G-A-M-E-O-V-E-R (Chapter 3)

gameover2(ladyoong's created)

JESSIE KIM

PROUDLY PRESENT

With Hyoyeon and Jessica as a main female cast

Kim Jongin and another secret boys as a male cast

Another story from me, hope you enjoy it

(poster by Ladyoong at HSG)

(Tulisan cetak mirik diawal merupakan flashback)

.

.

.

Washington DC, 22nd March, 2001

CIA, Central Intelligence Agency. Satu kumpulan agen pengamanan dunia yang terletak di pusat salah satu kota negara adidaya dunia, Washington DC. CIA khusus dibentuk pada tanggal 18 September 1947. Tujuannya? Entahlah. Yang jelas kita tidak sedang membahas tentang perkumpulan resmi agen pengamanan dunia itu. Melainkan, tentang ribuan anak yang dikumpulkan di dalam suatu balai di dalam markas besar CIA.

Perekrutan? Tidak, tidak. CIA bukan badan pengamanan yang akan merekrut anggotanya sejak mereka masih memiliki wajah sepolos malaikat, kecuali jika tiba-tiba Ketua Umumnya tertembak mati dan akhirnya digantikan oleh anaknya yang masih berumur 12 tahun. Okay, lupakan tentang itu.

Ada ribuan anak di dalam balai itu yang berasal dari seluruh negara di dunia. Wajah bingung, ketakutan, tanpa ekspresi semuanya mendominasi ruangan dengan penerangan sekitar 2000 watt tersebut. Bisik-bisik kebingungan dan ketakutan menggema di sekitar ruangan tersebut.

Bukan suatu rencana CIA untuk mengumpulkan ribuan anak, yang bahkan belum bisa dibilang dewasa tersebut, di salah satu ruangan di markas besar mereka. Menggunakan CIA hanya sebuah kedok agar United Nation tidak menaruh curiga kepada mereka, para orang-orang berkuasa yang memiliki rencana sendiri. Hell yeah, bisnis hitam pemerintahan negara.

Human trafficking? No.

Calon-calon penggelapan DNA? No.

Lalu apa?

“Silence, please!”

Sebuah suara dari microphone di pusat aula seketika langsung menghentikan bisik-bisik yang terjadi antar anak-anak tersebut. Yang tersisa hanyalah keheningan yang menggantung di udara.

Seorang lelaki paruh baya yang berperawakan tinggi dengan setelan jas resmi dan rambut keperakkan yang disisir kearah belakang berdiri dihadapan microphone ditemani beberapa orang yang berpakaian serupa dengan dirinya.

 “We are sure that none of you who know the purpose of all of you are in this room. There is a purpose to what you’re here. Here, we can feel  a fear, a confusion, seen in the face of all of you. You all are the children who selected that will give pride for us. It is a competition for those who can sustain the life, for those who feel that the right to live. There would only be a few of you are entitled to be ‘The Best’. I’m not kidding when I say that this is a competition in survival. At this point you will be tested. Everything. Don’t worry about what will happen later. You guys are the ones who elected. (Kami yakin bahwa tidak satupun dari kalian yang tahu tujuan kalian berada di ruangan ini. Ada tujuan untuk apa kalian di sini. Kami bisa merasakan ketakutan, kebingungan, terlihat di wajah kalian semua.  Kalian adalah anak-anak yang dipilih yang akan memberikan kebanggaan bagi kami. Ini adalah kompetisi bagi mereka yang dapat mempertahankan hidup, bagi mereka yang merasa berhak untuk hidup. Hanya akan ada beberapa dari kalian yang berhak untuk menjadi ‘The Best’. Saya tidak bercanda ketika saya mengatakan bahwa ini adalah kompetisi mempertahankan hidup. Pada titik ini, kalian akan diuji. Semuanya. Jangan khawatir tentang apa yang akan terjadi nanti. Kalian adalah orang-orang yang terpilih.)

Selanjutnya keheningan yang mencekam memenuhi aula itu. Bagi mereka yang tidak mengerti dengan perkataan orang itu, pasti hanya akan menganggapnya angin lalu. Tapi bagi mereka yang mengerti, perkataan orang itu seperti sebuah sirine. Sirine yang menandakan di mulainya kompetisi mempertahankan hidup untuk menjadi anggota yang, bahkan, mereka tidak tahu organisasi apa itu.

.

.

.

Asrama putri, Universitas Yonsei, Seoul, 1st March 2013 10.00 am KST

“Siapa kau sebenarnya?”

Jessica memasang gerakan waspada pada seorang lelaki yang duduk terikat dihadapan dirinya dan Hyoyeon, sedangkan temannya, Hyoyeon, masih sibuk menatap lelaki itu dengan pandangan menyelidik dan curiga.

Jongin, lelaki hitam yang terikat itu mendengus, meremehkan, “Bukankah sudah kubilang namak–“

“Aku tidak bertanya namamu, Dasar Bodoh!” jawab Jessica kasar, tangannya mengacungkan sebuah pisau kearah lelaki itu, “aku tanya siapa kau sebenarnya!”

Jongin berdecak, “parah sekali kau tidak tahu lelaki tampan sepertiku,” Jessica memberikan tampang jijik kearahnya. For God Sake! Lelaki itu bahkan masih sempat-sempatnya memuji dirinya sendiri, “aku Kim–“

“Kim Jongin, anak tunggal Kim Il Wook, salah satu pendiri SSA.” Hyoyeon menjawabnya dengan terus menatap kearah Jongin, sesaat mata mereka saling menatap dan menyipit, “aku benar, kan?”

Jongin terkekeh, “kau lebih pintar dari temanmu itu, ya?” yang sukses membuat Jessica ingin cepat-cepat menghajar kepala lelaki ini. Menendang ‘adik’ kecilnya sampai dia kejang sepertinya menarik. Jangan tanya kenapa Jessica sering berpikiran kejam seperti itu. Emosinya memang terkadang seperti api yang disiram minyak tanah.

Hyoyeon menghela nafasnya perlahan lalu berjalan mendekat kearah Jongin, “kami tak ada urusan lagi dengan SSA.” Ucap Hyoyeon sambil menatap kearah Jongin.

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, untuk apa kau kesini, hah?!” itu pasti Jessica yang mengatakan.

Jongin menyunggingkan seringainya lalu menatap tajam kearah Jessica kemudian Hyoyeon, matanya tepat berada di hadapan manik wanita berambut pirang itu, “aku punya tawaran menarik untuk kalian.”

Hyoyeon mengangkat alisnya. Jessica menurunkan pisau yang sempat ia julurkan kearah Jongin, membuat Jongin kembali menyunggingkan seringainya. Gotcha!

“Apa kalian tak penasaran…” kalimatnya sengaja dibuat menggantung untuk melihat reaksi kedua orang dihadapannya, “dengan siapa orang yang menyebabkan kematian rekan-rekan kalian?” sesaat Kai bisa melihat Jessica menarik nafas dalam dan Hyoyeon yang tak bereaksi apapun, “tak terpikir membalas dendam?”

Dan reaksi kedua gadis itu membuat Jongin kembali menyunggingkan seringainya yang entah sudah keberapa kali.

.

.

.

New York, 1st March 2013

PLAK!

Suara tamparan menggema di sebuah ruangan yang berada di dalam gedung mewah tersebut. Tamparan yang dilayangkan kepada seorang wanita berambut merah sebahu yang hanya diam dengan mata terpaku kearah depan.

Incompetent!

Satu kata hardikkan yang ditujukan kepada wanita tersebut.

Dihadapannya, seorang lelaki berdarah campuran Amerika-Korea berdiri melayangkan tatapan geram kearah wanita tersebut, “I told you to catch him, but you…argh!”

PRANG!

Sebuah guci antik di ujung ruangan yang dibuat pada zaman versailles menjadi sasaran amukkan lelaki itu yang selanjutnya, your subordinates is useless! teriaknya lagi sambil membelakangi wanita itu, “just like you!”

“Forgive me,” adalah kata pertama yang keluar dari bibir wanita itu sejak ia dipanggil oleh lelaki itu ke dalam ruangan ini.

Hening.

Lelaki itu membalikkan badannya dan menatap wanita berambut merah itu, yang sekarang balik menatapnya dengan pandangan gentar, “forgive me,” ulang wanita itu.

Helaan nafas terdengar dari lelaki itu, “lupakanlah,” ucapnya, membuat wanita berambut merah itu sedikit mendongak menatap lelaki dihadapannya, “kau hanya perlu lebih berhati-hati. For God Sake! Bocah lelaki itu bahkan belum resmi menjadi agent!” lanjutnya dengan pandangan tak percaya kearah wanita dihadapannya.

“Kurasa dia punya koneksi di Korea. Itu mempermudah jalannya.” Jawab wanita itu.

“He’s also clever,” balas lelaki itu, mengingat betapa mudahnya anak buahnya di buat kacau hanya dengan sebuah…petasan? Don’t kidding me!

“Apa mungkin dia sudah menemukan mereka?” wanita berambut merah itu bergumam, entah untuk dirinya sendiri atau untuk lelaki dihadapannya.

“Maybe,” jawab lelaki itu singkat. Langkahnya maju beberapa langkah untuk menggapai wanita berambut merah dihadapannya, “ini pasti sakit.” Ucapnya sembari mengelus pipi wanita itu, “maafkan aku,” lanjutnya lagi dengan nada penyesalan.

Wanita itu hanya tersenyum, tak menjawab apapun, lalu menyingkirkan secara halus tangan lelaki itu dari wajahnya, “apa rencana kita selanjutnya?” tanyanya, mengalihkan topic.

“Kita harus mencarinya dan memastikannya belum bertemu dengan mereka.” Jawab lelaki itu berjalan kearah jendela besar di ruangan tersebut, “suruh anak buahmu dan yang lainnya untuk mencarinya. Hidup atau mati.

Tanpa sepatah katapun lagi, wanita berambut merah itu melangkahkan kakinya kearah pintu besar berdaun ganda di ruangan tersebut dan meraih gagangnya, tepat ketika lelaki itu kembali memanggilnya dari tempatnya berdiri, “Stephanie,”

Wanita itu menoleh, tetap tanpa kata-kata.

“Pastikan kau berhasil melakukannya, kali ini,”

Dan setelahnya hanya sebuah senyuman menjadi tanggapan perkataan lelaki itu sebelum bunyi pintu yang tertutup bergema di ruangan tersebut.

Dibalik pintu yang tertutup itu, tanpa diketahui lelaki tersebut, senyuman yang tadi sempat bertengger diwajah cantik wanita bernama Stephanie itu hilang digantikan dengan tatapan dingin yang penuh makna.

Dengan tangan yang mengepal, ia kembali menarik sudut bibirnya, bukan sebuah senyuman, membentuk sebuah seringai.

Tak ada yang tahu apa yang dipikirkan wanita itu.

.

.

.

.

“Aku datang sebagai teman.”

Jessica langsung mendengus mendengar perkataan Jongin barusan, yang langsung direspon dengan tatapan Hyoyeon yang mengatakan Jessie-kau-itu-perempuan-ingatlah!

“Aliansi?” tanggap Hyoyeon, dan anggukan menjadi jawabannya, “kami tak berurusan dengan siapapun sampai kapanpun.” Lanjutnya.

Mereka sekarang sedang duduk berhadapan, Jessica dan Hyoyeon menarik kursi lainnya agar berada di hadapan Jongin yang sekarang tetap duduk di kursinya yang tadi meski dengan ikatan yang sudah terlepas. How can? Itu permintaannya sendiri dengan alasan aku-harus-menggunakan-kedua-tanganku-untuk-menjelaskan-kepada-kalian yang sukses membuat Jessica memelototkan matanya tak setuju. Setelah akhirnya berjanji untuk tidak macam-macam (“Berpikirlah, bagaimana mungkin aku mengajak bekerja sama bila akhirnya aku melukai kalian!”), akhirnya Jessica setuju untuk membuka ikatan pada lengan Jongin. Kecuali kakinya. No!

Harus Jongin akui, kewaspadaan mantan agent level A memang tak bisa di remehkan.

“Benarkan?” tanya Jongin dengan nada meremehkan.

“Hei, Pria Hitam,” Jessica memajukan sedikit badannya kearah Jongin, “apa alasanmu sehingga kami harus ikut bekerja sama denganmu, hah?”

Jongin tersenyum. Tangannya mengambil sesuatu di balik saku jaket hitamnya dan menyerahkannya pada dua orang gadis di hadapannya, “bukankah ini alasan kalian,” sebuah…foto?

Awalnya kedua gadis itu menatap bingung kearah benda yang disodorkan Jongin. Karena sebuah foto mereka harus terlibat dunia kejam itu lagi? Yang benar saja!

Tapi ketika sadar, apa dan siapa yang berada di dalam foto tersebut membuat kedua gadis tersebut terdiam menatap benda itu.

Foto angkatan mereka.

Teman-teman agen mereka yang mungkin sekarang sudah tenang di alam sana.

“Aku mungkin tak tahu seperti apa kejadian yang terjadi,” Jongin melihat kearah kedua gadis itu, “tapi selama bertahun-tahun hanya mereka yang kalian miliki, bukan?”

Jessica terlihat tidak sanggup mengingat kenangan itu. Ia sedikit meneteskan airmatanya ketika mengambil foto tersebut dan melihatnya secara seksama.

Hyoyeon juga menarik nafasnya dalam. Ia sedih tapi tak bisa menunjukkannya seperti Jessica. Ia tak boleh terlihat lemah. Sepintas, ada rasa geram dihatinya memikirkan kemungkinan Jongin mengajak mereka bekerja sama.

“Kau memanfaatkan kami, huh?” nada sarkastik keluar dari bibirnya.

Jongin terkekeh, “sudah kuduga, kau yang paling bisa berpikir rasional,” tanggapnya.

Hyoyeon masih memperhatikan lelaki di hadapannya, memajukan tubuhnya sedikit dan berbisik dengan nada berbahaya, “kuingatkan kau, Tuan Kim, kalau mendiang ayahmu adalah salah satu penyebab menderitanya kami.” Pernah menjadi bagian dari SSA adalah suatu penderitaan yang takkan pernah ingin kembali dijalani oleh Hyoyeon, begitupun Jessica.

“Kalau begitu, janjiku pada kalian adalah menebus kesalahan terbesarnya dengan rencana ini. Aku yakin orang yang membunuh ayahku adalah orang yang sama yang menghancurkan kalian saat kejadian itu. Kita punya tujuan yang sama. Bagaimana?” Jongin menatap kedua gadis dihadapannya, “aku berjanji.”

Jika boleh jujur, Hyoyeon tergoda, sangat tergoda bahkan untuk menghunuskan pisau atau menekan revolver ke kepala orang yang pernah menghancurkan mereka. Balas dendam adalah kepuasan batin yang paling nikmat yang pernah kau rasakan. Dan Hyoyeon sangat ingin rasa egois itu menenggelamkan dirinya saat ini saja.

“Baiklah. Aku ikut.”

“Hyoyeon!”

Jessica berteriak ketika Hyoyeon mengucapkan kata itu, “don’t be kidding me!”

Hyoyeon tetap tak menatap Jessica, “I’m not kidding this time, Jessie,”

Jessica menarik tangan Hyoyeon, “kita perlu bicara.” Nadanya tak terbantahkan. Dirinya menarik Hyoyeon menjauh dari Jongin kesebuah sekat pembatas antara tempatnya tadi dan yang sekarang.

Jessica menarik napasnya dalam, “kita sudah berjanji!” tangan itu menunjuk bahu Hyoyeon di hadapannya, “kau sudah berjanji!” suaranya penuh dengan penekanan.

“Aku ingat,” Hyoyeon terdengar sangat tenang, berbanding terbalik dengan Jessica dihadapannya.

Ia menghela napas dan memandang Jessica yang masih memancarkan aura ketidaksukaan, “kurasa, terlepas dari semua ini takkan mudah.” ia menghentikkan kata-katanya sebelum memandang kearah Jongin yang melihat kearah mereka dari jarak yang cukup jauh, “Inilah dunia yang cocok untuk orang seperti kita.”

“Hyoyeon…”

“Aku ingin sekali, Jessica,” Hyoyeon mengambil jeda lalu menatap sahabatnya dengan mantap, “aku ingin membalas orang yang telah menghancurkan kita bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku sendiri.”

Dan saat itulah Jessica sadar bahwa Hyoyeon yang dulu telah kembali dalam diri sahabat yang berdiri di hadapannya.

TBC

Hai, ketemu lagi. Sengaja saya updatenya tidak terlalu lama karena ini liburan. Sebenernya saya ngerasa kecewa juga karena respon reader yang ga bikin semangat. Mungkin selain author yang sibuk ato males, salah satu faktor author update telat adalah respon reader yang berkurang, padahal awalnya ngebludak. Itu berpengaruh banget loh buat authornya, tanyakan author lain kalo ga percaya. Salah saya juga karena selalu telat update tapi selalu ada alesan kenapa telat dan salah satunya udah saya sebutin tadi. Entah kenapa, mungkin memang orang-orang lebih suka dengan cerita romance daripada cerita action dan friendship karena saya liat cuma beberapa ff disini yang punya respon besar dengan kedua genre tadi padahal ada beberapa author yang bahkan dia ga terlalu handal bikin romance tapi lebih suka dua genre yang tadi, termasuk saya. Tapi karena responnya kurang jadi yaa begitulah. Oh ya, admin maafkan saya lupa password meeting room jadi itu alesan kenapa saya ga kesana, yang berkenan kasih tau saya ya hehe.__.V  Last word, Read and review(maafkan saya tapi sekali ini kalo responnya kecil, mungkin saya bakal bener-bener males buat lanjutin)^^

 

 

31 thoughts on “G-A-M-E-O-V-E-R (Chapter 3)

  1. thor.. aku selalu komen tapi mungkin gak selalu bikin semangat. maaf yaaa
    tapi ff ini keren kok ngga, mksudnya keren bgt… jadi kalu komen tuhh selalu bingng mw ngetik apa. jadi sekepikiran aja… hwaiting lhoooo

  2. Seru kok Thor! Hmm ak punya ide Thor, kn author blg pd bnyk yg sk sm genre romance, trs ff author x ini kn genre ny action gt nah knp ga d sisipin romance aj Thor? Jd ad action,friendship, romance jg hehe meski inti ceritany bkn d romance, ga ad slhny bukan nambahin ‘bumbu’ romance? Hehe
    Sekian Saran dariku, maap kl ak terlalu bacot >v<
    Lanjut terus y Thor, fighting!

    • aku juga udah mikirin itu, kawan. Genre romance aku cantumin bukan cuma sekedar ‘pajangan’ doang. Romance pasti ada meski ga kental cuma bumbu doang. Hanya, bumbu romance itu ga akan langsung muncul cepet, kayak keingin reader. Namanya, bumbu, cuma penyedap doang. Munculnya pun kalo dibutuhin, ntah itu di chapter berapa. Sedangkan, kebanyakan reader itu pasti ingin romance itu ada di chapter 1 atau 2, yg jelas yang awal2, dimana seharusnya aku ngenalin masalah cerita ini, bukan fokus sama romance. Romance itu ‘greget’ makanya reader suka. Sedangkan, action itu ‘menantang’ makanya saya suka. Menurut saya, kalo ceritanya ‘menantang’ pasti cerita itu bikin ‘greget’🙂 Tapi makasih sarannya ya🙂

  3. aku suka ff ini lho thor. lanjutin terus ya! aku malah justru gaterlalu suka yg romance karena biasanya kurang menantang.-. Fighting~!^^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s