[Freelance] Oneshot : MAMA (Second Version)

MAMA 2

MAMA (SECOND VERSION)

Author

Shin Hyun Gi (@AyuSerlia)

Main Cast

Kim Taeyeon || Kris Wu || Victoire Wu (OC)

Other Cast

You’ll find them by yourself

Genre

Family || Life || Sad || etc

Length

Oneshot || Ficlet

Rating

T/PG-15

 

Disclaimer

Inspired by “Chicken Soup for The Soul and Single Parent’s Soul” and also everything that I ever know in my life, it could come from a movie, novels, songs, or a short story that written by my favorite Authors, such as Dee and JK.Rowling. The first version already came out in this blog too.

 

Author’s Note

Sebelumnya, terima kasih yang sebesar-besarnya atas komentar positif yang sudah disampaikan oleh para reader semuanya di fanfic bulukan saya ini.I was so speechless when I read all of your comments, padahal tujan awal dari cerita ini ditulis cuma untuk sekedar iseng menggebrak tema romance yang biasanya lebih sering diangkat menjadi cerita, termasuk karya saya sendiri yang hampir sembilan puluh persennya bertema romance.

Jadi ini dia versi kedua dari fanfiction “MAMA”, dimana pada versi pertama seorang ayah atau papa yang berbicara, kali ini giliran sang mama untuk ‘mengungkapkan’ isi hatinya.

So, hope you enjoy it!

 

____________

“Aku sudah mencintaimu—bahkan ketika kau masih sebuah rencana.”

____________

Teruntuk puteri kecilku yang paling kucintai—Victoire Wu-ku—memang tak banyak kata yang dapat kuungkapkan kepadamu sebagai wujud betapa cintanya mama-mu ini kepadamu.Hanya satu kalimat sederhana saja—aku mencintaimu—dan segalanya lengkap sudah.

Dirimu sayang, pada awalnya hanyalah mimpi-mimpiku untuk menjadi seorang ibu di masa mendatang, dan mimpi-mimpi itulah yang setiap harinya kurajut bersama seorang Kris Wu, papamu, pahlawan kita.

Aku suka membuat rencana tentangmu, dan sungguh, rasanya sulit sekali jika tak membayangkan memeluk tubuh mungilmu itu sehari saja. Jika kau seorang laki-laki, kau tentu akan setampan dan segagah papamu. Namun jika kau seorang perempuan, maka aku tak akan menampik bahwa kau akan muncul jauh lebih cantik dibandingkan aku. Aku percaya, menjadi seorang ibu adalah salah satu pemberian terindah yang diberikan Tuhan kepada setiap wanita pilihannya. Dan aku benar-benar berharap, bahwa Ia akan memilihku sebagai salah satu wanita pilihan tersebut.

Memelukmu, mengecup pipimu, melindungimu—segalanya akan kulakukan untukmu.

Suatu hari, momen tersakral dalam hidupku itu akhirnya tiba juga.Tepat di malam pergantian tahun, beberapa hari sehabis Natal, impianku menjadi seorang ibu benar-benar menjadi kenyataan.Tubuh mungilmu itu hadir di dalam rahimku, dan seketika bayangan-bayangan indah mengenai hari kelahiranmu itu kembali berpusar hebat di dalam pikiranku.

Lalu tentang papamu—kau harus tahu sayang—bahwa ia sama bahagianya denganku. Disaat yang bersamaan ketika aku mengatakan dengan suara berbisik bahwa tubuh kecilmu telah hadir di dalam sana, ia langsung berjingkat riang dan mengecup kedua pipiku pelan. Kami berdua—sepasang manusia muda berusia dua puluh dua tahun—merasa amat bahagia ketika menyadari bahwa Tuhan akan memberikan manusia kecil pertama di dalam pernikahan kami yang baru berusia beberapa bulan.

Kami mencintaimu, sangat mencintaimu.

____________

Seperti bunga kapas lembut yang diterbangkan oleh angin, kabar itu akhirnya menyebar cepat sekali. Hampir seluruh keluarga papamu dan mama mengetahui hal ini dan menyambutnya dengan sangat gembira, karena tak ada seorang pun yang menyangka bahwa peristiwa besar ini akan terjadi dengan sangat cepat.

Sahabat-sahabat mama—bibi Miyoung dan bibi Joohyun—menyambut kehadiranmu dengan sebuah pesta yang paling berkesan untuk mama.Kami berpesta seharian penuh dengan berjalan-jalan di Kota Seoul sebagai pelampiasan kerinduan masing-masing yang sudah lama sekali tak bertemu. Kau mungkin belum seberapa mengerti akan hal ini, tetapi papamu dan mama memang tak berkebangsaan sama—ia seorang pria berkebangsaan Cina tertampan yang pernah kutemui, dan mamamu ini, hanyalah seorang gadis Korea Selatan biasa yang entah bagaimana caranya dapat memiliki dan menyatukan hatinya dengan seorang Kris Wu.

Dan dari semua itu, satu hal yang selalu terbayangkan di bayangan mama hingga saat ini ialah ketika Bibi Miyoung mengungkapkan sebuah gagasannya yang amat berkesan untuk seorang calon ibu baru seperti mama, “Taeyeon ah, malaikat kecilmu itu pasti akan terlihat menawan sekali,” ia tersenyum kecil ketika menyebutkannya hingga semburat kemerahan penuh rasa bahagia itu kembali bermunculan dari kedua pipi tirus milik mama.

            Di saat-saat awal mengandungmu adalah permulaan dari masa terindah dalam hidupku.

____________

 

            Selama berbulan-bulan selanjutnya, papamu dan aku akhirnya memulai untuk menyiapkan segalanya untukmu. Kami memilihkanmu nama-nama yang lucu, pakaian-pakaian mungil yang akan kau pakai ketika lahir nanti,lalu ranjang indah sebagai tempat tumpuanmu untuk terlelap, bahkan kami juga menyisihkan sedikit demi sedikit uang yang kami hasilkan demi pendidikanmu di masa depan nanti—segalanya kami lakukan, hanya untukmu.

Rasanya pasti akan sangat menyenangkan ketika mendengarkan bibir mungil kemerahanmu memanggilku dengan sebutan ‘mama’, lalu menyebutkan nama pria yang paling kucintai dengan sebutan ‘papa’. Dan kami memang benar-benar akan menunggu saat-saat membahagiakan itu, dimana kami berdua dapat menuntunmu untuk berjalan dengan kedua kaki kecilmu yang melangkah tertatih, lalu mengajarimu baca-tulis, dan masih banyak hal menyenangkan lainnya.

Dan hal-hal kecil itu terasa semakin nyata ketika seorang dokter mengatakan bahwa tubuh manusia kecil yang berada di dalam rahimku ini ialah seorang bayi perempuan.Tak terhitung beberapa detik setelahnya, bibirku bergetar menahan rasa bahagia. Tetes air mata penuh keharuan itu akhirnya mengalir juga.Aku—seorang Kim Taeyeon—akan menjadi seorang ibu dari gadis kecil yang pastinya sangat cantik.

Status indah itu akan semakin mendekat. Seorang manusia kecil yang berada di dalam perutku akan segera lahir dan memanggilku sebagai mamanya.

Manusia itu ialah kau, sayangku—puterikecil yang paling kucintai.

____________

 

Suatu hari, tepat di malam musim panas beberapa minggu sebelum kau lahir, aku dan papamu melakukan sebuah ritual indah yang biasanya selalu kami jalani ketika malam musim panas datang.Kami berkumpul berdua di balkon atas menghadapi hawa dingin malam musim panas Cina dengan berbincang berdua. Ada banyak hal yang kami tertawakan bersama, mengenai konyolnya beberapa tetangga kami seperti Bibi Wei yang kerap kali memarahi bocah-bocah kecil yang masuk diam-diam ke dalam halaman rumahnya hanya untuk mengambil bola kaki mereka yang terlempar jauh, hingga membicarakanudara Beijing yang semakin menyesakkan pernafasan.

Kau tahu sayang, tepat di malam itu, kami berniat untuk pindah ke Seoul dan membesarkanmu di sana—bukan di Beijing—tempat tinggal kami saat itu. Karena kami tahu benar, bahwa udara seperti ini tak akan cocok bagi tubuh kecilmu. Kau pasti akan jatuh sakit karenanya, dan kami tak ingin hal itu terjadi kepadamu—seperti yang telah kuungkapkan sebelumnya—mama dan papa mencintaimu bahkan sebelum kami dapat melihat wajah cantikmu muncul di dunia.

Di saat semilir angin lembut memasuki pori-pori tipis kulit tubuh, aku memutuskan untuk bertanya kepada papamu mengenai suatu hal—yang mungkin akan sangat berhubungan dengan masa depan kita bertiga nanti—di tengah kehangatan itu, aku kembali menarik nafasku sesaat sembari mengelus perut besarku yang berisikan tubuh kecilmu lembut, “Ketika puteri kecil kita lahir nanti, dapatkah kau menjanjikan sesuatu kepadaku?”

Seulas senyum kecil tersibak dari wajah tampan papamu itu, ia mendekatkan tubuhnya padaku dan menggenggam jemariku erat.

“Segalanya akan kulakukan untukmu dan puteri kecil kita,”ia berdesis lembut lalu menyenderkan kepalanya pada bahuku pelan, “Bahkan jika aku harus menderitapun tak akan jadi masalah.”

“Jika begitu, tetaplah menjadi seorang ayah yang baik bagi puteri kita nanti,” seakan ada suatu hal yang mengganjal di dalam diriku, kalimat-kalimat harapan lainnya itu terus terucapkan begitu saja. Hingga pada akhirnya, dengan nyaris tak bersuara bisikan terakhirku malam itu terucap, “Tolong jaga malaikat kecil kita di dalam lindunganmu—jangan pernah sia-siakan ia—karena aku dapat pergi kapan saja ketika melahirkannya nanti.”

Mendadak, papamu yang saat itu nyaris terlelap ketika mendengarkan pembicaraanku itu segera mendongakkan kepalanya dan menatapku dengan sedikit tak percaya. “Sayang…,” jemari besarnya meraih pergelangan kananku lembut dan menggenggamnya erat-erat, “Kau bicara apa?” ia berbisik dengan suara lirih.

Menyadari hal apa yang sedang terjadi, akhirnya aku kembali memutuskan untuk diam saja dan menolak berbicara.Sesaat, mama berusaha untuk berpikir bahwa hal bodoh yang baru saja terucap itu hanyalah sebuahbayang-bayang bodoh yang menghantui setiap calon ibu yang akan melahirkan buah hatinya saja—karena benar sekali, mama takut meninggalkanmu bahkan jauh sebelum kau dapat berlari riang dan memeluk mama dengan kedua lengan mungilmu itu.

            Namun ternyata, firasat itu memang benar adanya.

____________

21 Juni 2009—akhirnya hari itu datang juga.Di pagi yang cerah itu, tubuh kecilmu mulai mendesak perutku.Ada rasa nyeri aneh yang melandaku selama beberapa saat, hingga mama merasa seluruh oksigen di dunia telah menghilang terhirup oleh energi negatif yang entah darimana asalnya.Perutku sakit sekali, tetapi dari sana pula mama-mu ini tahu bahwa puteri kecilnya akan segera lahir. Malaikat cantik itu akan terlahir ke dunia dan membawa berjuta harapan indah bagi kedua orang tuanya—seorang Kim Taeyeon dan Kris Wu.

Ada banyak perjuangan yang kami lakukan untukmu.Di tengah rasa sakit itu, papamu akhirnya memutuskan untuk membawaku menuju salah satu rumah sakit yang terdekat.Lalu tak butuh waktu lama, para dokter dan perawat tersebut sontak segera membawaku menuju ruang persalinan.

Tetapi maafkan aku, sayang.Tolong maafkan ibumu ini yang tak terlalu mampu untuk terus berjuang demi dirimu.

Berselang beberapa jam semenjak proses kelahiran diberlakukan, aku mulai kehilangan kesadaran. Segala hal yang terang beranjak berubah menjadi temaram kemudian bertransformasi lagi menjadi sesuatu yang amat gelap.Peluh yang terus bergulir itu akhirnya terhenti, denyut jantung mama terus melemah sesuai dengan pergantian detik yang berjalan, hingga tiba-tiba—ketika rasa sakit itu mulai mencapai puncak tertingginya pada diri mama—sesosok makhluk bercahaya itu pun datang. Ia mengatakan bahwa sudah saatnya mama pergi.

Lalu sesuai dengan garis takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan, aku menghembuskan nafasku yang terakhir kalinya bersamaan dengan hembusan nafas pertamamu di dunia. Kau lahir, sayang—mama benar-benar berhasil melakukannya! Dirimu akhirnya dapat bertemu dengan indah dan damainya dunia ini.Walaupun kau pasti tahu, bahwa nyawaku lah yang menjadi penggantinya untukmu.

Tetapi menyesalkah mama melakukannya untukmu?Menyesalkah mama melahirkanmu?

Jawabannya tidak sama sekali. Karena di dunia ini, tak ada seorang ibu pun yang merasa menyesal karena telah melahirkan malaikat kecilnya, bagian terbesar ibunya.Begitu pula dengan mama, tak pernah ada satu kata menyesal untuk mengenang kelahiranmu itu. Mama justru merasa sangatlah bangga—karena seorang gadis biasa bernama Kim Taeyeon ini benar-benar telah menjadi seorang penyelamat yang sesungguhnya, ia menjadi seorang penjaga yang sebenarnya. Penjaga puteri kecilnya.

Untuk itu, tetaplah tumbuh besar menjadi seorang gadis yang berguna, sayang. Banggakan papamu, jangan pernah buat ia kecewa. Ketika ia menangis, maka tersenyumlah untuknya, tolong usap air matanya sebagai pengganti jemari mama yang tak lagi mampu bergerak untuk membuatnya tersenyum. Katakan kepadanya bahwa sekalipun kita berpisah, perasaan ini juga tak akan pernah memudar di hati mama.

Jangan pernah khawatir akan keadaan mama, karena mama baik-baik saja.

Dan di tempat ini—di surga terindah pemberian Tuhan—mama akanselalu menjaga dan mengawasi kalian berdua dari kejauhan.

Mama mencintaimu, Victoire kecilku.

____________

 

Ini bukan hanya kisah tentang sepasang manusia yang saling mencintai

Tetapi juga tentang seorang ibu yang mencintai puteri kecilnya

Dimana selayaknya kodrat setiap wanita, ia akan melakukan segalanya

Demi malaikat kecilnya, demi mutiaranya yang paling berharga

 

Bahkan jikalaupun kematian menghantui kehidupannya

Ia akan terus berjuang hingga tetes darah penghabisan

Segalanya boleh lepas, tetapi bayi mungilnya tak boleh menderita

Biarkan saja ia menderita—ia juga tak akan peduli

 

Sebab rasa sakit dirundungi kematian itu tak akan sehebat rasa bahagianya menjadi seorang ibu

Karena menjadi seorang ibu sama artinya dengan menggapai sebuah kesempurnaan

Ia telah berhasil membuktikan bahwa dirinyalah wanita terhebat

Susunan domino kehidupannya telah berhasil dirangkai tanpa cela

 

Perpisahan tak lagi menjadi sesuatu yang pantas ditangisi

Tubuhnya boleh pergi, tetapi cintanya tak akan pernah pergi

Karena cintanya itu akan selalu kuat, seperti rantai besi yang tak memerlukan pengait

Dan hal itu akan terus berlanjut tanpa pernah habis masanya

Cintanya, selama-lamanya

 

The End

58 thoughts on “[Freelance] Oneshot : MAMA (Second Version)

  1. Victoria sini peyuk eonnie^_^.
    Taeng eomma aku anakmu yg hilang^_^kekekeke
    saeng sini eon peyuk jga#halahmodus#

    Aku tnggu KrisYeon lagi ya
    #gilapdhlakubunnies#
    Maaf baek~ TT_TT
    #kecupbasahkai#plak

    Hwaitaeng
    keren udh ffnya#muaaaahhh(?)kekeke

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s