Blood White Rose (Part 2)

 

blood-white-rose2

Title                             : Blood White Rose (신비)

Author                         : Jung Eun Mi (@Rishabilla)
Posted by                    : Nadiachan

Main cast                    : – Jessica Jung             (SNSD)

– Kim Hyoyeon           (SNSD)

Other Cast                   : – Xi Luhan                  (EXO)

– Kim TaeYeon           (SNSD)

– Park Chanyeol         (EXO)

– Oh Sehun                (EXO)

– Kris Wu                   (EXO)

– etc~

Genre                          : Horror, Mystery, Friendship, Little Romance, School Life

Rating                          : PG 13

Leght                           : Series

Poster                          : Thanks to chocolatesoda

***

‘who is she ?

Part-2

Jessica Jung

            Aku benar-benar yakin semalam adalah hari tersialku. Yang benar saja, aku terus-terusan di terror sampai-sampai aku tak sadarkan diri. Seumur hidupku, baru kali itu aku jatuh pingsan. Belum lagi aku harus mencari Sunny. Andaikan aku punya Telephaty, aku tidak perlu repot-repot mencarinya.

“Kau sudah bangun?” Tiba-tiba kepala Taeyeon muncul di pintu kamarku.

Aku melemparkan bantal ke arah Taeyeon “Kau mengagetkanku saja!”

“Jadi kau sedang melamun?” Tanya Taeyeon sambil berjalan dan duduk di kasurku.

“hm..tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu” jawabku santai.

“Kau sedang memikirkan apa ?” Tanyanya lagi.

Aku menyipitkan mataku “Kenapa kau sangat ingin tau?”

Ya! Kau ini” dengus Taeyeon.

Aku tidak bisa menahan tawa saat melihat wajah Taeyeon yang sedang kesal—sangat lucu, “oke oke, aku ini sedang memikirkan kembaranmu. Perasaanku tidak enak, dan aku sangat mengkhawatirkannya”

“Tidak usah mengkhawatirkan Sunny”

“Eh ?” aku dan Taeyeon terkejut mendengar suara Luhan yang tiba-tiba muncul di kamarku.

“Sejak kapan kau ada disini?” Tanyaku ketus.

Aku dan Luhan memang berpacaran, tapi kami jarang akur. Luhan itu orang yang sangat menyebalkan bagiku, tingkahnya sangat menjengkelkan. Tapi kenapa aku mau dengannya ya?

“Barusan saja” balasnya.

“Jadi kau mendengar pembicaraan kami?” selidik Taeyeon.

“Tidak juga”sahut Luhan datar.

“Terus kau mau apa kesini?” tanyaku lagi, sekarang dengan ‘sedikit’ lembut.

“Aku hanya ingin menanyakan padamu. Kau berangkat kuliah jam berapa?” ucapnya dengan halus dan lembut.

            Uh-oh, sekarang suara Luhan berhasil membuat jantungku melompat-lompat tak karuan. Oke mungkin kali ini aku terlalu lebay.

“jam sebelas” sahutku datar.

“Kau tidak lihat sekarang jam berapa Sica-ya?” tanya Taeyeon cekikikan.

Aku melirik kearah jam yang menempel di dinding kamarku “OMONA! Kenapa kalian tidak memberitahuku kalau sekarang sudah jam setengah sebelas eoh?”

Taeyeon mengangkat bahunya “Aku tidak tau”

aish! Kau ini!” aku mendengus kesal dan segera berlari menuju kamar mandi, mungkin hari ini aku harus mandi bebek ‘lagi’.

***

            Sekarang aku sedang mencari-cari Tax—supir Taxi langgananku—didepan pintu gerbang kompleks tempat aku tinggal. Mendadak orang yang sedang kuhindari muncul dengan motor gedenya.

“Cepat naik!” bentaknya tanpa mengucapkan salam sedikitpun.

“Tidak mau!” teriakku.

Malang baginya, tak ada yang bisa menyaingiku dalam bidang ke-ketus-an, ke-dingin-an, dan kekurangajaran (kecuali Hyoyeon) “Motormu tidak ada atapnya! Bikin rambutku berantakan!”

Oke, kalian pasti mengira aku sok kaya atau apalah. Percayalah, dalam diriku tak ada sedikitpun ke-sok kayaan. Aku sudah terbiasa hidup sederhana, naik bus atau taxi kemana-mana. Tentang makanan aku selalu dimasakan oleh Kyungsoo,terkadang kalau Kyungsoo sedang ngambek padaku, aku memasak makanan sendiri (walaupun tidak enak tetap aku makan, dari pada aku kelaperan). Urusan shopping? Sekali-sekali saja aku pergi kalau Taeyeon dan Sunny mengajakku. Jadi, naik motor sebutut apapun sebenarnya tidak masalah bagiku.

Yang jadi masalahnya adalah pengemudi motornya ini.

Buat yang belum kenal, namja bertubuh tinggi kurus namun berotot ini bernama Xi Luhan. Ya betul, Xi Luhan, namja yang memiliki wajah baby face. Namun, wajah baby face-nya itulah yang ia jadikan tameng untuk menutupi semua tingkah lakunya yang menyebalkannya sampai dunia dan akhirat. Tapi, bukan itu penyebab aku kesal pada namja bermuka cute itu.

Belakangan ini dia baru melakukan suatu tindakan yang sangat tidak terpuji dan membuat emosiku meledak-ledak. Jangan tanya apa hal yang dia lakukan. Begini-begini aku tak suka menjelek-jelekan orang terdekatku. Tak peduli sifat mereka yang menyebalkan dan membuatku menjeduk-jedukkan kepala sampai muka mereka rata. Intinya, namja ini sudah merendahkan harga diriku tanpa merasa bersalah sama sekali. Apa itu tidak menyebalkan?

“Kau marah?”

Dengar saja suaranya yang sok innocent itu! Seolah-olah diantara kami, dialah pihak yang benar dan aku yang salah. Padahal kan benar-benar sebaliknya!

“Aku melakukan semua itu karna aku sayang sama kamu…!”

Aigo! Ucapan namja ini membuatku serangan jantung, akupun hanya memasang wajah super dingin untuk menanggapi perkataannya. Dikarenakan aku tidak mau Luhan mengetahui kalau jantungku sedang melompat-lompat tak karuan, aku segera menaiki motornya dan menguncir rambutku supaya tidak berterbangan.

“Dalam sepuluh menit aku harus sampai ke kampus, kalau tidak kau tidur diluar!”

Aku tidak tau kenapa ucapan itu terdengar tidak enak, padahal tadinya aku tidak bermaksud begitu sama sekali. Aku juga bukan orang se-tega itu menyuruh namjachingu ku sendiri untuk tidur diluar rumah dengan kondisi cuaca Seoul yang saat ini lumayan dingin dimalam hari.

Tanpa menyahut perkataanku, Luhan segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi yang mungkin akan membuat banyak orang merasa ajalnya sudah diujung tanduk, tetapi justru membuatku merasa tenang karena tau tidak akan berakhir di ruangan dosen paling killer se-Yonsei University. Lagipula Luhan ini pengemudi yang berhati-hati. Meski biasanya aku senang-senang saja berdiaman dengan Luhan, hari ini terasa janggal dan menyiksa.

Tibanya kami di kampus, aku segera turun. Tanpa kuduga-duga, Luhan menahan lenganku. Aigo, aku sudah lupa betapa kuatnya namja yang terlihat kurus ini, betapa intens tatapan yang ditunjukannya padaku, dan yang paling parah, betapa sentuhannya membuat seluruh tubuhku tak bertenaga.

“Kalau kamu merasa aku menghalangi kamu, oke, aku akan menjaga jarak dan memberi kamu ruang untuk bergerak”

“Terserah” kataku singkat.

Dia balas mengangguk “Jangan bolos kelas hari ini”

Dasar anak kecil sok dewasa. Kerjanya mengurusiku supaya aku bertingkah laku yang benar. Padahal dulu dia bos ku saat aku ingin bolos kelas bersama Hyoyeon. Semenjak dia menjadi namjachingu ku dan mendapat amanat dari orang tuaku, mendadak dia jadi sok baik dan menyuruhku hidup dijalan yang benar.

Mungkin aku akan ‘sedikit’ menuruti perkataannya.

Aku berjalan menuju gerbang kampus, menyadari betul pandangan namja itu masih mengikutiku. Aigo, kenapa rasanya begitu sesak? Begitu tiba di dalam kampus, aku baru menoleh kebelakang, dan kulihat motor gede itu sudah lenyap. Ada rasa hampa yang menghampiri diriku. Dalam hati aku merutuk, pagi ini kesialanku berlanjut. Hari belum dimulai, emosiku suda berada diujung kepala. Bisa-bisa sebelum hari usai, tampangku sudah tak berbentuk lagi.

Dengan gerakan kaku bak mayat hidup, aku masuk ke kelasku, dan duduk di pojokan terjauh dari meja dosen. Hal yang akhirnya membuatku sadar dengan anomali ini adalah sikap teman sebangku ku sekaligus sahabatku, Chanyeol, yang cerianya sangat berlebihan hari ini. Pada dasarnya Chanyeol adalah namja yang setiap hari wajahnya tidak pernah enak dilihat (itu menurutku), tapi menurut mahasiswi di Yonsei University wajah Chanyeol lah yang paling tampan dan enak dilihat. Dia menepuk bahuku dengan centil sebelum nangkring ditempat duduknya yang mendadak jadi mini lantaran tubuh Chanyeol yang tinggi besar seperti raksasa.

Annyeonghaseo Jessie” Sapanya dengan ceria.

“Tumben hari ini datang on time, diantar Luhan ya?” lanjutnya.

Alih-alih menyahutnya, aku malah balik bertanya dengan ketus “Ada apa ?!”

“Mau membantuku tidak?” bisik Chanyeol ditelingaku dengan semangat.

“Membantu apa ?” tanyaku malas.

“Bantu aku dekat dengan Hyoyeon” jawabnya malu-malu.

“MWOYA?” aku tersentak mendengar jawaban Chanyeol. Namja mapan,tampan,malas dan jago tinju (walaupun tidak sehebat Hyoyeon) seperti Chanyeol bisa-bisanya suka dengan yeoja bernama Kim Hyoyeon yang mempunyai daya ingat fotografis, salah satu tukang tinju kampus yang sangat sangar (sampai-sampai tidak ada yang berani mendekatinya kecuali aku, Chanyeol, dan dua anak buahnya), dan peraih nilai tertinggi se-Yonsei University karna daya ingat fotografisnya itu. Aigo! Mimpi apa aku semalam.

“Kau kenapa?” tanya Chanyeol bingung.

“Aku itu sedang kaget babo!” jawabku ketus.

“Kaget kenapa?” tanyanya lagi dengan muka seperti orang yang tak punya dosa.

Aish! Namja ini menyebalkan sekali !

“Kau serius ingin kenal Hyoyeon lebih dekat?” tanyaku serius kepada Chanyeol.

“Ne” Chanyeol mengangguk cepat.

“Baiklah akan aku bantu” sahutku pasrah.

Jinjja?” tanyanya tidak percaya.

Aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil.

Tanpa kuduga Chanyeol memelukku dengan erat sampai-sampai aku susah bernafas “Gomawo Jessie, kau memang sahabatku paling baik”

Aku mendorong Chanyeol dengan keras hingga ia terjatuh dari bangkunya “Kau itu ingin berterima kasih padaku atau ingin membunuhku eoh?”

Mianhae hehe, aku terlalu senang” Chanyeol terkekeh sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Sekali lagi kau memelukku, mukamu yang katanya tampan itu akan kubuat menjadi rata” ancamku sambil menunjukan kepalan tanganku di depan muka Chanyeol.

“Kau sangat galak” dengusnya kesal. “Bisa-bisanya Luhan menyukai yeoja sepertimu!”

PLETAK!

Satu jitakan berhasil aku daratkan di kening Chanyeol.

Apo!” ringisnya sambil mengelus-elus keningnya yang barusan aku jitak.

“Makanya, jangan berbicara seenak jidat!”

***

            Waktu istirahat pun akhirnya dimulai, aku segera menuju cafe yang berada di kampus tempatku menuntut ilmu. Seperti orang-orang lain, aku juga kelaparan dan menunggu-nunggu saat rehat. Biarpun sakti mandraguna, paranormal kan butuh makan juga.

Aku membeli satu paket makanan, lalu berjalan ke meja tengah yang ditempati oleh Kim Hyoyeon. Kim Hyoyeon adalah yeoja paling ajaib di kampus ini. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi namun sedikit berotot, dengan rambut blonde nya yang selalu diikat.

Meski penampilannya unik, yang membuat Kim Hyoyeon terkenal adalah reputasinya yang luar biasa. Dia memiliki daya ingat fotografis yang berati dia bisa mengingat apapun yang dilihatnya, dan itu membuatnya selalu mendapat nilai sempurna di kampus. Akibatnya, dalam soal pelajaran akademis, dia selalu meraih posisi teratas dan tak tergoyahkan.

“Hyoyeon!” sapaku kepada Hyoyeon seraya tersenyum dan melambaikan tangan.

Kim Hyoyeon

            Aku menyapu pandangan mencari sumber suara yang meneriakan namaku.

“Oh annyeong Jessie!” sapaku kepada Jessica sambil membalas lambaian tangannya.

Jessica berjalan kearah meja yang aku duduki. Dia seperti barbie yang sedang berjalan menghampiriku—sangat cantik—rambut yang bewarna coklat gelap itu diikat, bajunya rapih, wajahnya dipoles dengan sedikit bedak, dan bibir mungilnya diberi sedikit lip glose. Benar-benar seperti barbie. Andaikan aku bisa seperti dia. Aish! Aku itu memikirkan apa sih? Tidak akan mungkin seorang Kim Hyoyeon yang terkenal jago meninju bisa menjadi wanita barbie seperti Jessica Jung. Ya walaupun Jessica tidak kalah jago dalam hal tinju meninju, tapi aku lebih hebat darinya.

Jessica mengambil posisi duduk tepat disampingku “Kau hanya sendirian? Dimana dua pengikutmu?” tanyanya sambil melahap kentang yang ia pesan.

“Sehun sedang disuruh Sooman Seongsaenim membersihkan kamar mandi…” aku menyeruput minuman yang aku beli “sedangkan Kris sedang dihukum menyapu ruangan Seohyun Seongsaenim” jawabku.

“Sehun membersihkan kamar mandi? Apa bisa?” tanya Jessica tidak percaya.

Aku mengangkat bahuku “Aku tidak tau, mudah-mudahan dia tidak pingsan setelah ini”

Jessica terkekeh kecil “Kau bisa saja”

“Bisa dong” sahutku pede “Oh ya, dimana Chanyeol?”

Jessica menyipitkan matanya “Kau sangat ingin tau?”

Aish! Kau ini, aku hanya bertanya” dengusku kesal.

“Ya ya ya, tadi dia keluar kelas bersamaku. Tapi saat aku ingin memesan makanan, dia menghampiri segerombolan yeoja-yeoja yang meneriakan namanya dengan histeris” sahut Jessica santai.

Deg! Kenapa saat Jessica berbicara seperti itu, hatiku terasa sakit ? Kyaaa..apakah aku sedang jatuh cinta dengan namja playboy yang postur tubuhnya tinggi menjulang seperti tiang bendera (walaupun masih tinggian Kris)

“Kau cemburu ?” selidik Jessica.

“Tentu saja tidak!” sahutku tegas.

“Oke aku percaya…” aku menghembuskan nafas lega “maukah kau membantuku Hyo?” tanya Jessica.

“Membantu apa?”

“Mencari sepupuku”

“Taeyeon hilang ? Kalau diamah tidak usah dicari”

“Bukan..bukan Taeyeon, tapi Sunny”

“Kapan dia menghilang ? Dan dimana dia menghilang?” tanyaku penasaran.

“Semalam, dikampus kita yang tercinta ini”

“Kau pergi ke kampus malam-malam?” tanyaku lagi tidak percaya.

Jessica mengangguk dan memberikanku amplop bewarna merah “dan aku menemukan ini sudah tiga kali”

Aku membaca isi surat tersebut dengan serius. “Kau kenal Tiffany Hwang?” tanyaku kepada Jessica.

Jessica hanya membalasnya dengan gelengan lemah.

“Ini sangat menarik” seringaiku.

“Jadi kau mau menolongku ?” tanya Jessica tak percaya.

“Tentu saja. Kau kan sahabatku” jawabku sambil merangkul Jessica.

Gomawo Hyoyeon-ssi, kau memang sahabatku paling baik” sahut Jessica. “Jadi kita akan mulai dari mana ?”

“Sebaiknya kita cari tau dulu siapa itu Tiffany Hwang” ucapku.

“Apa kalian butuh bantuan?”

“Eh?” aku dan Jessica tersentak melihat kedatangan Chanyeol yang tiba-tiba.

“Sedang apa kau disini?” tanyaku sedikit ketus.

“Tidak sedang apa-apa, tadi aku hanya lewat disekitar sini. Trus aku melihat kalian yang sepertinya sedang berbicara serius” jelas Chanyeol panjang lebar.

“Kau tau huruf O tidak?” sahut Jessica dengan nada yang sangat menjengkelkan.

Oke, mungkin kali ini aku harus menahan tawa melihat muka Chanyeol yang sangat lucu mendengar sahutan Jessica yang menjengkelkan.

Aish! Kau ini, memang kau kira aku belum lulus playgroup?” dengus Chanyeol kesal.

“Sudah-sudah, kalian berdua seperti anak kecil saja” leraiku.

“Tumben kau bijak, biasanya kau nomor satu kalau soal mencaci-maki siapapun yang sifatnya nyolot seperti namja ini” ucap Jessica sambil menunjuk Chanyeol.

Aish! Anak ini, andaikan tidak ada Chanyeol. Pasti sudah aku jotos mukanya sampai rata (tentu saja aku tidak melakukan hal sekejam itu)

“Terserahmu saja…” aku beralih ke Chanyeol “Kau benar ingin membantu kami?” tanyaku.

Chanyeol mengangguk cepat “ne”

“Baiklah, kalau begitu kau selidiki dikampus ini yeoja yang bernama Tiffany Hwang, bisa ?”

“Kalau kau tidak bisa, aku akan menjeduk-jedukan kepalamu ke tembok” ucap Jessica dengan nada sangat ketus.

“Ini hal yang mudah” sahut Chanyeol meremehkan.

“Cih!” Jessica mendecak kesal.

“Yasudah, aku ingin ke ruang Sooman Seongsaenim dulu” pamit Chanyeol.

“Baiklah. Hwaiting!” Aku memberikan semangat kepada Chanyeol.

Aku memperhatikan punggung Chanyeol yang semakin lama semakin menjauh dari pandanganku.

“Kau menyukainya ?” tanya Jessica penasaran.

 

 

~To be Continue~

26 thoughts on “Blood White Rose (Part 2)

  1. Thor penasaran sama kelanjutannya!! Ditunggu kelanjutannya kasian Sunny eonni!! Gpp thor niru!! Tapi jangan semua klo bisa nanti next chapter buat alur sendiri biar g’ di bilang PLAGIATOR karangan orang, ne!! Jjang thor….🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s