[Freelance] Oneshot : Noona

(new) HyoHun-Noona

Title            : Noona
Author        : Soshikkum
Lenght        : Oneshot
Rating        : PG 15
Genre         : Romance, friendship, sad, happy
Main Cast   : Hyoyeon – Sehun
Other Cast  : Kai, Taeyeon, Sunny, Tiffany, Baekhyun, Xiumin, Tao, Luhan.
Desclimer   : FanFict ini muncul karena otak iseng saya lagi bekerja, jadi 100% murni pemikiran saya, so don’t be plagiator, and silent readers. Enjoy ^^

..
..
..

Sekumpulan lima namja populer di SM art University tengah berkumpul di bawah pohon rindang di halaman kampus diiringi dengan teriakan banyak yeoja yang mengaku menjadi fans mereka.

“Apa tak bisa kita pindah saja? Disini terlalu berisik.” Kata Tao, salah satu dari mereka.

“Tapi duduk disini sangat nyaman, aku menyukainya.” Sahut Baekhyun lalu menyandarkan dirinya ke pohon dengan santai.

“Nikmati saja suasana seperti ini Tao, dan jangan hiraukan teriakan-teriakan itu. Anggaplah itu hanya musik.” Tambah Xiumin.

“Hey hey, apa kalian mengenal siapa yeoja yang disana?” tanya Sehun yang merupakan anggota paling muda.

“Yang mana? Terlalu banyak yeoja disini Sehun.” jawab Luhan dengan santai.

“Tapi hanya ada satu yeoja disini yang tak menghiraukan kita.” Mendengar itu Tao, Luhan, Baekhyun, dan Xiumin mengarahkan mata mereka ke yeoja yang dimaksud Sehun tadi.

“Aah, itu Hyoyeon sunbae, dia terkenal di universitas ini karena kemampuan menari, dan kecerdasannya dalam hal yang lain. Dan ternyata dia juga sangat cantik.” Xiumin menjelaskan.

“Sehun-ah kau tak tau siapa dia? Astaga kau ketinggalan info. Dasar.” Seru Baekhyun.

Anio, aku tak pernah melihat dia sebelumnya.” kata Sehun polos.

“Hyoyeon sunbae memang baru pulang dari pertukaran pelajar di Amerika bersama tiga temannya yang lain, Sunny sunbae, Taeyeon sunbae, dan Tiffany sunbae,  katanya mereka semua sama cantiknya dengan Hyoyeon sunbae.” Lanjut Tao.

“Memangnya kenapa kau bertanya? Apa kau menyukainya?” tanya Luhan sambil merangkul temannya itu.

“Dia hanya sedikit…” Sehun menggantung perkataannya membuat empat temannya yang lain menatapnya penasaran.

“Lupakan.” Katanya kemudian disusul dengusan yang lainnya.

.

Semenjak itu Sehun selalu mencari cara bagaimana agar ia bisa dekat dengan Hyoyeon. Beruntung itu tak sulit karena ternyata mereka satu fakultas. Sama-sama mengambil jurusan menari, dan beruntungnya lagi dengan kemampuan dance nya yang baik, Sehun masuk ke dalam kelas yang paling tinggi. Di kelas itu sebanyak 1 minggu 2 kali para senior yang memiliki kemampuan yang baik akan mengajarkan mereka. Dan salah satu yang  mengajar adalah Hyoyeon.

“Baiklah, pelajaran dengan kami selesai. Kalian bisa pulang, terimakasih sudah bekerja sama.” Kata Yuri, salah satu sunbae yang dipercaya menjadi pengajar di kelas itu.

Ne sunbae.” Jawab semua mahasiswa serempak, lalu meninggalkan ruangan yang sedari tadi digunakan. Tinggal satu mahasiswa yang masih setia duduk di lantai dan satu sunbae yang sedang merapihkan kaset-kaset yang digunakan untuk berlatih tadi.

“Kau belum pulang? Eumm Sehun?” tanya sunbae itu sambil berusaha mengingat nama salah satu hoobaenya.

“Aku menunggumu Hyoyeon sunbae.” Ragu bercampur malu terlihat jelas dari wajahnya.

“Untuk apa? Apa ada yang ingin kau tanyakan?”

“Bisa dibilang iya, bisa juga tidak.” Hyoyeon hanya mengernyitkan salah satu alisnya. “Maksudmu?” ia makin tak menegerti apa yang diucapkan hoobaenya.

“Aku memiliki satu permintaan sunbae.”

“Apa itu?”

Sunbae akan memenuhinya?” tanya Sehun penuh selidik.

“Jika aku bisa, mengapa tidak?” Sejenak ia berfikir, memilah antara ‘ya’ dan ‘tidak’ mengakatakannya. “Baiklah, bolehkah aku memanggilmu noona, dan bukan memanggil sunbae?” tanyanya penuh hati-hati.

Hyoyeon sedikit membelalak mendengar permintaan itu. Ia berfikir sejenak. “Itu tak sulit, tapi jangan panggil aku begitu jika di depan mahasiswa yang lainnya. Aku tak mau terjadi salah paham.” Jawabnya santai lalu mengambil tasnya.

“Jadi sunbae, eh maksudku noona mau? Benarkah? Wah terimakasih.” Seru Sehun antusias. Hyoyeon hanya mengangguk, dan bersiap pergi sebelum akhirnya Sehun menahan lengannya.

“Apalagi?” tanya Hyoyeon sedikit jengkel. Sehun hanya tersenyum. “Bukan hanya itu saja noona, aku ingin kau memanggilku dongsaeng. Bisa?” Kembali Hyoyeon berfikir. “Sebenarnya untuk apa?” tanya Hyoyeon lagi.

“A-aku hanya ingin menjadi dekat denganmu noona, tak salahkan?” jelasnya tanpa melepas pegangan tangannya di tangan Hyoyeon.

“Baiklah, dongsaeng.” Katanya penuh dengan penekanan. Sehun kembali tersenyum bahagia.

“Terimakasih noona.” Serunya.

.

“Jadi kau memanggilnya ‘dongsaeng’ dan dia memanggilku ‘noona’?” Tanya Taeyeon, salah satu sahabat Hyoyeon. Hyoyeon hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Taeyeon sambil terus meminum Green tea nya.

“Apa itu tak aneh Hyo? Mengapa hoobae itu tiba-tiba meminta kau seperti itu?” tambah Sunny. “Aku juga tak tau,  tapi itu tak masalahkan?”

“Mungkin ia menyukaimu?” semua mata tertuju pada Tiffany. “Jangan bercanda Tiff, Sehun bilang ia hanya ingin dekat denganku, itu saja.” Tukas Hyoyeon.

“Tapi mungkin itu salah satu cara untuk mengenal dan menarik perhatianmu kan Hyo? Lagipula apa kau tidak bertanya alasannya lebih spesifik lagi?” selidik Sunny dengan nada mengejek.

Ania, aku tak berfikir tentang itu karena aku memang waktu itu ingin segera pulang.”

“Kami akan mendukungmu jika kau bersama ‘dongsaeng’ mu itu, hahahaha.” Ucap Taeyeon, Tiffany, dan Sunny bersamaan.

“YAK!” pekik Hyoyeon. Semua mata pengunjung dan pelayan cafe dimana mereka berada langsung tertuju pada meja mereka berempat. Cepat-cepat mereka membungkuk kecil untuk memninta maaf.

Hp Hyoyeon bergetar menandakan ada sebuah panggilan, langsung saja ia mengangkatnya.

Ne, baiklah aku akan kesana. Tunggu aku, anyeong, nado saranghae.” Tiga sahabat itu menatap Hyoyeon intens. “O-oh tadi Kai menelponku, aku harus segera menemuinya, Anyeong.” Kata Hyoyeon lalu meninggalkan ketiganya.

“Aish mengapa aku lupa kalau dia sudah mempunyai namjachingu?” Kata Tiffany diiukuti anggukan oleh Sunny dan Taeyeon.

.

Senyum mengembang dengan cantik di bibir merah muda Hyoyeon. “Kai-ah!” teriaknya sambil melambaikan tangan lalu berlari kecil menuju Kai yang merupakan kekasihnya. Kai menyambut Hyoyeon dengan pelukan hangat.

Chagi aku merindukanmu, mengapa kau tak menemuiku setelah kau pulang dari Amerika, ini sudah 3 hari setelah hari itu.” Kata Kai dengan mimik aegyo di wajahnya.

Mianhe chagi¸ aku juga merindukanmu. Tapi aku sedikit sibuk akhir-akhir ini, terlalu banyak kegiatan, sekali lagi maafkan aku.” Ucapnya lalu tertunduk lesu. Kai kembali memeluk Hyoyeon.

“Tak perlu terlalu dipikirkan, aku hanya bercanda, tapi mengenai aku merindukanmu, itu memang benar adanya.” Ia mengecup puncak kepala Hyoyeon. Mereka menghabiskan waktu bersama menikmati semilir angin sore Seoul yang sejuk di taman.

.

Mobil sedan berwarna putih kini memasuki halaman SM art University, lalu parkir di tempatnya. Hyoyeon dan Kai turun bersama dari mobil itu, nampak keserasian dari kedua orang ini. Semua mata tertuju pada dua mahasiswa yang terkenal memiliki bakat dalam menari yang sangat diperhitungkan, termasuk mata lima namja populer itu.

“Bukankah itu Hyoyeon sunbae?” Tanya Baekhyun.

“Memamang itu Hyoyeon sunbae, memangnya siapa lagi?” jawab Tao sekenanya.

“T-tidak maksudku…” Terlalu sulit bagi Baekhyun untuk melanjutkannya karena terlalu bingung. “Ia kekasih Kai sunbae?” seru Xiumin melanjutkan perkataan Baekhyun tadi.

“Apa kalian tak tau? Bukannya itu sudah menjadi rahasia umum?” Jawab Luhan yang masih berkutik dengan hp nya.

Mendengar apa yang sedang bicarakan, Sehun mengarahkan matanya menuju dua sejoli itu. ‘Noona tak pernah cerita bahwa ia memiliki kekasih.’ Batinnya. Entah mengapa ia merasa sedikit kecewa. “Ada apa denganmu Sehun? Kau cemburu?” ledek Xiumin.

“Eh- Tidak, aku hanya baru tau kalau ia memiliki kekasih, terlebih kekasihnya adalah Kai sunbae.” Sehun berusaha menutup rasa gugup dan sedikit kekecewaannya.

“Memangnya kau tak tau? Kau baru mengetahuinya? Bukankah beberapa minggu ini kau dekat dengan Hyoyeon sunbae?” Kini Luhan mengalihkan pandangan menuju Sehun.

“Ia tak pernah cerita tentang itu padaku.” Jawab Sehun seadanya. Semakin lama hatinya semakin sakit melihat ‘noona’nya bersama orang lain. “Aku ke kelas dulu, anyeong.” Lalu ia pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya yang masih terheran-heran dengan sikapnya yang tiba-tiba.

“Apa ia menyukai Hyoyeon sunbae?” Tanya Tao.

“Entahlah.” Baekhyun dan Xiumin menjawab berbarengan.

“Anak labil.” Yang lain hanya menatap Luhan bingung.

.

Pelajaran hari ini selesai, dan semua mahasiswa berbondong-bondong keluar dari kelas menuju rumah masing-masing, tapi berbeda dengan Sehun, ia pergi ke lantai 3 dimana ruangan untuk menari berada. Ia mengambil hp nya dan mengetik sesuatu.

To : Hyo Noona

Noona~~ bisakah kau temui aku di studio tari waktu itu?

From : Hyo Noona

Memangnya ada apa? Aku sedang ada rapat dengan temanku.

To : Hyo Noona

Aku ingin bertanya sesuatu, dan tentunya ingin bertemu noona.
aku akan menunggumu noona, tenang saja.

From : Hyo Noona

Hmm, tapi aku baru selesai 2 jam lagi, nanti terlalu lama menunggu.

To : Hyo Noona

Tak apa noona, aku akan menunggu ^^

From : Hyo Noona

Aish, kau keras kepala sekali, baiklah setelah rapat aku kesana.
awas jika aku  kesana kau sudah pulang, tamat riwayatmu oh sehun.

To : Hyo Noona

Aigoo, noonaku galak sekali hahaha. Aku janji tidak melakukannya.

From : Hyo Noona

Ok, lebih baik kau tak membalas pesan ini karena rapat sudah dimulai.

Sesuai perintah Hyoyeon, Sehun tak membalas apapun pesan itu.

10 menit

Rasa bosan menghampirinya. “Aku bosan~ apa yang harus ku lakukan?” tanyanya pada diri sendiri. Ia terus berfikir, dan akhirnya terjawab sudah. “Baiklah aku akan sedikit berlatih.” Katanya lalu mengambil cd berisi musik untuk menari yang ada di tasnya dan memutarnya di pemutar cd.

Sehun terus menari dan menari sampai akhirnya ia terlalu lelah. “Istirahat mungkin lebih baik.” Ia duduk dan bersandar pada cermin yang menutupi permukaan tembok ruangan itu. “Aish 20 menit lagi, lama sekali.” Ucapnya sedikit menggerutu.

Merasa nyaman, ia menidurkan dirinya di lantai sambil mendengar musik dari i-pod-nya. Beberapa saat kemudian ia mendengar langkah kaki seseorang. “Ah mungkin itu noona.” Katanya sedikit bersemangat. Secepat kilat ia keluar ruangan itu, dan benar saja orang yang selama ini ia tunggu datang.

Noona~! Mengapa lama sekali.” Serunya lalu memeluk noona-nya itu. Hyoyeon tak berkutik. Seakan tersengat listrik, badannya terasa kaku hingga ia tak bisa berbuat apa-apa.

“Hyoyeon-ah kau–” kata-kata Tiffany terpotong, dan tergantikan dengan mimik wajah kaget.

“Ada apa Tiff mengapa tiba-tiba–” hal yang sama juga dilakukan Sunny.

“Hey ada yang melihat buku catat–” Seperti Tiffany dan Sunny, Taeyeon juga ikut tercengang.

“A-apa yang kalian lakukan?” pertanyaan dari ketiga sahabatnya membuat Hyoyeon tersadar, dengan cepat ia mendorong Sehun. “Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, jadi tolong–” Hyoyeon berhenti bicara setelah melihat smirk di wajah Sunny, Tiffany,dan Taeyeon.

“Maaf sunbae aku reflex melakukan itu, aku mohon jangan salah paham.” Jelas Sehun.

“Hahaha, tak perlu ambil hati Sehun, bukankah kalian noona-dongsaeng? Itu wajar kan?” kata Tiffany sambil menahan tawanya.

“Astaga, maaf mengganggu kalian, seharusnya kami tak disini.” Tambah Sunny.

“Kami pamit dulu ya, anyeong.” Setelah itu Taeyeon langsung mendorong Tiffany dan Sunny menuju tangga. Tawa mereka lepas setibanya di lantai dasar. “Ada-ada saja.”

.

Hyoyeon menarik Sehun masuk ke studio tari. Ia menatap sehun dengan tatapan yang membuat siapa saja ketakutan. “Apa yang kau lakukan tadi? Kau tau itu bisa membuat orang lain salah paham.” Omelnya.

“Maaf noona, tapi aku benar-benar tak tau mengapa bisa melakukan itu, aku melakukannya tanpa sadar.” Jawab Sehun seadanya, sambil menunduk.

“Beruntung mereka yang melihatnya, andaikan orang lain? Mungkin besok sudah beredar gossip se-antero kampus.”

“Jangan panggil aku noona, atau menganggapku sebagai noona-mu lagi, Sehun.” Tanpa sadar ia mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya.

“K-kenapa begitu?” tanya Sehun tak mengerti. Hatinya sakit sekali mendengar itu.

“Aku tak mau menjadi bahan omongan. Cukup hal seperti tadi terjadi satu kali.” Jelasnya, lalu bersiap pergi. Tetapi langkahnya terhenti saat ia  mendengar suara isakan. Hyoyeon membalikan badannya dan betapa kagetnya ia melihat Sehun menangis. Seorang Oh Sehun menangis? Namja populer yang memiliki banyak penggemar dan terlihat dingin itu menangis di depan Hyoyeon?

“S-Sehun, kau tak apa?” tanya Hyoyeon. Jujur saja ia kaget melihat itu. ‘apa aku tadi berlebihan?’ batinnya. “Kau kenapa Sehun? Maaf jika kata-kata ku menyakitimu.” Ia semakin panik karena Sehun tak menjawab satupun pertanyaannya.

Sehun menatap Hyoyeon dengan mata yang sudah basah. “Kumohon jangan noona, tetaplah menjadi noonaku, kumohon.” Suaranya bergetar menahan tangis. Hyoyeon memegang bahu Sehun dan menuntunnya untuk duduk agar lebih tenang.

“Memangnya kenapa kau ingin aku menjadi noona­-mu? Tolong jelaskan lebih spesifik lagi.” Akhirnya pertanyaan yang selalu terngiang di kepala Hyoyeon keluar dengan suara yang lembut.

Sehun menarik nafas dalam, lalu membuangnya perlahan. “Karena noona mirip dengan noona-ku.” Jawabnya singkat dengan suara yang pelan. “Noona­mu?”

Ne, noona mirip dengan noonaku.”

“Memangnya noonamu kemana?” tanya Hyoyeon. Masih sulit baginya untuk mencerna omongan itu.

“Ia, ia, sudah meninggal.” Tangis Sehun kembali pecah bahkan lebih parah. Walau tak bersuara, tapi getaran dari bahunya menandakan ia benar-benar menangis.

“Maaf aku bertanya mengenai itu dan mengigatkan lagi pada noonamu.”

“Tak apa noona, itu wajar aku memang tak pernah menceritakan ini pada siapapun, bahkan sahabatku.” Sehun berusaha menenangkan dirinya.

“Jadi itu alasanmu mengapa kau memintaku untuk menjadi noonamu karena untuk menggantikannya?” Sehun mengangguk.

“Boleh aku tau tentang noona­mu itu Sehun?”

Sehun berpikir sejenak. “Dia adalah orang yang sangat dekat denganku. Saat kami masih kecil orangtuaku meninggal dalam kecelakaan, itu yang menjadi alasan mengapa ia sangat menyayangiku walaupun kami di rawat oleh ajhumma kami, tapi ia tetap selalu menjagaku, karena itu aku sangat sangat menyayanginya. Sampai dimana ia mengidap tumor otakk, dan nyawanya tak terselamatkan. Setelah kepergiannya, aku kehilangan sosok noona yang selama ini menyayangiku. Tapi saat aku pertama kali melihatmu, aku seperti melihat noonaku yang dulu. Kalian sangat mirip, walaupun memiliki sifat yang berbeda, noona­ku pendiam, sedangkan noona sebaliknya. Tapi itu tak masalah, dan entah mengapa memang setiap aku dekat dengan noona, aku merasa dekat dengan noonaku.”

Tak terasa setetes air mata membasahi pipi Hyoyeon. “Sehuna, maaf tadi aku berbicara seperti itu, aku berjanji akan menggantikan posisi noonamu itu.” Katanya seraya memeluk Sehun.

“Terimakasih noona sudah mau berusaha. Aku menyayangimu.” Sehun membalas pelukan hangat Hyoyeon. Pelukan yang sangat ia rindukan dari seorang noona.

“Aku juga menyangimu dongsaeng.”

.

SM art University sangat sepi karena memang sejak 1 jam yang lalu bel yang menandakan jam pulang sudah berbunyi. Nampak Sunny, Hyoyeon, Taeyeon, dan Tiffany berjalan di koridor sambil membicarakn sesuatu.

“Kupikir Sehun menyukaimu, ternyata itu alasan yang sesungguhnya.” Kata Tiffany dengan muka sedikit sedih.“Mengapa wajahmu begitu Tiff? Kau kecewa?” tanya Sunny. “Ne, aku kecewa, entah mengapa aku ingin Sehun menyukaimu Hyo.” Jawabnya.

Hyoyeon hanya menatap Tiffany geli. “Jangan mengada-ngada Hwang, aku hanya menganggapnya adik, dan ia hanya menganggapku kakak.”

Taeyeon sedari tadi hanya sibuk dengan hp milik Hyoyeon. Ia meminjamnya untuk bermain games. Namun saat sedang seru-serunya, sebuah panggilan muncul di layar hp itu, ‘Sehunnie’. ‘Sehun? ada apa ini?’ batin Taeyeon. “Hyo, ‘dongsaeng’ mu menelpon.” Ucapnya sedikit meledek lalu menyerahkan hp itu ke pemiliknya.

“Ada apa?”

“…..”

Ne, aku baru pulang, dan masih di koridor.”

“…..”

“Hanya aku, Tiffany, Taeyeon, dan Sunny.”

“…..”

Aigoo, kenapa tak bilang dari tadi? Kau pasti sudah lama menunggu kan?”

“…..”

Gurae, aku akan kesana.”

“…..”

Ne, anyeong dongsaengi.” Panggilan itupun berakhir.

“Kenapa dia?” tanya Taeyeon. “Dari tadi ia menunggu di parkiran, katanya ia akan mengantarku pulang.” Jawab Hyoyeon.

“Memang Kai tak mengantarmu? Tumben sekali.” Sunny menatap Hyoyeon dengan sedikit tatapan tak percaya.

“Tadi Kai pulang cepat karena orangtuanya ingin membicarakan sesuatu yang penting.” Jelas Hyoyeon, diikuti dengan anggukan yang lain.

Noona!!” teriak Sehun setelah ia melihat Hyoyeon dan tiga sahabatnya yang lain sudah berada tak jauh dari tempatnya.

“Kenapa tak menghubungiku sebelumnya kalau kau mau mengantarku? Itu membuatmu menunggu terlalu lama kan?” ocehan Hyoyeon hanya membuat Sehun tertawa kecil.

“Itu tak terpikirkan olehku hehe.”

“Sehun, apa kau hanya mengantar ‘noona’mu? Dan tak mengantar kami?” Canda Sunny.

Eumm boleh saja.” Sejujurnya Sehun tak mau, tapi mengingat Taeyeon, Sunny, dan Tiffany juga merupaka sunbae yang dia hormati, akhirnya Sehun menurut.

“Kami hanya bercanda Sehun, tak perlu kau anggap serius.” Jawab Taeyeon akhirnya setelah melihat ekspresi Sehun berubah.

“Hyoyeon, Sehun, kami pulang duluan ya? Oya Sehun, hati-hati jangan sampai terjadi apa-apa dengan ‘noona’ mu ini ok?” Tambah Tiffany, lalu menggandeng lengan Sunny dan Taeyeon.

“Anyeong sunbae.” Sehun melambaikan tangan pada sunbae-sunbae nya itu. “Ayo noona.” Tambahnya. Hyoyeon hanya mengangguk dan masuk kedalam mobil milik Sehun.

Dipertengahan jalan, hp Hyoyeon berdering.

“…..”

“Aku dalam perjalanan pulang dengan Sehun.”

“…..”

“Dia mengantarku.”

“…..”

Eumm baiklah. Dimana?”

“…..”

“Aku akan kesana, anyeong.”

“…..”

“Siapa yang menelponmu noona?” tanya Sehun dengan pandangan tetap terfokus ke jalanan.

“Kai, ia memintaku menemuinya di cafe Dani. Bisa kau antarkan aku kesana Sehun?”

Bagaimana ya? Ah Kai sunbae mengganggu saja.’ Gerutunya dalam hati. “Jadi kau mau mengantarku atau tidak?” pertanyaan Hyoyeon membuyarkan lamunannya.

“E-eh iya iya aku akan mengantarmu.” Jawabnya lalu membelokkan kemudinya ke arah dimana cafe itu berada.

.

Berkali-kali Kai melihat ke arah jalanan melalu jendela yang terletak disampingnya, berkali-kali pula ia melihat jam yang ia kenakan di pergelangan tangannya. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ia melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan cafe itu, dan turun lah seseorang yang ia tunggu.

“Terimakasih sudah mengantarku dongsaeng.” Ucap Hyoyeon pada Sehun. “Dengan senang hati noona. Oya apa aku harus menjemputmu?”

“Sepertinya tidak perlu, kau pulang saja, nanti aku pulang dengan Kai. Hati-hati ne?”

“Tentu noona. Jika kau ingin aku menjemputmu, telpon saja ya.”

“Iya iya, sekali lagi terimakasih, anyeong.”

Anyeong noona.” Hyoyeonpun memasuki cafe tersebut. Setelah menemukan sosok Kai,  ia berjalan menuju tempat dimana lelaki itu duduk.

“Kau sudah datang chagi?” tanya Kai dengan senyum tipis terukir di wajahnya.

“Iya. Apa kau menungguku terlalu lama?” Hyoyeon balik bertanya. “Tidak begitu lama.”

Seorang pelayan datang menghampiri meja Hyoyeon dan Kai, dan menawarkan menu pada mereka. Setelah keduanya memesan sesuatu, pelayan itu pergi. “Mengapa kau memintaku kesini? Ada yang ingin kau bicarakan?”

“Sehun sepertinya sangat menyayangimu ya?” tanya Kai tanpa menjawab pertanyaan Hyoyeon.

“Ya begitulah, ia menganggapku sebagai noona-nya sendiri. Memangnya kenapa? Kau cemburu?”

“Begitukah? Dengan begitu kau tak akan kekurangan kasih sayang bukan?” pertanyaan Kai yang menurut Hyoyeon aneh membuatnya menatap lelaki itu penuh dengan keheranan. “Maksudmu?”

Kai menghirup oksigen dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Hyo-ah, orangtuaku menjodohkan ku dengan wanita lain, dan dengan begini kita harus mengakhiri hubungan kita. Melihat Sehun sangat menyayangimu, sepertinya kau tak akan kekurang kasih sayang setelah ini.” semakin lama suaranya semakin mengecil, ia takut, takut menyakiti hati seorang yang ia cintai.

DEG! Hati Hyoyeon terasa tercambuk, sakit sekali mendengar penuturan Kai. “I-ini bercanda bukan? Kau hanya bercanda kan Kai?” pandangannya memburam karena terhalangi oleh air mata yang berdesakkan ingi keluar.

“Aku tidak bercanda Hyo, maaf. Aku tak bisa berbuat banyak tentang ini karena masalah bisnis, dan aku tak ingin bisnis keluargaku hancur. Aku harus melakukannya. Maafkan aku.” Kai tak berani menatap Hyoyeon, baginya sangat sakit mengatakan ini pada wanita yang ia cintai, tapi ia tak bisa menolak apapun perintah orangtuanya.

Hyoyeon tak bisa menahan tangisnya. Air mata dengan derasnya melucur bebas membasahi pipinya.

“Maafkan aku Hyo, mulai besok aku tak lagi menjadi mahasiswa, karena aku akan meneruskan bisnis ayahku. Dan itu sebabnya aku ingin menemuimu untuk yang terakhir kalinya.” Ucapnya lalu memeluk Hyoyeon hangat. Dapat ia rasakan air mata membasahi pundaknya. “Aku mencintaimu, maafkan aku.” Lanjutnya lalu melepaskan pelukannya. “Aku harus pergi.” Kata Kai lagi, ia pergi ke meja kasir untuk membayar pesananan mereka, lalu meninggalkan Hyoyeon yang masih menangis.

.

Cukup lama berdiam untuk menerima kejadian yang sangat tiba-tiba itu akhirnya Hyoyeon keluar dari cafe dengan langkah gontai, dan tatapan kosong. Ia terur berjalan dan entah kemana.

Noona? Mengapa ia jalan sendirian?” Tanya Sehun pada dirinya sendiri. Setelah Hyoyeon menyuruhnya pulang tadi, ia memang tidak benar-benar pulang, namja ini hanya menjalankan mobilnya lalu berhenti sekitar 2 toko dari cafe itu dan menunggu

Awalnya Sehun berniat keluar dari mobil dan menyuruh Hyoyeon untuk masuk, tapi ia mengurungkan rencananya setelah melihat ekspresi datar dari ‘noona’nya itu. “Kenapa dia?” tiba-tiba terlintas ide di otaknya. Sehun akhirnya mengikuti Hyoyeon dengan mobilnya, dan ia berhenti di sebuah taman setelah Hyoyeon melangkahkan kaki di taman itu. Tanpa pikir panjang Sehun turun dari mobilnya dan terus membuntuti Hyoyeon.

Hyoyeon menududukan dirinya di salah satu kursi taman yang mengahadap ke sungai kecil. Ditatapnya sungai itu. Perlahan air mata kembali meluncur bebas membasahi pipinya. Ia tak menghiraukan angin yang meniup rambutnya, dan tak menghiraukan dinginnya sore itu. “Kau jahat Kai, kau jahat.” Ucapnya menyelingi isakannya.

Pemandangan menyesakkan bagi Sehun, tak pernah ia melihat Hyoyeon serapuh itu. Selama ini baginya Hyoyeon adalah seorang yang kuat dan pantang menyerah, tapi sekarang semua itu hilang.

Noona.” Suara Sehun menginterupsi Hyoyeon. Lalu Sehun duduk di sampingnya dan menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. “Kau kenapa? Apa Kai sunbae menyakitimu?” tanyanya.

“Tinggalkan aku sendiri Sehun.”

“T-tapi noona.” Hyoyeon memandang Sehun. “Kumohon, tinggalkan aku sendiri.” Sehun menghela nafasnya pelan. “Tunggulah disini, aku akan membelikanmu minum.” Ucapnya lalu meninggalkan Hyoyeon.

Belum lama Sehun pergi, suara benturan yang cukup keras menyita perhatian Hyoyeon. Di tatapnya jalanan yang tak jauh dari tempatnya berada, dan ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya seakan tak berdetak.

“Sehun-ah!!” Ia berlari ke tempat dimana Sehun mengalami kecelakaan. Sebuah mobil menghempaskan tubuh ‘dongsaeng’nya itu, dan membuat darah mengucur deras dari kepalannya.

.

Rumah Sakit.

Hyoyeon terus menggenggam tangan Sehun yang belum sadarkan diri sedari kecelakaan itu. Kembali ia menangis. “Sehun, sadarlah kumohon.”

N-noona.” Suara lemah Sehun membuat Hyoyeon mengangkat kepalanya menatap ‘dongsaeng’nya

“Kau sudah sadar? Apa ada yang sakit? Beri tau aku jika kau merasakan sesuatu.” Wajah khawatir terbaca jelas dari muka Hyoyeon.

“Aku tak apa-apa noona.” Jawabnya lalu tersenyum.

“Sehun, maafkan aku.” Entah sudah kali keberapa air matanya kembali menetes.

“Untuk apa? Kau tak berbuat sesuatu yang salah.”

“Aku tak bisa menjagamu, bahkan aku penyebab kau kecelakaan.”

“Tak apa noona. Aku memaafkanmu, tapi hapus dulu air matamu, itu membuatku sakit.” Hyoyeon menatap ‘dongsaeng’nya lalu menghapus air matanya dan tersenyum.

“Sudah.” Katanya dengan ceria.

“Begitu baru noonaku.”

Noona, apa yang menyebabkanmu menangis tadi?” Sesaat Hyoyeon terdiam, lalu ia menceritakan semuanya pada Sehun. “Tak perlu bersedih, aku ada untukmu noona, aku akan selalu menyayangimu, percaya padaku ne?”

Senyum kembali mengembang di wajah Hyoyeon. “Ne, aku percaya padamu dongsaeng.” Tanpa sadar ia mngecup dahi Sehun dan menyebabkan semburat merah muncul di pipi namja itu.

“Maaf, aku tak sengaja, itu reflex.” Dengan menahan malu Hyoyeon menatap Sehun.

“Ini seri bukan noona? Aku tak sengaja memelukmu dan kau tak sengaja melakukan itu, hahaha.” Hyoyeon hanya tersenyum geli.

.

 4 weeks later

Pagi yang sangat cerah di hari minggu. Burung-burung berkicauan dan terbang dari satu dahan ke dahannya yang lain, embun pagi masih belum sepenuhnya pergi di permukaan daun-daun dan rerumputan. Suasana seperti ini dimanfaatkan Hyoyeon untuk melanjutkan tidurnya, terlalu malas bangun pagi hari.

Getaran dari hp memaksanya untuk bangun. Dengan mata yang masih mengantuk, dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya ia mengambil benda berwarna putih itu.

Yeoboseyo?” ucapnya dengan sangat malas.

Noona-ya!! Apa kau baru bangun? Dari tadi aku menghubungi tapi tak di angkat sama sekali, kupikir kau mati.” Jawab  seseorang disebrang sana, dan yang pasti itu Sehun.

“Yak! Jangan sembarang kalau berbicara! Memangnya kenapa kau menelponku pagi-pagi?”

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, untuk refreshing, bagaimana? Bisa?”

“Entahlah, tapi aku malas Sehunnie~” nada manja Hyoyeon membuat Sehun sedikit geli.

“Ayolah noona, aku akan menjemputmu, yayaya! Mau ya!”

Hyoyeon merotasikan matanya, walaupun Sehun tak melihatnya. “Iya, aku ikut. Kapan kau kesini?”

“1, tidak 30 menit lagi.”

“Anak labil, yasudah aku siap-siap dulu, anyeong.”

“Yeay! Anyeong noona-ya!~

25 menit cukup bagi Hyoyeon untuk berpenampilan simple. Ia berjalan menuju pintu rumahnya setelah mendengar suara bel. ‘mungkin itu Sehun.’ Dibukanya pintu itu.

Anyeonghaseyo maaf mengganggumu nona, saya membawa ini untuk anda.” Sepucuk surat sepertinya, dibungkus dengan amplop berwarna emas. “Terimakasih.” Ucapnya setelah mengambil benda itu lalu masuk kembali. Hyoyeon duduk di sofa, dan perlahan ia membuka surat tadi. Itu bukan sebuah surat, melainkan sebuah undangan pernikahan. Air mata yang selama ini tersimpan dan terkunci, kembali membasahi pipinya setelah ia membaca nama Kai dan seorang wanita yang nantinya akan menjadi pendamping mantan kekasihnya itu. Tangannya bergetar hingga tak sanggup menggenggam benda kecil itu. Isakan kembali terdengar. Terlalu sulit baginya untuk mencerna semuanya, bahkan ia tak mennyadari bahwa Sehun sudah berada di depannya, dan menatapnya sendu.

Noona mengapa kau menangis lagi? Kau tau itu menyakitiku.” Ucapnya seraya menggenggam tangan Hyoyeon. Tak ada respon, akhirnya Sehun memeluknya dengan hangat, membiarkan ‘noona’ nya menangis di dekapannya. Lama kelamaan tangis itu memudar. “Ayo pergi noona.” Ucapnya lalu menarik Hyoyeon menuju mobilnya.

.

“Sampai~” Sehun menidurkan dirinya di rumput hijau, dan menikmati angin yang sangat menyegarkan. “Ini dimana?” tanya Hyoyeon tanpa menatap Sehun. Ia memandang kosong pemandangan di depannya. Angin mengibarkan dress putih yang ia kenakan, tak tertinggal membuat rambutnya menari-nari. Melihat Hyoyeon dengan posisi itu, Sehun menatapnya yang sedang berdiri itu lekat, pemandangan yang menurutnya sangat sayang untuk dilewatkan, ‘noona’nya kini ‘sangat cantik’ batinnya. “Sehun, ini dimana?” tanyanya lagi, kini ia menolehkan pandangannya kearah dimana Sehun duduk. “I-ini padang rumput noona, apa kau tak tau?” jawab Sehun dengan menyembunyikan kegugupannya.

Hyoyeon mensejajarkan dirinya dengan Sehun, duduk dengan lutut ditekuk, dan dengan wajah innocent nya. “Apa yang membuatmu menangis lagi tadi?.” Sehun tau pertanyaan itu pasti akan membuat Hyoyeon kembali menangis, tapi ia masih tetap ingin tau apa penyebabnya. Benar dugaannya, setetes air mata kembali membasahi pipi ‘noona’nya yang manis. “K-kai, dia akan menikah.” Ucap Hyoyeon singkat namun sangat mendalam. Tetes demi tetes air mata kini makin deras, dadanya kembali sesak.

Pelukan hangat Sehun kembali Hyoyeon rasakan. “Noona, tak pelu bersedih, aku ada disini untukmu.” Makin ia tenggelamkan kepalanya di dada Sehun, rasa nyaman menyelimutinya. Tapi tangis itu tak berhenti sepenuhnya. “Berhentilah menangis noona. Kumohon berhenti.” Semakin Sehun mengucapkan itu, semakin jelas pula isakan Hyoyeon.

Diletakkan kedua tangannya di kedua pundak Hyoyeon, mendorongnya sedikit untuk membuat Hyoyeon menatapnya. “Noona, kumohon.” Kini Hyoyeon berhenti menangis, ditatapnya Sehun. Wajah ‘dongsaeng’ nya sungguh mengharapkan ia berhenti menangis. Sehun kembali memeluk Hyoyeon untuk yang kesekian kalinya. “Aku menyayangimu, maka berhentilah menangis, itu benar-benar menyakitiku. Jika kau ingin menangis, jangan tunjukan air matamu itu didepanku, jika kau ingin menangis kau bisa memelukku agar aku tak bisa melihat air mata itu.” Ucapnya masih dengan memeluk Hyoyeon.

Entah apa yang terjadi, pelukan Sehun benar-benar membuatnya hangat dan nyaman, pelukan yang mampu membuatnya merasa ringan. Ia bisa merasakan deru nafas Sehun di puncak kepalanya. Perlahan Sehun menghirup udara yang sejuk disekitarnya, dan menghembuskannya. “Noona, saranghae.” Suara lembut itu membuat Hyoyeon makin merasa nyaman. “Nado, saranghae dongsaengi.” Balasnya tanpa sedikitpun terlepas dari dekapan Sehun. “Noona, saranghae.”  Ucapnya lagi. Merasa sedikit jengkel dengan sikap Sehun yang selalu mengulang kata-katanya, ia membalas lagi. “Arrasso, nado dongsaengi.

Kembali Sehun menghembuskan nafasnya. “Hyoyeon-ah saranghae.” Awalnya Hyoyeon akan menjawab itu, tapi setelah menyadari apa yang dikatakan Sehun barusan, ia mengangkat kepalanya, sedikit menjauh dari Sehun dan menatapnya dalam. “A-apa maksudmu mengucapkan itu?” Sehun memejamkan matanya, berusaha meyakinkan dirinya. “Aku tau ini salah, tapi aku mencintaimu noona.” Detak jantungnya tak teratur setelah mengucapkan kata-kata yang menurutnya bodoh, tapi ia tak bisa menahannya.

“Kau bercanda bukan? Kau mencintaiku hanya sebagai kakakmu ‘kan?” masih dengan tatapan tak percaya Hyoyeon menatap Sehun.

Perlahan Sehun mendekatkan dirinya pada Hyoyeon, memeluknya lagi, dan memberi sedikit kerenggangan, ditatapnya manik mata kecoklatan milik Hyoyeon, dan itu membuat jantung Hyoyeon seakan ingin keluar dari tempatnya. Tak pernah ia merasakan ini saat berada dengan Sehun. Sekarang ia bisa melihat sisi lain dari seorang Oh Sehun.

Bibir tipis milik Sehun kini menempel pada bibir miliknya. Ciuman yang tulus dari Sehun hanya untuk menyalurkan rasanya pada Hyoyeon. Kaget, tentu saja Hyoyeon kaget. Ia berusaha mendorong Sehun untuk menjauhinya, tapi Sehun menahannya. Perlahan Sehun mulai melepaskan Hyoyeon. “Sekarang kau percaya noona?” Masih tak berkutik di tempatnya, terlalu shock untuk mengembalikan detak jantungnya kedalam tempo yang normal.

“Aku tak bercanda, aku mencintaimu. Aku tau kau pasti tak percaya, begitu pula denganku noona. Selama ini aku memang berfikir setiap apa yang kulakukan untukmu hanya sekedar karena aku menyayangimu sebagai seorang ‘noona’, tapi sekarang aku tau, bahwa aku sungguh mencintaimu, bukan sebagai kakak, tapi sebagai seorang wanita. Hatiku sakit melihatmu menangis karena laki-laki lain, aku tak ingin hal seperti ini terulang lagi, aku hanya ingin kau terus berada disisiku, dan menemaniku, aku ingin menjagamu. Aku tau ini salah, maafkan aku, tapi aku mohon mengertilah.”

“Sehun-ah” panggil Hyoyeon lirih, matanya tetap mengarah pada Sehun dengan pandangan tak percaya.

Namun Sehun tak menghiraukan panggilan itu, ia terus mengucapkan kata-kata yang selama ini bersemayam di kepalanya. “Mungkin noona akan berfikir bahwa aku hanyalah anak kecil. Tapi biarlah itu tetap menjadi pemikiranmu, karena aku adalah anak kecil yang siap untuk menjagamu dimanapun dan kapanpun dan selalu menghiburmu. Aku hanya tak ingin air mata itu kembali membasahi pipimu, karena setiap tetesnya memberikan satu goresan di hatiku. Noona–”

Ocehan itu berhenti seketika saat bibirnya terkunci oleh bibir Hyoyeon. Ia membalas ciuman Sehun dengan lembut dan juga tulus. Sehun memejamkan matanya perlahan dan mendekap Hyoyeon dengan hangat. “Nado saranghae Oh Sehun.” ucapnya setelah ia melepaskan tautannya dengan bibir milik Sehun seraya tersenyum tipis. Perlahan senyuman juga terukir di wajah Sehun, senyuman tulus dan penuh kebahagiaan.

.

Kini Sehun membiarkan pundaknya menjadi tempat kepala Hyoyeon bersandar, tangan kirinya menggenggam tangan kanan Hyoyeon dan tangan kanannya merengkuh pundak Hyoyeon hangat. Perlahan semilir angin yang bertiup sangat tenang itu membuat Hyoyeon tertidur dalam posisi seperti itu. Hangat, sangat hangat.

Noona, aku akan tetap menganggapmu sebagai noonaku, dan aku akan menjagamu seperti itu pula. Aku akan selalu menyayangimu, entah sebagai apa tapi yang jelas aku akan selalu mencintaimu, Kim Hyoyeon.” Ucapnya lalu mengecup pelan puncak kepala Hyoyeon yang sedang tertidur manis dengan senyuman tipis menghiasi wajahnya.

-END-

Huaaa selesai juga FF gajelas nan aneh ini.
Mohon komentarnya yaaa, biar bisa tau banyak yang bingung atau ga.
Dan maaf kalo alurnya gajelas, kepanjangan, kata-kata-nya aneh, dan typo terselip dimana-mana mengganggu pengelihatan readers  ._.v
Sekali lagi, tinggalin sepatah dua patah kata buat FF ini ya /ceilah/
Makasih sebelumnyaaaaaaa… ^^

14 thoughts on “[Freelance] Oneshot : Noona

  1. kyaaa~ hyohun, you two are so romantic.. author, bikin ff hyoraengi eonni lagi neee… kalo.bisa sih sama sehun, kai, lulu, atau yeolli..*maksa* heheee……. author jjang!!!

    • thanks bgt buat respon dan komentarnya semua, maaf ga bisa replay komentar kalian satu2, ga tau knp rada error pas klik reply, jd maaf ya😦
      to HyoXo: hahaha thanks, komen kamu juga T.O.P banget hehe, pasti aku buat ff Hyo lg krn dia bias aku wkwkwk /author biasis (?)/
      to nawangcahyani: aigoo, kamu juga bikin gemes >< wkwk thanks ya komennya ^^
      to QotrunNada: makasih komentarnya, ff hyo yg lain menyusul ok?
      to Venuskim: wehehe makasih banyak ya🙂 ditunggu komentar selanjutnya jg ya klo ada ff hyo karya aku lg hehehe
      to sonexotichyohunniescreepers: thanks ya komennya, siap! ff hyo udh mau aku send lg kok, dan pairingnya sama salah satu dari permintaan kamu /spoiler/ ditunggu aja ya😉

      oya curhat dikit, sebenernya aku sendiri ga tau klo itu romantis, tapi komennya hampir semua "romantis banget" ya kira2 begitu sih .-. padahal aku ga begitu yakin klo itu jadinya romantis, anyway sekali lg makasih buat komennya (makasih banget malah) ff hyo-exo yg lain ditunggu aja ya, krn aku (sepertinya) bakal selalu nulis ff pairing hyo-exo.

      udh cukup cuap2nya, intinya aku cuma mau bilang makasih buat komentarnya ya😀 love you~ /ceilah/

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s