[Freelance] Confessions (Chapter 2)

jbrQRBZ97VvXc1

Judul:Confessions (chapter 2)

Author: Jung Eun Gi

Rating: PG-15

Length: chaptered

Genre: romance,angst,family

Main cast: Jessica Jung, Kris Wu

Support cast: Krystal Jung, Suho, Im Yoona, others find in the stories

Author’s note: cerita ini murni dari hasil pemikiran otakku, so don’t bash don’t judge and please appreciate it. Please tinggalkan jejak setelah membaca sebagai penyemangat untuk melanjutkan part seterusnya, gomawo readers~ sorry for typos, imperfection is human! Enjoy reading ^^ oh iy, kalau comment di chapter ini banyak, aku akan kirimkan chapter selanjutnya secepatnya. Tp kalau malah lebih sedikit drpd chapter sblmny, hmm… mau ga mau tunggu commentny bnyk br kirim chapter selanjutny. pasti pada penasaran kan gmn kelanjutannya? *gr dikit gapapalah >v<  so, be a nice readers!

Poster by http://www.minus.com/baboracoon

 

Jessica POV

 

            Seiring langkahku menuju keluar dari restoran itu, aku berdebat dengan akal sehat dan keinginanku. Cukup gila memang, mengajak seorang laki-laki yang baru kukenal beberapa jam yang lalu di hari yang sama untuk melakukan selca. But hey, sudah menjadi kebiasaanku untuk mendokumentasikan kejadian-kejadian dalam hidupku dalam bentuk foto. Bahkan, tadi aku sempat memotret interior design dalam restoran maupun menu makan kami.

 

Beberapa langkah keluar dari restoran, tidak tahu bagaimana, jari-jari sebelah tanganku sudah mengelilingi pergelangan tangan laki-laki itu, mencegahnya untuk melangkah lebih jauh dan ia langsung menghadap ke arahku.

 

 

let’s take a picture … together”, aku mendengar bibirku mengucapkan kata-kata itu lalu dengan cemas menebak-nebak apa respon yang akan ia berikan.

 

 

Ne?”, Kris terlihat kaget mendengar permintaan aneh dariku. Ia menaikkan kedua alisnya, terlihat bingung dan diam di tempat.

 

 

Ya, balli”, aku menyeret tangannya paksa mendekat ke arah pintu restoran. Aku mengeluarkan iphoneku dan langsung mengarahkan kamera depan ponselku dan mengangkatnya agak tinggi dariku. Hanya seperti itu, sesi foto dadakan pun sukses.

 

***

 

Kris POV

 

Aku kaget dan mengira bahwa aku salah mendengar saat Jessica mengajakku untuk foto bersama begitu keluar dari pintu restoran tempat kami makan malam. Aku benar-benar tidak menduga ajakan itu akan terucap dari bibir gadis populer di sekolah. Saking kagetnya, aku mendapati diriku sendiri tidak dapat berkata-kata dan hanya bisa melongo sambil diam di tempat.

 

Menunggu diriku yang tidak kunjung memberi respon, gadis itu langsung menyeretku mendekat dengan pintu restoran di belakang kami. Ia mengarahkan iphone-nya dan langsung mengambil foto kami berdua yang berdiri bersebelahan. Aku tidak tahu bagaimana hasil foto itu, tapi aku yakin bahwa ekspresi wajahku datar.

 

Kajja!”, ajak gadis itu tepat setelah kami foto bersama. Matanya tidak lepas dari layar handphone dalam genggamannya dan ia terlihat, well, agak puas dengan hasil foto itu, kurasa.

 

Ya, kau menuju halte bus, kan?”, tanyaku sambil mengekori Jessica yang berjalan di depanku.

 

“Mm, memangnya kau mau kemana?”, Jessica memutar badannya menghadapku.

 

“Akan ku antar sampai halte. Kajja”, aku kembali melangkah dengan kedua tangan yang aku jejalkan dalam saku celanaku mendahului gadis itu yang entah kenapa aku merasa ia memperhatikanku beberapa detik sebelum akhirnya menyamai langkahnya denganku.

 

***

Jessica POV

 

            Aku memandang punggung laki-laki yang berjalan di depanku sejenak, mencerna kata-katanya barusan. Ia akan mengantarku sampai halte bus. Baik sekali, sungguh di luar dugaan jika dibandingkan dengan wajah cueknya, seperti adegan di film-film saja.

 

Aku segera menyamai langkahku dengan langkah Kris yang lebar-lebar itu lalu berjalan beriringan dalam diam. Kali ini, suasana hening di antara kami membuatku nyaman. Aku tidak lagi memikirkan topic apa yang akan aku bahas.

 

Tidak lama kemudian, kami sudah sampai pada halte bus yang akan segera mengantarku pulang. Aku tidak melihat adanya bus di situ yang artinya aku harus menunggu bus untuk datang entah berapa lama lagi. Aku membalikkan tubuhku menghadap Kris.

 

“Aku akan menunggu di sini sebentar. Kau pulang duluan saja. Gomawoyo, hati-hati di jalan, Kris”

 

Lagi-lagi Kris menaikkan kedua alisnya lalu berkata,”Benarkah? Kau tidak apa-apa sendirian di sini?”

 

Of course, lagipula banyak toko dan orang-orang berjalan lalu lalang juga di sekitar sini. Kau pulang duluan saja, sudah malam. Anyeong”, aku melambaikan sebelah tanganku dan mengulum senyum manisku ke arahnya.

 

“Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan. Anyeong”, balas Kris sambil mengangkat sebelah tangannya dari saku celana dengan agak kaku. Kemudian, ia membalikkan tubuhnya perlahan dan berjalan meninggalkanku.

 

 

***

Author POV

 

Kris berjalan menjauhi gadis itu, namun tidak jauh dari situ, ia menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya. Ia mengamati Jessica dari jauh. Entah kenapa ia tidak begitu percaya bahwa seorang Jessica Jung pulang-pergi naik bus. Ia kira Jessica tipe perempuan kaya yang manja yang hanya akan kemana-mana diantar supir.

 

Yang tadinya ingin memastikan Jessica pulang naik apa, Kris malah memperhatikan wajah gadis itu. Jessica terlihat menundukkan kepalanya dan menatap aspal di bawah kakinya dengan tatapan kosong sambil mengetuk-ngetukkan ujung sebelah sepatunya. Helai-helai rambut panjang cokelatnya berjatuhan dekat pipi mulusnya, terus sampai melewati leher dan bahu gadis itu.

 

Kris mengangkat kamera DSLR-nya dan memotret gadis itu tanpa sadar. Ia juga tidak tahu kenapa ia memotretnya. Ia jadi merasa seperti seorang paparazzi jika terus-terusan memoto Jessica diam-diam seperti ini. Ia mengacak rambutnya pelan dan saat mendongakkan kepalanya, ia melihat Jessica yang tengah melangkahkan kakinya ke dalam bus.

 

***

 

 

Jessica POV

 

Aku menyandarkan kepalaku pada jendela di sebelah kiriku dan memejamkan kedua mataku, merasa berat untuk pulang ke rumah. Aku baru sadar saat bersama Kris tadi, aku sejenak melupakan kekesalanku.

 

Ketika sudah sampai halte dekat rumah, aku segera turun dari bus dan berjalan pelan-pelan dengan kepala tertunduk menuju rumahku. Aku dapat melihat rumah besarku dengan

ekor mataku dan baru menyadari bahwa ada laki-laki yang sedang bersandar pada tembok rumahku sambil mendongakkan kepalanya, menatap langit malam yang hanya dihiasi satu-dua bintang saja, Suho.

 

Saat jarak kami sudah dekat, aku menghentikan langkahku dan menatap orang itu. menyadari keberadaanku, ia mengalihkan pandangannya dan menatapku tanpa kesan terkejut di kedua matanya.

 

Aish! Ya! Dari mana saja kau?”, serunya jengkel.

 

“Bukan urusanmu”, balasku sambil mengerucutkan bibirku dan berjalan melewatinya. Namun, ia menahanku dan mencengkeram lenganku sambil menghembuskan napas dengan kasar. Aku sudah bersiap-siap mendengar berbagai ocehan dan omelan yang sebentar lagi akan memenuhi gelendang telingaku.

Arayo”, cengkeramannya melonggar, namun masih memegang sebelah lenganku.

 

Aku menaikkan kedua alisku dengan tatapan antara heran dan tidak percaya. Hanya itu? Hanya itu yang keluar dari mulutnya? Wow, sulit dipercaya. Kukira ia akan mengomeliku seperti biasanya. Atau ini baru permulaan saja?

 

Mwo? Kau tahu apa?”, tanyaku dengan wajah polos.

 

“Krystal. Aku sudah tau tentang dirinya yang mulai sekarang tinggal bersama keluargamu”, Suho memandangku dengan tatapan lembut.

 

“Oh, itu…”, aku menundukkan kepalaku, menolak untuk membalas tatapan Suho.

 

“Aku sudah menemuinya tadi. Bahkan kami sempat mengobrol lama karena menunggumu.”

 

Aku menghela napas dan mengubah posisi berdiriku. Aku ikut bersandar di sebelah Suho pada tembok depan rumahku dekat pagar dan menatap langit malam seperti yang tadi Suho lakukan saat menungguku.

 

“Krystal…, menurutmu dia itu orang yang seperti apa?”, tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari langit.

 

Suho yang melihatku seperti itu, ikut bersandar kembali pada tembok dan melakukan hal yang sama sepertiku.

 

“Entahlah, menurutku dia orang yang baik dan menyenangkan. Meskipun sedikit pemalu dan takut-takut pada awalnya. Tapi setelah aku mengajaknya mengobrol cukup lama, ia mulai bisa bersikap terbuka denganku. Aku juga yakin ia cukup dekat dan percaya sepenuhnya dengan orang tuamu”

 

“Begitu?”, aku tersenyum pahit dan menundukkan kepalaku. Well, sepertinya hanya aku satu-satunya orang yang merasa keberatan dengan kehadiran Krystal. Bahkan Stephanie dan Suho saja menerima Krystal secara tidak langsung.

 

“Aku tahu ini pasti sulit untukmu, sica-ya. Tapi, belajarlah untuk membuka diri dan bertemanlah dengannya. Ia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi. lagipula, memangnya kau mau hanya berteman denganku dan Chanyeol saja? bagaimana jika suatu hari nanti kami mempunyai pacar? Aku tidak bisa terus-terusan berada di sampingmu, sica-ya. bertemanlah dengan banyak orang, ne?”, Suho mendekap kedua bahuku dan memaksaku untuk menatapnya yang hanya aku balas dengan anggukan kecil.

 

Perkataan Suho ada benarnya juga. Bagaimana bila suatu saat nanti ia mempunyai pacar? Selama ini Suho sudah kuanggap seperti oppa-ku sendiri. Bahkan bisa dibilang aku lebih dekat dengannya dibandingkan dengan orang tuaku. Aku tahu aku salah sudah bergantung padanya selama ini. tiba-tiba aku jadi merasa tidak enak padanya. Bagaimana kalau perkataannya benar? Bagaimana jika selama ini Suho tidak punya pacar gara-gara aku yang terlalu dekat dengannya, sehingga banyak perempuan yang mundur? Mianhae Suho-ya, aku tidak bermaksud seperti itu!

 

“Masuklah, sudah malam. Jaljja”, Suho mengusap kepalaku pelan.

 

Aku menururti perkataannya, membuka pagar besar rumahku dan melangkah masuk. Aku membalikkan badanku dan masih mendapati Suho berdiri di luar sana, menungguku untuk masuk ke dalam rumah. Aku segera melambaikan tanganku ke arahnya dan berlari-lari kecil masuk ke dalam rumah.

 

***

 

 

            Aku terbangun dari tidur pulasku saat alarm handphoneku berbunyi nyaring. Aku meraba-raba bawah bantalku dengan mata yang masih terpejam, berusaha mencari handphoneku yang masih berbunyi itu namun tidak berhasil. Akhirnya dengan berat hati, aku membuka kedua kelopak mataku, mengerjap-ngerjapkannya perlahan dan mengerutkan dahi untuk mencari dimana letak handphoneku itu yang ternyata terletak di atas meja kecil di samping sisi tempat tidurku.

 

Karena sudah terlanjur bangun, aku mengurungkan niatku untuk tidur lagi meskipun selimut dan empuknya bantal yang sangat menggoda. Aku melangkah menuju kamar mandi dengan malas lalu mengenakan seragam sekolah. Aku menata rambutku dengan dikuncir setengah yang dihiasi dengan pita warna putih berenda dan ujung rambut yang di curly, kemudian bersiap-siap turun ke bawah untuk sarapan.

 

Begitu sampai di ruang makan, aku menemukan mom, dad dan Krystal sedang mengobrol akrab sambil menunggu sarapan mereka yang sedang disiapkan juru masak di rumahku. Aku melewati mereka menuju dapur untuk menyiapkan sarapanku sendiri karena hanya aku yang menyantap sereal dengan susu sebagai menu sarapan.

 

Dad menatapku dengan kening berkerut ketika aku kembali dari dapur dengan membawa semangkuk sereal yang direndam susu. Aku hanya diam saja dan menyantap sarapanku dalam diam, mendengarkan obrolan orangtuaku dengan Krystal. Aku tidak berniat sama sekali untuk ikut dalam percakapan tersebut dan hanya focus untuk menghabiskan serealku.

 

Begitu serealku sudah habis kumakan dan menaruh mangkuk kotor di dapur, aku melangkahkan kakiku menuju ke luar ruang makan yang letaknya dekat dapur namun langkahku terhenti karena pertanyaan dari Dad.

 

“Jessie, kau mau kemana?”

 

“Tentu saja ke sekolah. Waeyo?”, aku memutar badanku dan menatap Dad.

 

Mwo? Kau tidak menunggu Krystal? Kalian kan pergi ke sekolah dengan mobil yang sama”

 

But…”

 

No more excuse, jess. Kalian akan pergi ke sekolah bersama. Tunggulah Krystal sebentar. Tidakkah kau lihat sarapan kami baru saja dihidangkan? “

 

“Kutunggu di luar”, aku melipat kedua tanganku di depan dada dan berjalan ke luar rumah menuju taman di halaman rumahku lalu duduk di sebuah kursi kayu yang agak panjang , menghadap air mancur kecil yang terletak di tengah-tengah taman rumahku.

 

Menyebalkan. Sudah bangun pagi ternyata masih harus dibuat menunggu. Lebih baik aku tidur lagi saja tadi meskipun hanya 15 menit sekalipun. Aku semakin jengkel jika mengingat obrolan mereka tadi. Orangtuaku berencana akan membelikan piano untuk Krystal karena mereka baru tahu kalau Krystal pandai memainkan alat music elite itu. aku masih ingat, dulu saat SD, aku merengek-rengek pada orang tuaku untuk membelikanku piano yang ditolak mentah-mentah oleh mereka. Mom bilang itu hanya keinginanku sesaat saja dan belum tentu aku akan memainkannya setiap hari.

 

Aku tersadar dari lamunanku dan segera masuk ke dalam mobil saat melihat Krystal yang berdiri di sisi mobil sambil menolehkan kepalanya ke sana kemari mencariku.

 

 

***

 

 

Ya, kau sudah mengerjakan pr?”, Tanya Suho saat aku berjalan melewatinya di kelas.

 

Eo? Pr? Pr apa? Memangnya kita ada pr?”, aku balas bertanya seraya meletakkan tas ranselku di atas meja dan duduk di bangkuku. Aku menolehkan kepalaku dan tidak mendapati tanda-tanda Kris sudah datang.

 

Ya baboya!”, tiba-tiba Suho menjitakku tanpa alasan yang jelas.

 

Aish! Appa… ya! kenapa kau menjitakku? Waeyo wae?” aku berkacak pinggang dengan mata melotot. Sudah badmood sejak pagi, malah dapat jitakan dari Suho. Sungguh awal di pagi hari yang menyedihkan.

 

Ya! kita kan ada pr kimia. Sudah kau kerjakan apa belum?”, Suho meladeniku dengan sabar dan tepat pada saat itu, bel masuk sekolah berbunyi nyaring.

 

Oh ya, pr kimia. Tentu saja. kenapa aku sama sekali tidak ingat ya? Sialnya lagi, hari ini pelajaran pertama di kelasku adalah kimia sehingga aku tidak punya waktu sama sekali untuk menyalin. Sepertinya semalam aku terlalu asyik menonton serial gossip girl sehingga lupa sama sekali pada pr kimia. Hey, jangan salahkan aku sepenuhnya! Lagipula Suho tidak mengingatkanku pada pr kimia padahal biasanya ia yang selalu mengingatkanku tanpa henti.

 

And here I am, berjalan di lorong kelas seorang diri tanpa tujuan setelah diusir dari kelas karena tidak mengerjakan pr. Dan, oh! Aku baru sadar tidak melihat Kris sampai sekarang. Kemana orang itu?

 

 

***

 

Kris POV

 

Sial! Aku mengacak rambutku putus asa sambil berlari sekuat tenaga menuju kelas. Aku sudah benar-benar terlambat akibat bangun kesiangan sehingga aku harus melewati sarapanku jika tidak ingin terlalu terlambat ke sekolah. Aku bahkan mengenakan seragamku dengan asal. Ujung bajuku keluar, kancing baju seragamku tidak terkancing seluruhnya dan aku tidak mengenakan dasi.

 

Kenapa sekolah di Korea tidak diperbolehkan mengenakan pakaian bebas saja, sih? Sungguh merepotkan, aku mengeluh dalam hati.

 

Aku terengah-engah saat berdiri di depan pintu kelas, lalu mengetuk pintu kelas yang segera dibukakan oleh Seo sonseng, guru kimiaku. Ia mencegatku untuk masuk ke dalam kelas dan menghujaniku dengan berbagai kritik dan pertanyaan.

 

“Mengapa kau terlambat? Kau tahu sudah jam berapa sekarang? Kau sudah buat pr? Karena kalau belum, silahkan tinggalkan kelas seperti Jessica Jung”, Seo sonseng memberiku ultimatum sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

 

Tunggu, apa tadi dia bilang Jessica Jung? Anak itu tidak mengerjakan pr dan diusir dari kelas? Haha. Aku menahan tawa setengah mati. Kukira ia anak rajin, ternyata dugaanku tentang anak populer dan kaya itu benar. Mereka pemalas dan menganggap enteng segalanya. Tapi entah kenapa, aku berbohong pada Seo sonseng.

 

“Maafkan aku Seo sonseng, aku belum mengerjakan pr”

 

***

Aku merutuki diriku sendiri saat berjalan menjauhi kelas di belakangku, tidak tahu mau kemana. Kenapa aku malah berbohong pada Seo sonseng? Padahal aku sudah menyelesaikan pr kimiaku. Aish! Aku menjambak rambutku pelan, menyesali perbuatanku tadi.

 

Tanpa sadar, aku sudah berdiri di depan pintu perpustakaan sekolahku yang luas dan nyaman. Tidak ada siapa-siapa di situ selain petugas perpustakaan, selain itu di dalam sana juga tersedia wifi, computer, meja serta kursi dan AC yang membuat kebanyakan murid di sini betah berlama-lama di perpustakaan.

 

Aku melangkah masuk dan berjalan menuju meja panjang yang dilengkapi banyak kursi di belakang rak-rak buku yang menghadap jendela, berniat untuk belajar kimia sendiri di sana. Langkahku terhenti saat melihat sosok yang kukenal, sedang menelungkupkan wajahnya dengan kedua tangan yang terlipat di atas meja. Kedua matanya terpejam dan posisi tubuhnya membelakangi jendela dengan matahari pagi yang menembus masuk.

 

Rambutnya cokelatnya yang ditata sedemikian rupa berkilau terkena sinar matahari dari jendela di belakangnya. Jika aku membawa kamera DSLR-ku, sudah pasti langsung kupotret. Karena hanya bermodalkan kamera iphone, dengan benda itulah aku memotretnya dan hasilnya cukup memuaskan. Entah apa atau siapa yang harus kupuji atas hasil foto itu. Apakah memang karena keahlianku, kamera iphoneku atau kecantikan gadis itu.

 

Aku mendekatinya perlahan dan menarik kursi di hadapan gadis itu lalu duduk di situ. Aku mengeluarkan buku kimiaku dari tas, menaruhnya di atas meja dan membalik-balikkan halamannya. Sudut mataku selalu menangkap sosok gadis di hadapanku dan ia sama sekali tidak terlihat terganggu dengan kehadiranku maupun aktivitasku. Ia masih saja melanjutkan sleeping beauty-nya itu yang menurut pandanganku malah terlihat manis dan anggun. Selanjutnya, aku mendapati diriku sendiri tengah memperhatikan paras wajah cantiknya dengan buku kimia yang terbuka yang tidak tersentuh sama sekali di hadapanku.

 

***

Jessica POV

 

Aku tersentak dari tidur pulasku karena bunyi bel sekolah yang menandakan bahwa jam pelajaran pertama telah berakhir. Punggungku terasa pegal karena posisi tidur yang tidak nyaman di atas meja seperti ini. Aku bergeming di tempat, mencari posisi yang nyaman ketika teringat bahwa masih ada 1 jam pelajaran kimia lagi sehingga aku masih punya waktu untuk melanjutkan tidurku.

 

Namun aku menangkap sosok seseorang di hadapanku yang tidak aku ketahui siapa karena terhalang silaunya matahari yang menembus dari jendela di belakangku, bahkan punggungku saja sampai terasa hangat karena sinar matahari.

 

Aku menghalau silaunya sinar matahari dengan meletakkan sebelah telapak tanganku di depan wajah lalu bangun dalam posisi duduk, menegakkan tubuhku dan mengucek kedua mataku perlahan.

 

“Sudah puas tidurnya?”, Tanya sebuah suara yang terdekesan familiar di telingaku.

 

Aku langsung membelalakkan kedua mataku dan mengernyitkan dahi.

 

“Kris? Apa yang kau lakukan di sini?”

 

Ia berdecak pelan sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku, “Ya, kau pikir perpustakaan ini milikmu? Terserah aku ingin melakukan apa di sini. Kau sendiri kenapa malah tidur di sini?”

 

“Memangnya perpustakaan ini milikmu? Terserah aku jika ingin tidur di sini atau tidak”, aku membalas perkataannya sambil tersenyum jahil penuh kemenangan. Ia hanya menatapku datar dan melanjutkan pekerjaannya.

 

Tidak mendapat balasan, aku memperhatikan apa yang sedang ia lakukan dan lagi-lagi aku mendapati diriku mengernyit heran pada laki-laki di hadapanku ini lalu tersenyum penuh arti ke arahnya.

 

Menyadari aku yang dari tadi memperhatikannya, ia mengalihkan perhatiannya dari buku dan menatapku.

 

Waeyo? Kenapa kau menatapku seperti itu?”, tanyanya jengkel.

 

Arasseo. Kau dikeluarkan oleh Seo sonseng karena tidak mengerjakan pr kan?”, aku menopang daguku dengan sebelah tangan masih dengan senyum terpapar di wajahku.

 

“Bukan urusanmu”

 

Aku mengerucutkan bibirku dan memperhatikannya dalam diam. Tiba-tiba, ia mendongakkan kepalanya lagi dan menatapku dengan wajah dinginnya.

 

Ya! Daripada kau melamun, lebih baik kau mengerjakan pr-mu dan belajar materi selanjutnya”, tiba-tiba ia terdengar seperti Suho saja di telingaku.

 

Arasseo. Tapi, ada yang tidak aku mengerti…”

 

“apa saja yang tidak kau mengerti? Akan aku ajarkan sampai kau mengerti”, ia menatapku tepat di mata dan aku tahu bahwa saat itu ia tidak bercanda saat mengatakan ia akan mengajariku.

 

***

            “Aigoo, akhirnya selesai juga!”, aku menghempaskan tubuhku pada kursi dan meegangkan otot-otot tanganku.

 

Kris terlihat membereskan buku-bukunya ke dalam tas, memakai ranselnya di salah satu pundaknya lalu berdiri dari tempat duduknya.

 

“Kau mau kemana?”, aku menatapnya ingin tahu.

 

“Ke kantin. Mau ikut?”

 

“Boleh juga”,sahutku sambil memasukkan buku-bukuku ke dalam tas ranselku dan berjalan mengikuti Kris menuju kantin.

 

Kami berjalan dalam diam dan begitu tiba di kantin, Kris langsung menaruh tasnya pada sebuah meja dan menghadapku.

 

“Mau menitip sesuatu? Aku lapar.”

 

Ani, aku tidak lapar”

 

“ Baiklah, tunggu sebentar.” Kris meninggalkanku untuk menuju ke sebuah stand makanan dan tidak lama kemudian, ia kembali sambil membawa makanannya dan duduk di hadapanku.

 

“Kau tidak makan? apa kau tidak lapar? Ah, aku lupa. Kau kan perempuan yang harus selalu memperhatikan pola makan mereka agar tetap terlihat menarik, bukan begitu?”, lagi-lagi Kris menyindirku. Kenapa ia senang sekali menyindirku sih? Memangnya apa salahku?

 

“Huh! dasar sok tahu. Aku tidak makan karena ini belum jam makanku. Aku belum merasa lapar. Lagipula aku memang tidak bisa makan terlalu banyak di pagi hari karena dapat membuatku mual. Ya Kris Wu! Kenapa kau senang sekali menyindirku, sih?”

 

Kris menaikkan kedua alisnya, terkejut karena pertanyaanku yang blak-blakkan barusan, lalu mengangkat kedua bahunya tidak peduli.

 

Molla, bukankah gadis-gadis sepertimu memang pantas untuk disindir?”

 

Aish jinjja! Gadis-gadis sepertiku? Maksudmu? Gadis cantik dan populer serta kaya seperti diriku ini? Ya! aku tidak pernah meminta untuk terlahirkan seperti ini. Lagipula ini semua kan anugerah, jadi aku tidak masalah jika aku memiliki kelebihan seperti itu.” aku membalasnya dengan emosi yang sudah memuncak sampai kepala. Setelah itu, Kris terlihat diam menikmati makanannya tanpa niat untuk berdebat denganku.

 

Ya Kris Wu! Kenapa kau selalu mencari ribut denganku? Tidak bisakah kita berteman?” tiba-tiba aku mendapati diriku berbicara seperti itu. Entah kenapa aku ingin dekat dan mengenalnya lebih jauh.

 

Why should I? Kenapa kau ingin berteman denganku? Aku dengar dari orang-orang kalau kau tidak memiliki banyak teman karena kau suka memilih-milih dalam berteman. Apa itu benar?” Kris mengutarakan pertanyaan interogasinya.

 

“Hmm, molla. Aku tidak peduli jika orang-orang beranggapan seperti itu. they don’t know me, Kris. Sebenarnya aku ingin berteman dengan siapa saja, tapi…”

 

“Tapi apa, Jess?”, Kris menanti kalimatku selanjutnya.

 

“Aku tidak nyaman jika harus berteman dengan gadis-gadis yang suka bergosip dan cerewet secara berlebihan tentang appearance mereka dan hal-hal tidak penting lainnya, yang memang merupakan dominan gadis-gadis di sekolah ini. Aku juga tidak nyaman beteman dengan para laki-laki yang naksir padaku padahal kami belum saling mengenal. Bukankah itu artinya mereka hanya menyukai fisik-ku saja? dan jika aku bersikap ramah terhadap mereka, sama saja aku mempermainkan mereka dengan memberi harapan palsu. Sekarang, kau mengerti maksudku?”, aku berbicara panjang lebar terhadap lelaki menyebalkan di hadapanku ini.

 

Kris mengerjapkan kedua matanya seakan-akan tidak menduga penjelasan panjang lebar yang datang dariku.

 

Fine. Let’s be friends then”

 

Aku kira ia akan memulai perdebatan lagi denganku, namun ia hanya mengatakan sebuah kalimat yang singkat, padat dan jelas yang mau tidak mau membuatku tersenyum puas ke arahnya.

 

***

Author POV

 

2 minggu telah berlalu sejak Krystal tinggal bersama dengan keluarga Jessica. Dan selama itu pula Jessica tidak pernah bicara dengannya, namun Suho maupun orang tua Jessica dan Krystal semakin dekat saja. Oh, dan selama itu pula orang tua Jessica tidak pernah meninggalkan rumah ke luar negeri atau kemanapun untuk mengurus bisnis. Bila memang harus pergi, hanya Tuan Jung saja yang pergi, sedangkan Ny. Jung berada di rumah.

 

Contohnya, seperti pagi ini. Jessica, Krystal dan kedua orang tuanya tengah sarapan bersama di ruang makan. Hal yang sangat jarang dialami Jessica, sarapan bersama seperti ini. Mungkin sudah berbulan-bulan lamanya ia tidak pernah makan satu meja dengan kedua orang tuanya. Ia baru menyadari sejak Krystal hadir di rumah ini, mereka semua, termasuk orang tuanya yang bisanya super sibuk, jadi selalu menyantap sarapan setiap pagi bersama-sama.

 

“Seharusnya kau makan saat sarapan, Jess. Jangan hanya makan sereal dengan susu saja. bagaimana kau ingin pintar jika yang kau makan setiap pagi hanya susu dengan sereal? Contohlah Krystal, ia selalu makan setiap pagi. Tidak heran jika ia pintar”, Tuan Jung menasihati Jessica. Orang yang dinasihati hanya memutar kedua bola matanya dan lanjut menyantap sereal cokelat kesukaannya. Tuan Jung hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

 

Bisa dikatakan hal itulah yang membuat Jessica bersikap uring-uringan belakangan ini. Ia kelihatan cemburu pada Krystal meskipun tidak mau mengakuinya. Bahkan, ia agak menjauhkan diri dari Suho dan sebaliknya, mendekatkan diri pada Kris. Ya, Kris. Laki-laki yang mulai disukai Jessica entah sejak kapan. Baru kali ini Jessica naksir seseorang, biasanya ia yang selalu ditaksir para laki-laki di sekolahnya.

 

“Ya, sepertinya Kris cocok jika pacaran dengan Jessica. Mereka akan menjadi Hot couple sepanjang sejarah sekolah ini!”, Jessica tidak sengaja mendengar percakapan gadis-gadis di lorong sekolah yang makin membuatnya percaya diri.

 

Gossip tentang dirinya dan Kris mulai beredar luas sejak ia dan Kris dikeluarkan bersama saat pelajaran kimia waktu itu dan dilihat murid-murid lain saat mereka di kantin

maupun di lorong sekolah. Ya, sejak Kris mendeklarasikan pada Jessica bahwa ia mau menjadi temannya, mereka memang sering terlihat bersama.

 

***

            Pelajaran olah raga tengah berlangsung dan para laki-laki di kelas Jessica sedang bertanding bola basket di lapangan, sementara yang perempuan menunggu giliran main mereka dengan duduk-duduk di pinggir lapangan dan memperhatikan para laki-laki yang sedang bertanding.

 

Mata Jessica hanya melekat pada satu orang saja, Kris. Ia memperhatikan gerak-gerik Kris yang sedang menggiring bola basket menuju ring dengan tatapan kagum. Wajahnya yang dialiri keringat malah membuat pikiran Jessica melayang entah kemana. Entahlah, semua yang ada pada diri Kris terlihat sempurna dimatanya.

 

Tidak lama kemudian, Lee sonseng, guru olah raga mereka meniupkan peluit menandakan pertandingan berakhir dan kali ini giliran perempuan yang bertanding. Saat sedang bermain basket dengan serunya, Jessica tidak sengaja menginjak kaki dan menubruk orang di belakangnya sehingga orang itu terjatuh.

 

Omo! Mianhae mianhae. Gwenchanha Yoona-ya?”, Jessica terlonjak kaget dan langsung berjongkok di sebelah Yoona.

 

Ne, gwenchanha”, balas gadis yang bernama Im Yoona itu.

 

Jessica memegang sebelah bahu gadis itu dan membantunya berdiri. Yoona meringis pelan saat berdiri ketika menyadari bahwa lutut serta siku gadis itu terluka.

 

“Kita ke UKS saja ya? jeongmal mianhae, aku benar-benar tidak sengaja.” Jessica menuntun Yoona menuju UKS. Pemain cadangan pun menggantikan Yoona dan Jessica.

 

Tanpa disadari, 2 pasang mata mengekori Jessica yang tengah menuntun Yoona menuju ke UKS. Suho dan Kris saling berpandangan satu sama lain, tiba-tiba bingung dengan sikap Jessica yang berubah baik. Biasanya Jessica akan bersikap dingin dan cuek terhadap siapapun, terlebih belakangan ini mood-nya sedang tidak begitu baik.

 

***

 

 

 

Mianhae, sica-ssi. Gara-gara mengantarku ke sini, kau jadi tidak main basket di lapangan”,Yoona berkata pelan sambil menundukkan kepalanya, takut dengan gadis populer di hadapannya.

 

Ani, gwenchanha. Lagipula aku yang membuatmu terluka seperti ini. Jeongmal mianhae. Ya, ada apa dengan ’sica-ssi’? panggil aku sica saja. mulai sekarang jangan menggunakan bahasa formal denganku, ne?”, Jessica tersenyum yang dibalas dengan senyuman dari Yoona.

 

Setelah luka-luka pada kaki dan siku Yoona selesai diobati, Jessica kembali menuntunnya ke kelas dan kali ini mereka mengobrol dengan asyik meskipun ini merupakan obrolan pertama kedua orang itu. sepertinya Jessica mulai berteman dengan orang itu. menurutnya, Im Yoona orang yang baik dan terbuka serta simple, apa adanya, tidak seperti gadis-gadis lain di sekolah ini.

 

***

KRIING!!!

 

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Jessica langsung berdiri dari bangkunya dan berlari ke meja Yoona.

 

“Yoona-ya, ayo pulang bersama. Aku akan mengantarmu pulang, bagaimana? Kakimu kan sedang sakit. Aku akan mengantarmu sampai rumah dan jangan menolak, arasseo? Kajja!”, tanpa menunggu jawaban dari Yoona, Jessica langsung menarik tangan gadis itu dan menuntunnya pelan keluar kelas.

 

“ gomawo Sica-ya, tapi aku bisa pulang sendiri,kok.” Kata Yoona yang tengah dituntun Jessica.

 

“Ah waeyo? Sudahlah tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu pulang. Kan sudah kubilang jangan menolak. Atau jangan-jangan kau menolak tawaranku karena kau tidak ingin berteman denganku?”, Jessica menghentikan langkahnya dan menatap Yoona.

 

Eyy, aniyo! Ya sudah terserah kau saja. gomawoyo Sicachu!”

 

Ya! jangan memanggilku seperti itu. awas kau, akan kuturunkan kau di lampu merah”

 

Mwoya… kan kau yang ingin mengantarku pulang”

 

Mereka melanjutkan langkah mereka ke parkiran sekolah sambil tertawa dan diiringi dengan obrolan yang tidak jelas. Begitu menemukan mobil yang dibawa supir Jessica, mereka segera masuk ke dalamnya.

 

“Shin ahjussi, kita antar Yoona pulang dulu ya! ia akan menunjukkan arahnya nanti selama di jalan. Kajja!”, Jessica berkata pada supirnya yang sudah 2 tahun ini bekerja untuk keluarganya.

 

Eo?  Lalu bagaimana dengan nona Krystal?”

 

Jessica menepuk dahinya pelan, lupa sama sekali pada Krystal. Sudah 2 minggu ini pula ia pulang bersama Suho, tidak ingin berada 1 mobil dengan Krystal. Ia langsung mengeluarkan iphone nya dan mengetik sms secepat kilat untuk Suho, memintanya untuk mengantar Krystal pulang meskipun ada rasa tidak rela, tapi apa boleh buat?

 

“Ahjusii, aku sudah meminta Suho untuk mengantar Krystal pulang. Kita jalan saja ya?”

 

Selama sedetik, Yoona tersentak saat mendengar nama Suho dan langsung mengatur ekspresinya kembali.

 

“Sica-ya, Krystal itu siapa?”, Tanya Yoona.

 

“Dia… adikku”, Jessica berbohong untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut.

 

Yoona yang mendengar jawaban dari Jessica hanya mengangguk-ngangguk saja, percaya sepenuhnya pada ucapan Jessica.

 

***

Jessica POV

 

Setelah mengantar Yoona pulang, aku menuju rumahku dengan melewati sekolahku karena rumah Yoona yang berlawanan arah dengan rumahku, meskipun jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah.

 

Ahjussi berhenti!”, tiba-tiba aku berteriak yang membuat Shin ahjussi kaget dan rem mendadak.

 

Ahjussi, tunggu sebentar, ne?”, tanpa menunggu balasan dari Shin ahjussi, aku langsung membuka pintu mobilku dan keluar dari mobil.

 

Aku berlari-lari kecil menuju lapangan indoor basket sekolahku. Saat di mobil tadi, aku melihat sosok Kris berjalan memasuki lapangan basket dan aku menyusulnya sekarang. Sebelum masuk, aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, mengatur detakan jantungku yang bekerja lebih cepat dari biasanya.

 

Aku membuka pintu lapangan indoor itu perlahan tanpa suara dan melangkah masuk ke dalam. Aku menatap punggung Kris yang sedang melemparkan bola ke dalam ring. Aku berdiri di sana agak lama dan tanpa sadar aku memotretnya dengan iphoneku. Aku langsung menggelengkan kepalaku kuat-kuat begitu sebuah pemikiran gila terlintas di benakku.

 

Haruskah aku melakukannya sekarang? Menyatakan perasaanku padanya? Tidakkah ini terlalu cepat? Kami baru kenal satu sama lain selama 2 minggu. Gila. Tapi, di sekolah ini yang menaksirnya bukan hanya aku saja. Bagaimana jika ia pacaran dengan gadis lain? Andwae andwae. Itu tidak boleh terjadi.

Saat aku sedang berdebat dengan hati dan pikiranku, Kris menyadari kehadiranku dan berhenti memantulkan bola basketnya dengan lantai.

 

Eo? What’re you doing Jess? Aku kira kau sudah pulang bersama Yoona tadi”, Kris menatapku sejenak dan langsung focus pada bola basketnya lagi.

 

Aku memantapkan hatiku dan berjalan mendekatinya, lalu merebut bola basket dari tangannya. Aku menarik napas sekali lagi, kepalaku berdenyut-denyut saat jantungku berdetak cepat sekali. Now or never, pikirku.

 

“Kris, ada yang ingin kukatakan”, aku memberanikan diriku menatap mata Kris, mata yang membuatku terpesona selama ini.

 

“Ada apa? Katakan saja”, Kris memandangku dan langsung merebut bola basket yang tadi kurebut darinya lalu melakukan lay-up.

 

            “Johahae”, aku berkata sepelan mungkin tepat saat bola yang tadi ia masukkan dalam ring jatuh dan memantul di lapangan, tidak tahu apakah ia mendengarnya atau tidak.

 

Mwo?”, Kris membelalakkan kedua matanya dan membalikkan badannya, menatapku.

 

Tidakkah ia mendengar ucapanku barusan? Mengucapkan satu patah kata itu saja sudah sulit dan sekarang ia ingin aku mengulangnya? Geez, yang benar saja. aku bisa gila.

 

 “Kris Wu, na neo johahae

 

TBC

 

 

Hehe gimana? Gimana? Penasarankah? So comment jusseyooong~  mian y kl alurny kecepetan. Soalny takut kelamaan chapterny trs takut kalian pd bosen jg hehe btw, Merry Christmas bagi kalian yg merayakanny!! Have a bless! Xoxo hihi

23 thoughts on “[Freelance] Confessions (Chapter 2)

  1. jessica udah ada rasa nih sama kris tapi kayanya kris biasa aja tuh, kasian sica udah orang tuanya di rebut krystal…tapi aku juga suka krystal ottekhae? Author juga sih kenapa lawan mainnya harus krystal hehe…mudah2an krystal terus baik sama sica amien..

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s