[Freelance] Oneshot : THAT ONE (SHADOWS)

THAT ONE (SHADOW) POSTER

THAT ONE (SHADOWS) 

Author

Shin Hyun Gi

Main Cast

Kim Taeyeon || Park Chanyeol

Other Cast

Byun Baekhyun

Genre

Psychology || Life || Romance || etc

Length

Oneshot

Rating

T/PG-15

Disclaimer

Inspired by my little sister’s novel that tells about an imagineer friend and so many things that I ever know in my whole life. Some scenes that I wrote here are already same with some novel’s scenes or fanfiction’s scenes that I read before.

Author’s Note

­­This is my second fanfiction with Taeyeon-Chanyeol pairing, teman-teman! Jadi di fanfic ini saya memutuskan untuk mengambil ide yang agak berbeda juga dibandingkan dengan beberapa fanfic yang saya tulis sebelumnya, yang mungkin agak sedikit menyerempet ke sisi psikologi, yaitu tentang teman imajinasi. Karena alur yang digunakan campuran, tolong diperhatikan penulisan tahunnya ya.

Dan berhubung ini fanfic dengan tema psikologi yang paling pertama buat saya, kritik dan saran atas penulisan saya yang memang jauh dari sempurna ini sangat dibutuhkan dari para reader.

Really sorry for some typos and once again, hope you enjoy my story!🙂

____________

“Kenangan hanyalah hantu di sudut pikir, oleh karena itu ia dapat datang dan pergi. Kapan saja dan dimana saja.”

 

____________

Sosok itu—seseorang yang paling kunanti.

 

2012

Burung-burung berterbangan, air sungai mengalir, udara berhembus pelan—segalanya memang tampak normal bagi orang-orang pada umumnya. Tetapi sosok gadis itu, ia masih menundukkan kepalanya menatap lemah hamparan rumput segar yang berada di bawah bangku besinya. Kedua tangan kurusnya kini melingkar erat kepada lututnya yang ia lipat di atas bangku, karena bagi gadis itu, dunia terasa kacau ketika pemuda itu tak datang lagi hari ini.

Ia meremas kertas kecil yang berada di dalam genggaman tangannya pelan, benda itu sudah tak lagi berbentuk semenjak beberapa waktu yang lalu ia merobeknya menjadi beberapa bagian. Sebagian besar dari dirinya membeku di taman itu—menanti seseorang yang entah bagaimana caranya—dapat menemuinya kembali. Kim Taeyeon, begitulah orang-orang memanggilnya, kini memejamkan kedua matanya rapat.

Ia benci kepada pemuda itu—ia benci kepada Chanyeol. Mengapa ia tak datang juga pagi ini?

“Kau tak datang, huh?” ia melempar sobekan kertasnya geram ketika akhirnya ia merasa sudah cukup menyerah untuk menanti kedatangan Chanyeol hari ini.

Sesaat, ia melirik lengan kurus pucatnya yang masih meninggalkan bercak darahsegar akibat perbuatannya semalam—ia menggores lengannya dengan pecahan kaca lagi—lalu dalam diam, ia tersenyum getir memandangi keadaan salah satu organ tubuhnya yang sudah tak terurus itu—serindu inikah ia kepada Chanyeol hingga ia mampu menyiksa dirinya sendiri? Lagi-lagi, Taeyeon menanyai dirinya sendiri di dalam hati.

Taeyeon ah,” mendadak ketika ia baru saja hendak beranjak dari bangkunya, suara berat sosok itu akhirnya menghampirinya kembali.

“Kau?” Taeyeon berseru lega sembari menatap sosok itu penuh harap.

Sementara sosok itu, ia hanya tersenyum lebar memperhatikan gadisnya yang sedang menatap dan menyambutnya gembira. Ia menjejakkan kedua kakinya tak seberapa jauh dari tubuh mungil Taeyeon, dengan kedua lengan yang terbuka lebar—yang kapan saja dan dimana saja—selalu siap untuk menyambut dan menampung luapan rasa rindu Taeyeon dengan penuh kehangatan.

Kedua kaki pendek Taeyeon akhirnya berlari cepat menggapai pemuda itu lalu segera mendekapkan tubuh mungilnya di sana.

“Aku membutuhkanmu,”Taeyeon berbisik lembut sembari membenamkan wajahnya kepada sosok itu, sementara yang menjadi objek peluapan rasa rindunya itu hanya menganggukkan kepalanya pelan dan mengusap puncak kepala Taeyeon lembut.

Pemuda itu—yang dikenali Taeyeon sebagai Chanyeol—kini menyelipkan rambut sang gadis ke belakang telinganya pelan. “Jika kau membutuhkanku, maka ucapkanlah semua permintaanmu kepadaku. Aku berjanji akan melaksanakannya.” Ia berbisik lembut dan kembali mengusap surai hitam legam milik Taeyeon.

“Peluk aku,” gadis itu akhirnya berdesis lemah dari dalam lindungan tubuh Chanyeol. Jauh di dalam hatinya yang paling dalam, ia sudah tak dapat menyembunyikan rasa rindunya ini lagi—ia sangat menginginkan kekasihnya untuk tetap bertahan di sini bersamanya, “Kumohon, peluk aku.” Ia lagi-lagi membisikkan kata-kata sakral itu lemah.

Dan tak seberapa lama kemudian, dirinya kembali tenggelam di antara luapan rasa bahagianya.Karena hanya bersama pemuda itulah, ia dapat menemukan kedamaiannya. Hidupnya yang sesungguhnya.

 

____________

Ia yang paling kurindukan seumur hidup

Dan karena ia pula, aku lupa untuk menjadi diriku yang sesungguhnya

 

Taeyeon ah,” suara pemuda tersebut tiba-tiba bergaung lagi di dalam saluran pendengarannya. Taeyeon yang saat itu sedang memainkan jemarinya bergerak bebas menggores kertas sketsa gambarnya pun akhirnya memutuskan untuk melangkah malas membuka pintu kamarnya yang agak temaram—ia tak menghidupkan lampu kamarnya sama sekali—yang oleh sebab itu, cahaya matahari yang sedikit tersibak dari tirai tipis jendera kamarnya menjadi satu-satunya harapan bagi dirinya untuk tetap dapat melihat di tengah kegelapan.

“Tunggu sebentar, Baekkie ya,”

Perlahan, jemari lentik Taeyeon mulai bergerak memutar kenop pintu kamarnya. Ia sempat mengintip dari lubang kunci sesaat sebelum ia memutuskan untuk membuka pintu kamarnya itu, ia takut sekali jika sosok yang menghampirinya itu bukan Baekhyun, sepupu laki-lakinya.

“Ada apa?” ia berujar singkat dan menatap Baekhyun penuh tanya, sementara lelaki itu masih menatap Taeyeon dengan sedikit lebih prihatin dibandingkan yang biasanya.

“Apa yang kau lakukan di kamar segelap ini?” Baekhyun berseru lemah sembari membawa nampan makanannya memasuki kamar Taeyeon. Dengan cukup sigap, ia menekan salah satu sakelar yang yang berada di sudut ruangan. Hingga pada akhirnya, kamar itu kembali terang seperti sedia kala.

Taeyeon mengerjapkan kedua matanya sesaat, kedua lengannya langsung bergerak menutupi kedua pelupuk indra penglihatannya yang sudah beberapa lama terbiasa dengan intensiatas cahaya yang rendah. Ia menghembuskan nafasnya kesal dan menatap wajah Baekhyun penuh amarah dari balik kedua lengannya, “Apa yang kau lakukan?!” matanya mendelik marah kepada pemuda tersebut.

“Hanya menghidupkan lampu kamarmu. Tidak boleh?” pemuda itu mulai menanggapi ucapannya lalu berjalan pelan mendekati posisi tubuh Taeyeon yang sudah agak tersudut pada bagian pinggir sisi ranjangnya.

“Tetapi…,” gadis itu menahan ucapannya sesaat, beberapa tetes keringat dingin mengalir dari kedua sisi pelipisnya. Kini ia memejamkan kedua mata sayunya ragu, ia tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kepada Baekhyun, pemuda itu pasti tak akan mengerti bahwa Chanyeol membenci ruangan yang terang.

“Tetapi apa, Taeyeon ah?” Baekhyun meletakkan nampan makanannya pada meja kecil di dekat jendela, Taeyeon benar-benar berharap bahwa sepupunya itu akan benar-benar pergi setelah menghidangkan sarapan paginya tersebut. Namun ternyata dugaannya salah, pemuda itu justru meraih pergelangan tangannya perlahan dan menggenggamnya erat, “Umma-mu memintaku untuk menyiapkan makanan ini untukmu. Jadi, tolong dihabiskan,” ia mengusap puncak kepala Taeyeon lembut.

“Aku tak berniat untuk makan,” gadis itu tiba-tiba menyela pembicaraannya.

“Kenapa? Apa ada masalah lagi?” air muka Baekhyun mulai berubah menjadi cemas ketika Taeyeon masih menatapnya datar—hal aneh apa lagi yang akan dilakukan saudaranya ini?

Sebuah tawa geli tiba-tiba mengalir dari pita suara Taeyeon, gadis itu kini menyedekapkan kedua lengannya di dada. Sesekali, rambut hitam panjangnya yang terlihat tak disisir rapi bergoyang pelan menanggapi getaran dari tubuhnya yang terus berputar geli menahan dirinya yang terbahak.

“Beberapa jariku tergores pisau lipat semalam,” akhirnya kalimat itu terdengar dari sudut bibirnya. Lalu seperti kilauan cahaya yang melintas pada satu waktu, tawa geli gadis itu akhirnya lenyap seketika. Wajah pucatnya yang sudah cukup menyedihkan kini semakin menyibakkan aura kesenduan, “Sebenarnya aku tak ingin makan karena,” ada rasa sesak yang menyelubungi diri Taeyeon saat hendak melanjutkan penjelasannya.

“Karena aku sedang merindukan seseorang dan mengkhawatirkannya.”

“Siapa?”

“Kekasihku. Park Chanyeol-ku.”

____________

2010

Sentuhannya, belaiannya, suara lembutnya, aku bahkan masih mengingat segala hal yang ada padanya

 

Yakk, Park Chanyeol!” Taeyeon berseru geli sembari berlari cepat menjauhi tubuh jangkung Chanyeol saat itu juga. Pemuda itu kini tengah memamerkannya seekor katak berbungkus plastik transparan yang baru saja menjadi objek percobaannya di laboraturium sekolah—yang sudah dapat dipastikan akan membuat siapapun, terutama para gadis, bergidik ketakutan ketika melihatnya. Dengan tubuh berlendir dan perut yang terbuka akibat pembedahan, tak ada seorang pun yang akan mampu menatapnya berlama-lama, walaupun terpaksa sekalipun.

“Berhenti di tempatmu, atau aku akan menendang wajahmu, Yeollie!” gadis itu mulai berteriak agak histeris ketika Chanyeol semakin mendekati tubuhnya. Jemari besar pemuda itu bahkan masih belum melepas pegangannya pada bungkusan plastik bodoh berisikan katak berlendir itu.

“Kau takut?” air muka Chanyeol mendadak berubah menjadi serius ketika Taeyeon mulai terdiam dan menatap pemuda tersebut sedikit tak suka.

Gadis itu menggigit bibir tipisnya perlahan, ia lantas menganggukkan kepalanya perlahan dan menatap wajah Chanyeol penuh harap, “Tolong buang katak jelek itu,” jari telunjuknya mengacung tangan kanan besar milik Chanyeol yang kini tengah menyembunyikan katak berlendirnya di balik punggung.

Seulas senyum geli langsung tersibak dari wajah tampan sang pemuda di saat Taeyeon berdesis pelan dan meratap memohon kepadanya agar segera membuang objek percobaannya itu.Ia benar-benar tak tahan memperhatikan gadis itu mengeluarkan ‘jurus’ tatapan polosnya sebagai pilihan terakhir dalam menghindari serangan katak berlendir darinya hari ini.

“Baiklah,” Chanyeol menghela nafasnya panjang lalu menghirup oksigen di sekitarnya sesaat, “Karena gadisku yang paling kusayangi memerintahkanku untuk membuang katak kesukaanku ini, maka akan kulakukan perintahnya itu.” Perlahan namun pasti, Chanyeol mulai melangkahkan kedua kaki panjangnya lalu melempar katak berlendirnya teronggok ke dalam salah satu tong sampah milik sekolah.

Lalu, masih dengan ekspresi wajah yang sama, pemuda itu akhirnya menghampiri kekasihnya dan langsung mendekap tubuhnya erat. Ia memejamkan kedua kelopak matanya sesaat ketika Taeyeon akhirnya juga ikut membalas pelukannya, ia benar-benar menikmati sedikit-banyak waktunya bersama gadis itu. Dan saat ini, menghirup aroma tubuh Taeyeon yang lembut menjadi sebuah kesenangan tersendiri baginya.

Sepasang tangan besarnya bergerak pelan mengusap punggung mungil Taeyeon yang berada di dalam dekapannya, lalu tanpa basa basi, ia pun memutuskan untuk mengecup lembut dahi gadis itu. Ia berbisik pelan di antara kesunyian yang tercipta di antara mereka, “Mianhae.”

“Aku minta maaf karena telah mengganggumu dengan binatang itu.”

“Aku membencimu, Park Chanyeol,” tiba-tiba Taeyeon bergumam pelan sembari melepaskan pelukannya dari Chanyeol. Ada ekspresi geli yang tak terjelaskan dari wajah cantiknya ketika ia kembali mengucapkan hal tersebut kepada diri Chanyeol.

“Kau jahat sekali karena telah mengerjaiku seperti itu!”

Sstt,” mendadak jari telunjuk Chanyeol bergerak menahan bibir gadisnya yang terus bergerak, ia tersenyum lebar sekali hingga deretan gigi rapinya terlihat, “Tetapi sebenci apapun kau kepadaku, aku akan tetap mencintaimu.”Ia berujar pelan lalu menangkupkan wajah mungil Taeyeon dengan kedua tangannya.

Tubuh mereka semakin mendekat bersamaan dengan mulai berjalannya detik-detik terpenting dalam hubungan mereka, dan pada akhirnya, segalanya terjadi begitu saja. Bibir mereka bertemu—untuk yang pertama kalinya.

____________

 

July, 2013

Seluruh saraf otakku bekerja cepat memikirkannya, membayangkannya, lalu lidahku mewujudkan perasaan itu dengan menyebutkan nama indahnya (lagi)

Sosok itu, ialah candu bagiku

Saat itu sudah hampir tengah malam ketika Taeyeon mendudukkan tubuh mungilnya tepat di atas salah satu besi pembatas balkon atas kesukaannya. Kedua mata jernihnya yang tak lagi sama cemerlangnya seperti dulu kini berpendar memandangi langit malam penuh harap. Sudah menjadi kebiasaannya semenjak satu setengah yang lalu untuk bercengkrama dengan bulan dan bintang sementara ia menunggu sosok pemuda itu datang lagi kepadanya.

Benar sekali, sosok Park Chanyeol-nya.

Rambut panjangnya yang agak kusut bergoyang pelan ketika semilir lembut angin tengah malam menyapa kulit tipisnya. Ia tersenyum agak getir menyadari bahwa sosok pemuda itu akhirnya muncul lagi pada salah satu sudut lain besi pembatas balkonnya. Pemuda itu tersenyum bahagia  dan menggoyangkan lengan besarnya sekilas ketika Taeyeon bergerak turun dari pagar pembatasnya lalu beranjak mendekati pemuda tersebut.

Chanyeol ah,” ia bergumam pelan dan meraih telapak tangan pemuda itu lembut. Kulit lelaki itu hangat sekali, sehingga menyebabkan Taeyeon merasa cukup betah untuk terus menggenggam tangannya dalam waktu lebih lama.

“Mengapa kau tak tidur?” suara lembut pemuda itu menggema pada tembok dingin di seputaran mereka lalu memasuki pendengaran Taeyeon hanya dalam waktu sepersekian detik. Wajah tampannya yang berpendar cerah bersama sinar keemasan bulan purnama masih menatap Taeyeon dengan khawatir. Tetapi gadis itu masih tak bergeming, ia menundukkan kepalanya lemah menatap kedua kakinya yang menginjak ubin dengan keadaan telanjang.

“Aku tahu kau mendengarnya, Kim Taeyeon.” Pemuda itu mendenguskan nafasnya keras di saat Taeyeon mulai tenggelam di dalam lautan kesunyiannya.

“Mereka bilang kau tak pernah ada lagi,” gadis itu tiba-tiba bergumam lirih, tubuhnya bergetar hebat ketika rasa sesak itu kembali mendekam di dalam dadanya. Ia tak ingin menangis malam ini, tetapi keadaan terus memaksanya untuk menangis.

“Mereka bilang Park Chanyeol-ku yang sesungguhnya sudah mati. Dan kau tak pernah ada,”

Seakan dihujami oleh ribuan paku berkarat yang tak terlihat, tubuh pemuda itu langsung terpaku ketika mendengarkan Taeyeon mengatakan bahwa dirinya tak nyata.

“Darimana kau tahu tahu itu?”ia bergumam lirih seraya memandang gadis itu ragu.

Taeyeon mulai mendongakkan kepalanya berusaha menatap wajah pemuda itu kembali, wajah pucatnya kini tak lagi memancarkan semangatnya—seperti biasanya ia bertemu dengan sosok itu—karena sekarang, ia sudah sedikit mengetahui kebenaran yang ada. Inikah titik akhirnya untuk terus bersembunyi?

“Baekhyun yang mengatakannya kepadaku,”

“Tetapi apakah itu benar? Bahwa kau sebenarnya tak nyata? Kau bukan Chanyeol-ku yang mendapatkan keajaiban Tuhan untuk dapat hidup kembali?”

Pemuda itu lantas menundukkan kepalanya lemah, ia semakin mengeratkan genggamannya pada jemari mungil milik Taeyeon. Raut wajah pilunya sudah tak dapat tersembunyi lagi sekalipun ia terus berusaha tersenyum kepada Taeyeon, seakan berusaha menunjukkan bahwa segalanya akan berjalan baik-baik saja.

Sosok Chanyeol itu hanya menganggukkan kepalanya sekilas, “Jika begitu, Baekhyun memang benar,”pundaknya bergetar naik turun ketika ia berusaha meredam tangisnya bersama dengan suara pelan para jangkrik yang mulai berparade di tengah kesenyapan malam.

Kalimat pemuda itu masih tak hanya berhenti di situ saja, karena beberapa detik kemudian ia kembali mencoba bersuara, “Aku memang tak pernah nyata. Karena aku…,”

“Aku…,” sang pemuda menarik nafasnya dalam-dalam.

“Berhenti!” sang gadis langsung membentak Chanyeol cepat, ia menahan kedua pundak lelaki itu kuat dengan kedua lengan kurusnya, “Aku tak ingin kau bicara lagi.” Ia berbisik parau dan menatap wajah tampan pemuda itu penuh harap. Jangan jelaskan lagi kepadanya—karena ia sendiri sudah tahu bahwa hal ini akan benar-benar terjadi.

“Kau harus mendengarkan ini.” Balas pemuda itu getir, ia bahkan berusaha tak mempedulikan tubuh Taeyeon yang mulai bergetar hebat di sisinya.Bukankah hal ini yang seharusnya ia katakana sejak dulu?

“Diam, Park Chanyeol!”

“Aku bukan Park Chanyeol-mu yang sebenarnya!” pemuda itu meninggikan volume suaranya dan memberi tatapan lurus kedua mata tajamnya kepada Taeyeon hingga menyebabkan tubuhnya bergetar selama beberapa saat. Bentakan itu benar-benar telah menghancurkan keeping hatinya, yang selama ini telah susah payah ia bangun, hanya dalam kurun waktu beberapa detik saja. Baja keras yang telah menjadi pertahanan hatinya telah meleleh selama beberapa saat setelah sosok pemuda itu sendiri yang menerangkan hal tersebut kepada dirinya.

“Aku tak pernah nyata,”

“Aku hanyalah sosok imajinasimu sendiri—yang muncul dan mengumpulkan kekuatannya untuk tampil karena sudut terdalam jiwamu yang memanggil-manggil nama Park Chanyeol untuk dapat hadir kembali.”

“Kumohon diam,” jemari ringkih gadis itu mencengkram kerah kemeja putih yang dikenakan pemuda itu kuat, setiap detik yang terlewati di antara mereka berdua malam ini benar-benar telah berhasil menyayat ulu hatinya yang terus menjerit kesakitan dari dalam sana.

“Jangan berbicara mengenai hal itu lagi—kumohon…,”

____________

 

June, 2013

Baekhyun menunduk lemah mendengarkan penjelasan seorang dokter kejiwaan yang mengunjungi rumahnya hari ini. Ia meremas buku-buku jarinya sesaat lalu kembali memukul dahinya kuat—ia benar-benar tak menyangka bahwa kondisi gadis itu, Kim Taeyeon, sepupunya, akan benar-benar separah ini.

“Peristiwa kelam di masa lalunya kemungkinan besar menjadi faktor utamanya,” lelaki tua berjas putih yang berada di hadapan pemuda itu juga turut menundukkan kepalanya prihatin, “Ia menciptakan tokoh imajinasinya sendiri ketika seseorang yang paling dicintainya pergi.”

Hati Baekhyun semakin mencelos ketika sang dokter mulai melanjutkan penjelasannya kembali, “Apakah ia pernah mengalami suatu peristiwa tak mengenakkan di dalam hidupnya?”lelaki tua itu menatap wajah Baekhyun penuh tanya, seakan dari jawaban pemuda itulah segala hal dapat terungkap.

Wajah Baekhyun mulai memucat mendengarkan pertanyaan mengejutkan yang satu ini, ia mengernyitkan dahinya sesaat dan kembali tersadar bahwa beberapa bulan yang lalu, sepupunya itu memang pernah mengalami sebuah kecelakaan hebat bersama seorang teman laki-lakinya. Namun tak lebih dari itu, ia tak pernah tahu bagaimana kejadian lengkap yang sebenarnya terjadi semenjak kedua orang tua Taeyeon mengingatkannya untuk tak membahas masalah itu lagi di saat gadis itu masih terjaga dari tidurnya. Ia bisa saja mengamuk dan membanting banyak benda di sekitarnya ketika beberapa orang mulai menceritakan peristiwa tersebut kepadanya.

“Aku tahu satu peristiwa,” Baekhyun sempat berdehem pelan sebelum melanjutkan perkataannya kembali, “Ia pernah mengalami sebuah kecelakan mobil hebat dengan seseorang—sekitar enam bulan yang lalu.”

Sang dokter menganggukkan kepalanya mengerti, ia mulai menuliskan beberapa catatan-catatan penting mengenai diagnosis kejiwaan yang diderita oleh gadis itu—Kim Taeyeon.

“Perasaan bersalah atau kehilangannya dapat dikatakan merupakan sebuah faktor terkuat yang menyebabkannya menjadi merasa amat tertekan. Ia mulai menentukan banyak aturan-aturan tertentu buatannya sendiri dalam menentukan suatu penyelesaian masalah—dimana sesuatu harus seperti ini, sesuatu harus seperti itu—untuk membuatnya merasa cukup tenang dan merasa terlindungi dari serbuan perasaan bersalah tersebut.”

“Hingga pada akhirnya, sosok imajiner itu hadir dan semakin nyata dari dalam sudut pandangnya. Kondisi psikisnya seakan memaksanya untuk terus mencari sosok imajiner itu, lalu memaksanya untuk berusaha membayangkan bahwa sosok itu memang benar-benar nyata—dalam beberapa kasus, orang yang menderita depresi yang sama dengannya juga dapat merasakan benar sentuhan atau rabaan yang ‘diberikan’ oleh teman imajiner mereka tersebut.”

“Apakah tak ada cara untuk menyembuhkannya?”

“Sadarkan ia, sesegera mungkin. Dan selanjutnya, berikan ia pengertian.” Lelaki tua itu hanya menyambut pertanyaannya dengan sebuah jawaban pendek. Tetapi dari sana pula, Baekhyun sudah tahu hal apa yang seharusnya ia lakukan semenjak dulu untuk menyembuhkan sosok Taeyeon. Ia semakin membulatkan tekadnya kala itu.

____________

 

July, 2013

Lalu ketika ia mengatakan kepadaku sudah saatnya kita berpisah

Maka segalanya terjadi begitu saja

 

Sekat pertahanan kekerasan hatinya telah dihancurkan. Taeyeon kini tak dapat menyembunyikan rasa gelisahnya lagi, ia masih terus berusaha menahan pemuda itu agar tak bersuara lagi. Ia muak mendengarkan penjelasan panjang yang akan memberinya rasa sakit di bagian terdalam dari hatinya saja. Semakin lama sosok itu menatap kedua matanya, maka semakin dalam rasa takut kehilangannya itu menusuk jiwa dan raganya.

Intuisinya terus membentaknya untuk bangkit dari seluruh dunia khayalannya—tetapi ia benar-benar tak bisa.

“Jika kau menginginkanku hanya karena merindukan kekasihmu—Park Chanyeol—yang sudah lama pergi untuk segera kembali, maka tak akanada gunanya sama sekali.”

“Tetapi bukankah kau juga terus ingin bersamaku?” Taeyeon berdesis lirih sembari mendekap tubuh pemuda jangkung itu erat. Ia bahkan masih tak percaya jika sosok itu bukanlah Park Chanyeol-nya, kekasihnya yang paling ia cintai. Rasanya segalanya mustahil—tidakmungkin jika sosok yang persis dengan kekasihnya itu bukan Chanyeol yang sesungguhnya.

“Bukan aku yang menginginkanmu—tetapi sudut terdalam dari dirimu lah yang selama ini menciptakan dan menarikku untuk hadir di sini—didunia fantasimu.”

“Kau harus sadar, Kim Taeyeon, bahwa aku hanyalah sosok imajinasimu yang berasal dari kenangan-kenangan yang kau kumpulkan secara paksa dari seluruh sudut terdalam di otakmu. Aku juga tak akan pernah abadi berada di sisimu, segalanya tidak akan mungkin.” Suara berat pemuda itu mulai mengalun pelan, berpadu dengan kesunyian malam dan suara isak tangis Taeyeon yang tak dapat menyembunyikan perasaan hatinya lagi.

“Tak bisakah kau tetap hadir di sini?” gadis itu berbisik lemah kepadanya. Wajahnya yang kurus pucat semakin terlihat seperti jasad hidup ketika ia mulai mendongakkan kepalanya kepada sosok pemuda tersebut.

Pemuda itu hanya menggelengkan kepalanya lemah, ia beranjak turun dari besi pembatasnya kemudian menggenggam kesepuluh jemari Taeyeon erat. Mereka berdua lalu duduk pada salah satu kursi panjang balkon atas yang berada paling dekat dengan jendela. Beberapa kali, pemuda itu mengusapkan jempolnya kepada pipi tirus sang gadis yang telah dibasahi air mata.

“Sekarang, temuilah masa depanmu. Jangan terus berdiri di sini menanti sesuatu yang tidak pasti sepertiku,” ia berbisik lembut seraya membelai surai panjang milik Taeyeon perlahan, “Kau seorang gadis yang hebat—Chanyeol yang sesungguhnya pasti bahagia sekali pernah memiliki seorang gadis sehebat dirimu.”

Tubuh gadis itu sontak langsung melemah ketika pemuda itu mengucapkan kalimat terakhirnya. Tangisnya kembali pecah ketika kenangan akan masa lalu itu kembali berputar pada titik terjauh pikirannya. Jika hal itu memang benar, maka itu sama artinya bahwa ia telah mengecewakan Chanyeol yang telah pergi jauh meninggalkannya di dunia. Karena terhitung satu setengah tahun semenjak pemuda itu pergi—maka sama lamanya pula ia menangis dan menyiksa dirinya dengan berbagai benda tajam yang seharusnya tak boleh ia gunakan.

“Aku minta maaf,” deru nafas lembut pemuda itu berbaur pelan bersama udara malam, “Tetapi kurasa sudah saatnya aku pergi.”

“Dan tak akan kembali lagi?”

Sosok itu menganggukkan kepalanya singkat. “Kumohon lupakan aku, berhentilah untuk terus menciptakan sosokku di dalam bayanganmu.Jangan ciptakan ilusi-ilusi tidak penting sepertiku lagi—karena aku…,”

Taeyeon menggerutukkan giginya sesaat.

“Karena aku tak akan pernah jadi nyata—aku hanyalah sekedar pemudapalsu yang kau ciptakan dalam usaha meluapkan rasa rindumu kepada Chanyeol, kekasihmu. Bahkan lebih kasarnya lagi, kau dapat menyebutku sebagai hantu yang selalu muncul di sudut pikir,”

“—yang entahbagaimana caranya, dapat menguasaimu di beberapa waktu.”

Tes.

            Air mata Taeyeon langsung meleleh ketika ia mulai membuka kedua matanya perlahan dan mengelus kedua pipi pemuda itu lembut. Kesepuluh jari-jari kurusnya terkadang masih terus bergetar ketika pemuda bayangannya itu mulai tersenyum getir dan mengelus puncak kepalanya lembut.

Perlahan, pemuda itu melepaskan dekapan kedua lengan besarnya pada tubuh Taeyeon. Sesaat, ia mengecup dahi gadis tersebut lembut lalu mengusap puncak kepalanya untuk yang terakhir kali. Dan tak seberapa lama kemudian, bayangannya pun mulai menghilang ditelan kesunyian malam.

Kim Taeyeon kini duduk sendirian di balkon atas kesayangannya lemah. Ia masih menatap getir tempat kosong bangku besinya selama beberapa lama—rasanya ia cukup bahagia sekaligus merasa amat kehilangan ketika menyadari bahwa sosok pemuda itu tak akan pernah hadir lagi di dalam hidupnya.

Chanyeol-nya yang sebenarnya, Chanyeol bayangannya, kedua pemuda tersebut tak akan pernah muncul lagi walau hanya sekedar untuk menenangkan hatinya yang dirundungi rasa duka.Tetapi tak lebih dari itu, ia juga bangga akan dirinya sendiri. Karena tepat di malamini, dirinya tak lagi terpenjara pada ilusinya sendiri.

Kecelakaan mengerikan yang telah merenggut nyawa kekasihnya itu mungkin akan terus menjadi sebuah memori terburuk sepanjang hidupnya—ia tak akan pernah lupa bagaiman tubuh Chanyeol terpental jauh pada sudut trotoar ketika sebuah sebuah mobil sialan itu menabrak mereka berdua yang sedang menghabiskan indahnya musim dingin bersama—ia benar-benar tidak akan melupakannya. Setiap tetes darah yang mengalir dari tubuh Chanyeol yang di saat-saat terakhir hidupnya itu tak akan menghilang begitu saja dari pikirannya.

Tetapi dimulai dari hari ini, ia sudah berjanji, tak ada lagi sikap menyembunyikan atau menyakiti diri sendiri lagi darinya. Ia belajar cukup banyak dari sosok pemuda imajinernya yang satu itu tentang makna kehidupan yang sesungguhnya.

Bebannya seakan mulai terangkat satu persatu, hingga pada suatu titik yang telah ditentukan, ia merasa hatinya sudah seberat bunga kapas kecil yang bertiup bersama angin musim semi. Ringan sekali.

Taeyeon tersenyum kecil memperhatikan lingkaran lembut bulan purnama yang menyapanya dengan seberkas sinar halus—bahkan bintang paling gemerlap pun juga ikut menemaninya yang sendirian malam itu. Ia tahu dirinya tak pernah sendiri.

Chanyeol masih ada di dalam hatinya yang terdalam, jauh disimpan di dalam kotak teraman yang pernah ada di dunia. Dan kotak itu dinamakan…,—cinta.

____________

 

Ketika kau pergi, segalanya memang bagai neraka untukku

Aku kehilangan malaikat penjagaku

Aku kehilangan seorang pemuda yang paling kucintai

Bayang-bayang buruk itu terus menghantuiku selama beberapa lama

 

Aku menjadi tersesat

Seperti sebuah sungai kering yang mendamba samudera luas

Keinginanku untuk mencapaimu itu tak akan pernah terwujud

Duniamu duniaku—segalanya memang tak lagi sama

 

Tetapi satu hal yang perlu kau tahu,

Sekalipun kita berpisah, perasaan ini juga tak akan ada habisnya kuberikan untukmu

Karena pernahkah kau mendengar, bahwa embun tak perlu warna untuk membuat daun jatuh cinta

Kau juga tak perlu berbuat banyak untuk membuatku terus mencintaimu

 

Karena perasaan ini memang lahir dan tumbuh dari diriku

Aku yang menjaganya, aku yang memupuknya

Sekali lagi kukatakan dengan sepenuh hatiku

Bahwa aku mencintaimu

 

The End

31 thoughts on “[Freelance] Oneshot : THAT ONE (SHADOWS)

  1. Ini ff pairing Yeol-Yeon(?) pertama yg berhasil buat Aku MENANGIS-_-
    ff Pairing YeolYeon(?)pertma jga yg Aku baca Feelnya dapat banget.
    #lapingus#
    Apalagi karakter yeoli. aku suka di sini cocok banget.Hangat dan romantice.Tdk terlhat memaksa karakternya. Aku spt mlihat peran sbnarnya dy disni.NYATA
    #eaaa#sedap#
    #lebaydikitye~#
    Detik2(?) terakhr saat yeoli mau pergi
    Imajinasiku lgsng~
    Yeoli dng pakaian ala nature republic dng sayap putih. taeng jga dgn pakaian ala nature republic.
    Tapi Akan terlihat romatice lagi klw yeoli sdikit berikan kecupan lembut di ehem bi~pppppp~wkwkwk

    “AKU KEHILANGAN MALAIKAT PENJAGAKU”
    4kata yg buat air mataku langsung Tess lagi TT_TT
    hisk…hisk…hisk…hisk

    Apalagi klw bca smbil dnger EXO – MIRACHEL IN DESEMBER~OMG~

    Huffftttt aku lanjutin nangis lagi ya~
    HUAAAAAAAA~
    #pelukkai#
    DAEBAK~
    TERIMA KASIH sudh Membuatku MENANGIS
    #lambailambaialamissworld#
    Hwaitaeng~

    • Wah, aku jadi merasa tersanjung lho jadi author ff yeol-yeon pertama yang bikin kamu sampe nangis gitu >.< Padahal aku sempet ngira kalau fanfic ini bakalan gatot alias gagal total bikin orang-orang ngerasain gimana depresi dan sedihnya Taeyeon ._.

      Aigoo, kalau aku nulis kebanyakan kissing scene bisa-bisa aku mual-mual di tempat, LOL. Soalnya aku masih terhitung bocah 14 tahun polos yang kurang suka bikin adegan begituan *Ini apaan? -,-"

      Dan sekali, thank you atas komentarnya ya ^^ *bow*

  2. author-nim, ini fanfic-nya keren banget asli T_T aku baru pertama kali baca fanfic yeol-yeon dan fanfic ini feel-nya dapet banget. ngerasain gimana kalo ada di posisi taeyeon, pasti sedih banget. alurnya bagus dan mudah dimengerti, penggunaan bahasanya juga bagus, jadi enak ngebacanya. puisi di akhirnya juga bagus banget thor, kok bisa sih bikin fanfic sama puisi yg keren kayak gitu T_T pokoknya author jjang! ditunggu karya-karya lainnya ya thor! fighting!

  3. Wahhh.. Eon.. Ff mu emg selalu daebak :*
    Aish.. Yeolli ku meninggal.. T,T
    Awalnya agak bingung sama ff ini.. Tp lama-kelamaan aku jd mengerti apa mksd cerita ff ini..
    Eon, kpn2 bikin ff cast taeng-yeolli lg ya.. Tp jgn ada yg meninggal lg.. Nde eon ?

    • Aigo, thank you atas komentarnya😀
      Iya, karena kan alurnya maju mundur, jadi baca pelan-pelan dapet deh benang merahnya.
      Anyway, aku punya dua fanfic yeol-taeng, satu yang apologize sama yang ini nih. Cuma yah, kalo di apologize ada baek-nya

  4. sip. sukses bgt bikin nyesek. mau nangis takut ketauan penghuni rumah/? jadi ditahan, terus malah jadi makin nyesek-_- dua duanya bias kuuuu feel nya jadi dapet banget;-; Daebak! keep writing~!!;)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s