Porphyria [3] – The Ending

aiko-1181

Porphyria [3] – The Ending

By

Harumi Aiko 

the Cast :

|| Choi Sooyoung || Wu Yi Fan || Park Chanyeol || Kim Jong In ||

| Romance, Angst, Thriller | PG-13 | Chaptered |

Poster by Fearimaway

Disclaimer :

Cerita ini hanyalah karangan fiksi belaka yang terinspirasi dari asal-usul dan sejarah vampir.

A/N : Annyeong readers, aku membawa ending chapter untuk fanfic ini. Aku mau ngasih tahu kalau di chapter terakhir ini ada adegan Thriller/pembunuhan. Tenang aja, orang yang terbunuhnya bukan para maincast kok. Yang penasaran bagaimana ending-nya, langsung aja yaa baca chapter terakhir ini. Selamat membaca, readers😀

.

Previous :

Prolog | [1] Who Are You? | [2] Revenge Of The Past

.

Terdengar suara langkah kaki dari arah belakang Sooyoung dan seseorang itu membekap mulutku dengan kain yang sangat menyengat membuatku hampir tak sadarkan diri. Aku menoleh ke arah orang itu, terlihat samar-samar wajahnya namun aku mengenalinya.

“Jong In?”, Aku menutup mataku perlahan dan penglihatanku semakin buram hingga aku tak bisa melihat wajahnya lagi.

_

 “Yoboseyo?”

“Kau harus membawa gadis itu kemari bagaimanapun caranya”

“Baiklah, Tuan Park”

Jong In dengan berpakaian serba hitamnya sedang mengadahkan kepalanya memandang apartement Sooyoung dengan intens. Pria itu menyeringai lalu tertawa dengan sendirinya. Saat Jong In pergi masuk ke dalam mobilnya, di saat yang sama Sooyoung keluar dari apartemennya dan pergi menggunakan taksi. Jong In yang melihat target incarannya itu segera mengikuti taksi yang ditumpangi oleh Sooyoung.

 Setengah jam kemudian, Jong In melihat Sooyoung keluar dari taksi. Jong In memainkan pistol yang di genggamnya, “It’s show time, babe.” Jong In menekan pelatuk pistol lalu mengarahkannya pada Sooyoung, namun keluar dari ujung pistol hanyalah air.

“Ups, ternyata pistol mainan”

Jong In tertawa puas saat mengetahui pistol yang di gengamnya hanyalah pistol mainan. Ia melihat Sooyoung memasuki sebuah rumah, dan Jong In langsung mengikuti gadis itu masuk ke dalam rumah ini. Lelaki itu mengikuti Sooyoung dari belakang dan di tangannya terdapat sapu tangan dengan bau yang sangat menyengat. Perlahan Jong In mendekati Sooyoung, dan membekap mulut gadis itu dengan sapu tangannya.

“Jong In?” Lelaki itu tersenyum sinis saat melihat gadis di hadapannya itu mulai kehilangan kesadarannya dan jatuh ke lantai dengan kondisi tak sadarkan diri.

“Annyeong, noona. Aku akan mengantarmu ke neraka”

_

SOOYOUNG POV

Aku membuka mataku perlahan dan memperhatikan sekitarku yang begitu gelap tanpa adanya penerangan membuatku tak bisa melihat apapun yang dapat mendeskripsikan seperti apa ruangan ini. Kurasakan tali kuat yang mengikat badan dan kedua tanganku begitu erat.

Mungkinkah saat ini aku diculik? Mengapa dia melakukan semua ini padaku?

Terdengar suara decitan engsel pintu yang dibukakan oleh seseorang dan dalam sekejap ruangan ini menjadi terang benderang membuatku bisa melihat seseorang yang sedang berdiri di dekat pintu dengan melipat kedua tangan di dadanya, lalu perlahan ia melangkah mendekatiku yang sedang duduk di lantai yang begitu dingin.

“Jong In ?” Aku memanggil nama orang itu. Jong In berjongkok di hadapanku dan tangan kanannya memegang bibirku yang gemetar.

“Aku menyukai dan membenci namaku disebut olehmu. Aku menyukainya, karena namaku disebut oleh wanita yang paling kusukai. Aku membencinya, karena kau orang yang membunuh kakakku, Kim Jong Dae. Kau masih ingat, tiga tahun lalu aku begitu mengejarmu dan begitu mengilaimu. Saat itu aku masih duduk di kelas 10 SMA dan kau di kelas 11 SMA. Kau menolakku karena alasan kau masih mencintai seorang pria yang bernama Wu Yifan. Kau begitu bodoh, masih mencintai seseorang yang telah pergi darimu. Aku begitu frustasi karena aku terlalu mencintai orang yang bodoh sepertimu. Begitu bodohnya aku karena mencintai seseorang yang sama sekali tak membalaskan cintaku,” Jong In mengelus kedua pipiku dan wajahnya semakin mendekat ke wajahku. Bibirnya mencium pipiku.

“Pipimu memerah, sayangJong In mencium pipiku lagi.

“Bibirmu terlihat menggoda” Setelah pipiku, Jong In mencium bibirku yang mengatup rapat dengan ganas. “Aku benar-benar menginginkan lebih, sayang” Jong In menjauhkan wajahnya dari bibirku. Dari posisi jongkoknya, Jong In berdiri dan pergi begitu saja dari ruangan ini.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka dan terlihat dua orang berbadan besar membawaku pergi keluar dari ruangan ini. Dua orang itu membawaku ke sebuah lapangan besar dan membiarkanku berdiri di tengah lapangan saat kondisi panas matahari sedang teriknya. Aku baru tersadar saat ini aku hanya menggunakan kaos hitam berlengan pendek dan celana hot pants. Terakhir kali saat sebelum mulutku dibekap Jong In, aku masih mengenakan baju tebal berlengan panjang dan celana berkain panjang yang cukup tebal.

Sial, sepertinya Jong In yang mengganti bajuku disaat aku masih tak sadarkan diri. Aku merasakan sakit dan gatal-gatal pada seluruh kulit tubuhku yang terkena sinar matahari. Semakin lama, rasa sakitnya semakin menjadi karena kulitku lama-kelamaan menjadi melepuh. Sepertinya Jong In mengetahui kelemahanku, yaitu penyakit Porphyria yang aku derita ini.

“Hahahahahaaa.. Aku bahagia melihatmu seperti ini”

“Tooo—loongg” Ucapku parau karena semakin lama badanku terasa lemas karena berdiri tepat dibawah sinar matahari.

“Hahahaha.. aku ingin kau mati perlahan, Choi Sooyoung. Aku ingin membalaskan dendamku karena kau telah membunuh kakakku”

“Akuuu.. tidaakkk memm—bunuh kakak—mu” Aku tersungkur ke tanah karena sudah tidak kuat lagi berdiri.

“Semua bukti menjelaskan kalau kaulah pembunuhnya karena sidik jarimu ada di pisau yang kau gunakan untuk menusuk kakakku..”

Flasback

Pada malam hari tepatnya pukul 08.00 malam, Sooyoung memasuki sebuah toko yang menjual peralatan-peralatan memasak. Di kedua tangan Sooyoung terdapat dua pisau yang membuat Sooyoung bingung untuk memilihnya.

“Pisau mana yang harus kupilih? Sepertinya pisau ini cocok untuk memotong daging” Sooyoung memilih satu di antara dua pisau yang sedang dipegangnya lalu ia berjalan ke arah kasir untuk membayar pisau yang dibelinya. Saat Sooyoung baru saja keluar dari toko tersebut, ada seseorang yang memanggilnya dari arah kursi yang terletak di depan toko.

“Tunggu! Apakah kau Choi Sooyoung? Bisakah kita berbicara sebentar disini?” Sooyoung menganggukkan kepalanya dan Sooyoung memutuskan untuk duduk tepat di hadapan orang itu.

“Maaf, jika aku membuatmu bingung Apa kau kekasih Kim Jong In? Aku kakak dari Jong In, namaku Kim Jong Dae” Orang itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Sooyoung sebagai tanda perkenalannya dengan gadis itu dan Sooyoung membalas uluran tangan Kim Jong Dae.

“Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Kim Jong In” Ucap Sooyoung dingin.

“Ah, kukira kau kekasih adikku. Karena di kamar Jong In, banyak sekali foto-foto dirimu yang dipajang di dinding kamarnya. Sepertinya adikku sangat menyukaimu.” Sooyoung hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Jong Dae.

“Maaf aku tak bisa lama-lama.. Aku harus segera pulang..” Saat Sooyoung bangkit dari duduknya, tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang membekap mulut Sooyoung dengan sapu tangan berbau menyengat hingga membuat gadis itu tak sadarkan diri. Orang itu berlari sambil membawa pergi Sooyoung. Jong Dae yang melihat adegan itu langsung mengejar orang misterius itu.

Jong Dae berlari mengikuti orang misterius itu ke sebuah gang kecil di sekitar Myeongdong. Orang misterius itu tampak gelisah saat ia mengetahui gang tersebut adalah jalan buntu dan orang itu langsung mengacungkan pisau tajam yang ia ambil dari tas kecilnya. Jong Dae melangkah mundur saat orang misterius itu berjalan maju sambil mengacungkan pisau ke arahnya. Saat Jong Dae hendak berlari menjauh, orang misterius itu langsung menusukkan pisau ke dada Jong Dae dan langsung mencabut pisau miliknya yang tertancap di dada Jong Dae. Dibalik topeng yang dipakainya, orang misterius itu menyeringai puas saat melihat darah bercucuran hebat dari dada sang korban.

Orang misterius itu menyimpan pisau yang masih bercucuran darah itu di tas selempang kecil miliknya. Ia mengambil sarung tangan anti sidik jari dari saku celananya. Orang itu mengambil pisau di plastik belanja Sooyoung lalu melumuri pisau itu dengan darah Jong Dae dan orang itu menempelkan pisau yang di pegangnya dengan sidik jari tangan Sooyoung.

Orang misterius itu meninggalkan mayat Jong Dae dan menaruh pisau bersidik jari Sooyoung di dekat mayat Jong Dae. Orang itu terlihat mencari mobil seseorang, dan saat ia melihat mobil milik tuan-nya, ia langsung memasukkan Sooyoung ke dalam ke mobil itu.

“Kerja bagus, Zitao-ssi” Orang misterius itu membungkukkan badannya pada tuan-nya. Lalu pergi meninggalkan mobil tuan-nya.

Flashback end

_

AUTHOR POV

Kris terbangun dari tidurnya lalu mencari Sooyoung di apartement milik gadis itu. Namun hasilnya nihil karena Kris tidak menemukan Sooyoung. Kris langsung mencari handphone-nya untuk menelpon Sooyoung, namun ternyata gadis itu pergi meninggalkan handphone-nya di ruang tamu. Kris tampak gusar hingga membuatnya harus menelpon seseorang.

“Kim Taeyeon, apakah kau tahu Sooyoung pergi kemana?”

“Tunggu sebentar tuan muda,” Taeyeon mencari keberadaan Sooyoung melalui laptop-nya yang langsung terhubung dengan cctv-cctv yang gadis itu pasang di berbagai tempat untuk mengawasi Sooyoung.

“Tuan muda, pada pukul 08.00 pagi Sooyoung sampai di rumah mendiang orang tuanya. Dan terlihat seorang pria yang tidak saya ketahui identitasnya membekap mulut Sooyoung”

“Tolong kirim foto seseorang itu ke email-ku”

“Baik tuan muda akan segera saya kirim fotonya. Pipp” Taeyeon menutup panggilannya dengan Kris. Beberapa menit kemudian, Kris menerima foto seorang pria dari email yang dikirimkan Taeyeon padanya. Saat Kris melihat foto itu, ia tidak mengetahui siapa pria yang berada dalam foto itu.

“Sepertinya dia mengetahui seseorang yang berada dalam foto itu” ujar Kris sambil memandang jendela apartemen seseorang yang tepat berhadapan dengan jendela apartemen Sooyoung.

_

‘Ting… Nong.. Ting… Nong’ Chanyeol mendengar suara bel apartement-nya berbunyi dan langsung membukakan pintu untuk seseorang yang menekan tombol bel apartement-nya.

‘Kenapa dia kemari?’ Tanya Chanyeol dalam hati. Lelaki itu jadi teringat seseorang yang memeluk Sooyoung di apartement gadis itu.

“Annyeong.. Silahkan masuk” Ucap Chanyeol mempersilahkan orang itu masuk ke apartement-nya. Lelaki itu melihat-lihat seisi apartement Chanyeol dan duduk di sofa yang berada di ruang tamu.

“Aku tak akan berbasa-basi disini. Namaku Wu Yifan,  tetapi orang-orang sering memanggilku dengan nama Kris. Kau Park Chanyeol, kan? Aku tahu namamu dari seseorang yang aku kenal” Chanyeol menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Kris.

“Aku kemari hanya ingin menanyakan hal ini. Apa kau mengenalnya?” Kris memperlihatkan foto pada Chanyeol dari handphone-nya.

“Maaf, aku tidak mengenalnya. Tetapi aku mengetahui beberapa hal tentang orang ini. Memangnya ada apa?” Tanya Chanyeol pada Kris.

“Bisakah kau jelaskan hubungan Sooyoung dengan lelaki yang berada di foto ini?”

“Yang aku tahu, lelaki ini bernama Kim Jong In dan dia memiliki dendam pada Sooyoung karena Jong In berfikir kalau pelaku pembunuhan kakaknya itu adalah Sooyoung. Hey kau mau kemana?!” Sebelum Chanyeol membereskan perkataannya, Kris melangkah keluar dari  apartement-nya. Chanyeol yang merasa curiga dengan Kris, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti Kris secara diam-diam.

_

Kris berlari tergesa-gesa keluar dari apartement Chanyeol dan segera menaiki mobil yang di dalamnya terdapat Taeyeon yang sedang duduk di kursi penumpang belakang.

“Paman Kim, ayo kita pergi sekarang juga” Perintah Kris saat dia sudah memasuki mobil miliknya.

“Taeyeon-ah, carilah keberadaan seseorang yang bernama Kim Jong In. Sepertinya Sooyoung saat ini sedang dalam bahaya” Dengan cekatan Taeyeon mencari keberadaan Kim Jong In dengan GPS canggih yang terpasang pada laptopnya.

“Di kota Seoul saat ini terdapat 5 orang yang bernama Kim Jong In. Di antara 5 orang tersebut, tak ada seorang pun yang mirip dengan orang yang berada dalam foto itu” Ujar Taeyeon memaparkan hasil pencariannya pada Kris.

“Taeyeon-ssi, coba kau perluas jaringan pencariannya sampai seluruh Korea Selatan”

“Maaf tuan muda, dari pencarian seluruh Korea Selatan pun hanya ada 5 orang yang bernama Kim Jong In”

“Argghhh.. Sial !!!!” Geram Kris sambil mengacak-acak rambutnya dengan gusar.

_

Chanyeol menghentikan mobilnya di depan seseorang yang sedang berdiri menanti kedatangannya. Dan orang itu langsung memasuki mobil Chanyeol saat mengetahui tuan-nya sudah tiba. Seperti yang dilakukan oleh Kris, Chanyeol pun mencari keberadaan Sooyoung melalui orang kepercayaannya.

“Baekhyun-ssi, bagaimana hasil pencariannya?”

“Saat ini Kim Jong In berada di pulau Jeju. Lebih tepatnya berada di Lotte Hotel di kamar nomor 311” Chanyeol tersenyum puas dengan hasil kinerja orang kepercayaannya.

“Bagaimana caranya kau langsung mengetahui keberadaan Kim Jong In? Di korea selatan ini, orang yang bernama Kim Jong In pasti tidak hanya satu, bukan?”

“Aku memasang alat pengintai yang sangat kecil di telinga Jong In. Dan alat pengintai tersebut sudah saya pasang dengan GPS pelacak tempat otomatis. Pada saat saya mencari keberadaan Jong In, saya langsung mendapat pemberitahuan langsung dari alat pengintai itu tentang keberadaan Jong In saat ini”

“Kau memang benar-benar bisa diandalkan. Baekhyun-ssi, apa kau memiliki nomor telepon seseorang yang bernama Wu Yifan?”

“Saya tidak punya nomor telepon tuan Wu. Tetapi saya memiliki nomor telepon orang kepercayaan tuan Wu. Apakah saya harus memberitahu keberadaan Jong In saat ini pada mereka?”

“Iya kau harus memberitahu mereka. Siapa tahu, Wu Yifan saat ini belum mengetahui keberadaan Sooyoung sekarang. Lebih baik sekarang kita pulang saja, Baekhyun-ssi” Ucap Chanyeol dengan suara yang sedikit parau.

_

SOOYOUNG POV

Aku mengerjapkan kedua mataku saat melihat sekelilingku yang terlihat seperti sebuah kamar. Aku merasakan sakit yang luar biasa di kepala saat berusaha bangkit dari posisi tidurku. Kulihat bekas-bekas melepuh pada kulit tangan dan kaki yang membuatku mengingat rasa sakit saat aku berdiri tepat dibawah sinar matahari.

“Noona, minumlah darah ini. Bukankah kau begitu menginginkannya?” Aku mendengar suara Jong In menghampiriku dan ia memberikan sebuah labu darah padaku dan aku langsung meminumnya. Saat aku meneguk darahnya, tiba-tiba aku memuntahkannya karena rasanya benar-benar pahit tak seperti darah biasanya yang aku minum saat melakukan proses cuci darah di rumah sakit.

“Bagaimana rasanya darah kakakku? Apakah enak?”

‘Tidak… benar-benar tidak enak’ Ucapku dalam hati.

Beberapa menit kemudian, aku merasakan badanku kejang-kejang dan jantungku berdenyut hebat hingga membuat kesadaranku hilang kembali.

_

Kris, Taeyeon, dan Paman Kim sampai di Pulau Jeju menggunakan helikopter pribadi milik keluarga Wu. Setibanya di Lotte Hotel milik keluarga Park Chanyeol, mereka bertiga langsung memasuki hotel tersebut dan mencari kamar bernomor 311.

Saat Kris membuka pintu dan memasuki kamar bernomor 311, Kris melihat Sooyoung sedang tertidur pulas tanpa busana dan Kim Jong In sedang memainkan buah dada Sooyoung. Kris benar-benar marah saat melihat Jong In melakukan hal seperti itu pada tunangannya.

“APA YANG KAU LAKUKAN PADA TUNANGANKU !!!!!!” Kris langsung melayangkan pukulan tepat di wajah Jong In hingga babak belur. Pada saat Jong In akan membalaskan pukulan, tiba-tiba polisi masuk dan membawa Jong In keluar dari kamar hotel.

“Youngie-ah, iroena” Kris berusaha membangunkan Sooyoung. Namun hasilnya nihil karena gadis yang berada dalam dekapannya saat ini tak bangun juga.

“Taeyeon-ssi, cepat telepon rumah sakit untuk mengirimkan ambulans kemari !!!”

“Ne, tuan muda”

_

Sudah 3 minggu di rawat inap, akhirnya Sooyoung sembuh dari komplikasi darah yang di minumnya waktu itu. Sooyoung di tunjuk sebagai saksi sekaligus korban atas dakwaan Tuan Park dan Kim Jong In yang mencoba melakukan pembunuhan kepadanya. Dalam sidang tersebut, Tuan Park hadir sebagai tersangka karena Kim Jong In bersekongkol dengan Tuan Park yang merencanakan pembunuhan pada Sooyoung.

“Nona Choi, bisakah kau menjelaskan bagaimana kronologis saat dirimu bertemu dengan Kim Jong Dae, kakak dari Kim Jong In?” Tanya Jaksa Tiffany pada Sooyoung.

“Aku bertemu dengan Kim Jong Dae di sebuah toko peralatan masak yang berada di sekitar Myeongdong. Saat itu aku berencana untuk membeli pisau dan ada seseorang yang memintaku untuk berbincang-bincang sebentar dengannya. Tiba-tiba saat aku akan pergi meninggalkan Kim Jong Dae, ada seseorang yang membekap mulutku dan setelah itu aku tak sadarkan diri”

“Apakah anda mengenal Park Yoochun?” Tanya Jaksa Tiffany lagi.

“Park Yoochun atau yang sering kupanggil Tuan Park adalah teman rekan kerja ayahku dan juga rekan kerja ayah Wu Yifan. Saat aku masih berumur 5 tahun, ayahku bercerita Tuan Park Yoochun dan Tuan Wu  adalah sahabat ayahku sejak di bangku kuliah. Sejak orang tuaku meninggal, perusahaan yang didirikan oleh ayahku berusaha direbut oleh Tuan Park. Padahal sudah sangat jelas aku adalah pewaris tunggal dari perusahaan ayahku. Aku berpikir, sepertinya Tuan Park berencana untuk membunuhku agar dia bisa mengambil alih sepenuhnya perusahaan ayahku. Aku berspekulasi jika Tuan Park membunuh orang tuaku dan orang tua Wu Yifan karena Tuan Park ingin merebut perusahaan yang dimiliki oleh ayahku dan juga ayah Yifan.” Papar Sooyoung sambil menatap tajam pada Tuan Park.

Pengacara Sooyoung yang bernama Do Kyungsoo memberikan beberapa bukti pada jaksa untuk menguatkan pernyataan Sooyoung tentang kasus pembunuhan yang sudah lama ditutupi oleh Tuan Park. Para jaksa dan hakim tampak sedang berdiskusi tentang vonis yang akan diberikan pada Tuan Park dan Kim Jong In.

“Pengacara Do, bisa anda jelaskan tentang bukti-bukti yang ada berikan ini?” Tanya ketua hakim yang memimpin persidangan itu.

“Bukti-bukti tersebut adalah bukti kejahatan yang dilakukan oleh Tuan Park selama ini. Dua kasus pembunuhan yang dilakukannya, pernah diselidiki oleh pihak kepolisian. Namun dua kasus pembunuhan itu ditutup secara sepihak karena Tuan Park memiliki kaki tangan di pihak kepolisan yang bernama Huang Zitao. Seseorang yang bernama Huang Zitao ini sangat berpengaruh besar pada dua kasus pembunuhan itu, karena dia berstatus sebagai Kepala penyelidikan kepolisian Seoul. Sebenarnya Huang Zitao inilah yang membunuh Kim Jong Dae” Jong In yang mendengar pernyataan dari Kyungsoo terbelalak kaget tak percaya dengan yang dikatakan pengacara dari Sooyoung.

“Baiklah saya akan menyimpulkan hasil sidang yang kita laksanakan kali ini. Pernyataan bahwa Choi Sooyoung membunuh Kim Jong Dae adalah salah. Tuan Park akan divonis hukuman mati dan Kim Jong In divonis hukuman penjara selama 1 tahun. Untuk Huang Zitao saya tetapkan menjadi terdakwa dan akan dihadirkan pada sidang pengadilan berikutnya. Dan sidang pada hari ini saya tutup. Tok tok tok” Sang ketua hakim memukul palu sebagai tanda berakhirnya persidangan.

Sooyoung berlari sambil tersenyum bahagia menghampiri Kris yang sedang duduk di kursi pengunjung ruang sidang. Sooyoung memeluk Kris dan keduanya tampak senang dengan keputusan akhir yang diambil oleh ketua hakim persidangan.

“Untuk kalian berdua, maaf ayahku pembunuh kedua orang tua kalian. Sekali jeongmal mianhae” Chanyeol berkata pada Sooyoung dan Kris sambil menahan tangis di pelupuk matanya.

“Ini semua terjadi karena takdir Tuhan dan kita sebagai manusia tidak bisa menyalahkan takdir. Jadi mulai sekarang apakah kita teman?” Tanya Kris pada Chanyeol.

“Ne, kita teman” Ucap Chanyeol sambil merangkul bahu Kris dengan creepy smile milik-nya. Sooyoung yang melihat keakraban Chanyeol dan Kris tersenyum manis dan menyubit pipi kedua lelaki itu.

“SOOYOUNG SAKIT!!!!” Seru Chanyeol dan Kris bersamaan. Sooyoung sebagai pelaku pencubitan kabur berlari terbirit-birit menjauh dari Chanyeol dan Kris yang berlari mengejarnya.

_

EPILOG

“Mwo? Jadi kau dan aku dulu pernah berpacaran? Tak kusangka dulu aku pernah berpacaran dengan orang sepertimu” Ujar Sooyoung yang langsung diberi jitakan manis (?) dari Chanyeol.

“Hey, kau seharusnya bersyukur pernah menjadi yeojachingu namja tampan sepertiku ini” Ucap Chanyeol sambil menunjukkan pose tertampannya pada Sooyoung

“Ya benar. Aku bersyukur karena putus darimu, aku jadi menikah dengan Kris. Dan dia lebih tampan darimu hahaha”

“Yeobo!!! Sooyoung!!! Kemarilah daging bakarnya sudah matang” Sahut Yuri dari jarak yang lumayan jauh dan kedua orang itu langsung menghampiri Yuri.

“Kris oppa, kembang api sudah siap?” Tanya Yuri dan Kris menjawab dengan mengacungkan jempolnya.

Kris menyalakan kembang api yang cukup besar membuat langit pada malam itu terlihat tampak lebih berwarna dan suasana acara barbeque semakin seru. Sooyoung menatap langit sambil tersenyum bahagia, “Terima kasih Tuhan. Saat ini aku benar-benar bahagia. Aku harap kebahagian ini terus berlanjut sampai akhir hayatku nanti.” Tiba-tiba Sooyoung merasakan mual yang luar biasa. Karena sudah tidak kuat lagi, Sooyoung langsung memuntahkan yang membuatnya merasa mual.

“Chagi, waeyo? Apa jangan-jangan kau…… hamil?” Tanya Kris pelan pada Sooyoung.

“Sepertinya aku hamil, karena sudah beberapa bulan ini aku tak kunjung menstruasi” Ucapan Sooyoung membuat Kris tersenyum bahagia dan berteriak, “YEAHHH !!!! ISTRIKU HAMIL !!!!” Chanyeol dan Yuri yang mendengar teriakan Kris langsung menghampiri keduanya dan memberikan selamat atas kehamilan Sooyoung.

.

.

To Be Continue

.

.

.

.

.

.

.

No, this is ENDING !!!! ^^

.

.

.

Author Notes :

Halooo semua.. gimana nih endingnya? semoga gak mengecewakan yaa ^^

Sebenernya dari prolog sampe chapter 3 ini bener-bener banyak perubahan gak seperti teasernya. Tadinya aku mau bikin peran Jong In itu dimainin sama Kris. Terus Sooyoung ntar ber-ending sama Chanyeol. Aku gak tega Kris jadi orang yang menyiksa Sooyoung hehehe.. jadinya aku ganti Kai deh yang jadi pemeran antagonisnya😀

Maaf yaa kalau fanfic Porphyria ini banyak kekurangannya *bow*

Untuk saat ini, aku ada project fanfic chapter lagi yang pemainnya tuh kebanyakan aku ambil dari cast jarang.. untuk fanfic selanjutnya, sooyoung gak akan aku pasangin sama kris karena aku ingin sooyoung ber-couple sama kai gara-gara liat header dan background  yang kece banget v.v

Makasih banget buat para readers semua yang udah meluangkan waktunya untuk baca fanfic ini, dan makasih juga buat para readers yang selalu setia menunggu kelanjutan fanfic ini. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih pada kalian semua ^^

Jangan lupa yaa kritik, saran, komentarnya aku tunggu🙂

Sampai jumpa di fanfic-fanficku berikutnya yaa.. Pai Pai ^^

15 thoughts on “Porphyria [3] – The Ending

  1. yah ? kok ending sih -_- padahal berharap lebih
    tapi gapapa deh , tetep bagus
    aku penasaran yang diaksud dengan baekhyun itu siapa ..
    Taeyeon kah ? wkwkwk
    aku senyum2 sendiri baca waktu bilang baekhyun kenal sama kaki tangannya kris 😀
    overall aku suka banget ff ini ! apalagi maincastnya eonniku .
    hehe
    ditunggu ff selanjutnya😉

  2. asal endingnya sookris aja aku gak bakal kecewa kok author xD
    h kai tega bgt-_- oh aku kira chanyeol sama jahatnya kayak tuan park ternyata enggak, baguslah:$
    kereeeeeen, puas kok sama endingnya, ikut bahagia nih sooyoung hamil anaknya kris xD
    keep writing authornim!^^

  3. weyah! keren banget lah~ good ff thor. Hehe. Walaupun baru baca sekarang :p oh ya, kai goodbye and sookris congratz! akhirnya, chanyul bisa beradaptasi juga(?) Hehe.. pacaran juga maksudnya. Keep writing thor! Fighting!🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s