[Freelance] Multichapter : Coincidence Love (Chapter 2)

COINCIDENCE LOVE

Title

Coincidence Love

Author

MQLovers

Genre

Romance, Comedy

Length

Twoshots

Rating

T-13

Main casts

 Xi Luhan, Im Yoona

Other casts

Find by yourself

Disclaimer

All casts are their parents’ and God’s. I’m just their fans.

Note

I hope you like this fanfiction and warning for typo(s). Give me comments and don’t be a siders or plagiators! Have a nice day and happy reading !! ^-^)

Previous : Chapter 1

_

Yoona pov

            Hanya sejak aku menumpahkan milkshake-ku, hidupku berubah sepenuhnya! Apa-apaan namja satu ini! Aku tidak mau kalau kunci mobilnya hilang dia menuduhku dan memasukkanku ke dalam penjara. Tentunya akan sangat memalukan. “Aku tidak mau!” tolakku.

            “Diam kau! Jangan membantah! Anggap saja aku “atasan”-mu dan kau harus menurutiku semua perintahku,” balas Luhan.

            “Kenapa aku harus menjadi asisten pribadimu? Kau merepotkanku dan membuatku ketinggalan hari-hari menyenangkan di sekolahku, terutama bersama Tiffany Hwang dan Jessica Jung! Dan aku juga kehilangan waktuku untuk hang out bareng mereka di café dan tidak bisa belajar bahasa Inggris bersama mereka!” seruku keras. Dia membekap mulutku sampai napasku sesak hampir mati.

            Luhan mengabaikan perkataanku. Erghh …! Dia benar-benar menyebalkan! Haruskah aku punya “atasan” seperti dia? Dan .. aku harus tinggal bersamanya sampai tahun depan dan itu tidak akan menjadi menyenangkan bagiku dan … tidak akan pernah KULUPAKAN. Setelah Luhan keluar, aku langsung mengganti bajuku di mobil kemudian mematikan mesin mobilnya. Aku menutup pintu mobilnya dengan keras dan kurasa lebih cocok dibilang membanting pintu mobilnya. Ada satu wanita memelototiku dengan tajam. Sepertinya dia manager salah satu artis yang berperan dalam drama ini. Aku tahu ini drama karena aku sempat menonton trailer-nya di YouTube. “Apa kau asisten pribadi baru Luhan-ssi?” tanyanya tetap dengan tatapan yang tajam.

            “N .. ne .. wae?” tanyaku.

            “Mengapa Luhan-ssi bisa sebodoh itu memilihmu sebagai seorang asisten?” tanyanya.

            “Memangnya kenapa?” balasku.

            “Kau hanya orang yang “bernasib baik”, bisa menjadi asisten seorang artis ternama seperti Luhan-ssi hanya karena menumpahkan milkshake di bajunya tanpa sengaja. Dan jika aku menjadi Luhan-ssi, aku akan menghukummu, bukan malah menjadikanmu asisten pribadi,” jawab yeoja itu sedikit menyebalkan. Aku tidak memedulikan yeoja yang terus saja mengoceh itu. Dia tetap mengoceh walau tahu aku tidak akan mau mendengarkan ocehan pagi harinya. “Hei, apakah kau mendengar nasehatku? Kau juniorku dan kau harus menurutiku!” serunya keras.

            “Berapa usiamu?” tanyaku.

            “Dua puluh tahun,” jawabnya. Cuihh .. (?) !! Dua puluh tahu, itu senior? Bagiku tidak, dia hanya lebih tua 4 tahun dariku dan aku tidak mengenalinya. Walaupun dia artis, tapi sungguh, aku tidak mengenalnya. Luhan syuting sangat lama, sekitar 5 jam dan hanya istirahat beberapa kali. Dia juga harus pindah-pindah lokasi syuting yang membuatku sedikit kewalahan dan aku sama sekali belum makan dari pagi. Sekarang pukul … satu siang. Haruskah aku tahan rasa laparku yang mendalam (?) ini? Aku tidak mau !!

Author pov

            Luhan sudah menyelesaikan syuting adegannya dan dia bisa melanjutkannya esok hari. “Hei, Yoona-ya!” panggilnya sambil melambaikan tangannya ke arah Yoona. Yoona langsung menuju ke tempatnya dengan lemas. “Ne, waeyo?” tanya Yoona ketika sudah menghampirinya.

            “Apa kau membuatkanku bekal?” tanya Luhan tanpa wajah berdosa.

            “BABO-YA!!” teriak Yoona keras sehingga menarik perhatian staff lainnya.

            “Dia asisten pribadi barumu, Luhan-ssi?” tanya salah seorang namja.

            “Ehm .. ne ..,” jawab Luhan dengan agak sungkan.

            “KAU TIDAK TAHU KALAU AKU BAHKAN BELUM MAKAN DARI PAGI DAN KAU MEMINTA BEKAL PADAKU YANG TIDAK SEMPAT MEMBUATKANNYA UNTUKMU KARENA … AKU TIDAK SEMPAT!!” seru Yoona keras. Luhan langsung menarik tangan Yoona dengan paksa dan membawanya ke mobil.

            Brak!

            Luhan membanting pintu mobilnya dan langsung pergi dari area syuting tadi. “Micyeosseoyo?!” tanya Luhan sambil memukul stir(?)-nya.

            “Mwo ..?” tanya Yoona.

            “Kau memalukanku!” balas Luhan kemudian mengerem mobilnya dengan mendadak.

            “Hei! Kau yang gila! Kau mau membunuhku?!” protes Yoona. Luhan mengabaikan perkataan Yoona dan membiarkan mobilnya berhenti di tengah jalan dengan mesin menyala dan disambut ketitan klakson mobil lainnya yang pastinya merasa terganggu. “Bisakah kau geser mobilmu ke pinggir jalan atau ke tempat aman lainnya?” tanya Yoona sambil menutup kedua telinganya.

            Yoona berusaha menyuruh Luhan untuk memindahkan mobilnya beberapa kali tapi Luhan tetap mengabaikannya dan hanya mematung dengan wajah cool-nya. Dia membuka kemejanya kemudian memakai kaos tanpa lengan berwarna hitam kemudian dilapisi sweater hitam kebiruan yang terlihat sangat match di badannya.

            “Aku menyuruhmu memindahkanku mobil, bukan mengganti bajumu kemudian melemparkannya padaku!” kata Yoona tepat setelah Luhan melempar bajunya ke wajah Yoona.

            “Diam, kau, yeoja cerewet!” seru Luhan kesal.

            “Kalau kau tahu aku begini, kenapa masih mau menjadikanku sebagai sisten pribadimu?!” tanya Yoona tak mau kalah.

            “Karena aku tidak punya pilihan! Pertama, aku memang butuh asisten karena karirku sedang sibuk-sibuknya. Kedua, kau menjatuhkan milkshake ke bajuku dan ini ganti rugimu!” jelas Luhan.

            Yoona tetap bersikeras dengan pendapatnya, “Mengapa tidak pilih salah satu dari sasaeng fans saja yang sudah melukai dan membuat kekacauan demi menemui itu?” tanyanya lancang. Luhan dengan spontan menampar pipi kanan Yoona dan sekarang pipinya terlihat merah. “Jaga mulutmu!” keras Luhan. Yoona menahan air matanya yang sebentar lagi berubah menjadi air terjun.

            “Kau jahat!” kata Yoona sambil keluar dari mobilnya dan membanting pintu mobilnya. Memangnya ucapanku salah?! Aku tidak merasa aku lancang, kok, batin Yoona. Luhan menancap gas mobilnya dan meninggalkan Yoona menangis sendirian di tepi jalanan dan diperhatikan banyak orang yang lewat menggunakan kendaraannya. Dia tidak memedulikan semuanya. “Ini baru satu hari, bagaimana kalau setahun?” tanyanya pada dirinya sendiri.

            “Satu hari apanya?” Seorang namja dengan suara nge-bass-nya tiba-tiba saja menjawab pertanyaan Yoona dengan tatapan heran dan sedikit iba. “K .. kau .. Kris-ssi?” Yoona hanya bisa tergagap begitu mengetahui siapa yang sekarang berada di hadapannya.

Luhan pov

            “Arggh …!” Aku membanting pintu mobilku entah untuk ke berapa kalinya. Dasar yeoja bodoh tambah menyebalkan tambah cerewet tambah sok kurang cantik dan imut. Jika ada orang lain yang beranggapan bahwa dia cerewet, aku akan sangat memakluminya. Aku tidak bisa memecatnya karena yang paling utama, tidak semudah itu mendapatkan asisten pribadi. Apalagi, karirku sedang naik daun dan aku supersibuk sekarang ini. Aku tidak bisa memecatnya begitu saja juga karena ini juga sebagai tanda ganti ruginya. Apa yang harus kulakukan?!

            Ponselku berbunyi tiba-tiba dan .. “Hyeong?” Aku bertanya-tanya. Aku segera mengangkat telepon dari hyeong-ku—Xiumin.

            “Yeoboseyo?” tanyaku.

            “Apa kau meninggalkan gadis bernama Im Yoona sendirian di tepi jalan?” tanyanya balik tanpa basa-basi.

            “Ne, hyeong-ah. Kenapa kau bisa tahu?”

            “Aku sedang berada bersamanya dan dia juniorku di sekolah dan aku tidak pernah melihatnya menangis di sekolah.”

            “Lalu, apa hubungannya denganmu?”

            “Kau namja pengecut pertama yang membuatnya menangis kemudian meninggalkannya begitu saja di tepi jalan.”

            “Jangan sembarangan! Dia yang menyebalkan!”

            “Datang ke sini sekarang juga atau aku akan mengomelimu habis-habisan!”

            Aku membanting ponselku ke kasur. Ergghhh ….!!! Sejak kapan hyeong kenal dengannya?! Makin rumit saja masalah ini! Baru satu hari, apalagi kalau aku menjadi “atasan”-nya selama setahun penuh? Akan jadi masalah besar! Kalau Xiumin hyeong sudah mengancamku, dia akan benar-benar melakukannya! Sudahlah, daripada masalahnya makin rumit, sebaiknya aku temui saja mereka di tempat yang tadi. Sialnya, sekarang pukul sebelas malam dan … aku baru ingat, kalau mulai besok Yoona menjadi asistenku mulai pukul satu siang! Apa aku akan sanggup menangani semuanya? Luhan, kau seorang namja dan seorang artis! Kau harus bekerja keras!

Yoona pov

            Di sinilah aku, sesunggukan dengan rasa malu yang sangat besar. Bayangkan, kau menangis dan kejadian memalukan itu dilihat oleh seniormu! Xiumin! Dia seniorku dan pastinya itu memalukan! “Mianhaeyo, Xiumin-ssi, aku merepotkanmu,” ucapku sambil membungkuk ke arahnya.

            “Gwaenchanha. Lagipula, kalau benar-benar Luhan yang melakukannya, aku akan langsung memarahinya tanpa basa-basi,” jawabnya santai.

            “Gamsahabnida, Xiumin-ssi,” ucapku sambil kembali membungkuk.

            “Sudahlah, tidak perlu segitunya,” jawabnya sambil merangkulku. Untung saja aku punya senior yang baik sepertinya dan … Luhan itu adiknya?! Asikk …! Kalau begitu, aku bisa melaporkan apapun yang dilakukannya kepada Xiumin-ssi agar dia terus dimarahi dan aku akan sangat senang bila ..

            Critt …!

            Kesenanganku berkhayal berhenti ketika Luhan datang dengan mobil dan wajah kusut menyeramkannya. “Wae? Cepat!” serunya.

            “Bawa Yoona pulang dan karena IQ-mu cukup tinggi, ajari dia pelajarannya yang agak sulit di rumahmu, bukan di apartemen. Biarkan aku yang mengurus apartemenmu itu. Dan jangan buat dia menangis lagi atau aku yang akan membuatmu menangis!” ujar Xiumin-ssi yang langsung to the point.

            “Ne, hyeong-ah,” jawab Luhan yang sangat terlihat terpaksa di mataku. Dia membukakan pintu untukku dan menuyuruhku masuk. Aku tersenyum pada Xiumin-ssi yang membalas senyumanku. Luhan langsung menancap gas mobilnya dan kembali ke apartemennya.

            “K .. kau punya apartemen?” tanya Yoona memecah keheningan di mobil.

            “Memangnya itu urusanmu?” tanya Luhan menyebalkan.

            “Aku hanya bertanya,” ujar Yoona sambil mengucek-ngucek matanya yang terasa agak berat alias ngantuk.

            “Tidurlah. Aku akan membangunkanmu begitu kita sampai,” ujar Luhan.

            “Bagaimana denganmu?” tanya Yoona.

            “Aku akan baik-baik saja, jangan pedulikan aku,” ujar Luhan sambil mengelus kepala Yoona. Apa dia melakukannya dengan terpaksa? Yoona tidak tahu tentang itu. Dia langsung tidur nyenyak dengan elusan lembut tangan Luhan.

            Mereka sudah sampai di apartemen Luhan tepat pukul satu. Luhan yang tidak tega membangunkan Yoona dari tidur lelapnya langsung menggendongnya menuju ke kamarnya. Dia tidak peduli pada resepsionis yang menanyakan hal itu padanya. Saat berada di depan lift …

            “Yeonhee?!” Luhan terkejut begitu melihat siapa yang keluar dari lift.

            “Ah, Luhan, annyeong,” ujar Yeonhee singkat.

            “Kau sedang apa di sini?” tanya Luhan sambil masuk ke dalam lift. Yeonhee yang semula keluar dari lift ikut masuk ke dalam lift.

            “Aku tadinya mengunjungimu, karena sudah 2 jam menunggu, aku memutuskan untuk pulang,” jawab Yeonhee lembut.

            “Kau .. menungguku dua jam? Mianhaeyo,” sesal Luhan.

            “Aniyo, gwaenchanha. Dan … kenapa asisten terkapar seperti itu?” tanya Yeonhee sambil mengelus-elus rambut Yoona dengan sangat lembut.

            “Dia .. kutinggalkan di tepi jalan tadi,” jawab Luhan jujur.

            “Mwo? Kenapa kau setega itu?” tanya Yeonhee tak percaya. Mereka keluar dari lift dan Luhan pun melanjutkan ceritanya, “Aku terlalu emosi saat itu,” jawab Luhan.

            “Kendalikan saja emosimu. Kudengar dari Yeonsoo, dia agak menyebalkan. Tapi mungkin, dibalik sisi jeleknya dia seorang yang pekerja keras,” ujar Yeonhee.

            “Kau belum ngantuk?” tanya Luhan yang dibantu oleh Yeonhee membuka pintu kamarnya.

            “Aniyo, aku masih tahan,” jawab Yeonhee sambil tersenyum.

            Luhan masuk ke kamarnya dan menempatkan Yoona di ruangan yang terpisah. Ia berbicara sebentar dengan Yeonhee kemudian tanpa tersadar, mereka tertidur lelap.

Esoknya …

            Yoona bangun pukul lima dan segera merapikan badannya walaupun matanya masih terasa sangat berat. Dia tidak peduli dengan apa yang terjadi dan sudah tahu kalau Luhan dan Yeonhee tertidur di ruang tamu. Dia langsung membuatkan Luhan sarapan serta untuk Yeonhee juga. Dia hanya membuat dua buah sandwich untuk bekal di sekolah. Dia benar-benar TINGGAL di apartemen Luhan karena semua barangnya ada di tempat Luhan. setelah selesai membuatkan Luhan dan Yeonhee jjajangmyeon, dia langsung menutup agar jjajangmyeon-nya tetap hangat dan keluar dari apartemen perlahan-lahan setelah menaruh kertas kecil di atas meja makan bertuliskan:

For Luhan-ssi

            Luhan-ssi, aku berangkat ke sekolah menggunakan subway. Jangan lupa makan sarapannya dan mianhaeyo, aku tidak bisa membuatkan bekal LAGI untukmu. Sarapannya ada untuk Yeonhee-ssi juga, selamat menikmati.

Im Yoona (/^-^/)

            Yoona berjalan keluar apartemen dan pergi ke stasium subway menggunakan bus. Tidak lama, dia sampai di stasiun dan langsung berangkat menuju ke sekolahnya. Ia sudah tidak sabar bertemu dan heboh-hebohan bersama Tiffany dan Jessica—si Duo America.

Yoona pov

            Akhirnya! Aku sampai di sekolahku. Aku berlari kencang menuju kelasku dan hampir menabrak semua orang yang kulewati. Sreett … “Annyeong, Tiffanywa Sica-ssi!” sapaku bahagia.

            “Annyeong, Yoona-ya! Akhirnya kau kembali! Ayo, kau tahu? Kemarin, Sica dicium oleh Kris di depan semua anak kelas kita. Gyaa …!” Tiffany langsung heboh dengan breaking news-nya.

            “Jinjja?! Gyaa ….! Good news, Fany-ya!” sambut Yoona. Mereka asik bergosip tentang kejadian kemarin sementara Jessica hanya memandang mereka dengan kesal. “Bisakah kalian berhenti?” pinta Jessica kemudian mem-pout bibir mungilnya.

            “Hei, Sica-ssi! Jangan mem-pout bibirmu karena itulah yang membuat Kris jatuh cinta padamu,” sindir Yoona kemudian diiringi tawa Tiffany.

            Brak!! “Kalian sangat keterlaluan! sudah cukup penderitaanku!” teriak Jessica.

            “Huaa  … Sica-ssi mulai marah ..!” Yoona dan Tiffany berpura-pura merengek.

            “Ka …” Seseorang menghentikan langkah Jessica. “Lu .. Luhan?! Yang artis itu?!” seru Jessica ketika melihat siapa yang menghentikannya.

            “MWO?! LUHAN-SSI?!”

Yoona pov

            “MWO?! LUHAN-SSI?!” aku langsung berteriak dengan spontan karena .. “Kenapa kau ada di sini?!” tanyaku.

            Semua anak perempuan yang ada di kelasku langsung heboh dan cepat-cepat mencari ponsel mereka untuk mengambil gambar Luhan—si artis—secara live, tanpa perlu download dari internet. Mereka bahkan sedikit membuat keributan. Aku langsung membawa Luhan keluar karena kelasku akan runtuh dengan pertengkaran antarpenggemar yang juga akan menimpakan nasib buruk padaku! “Mau apa kau?!” tanyaku ketika sudah berada di koridor loker yang sepi.

            “Kenapa kau tidak meninggalkan pesan singkat atau apapun itu?” tanyanya polos.

            Betapa bodohnya namja ini! jelas-jelas sudah kuletakkan di atas meja, dia masih bertanya padaku. “Apa kau mengecek meja makan?” tanyaku balik.

            Dia menggeleng tanpa tampang berdosa. “Babo-ya!” teriakku tanpa pikir panjang.

            “Hei, apa kau mengerti etika? Aku lebih tua darimu tiga tahun,” ujarnya santai. Rasanya ingin menampar pipi kanan dan kirinya sebanyak mungkin karena dia menjengkelkan. Tapi .. kurasa risiko yang harus kutanggung akan lebih besar daripada hukuman dari dia sendiri. Aku bisa dibunuh, diteror, dan dikucilkan dari sekolahku—terutama murid perempuannya—karena hampir semuanya fans Luhan dan itu membuatku sedikit risih dan jika mereka tahu bahwa aku asistennya, aku akan mati diserang habis-habisan dan diberikan pertanyaan serta “tugas” tambahan. Aku tidak mau! Dan aku tahu apa yang harus kulakukan agar Luhan tak datang lagi ke kelasku dan tidak ada pertanyaan aneh yang akan muncul saat aku kembali ke kelas. Hanya Tiffany dan Jessica yang tahu kalau aku asisten pribadinya karena .. saat aku menumpahkan milkshake, mereka ada bersamaku. Tentu saja mereka tahu! Dan semoga mereka belum membocorkannya pada anak-anak yang lain.

            “Aku tidak peduli hal itu sekarang! Dan kuperingatkan kau, jangan datang ke kelasku! Jika kau mengecek meja makan tadi, kau pasti menemukan secarik kertas,” ujarku dan langsung meninggalkannya.

Author pov

            Luhan menatap Yoona pergi dengan tatapan kesal dan penuh amarah. “Berani-beraninya dia berbicara seperti itu padaku!” geram Luhan. luhan langsung keluar dari gedung sekolahnya dan segera menuju ke mobilnya yang juga ada Yeonhee di dalamnya. “Apa kau menceritakan tentang kejadian tadi malam?” tanya Yeonhee khawatir.

            “Tenang saja, dia pasti akan diam-diam saja. Dan aku tidak sempat membicarakan hal itu dengannya karena aku juga tahu, teman-temannya pasti akan heboh kalau aku kembali ke kelasnya,” jawab Luhan.

            “Bagaimana kalau media tahu tentang ini? Nama kita bisa rusak,” ujar Yeonhee hampir menangis.

             “Sudahlah, Yeonhee-ah. Jangan menangis,” ujar Luhan sambil menancap gas. Dia menenangkan Yeonhee dan untungnya dia tidak jdi menangis karena dia tahu, Luhan pasti akan melindunginya.

            Yoona berjalan cepat menuju kelasnya. “Hei, Yoona-ah! Apa kau punya hubungan spesial dengan Luhan?” tanya Jungyoo.

            “Tidak, aku bukan siapa-siapanya dia,” jawab Yoona berusaha mencari alasan.

            “Tapi, Jessica bilang, kalau kau asisten pribadinya,” sela Jiyeon. Yoona langsung melotot ke arah Jessica yang tersenyum bahagia. “Aniyo, aku bukan asistennya,” Yoona kembali beralasan.

            “Jeongmal? Amin ..,” ujar Jiyeon. Dia juga merupakan fans Luhan dan termasuk fans fanatiknya. Karena itu, Yoona harus menutupi semuanya. Dia berjalan ke arah Jessica dan langsung berbisik, “Michyeosseoyo?!” bisik Yoona agak kesal.

            “Aniyo .. aku hanya bocor sedikit, dan .. bukannya sekarang sudah aman?” tanya Jessica.

            “Sica-ssi! Kau sudah hampir mempermalukanku!” kesal Yoona. Jessica hanya tertawa penuh kemenangan. “Hei, mana Fany-ya?” tanya Yoona.

            “Dia sedang bersama Sehun. Saat kau pergi, Sehun datang,” jawab Jessica.

            “Hei, bukannya Sehun suka Tiffany?” tanya Yoona. Jessica mengangguk, sedangkan Yoona hanya senyum-senyum sendiri. “Wae? Kau mau bergosip lagi? Kapan saja ada berita baru, selalu saja sampai ke mulutmu,” ujar Jessica sambil menjitak dahi Yoona.

            “Ayo mulai bergosip, Sica-ssi!” ajak Yoona gembira. Teet …!

            “Argh ..! Bel sialan! Cepat sekali kau berbunyi!” seru Yoona. Jessica hanya bisa tertawa melihat tingkah laku temannya tersebut.

-TBC-

31 thoughts on “[Freelance] Multichapter : Coincidence Love (Chapter 2)

    • Makasih yaa … Tapi chap selanjutnya bakal lama banget karena laptopku nge-hang2 terus. Jadi, mohon ditunggu yaa ..
      *bow*

  1. Akhirnyyaaaaaaa dilaaanjuuut jugaaaaa pfffttt……./terharu/
    Duhh udah nunggu lama banget nih ff :”)
    Huh,luhan jahat ._.beraninya nampar yoongie/tabok/
    Munculin namja baru kekthor,biar luhan cemburu gitu’-‘V

    Pleaseeee next chapternya cepat dipublissh dong 😉

  2. Wahhh keren banget thor ffnya…
    Jahat banget sii Luhan ampe nampar Yoona kya gitu T.T
    Next chap cepetan dipost ya thor, penasaran sama kelanjutannya thor..
    Keep writing^^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s