[Freelance] STAMPS (Chapter 1)

STAMPS [POSTER]

STAMPS

Author

Shin Hyun Gi (@AyuSerlia)

Main Cast

Kim Taeyeon || Oh Sehun

Other Cast

You’ll find them by yourself

Genre

Romance || Life || Friendship

Length

Chaptered

Rating

T/PG-15

Disclaimer

Inspired by “(500) Days of Summer” and everything that I know in my whole life. If there are some similarities with the other fanfictions, that’s absolutely an incident.

Author’s Note

Fanfiction ketiga dengan main pair exoshidae dari saya—sekaligus yang pertama dengan cast Kim Taeyeon dan Oh Sehun sebagai pasangan utama. Mohon maaf atas semua kesalahan pengetikan dan penggunaan bahasa yang ada di dalam fanfic karya saya yang satu ini. Dan sekali lagi, kritik dan saran dari kamu sangat dibutuhkan demi kesempurnaan cerita.

And once again, hope you enjoy the story🙂

___________

 

“People changes, feeling changes. It doesn’t mean that the love once shared wasn’t true and real.

It’s simply means that sometimes, when people grow, they grow apart.”

___________

Jemarinya bergerak lincah tepat di atas sebuah bidang kertas kecil bergaris yang ia letakkan begitu saja di antara tumpukan belanjaan bulanannya. Goresan pena hitam kesayangannya yang terus bergesekan dengan kertas terus bergerak membentuk huruf demi huruf, ejaan demi ejaan, lalu kata demi kata yang dirangkai sedemikian rupa. Ialah gadis itu, Kim Taeyeon, seorang editor muda sekaligus penulis lepas yang kerap kali tak dapat menghabiskan waktunya untuk beristirahat hanya karena jadwal pekerjaannya yang sangat padat.

Tetapi bukan itu yang menjadi sebuah masalah baginya, ia bahkan sudah merasa cukup puas dengan pekerjaannya kali ini. Namun yang menjadi masalahnya ialah—entah karena apa—pekerjaan itu pula yang menyebabkannya terlalu sulit untuk menemukan cinta.

Ia memang pernah jatuh cinta, dulu sekali, tetapi untuknya perasaan itu hanyalah sekedar cinta sesaat saja, bukan cinta yang sesungguhnya. Ia juga bukan seorang gadis yang tidak normal pula—tentu saja—karena ini hanyalah masalah perbedaan pendapat. Dimana bagi dirinya saat ini, tak ada satu hal pun yang dapat disebut dengan cinta sejati—hal tersebut sama saja seperti fantasi liar para remaja labil yang sedang berusaha menemukan jati diri mereka—namun jauh dari itu, bagi seorang Kim Taeyeon, cinta memang hanya sekedar harapan belaka. Tak pernah lebih dari apapun.

Karena ia sadar benar—bahwa wanita yang terhebat ialah seorang wanita yang mampu menghadapi suatu masalah tanpa harus berpangku tangan pada seorang pria di depannya—bukankah setiap manusia berhak untuk menjadi pemimpin dirinya sendiri?

Taeyeon baru saja hendak menempelkan perangko terakhirnya ketika aroma harum kopi yang dipesannya beberapa menit yang lalu kini menghampiri indra penciumannya. Gadis itu melirik secangkir kopi robusta hangat pesanannya itu sembari meraihnya pelan, ia lalu menyeruputnya sedikit demi sedikit, bersamaan dengan terus turunnya hujan hari itu.

Mendadak, ia mengernyitkan alis hitamnya tak percaya ketika mendengar suara salah sebuah lagu tak dikenal berputar cepat dari sisi belakang tubuhnya. Ia tahu bahwa orang tersebut memutar dan mendengarkannya menggunakan headphone—sebuah alat elektronik untuk memfokuskan pendengaran pada musik—tetapi kali ini, volume yang digunakannya sudah tak dapat ditoleransi lagi. Lagu aneh tersebut sudah sangat mengganggu konsentrasinya pada

pekerjaannya. Yang mana seseorang yang sinting pun tahun tak pantas menghidupkan sebuah lagu dengan volume setinggi itu hingga dapat menganggu orang lain, terlebih di tempat umum.

Lantas, Taeyeon segera memutar tubuhnya hendak menegur sosok itu. Ia menatap sosok itu dengan pandangan berjengit seakan hendak menampar wajahnya jika ia membalikkan punggungnya kapan saja, “Namja idiot.” Ia bergumam pelan seraya hendak menyentuh pundak sosok itu.

Namun, belum sempat ia menggerakkan jemarinya menyentuh pundak sosok itu, sang pemuda telah membalikkan tubuhnya yang sedari tadi membelakangi Taeyeon perlahan. Kedua manik mata cokelat gelapnya lalu bergerak menatap wajah Taeyeon datar, ia berujar pelan di sana seakan tak bersalah, “Ada apa, Ahgassi?”

“Kau memiliki masalah denganku?” lagi-lagi pemuda tesebut melanjutkan perkataannya datar sembari menyeruput secangkir kopi panas yang berada di dalam genggaman jemari besarnya. Perlahan namun pasti, kedua bola matanya bergerak menelusuri tubuh mungil Taeyeon dari bagian terbawah hingga menuju ke puncak kepalanya yang ditutupi oleh sebuah topi rajut, dan demi apapun juga, Taeyeon bahkan berani bertaruh bahwa pemuda tersebut menggumamkan sesuatu yang kedengarannya seperti, “pendek”, baginya.

Kedua lengan Taeyeon kini mulai bergerak cepat, ia segera menyedekapkan lengannya di dada ketika pemuda itu masih menatapnya tanpa merasa bersalah, “Maafkan aku, Tuan—siapapun namamu itu—” ia mendenguskan nafasnya kesal dan kembali berusaha menatap wajah tirus sang pemuda dengan tatapan ‘tersangar‘ yang dapat diberikannya, “Tetapi bisakah kau mengecilkan volume lagumu sehingga tak mengganggu orang lain yang sedang bekerja?”

Sesaat, pemuda itu menghela nafasnya panjang, tatapannya bahkan masih sama seperti yang sebelumnya.

“Jika begitu, kau tak perlu mendengarkannya. Terus saja fokuskan dirimu pada pekerjaanmu. Bukankah begitu?” pemuda tersebut mulai menatap Taeyeon dengan sedikit tak suka, rambut pirang platinumnya yang agak panjang sedikit berkibar ketika angin musim hujan berhembus pelan memasuki bangunan kedai kopi yang mereka berdua tempati. Dalam beberapa menit, Taeyeon masih memandangi lelaki tersebut intens, memperhatikannya yang membuka sepasang headphone miliknya dari kedua telinganya yang sedikit tertutupi oleh rambut pirangnya.

“Tetapi ini tempat umum, Tuan!” Taeyeon nyaris meninggikan suaranya ketika pemuda tersebut merecokinya dengan beberapa kalimat acuh tak acuh. Tak pernah sekalipun seseorang yang dikenalinya merendahkan dirinya hingga seperti ini—dan coba lihat apa yang dilakukan oleh pemuda tak tahu diri ini—ia bahkan sudah menganggap remeh sosok gadis sepertinya.

“Seharusnya kau dapat membedakan tempat mana yang seharusnya disebut dengan wilayah pribadi—atau pula tempat umum. Apakah kau tak pernah disekolahkan, Tuan?” bangku besi Taeyeon berderit pelan ketika ia beranjak bangkit dari posisi duduknya, pemuda itu bahkan masih mengatupkan bibirnya rapat, seakan tak berniat untuk membalas perkataan sang gadis kepadanya.

“Bisakah kau mendengarkanku, Tuan?!” kali ini Taeyeon mulai berjalan cepat mendekati pemuda itu, ia meletakkan pergelangan tangan kanannya pada pundak lelaki acuh tersebut. Apakah volume besar musiknya itu telah menyebabkannya tuli selama beberapa saat?

“Oh Sehun. Tolong jangan panggil aku dengan sebutan Tuan menjijikkan itu,” pemuda itu menghembuskan nafasnya sesaat dan menatap wajah Taeyeon tajam.

Ia melingkarkan syal tebalnya perlahan lalu menatap wajah mungil Taeyeon yang berada jauh sekali di bawah tubuh jangkungnya. Dari balik untaian wol rajut berwarna merah gelap tersebut, ia berbisik pelan kepada Taeyeon—hingga menyebabkannya bergidik selama beberapa saat—wajah pemuda itu kini tinggal berjarak sekitar sepuluh sentimeter dari wajahnya.

“Kalau kau tak suka denganku yang menyetel musik terlalu keras, kau bisa pergi saat ini juga,” kedua mata tajamnya kini telah berhasil menangkap wajah ketakutan Taeyeon yang sedang berusaha menatapnya dengan sedikit sok berani, “Jika kau pergi, segalanya bahkan akan berjalan dengan jauh lebih baik.”

Air muka Taeyeon sontak mulai berubah ketika untaian kalimat tak sopan itu terucap dari bibir Oh Sehun—seorang pemuda paling kurang ajar yang ditemuinya—ia mendelik marah menatap pemuda itu penuh luapan emosi, “Baiklah. Aku terima Tuan Oh Sehun! Aku pergi dan segalanya akan baik-baik saja, bukankah begitu?!”

Oh Sehun hanya menganggukkan kepalanya tanpa beban.

Hanya dalam waktu sekitar tiga menit lebih, kesepuluh jemari Taeyeon bergerak cepat meraih beberapa benda yang masih berceceran di atas meja kecil tempatnya menulis surat terbarunya kepada beberapa penerbit tadi—ada beberapa pena kurus panjang dengan pembungkus nikel, sebuah buku tulis yang menjeblak di atas meja, lalu masih banyak benda

kecil lainnya lagi—kemudian dengan langkah seribu, setelah merasa cukup berhasil untuk mengepak barang-barang bawaannya, gadis itu segera beranjak meninggalkan kedai kopi yang dikunjunginya dengan penuh amarah. Ia tak habis pikir mengapa manusia tak tahu sopan santun seperti itu masih dapat bertahan hidup di dunia.

Benar-benar aneh.

Tanpa Taeyeon sadari, salah sebuah benda paling berharganya telah tertinggal pada bagian tepi meja yang baru digunakannya tadi. Oh Sehun meraih benda kecil tersebut perlahan dan merabanya sedikit hati-hati, sebuah perangko tua dengan bagian ujung sedikit robek telah—secara tak sengaja—tertinggal oleh sang pemilik yang beranjak pergi dengan kemarahan yang meletup-letup.

Sehun tersenyum kecil memandangi siluet mungil gadis itu, ia telah melangkah jauh meninggalkan perangko tersebut bersama dengan beberapa bungkus belanjaan bulanannya yang sudah berjubelan sesak diapit oleh kedua lengannya yang tergolong mungil. Sesaat, senyum gelinya itu mendadak terhenti ketika memperhatikan gadis itu nyaris saja terjatuh di atas trotoar ketika seorang bocah kecil menyerobot jalannya, ada suara makian aneh yang didengarnya ketika tubuh mungil gadis itu telah berhasil kembali berdiri tegap dan memberhentikan sebuah taksi kuning pada bagian pinggir jalan raya.

Entah setan apa yang merasuki dirinya, tetapi sepertinya, Sehun ingin sekali bertemu dengan gadis pemarah tersebut lagi, lalu mengembalikan perangko miliknya yang tertinggal karena langkah gegabahnya. Menurutnya—gadis itu cukup cantik juga ketika wajahnya merona merah ketika wajah mereka secara tak sengaja bertemu.

 

___________

 

Senin—suatu hari dimana nyaris setiap manusia tak terlalu menyukainya—hanya karena pada permulaan pekan itu pulalah, setiap aktifitas para pekerja harus dimulai. Tepat di hari yang tergolong sakral tersebut, sekitar sembilan puluh persen total dari tujuh milyar manusia di dunia ini diwajibkan untuk meninggalkan ranjang mereka yang empuk dan kembali menenggelamkan diri di dalam kesibukan. Dan begitu pula bagi Taeyeon, sama seperti para pekerja normal lainnya, ia juga memulai hari senin-nya dengan sedikit tidak suka.

Dengan seluruh seragam lengkap seperti para karyawati lainnya–ia mengenakan kemeja krem lembut dengan rok cokelat yang sepadan—ia pun akhirnya memutuskan untuk berangkat ke kantor penerbitnya lebih cepat, banyak tugas yang harus diselesaikannya hari ini. Kemudian ketika telah berhasil sampai tak kurang dari pukul setengah tujuh pagi, gadis itu pun segera melangkah cepat memasuki ruangan editor-nya tanpa mempedulikan kegaduhan kecil yang disebabkan oleh beberapa temannya yang membicarakan masalah penurunan gaji mereka bulan ini.

Ia memutar kenop pintu kantornya perlahan, mendadak, gadis berkulit putih pucat itu mengerjapkan kedua matanya tak percaya menyadari bahwa seorang pemuda menyebalkan yang baru saja ditemuinya sekitar seminggu yang lalu kini tengah menduduki kursi kerjanya santai. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada bundelan kertas pekerjaannya lalu berjalan mendekati pemuda tersebut hati-hati, ada kepanikan tersendiri yang timbul di dalam hatinya ketika pemuda itu meraih beberapa buku miliknya perlahan.

“Oh Sehun,” ia bergumam dingin seraya menjatuhkan bundelan kertas pekerjaannya tepat di hadapan lelaki itu. Kemudian dengan seluruh keberanian yang dimilikinya, Taeyeon kembali berusaha mendekati Sehun cepat—sejujurnya ia tak kuat menatap wajah simetris lelaki itu lebih lama lagi—ia benar-benar tak tahan untuk tidak memakinya semenjak peristiwa tak mengenakkan yang terjadi di kedai kopi tersebut. Tetapi untuk saat ini, sangat tidak mungkin baginya untuk memaki Sehun di kantornya sendiri—bisa hancur reputasinya di kalangan para karyawan lain—mungkin, lebih baik di lain waktu saja.

Sehun tersenyum dingin seraya mendongakkan kepalanya kepada Taeyeon dan menatapnya kalem, “Kita bertemu lagi, Ahgassi,” ia menahan ucapannya sesaat hingga meninggalkan sedikit jeda di antara mereka, “Mulai hari ini aku akan bekerja di tempat yang sama denganmu, persis di tempat ini. Jadi, selamat bersenang-senang, Nona Kim Taeyeon.”

“Seharusnya bukan kau yang mengucapkan hal tersebut kepadaku,” lagi-lagi Taeyeon menyedekapkan kedua lengannya rapat dan menghembuskan nafasnya panjang-panjang, “Aku seniormu, jadi kuminta untuk lebih sopan sedikit kepadaku.”

“Dan, ya, berapa usiamu?”

Sehun mengangkat salah satu tungkai kaki panjangnya, kemudian menyilangkannya pada lututnya yang lain, “Coba kau tebak saja,” ia nyaris tertawa geli ketika mengucapkan hal tersebut kepada Taeyeon.

“Jangan mengajakku bermain-main, Oh Sehun.” Dengus Taeyeon kesal sembari melayangkan tatapan tak sukanya kepada Sehun yang notabene-nya masih merupakan seseorang yang sedikit asing baginya.

“Baiklah, baiklah,” pemuda itu mengangkat kedua tangan besarnya kepada Taeyeon seraya bangkit dari kursi yang didudukinya–butuh beberapa lama bagi Taeyeon untuk menyadari betapa jangkungnya sosok manusia yang satu itu dibandingkan dirinya–dengan sedikit tak nyaman, Sehun membereskan bagian mantel gelapnya yang agak kusut, “Umurku baru dua puluh satu tahun ini,” ia tersenyum lebar seraya menyodorkan tangannya kepada Taeyeon.

“Pantas saja,” gadis itu berdesis pelan sembari menahan nafasnya sesaat.

“Apanya yang pantas?” Sehun menyela ucapannya sembari menopangkan dagunya kepada jari-jari tangan kanannya yang dikepalkan. Benar-benar tak tahu sopan santun bocah lelaki ini!

“Pantas saja tingkahmu masih seperti seorang murid taman kanak-kanak,” pemuda itu melebarkan pandangannya tak percaya ketika Taeyeon menjelaskan pendapatnya itu dalam suara rendah, “Bahkan umurku pun masih di atasmu, bocah kecil.”

“Umurku dua puluh empat tahun, Tuan Oh Sehun.” Taeyeon tersenyum bangga ketika menyatakan hal tersebut kepada pemuda berpredikat paling menyebalkan di dunia—menurut pendapatnya itu—ia puas sekali menatap raut wajah Sehun yang masih tak bergerak sekalipun ketika hal tersebut terucap dari bibirnya. Sekarang tak ada lagi alasan bagi bocah lelaki itu untuk menghina atau merendahkannya lagi.

Tetapi pemuda itu memang selalu punya banyak kejutan untuk membuatnya tersentak kembali. Sehun bahkan tak mengucapkan permintaan maaf atau hal sopan apapun kepadanya–bahkan menundukkan tubuhnya kepada Taeyeon pun tidak—lelaki jangkung itu justru tersenyum semakin lebar dan menyalami sosok gadis yang seharusnya ia hormati itu seakan ia teman lamanya, “Kurasa semuanya sudah cukup, Taeyeon ssi. Senang berkenalan denganmu!”

“Panggil aku ‘noona‘, Oh Sehun!” Taeyeon nyaris tak mampu bernafas lagi ketika Sehun akhirnya melepaskan pelukan perkenalan mereka dengan penuh sukacita—ia pasti sudah sangat puas mengerjainya hari ini—dasar bocah aneh.

Taeyeon ssi,” Sehun berbisik dalam suara rendah kepadanya, ia meraih kedua pergelangan tangan sang gadis lembut hingga membuat tubuh Taeyeon sedikit bergetar menahan gejolak aneh yang timbul secara otomatis dari dalam dirinya. Rasanya seperti dialiri energi listrik dinamis yang entah darimana asalnya.

Noona, Sehun ssi,”

Sehun mengabaikan perkataan yang diucapkan oleh Taeyeon kepadanya, ia benar-benar tak mengacuhkan aturan kesopan santunan yang telah lama di terapkan di Korea tersebut, “Ketika pulang nanti, maukah kau menemaniku untuk menghabiskan ddukbokki di kedai pinggir jalan bersama? Rasanya tak menyenangkan sekali untuk menikmatinya sendirian di musim hujan seperti ini,”

“Dan kau juga tak perlu khawatir, Taeyeon ssi,” gadis itu memutar bola matanya ketika sebutan kata formal itu terdengar dari bibir Sehun lagi, bocah lelaki itu tak memanggilnya dengan sebutan ‘noona‘ lagi, “Aku akan mentraktirmu. Jadi kupastikan uang di kantungmu tak akan menghilang satu won pun! Bagaimana?”

Lantas, Taeyeon segera menggelengkan kepalanya cepat—ia tak akan punya banyak waktu untuk hal-hal tak penting seperti itu—ada banyak sekali tugas yang harus dikerjakannya sepulang bekerja nanti sore, “Mianhae, Sehun ssi. Tetapi aku tidak bisa melakukannya,”

“Kenapa?”

“Ada beberapa berkas yang harus segera selesai kuperbaiki hingga nanti malam. Jadi maafkan aku, kita tak bisa melakukannya,” ia menatap wajah pemuda itu lurus-lurus, “Apalagi semenjak beberapa hari yang lalu kau bertingkah tak pantas kepadaku.” Sehun mulai menggigit bibir tipisnya sesaat ketika gadis itu kembali mengingatkannya pada kejadian tak menyenangkan mereka beberapa hari yang lalu.

Er,” pemuda itu mulai kesulitan dalam merangkai kata-katanya, wajahnya mulai memerah hanya dalam hitungan beberapa detik saja. Sehun memainkan buku-buku jarinya ragu, “Oleh karena itu, anggap saja ajakanku ini sebagai ucapan permintaan maafku ini kepadamu. Lalu setelahnya, kita juga dapat mengerjakan tugas mengedit berkas-berkasmu bersama,”

Taeyeon mengernyitkan dahinya tak percaya ketika mendengarkan seorang Oh Sehun mengatakan bahwa pemuda itu bersedia untuk membantunya mengerjakan tugas kantorannya yang kian hari semakin melimpah, “Kau serius?”

Rambut pirang platinum milik lelaki itu bergerak pelan ketika Sehun menganggukkan kepalanya yakin kepada Taeyeon, “Dan lagipula, kau bisa membantu mengajariku untuk menjadi seorang editor yang baik, ‘kan?” ia agak tergagap ketika berusaha menyahuti pertanyaan Taeyeon kali ini—jujur, ia merasa agak malu  mengingat tingkah kekanak-kanakannya beberapa hari yang lalu dengan mempermainkan Taeyeon yang pada awalnya ia pikir hanyalah seorang gadis muda berumur tujuh belas tahun yang sedang sibuk menyiapkan beberapa surat cintanya untuk kekasihnya yang entah berada di mana—Taeyeon benar-benar telah mengelabuinya.

Sedikit memakan waktu di antara mereka berdua, gadis itu akhirnya menganggukkan kepalanya singkat dan mengelus lengan kiri Sehun perlahan. Ia tersenyum lebar sekali, sehingga butuh waktu beberapa lama bagi Sehun untuk kembali memfokuskan pikirannya kembali pada rencana mereka nanti sore—mungkinkah ia terpesona dengan seorang gadis yang sepantasnya menjadi seorang kakak perempuan untuknya?—baginya, tak ada jawaban lain yang tepat, melainkan sebuah pembenaran.

Seperti yang sebelumnya dilakukannya, Sehun kembali memainkan buku-buku jarinya sedikit canggung. Percakapan mereka sempat terhenti selama beberapa saat, sebelum pada akhirnya Sehun memutuskan untuk menyambar pergelangan kecil Taeyeon kembali dan memegangnya erat-erat, hingga membuat sang gadis merasa terheran-heran sendiri memperhatikan sikap ganjil Sehun kali ini.

“Untuk saat ini, selamat bekerja, Taeyeon ssi!” ia berseru cepat dan melayangkan senyuman terbaiknya kepada gadis itu, “Jika ada sesuatu yang kau inginkan dariku, panggil saja aku,” ia berdehem pelan dan melanjutkan perkataannya lagi, jari telunjuk panjang Sehun itu kini teracung ke arah sebuah meja besar yang berada berhadapan dengan meja milik Taeyeon, “Itu mejaku, Ahgassi.”

___________

 

Hujan baru saja berhenti ketika Taeyeon dan Sehun menghentikan langkah mereka dan memasuki sebuah tenda kecil penuh kepulan asap berbau khas ddukbokki—kue beras pedas khas Korea—yang baru saja dimasak. Mereka memasuki tenda tersebut dengan sedikit terhambat menyadari betapa banyaknya pasangan kekasih di seputaran wilayah perkantoran mereka yang memilih untuk menghabiskan waktu bermesraan mereka di sana.

Sehun melirik tubuh mungil Taeyeon yang sedang meringkuk di sisi kiri tubuhnya, mereka memilih untuk duduk di sudut tenda kali itu, kondisi Taeyeon memang agak memprihatinkan kali ini. Karena jelas sekali, dibutuhkan banyak perjuangan besar bagi mereka berdua untuk menerobos hujan deras yang mengguyuri Kota Seoul beberapa saat yang lalu.

Taeyeon ssi?” ia bergumam pelan sembari meraih lengan kiri gadis itu pelan, ia mengusap tubuh basahnya perlahan, “Kau baik-baik saja?”

Gadis itu hanya tersenyum kecil ketika Sehun mengusap lengannya dan menatapnya khawatir, ia menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum cerah kepada Sehun, “Gwaenchana. Aku baik-baik saja,”

“Mungkin, aku hanya sedikit kedinginan saja.” Ia melanjutkan perkataannya sembari mengusap puncak kepala Sehun lembut, “Dan aku juga ingin minta maaf kepadamu atas perbuatan tak menyenangkanku beberapa hari yang lalu kepadamu,”

“Kau pasti sempat berpikir bahwa aku ini seorang gadis pemarah, bukan?” ia terkekeh geli menyampaikan gagasannya kali ini, “Tetapi selain itu, terima kasih pula karena telah mengajakku untuk bermain hujan bersama seperti ini. Rasanya seperti kembali lagi ke masa kecilku,” Sehun mulai mengalihkan perhatiannya kepada jemari lentik Taeyeon yang mulai bergerak meraih sumpitnya dan menjepit sebuah kue beras pedas miliknya—tetapi yang lebih aneh lagi, gadis itu justru mengarahkan makanannya kepada dirinya.

“Apa yang kau lakukan?” ia berujar gugup dan menatap wajah Taeyeon tak percaya, kedua pupilnya membesar ketika sumpit panjang itu mulai mendekati mulutnya.

“Buka mulutmu, bocah kecil!” gadis itu tertawa geli ketika kedua mata pemuda itu mengerjap memandanginya dengan sedikit kebingungan, “Anggap saja sebuah sambutan hangat dari sunbae-mu.” Ia berujar pelan untuk menghindari sebuah kesalah pahaman yang mungkin akan terjadi pada diri Sehun dan dirinya.

Agak sungkan, Sehun pun akhirnya memutuskan untuk membuka mulutnya—walaupun tak terlalu lebar—untuk menerima suapan ddukbokki yang diberikan oleh Taeyeon kepadanya itu. Semburat kemerahan tipis membuncah dari kedua pipinya ketika beberapa pasangan muda lain melirik ke arah mereka dan tertawa kecil memperhatikannya yang sedang disuapi. Hal ini tentu saja tak akan menjadi sebuah masalah bagi orang lain—mereka mungkin akan menganggapnya sangat lucu atau bahkan romantis—tetapi untuk Sehun tentu saja tidak. Ia harus memberikan kesan terbaik miliknya kepada Taeyeon. Tetapi apabila pada tahap awal perkenalan mereka saja sudah seperti ini, ia tak akan yakin dengan kelanjutan hubungan mereka yang selanjutnya.

Taeyeon bisa saja menganggap hubungan mereka tak lebih dari sekedar hubungan pertemanan biasa—atau mungkin hubungan seorang kakak perempuan bersama adiknya—sementara ia, akan dengan sangat tidak beruntungnya menjadi seorang pemuda malang yang terus menyimpan perasaannya pada seorang gadis yang telah menarik hatinya. Dan sebisa apapun, Sehun benar-benar akan menghindari hal tersebut, ia tak akan membiarkannya terjadi.

Taeyeon ssi,” Sehun bergumam pelan setelah sepotong kue beras pedasnya berhasil ia telan dengan sempurna, “Hm?” tungkai kaki pemuda itu mulai bergetar ketika wajah cantik pucat milik Taeyeon menoleh kepadanya sesaat, gadis itu lalu menatapnya lurus, hingga membuat kedua pasang mata indahnya itu langsung tertumpu pada kedua manik mata gelap milik Sehun dalam waktu yang cukup lama.

“Apakah kau percaya dengan cinta?”

Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya sekilas, ia lalu menopangkan dagunya pada telapak tangannya yang bertumpu pada meja makan kecil mereka, “Menurutmu?” ia berdesis pelan sembari memutar-mutar sumpitnya perlahan dengan sebelah tangannya yang tak menopang dagu, “Kurasa, hal itu kembali lagi kepada setiap kepercayaan masing-masing individu—mereka punya pendapat yang berbeda-beda, ‘kan? Tetapi menurutku pendapat pribadiku, cinta itu memang selalu hadir di dunia, dalam berbagai jenis bentuk. Bisa jadi cinta sejati, cinta monyet, atau cinta apapun itu,”

“Dari cinta kita dapat saling mengasihi satu sama lain, saling tolong-menolong, atau bahkan terkadang, juga ikut menyakiti seseorang yang paling kita sayangi pula. Cinta bisa saja membuatmu merasa amat bahagia tetapi di saat yang sama juga dapat membuat hatimu hancur seketika,”

Sehun menganggukkan kepalanya lagi, ia berusaha mendengarkan Taeyeon dengan seluruh perhatian yang mampu diberikannya.

“Lalu menurutmu bagaimana dengan cinta sejati?”

Semilir angin dingin yang kerap kali muncul setelah terjadinya hujan kini kembali berhembus, beberapa helai rambut Taeyeon bergoyang pelan hingga nyaris menutupi sedikit bagian wajahnya. Pandangan keduanya mulai berpendar kepada beberapa pasangan yang mulai memutuskan untuk beranjak dari kedai itu—berhubung langit telah menampakkan semburat jingga kemerahannya—terkadang mereka tertawa geli bersama ketika memperhatikan beberapa pria yang bertengkar dengan kekasihnya hanya karena sang pria tak membawakan mantel yang tepat untuk melindungi mereka berdua dari udara dingin.

Taeyeon mengerlingkan matanya pada Sehun, “Yang baru saja kita perhatikan tadi adalah salah satu contoh cinta yang menimbulkan hal-hal negatif—menurut pendapatku—kau sudah lihat, ‘kan? Keduanya bertengkar hanya karena sebuah masalah kecil yang berkaitan dengan mantel,”

“Oleh karena itu—hal ini tentu saja pendapatku, jadi kau juga boleh tak setuju karenanya—cinta sejati itu sangat sulit untuk ditemukan.”

Jemari lentik Taeyeon kembali menjulur kepada Sehun, “Kau ingin ddukbokki lagi?” gadis itu ternyata telah menyadari bahwa Sehun telah menghabiskan sepiring penuh kue beras pedasnya sedikit lebih cepat dibandingkan dirinya. Tetapi belum sempat ia menyodorkan beberapa ddukboki tersisanya kepada Sehun lagi, pemuda itu telah menahan pergelangan tangannya selama beberapa saat.

“Bolehkah aku menanggapi pendapatmu?”

Taeyeon hanya menganggukkan kepalanya singkat, ia masih diam tak bergeming memperhatikan ekspresi wajah Sehun yang sedang menatapnya serius. Jantungnya mulai berdetak tak beraturan ketika pemuda berusia tiga tahun lebih muda darinya itu mulai bersuara, ia merasa seakan tak siap mendengarkan lelaki itu berbicara dan mengungkapkan pendapatnya mengenai cinta.

“Menurut pendapatku, menemukan cinta sejati tak sesulit apa yang kau pikirkan selama ini. Ada banyak cara mudah dalam menemukannya—tetapi salah satu cara terbaiknya ialah dengan membangunnya sendiri. Cinta sejati dapat ditumbuhkan, tidak hanya dicari.”

“Dan tak jarang pula,” pemuda itu berdehem pelan sebelum melanjutkan penjelasannya lagi, “Cinta yang berakhir karena sebuah alasan besar tak dapat disebut pula sebagai cinta sejati—atau cinta yang sesungguhnya—karena ketika orang-orang berubah dan perasaan berubah, maka bukan berarti perasaan yang pernah dibagikan tersebut tidak dibagikan dengan tulus. Sebab terkadang, ketika sepasang manusia yang saling mencintai bertumbuh—mereka tumbuh secara terpisah—hingga menyebabkan pemahaman yang berbeda pula.”

“Dan hal yang seperti itu pula yang menyebabkan mereka berpisah.”

“Namun walaupun seperti itu, bukan berarti perasaan cinta yang lainnya tak akan hadir kembali di hati mereka masing-masing. Karena seperti kodrat manusia pada umumnya, setiap orang akan menemui ‘cinta tertepatnya’ masing-masing—layaknya perangko yang selalu menempel pada surat yang akan dikirimkan, cinta juga akan selalu menempel pada diri manusia yang akan dikirimkan untuk mengarungi dunia.”

“Ini hanyalah masalah waktu saja.”

 

TBC

38 thoughts on “[Freelance] STAMPS (Chapter 1)

    • Haha, maaf ya, aku anaknya memang suka gitu, suka bikin filosofi sendiri tentang sesuatu, jadi kesannya muter-muter dan belibet, LOL. Tapi nanti kamu bakalan tau kok inti ceritanya apa, hehe.

      Oke, ditunggu ditunggu🙂

  1. Sempat ragu buka buat baca ffmu. Soalnya ada my bias sehun yg jd main castnya(?).wkwkwk
    Huffftt lagi kesel sma ini bocah.tp ya sdhlah berhbung taeng eon my bias utma jga jd main cast. jd terpksa buka deh-.-
    eh#ditabokbolakbalik#

    Next ditunggu saeng~
    Eon bleh REQ?#plak
    Lutaeng sma Kristaeng ne~
    #peyukkai#
    #kecupmanjasehun#ehmaruk-_-
    Hwaitaeng~

    • Haha, aku ngerti kok eon, soalnya aku juga pernah kena masalah begituan ._.V
      Iya, ditunggu ya eon🙂

      Sabtu nanti fanfic kristaeng-ku dipost, jadi ditunggu aja deh. Terus untuk yang Lutaeng nyusul dulu ya, soalnya banyak banget draft fanfic-ku yang belum selesai u.u

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s