[Freelance] Multichapter : Somebody help me! (Chapter 1)

shndylfha

SOMEBODY HELP ME!

Title                 : Somebody help me!

Author             : shndylfha

Length             : Multichapter

Rating             : PG 15

Genre              : University life(?), Friendship.

Main Cast       : Kim Taeyeon, Xi Luhan, Kim Woobin, Im Yoona

Other Cast      : Hwang Miyoung, Seo Joohyun, Zhang Yixing, Kim Jongin, Oh Sehun, Park Chanyeol, Jung Sooyeon, etc.

Disclaimer       : Just fanfiction, inspiration from my mind. If you don’t like the couple pairing, don’t read it. I don’t know why i ship LuTae, maybe because they’ve baby face xD TaengKyu for not bashing~~

OST                : TaeTiSeo – Baby Step

 

“Berhentilah mengucapkan hal seperti itu Hwang Miyoung! Dia tidak mungkin memiliki perasaan seperti itu padaku.” Gadis yang memiliki postur tubuh mungil itu menampakkan raut cemberutnya sembari menidurkan kepalanya diatas meja panjang berwarna putih yang terletak di kantin kampus Seoul University.

“Tapi aku berbicara tentang kenyataan, Kim Taeyeon-ssi. Sedari tadi saat kau sedang bermain piano, ‘somebody’ benar-benar memperhatikanmu. Kalau kau tak percaya, Seo juga melihat dia menatap kearahmu.” Ucap gadis berambut merah panjang yang merupakan keturunan Korea-Amerika yaitu Hwang Miyoung yang akrab dipanggil Tiffany. Tiffany mencoba meyakinkan Taeyeon, gadis mungil yang merupakan sahabat karibnya itu. Saat ini Taeyeon sedang melakukan kebiasan ‘sleep at canteen’nya tepat dihadapan Tiffany.

“Ne, Tiffany unni benar. Bahkan sebelum kau naik kepanggung untuk bermain piano, ‘somebody’ lebih dulu memperhatikanmu, kami tidak mungkin salah lihat.” Seohyun yang merupakan hoobae mereka setahun juga memang akrab dengan Taeyeon dan Tiffany yang notabennya adalah penyanyi terbaik Seoul University yang tergabung dalam grup TaeTiSeo, jika ada event kampus lain biasanya mereka bertiga akan di undang menjadi bintang tamu. Sebenarnya jika dibilang penyanyi, bukan hanya mereka bertiga saja penyanyi Seoul University. Masih ada satu lagi penyanyi terbaik kampus mereka yaitu Jung Sooyeon yang akrab dipanggil Jessica, hanya saja sifat Jessica yang sedikit egois dan merasa dirinya selalu benar membuatnya memilih menjadi penyanyi solo dan tidak ingin bergabung dengan tiga penyanyi terbaik lainnya. Itulah yang membuat TaeTiSeo jauh lebih terkenal dibandingkan Jessica seorang.

Taeyeon mengangkat kepalanya dengan malas, lalu menatap kedua manusia yang berada dihadapannya secara bergantian dengan tatapan sendu. “Somebody menatapku belum tentu dia memiliki perasaan padaku, kalian menghiburku dengan kalimat seperti itu sudah tidak akan mempan buatku. Kalian juga harus sadar, sekarang ‘somebody’ telah menjalin hubungan dengan yeoja terpopuler dikampus-”

“Tak ada yeoja terpopuler dikampus kita!” Ucap Tiffany dan Seohyun serempak menegaskan kata-katanya kepada Taeyeon.

Taeyeon sedikit tersentak, kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. “Baiklah, aku ulangi. Maksudku, sekarang ia telah menjalin hubungan dengan yeoja terpopuler diangkatanmu, Seo. Jadi aku mohon pada kalian, beri aku waktu untuk menghilangkan perasaan ini, bukannya membuatku semakin berharap hanya karena ia menatapku.” Taeyeon menghela nafas, kedua yeoja dihadapannya menatap iba kearah Taeyeon yang nasib percintaannya sangat buruk. “Kalian tidak ingin melihatku bersedih seperti waktu itu, kan?” Lanjut Taeyeon lagi sembari tersenyum, senyum paksaan lebih tepatnya.

-FLASHBACK-

“Yak! Tiffany, Taeyeon! Apa kalian sudah tau berita terbaru dari hoobae kita?” Ucap Sooyoung antusias menghampiri Tiffany dan Taeyeon yang sedang asyik berbincang-bincang berdua didalam kelas.

“Aniya, berita apa?” Tanya Tiffany sedikit sarkastik mendapati Sooyoung yang mengganggu pembicaraannya dengan Taeyeon, menurutnya apa yang akan disampaikan Sooyoung tidak ada pentingnya sama sekali. Sooyoung memang terkenal dengan julukan ‘queen of gossip’ karena seluruh info dari hoobae sampai sunbaenya pasti ia ketahui.

“Kau tahu Im YoonA? Gadis populer diangkatan semester dua tahun ini? Dan kalian juga sudah pasti tahu, mahasiswa semester satu yang berasal dari China berwajah baby face itu? Aku lupa namanya, kalau tidak salah ia bermarga Xi.” Sooyoung terlihat berfikir mengingat-ingat siapa namja semester satu itu, sedangkan Taeyeon dan Tiffany yang awalnya sama sekali tidak tertarik dengan ucapan Sooyoung kemudian saling memandang satu sama lain menatap mendengar marga Xi yang diucapkan Sooyoung.

“Maksudmu… Xi Luhan..?” Ucap Tiffany ragu-ragu. Pertanda buruk itu kemudian menghampiri Taeyeon, sepertinya ia sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan Sooyoung.

“Nah! Itu dia, Im Yoona dan lelaki China itu telah resmi berpacaran kemarin malam!” DEG! Ucapan yang tak ingin didengar Taeyeon akhirnya terlontar begitu saja dari mulut Sooyoung. Waktu seakan berhenti, Taeyeon terpaku badannya terasa membeku ia merasa perkataan Sooyoung barusan seperti puluhan meteor panas yang mendarat tepat di hatinya. Mata bulat gadis mungil itu memanas, hingga tak terasa airmata yang ia jaga untuk tidak membasahi pipinya itu tak bisa dibendungnya lagi. Sedangkan Sooyoung mengkerutkan keningnya melihat tingkah Taeyeon, Tiffany yang juga menyadari hal itu kemudian mencoba menyadarkan Taeyeon dan setelah tersadar, tanpa aba-aba lagi Taeyeon berlari keluar kelas mencoba menuju suatu tempat ia bisa menangis sebebas-bebasnya. Hal yang sama dilakukan oleh Tiffany, ia tak mempedulikan Sooyoung yang masih sibuk dengan rasa penasarannya.

Taeyeon berlari secepat-cepatnya tak mempedulikan siapapun yang ada disekitarnya, tujuannya sekarang hanya satu yaitu balkon pojokan yang terletak di atap terbuka universitas, itu adalah salah satu tempat favorit Taeyeon ketika sedang bosan atau jenuh dengan keadaan ramai. Namun baru saja ia ingin berlari menaiki anak tangga secara tidak sengaja ia berpapasan dengan Yoona ditemani oleh Luhan, lelaki yang membuat Taeyeon jatuh hati. Lari Taeyeon terhenti, matanya memandang Yoona dan Luhan secara bergantian tak sengaja matanya menatap tangan Yoona yang melingkar di lengan Luhan, saat ini ia tak mempedulikan matanya yang mungkin membengkak, ia memberanikan diri menatap Luhan lelaki bermata bulat yang mampu membuatnya gugup. Luhan balik menatap Taeyeon, tatapan seakan-akan ia ingin meminta maaf.

“Taeyeon unni…” Ucap Yoona innocent melihat Taeyeon yang menatap Luhan dengan penuh arti, seakan terpanggil Taeyeon kembali ke alam sadarnya lalu menghela nafas sambil tersenyum.

“Kalian… Chukkae.” Kata Taeyeon lirih mencoba tegar dengan senyumannya itu, tetapi ternyata ketegarannya tidak berhasil. Ia terlalu rapuh untuk tegar, butiran-butiran itu kembali membasahi pipinya membuat Taeyeon kembali melanjutkan larinya tak mempedulikan Yoona dan Luhan yang menatap kepergiannya dengan tatapan heran.

Tiffany menyaksikan kejadian itu, hatinya sakit melihat sahabatnya harus menanggung rasa perih itu sendirian. Ia kembali mengejar Taeyeon tanpa mempedulikan Yoona dan Luhan saat Taeyeon kembali berlari menuju tempat favoritnya yang hanya diketahui oleh Tiffany dan Seohyun.

Saat kembali mengejar Taeyeon, tanpa disengaja hp android milik Tiffany berbunyi membuatnya harus berhenti melihat siapa yang menghubunginya. Tanpa aba-aba, Tiffany yang sedikit kehabisan nafas mengangkat telfon yang tak lain adalah dari Seo.

“Yeoboseo,Hyun-ah.. Kau dimana?huh?”

“……………”

“Ah jadi kau juga telah mendengar berita itu? Baguslah, sekarang lebih baik kau menemaniku menghibur Taeyeon di tempat biasa. Palli.” Tiffany mematikan sambungan telfonnya dan kembali berlari mengejar Taeyeon.

Taeyeon berjalan lemah kearah pojokan balkon, airmatanya tak berhenti mengalir. Menurutnya ini terlalu sakit, ia tahu ia bodoh menangisi lelaki yang tak pernah memiliki perasaan padanya, hanya saja ini memang Taeyeon yang sebenarnya.

Lelaki itu, Xi Luhan. Lelaki keturunan China yang melanjutkan kuliahnya di Korea Selatan dan memilih Seoul University sebagai tempat belajarnya, Taeyeon pertama kali melihat lelaki itu saat ia ditunjuk untuk menjadi pembina beberapa mahasiswa baru yang tidak taat aturan dan Luhan merupakan salah satu dari lima lelaki tersebut, Taeyeon ditunjuk sebagai pembina mereka dikarenakan sifat Taeyeon yang jutek dan selalu membuat siapapun kalah debat dengannya, dan ternyata Seoul University tidak salah menunjuk Taeyeon sebagai pembina mereka, karena setelah kurang lebih dua bulan mereka mendapat didikan dari Taeyeon, akhirnya mereka menjadi mahasiswa yang taat aturan. Tetapi ada satu kesalahan dan penyesalan Taeyeon menerima posisi itu, ia telah jatuh cinta pada mahasiswa China bermata bulat itu.Xi Luhan.

Taeyeon terduduk memeluk kedua lututnya dan menangis sejadi-jadinya, ia memukul mukul dadanya yang terasa sangat sakit, ia masih terisak hingga  kedua sahabat terbaiknya, Tiffany dan Seohyun berlari menghampirinya. Taeyeon yang melihat mereka, langsung menyambut keduanya dengan tangan dilebarkan dan memeluk mereka berdua secara bersamaan. Tak ada yang bersuara hanya isakan Taeyeon yang terdengar, Seo dan Tiffany hanya mampu mengusap punggung Taeyeon.

Saat merasa sudah sedikit tenang, Taeyeon melepaskan pelukannya dan duduk dengan tatapan kosong sedangkan Tiffany dan Seohyun masing-masing duduk disamping kanan dan kiri Taeyeon. Tiffany menggenggam tangan kanan Taeyeon dengan erat, Seo menghapus airmata Taeyeon yang masih membasahi pipinya.

“Ini memang sulit, Kim Taeyeon.” Ucap Tiffany mencoba memecah keheningan sedangkan Taeyeon tidak mengubah raut wajahnya sedari tadi, tatapannya masih kosong. “Tapi kami yakin kau bisa melewati semua ini, eonni.” Seo melanjutkan perkataan Tiffany dan kemudian menggenggam tangan sebelah kiri Taeyeon.

“Apakah ia pantas untuk ditangisi? Airmatamu terlalu berharga hanya untuk lelaki yang tak melihatmu seperti dia. Airmatamu itu harga mati, dan kau menyia-nyiakannya seperti ini. Kemana Kim Taeyeon-ku yang tak peduli dengan ucapan orang lain?”

“Taeyeon eonni yang ku kenal adalah gadis yang kuat, keras kepala, tetap pendiriannya dan selalu berani mengatakan yang sebenarnya.”

“Seorang Taeyeon yang selalu menentang kebohongan dan selalu membuat orang tak mampu berkata-kata hanya dengan mendengar ucapan sarkastikmu.”

“Seorang sunbae yang disegani karena keberanian oleh hoobaenya, dan seorang hoobae yang menjadi kebanggan para sunbaenya.”

“Tapi aku bangga, bahkan ketika eonni sakit hati seperti ini, eonni tidak berniat untuk menahan dan berbohong pada diri eonni sendiri.”

“Oh, kau belum melihat sesuatu yang menakjubkan Seo Joo Hyun. Tadi saat di anak tangga menuju lantai 4, Taeyeon berpapasan dengan Luhan dan YoonA. Dan kau tau? Dengan keberanian seorang Kim Taeyeon, ia mengucapkan selamat kepada pasangan baru itu.” Ucap Tiffany menampakkan eyesmilenya di respon dengan raut wajah tidak percaya dari Seohyun. Dalam tatapan kosongnya, Taeyeon menatap kedua sahabatnya itu secara bergantian lalu menarik tangan kedua sahabatnya yang sedang menggenggam tangannya. Tiffany dan Seo sedikit kaget mendapat perlakuan seperti itu, sekarang kedua kepala mereka sedang bersender di dada Taeyeon lalu Taeyeon melingkarkan kedua tangannya dimasing-masing leher kedua sahabatnya itu.

“Yak! Hwang Miyoung. Seo Joo Hyun. Kalian ingin aku mengatakan kebenaran lagi?” Seo dan Tiffany saling menatap satu sama lain dengan gaya yang masih sama disekap oleh Taeyeon(?) “Kalian… selalu menjadi penyemangatku! Gomawoooo” Lanjut Taeyeon lalu lebih mengeratkan rangkulannya dan kemudian menampilkan senyumannya. Tiffany dan Seohyun ikut tertawa mendengar Taeyeon kembali tersenyum.

“Tapi kau harus berjanji, tidak menangis lagi untuk lelaki itu! Yaksok?”Tiffany melepas rangkulannya di ikuti oleh Seohyun, lalu mereka menjulurkan jari kelingkingnya kearah Taeyeon.

Taeyeon menampilkan smirknya menatap Seohyun dan Tiffany bergantian, kemudian menautkan kelingking jari kanan dan kirinya dimasing-masing jari kelingking Tiffany dan Seohyun, “Jangan khawatir, jika kalian juga ada disini untukku. Aku tak akan menangis lagi.” Senyum Taeyeon mengembang. Balkon pojokan itu menemani siang mereka bercanda tawa bersama, ketiga penyanyi terbaik Seoul University itu memutuskan untuk membolos sampai jam pelajaran berakhir.

-FLASHBACK END-

Taeyeon, Tiffany dan Seohyun menikmati makan siangnya dengan lahap dikantin kampus, Tiffany dan Seohyun memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatan singkatnya dengan Taeyeon mengenai namja bermata bulat itu. Seohyun secara tidak sengaja menjatuhkan buku novel yang ia bawa sewaktu kekantin, dengan sedikit mendelik ia menundukkan badannya dan mengambil novel tersebut. Tiba-tiba pandangan Seo tertuju pada kelima namja yang sepertinya menuju kearah mereka “Somebody…” Gumam Seo memperhatikan namja bermata bulat dari kelima namja itu, Somebody merupakan julukan untuk Luhan yang diberikan oleh Taeyeon, mengenai perasaannya hanya Tiffany dan Seohyun yang mengetahuinya oleh karena itu ia memberi Luhan julukan somebody supaya tak ada orang lain yang curiga jika mereka bertiga ingin bercerita tentang Luhan di depan umum.

Taeyeon dan Tiffany menghentikan aktifitas makannya mendengar gumaman Seohyun, Tiffany yang duduk tepat disamping Seohyun mengikuti arah pandang Seohyun sedangkan Taeyeon membalikkan badannya melihat kearah yang dilihat oleh kedua sahabatnya itu. Benar saja kelima namja itu berjalan kearah mereka sambil tersenyum, Taeyeon memperbaiki duduknya dan kembali melahap makanannya seolah tidak melihat mereka. Sedangkan Tiffany dan Seohyun yang melihat tingkah Taeyeon sudah mengerti pasti mengapa Taeyeon bertingkah seperti itu.

“Annyeonghaseo sunbae..” Ucap ke lima namja semester satu itu serempak yang merupakan bekas anak didik Taeyeon selama dua bulan, yah mereka adalah Zhang Yixing yang juga berasal dari China dan merupakan namja yang memiliki dimple paling manis diantara yang lainnya, ia cukup pendiam hanya saja tatapan tajamnya biasa membuat orang tak berani menatapnya. Yang kedua yaitu, Kim JongIn namja berkulit sawo matang keturunan Korea asli dan dengan kharismanya yang berlebihan membuat para sunbaenya yang yeoja mudah jatuh hati padanya, menurut gosip yang beredar saat ini ia sedang berusaha mendapatkan hati salah satu yeoja yang notabennya adalah dancer terbaik dan sudah menginternational yaitu Kwon Yuri. Selanjutnya yaitu Oh SeHun, namja yang memiliki wajah innocent dan terlalu polos dengan kejahilan yang selalu JongIn lakukan padanya, dibalik kepolosannya itu SeHun merupakan ahli komputer yang mampu melacak,menghacker dan melakukan apapun mengenai software dengan kemampuan yang dimilikinya. Yang lainnya adalah Park ChanYeol namja berpostur tubuh tinggi dan selalu senyum tidak jelas tetapi hal itulah yang membuat yeoja mudah jatuh hati padanya, banyak orang menyebutnya idiot jika tersenyum tidak jelas tapi jangan salah, namja ini bukan sembarang orang, ia merupakan seorang anak dari pemilik perusahaan barang elektronik ternama yaitu SAMSUNG. Dan yang terakhir adalah Xi LuHan, namja yang mampu membuat salah satu penyanyi terbaik Seoul University jatuh hati padanya. Luhan merupakan namja yang memilik wajah baby face dan keturunan China asli, ia pindah ke korea atas rekomendasi dari Yixing, sahabatnya sedari kecil saat di China. Dan sekarang ia memiliki hubungan khusus dengan YoonA yang mampu membuat hati Taeyeon menjadi rapuh. Mereka mendapat julukan sebagai ‘Flower Boy’ karena baru di semester satu mereka berlima telah mampu membuat para sunbaenya terkagum-kagum dengan mereka, bukan hanya wajah-wajah mereka yang memiliki ketampanan diatas rata-rata tetapi juga talenta mereka dalam menari mendapat perhatian dari agency ternama, hanya saja mereka memilih untuk lebih fokus pada kuliah dibandingkan dunia entertain.

“Ne, annyeong. Kalian mau makan juga?” Sempat terjadi keheningan, untung saja Tiffany pintar membaca keadaan dan menghilangkan keheningan diantara mereka. Sedangkan Taeyeon dan Seohyun masih sibuk dengan makanan mereka masing-masing.

“Tentu saja, bisa kami bergabung disini sunbae?” Sejenak Taeyeon dan Seohyun menghentikan aktifitasnya dan menatap ke asal suara yaitu si innocent, Sehun. Setelah itu Tiffany dan Seohyun menatap kearah Taeyeon seolah meminta persetujuan gadis itu, tetapi yang ada Taeyeon hanya terdiam dan melanjutkan aktifitas makannya. Disisi lain kelima namja itu telah mendudukkan diri mereka tanpa menunggu jawaban persetujuan ketiga yeoja yang berada disitu. Jongin dan Chanyeol menarik Luhan untuk sama-sama duduk disebelah Taeyeon sedangkan Sehun dan Yixing memilih duduk disamping Seohyun dan Tiffany. Taeyeon sedikit kaget menatap Luhan tepat duduk disampingnya, ia berusaha setenang mungkin dan tetap fokus pada makanannya.

Setelah memesan makanan, Yixing kembali dengan membawa 5 buah mangkuk mie pangsit kepada sahabatnya yang lain, sedangkan Taeyeon Tiffany dan Seohyun tidak berniat untuk bicara sedikitpun, apalagi keadaan Taeyeon saat ini yang duduk sangat dekat sekali dengan Luhan.

“Oh ya, permainan piano Taeyeon sunbae tadi sangat keren! Aku sangat menikmatinya!” Chanyeol mencoba memecah keheningan dan sejenak seluruh mata tertuju pada objek pembicaraan yaitu Taeyeon. Merasa diperhatikan, Taeyeon lalu mengangkat wajahnya dan sekilas menampakkan senyumnya pada Chanyeol.

“Ah benarkah? Aku rasa itu biasa-biasa saja, Oh ya aku ada kegiatan. Aku kembali duluan yah.” Taeyeon meraih tasnya lalu kemudian berdiri membuat kelima namja itu mengkerutkan dahinya, sedangkan Tiffany dan Seohyun sudah tau pasti alasan Taeyeon ingin pergi lebih dulu.

Dengan sigap, Luhan menahan tangan Taeyeon yang membuat Tiffany dan Seohyun serta teman-temannya yang lain membulatkan matanya, “Tinggallah sebentar lagi, kukira sunbae tak ada jam saat ini.” Ucap Luhan tersenyum tulus membuat Taeyeon membeku, matanya ikut membulat kaget melihat tingkah Luhan yang jujur saja mampu membuat pipinya merah merona.

“Yak! Kim Taeyeon!” Refleks Luhan melepas genggamannya pada tangan Taeyeon dan sekarang seluruh mata tertuju pada arah suara yang berdiri diambang pintu kantin. Taeyeon menghela nafasnya mengucap syukur dan sangat berterimakasih kepada namja bersuara berat berperawakan cukup tinggi dengan badan yang sangat idealis.

Sekarang, namja itu berjalan menghampiri Taeyeon yang masih berdiam ditempat. Setibanya dihadapan Taeyeon, ia terlebih dahulu mengucapkan salam kepada kedua sahabat Taeyeon dan kelima namja yang juga berada disitu. “Lihatlah daftar panggilanmu, berapa kali aku menelfonmu huh?” Sekarang tujuannya terfokus pada Taeyeon.

“Ah mianhae oppa, aku tidak mengaktifkan suara dering handphoneku.” Ucap Taeyeon innocent, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap cemburu kearah Taeyeon dan namja yang bernama Kim Woobin itu. Tanpa menjawab pernyataan Taeyeon, woobin menarik lengan Taeyeon untuk mengikutinya tapi sebelum itu ia sempat berpamitan dengan teman-teman Taeyeon. “Tiffany, Seohyun, aku meminjam Taeyeon sebentar. Aku yang akan mengantarnya pulang.” Tiffany dan Seohyun hanya mengangguk sambil tersenyum sedangkan kelima namja lain itu hanya bisa mengkerutkan dahinya bertanya-tanya siapa sebenarnya namja yang hampir setiap hari mengunjungi dan menjemput Taeyeon itu. Yah, mereka memang mengetahui latar belakang seorang Kim Woobin, siapa yang tak mengenalnya? Hanya saja mereka tidak tau apa hubungan yang terjalin antara Woobin dan Taeyeon.

Kim Woobin adalah seorang namja yang memang sangat dekat dengan Taeyeon, orang yang tidak mengenalnya pasti mengira bahwa Woobin dan Taeyeon memiliki hubungan special tetapi lagi-lagi hanya Tiffany dan Seohyun yang mengetahui siapa sebenarnya Woobin bagi Taeyeon. Siapa yang tak mengenal Kim Woobin? Model pria terbaik selama beberapa tahun belakangan ini dan namanya telah dikenal dunia, woobin bukan hanya seorang model tetapi juga seorang aktor favorit para produser. Hanya saja woobin yang tidak ingin terlalu sibuk terkadang menolak tawaran bermain drama ataupun film. Karena woobin juga lah, Taeyeon menjadi cukup terkenal di kalangan kampusnya maupun dikalangan fans woobin. Mengapa? Banyak gosip yang beredar bahwa Taeyeon adalah yeojachingu model terbaik itu, tapi baik dari pihak woobin maupun Taeyeon tidak pernah menanggapi gosip itu. Bahkan Woobin terlihat santai saja jika ada yang menyebarkan gosip itu, menurutnya itu hal yang bagus dibandingkan jika harus digosipkan dengan aktris maupun model yeoja lainnya.

“Jadi, ‘somebody’mu mengetahui kalau kau menyukainya?” Ucap woobin sarkastik saat telah berada didalam mobil bersama Taeyeon, Taeyeon menatap horor kearah woobin.

“Yak Kim Woobin! Aku tidak mungkin sebodoh itu memberitahunya bahwa aku menyukainya!” Taeyeon memicingkan matanya menatap Woobin yang sedang asik menyetir, merasa diperhatikan woobin balik menatap Taeyeon sekilas sambil menampakkan senyuman khasnya. “Wae? Mengapa ia berani-berani menggenggam tanganmu jika ia tak mengetahuinya?”

“Tadi itu.. dia hanya melarangku untuk pergi… ah sudahlah! Bisakah kau membahas yang lain saja?huh?” Tatapan Taeyeon tidak berubah daritadi, tatapannya masih sama. Horor.

“Oke baiklah aku mengalah! Bisakah kau lebih sopan kepadaku? Ingat aku ini adalah….” Perkataan woobin terputus dan disambung oleh Taeyeon, “Ne aku tau, Jweseonghamnida opppaaaaaa. Kau puas?” Woobin menampakkan eyesmilenya lalu mengelus-elus pelan kepala Taeyeon, sedangkan Taeyeon hanya memandang kedepan sambil mengerucutkan bibirnya. Sebelum mengantar Taeyeon pulang, Woobin memilih mengajak Taeyeon berjalan-jalan sebentar ketempat pemotretannya untuk majalah.

***

Seorang yeoja yang berpostur cukup menarik ditambah memakai baju kaos putih polos yang sengaja ia masukkan kedalam celana jeans kira-kira satu jengkal dari pinggangnya menambah kesan menarik pada yeoja bermarga Im ini. Tak hanya itu, rambutnya yang sedikit berombak itu ia kucir satu dan kalung berbahan besi putih bergambar mahkota yang cukup panjang terpampang indah di leher jenjangnya serta sebuah tas berwarna biru muda di genggamannya dan sepatu kets yang senada dengan warna tas yang tidak terlalu besar membuat gadis tersebut menampakkan sisi fisiknya yang bisa dibilang sempurna itu. Im Yoona mahasiswi semester dua salah satu universitas terbaik di Seoul itu sedang berdiri gelisah di depan sebuah cafe seperti menunggu seseorang, ah bukan seperti tapi memang ia sedang menunggu seseorang yang tak lain adalah kekasihnya sekaligus hoobaenya dikampus, Xi Luhan.

Senyum mengembang diwajah Yoona ketika melihat dari seberang sana seorang namja yang memiliki paras penipu-dengan wajah baby facenya-membuat orang yang tak mengenalinya pasti mengira ia masih anak sekolahan.

“Maaf aku terlambat.” Ucap namja keturunan China itu ketika tiba didepan Yoona.

“Gwenchana, kajja. Kau mau singgah di cafe ini dulu atau langsung ke toko buku?” Senyuman manis tak pernah luput dari wajah Yoona, hanya saja ada satu rahasia penting tentang hubungannya dan Luhan yang tak diketahui oleh siapapun kecuali dirinya-luhan dan Tuhan.

“Kita langsung saja, kita bisa singgah di restoran setelah pulang dari toko buku. Hari sudah sore, ayo pergi.” Luhan membalas senyuman Yoona lalu menggenggam yeojanya itu berjalan menuju sebuah toko buku.

Sementara itu, diwaktu yang sama ditempat yang berbeda, Taeyeon –yeoja mungil- dengan rambutnya yang dibiarkan terurai itu mulai merasa bosan karena Woobin lama sekali menyelesaikan pemotretannya. Sebenarnya bukan hanya itu yang membuatnya jenuh, tetapi banyaknya fans woobin yang berkumpul di area pemotretan memberi tatapan penasaran kepada  Taeyeon. Tak sedikit juga dari para fans yang memotret Taeyeon dan mengunggah fotonya ke jejaring sosial dengan berbagai caption, seperti “lihatlah! Bahkan ketika pemotretan, gadis ini tetap menemani woobin.”, “Ini dia yeoja idaman woobin oppa~ aku sangat iri padanyaT.T” dan banyak lagi. Karena sudah geram, akhirnya Taeyeon menghampiri Woobin dan meminta agar pemotretannya dipercepat, untung saja sebelum ia meminta hal itu Woobin lebih dulu mengajak Taeyeon pulang.

Saat menuju ke area mereka memarkirkan mobil, tak sedikit fans yang memotret mereka yang sedang bergandengan tangan dan saat Woobin membukakan pintu untuk Taeyeon. Untung saja kaca mobil woobin tidak tembus pandang, hingga para fans tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan didalam mobil(?).

“Aku yang stress menghadapi fans-fansmu itu, oppa!” Omel Taeyeon menyandarkan dirinya dijok mobil sambil menepuk-nepuk dahinya. Woobin hanya tersenyum dan tidak berniat membalas apa yang diucapkan Taeyeon tetapi mengalihkan pembicaraan.

“Kau ingin langsung pulang? Tidak berniat makan dulu?”

“Ah! Benar! Untung saja kau mengingatkanku, bisakah kau mengantarku ketoko buku? Penulis novel favoritku baru saja menerbitkan bukunya. Setelah itu baru kita makan. Oppa mau kan?” Ajak Taeyeon mengepalkan kedua tangannya sambil menampakkan puppy eyesnya. Lagi-lagi woobin hanya tertawa kecil sembari mengangguk, “Ne.. Nyonya Kim Taeyeon.” Terukir senyum kepuasan dibibir Taeyeon.

Sesaat setelah Woobin membukakan pintu untuk Taeyeon, yeoja mungil itu langsung merangkul lengan Woobin dan berjalan dengan riang kedalam toko buku. Woobin menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Taeyeon yang sangat kekanak-kanakan tapi jujur saja Woobin menyukai itu.

“Wah… Oppaa…….. Lihatlah! Bukankah ini kau?” Taeyeon berlari mengambil sebuah majalah yang model covernya adalah Woobin. Yah, Woobin sering sekali menjadi model cover untuk majalah ternama di Korea. Taeyeon mensejajarkan majalah itu kearah wajah Woobin sambil menjinjit karena postur tubuhnya yang mungil membuatnya susah untuk mensejajarkan diri dengan woobin yang memiliki tinggi diatas rata-rata. Lagi-lagi Woobin hanya tertawa kecil melihat tingkah Taeyeon dan mencubit pipi gadis itu.

Tak lama setelah itu, Taeyeon kembali ketujuan awalnya yaitu membeli sebuah novel dan segera berlari secepat mungkin kebagian stan yang bertuliskan novel, sedangkan woobin hanya berjalan santai dibelakangnya. Karena terlalu bersemangat, secara tidak sengaja Taeyeon menabrakkan dirinya kepada seorang yeoja yang sedang asik membuka lembar demi lembar sebuah novel.

“Eh, Jweseong- Yoona?” Niat awal Taeyeon adalah meminta maaf atas kecerobohannya, belum selesai ia meminta maaf, yeoja yang ditabraknya berbalik dan ternyata itu adalah kenalan Taeyeon.

“Ah! Taeyeon eonni! Eonni bersama siapa kesini?” Taeyeon memperbaiki cara berdirinya kemudian tersenyum kearah Yoona lalu menunjuk Woobin yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya. “Kau sendiri bersama siapa?” Tanya Taeyeon balik basa-basi sambil memperhatikan sekeliling Yoona.

“Aku bersama Luhan… hmmmm…. Itu dia. Luhan! Kemarilah!” Jawab Yoona lalu memanggil Luhan yang berdiri di stan komik yang tak jauh dari tempat mereka berdiri,  Luhan yang merasa terpanggil langsung menghampiri Yoona. Sedangkan Taeyeon dan Woobin saling menatap satu sama lain tanpa ekspresi apapun.

“Ada apa?” Tanya Luhan yang masih tak menyadari kehadiran woobin dan Taeyeon dihadapannya.

“Aniya, ini ada Taeyeon eonni dan Woobin oppa.” Mata Luhan melebar dan baru menyadari kehadiran dua sosok itu dihadapannya. Taeyeon tersenyum kikuk ketika Luhan menatapnya sedangkan Woobin menampakkan senyuman khasnya.

“Ah.. Kau Xi Luhan? Bukankah tadi dikantin kampus kita sempat bertemu? Kau dan teman-temanmu?” Ucap Woobin membaca suasana yang mulai awkward dan bertanya asal yang sebenarnya ia sudah tau pasti jawabannya.

“Ne. Tadi kita sempat bertemu.” Kata Luhan datar.

Sedangkan Taeyeon mulai merasa suasana semakin awkward oleh sebab itu ia lalu menggandeng Woobin dan mengajaknya makan dengan alasan ia sudah lapar. Tapi tidak segampang itu, ide konyol meracuni otak Woobin sehingga ia menahan Taeyeon sebentar untuk tetap tinggal, “Chamkamman, kami ingin makan. Ini sudah malam, kalian tak berniat ikut bersama kami?” Taeyeon menatap horor kearah Woobin tetapi Woobin tidak mengindahkannya dan tetap menatap sepasang kekasih dihadapannya.

“Kami bisa-”

“Ayolah, aku yang traktir. Tadi aku baru saja menyelesaikan pemotretanku. Kapan lagi kita bisa kumpul bersama seperti ini? Jarang kita double date seperti ini.” Woobin menghentikan ucapan Luhan yang berniat menolak, sedangkan Taeyeon semakin membulatkan matanya mendengar kata ‘double date’ yang diucapkan pria tinggi disampingnya ini.

Akhirnya, mereka menyetujui ajakan woobin dan dengan setengah hati Taeyeon juga mengikuti kemauan woobin itu. Berhubung Yoona dan Luhan tidak membawa kendaraan, akhirnya woobin mengajak mereka ikut satu mobil dengannya dan Taeyeon. Sedangkan Taeyeon berusaha menenangkan hatinya yang sedang geram melihat Yoona menggandeng tangan Luhan, oleh karena itu dalam perjalanan menuju parkiran ia tidak mau kalah dan menggandeng erat lengan Woobin.

“Kau ingin makan direstoran mana, Taeyeon?” Tanya Woobin kepada Taeyeon sembari fokus pada jalanan di depannya, di kursi tengah juga sudah ada yang mengisi yaitu Luhan dan Yoona.

“Karena kau yang mentraktir kami, bawa kami ke restoran PALING MAHAL SE-SEOUL!” Ucap Taeyeon menekankan tiga kata terakhirnya sedangkan Luhan dan Yoona hanya terkekeh.

Ponsel Taeyeon berdering, tanda ada sebuah panggilan. Ketika melihat layar hp touch screennya itu, ternyata yang menelfonnya adalah Nyonya Kim yang tak lain adalah ibunda Taeyeon.

“Yeoboseo, eomma?” Sapa Taeyeon, Woobin balik sekilas menatap Taeyeon lalu kembali memfokuskan diri pada jalanan didepannya tetapi telinganya mendengar percakapan Taeyeon dan Nyonya Kim. Kedua manusia yang duduk dibangku belakang juga ikut mendengar suara Taeyeon yang sedang menelfon.

“…………….”

“Aku akan makan malam bersama teman-temanku..”

“…………”

“Ani. Bukan Tiff dan Seo, temanku yang lain.”

“………..”

“Apa eomma harus mengetahuinya? Disini ada dua hoobaeku dikampus yaitu Yoona dan Luhan dan seorang lainnya adalah Woobin oppa.” Suara Taeyeon melemas saat mengucapkan nama Woobin.

“…………”

“Ne. Dia bersamaku. Wae?”

“……….”

“Baiklah, akan kusampaikan.”

“………”

“Hmm.. Setelah makan aku akan langsung pulang. Annyeong.” Taeyeon mematikan sambungan telfonnya dan memasukkan ponselnya kembali kedalam tasnya.

“Eomma mencariku?” Ucap Woobin sedikit berharap tapi tetap dengan nada sarkastiknya.

“Ne. Katanya dia merindukanmu.” Woobin hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum miris mendengan ucapan Taeyeon tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

Sedangkan dikursi belakang baik Yoona maupun Luhan berfikir bahwa apakah hubungan Taeyeon dan Woobin sudah seserius itu sampai-sampai orang tua Taeyeon merindukan Woobin?

***

Taeyeon dengan gaya casualnya yang terbilang sangat polos tetapi bisa mengambil perhatian banyak orang yaitu dengan dress selutut bergambar bunga-bunga dan sepatu flat berwarna senada dengan tas punggung bermerk elizabethnya dan rambut panjangnya dibiarkan terurai berjalan lemas menuju ruangan kelasnya setelah Woobin tadi sempat mengantarnya sampai halaman kampus menggunakan mobil sport andalan model internasional itu. Entah apa yang membuat Taeyeon sedikit tidak bersemangat ke kampus hari ini, bahkan Woobin sendiri yang suka mengganggu Taeyeon sedikit heran melihat gadis mungil itu tak membalas celotehannya selama dalam perjalanan.

Dari kejauhan, dua orang yeoja bermarga Hwang dan Seo itu memperhatikan Taeyeon yang sangat tidak bersemangat. Karena geram melihat langkah Taeyeon yang bisa dibilang selambat gerakan siput, akhirnya mereka memilih menghampiri Taeyeon. Sesampai mereka dihadapan Taeyeon, Taeyeon menghentikan jalannya tetapi pandangannya tetap kosong menatap kebawah. Kedua yeoja itu mendengus kesal melihat tingkah Taeyeon yang terbilang sedikit aneh itu.

“Annyeong Nyonya Kim! Kami berada disini!” Ucap Tiffany lalu mengangkat dagu Taeyeon agar menatap kedua orang dihadapannya itu. Meski sudah begitu, tatapan Taeyeon masih tetap kosong dan mengabaikan ucapan Tiffany. Seohyun dan Tiffany akhirnya saling bertatapan satu sama lain melihat tingkah Taeyeon.

“Aku rasa ini ada hubungannya dengan double date mereka semalam.” Taeyeon membulatkan matanya mendengar ucapan polos dari Seohyun sedangkan Tiffany hanya mengangguk tanda setuju dengan ucapan yeoja termuda dari antara mereka bertiga itu. “Yap! Kau benar Seo. Pasti ini ada kaitannya dengan acara makan malam mereka bersama semalam tanpa mengajak-” Belum sempat Tiffany menyelesaikan ucapannya, Taeyeon sudah terlebih dulu menarik kedua yeoja itu ke bangku panjang yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.

“Tiffany, Seohyun. Sekarang, katakan padaku darimana kalian mengetahui mengenai dinner tadi malam?” Saat ini balik Taeyeon yang mengintrogasi kedua temannya yang duduk disamping kanan dan kirinya itu sambil menatap mereka secara bergantian.

Tiffany dan Seohyun menyerah menghadapi sifat Taeyeon yang terlalu polos itu. “Kau tau kau berjalan dengan siapa? Kau berjalan dengan seorang KIM WOO-BIN.” Taeyeon hanya mengangguk menanggapi ucapan Tiffany itu sedangkan subjek yang bertanya hanya mendelik kesal. “Ck. Seo, lebih baik kau yang jelaskan pada ratu polos ini sebelum aku menjadi gila karena kepolosannya.”

“Eonni. Apa aku harus menjelaskan juga siapa kim woobin? Kim woobin adalah seorang model internasional dan aktor terbaik. Dan eonni, kau pasti sudah tau kalau seorang entertainer ternama sepertinya sudah pasti memiliki jutaan bahkan milyaran fans yang akan selalu mencari tahu apa saja yang dilakukan oleh sang idola. Dan soal tadi malam, aku dan Tiffany eonni melihat beberapa fans mengunggah fotomu dan foto woobin oppa saat berada di toko buku juga saat eonni dan woobin oppa bergandengan tangan menuju parkiran di ikuti Yoona dan Luhan yang juga bergandengan tangan, dan setelah diketahui ternyata ada seorang fans yang mendengar saat woobin oppa mengajak Luhan dan Yoona untuk double date bersama kalian. Oleh karena itu fans menyimpulkan bahwa kalian berpacaran! Apa penjelasanku kurang jelas?” Seohyun sedikit mengambil nafas karena jujur saja ketika menjelaskan panjang lebar ia berbicara sangat cepat dan memang itu salah satu keahlian Seohyun untuk berbicara tanpa ada jeda sedikitpun.

Wajah Taeyeon terlihat datar tetapi dalam otaknya ia mencerna perkataan Seo tadi, hingga matanya kembali membulat saat menyadari sesuatu, “APA???! JADI ITU SEMUA SUDAH TERSEBAR?” Teriak Taeyeon sehingga membuat yeoja yang berada disamping kanan dan kirinya itu menutup kuping mereka sedangkan mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang disekitar situ sontak menatap Taeyeon karena teriakannya. Taeyeon menutup wajahnya menyadari apa yang baru saja dilakukannya, itu sangat memalukan!

Kegiatan mereka bertiga yang membicarakan tentang double date Taeyeon semalam dengan terpaksa harus berakhir karena seorang mahasiswa menyampaikan pesan dari Shim Saseongnim untuk menemuinya saat itu juga.

Taeyeon,Tiffany dan Seohyun sedikit heran ada apa mereka dipanggil. Jarang sekali Shim saseongnim mau bertemu dengan mereka kecuali ada hal yang penting sekali. Shim Saseongnim adalah seorang dosen kesenian, selain itu ia juga pandai dalam mengaransemen bahkan menciptakan lagu.

Saat ingin memasuki ruangan Shim saseongnim, secara tidak sengaja mereka bertiga berpapasan dengan Jessica yang baru saja keluar dari ruangan tersebut. Taeyeon dan Seohyun tersenyum tetapi Tiffany tidak menampakkan ekspresinya sama sekali, sedangkan Jessica tak membalas senyuman dari Taeyeon dan Seohyun. Itu sudah menjadi hal yang lumrah untuk mereka.

“Oh, kalian sudah datang? Duduklah.” Shim saseongnim mempersilahkan ketiga yeoja tersebut untuk duduk disofa lalu pria paruh baya itu berdiri dari meja kerjanya dan menghampiri ketiganya.

“Jadi begini…. kurang lebih dua bulan lagi, kampus kita akan mengadakan sebuah event besar. Event ini dibuat dalam rangka kerjasama kampus kita dengan salah satu perusahaan musik terbesar di Korea Selatan, perusahaan tersebut akan mencari beberapa orang yang memiliki talenta dan akan menjadi training atau bahkan bisa langsung didebutkan oleh agency tersebut.” Shim Saseongnim menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan perkataannya sedangkan ketiga yeoja yang berada dihadapannya masih tetap fokus mendengarkan kelanjutan kalimat dosen itu.

“Event ini bebas diikuti oleh siapapun yang berminat menunjukkan bakatnya, hanya saja pihak agency meminta langsung kepadaku agar kalian bertiga ikut berpartisipasi dalam event ini. Dan untuk itu, aku telah menyiapkan dua buah lagu karyaku sendiri. Aku ingin kalian menyanyikan kedua lagu ini.” Ucap Shim saseongnim lalu menyerahkan dua lembar kertas melody kepada masing-masing dari mereka. Taeyeon, Tiffany dan Seohyun mengambil kertas tersebut dan yang pertama mereka amati adalah judul dari kedua lagu tersebut.

“Kalian bisa mempelajari dulu lagunya, aku sudah membagi part-part untuk kalian dalam lagu itu. kalian pasti sudah bisa mengetahui genre kedua lagu tersebut. Lagu yang berjudul twinkle itu sedikit cepat dan bersemangat sedangkan lagu baby step bermelody lebih slow.” Shim saseongnim kembali menjelaskan sembari ketiga yeoja itu mengangguk-angguk tanda mengerti sambil tetap melihat bait demi bait dari lagu tersebut.

“Dan oh! Satu lagi, kalian bertiga juga harus menambah unsur dance kali ini. Dan juga akan ada beberapa mahasiswa lain yang akan menjadi backing dancer kalian nanti.” Sontak ketiga yeoja itu menatap kearah Shim saseongnim sambil mengkerutkan dahinya, selama ini ketika tampil mereka selalu menambahkan unsur dance pada setiap lagu yang mereka cover hanya saja memang mereka belum pernah dance dan ditemani backing dancer.

“Ah.. jweseonghamnida.. Tapi, kalau boleh tau siapa yang akan menjadi backing dancer kami nantinya?” Tanya Taeyeon sedikit penasaran. Shim saseongnim mengangguk tanda mengerti dengan pertanyaan Taeyeon. “Aku juga masih mencarinya, jadi untuk saat ini kalian menguasai lagunya saja dulu. Untuk dance nanti akan kusampaikan lagi pada kalian.” Kali ini balik Tae,Tiff,Seo yang mengangguk tanda mengerti jawaban dari dosen kesenian itu.

“Baiklah, kalau begitu sekarang kalian boleh kembali ke kelas masing-masing. Secepatnya aku akan memberitahu kalian tentang dance nya.” Setelah itu, Taeyeon, Tiffany dan Seohyun membungkukkan badannya lalu berlalu dari ruangan Shim saseongnim.

***

Selama seminggu terakhir, Taeyeon Tiffany dan Seohyun fokus kepada satu lagu yang berjudul ‘twinkle’ dan untuk sementara mereka masih berlatih vokalnya dulu. Untuk lagu yang satunya lagi, mereka belum sempat berlatih.

“KIM TAEYEON! SEO JOO HYUN!” Teriak Tiffany menggema yang mungkin bisa kedengaran seantero kampus. Dua objek yang menjadi teriakan Tiffany hanya menoleh sambil mendelik kesal melihat tingkah Tiffany yang sedang berlari menghampiri mereka sambil memegang kertas melody tanpa mempedulikan orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya

“Mworagu?” Ucap Taeyeon datar tanpa ekspresi ketika si pemilik eyesmile itu telah tiba di hadapannya dan Seohyun.

Tiffany mengambil nafas sebentar lalu kemudian menunjuk suatu lirik pada kertas melody yang ia pegang dan memperlihatkannya secara bersamaan kepada Taeyeon dan Seohyun. “Lihat ini.” Ucapnya. Seohyun memperhatikan apa yang gadis berambut merah itu perlihatkan kepadanya dan Taeyeon, sedangkan Taeyeon masih tetap memandang datar kearah kertas tersebut.

“Mwo? Ke-ke-kenapa ini bisa terjadi? Apa Shim Saseongnim mengetahui hal ini?” Kejut Seohyun setelah memperhatikan kertas itu secara baik-baik, sedangkan Taeyeon kembali mendelik kesal melihat tingkah dua orang disamping dan dihadapannya yang sangat tidak masuk akal. Pasalnya, mereka terlalu melebih-lebihkan sebuah lirik pada lagu ‘baby steps’ dimana lirik itu adalah ‘somebody help me. Somebody help me.’ Dan lirik itu ternyata dinyanyikan juga oleh Taeyeon.

“Kalian berlebihan, itu hanya kebetulan,pabo!”

“Jadi kau sudah melihat part itu?” Tiffany menatapnya penuh tanya di ikuti oleh Seohyun.

“Sudah dari semenjak pertama kali aku mendapatkan kertas melody ini, aku sudah melihatnya. Aku juga sempat kaget melihat part itu, tapi kurasa itu sebuah kebetulan.” Jelas Taeyeon.

Seohyun dan Tiffany hanya mengangguk. “Ya, ya. Ini sebuah kebetulan.” Ucap Seohyun lemah, tetapi tidak sampai situ. Tiffany melanjutkan perkataan Seohyun, “Sebuah kebetulan bahwa Shim Saseongnim mengetahui kau menyukai somebody-mu itu.” Sepersekian detik setelah Tiffany mengucapkan kalimat itu, ia sudah berlari dikarenakan Taeyeon sudah meneriakinya dan melemparkan tatapan sinis padanya. Sedangkan Seohyun hanya berjalan santai melihat kejadian itu sambil membatin, “kurasa diantara kami bertiga, akulah yang paling waras.”

***

Taeyeon berdecak kesal keluar dari ruang latihan, tak lupa ia membanting pintu. Ia merutuki dirinya sendiri, menurutnya kejadian tadi terlalu berlebihan dan ia terlalu bersikap egois dalam hal ini.

-FLASHBACK-

“one, two, three, four, five, six, seven, eight. One, two, three-”

“Ah sudahlah aku tak mau melakukannya lagi!” Taeyeon menangkis tangan Luhan. Saat ini Taeyeon, Tiffany dan Seohyun sedang melakukan latihan dance bersama tiga orang namja yang sudah menjadi pilihan Shim saseongnim untuk menjadi backing dancer mereka. Dan ketiganya adalah Luhan,Yixing dan Kai hoobae mereka yang dikenal memang sangat berbakat dalam bidang dance.

Saat sedang latihan gerakan couple untuk lagu baby steps, Taeyeon tiba-tiba menghentikan latihan itu secara sepihak. Dari awal memang ia tidak setuju jika harus dipasangkan dengan Luhan, dikarenakan ia telah mencoba melupakan namja itu tetapi mengapa mereka harus dipasangkan kembali? Tiffany dan Seohyun mengetahui hal itu, hanya saja mereka berdua membujuk Taeyeon untuk tidak memikirkan egonya dan tetap fokus pada event yang akan terlaksana.

“Taeyeon.. Kita sudah dipertengahan jalan. Tolong jangan seperti ini.” Bujuk Tiffany mencoba meyakinkan Taeyeon di ikuti Seohyun disampingnya, “Eonni sudah bekerja keras, apa eonni mau menyia-nyiakannya seperti ini?”

Ketiga namja itu hanya bisa diam melihat ekspresi Taeyeon yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Dimata mereka, Taeyeon merupakan gadis imut yang tak pernah menunjukkan kesedihannya pada orang lain. Memang waktu dulu saat Taeyeon menjadi pembimbing kelima namja tak tau aturan itu, Taeyeon seringkali bahkan setiap saat bersikap tegas pada mereka, tapi mereka belum pernah melihat Taeyeon seperti sekarang ini. Mukanya yang merah padam menunjukkan ekspresi ketidaksukaan.

“Tapi aku tidak menyukainya! Aku tidak menyukai menjalani semua ini DENGANNYA!” Teriak Taeyeon menekankan pada kata terakhirnya sambil menunjuk namja yang berdiri dsamping Kai, yaitu Luhan. Luhan membulatkan matanya mendapati namanya disebut-sebut. Bukan hanya Luhan, keempat orang lainnya juga ikut kaget mendengar penuturan Taeyeon.

Luhan memberanikan diri maju selangkah, “Su-su-su-sunbae… ti-tidak me-me-menyukai-ku?” Ucapnya sembari menunjuk diri sendiri, hasilnya ia mendapat tatapan tajam dari Taeyeon.

“Ne! Aku tidak menyukaimu! Ah, bukan tidak menyukaimu. TAPI AKU MEMBENCIMU!” Teriak Taeyeon dan tidak melepaskan tatapannya dari Luhan, matanya memerah. Jujur saja ada sedikit penyesalan dalam hati Taeyeon mengucapkan kalimat itu.

“Taeyeon!” Teriak Tiffany sesaat Taeyeon telah berlari keluar dari ruang latihan itu sambil mengejarnya.

“Maafkan sikap Taeyeon eonni” Ucap Seohyun membungkuk kepada Luhan dan dua namja dibelakangnya kemudian berlari mengikuti Tiffany.

-FLASHBACK END-

Taeyeon mendudukkan dirinya di atas rerumputan tepat dihalaman depan kampus, suasana kampus saat ini sudah sepi dikarenakan waktu yang sudah mulai senja berganti malam. Airmatanya mengalir menyadari kebodohannya tadi, tapi ada separuh dari dirinya yang mengatakan bahwa ia melakukan hal yang benar. Taeyeon mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghapus airmatanya.

“Taeyeon” Taeyeon berbalik menatap siapa yang memanggilnya, kemudian ia tersenyum lalu bangkit berdiri menghadap kepada sang pemilik suara, Taeyeon sangat kenal suara itu. Kim Woobin.

Woobin mengkerutkan dahinya melihat kedua mata Taeyeon yang sembab, “Kau menangis?” Belum sempat Taeyeon menjawab pertanyaan woobin, kedua yeoja dari arah berlawanan menghampirinya, Woobin mengikuti mata Taeyeon yang menatap kearah Tiffany dan Seohyun.

“Taeyeon, apa yang kau lakukan?” Ucap Tiffany tergesah-gesah. Woobin yang sangat mampu membaca suasana, lalu memundurkan dirinya sedikit tetapi tetap fokus akan kelanjutan percakapan ketiga yeoja tersebut.

Hening. Taeyeon tak berusaha mengeluarkan suaranya sedikitpun. “Eonni, dia sangat terpukul akan ucapanmu.” Woobin yang mendengar pernyataan Seohyun barusan mengkerutkan dahinya tanda ia penasaran siapa yang dimaksud Seohyun, tapi ia tak berniat mengganggu jalannya percakapan itu.

“Aku lebih terpukul darinya.” Ucap Taeyeon dengan tatapan kosongnya menatap kearah Seohyun. Sedangkan Tiffany hanya mendercak.

“Jangan membawa urusan pribadimu dalam hal ini, Kim Taeyeon.” Woobin semakin tidak mengerti mendengar ucapan Tiffany, tapi ia tetap diam menunggu reaksi Taeyeon.

“Lalu aku harus memendam ini terus-terusan?” Sekarang, giliran Tiffany yang mendapat tatapan dari Taeyeon. Tatapan sinis lebih tepatnya. Suasana kembali hening sebelum Taeyeon melanjutkan ucapannya.

“Aku harus bersikap biasa saja didepannya seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi? Lalu bagaimana dengan hatiku? Aku harus membiarkannya sakit terus-terusan karena tidak bisa menghilangkan rasa ini?” Airmata telah membasahi kembali kedua pipi Taeyeon, Woobin membulatkan matanya. Jarang sekali ia melihat Taeyeon menitikkan airmatanya.

Taeyeon menghela nafas sejenak lalu kembali lagi melanjutkan ucapannya dengan airmata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya. “Terimakasih kalian telah memperhatikanku dan berusaha membuatku tegar, tapi aku butuh pengertian kalian. Bagaimana seandainya kalian berada diposisiku? Saat kalian sudah berusaha mati-matian untuk menghilangkan perasaan yang sudah lama kalian simpan kepada seseorang yang bahkan untuk melihatmu pun kemungkinannya sedikit. Disaat kalian sudah berhasil menghilangkan rasa itu perlahan-lahan, kalian harus dipertemukan kembali dengan orang itu tetapi dengan statusnya yang sedang menjalin hubungan dengan yeoja lain. Apa kalian masih bisa bersikap biasa saja? Disaat kalian dituntut untuk melakukan sesuatu hanya berdua dengannya, apakah rasa itu bisa hilang? Aku tidak mempermasalahkan dia menjadi backing dancer dengan kita, tetapi mengapa aku harus dipasangkan dengannya? Bagaimana aku menghilangkan rasa ini jika ia terus berada didekatku dan membuatku selalu merasa bahwa aku mempunyai kesempatan bersamanya? Itu hal yang sangat bodoh! Tolong, mengerti aku.” Taeyeon menghentikan ucapannya, ia tertunduk sejenak. Woobin sudah mengerti apa yang dibahas oleh ketiga yeoja itu, ia mengerti perasaan Taeyeon saat ini. Tiffany dan Seohyun menatap iba kearah Taeyeon, mereka merasa bersalah tak memikirkan perasaan Taeyeon.

Taeyeon mengangkat kembali wajahnya lalu menatap Tiffany dan Seohyun “Aku hanya ingin menghilangkan perasaan ini. Perasaan yang menyiksaku.” Taeyeon melukiskan senyum diwajahnya tapi butiran-butiran air itu terus membasahi pipinya. Secara bersamaan Tiffany dan Seohyun menghambur pelukannya kedalam pelukan Taeyeon, sedangkan woobin hanya tersenyum penuh arti menyaksikan pemandangan didepannya.

Sementara itu, diwaktu yang sama dan di tempat tidak jauh dari Taeyeon,Tiffany,Seohyun dan Woobin berpijak, ada seseorang lagi yang menyaksikan dan mendengarkan semua ucapan Taeyeon. Matanya berkaca-kaca mendengar seluruh penuturan dari Taeyeon, penuturan yang mampu membuat hatinya merasa kepedihan yang luar biasa. “Jebal… jangan menghilangkan perasaan itu, Sunbae. Aku mencintaimu.” Batin namja itu sembari berjalan pergi berusaha menyeka airmata yang membasahi pipinya, Xi Luhan.

***

Malam harinya, di halaman belakang rumah keluarga Xi telah berkumpul lima orang namja yang tak lain adalah anak tunggal keluarga itu dan keempat orang sahabat baiknya. Luhan mengundang keempat temannya untuk menceritakan kejadian yang tadi ia lihat di halaman depan kampus, bahkan ia juga menyampaikan dengan sangat detail apa yang dikatakan Taeyeon dan tentang perasaan yeoja itu kepadanya.

“Jadi.. Taeyeon sunbae menyukaimu?” Ucap Sehun dengan tampang polosnya.

“Kalau tau akhirnya jadi begini, kau tak perlu berpacaran dengan Yoona sunbae.” Lanjut Chanyeol sambil membuka bungkus kacang dan melahapnya.

“Seandainya aku tau dari awal, aku tak akan menyia-nyiakannya, bodoh!” Ucar Luhan mendelik kesal merasa frustasi dengan semua ini. Ya, ternyata perasaan Taeyeon terbalaskan oleh Luhan. Bahkan bisa dibilang, mungkin Luhan yang lebih dulu jatuh hati kepada Taeyeon. Entah darimana awalnya Luhan bisa menyukai Taeyeon, tapi awal dia melihat gadis mungil itu adalah di depan gerbang universitas mereka. Luhan sempat berfikir bahwa Taeyeon adalah mahasiswa baru yang berarti seumuran dengannya, tapi mendengar seseorang memanggil Taeyeon dengan sebutan sunbae ia baru tau kalau gadis itu merupakan seniornya.

“Kalau menurutku, lebih baik kau putuskan saja Yoona sunbae.” Perkataan Kai barusan berhasil membuat keempat namja lainnya melemparinya kacang masih utuh dengan kulitnya. Ya, perkataannya sedikit kurang ajar. “Yak! Apa yang kukatakan salah?huh?” Lanjut Kai membela diri.

“Tentu saja kau salah pabo! Kau tidak boleh mempermainkan perasaan yeoja meskipun kau tau yeoja yang menyukaimu membalas perasaanmu!” Ucap Chanyeol yang siap memberikan kacang attack lagi kepada Kai.

“Aku tidak egois, apa kau mau hidup terus-terusan dengan wanita yang tak kau cintai itu dan disisi lain kau membuat wanita yang juga mencintaimu menderita karena kau bersama orang lain?” Seketika hening mendengar kalimat Kai barusan, Sehun dan Yixing ikut manggut-manggut tanda ia setuju dengan pernyataan itu. Bahkan kacang yang Chanyeol siap untuk layangkan kewajah Kai terjatuh dengan sendirinya.

“Sekarang, aku tanya padamu Xi Luhan. Apakah selama berpacaran dengan Yoona sunbae, perasaan sayangmu padanya mulai muncul?” Luhan menatap kosong kearah Kai. Jujur, ia tak tau harus menjawab apa pertanyaan Kai barusan. Ia membungkam, mengingat kejadian malam itu sewaktu Yoona menghampirinya.

-FLASH BACK-

“Luhan.. Xi Luhan.. Chamkamman-yo” Dengan terpaksa Luhan memberhentikan langkahnya menuju parkiran ketika ia mendengar suara seorang yeoja memanggilnya. Luhan berbalik mendapati Yoona, salah satu sunbaenya sedang berlari kecil kearahnya.

“Ne? Ada apa sunbae?” Jawab Luhan tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

“Err… ada.. ada yang ingin kuberi tahu padamu, ngghh.. Tapi aku mohon kau jangan membenciku.” Luhan mengkerutkan dahinya mendengar perkataan sunbaenya yang terdengar gugup itu.

“Katakan saja, aku tak akan membencimu, Sunbae.” Ucap Luhan setenang mungkin sambil memperlihatkan angel smilenya.

“Begini.. dari awal kau masuk dikampus ini… aku sudah memperhatikanmu.. dan kurasa…..” Yoona menggantungkan kalimatnya. Ia tak tau harus bagaimana menyampaikan perasaannya kepada namja baby face didepannya, Yoona menghela nafasnya sambil memejamkan matanya lalu meremas tangannya yang sudah keringat dingin dan memantapkan hatinya. “Aku menyukaimu. Xi Luhan-ssi.” Ucap Yoona tegas sambil berusaha menatap kedua mata bulat Luhan.

Luhan tersontak kaget mendengarkan penuturan tiba-tiba dari Yoona, jujur saja ia memang menyukai sifat sunbaenya yang terbilang periang dan mudah bergaul itu. Tapi sayangnya, ia sudah tertarik dengan salah satu sunbaenya yang lain.

Sontak Luhan menggenggam kedua tangan Yoona, mencoba menjelaskan semuanya. “Sunbae… Jweseonghaeyo. Tapi… Tapi aku sudah menyukai orang lain. Ini bukan berarti aku tidak menyukaimu, tapi yeoja itu telah-”

“Jebal.. Aku tau kau tak semudah itu membalas perasaanku. Tapi aku mohon, bisakah kau menerimaku? Aku sudah terlanjur jatuh hati padamu. Lagipula, apa yeoja yang kau maksud itu juga menyukaimu?” Ujar Yoona, ia memutuskan perkataan Luhan dan mencoba meyakinkan pria itu bahwa ia sangat menyukainya. “Lihatlah aku yang sudah jelas-jelas ada didepanmu. Aku berjanji tak akan menyakitimu, karena aku terlalu menyukaimu..” Lanjutnya.

Luhan semakin kaget mendengar penuturan Yoona barusan, memang ada benarnya bahwa kemungkinan besar sunbae yang ia sukai itu tak membalas perasaannya. “Tapi sunbae..” Luhan menggantung ucapannya mencoba mencari cara agar tidak menyakiti sunbaenya itu.

“Aku yakin kau bisa menyukaiku, seiring dengan berjalannya waktu.” Perkataan itu membuat Luhan terdiam dan melepaskan genggamannya pada kedua tangan Yoona, ia tak tau harus menjawab apa. Benarkah perasaan itu akan tumbuh? “Ne. Baiklah akan ku coba.” Ucap Luhan akhirnya yang berhasil membuat Yoona menghamburkan diri kedalam pelukan Luhan.

“Kalau begitu sekarang kau pulanglah, sampai bertemu besok.” Ucap Yoona melepas pelukan sepihaknya kemudian berlari menjauhi Luhan. Malam ini, ia terlalu bahagia. Meskipun namja itu tak menyukainya, ia akan berusaha keras membuat agar Luhan menyukai dirinya.

-FLASHBACK END-

Luhan masih terdiam mendengar pertanyaan Kai barusan.  “Bahkan kau tak bisa menjawabnya. Ck.” Ujar Kai memecah keheningan Luhan, dapat terdengar penyesalan Kai terhadap Luhan dalam kalimatnya.

“Aku memang tidak bisa menyukainya. Karena pada dasarnya hanya Taeyeon sunbae yang berhasil menarik perhatianku.” Ucap Luhan akhirnya lalu menghela nafas.

“Kalau begitu, jangan menyiksa perasaanmu. Katakan pada Yoona bahwa kau tak bisa menyukainya. Saat ini kau tidak hanya menyiksa perasaanmu sendiri, tapi kejadian tadi memberitahumu bahwa kau juga menyiksa Taeyeon sunbae.” Ucap Yixing yang sedari tadi hanya diam mendengar percakapan Luhan dan yang lainnya. Luhan mengangguk mengerti, ia kembali teringat saat Taeyeon menangis.

“Tapi…. chamkamman-yo. Bukankah kau mengatakan bahwa tadi sore saat kau melihat kejadian itu, kau juga melihat…. Woobin hyung?” Kai,Chanyeol,Luhan dan Yixing baru menyadari apa yang di ucapkan Sehun barusan. “Bukankah mereka berpacaran? Lalu mengapa Taeyeon sunbae mengatakan itu semua dihadapannya?” Chanyeol melanjutkan ucapan Sehun, ia mulai penasaran.

“Bagaimana reaksi Woobin hyung saat mendengar penuturan Taeyeon sunbae? Apa kau melihatnya?” Kai ikut penasaran dan semakin mengintrogasi Luhan.

“Aku tidak melihatnya begitu jelas, cuman sewaktu Tiffany dan Seohyun memeluk Taeyeon, woobin Hyung ikut tersenyum.” Ucap Luhan polos mencoba mengingat-ingat apa yang dilihatnya.

“Sudah jelas.” Respon Yixing yang berhasil membuat keempat namja lainnya menatap kearahnya seolah bertanya-tanya –apanya yang sudah jelas?- “Sudah jelas bahwa Taeyeon sunbae dan Woobin hyung tidak berpacaran.” Lanjut Yixing tersenyum puas.

“Lalu kalau tidak berpacaran, apa hubungan mereka? Mengapa mereka bisa sedekat itu?” Kelihatan sekali, bahwa Chanyeol yang paling penasaran akan teka-teki ini/?

“Kau salah, Yixing-ah. Mereka memang berpacaran, sewaktu woobin hyung mengajakku dan Yoona untuk makan malam bersama, aku mendengar eomma dari Taeyeon sunbae mencarinya dan sangat merindukan woobin. Bukan hanya itu, sewaktu di restoran Woobin hyung bahkan mengetahui seluruh tentang apa yang disukai dan tidak disukai oleh Taeyeon sunbae. Tidak mungkin mereka hanya berteman kalau sudah sedekat itu.” Ucap Luhan melemah. Sehun,Chanyeol dan Yixing menatap iba kearah Luhan, sedangkan Kai menampakkan senyum smirknya tanda ia memikirkan sesuatu.

“Jangan-jangan….” Ucap Kai yang sontak mengambil perhatian keempat namja lainnya. “Jangan-jangan kasus Taeyeon sunbae dan woobin hyung sama dengan kasusmu dan Yoona sunbae. Bisa jadi Woobin hyung mati-matian memohon kepada Taeyeon sunbae untuk menjadi kekasihnya karena ia sudah terlalu menyukai Taeyeon sunbae. Ya, bisa jadi.” Lanjut Kai puas dengan perkataannya.

“KIM JONGIN!!!” Sekali lagi, Kai mendapat kacang attack dari keempat temannya dikarenakan perkataannya yang sama sekali tidak masuk akal.

Malam itu berlalu dengan belum pecahnya teka-teki kasus hubungan Woobin dan Taeyeon, juga dengan kasus bagaimana agar Luhan bisa memutuskan hubungannya dengan Yoona tanpa harus menyakiti gadis itu.

TBC.

 

Author Note : Halooooo^^ aku author freelance baru disini, dan ini adalah karya pertamaku yang aku posting. Dulunya aku hanya suka baca fanfic, tapi aku mulai memasuki dunia menulis fanfic/? Oh iya, tau woobin kan? Itu yang ada di poster, ntah kenapa aku sangat suka melihat tampang woobin, makanya sewaktu membuat ff ini aku selipin woobin sebagai salah satu peran utama. Untuk lanjutannya, aku usahakan secepatnya di publish^^ Mohon dukungannya guys! Gomawo.

33 thoughts on “[Freelance] Multichapter : Somebody help me! (Chapter 1)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s