..siapa?” tanyanya menatap Taeyeon.

Taeyeon menoleh lalu tersenyum. *ah, aku lupa kalau dia datang bersamaku*

“apa dia kekasihmu?”

Belum sempat Taeyeon menjelaskan tentang Tao, wanita tua yang di panggilnya halmoni itu kembali bertanya dan kali ini, dia hampir tersedak mendengarnya.

“b-bukan halmoni! D-dia bukan kekasihku.” Taeyeon membantah dengan cepat. tatapan jahil halmoni padanya ketika suaranya yang tiba-tiba berubah gugup membuat wajahnya bersemu merah. Tentu saja wanita tua itu tak sepenuhnya percaya dengan jawabannya. namun dia juga tak ingin memaksa Taeyeon untuk mengatakannya, terutama setelah pria itu juga ada disana. tanpa di jelaskan pun wanita tua itu bisa merasakan ada hubungan spesial yang terjalin di antara keduanya meskipun jelas mereka bukanlah sepasang kekasih.

Wanita tua itu kembali menatap Tao, Tao segera menundukkan kepalanya dengan hormat.

“senang bertemu anda halmoni. Namaku Shin Yoon.” Ucapnya sopan. Taeyeon cukup surprise dengan sikap yang di tunjukkannya. Bahkan wanita tua itu juga mengerjapkan matanya sesaat begitu mendengar Tao memperkenalkan dirinya.

“ah, senang bertemu denganmu juga Yoon.” Wanita tua itu akhirnya tersenyum. “kau anak muda yang tampan.” komentarnya.

Tao hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun, seolah mengatakan ia berterima kasih dengan komentar itu. Taeyeon tertegun, masih belum percaya yang di lihatnya. Dia tak pernah tahu kalau Tao memiliki sikap hormat itu juga dalam dirinya. selama ini, Tao tak pernah sekalipun menunjukkan kesopanannya itu padanya meskipun ia tahu ia lebih tua darinya. Taeyeon diam-diam mencibir dan menggerutu dalam hati, bisa-bisanya Tao memperlakukannya berbeda. bahkan pada Sooyoung saja ia juga memanggilnya noona sementara padanya tidak.

*menyebalkan!* gerutunya dalam hati sementara kedua matanya tak pernah lelah melotot tajam ke arah Tao. Tao yang seolah mendapat tanda itu, menoleh padanya. bukan dingin ataupun tajam seperti dugaannya, tapi Tao tetap memasang emotionlessnya seperti biasanya. tidak ingin rasa jengkelnya mengambil seluruh moodnya, Taeyeon memutuskan untuk mengabaikannya. Tapi, smirk Tao membuat jantungnya kembali terketuk keras. lagi-lagi seperti ini, tatapan Tao padanya sungguh tak bisa di lawan dan selalu berakhir, dirinya yang gugup dengan jantungnya yang berdebar-debar tiap kali Tao melakukannya.

Taeyeon segera memalingkan mukanya, “bagaimana keadaan halmoni?” tanyanya dengan mimik serius. dia sengaja mengalihkan pembicaraan sebelum wajahnya menjadi seperti kepiting rebus.

Wanita tua itu kembali terkekeh. “aku baik-baik saja Taeng-ah. Dua hari lagi, aku di izinkan pulang.”

Taeyeon mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. “senang mendengarnya halmoni.” Ujarnya bersemangat.

“kau belum mengatakan dimana Jungjin dan Sooyoung.”

Taeyeon tersenyum. “mereka sedang membeli sesuatu. aku dan Ta-maksudku kami berdua datang lebih dulu.” Jelasnya. Sedikit kaku karena sempat ingin menyebut nama Yoon dengan Tao.

Tepat saat itu, Jungjin dan Sooyoung muncul di pintu sambil menenteng kantung belanjaan di tangan mereka. sebelum ke rumah sakit, mereka berdua memang menyempatkan diri membeli buah-buahan dan menyuruh Taeyeon serta Tao untuk pergi ke rumah sakit lebih dulu. Jungjin awalnya tidak setuju karena dia ingin pergi bersama Taeyeon, tapi karena paksaan Sooyoung, mau tidak mau ia dia harus menerimanya.

“annyeong halmoni.” Sooyoung tersenyum cerah menyapa wanita tua itu. dia meletakkan kantung belanjaannya di atas meja samping ranjang kemudian menghampirinya untuk memberinya sebuah pelukan hangat. wanita tua itu sangat terharu dengan kehadiran mereka. kedua matanya sampai berkaca-kaca saking bahagianya. Sekian tahun tidak bertemu membuatnya begitu merindukan ketiganya.

“aww halmoni, jangan sedih. kau membuat kami ikut sedih.” Jungjin memberinya pelukan sembari mengusap kedua pundaknya. Sooyoung dan Taeyeon tersenyum sebelum akhirnya ikut bergabung ke dalam grup pelukan mereka.

Tao diam memperhatikan interaksi mereka. sudah lama sekali rasanya tak melihat pemandangan seperti itu di depannya. dia merasa tak nyaman terus berada di sekitar mereka. pemandangan hangat seperti itu entah mengapa membuatnya sesak. Tak ada yang menyadarinya hingga ia diam-diam berjalan keluar meninggalkan ruangan itu. keluarga, dia sudah lupa bagaimana rasanya memiliki keluarga.

Taeyeon mengernyit heran begitu mendapat Tao sudah tak berada di tempatnya lagi. *kemana dia?* mengapa Tao tiba-tiba pergi? apa dia merasa kurang nyaman? atau karena ia ingin menghirup udara segar? Pertanyaan-pertanyaan itu kini menggeluti pikirannya. tanpa sadar, dia kembali menaruh perhatian pada apa yang di lakukan Tao. sekilas ucapan prof Shin padanya waktu memintanya menjadi tutor Tao kembali terlintas di dalam kepalanya. ia tak buta, selama beberapa waktu yang di laluinya bersama Tao sudah bisa membuatnya menyimpulkan bahwa Tao memang anak yang kesepian. Sedikit demi sedikit ia mencoba memahami kepribadian dan sikap Tao yang cenderung tertutup dan dingin. meski tak sepenuhnya tahu apa yang di inginkan anak itu, tapi setidaknya ia mulai memberi perhatian terhadap keberadaannya.

Raut wajah Jungjin langsung berubah tak suka ketika melihat Taeyeon pergi menyusul Tao. dia ingin menyusul tapi Sooyoung sudah menarik lengannya. rupanya Sooyoung juga melihat kepergian Taeyeon menyusul Tao.

“biarkan dia.” Sooyoung tetap dengan suara tenang, tersenyum pada Jungjin.

Jungjin tersenyum pahit. Dia tidak punya alasan untuk ngotot membantah Sooyoung. dia hanya bisa berharap Taeyeon tidak jatuh cinta pada Tao. meskipun ia tahu, itu tak mungkin karena Taeyeon sudah menaruh perhatian pada anak itu.

Sepanjang jalan menyusuri koridor, Taeyeon tak henti-hentinya mencari sosok Tao. kedua matanya menelusuri setiap sudut rumah sakit, sesekali melongokkan kepalanya kesana kemari, siapa tahu saja Tao tertangkap oleh matanya. hingga akhirnya ia tiba di taman yang berada tepat di belakang rumah sakit. tidak ada yang menarik dengan taman itu selain rumputnya yang hijau dengan banyaknya pohon yang berjejer rapi. Hanya ada beberapa pasien yang berada di sekitar tempat itu. sebagian asyik berbincang dengan pembesuknya dan sebagiannya lagi duduk menyendiri menikmati udara segar.

Taeyeon menyusuri setapak kecil di depannya ketika mendadak langkah kakinya terhenti dan raut wajahnya seketika berubah cerah. Cukup jauh darinya, Tao berdiri di bawah pohon yang cukup besar dan rindang. Tanpa sadar senyum Taeyeon mengembang. Pencariannya akhirnya membuahkan hasil.

Bunyi langkah kaki yang perlahan mendekat membuat Tao yang tengah menikmati ketenangannya, sedikit terusik.

“apa yang kau lakukan disini?”

Suara yang tidak familiar menyapanya. Tao menoleh sepintas ke samping, seorang gadis berdiri dengan alat bantu. Gips putih yang menyelimuti kaki kanannya menjawab pertanyaan mengapa dia menggunakan penyangga itu. gadis itu tersenyum manis padanya tapi Tao tidak terpengaruh dengannya. dia kembali menatap lurus ke depan, tak tertarik. gadis itu cemberut, jelas kesal karena di abaikan.

“apa kau juga keluarga pasien?” dia kembali bertanya lagi. kali ini untuk memastikan Tao fokus padanya atau melihat ke arahnya, tertatih-tatih dia menyeret kakinya agar berada tepat di depan Tao dan itu berhasil. Tao diam menatapnya. ekspresi datarnya tetap di wajahnya. gadis itu mendongkol dalam hati, dia tak menyukai sikap Tao padanya tapi dia juga tak ingin langsung pergi begitu saja. pria di depannya itu sudah menarik perhatiannya saat pertama kali ia melangkah ke taman itu dan sekarang pria itu malah mengacuhkannya.

“aku Yuri. Siapa namamu? Apa kau kemari menjenguk keluargamu?”

Untuk kesekian kalinya ia bertanya tapi Tao lagi-lagi diam menatapnya dengan tatapan yang entah mengapa membuat siapapun yang melihatnya merasa tidak nyaman.

*damn! Tidak bisakah ia mengeluarkan suara sedikit saja? apa dia bisu?* Yuri merutuk kesal. sebelum ia mengeluarkan kalimat yang pasti pertanyaan, Tao telah berjalan meninggalkannya.

“hei tunggu!” Yuri susah payah menyusulnya. Dia menarik lengan Tao agar membuatnya berhenti namun dalam hitungan detik setelah tindakannya, tubuhnya tertekan ke dinding dengan kasar. Yuri terkejut dan meringis, kedua tangannya kini telah berada di samping kiri kanan kepalanya dengan Tao yang mencengkeram kuat keduanya. Belum lagi rasa sakit punggungnya akibat terhempas ke belakang.

Tatapan Tao yang begitu dingin membuat tubuhnya sedikit bergetar. menatap ke dalam mata Tao menimbulkan ketakutan di dalam dirinya. tapi di sisi lain, wajah Tao yang berada tepat di depan wajahnya membuat kedua pipinya bersemu merah. Jantungnya berdebar-debar, aliran darah dalam tubuhnya berdesir hebat. Ini pertama kalinya ia merasakan perasaan seperti ini. dia menyukai pria di depannya ini. mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, Yuri tersenyum menikmati kemarahan Tao.

Tao tiba-tiba melepaskan tangannya dan berbalik pergi tanpa mengatakan apapun. Dia tak ingin, bahkan tak perduli dengan gadis yang sama sekali tak ingin di kenalnya. Dia menghentikan langkahnya ketika menangkap sosok gadis yang sejak tadi berada dalam pikirannya hingga sekarang, berada di balik pohon tidak jauh di depannya. sebelah alisnya terangkat menatap lurus ke arah pohon itu.

“kau sudah selesai?”

Mendengar suaranya, Taeyeon tersentak kaget. diapun akhirnya terpaksa keluar dari balik pohon itu karena sudah ketahuan. Kepalanya tertunduk malu menghindari tatapan Tao. saat melihat Tao tadi, dia sebenarnya ingin mendekatinya. Tapi, begitu melihat seorang gadis berambut panjang lebih dulu menghampiri Tao, dia memilih untuk bersembunyi. Taeyeon sendiri tak tahu mengapa dia harus bersembunyi dari mereka. tubuhnya seolah bergerak sendiri tanpa sadar. Melihat interaksi Tao dan gadis itu membuatnya merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. dia sendiri tak yakin, mungkin kah dia cemburu?

Ketika tubuh gadis itu bersandar di dinding dan Tao berada di hadapannya, dia memiliki perasaan ini. perasaan yang membuatnya tidak suka melihat gadis itu dekat-dekat dengan Tao. itu adalah pemandangan yang tidak ingin di lihatnya tapi akhirnya dia tetap memaksakan matanya dan membiarkan rasa penasarannya mengendalikannya untuk tetap mengawasi mereka tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya. Taeyeon tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dan langsung berasumsi kalau Tao dan gadis itu mungkin saling mengenal satu sama lain. awalnya, dia ingin tetap bersembunyi hingga mereka pergi tapi Tao ternyata telah menyadari keberadaannya.

“mau sampai kapan kau berdiri disitu?”

Taeyeon membatu di tempatnya. jantungnya berdetak sangat kencang saat merasakan Tao berjalan menghampirinya. dia ingin segera pergi dari tempat itu tapi kakinya terasa berat untuk melangkah.

“kau mendengarku dengan sangat jelas.”

Taeyeon tersentak. dia mengangkat kepalanya dan bertemu dengan tatapan datar Tao yang sudah berdiri tepat di depannya. “a-aku..” suaranya yang gugup menggantung begitu saja. tidak tahu apa yang ingin di ucapkannya. Taeyeon menarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi kegugupannya lalu kembali berbicara. “sebaiknya kita masuk sekarang. halmoni pasti sudah mencari kita.” Ucapnya pelan. dia cukup terkejut karena suara yang keluar dari mulutnya begitu tenang tanpa terputus-putus yang tadinya ia mengira kegugupannya akan menghambatnya.

Taeyeon menoleh sekilas pada gadis yang tadi bersama Tao. Gadis itu masih berada disana dan juga melihat ke arahnya sembari mengusap kedua pergelangan tangannya. dari raut wajahnya yang tampak kesakitan, bisa ditebak kalau Tao pasti telah menyakitinya. Taeyeon tak bisa mengabaikan rasa penasarannya tentang hubungan Tao dengan gadis itu. dia tak bisa menyembunyikan rasa tidak nyamannya ketika membayangkan Tao dekat dengan gadis lain.

“kau sengaja datang mencariku?”

Pertanyaan Tao membuat Taeyeon mengalihkan pandangannya dari gadis itu. raut wajah Tao yang tidak berubah membuatnya sedikit salah tingkah. Tatapan Tao selalu membuatnya gugup. haruskah dia mengatakan yang sebenarnya sementara debaran di dalam sana semakin berpacu dengan cepat?

“t-tentu saja. kau pergi tanpa pamit, tentu saja aku kemari mencarimu.” Usai mengucapkan kalimat itu, Taeyeon langsung merutuki dirinya dalam hati karena akhirnya ia lagi-lagi tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Taeyeon tak tahu kalau jauh dalam hatinya, Tao sebenarnya mengharapkan lebih dari sekedar jawaban itu. melihat Taeyeon berada disini, tak terbayangkan betapa senangnya ia.

“ayo-“

Belum sempat Taeyeon melanjutkan kalimatnya, Tao tiba-tiba menarik lengannya. tubuhnya yang mungil dan tentu saja ringan, terhempas ke dada Tao. kedua matanya seketika membulat, jantungnya yang sudah berdebar kencang kini serasa ingin meledak di dalam sana. Tidak pernah terlintas dalam kepalanya kejadian ini akan kembali terjadi. Skinship dengan Tao. Tao yang lebih tinggi darinya, menurunkan setengah tubuh atasnya bersamaan dengan kedua lengan kokohnya yang kini melingkar di sekeliling tubuhnya. Taeyeon sejenak merasakan kehangatan dan rasa nyaman dalam pelukannya tapi mengingat dimana dan bagaimana situasi mereka saat ini, secepat kilat ia menepis seluruh perasaan itu.

“a-apa yang kau lakukan?” setengah memekik, Taeyeon meronta mencoba melepaskan diri dari Tao. usahanya menjadi sia-sia karena tubuh Tao tak bergerak sedikitpun darinya. seolah kekuatan Taeyeon tak berarti apa-apa baginya meski gadis itu telah mengerahkan seluruh kekuatannya.

“diamlah. Aku ingin istirahat sebentar.” Bisik Tao dengan suara yang sangat tenang.

*kau kan bisa istirahat di rumah!* Taeyeon mendengus kesal. dia sudah menduga hal ini pasti terjadi lagi. situasi dimana dia harus menyerah pada sifat keras kepala dan juga pemaksa Tao.

“kenapa kau selalu seperti ini?”  protes Taeyeon.

“karena aku menyukainya.”

Jantung Taeyeon seolah melonjak keluar mendengar pernyataannya. Dia kehilangan kata-kata. Tao mengeratkan pelukannya dan Taeyeon merasakan jantungnya semakin tak terkendali. Pelukan hangat Tao membuat kedua lututnya melemas. Jika saja Tao tidak memegangnya, dia mungkin sudah tersungkur ke bawah.

“orang-orang melihat kita.” Taeyeon mencoba tetap tenang menutupi perasaannya yang sedang berkecamuk di dalam sana.

“biarkan saja.”

Taeyeon hanya bisa menghela nafas. Tao memang lebih muda darinya tapi itu bukan berarti dia bisa mengendalikannya. Di luar dugaannya, Tao lebih keras dari yang ia kira.

Yuri menatap Taeyeon dengan tatapan penuh kebencian. Dia sangat terkejut melihat bagaimana pria yang di sukainya tiba-tiba memeluk gadis itu. pemandangan di depannya membuatnya menjadi tidak suka dengan gadis itu. Dia merasa cemburu juga tidak terima, bagaimana tadi Tao bersikap dingin padanya sementara pada gadis itu dia bersikap sangat berbeda. tatapannya pada gadis itu berbeda ketika ia menatapnya. sadar atau tidak, kedua kepalan tangannya teremas kuat sementara pandangan geramnya terus berfokus pada Taeyeon.

*aku masih lebih baik dari gadis itu!* pekiknya dalam hati. melihat keduanya membuat rasa cemburunya semakin menjadi, bersamaan dengan itu, seseorang menghampirinya.

“nona anda harus masuk sekarang.” seorang pria yang memakai kemeja hitam berbicara padanya. dari cara ia memanggilnya dengan sebutan nona juga cara ia berbicara begitu hormat padanya, bisa di pastikan kalau gadis itu bukanlah gadis biasa. Pria yang memanggilnya itu adalah pengawalnya.

“aku tahu!” Yuri menyahut dengan nada ketus. Dia tak bisa menolak karena tahu pria itu hanya mengikuti perintah dari pamannya. Sebelum pergi dia sempat melayangkan tatapan tajam ke arah Taeyeon kemudian berjalan meninggalkan tempat itu di ikuti pengawalnya.

“Tao..” Taeyeon bergumam. Dia tak tahu mengapa dia tiba-tiba memiliki keinginan untuk menanyakan sesuatu padanya. dalam posisi seperti ini, tentu dia merasa sedikit canggung. Tao bukan kekasihnya dan bukan pula seseorang yang memiliki hak untuk memeluknya selama ini. terutama di tempat umum seperti saat ini dan anehnya, dia bahkan tidak berusaha lagi untuk mendorongnya. Jadi dia hanya berdiri seperti patung dengan kedua tangannya masih tersimpan rapi di sisi kiri kanan tubuhnya.

“ada sesuatu yang mengganggumu?” suaranya sangat pelan tapi Tao bisa menangkap nada khawatir di dalamnya.

Tao memejamkan matanya, menghirup aroma tubuh gadis itu saat ia mendekapnya semakin erat, tanpa berniat menjawab pertanyaannya. sekalipun mungkin Taeyeon hanya kasihan padanya, dia tetap ingin menikmati waktu yang singkat ini bersamanya. merasakan tubuh gadis yang di sukainya dalam pelukannya menimbulkan perasaan hangat dalam hatinya. bebannya serasa berkurang. Kesepian dan kesedihan yang di rasakannya perlahan-lahan menghilang setiap kali gadis itu bersamanya. selama ini dia hidup dalam rasa bersalah, kemarahan, kesepian, dan luka dari masa lalu yang merenggut hampir seluruh kehidupannya. Kehidupan kelamnya memberikan efek yang sangat besar di kehidupannya sekarang. dia ingin mencoba memulihkan kehidupannya dengan memulai hidup baru tapi, ini sudah beberapa tahun berlalu dan dia masih tetap seperti itu. dan akhirnya, dia menyerah bahkan sebelum ia mencobanya.

Pertama kali melihat Taeyeon, dia merasakan sesuatu yang berbeda pada gadis itu. saat matanya menangkap sosok gadis mungil itu, saat itu pula ia tahu kalau hanya gadis itulah yang bisa membantunya. Mungkin dia terlalu berharap tinggi atau sifatnya yang memang terlalu egois ingin memiliki gadis itu. sejak mengenalnya, seluruh perhatiannya berpusat pada gadis itu dan ia menyukainya. satu hal yang menjadi kendalanya, dia bukanlah tipe pria yang akan mudah mengatakan sesuatu seperti ‘aku menyukaimu’ atau ‘aku mencintaimu’ atau kata-kata semacam itu secara langsung saat itu. mungkin itu pula yang menjadikannya sebagai pria yang kaku dan dingin. dia hanya tidak tahu caranya menunjukkannya.

“Tao kita sudah terlalu lama disini. Jungjin dan Sooyoung pasti sedang mencari kita.” Taeyeon berusaha melepaskan pelukannya.

“jantungmu berdebar kencang.” Tao berucap pelan.

Taeyeon yang berusaha mendorongnya tiba-tiba membeku di tempatnya. dia berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan wajahnya yang merona karena ucapannya sementara dalam hatinya menggerutu kesal karena Tao sudah lancang mengungkapkan apa yang dirasakannya tanpa izinnya. Itu seharusnya menjadi rahasianya tapi Tao mengacaukannya.

“l-lepaskan aku atau aku akan teriak.” Meski sudah berusaha membuat suaranya terdengar seperti ancaman, Taeyeon tetap tak bisa menghilangkan kegugupannya.

“jika itu membuatmu senang, teriaklah.”

Taeyeon tercengang. Mulutnya langsung terbungkam dengan kalimat simpel Tao. dari balik punggungnya, dia bisa merasakan senyum penuh kemenangan Tao karena telah berhasil membuatnya diam.

“kau sudah melupakan janjimu padaku kitty.”

Alis Taeyeon bertaut. Tao kemudian melonggarkan pelukannya dan menatapnya. Taeyeon menjadi salah tingkah, tatapan Tao yang tajam dan intens serasa menembus ke dalam jiwanya. Dia ingin menghindarinya tapi bersamaan dengan itu, ia pun tak bisa mengalihkan pandangannya.

“jika aku menciummu sekarang, apa kau akan menolakku?” tanya Tao terus terang.

“huh?” Taeyeon terkejut. Ia berharap itu hanyalah sebuah candaan tapi melihat raut serius dan tetap tenang yang di tampakkan Tao, wajahnya berubah pucat.

“Taeyeon..”

Taeyeon tersentak mendengar seseorang memanggilnya. dia memutuskan kontak mata diantara dia dan Tao kemudian menoleh ke belakang dimana Jungjin telah berdiri disana. raut wajah pria itu tampak tak begitu senang melihatnya atau begitulah yang di kiranya. Wajah Jungjin merah padam dan dia berusaha untuk menahan ledakan amarahnya ketika melihat tangan Tao bersandar di pinggang Taeyeon. Tao yang menatapnya dengan tatapan tajamnya sungguh tak membuatnya tenang. tanpa aba-aba, dia berjalan menghampiri Taeyeon lalu menarik tangannya dengan paksa hingga gadis itu kini berada di sampingnya.

“Jungjin!” pekik Taeyeon kaget. ini pertama kalinya ia melihat Jungjin seperti ini. Jungjin saat itu tak perduli, asal dia bisa menjauhkan Taeyeon dari Tao, itu membuatnya puas. Kecemburuannya membuatnya buta hingga tak memikirkan kalau dia telah membuat Taeyeon sedikit takut padanya.

Jika tatapan bisa membunuh, mungkin Jungjin sudah mati di tempatnya sekarang. Tao yang seolah melayangkan laser lewat tatapannya pada Jungjin selalu berhasil membuat pria itu merinding ketakutan. Orang-orang yang melihatnya seperti itu mungkin akan mengejeknya tapi Jungjin bisa memastikan jika saja orang-orang itu tahu siapa pria di depannya yang kini melayangkan tatapan tajam padanya, mereka pasti akan merasakan hal yang sama dengannya.

“Jungjin sebenarnya kau kenapa?” Taeyeon nampak kesal. dia menarik tangannya dan mengusapnya.

Jungjin menoleh padanya. begitu melihat pergelangan Taeyeon yang memerah, dia sangat terkejut. “maafkan aku baby.. aku tidak bermaksud menyakitimu. Sungguh.” Ucapnya merasa bersalah.

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tak paham dengan tindakannya beberapa menit yang lalu.

“apa sakit sekali?” Jungjin meraih tangannya dan meniupnya dengan penuh kelembutan. Wajahnya yang di penuhi rasa bersalah membuat kekesalan Taeyeon berangsur-angsur menghilang. Taeyeon diam-diam melirik ke arah Tao yang masih berdiri di tempatnya. entah mengapa saat itu, Taeyeon menarik kembali tangannya membuat Jungjin heran dengan sikapnya. Taeyeon hanya merasa kurang nyaman saat Tao terus menatapnya seolah ia telah melakukan hal yang salah.

“ayo masuk. halmoni mencarimu.” Jungjin tersenyum padanya. Taeyeon hanya mengangguk pelan. dia menoleh ke tempat Tao tapi yang ada Tao sudah berbalik dan berjalan pergi.

Taeyeon menghela nafas dalam-dalam lalu mengikuti Jungjin. Sepanjang jalan entah sudah berapa kali Jungjin mengajaknya berbincang-bincang tapi Taeyeon selalu melamun dan tak mendengarnya. Jungjin harus memanggilnya berkali-kali agar ia kembali fokus tapi pada akhirnya, dia lagi-lagi kembali melamun dan itu membuat Jungjin sedikit kesal. dia tahu siapa yang di pikirkan Taeyeon sekarang dan dia sangat tidak suka dengan fakta bahwa Taeyeon masih memikirkannya sementara ia bersamanya. Tao memberi efek yang besar pada Taeyeon dan Jungjin mau tidak mau harus mengakuinya. Tapi di sisi lain, dia juga tak ingin Taeyeon nantinya terluka karena Tao.

Sementara itu, Taeyeon memikirkan ucapan Tao tadi padanya. janji apa yang telah dilupakannya? Dan jika mengingat bagaimana Tao meminta persetujuannya untuk menciumnya membuat wajahnya memanas. Tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya akan berciuman dengan Tao. itu akan menjadi aneh menurutnya karena dia tak memiliki perasaan apapun terhadapnya? Atau mungkinkah ia memilikinya? Dia benar-benar bingung.

Dan mungkin itu kalimat yang tak pantas dan bisa saja membuatnya marah usai mendengarnya, tapi sekali lagi Taeyeon mendapati dirinya tak merasakan perasaan itu. yang ada dia menjadi penasaran sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Tao ketika mengucapkan kalimat itu. apakah dia sungguh mengharapkan jawaban atas pertanyaannya? atau dia hanya menggodanya di balik wajahnya yang tenang itu? entahlah.

 

***

“apa kita harus memetik semuanya?” Jungjin mulai mengeluh. Peluh sudah mengucur di sekitar tengkuk dan dahinya.

Sooyoung tersenyum mengejeknya. “jangan malas. kau bahkan belum memetik setengahnya.”

Jungjin mendelik kesal padanya. Sooyoung yang terkikik semakin membuatnya kesal.

Sejak sejam yang lalu mereka telah di sibukkan dengan hamparan tanaman bunga di depan mereka. halmoni memiliki taman bunga yang sangat luas dengan beberapa jenis bunga yang tumbuh di dalamnya. Dia adalah satu-satunya penjual bunga terbesar di kota kecil itu. dan karena halmoni masih terbaring lemah di rumah sakit, mereka berinisiatif untuk membantu pekerjaannya. Memetik bunga dan mengantarkannya ke toko-toko bunga langganan halmoni. Ini mungkin pekerjaan yang terlihat mudah tapi setelah menjalaninya, Taeyeon dan lainnya hampir menyerah karena lelah. mungkin tidak semuanya karena Tao tampak tenang saja seolah tak merasa lelah sedikitpun dan itu membuat Taeyeon kagum padanya.

Jungjin menghampiri Taeyeon dengan wajah cemberutnya. “Taeyeon baby, aku lelah. bisakah kita istrahat?”

“later Jungjin. kita masih punya banyak pekerjaan. Kau lihat, semua bunga ini harus di petik sebelum siang.” Taeyeon menyahut tanpa melihatnya. dia sibuk memetik bunga mawar di depannya.

Jungjin semakin cemberut. Dia bahkan mengerucutkan bibirnya dan mengomel seperti anak kecil.

“mengomel sepuasmu tapi terus gunakan tanganmu.” Taeyeon meliriknya sekilas, “Kau tentu tidak ingin halmoni rugi karena kemalasanmu.” Candanya.

“yah Jungjin!!”

Jungjin tersentak. matanya membulat lebar mendengar suara Sooyoung memanggilnya. Taeyeon terkekeh pelan melihat ekspresinya. “pergi sana. Sooyoung pasti akan mengomelimu kalau kau tidak membantunya.” Ujarnya.

“kau sendiri bagaimana? Aku akan membantumu disini.”

Taeyeon tertawa ringan. “Tao akan membantuku. Pergilah.”

Jungjin melirik Tao yang berada tidak jauh dari mereka. dia mendecak membayangkan Taeyeon akan bersama anak itu lagi.

“ah aku mengerti…” Jungjin tidak bisa menyembunyikan ketidak sukaannya pada Tao. Tao menoleh padanya. “aku heran mengapa anak itu selalu menempel padamu. dia seperti stalker.” Ujarnya dengan kalimat yang sinis seperti tatapannya pada Tao sekarang. dengus kesalnya terdengar jelas ketika mengucapkan kalimat yang terakhir. “kenapa bukan dia saja yang pergi membantu Sooyoung.” gumamnya.

Taeyeon mengernyit, dia tak habis pikir mengapa Jungjin kelihatan sangat membenci Tao.

“Jungjin aku bersumpah kalau kau tidak datang membantuku dalam waktu 5 menit dari sekarang, aku akan memburumu hingga kau lupa untuk berhenti.” suara Sooyoung yang mengancam membuat Jungjin buru-buru pergi. dia bukannya takut, tapi terkadang Sooyoung bisa sangat menakutkan jika marah atau lebih parah, gadis itu akan mengomelinya sepanjang hari.

Taeyeon tidak bisa menahan tawa gelinya melihat Jungjin hanya mengangguk patuh seperti anak-anak yang sedang di marahi ibunya begitu Sooyoung memarahinya. Kebiasaan memang tidak bisa di rubah, sekian tahun mengenal mereka berdua, Taeyeon sudah terbiasa melihat keadaan seperti ini.

Beberapa jam pun berlalu, tanpa terasa matahari mulai meninggi tanda pagi akan segera berakhir. Taeyeon menghentikan pekerjaannya dan berdiri ketika mendengar suara Sooyoung yang memanggilnya dari jauh. gadis itu melambai ke arahnya.

“aku dan Jungjin akan mengantar pesanan yang terakhir!” teriaknya. “setelah selesai, tunggu kami di cafe okay?!”

Taeyeon hanya mengangguk dan mengangkat tangannya memberi tanda OK. dia tahu café yang dimaksud Sooyoung karena kemarin mereka pergi bersama kesana. Sooyoung tersenyum kemudian berlalu pergi. tinggallah dirinya dan Tao di taman bunga yang luas itu. jika sebelumnya Taeyeon merasa nyaman berlama-lama disitu, kini dia merasa ingin cepat-cepat selesai. Berdua saja dengan Tao sungguh membuatnya sesak karena rasa canggung. sejak tadi Tao tidak pernah berbicara padanya dan dia sangat berterima kasih karena itu. bukan karena ia tak menyukai kehadirannya tapi berada bersamanya setelah kejadian kemarin membuat perasaannya jadi tak menentu. Bahkan untuk memulai pembicaraan dengannya saja sudah membuatnya berdebar-debar.

“mm..Tao..” Taeyeon memulai pembicaraan. Tao menghentikan pekerjaannya dan menoleh padanya. tatapannya yang selalu fokus padanya membuat Taeyeon sedikit salah tingkah. Tao selalu seperti itu jika berbicara dengannya. menepis perasaan itu, Taeyeon memperbaiki sikapnya. “kenapa kemarin kau pergi begitu saja? keluar dari ruangan halmoni tanpa mengatakan apapun. Apa kau merasa tidak nyaman?” tanyanya ingin tahu.

Tao masih dengan pokerface-nya kembali ke pekerjaannya. Taeyeon kembali sibuk memetik mawar di depannya. dia sadar, Tao tidak akan mungkin semudah itu mengatakan alasannya padanya. di samping dia bukan tipe pria yang suka berbicara, Tao juga pria yang sangat tertutup. Dia akan menjawab jika ia sendiri menginginkannya.

Taeyeon sesekali mencuri pandang ke arah Tao, hanya ingin tahu apa yang sedang di lakukan pria itu sekarang. berdiri memandanginya seperti ini memang bukan hobinya, tapi terkadang pemandangan Tao di depannya sangat menarik. Taeyeon menyadari satu hal, tak perduli berapa sering ia melihatnya, Tao selalu berhasil mengusik rasa ingin tahunya tentang sisi misterius dari dirinya. membuatnya tak bisa mengalihkan pandangannya ke tempat lain. tidak ingin ketahuan, Taeyeon memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada pekerjaannya.

“akh!” Taeyeon sontak menarik tangannya. duri dari mawar yang di petiknya tak sengaja tertusuk olehnya. “sakit sekali.” ringisnya. Bekas luka tusukan di jari tangannya kini berdarah.

*whaaa..?!* Ia terkejut ketika tiba-tiba Tao menarik tangannya dan membawanya ke dalam mulutnya. jantungnya serasa melompat keluar, seluruh tubuhnya seperti terkena aliran listrik atas tindakan Tao yang tak terduga. Untuk beberapa detik lamanya Taeyeon terpaku di tempatnya dengan dua mata yang membulat lebar. Tao menatap lurus padanya tanpa melepaskan jari tangannya yang masih berada di dalam sana. Mereka hanya berdiri saling menatap satu sama lain. sadar tidak seharusnya mereka seperti ini, Taeyeon buru-buru menarik tangannya dan mengepalnya dengan kuat. Wajahnya yang merah padam segera di palingkan.

“k-kita s-sebaiknya beristrahat.” Suara Taeyeon nyaris berbisik. tidak ingin mengetahui reaksi Tao, dia segera berlalu pergi.

 

***

Hari masih pagi tapi jalanan mulai di padati oleh manusia yang lalu lalang. kota kecil yang hari biasanya tampak lenggang kini ramai oleh para pengunjung yang berdesak-desakan hampir di setiap sisi jalan. Ini sudah hari ketiga sejak Taeyeon dan lainnya tiba di kota kecil itu. perlahan-lahan mereka mulai beradaptasi dengan apa yang dilakukan penduduk kota itu setiap harinya. Tak terkecuali hari ini. festival bunga yang selalu di adakan tiap tahun di kota kecil itu, di adakan hari ini. tentunya sebagai pemasok bunga terbesar, toko halmoni lah yang memiliki banyak keuntungan. Taeyeon dan lainnya sibuk mengurus semuanya dengan dibantu beberapa dari pekerja halmoni yang selalu bekerja tanpa kenal lelah.

“wuahh…ramai sekali!!” Sooyoung bersorak kegirangan. Sejak tadi kedua matanya tak pernah bosa mengagumi keindahan bunga-bunga yang tertata rapi di setiap sudut jalan. Jungjin dan Taeyeon yang berjalan di samping kanan kirinya mengangguk setuju. Karena ini adalah festival bunga, pemandangan di sekitar mereka berubah menjadi seperti taman yang indah dengan berbagai jenis bunga yang di pajang di hampir setiap jalanan yang mereka lalui. Baik Taeyeon maupun Sooyoung dan Jungjin, ketiganya merasa beruntung bisa datang ke kota ini di saat festival bunga berlangsung. mereka jadi kembali menikmati festival bunga untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun tidak datang ke kota ini.

“aku berharap Siwon hubby ada disini.” Sooyoung bergumam lirih.

Taeyeon dan Jungjin beradu pandang lalu tersenyum memutar bola mata mereka.

“jangan mengejekku.” Sooyoung dengan muka cemberut memukul lengan Taeyeon dan Jungjin bergantian. “kalian seharusnya kasihan padaku~” ucapnya dengan suara aegyo andalannya.

Taeyeon pura-pura bergidik ngeri yang membuat Sooyoung kesal dan akhirnya kembali mendaratkan pukulan ringan di lengannya.

“yaa!!”

Sooyoung mendecak kesal saat Taeyeon melotot tajam padanya. “aku tidak sabar melihatmu mempunyai kekasih lagi.” ujarnya sembari melirik sekilas ke arah Tao yang berjalan di belakang Taeyeon lalu kembali melihat Taeyeon dengan full senyum jahil di wajahnya. “aku yakin kau pasti akan bertingkah sepertiku. Mungkin lebih buruk.” Ejeknya.

“itu tidak akan terjadi.” Taeyeon menjulurkan lidahnya membalas.

“my baby-ku benar.” sambung Jungjin tiba-tiba. Dia meletakkan lengannya di atas pundak Taeyeon dan menariknya semakin merapat padanya. Taeyeon hanya memandangnya dengan bingung. “itu tidak akan terjadi karena aku akan selalu bersamanya.” tambahnya.

Pernyataannya membuat Taeyeon dan Sooyoung melongo. Tao melirik tajam lengan Jungjin yang masih setia di bahu Taeyeon. cara ia melihatnya seolah ingin menerkamnya. Saat itu, baik Taeyeon maupun Jungjin tidak menyadarinya. Sooyoung sengaja melirik ke arah Tao hanya ingin melihat bagaimana reaksi Tao terhadap sikap Jungjin. dan seperti dugaannya, Tao sangat tidak menyukainya. Sooyoung tersenyum puas. *kau akan berterima kasih padaku nanti Taeyeon.* batinnya.

“aww..” Jungjin meringis sontak menurunkan lengannya dan mengusap-usapnya. “kau kasar sekali padaku.” ucapnya manja pada Taeyeon yang baru memberinya smack keras padanya.

“jangan mengatakan yang tidak-tidak seperti itu. kau hampir membuatku kena penyakit jantung karena tiba-tiba berubah menjadi pria puitis. Ugh mengerikan.” Taeyeon pura-pura bergidik.

Sooyoung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. “itu kalimat paling ‘cheesy’ yang pernah kudengar Jungjin. really.” Ujarnya sembari menahan tawanya.

Wajah Jungjin berubah cemberut. *tapi itu benar-benar dari hatiku Taeyeon. aku ingin selalu bersamamu.*

Setelah menikmati makan siang, mereka kembali menjelajahi kota. Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di kota kecil ini karena besok mereka harus kembali ke Seoul. Di saat yang lainnya tersenyum cerah menyapa orang-orang di sekitar mereka, Tao hanya diam dengan ekspresi datarnya. Sejak tadi perhatiannya hanya tertuju pada Taeyeon. gadis itu sibuk memotret sana sini, terkadang Jungjin dan Sooyoung ikut berfoto bersamanya. meskipun Tao juga menikmati festival itu, dia tak menunjukkannya seperti yang lainnya. Taeyeon mengambil seluruh perhatiannya. Sejak kejadian kemarin, gadis itu selalu menghindarinya. berusaha keras menghindari tatapannya setiap kali pandangan mereka bertemu. Tao juga tak bisa memulai pembicaraan dengannya karena Jungjin dan Sooyoung, terlebih Jungjin yang selalu berada bersamanya. Tao selalu merasa iri pada mereka berdua yang selalu berhasil membuat Taeyeon tertawa. Di abaikan seperti itu oleh Taeyeon membuatnya kecewa.

Suara Sooyoung yang memanggil Taeyeon membuat perhatian Tao teralih. Dia melihat Sooyoung menarik tangan Taeyeon membawanya ke salah satu permainan yang ada di pinggir jalan.

“lihat! Boneka panda!” seru Sooyoung bersemangat.

Taeyeon dan Jungjin termasuk Tao melihat ke arah yang di tunjuk Sooyoung. boneka panda yang cukup besar terpajang rapi disana. wajah Taeyeon seketika berubah cerah, kedua matanya berbinar-binar. Alis Tao mengernyit, dia ikut melihat ke arah boneka panda yang di maksud Sooyoung lalu kembali menatap Taeyeon. *kekanak-kanakan*

“aigoo..kau sama sekali tidak berubah baby.” Jungjin tersenyum geli melihat perubahan drastis Taeyeon.  Taeyeon tidak memperdulikan ucapannya. Matanya terus fokus pada boneka panda di depannya.

Sooyoung mengangguk setuju. “kau tidak tahu saja. mungkin itu juga sebabnya ia menyukai seseorang yang mirip dengan panda.” Gumamnya melirik Tao.

Taeyeon melayangkan tatapan tajamnya pada Sooyoung seolah mengatakan ‘haruskah kau mengungkit hal ini sekarang? disini?!’ Sooyoung yang memang sengaja ingin menggodanya, pura-pura tidak mengerti dengan bahasa isyaratnya.

“seseorang yang mirip dengan panda? Who?” Jungjin bertanya penasaran.

Taeyeon sekali lagi melotot pada Sooyoung, tapi Sooyoung tidak perduli dengan tatapan kesalnya. Dia terkikik membuat Taeyeon cemberut dan semakin kesal, sementara Tao tetap tenang seperti biasanya. pria itu tak terusik dengan petunjuk yang di berikan oleh Sooyoung kalau seseorang yang mirip dengan panda itu adalah dia.

“bukan siapa-siapa.”  Sooyoung tersenyum jahil. Jungjin mengerutkan keningnya. bingung.

Tidak ingin membuang-buang waktu di tempat itu dan merasakan tatapan tajam Taeyeon lebih lama,  Sooyoung memutar tubuhnya menghadap pria pemilik permainan di depannya.

“bagaimana kami bisa mendapatkan boneka panda itu?” tanyanya dengan senyum semanis mungkin. Pria itu yang kelihatannya memang lebih muda darinya tampak tersipu malu.

Taeyeon dan Jungjin hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat tingkahnya. Biar bagaimanapun, Sooyoung tetaplah Sooyoung. Sooyoung yang akan selalu memberikan senyuman manis pada pria manapun yang menurutnya tampan dan cute. kebetulan, pria pemilik permainan itu sangat cute jadilah Sooyoung menggodanya.

“s-siapapun yang berhasil menjatuhkan bola-bola itu…” pria itu tersenyum gugup dan menunjuk ke arah bola yang telah disusun berjejer rapi ke atas, “..akan mendapatkan boneka panda itu.” jelasnya.

Sooyoung mengangguk mengerti. “terima kasih.” Ucapnya sembari mengedipkan sebelah matanya membuat pria itu salah tingkah.

“euw..berhentilah bersikap seperti gadis remaja. Ingat umurmu.” Taeyeon mengejeknya.

Sooyoung yang tentu saja tidak suka di ingatkan tentang umurnya, langsung melotot padanya.

“kau bisa membuat anak itu pingsan di tempat karena senyum mengerikanmu itu.”

“senyumku tidak mengerikan!” bantah Sooyoung tak terima.

Jungjin menghela nafas panjang. “haruskah kita menghabiskan waktu berdebat disini teman-teman?” ujarnya dengan senyum paksa.

“fine!” Sooyoung mengalah. dia kemudian menatap Jungjin dan Tao bergantian lalu tersenyum. senyum yang Taeyeon yakin memiliki makna tersembunyi. “so…bagaimana kalau kalian berusaha mendapatkan boneka panda itu..untuk Taeyeon?”

Mulut Taeyeon melongo kaget. dia langsung menarik lengan Sooyoung sedikit menjauh dari Jungjin dan Tao. Jungjin sangat senang dengan ide itu. tanpa di minta pun dia sudah bersedia mengambilnya untuk Taeyeon. sementara Tao, dia tidak mengatakan apapun mengenai ide Sooyoung dan hanya tetap berdiri diam di tempatnya.

“yaa apa yang kau lakukan?” desisnya tak setuju. “aku tidak pernah meminta boneka panda itu.” tambahnya.

“benarkah?” Sooyoung menaikkan sebelah alisnya, menatapnya dengan pandangan tak percaya.

Taeyeon melotot. Sooyoung memutar bola matanya lalu berbicara kembali. “terakhir kali kulihat kau begitu antusias dengan boneka itu.”

“tapi aku tak pernah memintanya.”

“itu benar.” Sooyoung mengangguk mantap. “tapi permainan ini pasti akan sangat menyenangkan.”

*huh?* Taeyeon mengeryit. Apa yang ada dalam otak Sooyoung sekarang? dia sudah menduga, sahabatnya itu pasti akan muncul lagi dengan ide gila dari otaknya.

Sooyoung sedikit mencondongkan tubuhnya membisikkan sesuatu di telinga Taeyeon. “ini akan sangat menyenangkan. Aku ingin melihat bagaimana Tao dan Jungjin bertarung untuk mendapatkan boneka itu untukmu.”

Taeyeon terperangah mendengarnya. “oh gosh Soo..kau berlebihan!”

“aww..kau sangat mengenalku dengan baik Taeyeon.”Sooyoung menanggapinya dengan santai sembari mengibaskan rambutnya. Taeyeon menekuk mukanya.

“hei apa kalian sudah menyelesaikan perbincangan kalian?” Jungjin memanggil mereka.

“kau akan berterima kasih padaku nanti.” Dengan itu, Sooyoung mengedipkan sebelah matanya kemudian berjalan ke arah Jungjin meninggalkan Taeyeon yang tertegun di tempatnya.

*berterima kasih? Untuk apa?* Taeyeon merutuk. Sooyoung memang berbakat mengeluarkan kalimat-kalimat aneh. Dan akhirnya, permainan itu pun di mulai. Meski awalnya Taeyeon sedikit terkejut begitu mengetahui kalau Tao juga menyetujui usul Sooyoung, tapi kemudian dia akhirnya menikmati pertunjukan itu.

Jungjin mendapat giliran pertama. Di tangannya kini telah tergenggam sebuah senapan mainan yang akan digunakan untuk menembak bola-bola itu. jika dia bisa membuat semua bola-bola itu jatuh dalam waktu yang di tentukan, dialah yang berhak atas boneka panda itu. permainan yang mereka mainkan bukanlah permainan yang mudah. Bola-bola yang di susun rapi itu tidak diam di tempat dan menunggu seseorang membidiknya. Tapi, mereka bergerak cepat dengan lincah hingga membutuhkan kemahiran dalam membidiknya agar bisa tepat sasaran.

“yo.yo.yo semangat Jungjin!” seru Sooyoung mulai memberi semangat.

“kau pasti bisa Jungjin.  kau pasti bisa!” Taeyeon tak ketinggalan.

Jungjin berkosentrasi penuh. Dia tidak ingin kalah dari Tao. Taeyeon sekarang melihatnya dan telah memberinya semangat, jadi dia harus melakukannya sebaik mungkin. matanya fokus pada bola di depannya, sementara Taeyeon dan Sooyoung memperhatikannya dengan serius.

Satu tembakan di lepaskan, bola pertama jatuh berhasil di jatuhkan. Taeyeon dan Sooyoung langsung bersorak girang. Sekarang tinggal dua bola lagi. Jungjin berkosentrasi. Dia belum puas jika dengan satu bola. Tembakan kedua di lepas, bola kedua berhasil jatuh. Untuk kesekian kalinya, Taeyeon dan Sooyoung bersorak gembira.

“tinggal satu lagi Jungjin! kau pasti bisa!” Taeyeon memberinya semangat. Jungjin tersenyum.

“Jungjin kau harus berhasil! Jangan membuat Taeyeon kecewa padamu!”

“yaa!”

Sooyoung memasang wajah tak bersalahnya. “wae? Aku hanya memberinya semangat.” Ujarnya dengan santai.

Taeyeon mendecak kesal. dia kemudian melirik Tao yang sejak tadi memandangi bola-bola kecil yang menjadi sasaran Jungjin. ekspresi mukanya sulit di artikan. Tembakan ketiga di lepas, sayangnya Jungjin melesat. Taeyeon sempat kaget melihat senyum sinis Tao yang di tujukan pada Jungjin yang gagal.

*shit!* Jungjin merutuki dirinya sendiri yang gagal di depan Taeyeon.

“tidak apa-apa, kau sudah melakukan yang terbaik.” Taeyeon menghiburnya.

Jungjin hanya tersenyum tipis. kenyataan tidak bisa memberikan hal yang disukai Taeyeon membuatnya kecewa.

Taeyeon memberinya senyum simpatik sebelum akhirnya memperhatikan Tao yang sekarang berdiri menghadap bola-bola kecil itu. hanya suara Sooyoung yang terdengar memberinya semangat. Taeyeon memang tidak berteriak memberinya semangat seperti yang dilakukannya terhadap Jungjin tapi dalam hati, dia diam-diam berdoa agar Tao berhasil membidik ketiga bola kecil itu.

Hanya beberapa detik, Tao berhasil menjatuhkan ketiga bola kecil itu. Taeyeon dan Sooyoung menganga kagum dan terkejut bersamaan sementara Jungjin tersenyum pahit. Dia sudah menduga, Tao pasti bisa melakukannya dengan sangat mudah dan cepat. Jika saja Taeyeon dan Sooyoung mengetahui siapa Tao, mereka pasti akan lebih terkejut dengan keahlian yang di milikinya.

Taeyeon masih tak percaya dengan penglihatannya. Bagaimana Tao menggunakan senapan itu dengan mudah dan cepat tepat sasaran, masih membuatnya bertanya-tanya. bahkan pria pemilik permainan itu pun terkejut. mungkin dia pun tak menyangka, permainan itu gampang di lumpuhkan hanya dalam waktu beberapa detik. Taeyeon masih dengan pikirannya ketika Tao memberikan boneka panda itu padanya.

“t-terima kasih.” Ucapnya gugup.

Tao tidak mengucapkan sepatah kata melainkan menundukkan sebagian tubuhnya ke arahnya. Taeyeon menarik tubuhnya ke belakang, tidak ingin terlalu dekat dengan Tao karena saat ini Jungjin dan Sooyoung memperhatikan mereka.

“sekalipun panda cocok denganmu. Aku tetap lebih memilih kitty-ku.” Bisik Tao.

Wajah Taeyeon sontak merah padam. Beruntung dia tengah menggendong boneka panda yang besar jadi sangat mudah baginya menyembunyikan wajahnya disana.

Tao tersenyum lembut menatap Taeyeon sebelum kembali menegakkan tubuhnya. wajahnya yang tanpa ekspresi membuat Jungjin dan Sooyoung heran. mereka bertanya-tanya, apa yang dia lakukan hingga membuat Taeyeon merona merah seperti itu? Taeyeon tentu tidak akan menjawabnya karena dia masih berkosentrasi dengan jantungnya yang berdetak kencang di dalam sana.

 

To be continued… 

 

Aku masih semi hiatus. Aku sudah berusaha menyelesaikan part ini beberapa minggu yang lalu, tapi mood-ku selalu melayang-layang entah kemana. Jika di antara kalian ada yang kurang puas dengan part ini, salahkan aku yang terlalu malas melanjutkan chapter ini.

Ada penambahan karakter baru, semoga kalian suka. mengenai kemisteriusan Tao, aku belum bisa membukanya di chap selanjutnya. sejauh ini, kisahnya masih seputar cinta antara Taeyeon dan Tao jadi aku harap kalian bersabar menunggu.

Waspada juga pada rate M (mature = dewasa) yang nanti akan ku ubah sesuai isi ff-ku.

Thanks buat all readerku tercinta yang selalu setia menunggu ff2 buatanku. Aku terharu. Really!

Yg pngen lbh kenal silahkan follow @haime_Fa

–> RYN

 

Advertisements

57 thoughts on “[Freelance] Story of Exotaeng : Crush (Chapter10)

  1. aaaaa eonnie aku selalu menunggu semua ffmu T T chapter ini keren lebih keren lagi kalau romancenya diperbanyak antara Tao-tae dan uugghh plis jungjin dan yuri pasti ni pengganggu!! eonnie fighting ^^ !

  2. Akuu selalu puas ff buatan author. Aku kesel sama Tao yang terlalu dingin, tapi kalo sama Taeyeon? Awww >.< Apakah di chapter selanjutnya masih ada Yuri? Kalo masih pasti tambah rumit. Tapi gapapalah makin seru hehe. Author masih semi hiatus? Omaigat gapapa deh aku setia nunggu. FIGHTING!!! Ilysm :3

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s