[Freelance] Dear My Friends (Seohyun Yoona Kai Ver—Chapter 3)

dear-mnn-pleend

Tittle : Dear My Friends (Seohyun Yoona Kai ver—chap 3) || Author : AegyoKyung (Rie Fujiwara) || Cast : Seo Joohyun (GG Seohyun), Im Yoon Ah (GG Yoona) Kim Jong In (EXO Kai) || Support Cast : Find it~ || Genre : Friendship, Romance, Angst || Rated : T || Length : Multichapter || Poster Art : Autumn Flow @ HighSchoolGraphics (gamsa ^^) || Disclaimer : FF dan story punya saya. Para cast punya Tuhan, orang tua dan manajemen mereka. || Note : Annyeong. Author back bawa yg chapter 3._. sorry for typo(s) and happy reading^^

-o0o-

Prev:

Langkah Joohyun terhenti seketika, membuat Jongin sedikit terkejut. Jantung Joohyun mulai berdegup dengan kencang. Perasaannya mulai diselimuti oleh perasaan yang tidak enak. Begitu pula dengan hatinya yang merasakan ngilu. Ia tampak mencerna pertanyaan..atau lebih tepatnya pernyataan yang baru Jongin katakan. Otaknya kini telah membuat salah satu opini yang membuat hatinya merasa sedikit sakit.

Apa Jongin merasa cemburu karena Luhan oppa dekat dengan Yoona ?

©2013 AegyoKyung

Langkah Joohyun yang memang berhenti mendadak membuat Jongin sedikit terperanjat. Terlebih lagi air muka Joohyun yang menunjukkan suatu kedaan yang sepertinya tidak normal. Ditambah dengan wajah Joohyun yang semakin memucat dengan pandangan Joohyun yang tampak kosong. Semua itu membuat Jongin merasa sangat panik.

Aigoo ! Noona ? Apa Noona baik-baik saja ? Katakan sesuatu, Noona !”

Usaha Jongin tidak berhenti begitu saja. Ia terus memanggil, menanyakan keadaan Joohyun, bahkan menarik-narik jaket merah jambu yang gadis itu kenakan. Namun nihil. Gadis itu masih saja tenggelam dalam lamunannya. Hingga akhirnya Jongin memiliki sebuah ide konyol, yaitu dengan sigap ia merengkuh tubuh gadis itu.

Setelah beberapa menit Jongin merengkuh tubuhnya, akhirnya Joohyun pun tersadar dari lamunannya. Ia sungguh terkejut dengan gerak refleks Jongin yang memeluk tubuhnya. Hangat. Itulah yang gadis berpipi sedikit gembul itu rasakan. Jika lelaki lain yang memeluknya, maka Joohyun pasti akan memberikan respon lawanan. Namun berbeda dengan pemuda ini. Justru Joohyun merasakan suatu kenyamanan yang luar biasa.

Setelah dirasa cukup, Joohyun pun melepaskan dirinya dari rengkuhan Jongin dengan berat hati. Tanpa berpikir panjang, Joohyun pun akhirnya berlari sekuat tenaga menjauh dari Jongin. Meninggalkan Jongin yang menatap punggungnya dari jauh tanpa sepatah katapun. Hal ini tentu membuat Jongin heran dengan sikap Joohyun.

-o0o-

Sore itu, dimana hujan deras mengguyur ibukota Korea Selatan—Seoul. Kali ini bukan hanya hujan, tetapi diiringi oleh angin kencang dan beberapa kilat yang menyinari Seoul. Hal ini tentu saja membuat orang-orang memilih untuk berteduh di rumah, atau di tempat umum lainnya demi menghindar dari rintik hujan yang jatuh bersamaan.

Tidak terkecuali sepasang gadis cantik itu. Kedua gadis itu duduk di salah satu sofa café yang terletak di sebelah jendela. Salah satu gadis itu memakai jaket merah jambu dengan celana jins, sedangkan gadis lainnya memakai jaket ungu dengan paduan celana jins dengan warna senada. Kedua gadis itu bercengkrama sembari menunggu makanan dan minuman yang telah mereka pesan. Gadis itu adalah Joohyun dan Yoona.

“Lalu, bagaimana dengan hasil rapat kemarin ?”

Yoona tersenyum kecil sembari menyeruput cokelat panas yang baru ia pesan. “Untuk promnight sekaligus pesta perpisahan tahun ini, seluruh mahasiswa harus memakai topeng. Untuk yang tampil diatas panggung, tentu saja music band, tarian, serta beberapa girlband dan boyband ternama yang telah diundang oleh panitia. Dan yang special, di akhir acara akan diadakan sebuah event  ‘Tell Me Your Love’ dimana untuk beberapa siswa pria yang ingin menyatakan perasaannya kepada siswa wanita di kampus ini.”

Joohyun mengangguk sebelum akhirnya sesendok berisi cheese cake pesanannya memasuki mulutnya. “Jadi, ‘Tell Me Your Love’ hanya ditujukan kepada kaum pria ? Bagaimana jika ada siswa wanita yang berminat ?”

“Tidak bisa, Famous Girl. Kemarin kami sudah merundingkannya dan semua sepakat hanya untuk pria,” jawab Yoona tetap dengan kegiatan menyeruput cokelat panasnya. “Ah, apa kemarin kau melihat Jongin ? Mengapa ia tidak mengikuti rapat ? Padahal Ryu sonsaem sangat ingin melihat permainan gitar Jongin.”

Ia menghentikan kegiatan makannya dan menatap Yoona. Sesaat kemudian, ia kembali melanjutkan makannya dan mengendikkan bahu. “Moreugesseoyo (aku tidak tahu)” jawabnya berbohong, padahal Jongin kemarin pulang bersamanya. “ Bahkan aku tidak tahu jika Jongin diundang untuk ikut rapat.”

Yoona menganggukkan kepalanya sedangkan Joohyun terdiam membisu. Hatinya merutuki perbuatan bodohnya yang berani membohongi sahabat yang ia percayai. Padahal, mereka telah membuat janji agar selalu jujur satu sama lain. Dan ini adalah pertama kalinya Joohyun melanggarnya. Joohyun berharap ia takkan mengulangi kesalahannya lagi.

Famous Girl ? Aku ingin bertanya sesuatu.”

“Kau mau bertanya apa, Yoong ?”

“Menurutmu, Jongin itu seperti apa ?”

“Eh ?” Joohyun menatap Yoona heran. Sedangkan yang ditatap hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya. “J-Jongin itu.. dia hoobae yang baik, sopan, pintar, dan sangat berbakat dalam menari dan bermain gitar. Satu lagi, dia…” pipi Joohyun memerah. Ia memegangi tengkuknya. “Dia juga tampan.”

“Hei, Famous Girl mengapa wajahmu memerah ? Ah, kau menyukai Jongin ne ?” Tanya Yoona blak-blakan yang membuat Joohyun membulatkan matanya.

Nde ? A-Apa kau sudah gila Yoong ?” elak Joohyun. Entah mengapa jantungnya berdebar dengan kencang. “Aku hanya mengagumi bakat dan kepintarannya. Lagipula mana mungkin aku menyukai hoobae ku sendiri ?” lanjut gadis itu yang masih membela dirinya sendiri. Kemudian hatinya membenarkan ucapannya. Mungkin memang benar aku hanya mengagumi kepintaran sekaligus bakat Jongin. Mengagumi.

Yoona tertawa terbahak-bahak. Suatu kepuasan tersendiri baginya untuk menggoda sahabatnya ini. “Ah jeongmal ? Apa kau benar-benar hanya sekedar ‘mengagumi’ Jongin ?” godanya sekali lagi yang dijawab anggukan cepat dari Joohyun. Respon aneh dari Joohyun membuat Yoona tertawa. Ia sangat tahu, Joohyun selalu mengeluarkan reaksi aneh saat ia membahas seorang pria yang dekat dengan sahabatnya itu. Tapi reaksi ini lebih dari aneh.

Yoona berhenti tertawa, namun senyuman alligator nya masih terlihat. “Baiklah, sudah kuduga jawabanmu itu, Famous Girl. Tapi beruntung kau tidak menyukai Jongin, karena aku menyukai Jongin…ups !” Yoona segera menutup mulutnya ketika melihat pandangan Joohyun menuju ke arahnya.

“B-bukan begitu maksudku,” lanjut gadis berambut cokelat itu. “Aku memang menyukai Jongin…Ah bukan begitu ! Aku tidak suka… Aish !” Yoona mengacak rambutnya frustasi. Membuat Joohyun merasa panik dengan perubahan sikap Yoona yang menjadi aneh. Dan membantu menenangkannya dengan jantung yang berdebar.

“Baiklah, Famous Girl. Karena prinsip persahabatan kita adalah saling terbuka, maka kini aku akui,” ujar Yoona membuat Joohyun merasa gugup.

“Aku menyukai Jongin sejak pandangan pertama.”

-o0o-

Joohyun berbaring di atas ranjang empuknya sambil menatap langit-langit ruang tidurnya. Kedua tangannya terlipat di belakang kepala, sementara dirinya sibuk berpikir. Perkataan Yoona sahabatnya terus terngiang di kepalanya. Dia memejamkan mata, mencoba mengingat kata-kata yang tadi Yoona ucapkan kepadanya.

“Aku menyukai Jongin sejak pandangan pertama.”

Dugaannya selama ini akhirnya terkuak. Dugaannya selama ini tepat, tidak meleset sama sekali. Akhirnya Yoona mengakui jika ia memang menyukai Jongin. Sebagai sahabat karib Yoona, Joohyun harusnya menjadi orang yang senang setelah Yoona, mengingat gadis itu baru kedua kalinya menyukai seseorang. Ia juga harusnya menjadi orang nomor satu yang mendukung sahabatnya itu. Namun entah mengapa Joohyun merasa sakit untuk melakukannya.

Walau tidak mau mengakuinya, Joohyun telah menyadari bahwa Jongin telah menjadi sosok yang cukup penting dalam hidupnya. Jongin telah memberikan warna dalam kehidupannya. Bahkan Jongin adalah lelaki pertama kali yang membuat jantung Joohyun berdebar terlalu keras saat berada di dekatnya. Hal ini membuat hati Joohyun menjadi ragu. Apakah ia memang hanya sekedar mengagumi Jongin ?

Jika memang benar Joohyun hanya sekedar mengagumi Jongin, tidak mungkin jantungnya selalu berdebar setiap ia melihat lelaki itu. Dan jika ia memang hanya mengagumi Jongin, tentunya ia tak pernah merasa keberatan sekaligus merasa cemburu jika Jongin bersama dengan Yoona atau wanita lain dan harusnya ia juga mendukung Yoona yang menyukai Jongin. Apakah ini berarti Joohyun juga menyukai Jongin ?

Joohyun menitikkan air matanya. Jongin adalah lelaki pertama yang ia sukai—ah bukan. Yang ia cintai, lebih tepatnya. Dan jika cinta pertama biasanya berjalan sangat indah, mengapa itu tidak terjadi kepada dirinya ? Cinta pertamanya justru ia berikan kepada seorang lelaki tampan yang ternyata orang yang sahabat karibnya itu sukai. Joohyun mulai terisak. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. “Apa yang harus aku lakukan ?”

“Aish ! Bagaimana ini !!” pekiknya frustasi. Tanpa sengaja ia melemparkan bantalnya ke sembarang arah hingga ia mendengar suara benda terjatuh karena lemparannya itu. Joohyun beranjak dari ranjangnya. Ia melihat sebuah figura dengan fotonya terjatuh di lantai. Ia memungut pigura itu. Disana terpampang dirinya dengan Yoona yang sedang berpelukan. Masa kecilnya.

Joohyun membalik pigura itu. Sebuah tulisan tangan yang berukuran kecil terpampang disana. Itu adalah tulisan Joohyun saat masih kecil. Dengan hati-hati Joohyun berusaha membaca tulisan yang memang ia tulis sesaat setelah ia telah sembuh total dari kecelakaan itu.

‘Im Yoon Ah. Dia teman terbaikku sepanjang masa. Ia rela mendonorkan darahnya hanya untuk menyelamatkan nyawaku walaupun Yoong memang takut sekali dengan jarum suntik. Aku sangat bangga kepadanya ! Aku berhutang nyawa padanya !Akan kuberikan segalanya demi Yoong ! Saranghae Yoong~’

Barusaja ia selesai membaca tulisannya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk telah diterima. Saat melihat sang pengirim, jantung Joohyun berdegup kencang. Sang pengirim adalah Jongin. Tanpa berpikir panjang Joohyun pun menekan tombol read di ponselnya.

 

 

From : Kim Jongin

            Joohyun Noona ! Aku barusaja membeli tiga tiket bioskop untuk film Death Bell 2 ! Awalnya aku ingin menontonnya dengan Kyungsoo-hyung dan Sehun, tetapi sepertinya mereka tidak bisa datang. Jadi, apakah Noona mau menonton denganku ? Mohon dibalas, ne ? Gamsahamnida

 

Joohyun terdiam sejenak. Jika ditanya apakah ia mau ? Tentu saja ia sangat mau ! Tetapi ia teringat dengan komitmen yang pegang teguh jika ia akan membuat Yoona karibnya itu tetap senang walaupun taruhannya adalah perasaan atau nyawanya sendiri. Joohyun mengadahkan kepalanya. Ia berdo’a agar keputusannya benar-benar tepat. Dengan segera ia membalas pesan Jongin.

 

To : Kim Jongin

            Joeseonghaeyo, Jongin-ssi. Aku cukup sibuk sekarang, jadi aku tidak bisa menonton denganmu hehe~ mungkin lain kali, ne ? Ah iya, kau bisa mengajak Yoong jika kau mau. Dia sangat menyukai film horror.

 

Joohyun menghela nafas. Ia harusnya tahu diri. Faktanya, Yoona menyukai Jongin dan ia tidak boleh egois. Karena Yoona sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri, maka ia tidak boleh mementingkan egonya untuk merebut Jongin, sekalipun ia juga menyukai pria itu. Ia harus tetap memegang komitmennya untuk membuat Yoona tetap senang walaupun perasaannya menjadi korban.

“Maafkan aku, Jongin-ssi. Aku harus menghindarimu mulai dari sekarang.”

-o0o-

Yoona melihat bayangannya melalui pantulan cermin. Blouse berwarna peach dengan motif bulat-bulat putih ini terlihat sangat menarik di tubuhnya. Yoona memutar tubuhnya kegirangan, kemudian mengambil sisir dan merapikan rambutnya. Tak lupa, ia mengambil sebuah kalung mutiara berwarna peach dan dipasangnya. Kini penampilannya sempurna.

Saat Yoona asyik menikmati pantulan bayangannya di cermin, ponselnya bordering. Sebuah pesan masuk di ponselnya. Awalnya ia pikir yang mengirim adalah Joohyun atau yang lain, tapi ia salah. Matanya membulat sempurna. Ia berteriak sembari melompat-lompat kegirangan. Pesan itu dari Jongin.

 

From : Kkamjjong~

            Sunbae –nim, Aku barusaja membeli tiga tiket bioskop untuk film Death Bell 2 ! Apa kau mau menontonnya bersamaku ? Tadi aku sempat mengajak Joohyun Noona, tetapi ia mengatakan jika ia sedang sibuk. Jika sunbae mau, maka aku akan menjemput sunbae pukul 7 tepat.

 

Kyaaa~ Jongin mengajakku untuk menonton !!” pekiknya histeris. Ia kembali melompat-lompat kegirangan. Hatinya kini berbunga-bunga. Bagaimana tidak ? Seseorang yang ia sukai mengajak dirinya menonton bioskop hanya berdua saja ! Berdua saja ! Apa itu artinya Jongin mengajaknya kencan ? Aih, Yoona sangat bahagia tentunya.

 

To : Kkamjjong~

            Ah jinjja ? Kau mengajakku menonton bioskop ? Tentu aku mau Jongin-ah ! Baiklah, aku tunggu jam 7 tepat ne ?

 

Senyuman Yoona mengembang sempurna. Jam dinding berwarna ungu itu pun berdentang selama tujuh kali, pertanda pukul tujuh telah tiba. Kini gadis cantik itu telah duduk manis di sofa ruang tamunya. Ia bersenandung ria. Tampaknya ia sudah sangat siap dan tidak sabar dengan ‘kencan’ mereka nanti.

5 menit…

10 menit…

15 menit…

Yoona tetap sabar menunggu kedatangan Jongin. Senyumannya pun tak kunjung tenggelam. Hingga akhirnya ia mendengar suara pintu bel rumahnya pun berbunyi. Dengan segera, ia membuka pintu rumahnya dan matanya menangkap sosok lelaki tampan berbalut kemeja biru tua dan celana jins tengah tersenyum ke arahnya.

Annyeong haseyo, Yoona sunbae-nim.”

-o0o-

“Baiklah. Karena acara promnight sekaligus acara perpisahan bagi siswa semester empat tersisa seminggu lagi, maka sonsaem harap kalian dapat berlatih lebih keras sehingga mencapai penampilan yang maksimal. Bla… bla…bla…

Ruangan itu tampak hening. Semua anggota rapat tampak mendengarkan instruksi dan masukan yang Ryu sonsaem lontarkan. Tak ada satupun anggota yang tidak berniat mendengarkan Ryu sonsaem. Semuanya mendengarkan dengan saksama. Tak terkecuali dengan dua gadis dan satu lelaki yang duduk di salah satu kursi.

“Dan sonsaem akan membentuk grup menari baru yang anggotanya bukan dari member menari. Tentunya ini sangat akan menarik bagi siswa yang hadir nantinya. Apalagi konsep yang telah saya tentukan adalah menari berpasangan. Maka saya akan membacakan nama-nama pasangannya.”

Kini ruangan rapat yang tadinya hening menjadi gaduh. Anggota rapat itu saling berbisik-bisik. Ada yang mengeluh tidak setuju, ada yang biasa saja hingga yang antusias akan terpilih. Hingga akhirnya Ryu sonsaem mulai membacakan nama ‘pasangan’ yang akan menjadi couple saat event menari nanti.

“Baiklah, pasangan pertama Kim Hyoyeon dengan Zhang Yixing. Kwon Yuri dengan Huang Zitao, Choi Sooyoung dengan Oh Sehun, Im Yoona dengan Xi Luhan dan pasangan terakhir adalah Seo Joohyun dengan Kim Jongin. Adakah yang keberatan?”

Mendengar nama pasangannya, mata Joohyun membulat sempurna. Ia melirik ke arah Yoona yang kini tengah menundukkan kepalanya. Joohyun merasa bersalah kepada gadis cantik itu. Terlebih lagi ia teringat komitmennya dan misi terbarunya untuk menghindari Jongin. Maka dengan sedikit ragu, gadis itu mengangkat tangan kanannya.

“Ya, Seo Joohyun-ssi ?” tanya Ryu sonsaem yang memandang Joohyun, disusul dengan pandangan anggota rapat lainnya.

Joohyun menelan ludahnya. “I-itu sonsaem, bagaimana jika Yoona dengan Jongin saja ? Jongin sangat berbakat dalam menari, begitu pula Yoona. Jadi..” Joohyun menjeda kalimatnya untuk menghela nafas sejenak. “Jadi sebaiknya pasangan Yoona diganti dengan Jongin, biarkan Luhan bersama saya.”

Ryu sonsaem menaikkan salah satu alisnya. “Apa benar begitu ?” tanyanya kepada Joohyun yang langsung dijawab Joohyun anggukan kepala. “Baiklah, tentu saja boleh jika Luhan tidak keberatan. Apa kau merasa keberatan jika dipasangkan dengan Joohyun ?” kini Ryu sonsaem menghadap kepada seorang lelaki berparas imut—Luhan.

Gwaenchana, Ryu sonsaengnim.

Ryu sonsaem menganggukkan kepalanya. “Baiklah, Luhan bersama Joohyun. Jongin bersama Yoona. Bagi yang telah terpilih, setelah rapat nanti pastikan kalian pergi ke ruangan sonsaem untuk membicarakan masalah tarian. Sekarang kalian boleh kembali ke kelas masing-masing,” ujar guru paruh baya itu sembari membungkukkan badannya.

Setelah anggota rapat bubar, Yoona mendekati Joohyun dan berbisik ke telinga gadis chubby itu, “Mengapa kau membiarkanku bersama Jongin, Famous Girl ?”

Joohyun menatap Yoona dengan pandangan yang tulus. Kemudian ia tersenyum ramah. “Karena kau menyukainya, Yoong~ Aku tidak ingin merebut orang yang kau sukai darimu. Benarkan ? Hahahaha~” Nada yang keluar dari Joohyun memang seperti bercanda, tetapi kalimatnya benar-benar berasal dari hatinya yang paling dalam.

Tentu tidak mungkin aku akan merebut orang yang kau sukai, Yoong.

TBC

Thanks buat yang udah baca+comment, I love you all /? Buat silent readers, thanks udah mau baca ff aneh ini.. T_T Sorry for gaje>< RCL ne~ /kabur bawa Kai/ sampai jumpa di lain kesempatan…annyeong~ 😀

 

7 thoughts on “[Freelance] Dear My Friends (Seohyun Yoona Kai Ver—Chapter 3)

  1. Sebenarnya bukan mau nyalahin Seohyun, komitmen persahabatan mereka kan, harus saling terbuka, klo Seohyun jujur pasti Yoona bisa mengerti. Walaupun itu bohong untuk kebaikan Yoona,

  2. seo harus sama jongin!!!!! walaupun kamu engga amu ngerusak hubungan persahabatan kamu sama yoona tapi kamu juga harus memperjuangkan cinta mu seo,aku jadi kasian sm seo dia rela sakit hati demi yoong… tp endingnya harus seokai

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s