Slipped (Chapter 6) [Full Version]

slipped new poster

Slipped (Chapter 6)

[Full Version]

written by Summer

Main Cast: EXO-K’s Oh Sehun, SNSD’s Kim Taeyeon, Actress Kim Sohyun, and EXO-K’s Byun Baekhyun || Sub Cast : SNSD’s Sunny as Lee Sunkyu, f(x)’s Luna as Park Sunyoung, Choi Ji Hyun (OC) as Sehun’s Mom, and Oh Hye Jin (OC) as Sehun’s Sister  ||Genre: Romance, Friendship, and School-Life|| Length: Chapter || Rating: PG-13 || Disclaimer: Inspired from my own experienced and Movie : Flipped ||

[]

[]

Warning Typo !

Don’t be Plagiator !

Dont’ Bashing Please !

 

“Oh ya, omong-omong aku minta maaf karena bulu-bulu Picco membuat alergimu kambuh.” Sudut mata Taeyeon menatap Baekhyun yang sedang sibuk dengan potongan panekuk-nya. “Besok-besok kita mengerjakan di teras saja atau kalau tidak kita pindah ke rumahmu ?”

Baekhyun menggerak-gerakkan jari telunjuknya, menolak. “Kau jangan merasa tak enak hati hanya karena itu. Aku tak apa, sungguh.” Ujarnya meyakinkan. Taeyeon mengangguk setuju, namun Baekhyun masih belum menyelesaikan kata-katanya. “Lagipula kucingmu lucu-“

Taeyeon hanya tersenyum samar mendengar pujian Baekhyun tentang Picco, kucingnya.

 “-sama seperti pemiliknya”, imbuh Baekhyun sembari menatap Taeyeon dengan bola matanya yang hampir kecoklatan.

Sepotong panekuk yang ditusuk dengan garpu oleh Taeyeon, hampir saja terjatuh ke lantai kalau ia tak sigap menaruhnya lagi di piring. Taeyeon menundukkan wajahnya yang memerah dan sesekali melirik Baekhyun yang nampak tenang saja memakan panekuknya.

Ia salah tingkah. 

                                                **************

“Dia bilang aku lucu seperti Picco.”

Sunkyu yang sedang berjalan sembari mengunyah keripik kentangnya langsung tersedak dan membuat sekitar mulutnya penuh dengan remah-remah. Ia terbatuk-batuk sementara Taeyeon memukul punggungnya dengan tangan. “D-Dia bilang begitu ?” serunya tak percaya.

Taeyeon menurunkan tangannya dari punggung Sunkyu dan mengangguk pelan. “Aneh sekali, eh ?” Ia berjalan dengan kening berkerut, tak menghiraukan muka Sunkyu yang merah karena hidungnya kemasukan remah keripik. Bola mata Taeyeon bergerak memandangi meja-meja kayu di pinggir jalan yang penuh dengan para siswa (mereka semua sedang memanfaatkan jaringan internet gratis milik sekolah saat istirahat) dan bertanya, “Menurutmu kenapa dia berkata seperti itu ?”

Sunkyu yang berjalan cepat untuk mengejar Taeyeon memutar bola matanya tak percaya. “Memangnya apa lagi ?” Ia melihat ekspresi wajah Taeyeon yang masih tak mengerti dengan wajah polos dan mendengus kesal. “Dia menyukaimu, tentu saja !”

Iris mata Taeyeon membulat tak percaya. “Dia menyukaiku ?” Ia terdiam membuat jeda sejenak, “Byun Baekhyun ?” Taeyeon berjalan pelan dan bergumam sendiri. “Tapi  . . . itu tak mungkin. Kita kan baru dekat akhir-akhir ini.” Ia bergumam lagi,  “Ah mungkin karena aku memang lucu dan bukan karena dia menyukaiku.”

Sunkyu memutar bola matanya. “Sekarang dengarkan aku.” Ia memutar bahuTaeyeon dengan satu tangannya yang sudah bersih dari remah keripik. “Jika ada seorang laki-laki yang bersikap baik padamu, tak jarang mencuri pandang kearahmu, dan sering memujimu dengan kata-kata manis, menurutmu apa yang sedang ia rencanakan ?”

Taeyeon terdiam lama bahkan dengan kening yang berkerut saking kerasnya ia berpikir. “Ehm …,” ia bergumam berusaha mencari jawaban yang benar, “mungkin ia sedang berusaha … berteman ?” ujarnya ragu-ragu.

“Berteman ?” dengus Sunkyu dengan ekspresi tak percaya. Ia yang ada disebelah Taeyeon mengerang frustasi melihat betapa lamban dan tidak peka sahabatnya itu. “Kau sudah berapa lama menjadi remaja sih ?” Tangannya bergerak menjambak rambutnya dengan frustasi. “Baekhyun menyukaimu saja masak kau tidak sadar ?” serunya berapi-rapi.

“Pelankan suaramu !” sahut Taeyeon dengan muka memerah. Beberapa orang meliriknya dengan pandangan ingin tahu. Tangannya bergerak membuat isyarat meminta maaf dan permisi kepada orang-orang.

Tapi Sunkyu hanya menggerakkan bahunya santai. “Apa hatimu hanya tetuju pada Sehun hingga orang lain terang-terangan menyukaimu pun kau tak tahu ?”

Hanya butuh waktu dua detik untuk membuat Taeyeon menghentikan langkahnya dan menatap Sunkyu dengan tajam. “Aku tak menyukai siapapun. Bahkan Sehun pun tidak,” balasnya dingin. Ia berjalan cepat dengan buku yang yang ia peluk erat dan meninggalkan Sunkyu yang ada di belakangnya.

“Kasian Baekhyun.”

*********************

Selama seharian ini Taeyeon memilih untuk menutup mulut dan tak sekalipun mengajak Sunkyu bicara. Ia masih marah karena Sunkyu selalu mengait-ngaitkan segala sesuatu dengan Sehun. Dia benci dengan itu. Dia benci usahanya yang selama delapan tahun ini gagal hanya karena Sunkyu berusaha untuk membuat nama Sehun menjadi pelaku utama di dalam kehidupannya.

Dan jangan berfikir kalau ia menyukai itu.

“Kau bertengkar dengan Sunkyu ya ?”

Sunyoung yang tempo hari sempat hampir pingsan di dalam perpustakaan karena teriakan Sehun dan Taeyeon, berbisik dari ujung meja. Taeyeon berusaha memberikan senyuman meski pada akhirnya terlihat ganjil dan seperti singa yang menyeringai kesakitan. “Hanya masalah kecil,” ujarnya menenangkan.

Sunyoung menangkat bahunya sekilas dan berkata, “Well, kalau begitu aku tak mau ikut campur.” Ia menoleh dan mengulum senyum kepada Taeyeon.

Setelah itu Taeyeon membiarkan Sunyoung sibuk dengan dunianya sendiri sementara ia berusaha menata bukunya kedalam tas dan keluar untuk mengambil seragam olahraga yang ada di dalam loker. Dari sudut matanya ia bisa melihat Sunkyu terus saja menatap kepergiannya dengan tatapan menyesal.

Loker di gedung timur dikhususkan untuk kelas 11.1 sampai kelas 11.8 yang ada disana. Lokernya terbuat dari besi dan berwarna merah dengan setiap murid memegang kunci lokernya masing-masing. Biasanya murid-murid hanya menyimpan baju olahraga di dalam loker ini atau alat mandi dan kosmetik lainnya. Namun beberapa murid lain memilih untuk memindahkan rak buku pelajarannya ke dalam loker. Jadi mereka tak punya alasan untuk ketinggalan buku, meski pada akhirnya mereka jadi tak bisa belajar di rumah (Taeyeon beberapa kali curiga Sunkyu juga seperti itu, karena temannya itu sering kali tak mengerjakan tugas rumah).

Taeyeon mengambil kunci loker miliknya yang digantungi dengan boneka dookong kuning dan membukanya perlahan. Ketika pintu lokernya terbuka, hal yang ada di dalam lemari pribadinya itu membuat bola matanya membulat dan keningnya berkerut dalam. Biasanya loker itu selalu rapi dan bersih yang hanya diisi dengan seragam olahraga dan buku tebal yang malas ia bawa. Tapi kali ini lokernya jauh dari kata itu. Ada banyak sampah plastik dan dedaunan kering mengisi lokernya.

Dalam keadaan setengah sadar karena terlalu terkejut, Taeyeon yang sedang berusaha membersihkan lokernya dari tumpukan sampah asing menemukan sebuah kertas dengan tulisan yang ditulis besar-besar.

JAUHI KEKASIHKU ! ! !

KAU FIKIR KAU SIAPA ?!!!

 

Dan kertas kedua berisi,

DASAR WANITA JALANG !                 

Taeyeon terhenyak tak sanggup untuk berbicara. Kedua surat kaleng yang ia terima begitu menghina dan membuatnya merasa terluka. Di dalam hati ia terus bertanya-tanya siapa yang mengirimkan surat mengerikan ini padanya.

Dengan marah ia membuang semua sampah di dalam lokernya dan meremas-remas kedua surat kaleng yang ia terima. Namun sekali lagi kata-kata ‘wanita jalang’ itu masih terlihat dan ia tak bisa melupakannya.

Taeyeon membanting pintu lokernya dengan perasaan kacau dan bingung. Gara-gara surat itu ia jadi melupakan tujuan utamanya untuk mengambil seragam olahraga. Selama ia berjalan, kepalanya terus berputar-putar untuk mencari tahu siapakah yang melakukan itu dan mengirimkan surat padanya.

“Tak mungkin Sunkyu yang melakukannya,” bisiknya berulang-ulang. Ia merasa tak punya musuh dan selalu bersikap baik. “Kalau Sehun . . . . “ Taeyeon tak berani menerukan ucapannya. Apa gunanya Sehun mengataiku wanita jalang ? Aku juga tak mungkin merebut kekasihnya kan ?

Di tengah kegiatannya yang sedang melamun, tiba-tiba sebuah suara menariknya ke dunia nyata.

“TAEYEON !”

Taeyeon tersentak kaget dan mendapati tiba-tiba Sunkyu sudah berada di depannya. Ia terlalu terkejut untuk memasang ekspresi marah kepada Sunkyu. “Y-Ya ? Ada apa ?” sahut Taeyeon terbata-bata.

Sunkyu terdiam sejenak sebelum akhirnya menunduk dalam-dalam. “A-AKU MINTA MAAF !” serunya dengan suara keras dan tiba-tiba. “Tak seharusnya aku berkata seperti tadi,” imbuhnya lagi dengan nada menyesal.

Taeyeon melihat Sunkyu yang sedang meminta maaf sembari membungkukkan badannya berkali-kali hanya tersenyum lebar. Sebenarnya ia tak benar-benar marah sih, hanya sebal saja. Dan kini melihat Sunkyu benar-benar menyesal dan tak enak dengan aura marah yang dikeluarkannya membuatnya merasa geli.

Taeyeon memeluk Sunkyu dan menepuk punggung sahabatnya itu dengan lembut. “Aku juga minta maaf ya . . .” Ia melepas pelukannya dan menagku, “Aku juga salah karena marah padamu.”

Kini Sunkyu bisa memasang senyum penuh kelegaan karena pertengkarannya dengan Taeyeon berakhir sudah. “Kita sama-sama salah.” Tiba-tiba ekspresinya berubah khawatir, “Tapi kita masih bersahabat kan ?”

Taeyeon tertawa geli mendengar ketakutan Sunkyu. “Tentu saja ! Tak mungkin aku memusuhimu hanya karena masalah sepele seperti itu.” Ia mengacungkan jari kelingkingnya dan berkata, “Sahabat.”

“Sahabat,” balas Sunkyu tak kalah mantap.

Hanya butuh beberapa menit dengan sahabatnya, surat kaleng aneh tadi sudah Taeyeon lupakan.

*********************

Tugas bahasa inggris dari Guru Jung dikumpulkan seminggu sejak kedatangan Baekhyun ke rumah Taeyeon untuk pertama kalinya. Selama beberapa kerja kelompok yang terakhir bersama Baekhyun, Taeyeon tak pernah mendengar laki-laki itu membahas tentang kalimatnya yang cukup ‘mengagetkan’ beberapa hari yang lalu. Ia bersikap biasa, dan masih sama sopannya seperti dulu. Itu membuat Taeyeon merasa segan dan mengurungkan niatnya untuk bertanya. Baekhyun saja bersikap biasa, kenapa aku jadi ingin mempermasalahkannya ?

Tugas bahasa inggris yang dikerjakan Taeyeon dan Baekhyun berakhir dengan cukup keren. Mereka mendapatkan nilai A meski kelompok Jaebum-Minji mendapatkan nilai A+ dengan presentasi mereka yang spektakuler. Tapi itu tak menjadi masalah, karena di kelas bahasa inggris itu hanya dua kelompok yang mendapatkan nilai A (dan salah satunya adalah Taeyeon-Baekhyun).

“Berapa nilai tugas kelompok bahasa inggrismu tadi ?”

Tanya Taeyeon kepada Sunkyu di tengah-tengah pelajaran olahraga praktik. Guru Dong yang bertugas mengampu kelas 11.1-11.3 berteriak-teriak dari ujung lapangan dengan suara keras. Dari kejauhan murid-murid yang bisa melihat bahwa hari ini materi olahraga sudah berpindah dari bab permainan basket menuju olahraga atletik. Mereka menghembuskan nafas panjang dan mengeluh panjang-lebar. Olahraga atletik punya terlalu banyak cabang permainan dan pasti akan sangat melelahkan di hari sepanas ini.

Sunkyu memutar-mutar pinggangnya untuk melakukan pemanasan dan mendengus keras. “B” balasnya pendek. “Aku lupa melengkapi presentasiku,” imbuhnya tak senang.

“Tidak buruk,” komentar Taeyeon dengan suara pelan. Ia tak mau suaranya menyaingi volume teriakan Guru Dong dan berakhir dengan tambahan lari memutari lapangan sebanyak dua kali. “Itu lebih baik daripada kelompok Heesung-Kyungha yang mendapatkan C.”

“Tapi  . . . tetap saja buruk,” rengek Sunkyu dengan nada suara lebih tinggi. Ia benar-benar kesal karena kecerobohannyalah ia hanya mendapat coretan huruf B besar di atas buku nilai. “Kenapa sih Guru Jung pelit sekali me-“

“LEE SUNKYU, BERHENTI MENGOBROL SEKARANG JUGAA ! !”

Teriakan itu menggema, melewati gendang-gendang telinga yang tak berdosa secara paksa. Volume suaranya yang keras, sanggup membuat murid-murid hampir jantungan hanya karena mendengarnya.

Sunkyu yang menjadi obyek permasalahan memalingkan muka dan mendapati Guru Dong sedang menatapnya dengan pandangan tidak senang. Ia menundukkan kepalanya dan bergumam, “Tidak, Guru Dong, maafkan saya.”

Taeyeon yang ada disampingnya berusaha keras untuk menahan tawa saat melihat wajah Guru Dong yang merah-ungu, pertanda kalau guru itu benar-benar kesal. Taeyeon berbisik pelan, “Maaf.” Maksud dari kata-kata Taeyeon sebenarnya baik, ia hanya ingin menunjukkan penyesalannya karena membuat Sunkyu harus terkena damprat dari Guru Dong siang-siang begini. Namun bodohnya gadis itu berkata di saat yang tidak tepat. Dia berkata saat suasana masih panas dan Guru Dong . . .

“KIM TAEYEON, BERHENTI MENGAJAK MURID LAIN MENGOBROL DI TENGAH PELAJARAAAN ! ! !”

Dan Taeyeon langsung membekap mulutnya seketika.

*************

Taeyeon mengambil satu kilo plastik berisi tepung terigu dan memasukkanya ke dalam troli. Matanya bergerak untuk melihat daftar belanja buatan ibunya yang harus ia beli. “Gula pasir dan sirup mapel.“ Ia membungkuk untuk mengambil sekantung gula dari dalam kotak dan berlanjut untuk mengambil sebotol sirup mapel diatas rak.

Tadi sebelum berangkat ke sekolah, ibunya sempat meminta tolong agar putrinya itu mampir sebentar ke supermarket besar di dekat rumah untuk membeli beberapa bahan makanan sepulang sekolah. Dan Taeyeon tak pernah keberatan karena sejujurnya ia senang berada di dalam supermarket yang dingin di tengah panasnya musim panas tahun ini. Lagipula ia bisa sekalian membeli es krim kacang merah kesukaannya.

Taeyeon sedang mencocokkan barang belanja yang sudah ia ambil dengan catatan yang dituliskan ibunya sembari bergumul sendiri. Matanya menyisir tulisan ibunya yang kecil-kecil dengan mata menyipit. Sepertinya ada yang kurang. Tangannya mengaduk-aduk troli besi disampingnya untuk mencari. Ia merutuk dalam hati. Benarkan aku lupa mengambil gula jagung untuk ayah ! Ia mengintip sebentar jam dinding yang terpasang diatas rak khusus teh dan kopi dengan cepat. Sudah sore dan ia harus pulang cepat atau kalau tidak, ibunya bisa menceramahinya panjang lebar karena terlalu lama berbelanja.

Ia menggeser trolinya sedikit agar ia bisa mengambil gula jagung yang terletak di rak sisi kiri bagian atas. Tangannya menggapai-gapai dengan susah payah. Dapat ! Ia baru saja akan memasukkan ke dalam troli ketika sudut matanya menangkap sebuah kotak kardus kecil yang familiar. Pergerakannya terhenti dan ia terdiam di tempat.

“Hey, kenapa kau mengambil dua porsi puding cokelat ?”

                Kantin sekolah penuh sesak dengan anak-anak yang sedang mengambil makan siang. Anak laki-laki itu menunjukkan ekspresi wajah keruh karena mendengar pertanyaan dari gadis berkuncir kuda di depannya. Ia merengut, “Kenapa memangnya ? Aku kan suka puding cokelat. Lagipula bibi kantin bilang aku boleh mengambil puding cokelat sebanyak yang kumau.”

                Ekspresi gadis yang bertanya tadi terlihat terkejut. “Jadi kau suka puding cokelat ?” suaranya terdengar antusias. Ia berlari mendekati anak laki-laki itu. “Ceritakan padaku semua yang kau suka !”

Ragu-ragu, Taeyeon mengambil kotak kardus itu dan memasukkannya kedalam troli. Ia merogoh-rogoh saku jas sekolahnya dan menekan beberapa kali sebelum menempelkan layar handphonenya ke sisi telinga.

“Ada apa sayang ? Apa kau sudah selesai berbelanja ?” Suara di sebrang terdengar familiar. Itu suara wanita setengah baya yang telah melahirkan dan membesarkan Taeyeon sejak kecil.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya, ragu dengan hal yang akan ia katakan. Ia berdehem sebentar. “Eomma . . ., boleh aku minta tolong sesuatu ?”

“Tolong ?”

 

*************

TING TONG

Taeyeon menunggu di depan pintu dengan kaki yang diketuk-ketukkan ke lantai setelah salah satu tangannya menekan bel pintu. Dengan kemampuan pendengaran yang cukup normal ia bisa mendengar suara gesekan kaki Picco –kucing jingga besar miliknya- yang sedang berlari mengejar katak di sudut pekarangan rumahnya yang terletak di sebelah rumah ini. Ada juga suara telapak kaki yang mengenai lantai terdengar dari balik pintu. Si pemilik rumah akan datang dan dia berharap bukan . . .

Hanya sepersekian detik yang dibutuhkannya untuk merasakan angin dari dalam rumah yang menerpa wajahnya karena pintu terbuka dan melihat siapa yang membukanya. Dan ia benar-benar malas untuk berbasa-basi dengan orang yang ada di hadapannya sekarang.

Oh Sehun.

“Ada apa ?”

Suara itu datar, kesal, dan dingin dalam waktu bersamaan. Ada sedikit rasa malas yang terdeteksi disana. Benar-benar bukan tuan rumah yang baik.

Taeyeon memaksakan senyum yang tulus sebagai bentuk balasan tamu yang tahu sopan santun. Ia kesini dengan rencana dan niat yang baik tanpa harus diawali untuk bertengkar dengan Oh Sehun. “Err. . maaf mengganggumu, aku datang kesini untuk mengembalikan buku milik Bibi Oh sekaligus . . .” ia menyerahkan satu kantong kertas berwarna coklat dan sebuah buku (yang tempo hari ia pinjam) kepada Sehun, “-ini sebagai tanda terimakasih karena Bibi Oh mau meminjamkan bukunya untukku,” imbuhnya menjelaskan.

Sehun tak berkata apapun. Tangannya setengah menerima seolah masih ragu. Dan itu membuat Taeyeon was-was. Ia merasa seperti deja vu dan terlempar beberapa tahun yang lalu saat ia masih di sekolah dasar. Saat Sehun membuang bekal yang ia buat. Dan kini di depannya sikap tubuh Sehun mengingatkannya akan hal itu. Ia takut Sehun akan membuang puding cokelat yang ia buat dengan susah payah. Puding cokelat yang ia buat dengan bantuan ibunya yang memberi intruksi cara pembuatan lewat mulut. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika tiba-tiba Sehun membanting puding cokelat itu ke lantai dan ia hanya bisa melihat bagian-bagian puding yang hancur . . .

“Taeyeon ?”

Sapaan itu lembut namun efeknya cukup mengagetkan karena Taeyeon masih berkutat dengan lamunannya. Ia menoleh dengan ekpresi terkejut yang sangat terlihat.

“Bibi Oh ?”

Eomma.”

Sehun dan Taeyeon menyapa wanita setengah baya yang memakai seragam guru berwarna hitam dengan tag name Choi Ji Hyun, secara bersamaan. Choi Ji Hyun atau yang biasa dipanggil Bibi Oh oleh Taeyeon, melepas sepatu tumit hitamnya dan berjalan mendekat. “Jadi, ada apa ?” tanyanya dengan ekspresi bingung.

Taeyeon tergagap, “Ah itu . . .”

“Dia datang untuk  mengembalikan buku eomma dan memberikan ini untuk kita,” sambar Sehun cepat. Ia tak memberikan waktu bagi Taeyeon untuk bicara. Bahkan ia mengalihkan matanya dari gadis itu.

Bola mata Bibi Oh melebar sebentar, “Astaga, kenapa repot-repot ?” Ia menatap Taeyeon dengan pandangan tak suka. “Bibi jadi tak enak hati kalau seperti ini.”

Taeyeon menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Ia tersenyum samar, “Ini sama sekali tidak repot, bibi.” Ia berbicara dengan Bibi Oh namun matanya bergerak-gerak melirik Sehun yang berdiri di sebelahnya dengan ekspresi aneh. Seperti orang yang sedang berfikir keras. “Lagipula ini pertama kalinya aku membuat puding cokelat, jadi maaf kalau rasanya tidak begitu enak,” imbuhnya dengan nada malu.

Bibi Oh menghela nafas mendengar alasan Taeyeon. Ia mengambil kantung kertas cokelat yang berisi puding itu dari tangan Sehun. “Kalau begitu bibi merasa tersanjung bisa menjadi orang pertama yang mencicipi puding buatanmu.” Ia memeluk Taeyeon, “Terimakasih ya . . .”

Taeyeon tergugu di dalam pelukan hangat Bibi Oh. Ia memang dekat dengan wanita setengah baya itu dari kecil, namun ia tak menyangka Bibi Oh akan memeluknya lagi. Dan ia agak terkejut ternyata aroma Bibi Oh tidak pernah berubah. Aromanya selalu bunga krisan.

“Ka-kalau begitu aku permisi dulu,” ucap Taeyeon setelah melepas pelukannya. Ia membungkukkan badannya dan berbalik dengan gugup. Meski begitu ia masih bisa mendengar suara Bibi Oh yang menyuruh Sehun untuk membawa puding itu ke dalam. Taeyeon masuk ke pekarangan rumahnya dengan kening berkerut. Ia masih bingung dengan padangan Sehun tadi. Seolah ia sedang menilai Taeyeon seperti barang langka yang akan dijual. Ah, masa bodohlah, Oh Sehun kan memang sedari dulu aneh.

Taeyeon berjalan dengan melamun dan tiba-tiba ia baru menyadari kalau sedari tadi Picco berjalan dan menggesek-gesek tubuhnya di sekitar kakinya. Pantas saja ia merasa geli.

“Meoww. . .”

Taeyeon tertawa dan membungkukkan badannya untuk menggaruk leher Picco yang dipenuhi bulu-bulu berwarna jingga-putih. “Kau sudah makan, sayang ?”

“Meoww . . . “

Kucing jingga besar itu hanya mengeong manja sebagai balasan. Ia bergerak-gerak di sekitar tangan Taeyeon dengan malas. Taeyeon mendengus setengah tersenyum. “Dasar anak malas ! Baiklah, ayo kita makan.” Ia berjalan menuju pintu rumah diikuti Picco yang melenggang dengan ekor botolnya diangkat keatas. Wajahnya angkuh dan sombong, namun tetap saja ia kucing paling tampan seantero perumahan.

Taeyeon baru saja memikirkan untuk menemani Picco makan baru setelah itu mengerjakan tugas ketika tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Tangannya yang sedang memutar kenop pintu, terhenti dengan tiba-tiba. Omong-omong tentang makan, sepertinya ada sesuatu yang ia lupakan. Taeyeon terus mengingat-ingat di depan pintu sementara Picco mengeong-ngeong tak mengerti mengapa mereka tak segera masuk. Ia sudah lapar dan lelah berada di luar. Ia ingin makan dan tidur di bantalnya di sudut ruangan yang empuk.

Makan ? Mengapa aku terus teringat itu ya ?

                Satu menit

Dua menit

Tiba-tiba Taeyeon menepuk keningnya keras-keras. “Astaga, aku lupa memberitahu Bibi Oh sesuatu !” Ia berlari kencang menuju rumah Sehun yang ada di sebelahnya dan melupakan Picco yang sekarang tak bisa masuk kedalam rumah.

DASAR TAEYEON BODOH !

******************

Taeyeon segera berlari kembali menuju rumah Oh Sehun untuk mengambil kotak tempat puding yang ia tinggalkan. Ia memang memberikan pudingnya, tapi tidak dengan wadahnya. Ia bisa kena marah ibunya jika sampai wadah mahal itu tak kembali hari ini.

TING TONG

Jemarinya menekan bel rumah cepat-cepat. Ia bahkan lupa untuk melepas sepatunya di teras rumah. Ah, masa bodoh dengan sepatu, wadah pudingnya lebih penting ! Ia menunggu selama beberapa menit sampai akhirnya pintu itu terbuka juga.

“Taeyeon ?”

Suara itu terdengar familiar meski wajah sang empunya tertutup lapisan tipis berwarna putih bernama masker wajah. Taeyeon mendesah lega, ah, untung bukan Oh Sehun lagi yang membukakan pintu untuknya. Bisa terkena darah tinggi kalau ia melihat Oh Sehun terus menerus.

Eonni, maaf menganggu. Aku hanya ingin mengambil wadah pudingku yang ketinggalan,” ucapnya tanpa jeda.

Perempuan berumur sekitar dua puluh tahun yang bernama Oh Hye Jin itu, bergumam, “Ah, wadah puding coklat yang kau beri tadi itu ya ?” ujarnya memastikan. Taeyeon hanya mengangguk cepat-cepat sebagai jawaban. “Kau bisa mengambilnya di dapur, kurasa eomma sedang mencucinya,” imbuh Oh Hye Jin mempersihlahkan.

Taeyeon melepaskan sepatunya dan membungkuk sebentar sebelum masuk ke dalam rumah. Ia berjalan menuju dapur sementara Oh Hye Jin sudah kembali lagi ke kamarnya dengan kedua telinga tersumpal earphone. Sudah lama sekali Taeyeon tak melihat bagian dalam rumah ini. Terakhir kali ia berkunjung kesini saat berumur sebelas tahun.

Pada akhirnya, Taeyeon tak segera pergi ke dapur untuk mengambil wadah pudingnya. Melihat-lihat bagian dalam rumah keluarga Oh lebih menarik perhatiannya. Tanpa suara, ia berjalan untuk melihat-lihat meja kayu di sisi kiri ruang keluarga yang penuh dengan berbagai pajangan. Ia menundukkan badannya untuk melihat-lihat. Ada pajangan piring dari Hongkong, patung-patung porselain kecil yang berbentuk kucing, dan beberapa pigura berisi foto. Ada sebuah foto, dan ia tak bisa menahan diri untuk mengamatinya lebih dekat. Tangannya terulur untuk mengambil figura foto itu.

Itu foto Oh Sehun saat ia berumur sepuluh tahun.

Oh Sehun yang berumur sepuluh tahun mempunyai rambut yang berwarna coklat gelap dan kulit yang terlalu putih. Bahkan lebih putih daripada murid-murid perempuan yang ada di kelasnya. Ia memakai kemeja berwarna merah gelap dan jaket parasut berwarna biru tua. Sepertinya foto itu diambil saat karyawisata sekolah di kebun binatang saat musim gugur. Seingatnya, ia juga ikut karyawisata itu. Dan kalau tidak salah ia sempat berfoto dengan Oh Sehun juga (meski ia memaksanya dengan susah payah).

Tanpa sadar Taeyeon tersenyum. Ibu jarinya mengelus kaca pigura itu dengan tatapan menerawang. Saat melihat foto itu ia tersadar, bahwa ternyata Oh Sehun menempati hampir separuh dari ingatannya di masa kecil. Ia bahkan masih ingat baju apa saja yang disukai Oh Sehun dan warna apa saja yang disukai olehnya. Sebagai informasi, Oh Sehun suka sekali memakai kemeja dan kaos yang ditutup jaket dan warna favoritnya adalah biru.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu dan Taeyeon ?”

Taeyeon tersentak. Ia mendengar suara bibi Oh yang sedang membicarakannya. Ruang keluarga memang letaknya bersebelahan dengan dapur. Jadi ia bisa mendengar suara bibi Oh sangat jelas dari sini. Cepat-cepat Taeyeon meletakkan kembali pigura foto itu dan bermaksud menyudahi kegiatan melihat-melihatnya. Ia berjalan menuju dapur dengan hati berdebar. Mengapa bibi Oh membicarakannya ?

“Oh Sehun, eomma tidak pernah mengajarimu untuk menjadi anak yang bisu.”

Suara bibi Oh kembali terdengar. Dan meski wanita setengah baya itu menjaga suara untuk terdengar biasa, Taeyeon masih bisa mendengar nada mendesak di sana.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Oh Sehun pendek.

Taeyeon mengerutkan keningnya dari balik tembok. Ia memutuskan untuk tak masuk dulu ke dalam dapur dan memilih menunggu disini. Rasa penasaran di dalam dirinyalah yang membuatnya ada disini dan tak segera mengambil wadahnya. Ia ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan dan mengapa mereka membawa namanya disana.

Oh Sehun sedang duduk di meja makan dengan tangan menopang wajah. Satu tangannya bergerak untuk mengambil sepotong puding dan memasukkannya ke dalam mulut terus menerus. Di depannya, sang ibu sedang memotong-motong puding menjadi beberapa bagian yang lebih kecil.

“Dulu kalian akrab sekali.” Bibi Oh berkata dengan nada santai, “Tapi kenapa sekarang kalian seperti orang yang bermusuhan ?”

Oh Sehun mendengus keras dan hampir membuat pudingnya tersembur keluar. “Akrab ?” desisnya sinis. “Sejak kapan aku pernah akrab dengan Kim Taeyeon ?”

Taeyeon yang masih dibalik tembok mendengarnya dengan hati terluka. Dia baru sadar selama delapan tahun ia bertetangga dengan Oh Sehun dan selama dua tahun ia berusaha untuk berteman dengan Oh Sehun, tak satupun hal yang mengindikasikan bahwa ia adalah teman akrabnya. Tidak ada, bahkan sekeras apapun Taeyeon mencoba.

“Tidakkah kau merasa dia gadis yang manis ? Dia baik hati dan juga sopan, bukankah dia calon menantu yang baik ?”

Awalnya Taeyeon merasa biasa saja bahkan hampir saja terkikik senang ketika bibi Oh berkata bahwa ia adalah gadis manis yang baik dan sopan. Tapi tak lama ia hampir saja terlonjak kaget ketika tiba-tiba bibi Oh berkata bahwa ia adalah calon menantu yang baik. Calon menantu ?!

Ternyata tidak hanya Taeyeon yang merasa terkejut. Oh Sehun juga memasang ekspresi yang sama meski responnya agak terlalu berlebihan. “CALON MENANTU ?!!” serunya tak percaya. Tangannya berhenti untuk menyuapkan puding ke dalam mulut. “Eomma sedang tidak bercanda kan ?”

Bibi Oh mengambil wadah puding Taeyeon dan mencucinya di wastafel. “Kenapa memangnya ? Bukankah eomma benar ?”

Oh Sehun mendengus. “Tentu saja dia bisa jadi calon menantu yang baik asalkan tubuhnya tidak pendek-“

Taeyeon yang mendengar dari balik tembok langsung mengerutkan kening dan mengukur tingginya dengan tangan berusaha membandingkan.

“-tubuhnya kerempeng-“ Oh Sehun kembali melanjutkan.

Taeyeon yang mendengarnya semakin bingung dan mengamati tubuhnya. Apakah badanku sejelek itu hingga ia mengataiku kerempeng ?

                “-dan dadanya yang kecil.”

Seketika Taeyeon membelakkan mata dan langsung menutup dadanya dengan kedua tangan. Apa yang baru saja laki-laki bodoh itu katakan ? Dadanya kecil ?! Ia mengintip dadanya yang tertutup kedua tangan dengan alis terangkat. “Jadi bocah sialan itu juga menngamati hal-hal seperti itu ?” desisnya pelan hampir tak terdengar. Ia mendengus dan memasang ekspresi setengah jijik dan setengah kesal. Dasar laki-laki mesum !

“Oh Sehun !”

Taeyeon menyeringai senang mendengar bibi Oh membentak Sehun karena ucapannya yang tidak sopan. Ha ! Memang sudah seharusnya laki-laki itu dibentak agar bisa menjaga mulutnya. Karena sedari tadi setengah dari diri Taeyeon berpedapat bahwa sekarang ia harus mendendang bokong Oh Sehun namun meski begitu setengahnya lagi membenarkan bahwa apa yang dikatakan Oh Sehun itu benar adanya. Pendek, tubuh kerempek, dan berdada kecil. Benar-benar bukan tipe bentuk tubuh yang bagus bagi seorang perempuan.

Taeyeon masih berada di balik dapur, masih berkutat dengan pikirannya, dan mulai melupakan tentang tujuan awalnya ia kembali datang kesini. Sampai akhirnya langkah-langkah kecil yang berjalan lambat mendekatinya.

“Taeyeon ?”

*************

“Taeyeon ?”

Suara panggilan itu cukup pelan, belum terdengar hingga dari dalam dapur. Suara seorang perempuan berumur sekitar dua puluh tahun yang mengenakan kaos rumahan dan celana pendek. Seorang perempuan yang sejujurnya amat disayangi Oh Sehun namun dia tak pernah menunjukkannya.

Anak pertama keluarga Oh.

Satu-satunya anak perempuan di keluarga Oh.

Kakak perempuan Oh Sehun.

Oh Hye Jin.

Oh Hye Jin yang berjalan dengan tangan terangkat untuk mengikat rambutnya yang kusut menatap Taeyeon dengan bingung. Taeyeon seperti sedang berpikir keras dan bahkan tak mendengar panggilannya tadi. Gadis itu mendekat pelan.

“Taeyeon ?” panggilnya sekali lagi. Kali ini dengan suara lebih keras.

Taeyeon yang awalnya masih sibuk berpikir langsung tergagap dan menolehkan kepalanya dengan bingung. Bola matanya membulat melihat Hye Jin yang kini ada di depannya. Kentara sekali ia bingung. “Eonni ?”

                                                                                *************

Oh Sehun sedang memakan potongan pudingnya yang keempat dengan mata mengantuk karena mendengar ceramah dari ibunya. Bukan hal yang perlu dipusingkan, hanya ceramah lama yang diulang-ulang terlalu sering hingga ia sudah hapal apa saja yang akan ibunya katakan. Beberapa kali ia berkelana dengan pikirannya sendiri tanpa disadari oleh ibunya. Ia masih bingung dan penasaran dengan penyakitnya yang menyerangnya dan kali ini rasa penasarannya bertambah lagi. Jantungnya berdebar kencang

“Sehun, kau dengar eomma atau tidak sih ?!”

Oh Sehun yang masih makan setengah melamun langsung tergagap dan hampir saja menyemburkan tawanya ketika melihat ibunya yang sekarang menatapnya dengan pandangan jengkel dan tangan berada di pinggang. Benar-benar pemandangan yang lucu !

“Dengar, eomma, aku dengar,” gerutunya setengah jengkel.  Ia memasukkan dua potong puding ke dalam mulutnya. Di atas piring hanya tinggal separuh. Padahal tadi jumlahnya cukup banyak. Dia benar-benar mengerikan !

“Jadi, bagaimana ?” seru ibunya kali ini dengan nada suara yang lebih tenang. Barangkali beliau sudah tak lagi marah.

Sehun memutar bola matanya malas. “Apanya yang bagaimana ?”

Ibu Sehun sudah memasang ekspresi kesal lagi entah untuk ke berapa kalinya. Tapi kali ini beliau tak menunjukkan kemarahannya. Beliau masih menggunakan nada suara yang sama meski agak sebal. “Itu tentang Taeyeon, bagaimana ka-“

“Taeyeon ?”

Sehun dan ibunya seketika menghentikan obrolan mereka dan menolehkan kepala. “Taeyeon ?” seru mereka bersamaan. Mereka mendengar suara Hyejin yang memanggil nama Taeyeon. Tapi dimanakah mereka berdua ? Ibu Sehun meletakkan pisau yang tadi ia pegang dan berinsiatif untuk mencari dimanakah Hyejin dan Taeyeon. Sehun yang masih setengah bingung ikut membuntuti ibunya di belakang.

Tak cukup sulit untuk menemukan dua gadis itu. Mereka ada di balik tembok di dekat pintu dapur.  Ibu Sehun tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. “Hyejin ? Taeyeon ? Ada apa ? Apa terjadi sesuatu ?” tanyanya khawatir.

Sejujurnya Sehun benar-benar terkejut karena ternyata Taeyeon masih ada disini. Tapi ia lebih cerdik dengan pura-pura bersikap biasa dan memasang wajah tanpa ekspresi. Dan dia cukup pintar untuk melakukan itu.

Taeyeon tergagap, sulit baginya untuk bicara sekarang. Apalagi karena kegiatannya yang berusaha untuk mencuri itu dengar ketahuan. “A-ah itu bibi . . .” Sekarang ia jadi bingung dan menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.

Ibu Sehun mengerutkan keningnya bingung. “Itu ? Itu apa ?”

Hyejin yang melihat bahwa sekarang sepertinya Taeyeon tak akan sanggup untu berbicara, segera mengambil alih. “Ah, itu eomma, tadi Taeyeon datang kesini karena dia bilang, dia ingin mengambil tempat pudingnya yang tertinggal,” jelas Hyejin lancar tanpa jeda.

Ibu Sehun mengangguk-angguk paham. “Ah, tempat puding warna hijau tadi itu ya ?” ujarnya setengah memastikan, yang dibalas Taeyeon dengan anggukan kecil tak kentara. “Tunggu sebentar ya.” Ibu Sehun segera melesat ke dalam dapur dan kembali sembari membawa sebuah wadah berwana hijau milik Taeyeon.

“Nah, ini sudah bibi cuci dan bibi keringkan.” Ibu Sehun menyerahkan wadah beserta tas pembungkusnya kepada Taeyeon.

“Te-terimakasih bibi,” cicit Taeyeon dengan suara pelan. Ia bahkan tak berani sedikitpun untuk memandang wajah Ibu Sehun. Terlebih ada Oh Sehun di belakangnya. “Kalau begitu, saya permisi dulu.”

“Tunggu,” seru Ibu Sehun menahan. “Biarkan Sehun mengantarmu sampai ke depan pintu,” ujarnya bermurah hati.

Oh Sehun langsung menolehkan wajahnya dan memasang ekpresi ‘apa-apaan itu ?’ Dapat segera ditebak, ia amat sangat menolak rencana itu. Tapi Ibu Sehun tak memperdulikan ekpresi putranya, dia bahkan berpura-pura untuk menangkap sinyal-sinyal pesan yang dikirimkan Sehun secara telepati.

Taeyeon serta-merta segera menolak. Alasan pertama ia merasa tak enak hati, dan alasan kedua karena ia sedang AMAT. SANGAT. KESAL. DENGAN. OH SEHUN. Tolong garis bawahi juga kata-kata barusan. Dan Taeyeon benar-benar tak mau terserang darah tinggi sore ini. “Ti-tidak usah bibi !”

Tapi Ibu Sehun bukan orang yang mudah di tolak. “Tidak, tidak apa-apa. Lagipula, Sehun akan lebih berguna kalau mengantarkanmu sampai ke depan,” imbuhnya sembari tertawa. Seolah anaknya biasa dijadikan bahan lelucon. Ia menatap Sehun, “Nah, tunggu apa lagi ? Ayo antarkan Taeyeon ke depan !”

Sehun hanya mendengus dan berjalan cepat meninggalkan Taeyeon tanpa mengucapkan apapun dengan wajah tertekuk. Ia bisa mendengar suara gadis itu yang mengucapkan terimakasih dan permisi. Tapi untuk apa ia peduli ? Bukankah dari dulu ia tak pernah peduli dengan gadis itu ?

Sehun mendengar suara langkah Taeyeon yang berjalan mendekat. Tapi gadis itu memilih untuk berjalan di belakangnya, bukannya di depan atau di sampingnya. Sehun berhenti di depan pintu dan membukanya untuk mempersilahkan gadis itu keluar secara halus. “Nah, aku sudah mengantarmu di depan pintu,” ucapnya dengan nada tanpa intonasi.

Sehun melihat Taeyeon berjalan melewatinya begitu saja tanpa ucapan apapun. Bahkan terimakasih pun tidak. Sialan, gadis itu sedang menghinanya ternyata ! Tapi tiba-tiba Oh Sehun berfikir, kenapa ia  jadi meributkan tentang Taeyeon yang tak menghargainya sama sekali ? Sejak kapan ia jadi peduli bahkan hanya ucapan terimakasih dari gadis itu ?

Ternyata Taeyeon tak benar-benar pergi. Lima detik kemudian gadis itu kembali lagi. Oh Sehun baru saja akan membentaknya dan bertanya kenapa ia kembali lagi. Tapi Taeyeon lebih cepat.

“Terimakasih sudah mengantarku sampai ke depan.”

Sehun memutar bola matanya. Ha, ternyata gadis itu masih punya sopan santun. Tapi ia memilih bersikap tak peduli. Baru saja ia akan melontarkan ucapan-ucapan pedas, namun sekali lagi gadis itu lebih cepat.

Ia tak tahu bagaimana awal mulanya. Yang Sehun ingat adalah tiba-tiba Taeyeon berjalan mendekat dan menginjak kakinya sekeras mungkin hingga ia menjerit mengaduh kesakitan. “Yaa ! Kau gila ya ?! Kenapa kau menginjak kakiku ?!” serunya keras dengan mimik kesakitan.

“Itu sebagai ucapan terimakasih atas penilaianmu tentangku di depan ibumu !”

Dan setelah itu Taeyeon berbalik, berlalu pergi pulang ke rumahnya yang letaknya di sebelah rumah Oh Sehun. Sehun tak tahu apakah ia salah dengar atau tidak, yang jelas, samar-samar ia bisa mendengar gadis itu menggerutu dan menyebutnya berengsek.

Dan ia masih mengaduh kesakitan.

TBC

Halooo semuaaaaa ….

Gimana slipped part 6 ? Masih gantung ? Kurang puas ? Kurang panjang ? Silahkan tulis keluh kesah kalian di kotak komentar oke ?😉

Maaf banget kalau cuman kayak gini, belum ada konflik apa apa T.T

Well, semoga kalian masih mau baca dan nungguin ff ini😀

Pai-pai ~

Love,

Summer

54 thoughts on “Slipped (Chapter 6) [Full Version]

  1. klo ditanya kurang puas atau kurang panjang pasti jawabannya iya hahahahhaahhaahahah
    seyeon momen di tambah heheheheheh
    klo g2 aq tungu next partnya
    autor semnagat🙂

  2. wahhh.. akhirnya di post lg ff ini.. ko lama bgt si eon ? hehe
    ok, ditunggu next chap… Fighting eon !! semoga eon mendapat inspirasi lbih keren lg buat lanjutin ff ini ^^

  3. yoyoyoyoyoyooyoo #ngerapalahyeol *smirk
    Next thor jgn lama2 yakk di tunggu nih
    jgn sampai buat aku berjamur lagi *hehhehe😀

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s