Happened Beacuse of You

Happened because of you

Happened Because of You

[icydork] | An EXO’s Member from K and Choi Sooyoung | Psycho | Rated for 17+

Sequel of Happening

Seorang pria yang berparas tinggi menggunakan hoodie dan membawa ransel yang nampak agak berat berjalan ke sebuah rumah besar dan mewah yang terlihat sangat elegant dengan tembok berwarna putih dan pagar tinggi serta besar yang berwarna keemasan itu.

Dia membuka pagar itu perlahan sambil megukir senyuman di wajahnya.

Dia senang. Setidaknya di malam natal ini dia bisa memberikan kado natal indah untuk Choi Sooyoung—kekasihnya.

.

.

.

Pria tersebut membuka isi tasnya, terdapat beberapa tabung tembus pandang. Ada sepasang bola mata, ginjal, jantung, dan hati di setiap tabung yang berbeda-beda. Dia membawa seluruh tabung tersebut ke sebuah ruangan yang sangat dingin—lebih dari nol derajat.

Setelah itu, dia menutup pintu ruangan tersebut dengan kakinya. Dia menghampiri sebuah ranjang besar dan seorang wanita bertubuh sangat kurus dan putih pucat itu terbaring di atasnya.

Pria tersebut mengabil gunting dan beberapa alat pembedahan lainnya sambil mempersiapkannya disebuah meja kecil yang terletak disebelah kasur tersebut.

“Ini hadiah natalmu, Sooyoung-ah.” Pria itu mencium kening wanita yang dia panggil Sooyoung itu.

.

.

.

Seorang wanita cantik berjalan menggunakan kaki panjangnya yang menjenjang. Dia adalah primadona di universitasnya. Dia berjalan menuju sebuah perpustakaan yang berada di ujung lorong universitas ini. Namun, wanita itu tidak sendirian.

Seorang pria memakai hoodie hitam berjalan mengikutinya dari belakang sambil mengantungi tangannya ke dalam saku hoodie-nya.

“Hei, Choi Sooyoung!” Tiba-tiba seseorang yang berjalan lawan aah dari wanita itu menyapanya.

“Oh? Taeyeon-ah?” Respon wanita yang dipanggil Choi Sooyoung itu.

“Hati-hati!” Taeyeon mengedipkan sebelah matanya kepada Sooyoung. Sooyoung pun merasakan sesuatu saat itu juga. Peringatan dari orang-orang kepada Sooyoung itu bukanlah yang pertama kalinya.

“I-Iya.” Sooyoung menyahut dengan gugup.

Taeyeon pun berlalu. Perlahan, Sooyoung menoleh ke belakang dan dia menangkap seseorang yang sangat dia kenal. Kim Jong In.

Pria menyeramkan yang terlalu terobsesi untuk mencintai Sooyoung. Dia selalu mengikuti Sooyoung kemana-mana bahkan sampai ke depan apartmentnya sekalipun.

Sooyoung berjalan melanjutkan rencananya untuk ke perpustakaan dan tentu, Kim Jong In masih mengikutinya dari belakang.

.

.

.

“Aku mencintaimu, Sooyoung-ah.” Kim Jong In selaku pria yang telah membunuh Yuri dan teman-temannya serta membunuh orang—mayat yang tengah berbaring dihadapannya itu.

Diraihnya tangan Sooyoung lalu disatukannya dan diletakkannya di atas perut Sooyoung yang sudah terlihat seperti tulang belulang saja.

Jongin mecium punggung tangan Sooyoung, dilanjutkannya ke bibir Sooyoung yang sangat dingin dan keningnya.

Bau formalin sangat menyengat dan menusuk indra penciuman Jongin.

Tapi, dia tidak peduli. Jongin mencintai Sooyoung. Selamanya akan mencintai Sooyoung.

.

.

.

“Tiffany, belakangan ini aku merasa aneh.” Sooyoung mengaku sambil meneguk jus jeruk yang ada di hadapannya.

Tiffany menoleh sambil mengunyah kentang gorengnya, “Aneh?”

“Iya, barang-barang di apartment-ku bisa perpindah tempat begitu saja.” Balas Sooyoung.

“Bagaimana bisa?” Tanya Tiffany.

Sooyoung mengedikkan bahunya sekali, “Aku tak tahu.”

“Hm, aku tahu caranya!” Seru Tiffany bersemangat.

“Apa?” Respon Tiffany sambil mengambil kentang goring milik Tiffany.

“Pasanglah kamera pengintai di apartment-mu.”

.

.

.

“Aku tidak melakukan hal itu. Aku tidak benci padamu.” Suara berat khas Jongin itu menggelegar di ruangan bersuhu minus ini.

“Aku mencintaimu, aku ingin memilikimu.” Lanjut Jongin.

“Aku tahu kau pasti akan memberontak. Oleh sebab itu, aku melakukan hal itu.”

Sebuah tetesan air mata menetes dan mendarat di pipi Sooyoung yang sudah hampir membiru karena terlalu dingin.

.

.

.

Pasanglah video pengintai di apartment-mu.

Ucapan Tiffany itu masih terngiang di kepala Sooyoung. Tiffany menyarankan hal tersebut agar Sooyoung bisa mengetahui dibalik keanehan yang terjadi di apartment-nya.

 Dia pun meraih sebuah kamera yang dihalangi dengan vas bunga kosong dan tembus pandang. Dia memutar video yang terekam seharian ini.

Setengah jam ketika dia meninggalkan apartment-nya, seseorang masuk dengan hoodie berwarna hitam. Dia hanya berjalan bulak-balik di ruang tamu. Lalu dia berjalan ke dapur, lalu kembali lagi dan mengambil novel-novel Sooyoung dari rak dan meletakkannya ke atas meja.

Sooyoung langsung menoleh ke arah meja dan benar. Ada novel di atasnya.

Sooyoung menelan saliva-nya, jantungnya berdebar dengan sangat. Lalu dia kembali memerhatikan hasil rekaman itu lagi. Pria tersebut memasuki kamar Sooyoung.

Sooyoung menunggu pria itu keluar dari kamarnya. Dia sudah menunggu selama dua menit namun pria tersebut belum keluar juga. Akhirnya, dia percepat rekaman tersebut sampai habis.

‘Jangan-jangan.’ Pikir Sooyoung.

Perlahan dia menoleh ke belakang—langsung berhadapan dnegan pintu kamarnya. Namun yang ia lihat hanyalah sebuah balok besar yang sedang melayang untuk menghantamnya.

“Jangan!” Itulah kata terakhir yang keluar dari mulut Sooyoung.

BRUK!

Sooyoung tidak sadarkan diri lalu terjatuh dan tergeletak di atas lantai.

“Maafkan aku, aku sangat mencintaimu, Sooyoung-ah.” Ucap pria itu.

.

.

.

Kim Jongin berjalan sambil membawa gaun pernikahan bewarna putih dan panjang nan elegan. Jongin juga sudah memakai tuxedo berwarna putih dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam. Jongin nampak tampan tapi sisi menyeramkannya tidak akan pernah lenyap dari wajahnya.

“Sooyoung-ah, kita akan menikah. Malam ini. Di hari natal ini.” Jongin tersenyum menyeringai pada Sooyoung yang sudah tidak bernyawa dan hanya terbaring lemas tanpa nafas di dalamnya.

“Kau ganti baju ya? Aku akan menunggumu.” Ujar Kai.

Namun, tidak ada jawaban. Tidak akan pernah terdengar sepatah kata lagi dari Sooyoung.

Kai menghela nafasnya pelan, “Baiklah, aku saja.”

.

.

.

Sooyoung terbangun dari masa pingsannya. Dia memegang punggung lehernya yang sangat terasa sakit, nyeri, bahkan pegal. Sebuah benda tumpul menghantam keras tepat di punggung lehernya sehingga dia tidak sadarkan diri.

Perlahan muncul sosok yang sangat dia kenali, yang sudah tidak asing lagi di penglihatannya. Seseorang yang selalu membuntuti Sooyoung kemana-mana tanpa sebuah alasan yang jelas. Kim Jongin.

“K-Kim Jongin?” Sooyoung bergemetar hebat.

Jongin tersenyum manis kepada Sooyoung. Ini pertama kalinya Sooyoung melihat Jongin tersenyum—pertama kali melihat wajah Jongin dengan jelas.

“Aku mencintaimu, Choi Sooyoung.”

Sooyoung terasa disetrum listrik dari telapak kakinya. Ini cukup ekstrim, bagaimana seorang Jongin bisa menyukai—mencintai Sooyoung? Apa mungkin ini alasan Jongin selalu mengikuti Sooyoung?

“Lepaskan aku!” Pinta Sooyoung.

Jongin menggeleng dengan cepat, “Tidak.”

“Jika kau mencintaiku, lepaskan aku!!” Bentak Sooyoung.

“Susah payah aku meraihmu, kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja?” Tanya Jongin dengan nada yang keras.

Sooyoung tersentak. Tidak heran banyak orang yang sering berkata ‘hati-hati’ kepada dirinya. Kim Jongin memang memiliki sesuatu yang lebih pada Sooyoung dan hal itu sangat menyeramkan.

.

.

.

Kini Sooyoung sudah tampil cantik dengan wajah yang pucat, tulang yang dilapisi kulit, kulit yang berwarna sangat putih hingga kebiruan, dan matanya tertutup rapat dengan gaun pengantin yang mewah dan anggun serta sebuket mawar putih yang diletakkan di atas tubuhnya.

“Malam ini akan jadi malam bersejarah untuk kita, kita berdua, Sooyoung-ah.” Kata Jongin.

Dia berbaring di sebelah Sooyoung sambil megenggam tangan Sooyoung yang sudah membeku seperti e situ dengan tangan hangatnya.

“Aku mencintaimu, selamanya. Aku akan selalu mencintaimu.” Aku Jongin sambil menutup matanya dengan perlahan. Membiarkan kenangan satu pihaknya itu selalu terngiang dibenaknya.

.

.

.

Five years later…

.

.

.

Seorang pemuda berjalan keluar dari sekolahnya dan masih menggunakan seragam lengkap.

“Baekhyun! Baekhyun-ah!” Tiba-tiba ada seorang pemuda lagi yang berparas tinggi sambil mengejar pemuda yang bernama Baekhyun itu.

Pemuda yang baru saja keluar dari pagar sekolahnya itu menoleh, “Ada apa, Chanyeol?” Tanya pria yang dipanggil Baekhyun dengan malas.

“Hhh—“ Chanyeol mengatur nafasnya, “Malam ini, kita pergi yuk!” Ajaknya.

Baekhyun menghela nafasnya, “Malas.”

“Kita akan pergi ke rumah besar, Baek. Kau tahu? Yang sering dibicarakan Kyungsoo dan Sehun!”

“Rumah? Rumah putih—maksudku rumah yang sudah buluk itu?” Tanya Baekhyun.

Chanyeol mengangguk, “Iya, rumah hantu! Kita uji keberanian kita!” Seru Chanyeol.

Baekhyun nampak berpikir, “Hm, boleh!”

“Baiklah, jam delapan malam di depan rumah tersebut! Mengerti?”

“Yup!”

.

.

.

“Chanyeol! Aku takut!” Baekhyun memeluk lengan Chanyeol dengan erat. Mereka sedang berjalan menelususri ruangan demi ruangan yang sangat kotor, bahkan dindingnya sudah berkerak. Tidak ada sumber cahaya sama sekali disini.

“Chanyeol!” Ketakutan Baekhyun semakin menjadi-jadi.

“Ah! Diamlah, Baekhyun!!”

“Ruangan itu saja.” Saran Baekhyun sambil menunjuk sebuah pintu yang sudah lapuk.

“Baiklah.” Keduanya berjalan ke arah ruangan tersebut.

Bau bangkai sangat menyengat dan menusuk pernapasan mereka. Baekhyun merasa sesak, “Chanyeol, keluar saja! Aku tidak kuat!”

Chanyeol menggeleng, “Tidak! Ini baru setengah! Tanggung, Baekhyun.”

Baekhyun menelan saliva-nya susah payah, dia hanya memeluk lengan Chanyeol sambil mengarahkan senter ke sebuah kasur besar.

“Hei, lihat ada—“ Perkataan Chanyeol berhenti ketika dia melihat sesuatu yang sangat mengerikan.

Dua mayat yang menggunakan gaun pernikahan yang kusam dan tuxedo putih yang sudah menguning dengan mawar putih yang sudah layu terlihat oleh mereka.

“TIDAK!!”

Malam itu merupakan malam bersejarah bagi Baekhyun dan Chanyeol. Pengalaman ini menjadi topik hangat di sekolah bahkan sampai terdengar ke kepolisian.

Mau tidak mau, Chanyeol dan Baekhyun bersaksi dan pihak kepolisian memeriksanya.

Benar, itu bukanlah halusinasi. Itu nyata.

Ketika polisi memeriksa. Mayat tersebut sudah tidak bisa diotopsi, wajah mereka sudah tidak bisa dikenal karena sudah membusuk.

Namun, ada sesuatu yang tidak bisa lenyap ataupun iktu membusuk maupun layu.

Cincin yang terlingkar dijari mereka masing-masing. Tertulis, Kim Jongin & Choi Sooyoung.

END

27 thoughts on “Happened Beacuse of You

  1. Ngeri banget ikh
    Pas baca berharap gak ada adegan meninggal’a tapi ternyata meninggal juga n dua-duanya lagi
    Kl aja kai kaga psycho siapa tau soo suka sama kamu. Kai ckckckck

  2. Daebak!!!! Ceritanya sukses bikin aku tegang. Baru kali ini nemu cerita Sooyoung yang jadi tragis begini. Kasian Sooyoung eonnie😦 Kai menyeramkan -_- Btw, itu ChanBaek pemberani jg ya, wkwk^^

    Oia, aku belum baca sekuel pertamanya nih -_-

  3. Selamat anda beruntung telah menegangkan saya:’) /abaikan

    oke sumpah jongin jahat banget sama sooyoung. sooyoung kan kasian. jongin jelek jongin jelekkk bweeek tapi aku tetep sayang /nahloh

    nice fanfic author! keep writing and fighting!! ^^ #akucintaicydork /abaikan hastagnya ya-_-

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s