双鹿

shuang lu

双鹿

[read: Shuang Lu. Mean : double deers]

[icydork]

Main Casts : Yoona, Luhan, Tiffany, Suho

Romance, Sad, Family and Rated for Teen

Semuanya memakai marga asli, jadi jangan mempertanyakan kenapa marga Yoona atau Tiffany tidak berubah!

[credit poster by rismarii at posterdesigner.wordpress.com]

.

.

.

Perdebatan ini telang berlangsung selama lima menit. Perdebatan di antara seorang gadis dan ummanya, Yoona dan ummanya. Yoona membuang wajahnya ke jendela rumahnya yang terbuka itu sedangkan sang umma menatapnya dengan sinis, seakan-akan dia ingin memakan anak tunggalnya itu.

“ Kau tidak boleh pergi, Yoona.” Ucap sang umma dengan nada yang ditekankan.

Yoona menoleh dengan cepat, “Aku harus pergi!” Bentak Yoona.

“Kau mau menemui siapa? Namja brengsek itu lagi, hah?!” Tanya sang umma sambil berjalan menghampiri Yoona.

“Iya dan namja brengsek itu adalah kekasihku, umma.” Yoona berusaha mengendalikan emosinya yang sedari tadi sudah naik turun akibat penghinaan umma-nya kepada kekasihnya.

Tiba-tiba tangan kanan umma-nya melayang dengan cepat dan mendarat di pipi kiri Yoona.

Pipi Yoona merah saat itu juga, melukiskan sebuah telapak tangan di pipi kiri Yoona, rambut Yoona berantakan seketika itu juga sehingga menutupi sebagian wajahnya. Yoona memegang pipi kirinya dan menatap wajah umma-nya dengan tatapan mematikannya.

“Kau tidak pantas untuk disebut sebagai ibu!” Ucap Yoona tegas.

“Aku tidak mau mempunyai anak yang bermain dengan pria yang berkelas dan sudah mempunyai istri seperti itu!!” Bentak umma-nya.

Yoona mendecak pelan, “Bukankah sudah kubilang bahwa dia telah menceraikan istrinya?”

“Dia menceraikan istrinya oleh karena kamu! Kau ini wanita apa, hah?!”

“Kau yang membuatku seperti ini! Kau sudah me­-mainset-kan pikiranmu dengan cara uang! Kau pikir aku hanya butuh uang? Kau taruh dimana otakmu, hah?!”

Setelah pertanyaan yang ditumpahkan Yoona itu, sebuah tamparan mulus mendarat di pipi satunya milik Yoona.

“Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung!” Mata wanita yang sudah berumur itu mulai memanas dan memerah. Yoona yang berada di hadapannya –matanya menatap lurus ke umma-nya langsung terkejut atas respon luar biasa yang dikeluarkan itu.

Apakah aku sudah keterlaluan?, batin Yoona.

“Pergilah! Hampirilah kekasihmu itu, namja brengsek yang bernama Kim Joonmyun itu!” Akhirnya umma-nya mengijinkan. Yoona berbalik lalu berjalan dan meninggalkan rumah tersebut.

.

.

.

“Berdebat lagi?” Suara berat khas pria itu keluar dari kerongkongan dari seseorang yang sedang tengah mengemudi di bangku sebelah kiri.

Yoona hanya mengangguk dan disusul dengan sebuah dehaman rendah.

Perlahan mobil tersebut terparkir di pinggir jalan. Pria itu memalingkan wajahnya ke wajah Yoona, dia membelai rambut Yoona pelan dan tersenyum.

Umma-mu lagi, kan?” Tebak pria itu.

“Iya, Joonmyun oppa.” Jawab Yoona dengan singkat tanpa meninggalkan embel-embel tersebut.

“Sudah kutebak. Aku sungguh penasaran bagaimana wajah sang umma-mu tersebut.”

“Walaupun sudah tua, dia tetap cantik. Sayangnya, dia berubah menjadi orang yang tidak kukenal belakangan ini.”

“Tidak kau kenal? Maksudnya?”

“Kau tahu?” Yoona menoleh ke arah Joonmyun. Matanya memerah dan cairan bening mengalir dengan lancar dari matanya. “Dia mengataiku pelacur.” Suara Yoona terdengar bergetar.

Mata Joonmyun terbuka dengan lebar, dia langsung memeluk Yoona dengan erat dan berbisik, “Tenanglah.”

Yoona mengangguk dan saat itulah air matanya tumpah seutuhnya.

.

.

.

“Jadi, apa yang mau kau bicarakan?” Ucap Suho sambil memotong Tenderloin steak yang berada di hadapannya.

“Jadi, besok, malam natal ada acara di sekolahku. Aku ingin kau datang, bersamaku, sebagai kekasihku.” Jawaban Yoona tersebut langsung membuat Kim Joonmyun tersedak seketika.

“Ta-tapi, uhukk—“ Joonmyun langsung menyambar minumannya dan menegaknya.

“Apa ada yang salah? Ini hal yang sepeleh untuk seorang kekasih, oppa.”

Joonmyun nampak bingung, dia langsung mengelap sisa makanan dengan tissue yang disediakan, dia berdeham pelan lalu merapikan dasi yang dia pakai –Joonmyun seorang business man.

“Tapi, aku sudah mempunyai janji dengan Selena.”

Yoona langsung membuang nafasnya dengan kasar lalu memotong steak yang berada di hadapannya dengan asal.

Kalau Selena bukan anaknya, sudah aku caci maki sekarang, batin Yoona.

“Maaf, Yoongie-ah.

Yoona tersenyum sekilas, “Gwaenchana.

.

.

.

“Terima kasih atas mala mini, oppa.” Yoona terkekeh pelan sambil mengakhiri kalimat tersebut.

Joonmyun mengacak rambut Yoona sebelum dia melepas kepergian Yoona untuk hari ini, “Sama-sama.”

“Seandainya aku bisa melewati malam natalku bersamamu dan Selena.” Yoona menambahkan satu kalimat lagi sebelum dia benar-benar keluar dari mobil kekasihnya itu.

“Iya, tapi kau bisa menghadiri acara di sekolahmu bukan?”

“Tidak, aku bisa untuk melewati acara itu.”

Joonmyun langsung menggeleng, “Tidak, ini tahun pelajaran dimana seluruh guru menilaimu lebih rinci lagi, kau harus masuk walaupun itu hanyalah sebuah acara malam natal.”

“Tapi, oppa—“

“Aku ingin yang terbaik untukmu, Yoona.”

Yoona tersenyum, “Baiklah.”

Tangan kanannya hendak membuka pintu mobilnya tapi matanya melebar ketika dia melihat seorang wanita keluar dari mobil dan membuka gerbang pintu rumahnya, wanita itu adalah umma-nya.

Dan hal itu benar-benar merusak mood Yoona.

.

.

.

Joonmyun mengikuti arah bola mata Yoona, dia melihat ke depan rumah Yoona dan melihat seorang wanita cantik dengan rambut hitam tebal panjang, badan yang proposional, dan wajah yang cantik walaupun sudah menua dari sebelumnya.

“Tiff—Tiffany Hwang?”

Yoona menoleh dengan cepat, “A-apa?”

Joonmyun tersadar, “Tidak, tidak ada apa-apa.” Lalu Joonmyun menoleh ke arah wanita itu, “Dia siapa?” Tanya Joonmyun.

Yoona membuang nafasnya kasar, “Itu umma-ku, kenapa? Kau tertarik? Kau meau menggaetnya, oppa?” Yoona nampak cemburu.

“Hahaha, kau lucu sekali! Tentu saja tidak.” Joonmyun mengacak rambut Yoona pelan lagi tapi tatapannya tidak terlepas dari wanita tersebut –umma Yoona –Tiffany Hwang.

Matanya, hidungnya, bibirnya, tinggi badannya, fashion style-nya, seluruhnya masih persis seperti dua puluh tahun yang lalu. Ketika Tiffany Hwang masih berstatus sebagai kekasih Kim Joonmyun.

.

.

.

Pagi menyambut hari Yoona. Hari ini adalah 24 Desember. Biasanya dia akan ibadah bersama Tiffany seperti tahun-tahun yang lalu. Tapi tahun ini tidak dan sepertinya tidak untuk tahun-tahun ke depan. Yoona akan melewati malam natalnya sendirian diluar sana.

Yoona bangun dari kasurnya lalu membereskan dirinya sebelum menempuh hari yang panjang ini.

.

.

.

“Tsk! Di tanggal 24 ini pun dia tidak ada di rumah. Apa sih yang dia lakukan diluar?” Oceh Yoona sambil memakai flat shoes yang berwarna senada dengan bajunya.

“Siapa yang kau maksud?” Suara yang sangat familiar itu masuk ke pendengaran Yoona.

“Oh, tumben sekali kau tidak keluar.” Balas Yoona.

“Kenapa kau selalu ingin memulai perang diantara kita?”

“Bukannya kau?”

“Aku pikir kau lebih sering.”

“Bisakah kau diam Tiffany Hwang?” Tanya Yoona dengan tidak sungkan untuk menyebut nama asli dan marga dari umma-nya itu.

“Beraninya kau—“

“Tamparlah, aku rasa ini akan menjadi kado natal terbahagia.”

Tiffany langsung meredahkan emosinya.

“Aku tahu kau tidka mempunyai keberanian, secuil pun tidak ada.” Yoona langsung pergi meninggalkan Tiffany dengan keadaan seperti itu.

Air mata Tiffany mengalir, dia mengorbankan seluruhnya untuk Yoona tapi kenapa Yoona bersikap seperti itu kepadanya?

Tiffany sudah bekerja dengan keras, menghidupi Yoona sendirian tanpa seorang suami, suaminya sudah meninggal lima tahun yang lalu akibat kecelakaan pesawat.

Tiffany tidak sanggup memundakki seluruh beban ini, dia terjatuh ke atas lantai keramik yang dingin ini. Hawa dingin dan angina sepoi-sepoi beserta salju bertipuan dan memasuki rumah Tiffany karena pintunya terbuka lebar.

Tiffany menghapus sisa air mata yang mengalir, “Maafkan aku, Yoona. Aku bukanlah umma yang sempurna untukmu.”

Namun air mata tersebut terus mengalir, Tiffany memukul dadanya pelan, terasa sesak disana.

“Aku gagal. Aku gagal.” Ulangnya berkali-kali.

.

.

.

Yoona berjalan dengan mantelnya untuk menghalangi udara dingin yang masuk dan menyelimuti kulitnya. Dia berjalan di hutan beton, Seoul yang sudah dipenuhi dengan pohon natal di pinggir jalan dan diselimuti oleh salju asli. Tidak lupa dengan bell berwarna kuning keemasan di setiap depan toko.

Bahkan ada Santa Claus di depan toko mainan anak kecil disertai dengan beberapa mainan digenggamannya untuk mempromosikan barang mereka. Yoona tersenyum singkat, dia ingat betul ketika dia merengek kepada Tiffany untuk meminta mainan seperti itu.

Dan Yoona berharap, suatu hari dia bisa meladeni Selena –anak Suho seperti itu.

.

.

.

Yoona memasuki sebuah toko roti, dia berniat membeli beberapa roti untuk Tiffany nanti. Sepertinya Yoona sudah kelewatan. Membeli roti, bukan untuk meminta maaf. Dia masih belum siap untuk itu. Dia masih kesal dengan Tiffany karena terus-menerus melarangnya untuk menjalin hubungan dengan Joonmyun.

Dia menghambil beberapa roti lalu memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan. Setelah itu, dia berjalan ke kasir. Tiba-tibasuara kerincingan berasal dari pintu masuk yang menandakan ada tamu baru. Refleks, Yoona menoleh ke arah pintu masuk.

Tapi hal tersebut hanya menciptakan rasa kekecewaan yang muncul di lubuk hati Yoona.

.

.

.

Kim Joonmyun bersama Selena dan kekasihnya memasuki sebuah toko roti yang berada dekat dengan rumah mereka. Mereka hanya jalan kaki kesini.

“Soojung-ah, pilihlan roti untuk keponakanmu yang akan datang nanti.” Suruh Joonmyun.

“Baiklah, oppa.” Balas Soojung lalu meraih keranjang belanjaan.

“Selena, ikut Soojung ahjumma saja.” Sarah Joonmyun.

“Baiklah, appa.” Selena menyusul Soojung untuk memilih roti nanti.

Joonmyun pun mengedarkan pandangannya dan menangkap sesosok gadis yang dia kenal. Gadis itu terkejut, matanya menggambarkan rasa terkejut yang dia lami sekarang. Bahkan, air mata yang mengumpul di kedua matanya itu nampak dari tempat Joonmyun berdiri.

“Yoo—Yoo—“

Joonmyun berusaha memanggil Yoona namun dia tidak bisa. Dia merasa tidak pantas. Yoona pasti sudah sangat kecewa.

“Maafkan aku.” Suho bergumam pelan. Dia yakin Yoona bisa meihat pergerakkan bibir Suho. Tapi sayangnya, dia yakin bahwa Yoona tidak akan memaafkannya.

Yoona pun berjalan dari kasir ke pintu keluar. Namun, Joonmyun menahannya ketika Yoona melewatinya.

“aku bisa menjelasan—“ Joonmyun menatap mata Yoona yang sudah basah tersebut.

“Memangnya aku mengenalmu?” Getaran suara Yoona itu sangat menggambarkan bahwa dirinya sedang lemah. Perlahan, Joonmyun melepas genggamannya dan Yoona langsung meninggalkan toko roti tersebut.

.

.

.

Yoona berlari, melawan arah angin yang dingin tersebut. Dia membuang sleuruh belanjaan rotinya ke tempat sampah lalu duduk di atas bangku taman yang panjang sendirian. Dia menangis lagi sambil menahan hawa dingin yang memasuki tubuhnya.

“Kenapa semuanya harus seperti ini?” Tanya Yoona kepada dirinya sendiri.

Dia sudah rela menghabiskan waktunya dnegan Joonmyun, melawan umma-nya demi bertemu dengan Joonmyun, tapi Joonmyun melakukan hal ini terhadap Yoona?

Joonmyun itu kejam atau memang dunia ini keras dan kejam?

Yoona tidak kuat, dia sudah tidak kuat. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat jam berapa sekarang.

Jam lima sore, batin Yoona.

.

.

.

Enam jam sudah Yoona duduk sendiri di atas bangku taman tersebut.

Rasa lapar tidak menghampiri dirinya walaupun banyak angin yang menerpa tubuhnya yang kurus tersebut. Yoona bangkit berdiri dari bangku taman dan berusaha berjalan walaupun dia tahu bahwa dia sudah tidak sanggup untuk berjalan. Kepalanya pusing, tubuhnya lemas.

.

.

.

Kini Yoona sudah berdiri di atas jembatan penyeberangan, kaki kanannya menginjak penyangga yang berada di jembatan penyeberangan. Air mata Yoona terjatuh lagi hingga lenyap ditiup angin. Yoona menatap jalanan yang ramai dengan mobil-mobil yang berlalu-lalang.

Yoona ingin mengakhiri hidupnya sekarang juga.

“Hei, nona!”

Yoona langsung menoleh ketika mendengar suara pria dari arah kanannya.

Seorang pria berparas tampan dengan rambut coklat kemerahannya dan sebuah bando yang terbentuk sebagai tanduk rusa itu menghampiri kehidupan Yoona yang nyaris dia akhiri. Dengan bola salju yang dia genggam, dia tersenyum kepada Yoona. Senyumannya penuh dengan makna. Yoona merasakan kehangatan ketika dia melihat senyuman itu.

“Mau bermain?” Ajaknya.

Yoona menatapnya dengan kebingungan, dia menaikkan syal yang menutupi setengah dagunya sehingga menutup sempurna sampai dibawah hidungnya. Bisa-bisanya dia mengajak seorang gadis cantik yang berniat melompat dari jembatan penyebrangan ini untuk bermain?

“Hei, nona, aku bicara kepadamu.” Lanjutnya sambil tersenyum.

Aku menatapnya dengan sinis, “Tidak!” Jawab Yoona dengan tegas.

“Bermain bola salju jauh lebih menyenangkan dari berusaha mengakhiri hidupmu. Terutama di malam natal ini. Seharusnya kau berada di gereja.” Nasihat pria itu.

“Lalu apa yang kau lakukan disini? Lebih baik kau ke gereja!” Sahut Yoona dengan cepat.

“Aku sudah melewati dua kebaktian dari sore,” Pria itu berhenti berbicara dan mengecek arlojinya. “Sekarang baru pukul sebelas malam, lebih baik kau turun sebelum jembatan ini ramai karena gereja sudah bubar.” Sarannya.

Yoona menggeleng, perlahan air mata Yoona terjatuh lagi, “Aku tidak mau!” Suaranya terdengar bergetar. Mungkin dikarenakan hawa malam ini sangat dingin dan Yoona tengah menangis lagi.

“Nona,” Panggil pria tersebut. Yoona menoleh dan tiba-tiba…

“AAAAAAKKK!” Sialnya Yoona tergelincir –BRUK! Dan beruntungnya Yoona terjatuh ke belakang, bukan ke jalanan di bawah sana. Apa Tuhan masih menyayangi Yoona?

Pria itu berjalan ke arah Yoona, dia meraih lengan kanan Yoona dan membersihkan salju yang berada di jaket Yoona ini.

Ah, apakah pria ini manusia atau malaikat? Dia sangat baik, batin Yoona.

Tiba-tiba dia menurunkan syal Yoona sehingga wajahnya terlihat dengan sepenuhnya, dia menghapus sisa air mata Yoona yang mengalir tadi dengan ibu jarinya. Dia tersenyum lagi, rasanya Yoona seperti sedang melayang.

“Kau cantik, jadi jangan menangis.” Pujinya.

Wajah Yoona memerah seketika, hawa yang dingin berubah menjadi panas saat itu juga.

“Perkenalkan, namaku LuHan.”

Yoona yakin semua akan berubah mulai malam ini, berkat pria berbando rusa ini dan senyuman hangatnya. Ya, dimulai dari tanggal 24 Desember ini.

.

.

.

“Perkenalkan, namaku LuHan.” Pria berbando rusa itu memperkenalkan dirinya.

“Na-namaku—“

“Im YoonA, kan?” Tebak pria itu. Tunggu, itu bukan tebakkan. Bagaimana sebuah tebakkan bisa tepat dengan mulus seperti itu?

“Ba-bagai—“

“Sudahlah, ayo pergi!” Luhan langsung melingkarkan lengan kanannya di leher Yoona dan mengajaknya pergi dari tempat tersebut.

.

.

.

“Untuk apa kita kesini?” Terdengar dari nada bertanya Yoona sekarang bahwa dia sedang kesal level akut kepada Luhan.

“Menurutmu? Apa yang akan kita lakukan jika berada di depan toko kue seperti ini?” Tanya Luhan balik sambil tersenyum.

Membeli kue? Untuk apa?, Yoona bertanya-tanya di dalam pikirannya.

Lalu terdengar suara helaan nafas dari samping kanan Yoona, “Tentu saja kita akan membeli kue. Kenapa lama sekali memikirkannya?” Luhan langsung menarik lengan Yoona lalu memasukki toko kue tersebut.

“Tapi, aku sedang tidak ulang tahun!” Ucap Yoona berusaha menolak ajakkan Luhan.

“Iya, aku tahu itu.”

“Lepas!” Teriak Yoona.

Seketika itu juga seluruh pengunjung di toko kue tersebut melihat ke arah Yoona. Yoona yang merasa canggung dan malu langsung menggaruk tengkuknya.

Cheosanghamnida.” Ucap Yoona sambil membungkukkan tubuhnya.

“Nah, seperti itu. Kau harus sopan terutama dengan orang tuamu.” Nasihat Luhan itu menusuk telinga Yoona. Sedangkan Yoona langsung menatap Luhan sinis.

“Aku pikir kau itu baik, sebaik wajahmu!” Tegur Yoona.

“Aku memberimu nasihat, bagaimana bisa kau mengatakan hal itu tidak baik?”

Skakmat bagi Yoona. Dia diam seribu kata. Benar kata pria asing yang baru dia kenal kurang lebih setengah jam yang lalu itu.

“Aku mengenalmu dari luar dan dalam, Yoong.”

Mata Yoona langsung melebar—melototi Luhan karena sudah seenaknya memanggilnya dengan panggilan unformal-nya.

“Jangan marah! Lebih baik kita beli kue dan memakannya bersama. Setengah jam lagi, dia akan ulang tahun!” Ajak Luhan dengan semangat lalu menghampiri lemaris es kaca yang penuh dengan kue-kue tersebut.

“Tu-tunggu, siapa yang ulang tahun?”

“Tsk! 25 Desember itu ulang tahun Tuhan kita, kau lupa?” Tanya Luhan balik.

Yoona langsung menggeleng, berusaha mengelak, “Tidak, aku ingat! Aku hanya mengujimu tadi.”

Luhan tersenyum seakan-akan mengetahui semuanya, “Kau yang pilih kuenya. Bagaimana?”

Yoona nampak memilih-milih kue yang berada di dalam lemari es panjang tersebut. Matanya bersinar lalu mulai terpahat sebuah senyuman di wajahnya.

“Bagaimana dengan yang biru itu?” Tanya Yoona.

Luhan tersenyum tanpa menoleh ke kue tersebut, “Nice choice.

.

.

.

“Ahh! Sungguh kuenya enak sekali!” Yoona membersihkan sisa-sisa cream kue yang menempel di sudut mulutnya.

“Tentu saja! Sekarang kita pulang, bagaimana?”

Mood Yoona langsung rusak seketika. Kenapa pria ini kepo sekali?

“Aku tidak mau pulang denganmu.” Jawab Yoona dingin.

Luhan terkejut dan menampilkan wajah lecaknya, “Kenapa?” Protes Luhan.

“Aku takut. Siapa tahu kau itu penguntit, hm?”

Luhan terlihat mengoceh tidak jelas.

“Lihat saja, kau saja sudah mengoceh tidak jelas. Biar kutebak, hm,” Yoona menopangkan dagunya dengan tangan kanannya. “Kau adalah penyihir sehingga mengetahui hidupku luar dalam.” Lanjut Yoona sambil mengetuk-ngetuk pipinya.

“Ba-bagaimana bisa?!”

“Bisa saja!”

Luhan menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu sampai teracak-acak, “Ya, Tuhan, aku menye—“

“Dasar gila!” Yoona langsung berjalan meninggalkan Luhan.

“Hei, tunggu!”

.

.

.

Yoona berjalan sambil menunduk ke arah rumahnya dan tentunya ada seorang laki-laki dengan rambut coklat kemerahannya dan tentu saja dengan bando bertanduk rusa itu masih mengikuti Yoona dari belakang. Luhan.

Merry Christmas, umma!” Ucap seorang gadis yang nampaknya seumuran dengannya kepada sang umma-nya yang berada di sampingnya. Gadis tersebut melingkarkan lengannya di pinggang umma-nya –setengah memeluk dan wanita tua tersebut membalas pelukkan anaknya. Indah bukan?

Iya, indah. Tapi, Yoona cemburu. Bagaimana caranya dia untuk mendapatkan pelukkan seperti itu lagi? Sebuah pelukkan hangat yang bisa menghangatkan dunia Yoona.

Namun sepertinya, Yoona tidak akan mendapatkan pelukkan itu lagi. Ia sudah keterlalu kepada umma-nya.

“Yoona.” Terdengar suara panggilan seorang pria di belakang Yoona. Tapi, taka da respon yang keluar dari mulut Yoona.

“Hei, rusa cantik!” Langkah Yoona terhenti ketika mendengar panggilan tersebut. Dua kata itu sudah lama tidak dia dengar dan biasanya yang menyebutkan dua kata itu hanya teman-teman baiknya, Hyemi dan Hyojung yang kini sudah tidak pernah bermain, berkumbul, bahkan menatap manik mata Yoona.

“Rusa cantik?” Luhan selaku pria yang sedari tadi memanggil Yoona itu langsung berhenti di samping Yoona.

“Yoo—“ Belum sempat Luhan menyelesaikan panggilan tersebut, Yoona sudah menoleh dengan mata yang mulai basah.

“Bisakah kau pergi?” Tanya Yoona.

“Tidak, aku harus memastikan bahwa kau akan selamat tiba di rumah.” Jawab Luhan.

“Tidak, pergilah! Aku tidak butuh kau. Aku bisa pulang sendiri.” Yoona mulai melangkah menjauhi Luhan lagi.

“’Aku tidak butuh kau’, ‘aku bisa sendiri’, dari dua kalimat tersebut, aku tahu betul jika kau sedang membutuhkan seseorang,” Ucap Luhan menggantung lalu Yoona langsung menghentikan langkahnya. “Disini. Ada seseorang yang mau menemanimu, ada seseorang yang mau membantumu untuk membereskan seluruh masalah hidupmu. Tapi, kau menolaknya.” Lanjut Luhan.

Yoona masih diam, tidak berkutik dari tempatnya.

“Baiklah, aku pergi saja.” Luhan memutar balikkan tubuhnya berlawan arah dengan Yoona.

“Tu-tunggu!” Yoona memuta tubuhnya juga lalu terlihat senyuman penuh kemenangan dari bibir Luhan.

“Aku butuh kau.” Lanjut Yoona. Luhan memutar tubuhnya ke arah Yoona.

“Aku tahu itu.” Kata Luhan sambil berjalan ke arah Yoona lalu mengantarnya pulang ke rumahnya.

.

.

.

“Rumahmu dimana?” Yoona memulai pembicaraan di antara dirinya dengan Luhan.

“Apakah hal itu penting untuk kau ketahui?” Luhan bertanya balik ke Yoona.

Yoona mengembungkan pipinya sebal, “Ya, aku ingin tahu saja.”

Luhan mendongakkan kepalanya, melihat bintang-bintang yang bersinar di langit sana, “Sekarang sudah malam. Masuklah ke rumahmu.”

Yoona langsung bermain dengan salju yang sedang dia injak sekarang, menendang-nendangnya ke sembarang arah sambil menunduk dalam-dalam. Berusaha tidak mau melihat manik mata Luhan, “Aku malas.”

“Kenapa? Dengan umma-mu?”

Pertanyaan Luhan itu langsung direspon secara berlebihan oleh Yoona. Kepalanya di dongakkan ke Luhan, mulutnya menganga terkejut dan kedua matanya terbuka lebar.

“Ba-bagaimana bisa kau tahu?”

“Aku mengetahui dirimu luar dalam, Im Yoona.”

Setelah mendengar perkataan Luhan tersebut. Beribu pertanyaan langsung muncul di benak Yoona. Siapa pria ini sebenarnya? Bagaimana dia bisa mengetahui banyak hal tentang dirinya? Menganehkan bukan?

“Ba-baiklah, aku masuk dulu.”

“Minta maaflah kepada umma-mu. Dia sangat menyayangimu, Yoona.”

“Tidak mau!” Respon tersebut nampaknya lebih cepat dari angin malam yang tengah berhembus sekarang.

“Kau harus minta maaf, Yoona. Bukankah kau sangat menyayangi umma-mu?” Luhan berusaha memancing Yoona agar dia segera meminta maaf kepada umma-nya.

“I-iya. Tapi—“

“Kau harus. Sana masuk!” Luhan membuka gerbang rumah Yoona dan mendorong Yoona masuk ke halaman rumahnya pelan.

“Selamat natal!” Ucap Luhan sambil tersenyum.

Yoona menoleh ke belakan dan tersenyum, senyuman indah yang sempat lenyap satu harian ini, “Selamat natal!”

.

.

.

Tiffany sedang menggunakan beige powder miliknya dan meratakannya di atas pipinya yang indah itu. Pagi ini dia akan menghadiri sebuah kebaktian natal bersama Yoona –jika Yoona bersedia tentunya. Tiba-tiba pintu kamar Tiffany terbuka, dia bisa menangkap paras Yoona yang sudah siap dengan pakaian rapid an sopan tentunya.

Tiffany melempar senyumannya lewat pantulan kaca ke Yoona. Yoona membalas senyuman tersebut lalu berlari dan memeluk Tiffany dari belakang.

Umma, maafkan aku.” Dua kata yang akhirnya dikeluarkan oleh Yoona itu membuat hati Tiffany tergerak. Membuat Tiffany sadar untuk tidak hanya hadir untuk Yoona pada hari natal saja, membuat Tiffany sadar bahwa memberi kasih sayang kepada anak semata wayangnya jauh lebih baik dibanding memberi uang setiap harinya.

Umma?

Akhirnya panggilan tulus keluar dari hati Yoona paling dalam yang semakin membuat jantung Tiffany menggebu-gebu karena dia sangat merindukan panggilan tulus dan hangat dari Yoona.

Mianhae.” Lanjut Yoona.

Air mata pun turun dari mata Tiffany. Air mata yang rutin turun dari kedua matanya setiap hari tersebut berbeda dengan air mata hari ini. Karena kebahagiaanlah air mata tersebut mengali keluar dari habitatnya lalu mengalir di kulit mulus pipi Tiffany.

Tiffany memutarkan tubuhnya, berhadap ke Yoona lalu tersenyum, “Ne. Maafkan umma juga.”

Yoona langsung menghapus air mata Tiffany yang mengalir lalu menarik Tiffany ke dalam dekapannya.

“Aku mencintaimu, umma.”

Nado.

.

.

.

Sebuah kedai bubble tea yang berada di pinggir jalan kota Seoul ini dimasuki oleh dua orang wanita cantik. Tiffany dan Yoona. Umma dan sang anaknya. Mereka pun segera mengantri di barisan antrian. Tiffany melihat menu yang tertempel di dinding dari kejauhan dan Yoona sibuk dengan ponselnya karena ada sebuah nomor yang menelopannya dua kali selama di ibadah natal tadi bersama ibunya.

“Yoona?” Tiba-tiba terdengar suara pria yang memanggil namanya dari depannya. Yoona mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat Luhan disana.

Ommo!” Respon Yoona ketika melihat jarak wajahnya dengan jarak wajah Luhan –pria yang memanggilnya sangat teramat dekat sehingga mereka bisa merasakan hembusan nafas mereka sendiri.

“Sedang apa kau?!” Yoona refleks mendorong tubuh Luhan agar menjauh dari dirinya.

“Hm.” Tiba-tiba terdengar suara dehaman dar sebelah kiri Yoona.

Yoona langsung menelan saliva-nya dengan susah, dia takut di’cap’ jelek lagi oleh umma-nya.

“Siapa dia?” Tanya Tiffany dengan tenang sambil melirik ke arah Luhan.

Baru saja Yoona ingin menjawab tapi Luhan lebih cepat dari Yoona. Luhan membungkukkan tubuhnya lalu tersenyum, “Namaku LuHan. Aku teman anakmu.”

.

.

.

“Oh, jadi kau baru mengenalnya belum sampai 24 jam?” Tanya Tiffany.

Luhan tersenyum memamerkan giginya yang rata itu, “Iya. Tapi, aku yakin Yoona yang baik.”

“Saya juga yakin bahwa anda adalah anak yang baik.” Balas Tiffany sambil meneguk bubble tea rasa coklatnya itu.

Sedangkan Yoona masih berusaha menghisap bubble yang berada di dasar gelas plastik tersebut.

“Luhan, saya perlu bantuanmu.” Ucap Tiffany.

“Ya?” Respon Luhan sambil menghisap bubble tea-nya.

“Bimbing dia jadi anak yang lebih baik lagi.” Kata Tiffany sambil melirik ke arah Yoona yang berada di sebelah kanannya.

Luhan tersenyum sekilas, “Tentu.”

.

.

.

“Dimana rumahmu? Mau sekalian diantar?” Tawar Tiffany.

“Jangan tawari dia, umma! Dia ini orang asing.” Yoona berusah menarik lagi tawaran umma-nya itu, Tiffany.

“Ah, tidak usah. Rumahku sangat jauh.” Jawab Luhan.

“Nah, kalau begitu ikut kita saja.” Ajak Tiffany lagi.

Umma—“

“Ssstt! Sudahlah, tidak masalah bukan?” Potong Tiffany.

“Maaf, ahjumma. Tapi—“

“Jika kau menolak, bagaimana hanya untuk makan malam di rumah kami?” Lagi-lagi Tiffany mengajak Luhan lagi.

“Sebenarnya—“

“Aku tahu itu jawaban ‘Ya’.”

Umma, Luhan belum menjawabnya.” Protes Yoona.

“Tsk! Yoona-ah, jelas sekali dari mata Luhan bahwa dia mau. Kau tidak bisa melihatnya?” Karena pertanyaan Tiffany itu, Yoona langsung melihat mata Luhan.

Mata Yoona dan mata Luhan bertemu.

Kedua mata dari pemilik sang rusa jantan dan rusa betina bertemu.

LuYoon eye

Ntah apa yang muncul di benak Yoona, perlahan sebuah senyuman terpahat di bibir kecilnya itu ketika matanya bertemu dengan matanya Luhan.

Yoona merasakan damai disana. Ketika dia melihat mata Luhan.

Siapa pria ini sebenarnya?

.

.

.

“Kalian berdua dulu saja. Umma mau masak sama bibi untuk makan malam kita nanti, hm? Kalkun panggang special untuk kita.” Kata Tiffany yang baru saja meletakkan handbag-nya di atas meja kecil di ruang tengah rumah mereka ini.

“Kaluk panggang? Sungguh? Aku sudah lama sekali tidak makan itu!” Tanya Yoona kegirangan.

“Iya. Oleh sebab itu, layani dulu tamu kita dengan baik dan benar.” Perkataan Tiffany itu diakhiri dengankekehan yang kecil. Nampaknya Tiffany berusaha mendekatkan Yoona dengan Luhan.

Ne, arrasseo.” Balas Yoona dengan malas dan Tiffany berlalu ke dapur.

.

.

.

Yoona meraih remot TV yang berada di atas meja. Dia sedang duduk di atas sofa dan tepat di sebelah Luhan. Suasana canggung kembali menyelimuti mereka.

Yoona pun menyalakan TV-nya lalu mencari acara yang ingin dia tonton namun sayangnya, dia tidak tertarik sama sekali. Mungkin, dia lebih tertarik dengan pria yang berada disebelahnya sekarang?

“Membosankan.” Yoona langsung mematikan TV tersebut.

“Hm,” Terdengar suara dehaman Luhan dari kiri Yoona. Yoona menoleh dengan hati-hati.

“Kenapa? Kau ingin nonton?” Tanya Yoona.

Luhan menggeleng, “Yoona, boleh aku tanya sesuatu?” Tanya Luhan.

Yoona mengangkat salah satu alisnya, “Pertanyaan? Apa?”

“Hyemi dan Hyojung. Apa kau masih ingat mereka?”

Pertanyaan Luhan itu membuat pikiran Yoona berhenti sejenak. Siapa Luhan sebenarnya? Bagaimana dia bisa mengetahui seluruh masa lalu Yoona?

Yoona menggeser posisi duduknya, memperbesar jarak diantara Luhan dan dirinya.

“Ka-kau ini siapa?” Tanya Yoona dengan gugup.

“Aku? Aku Luhan.”

“Bukan itu maksudku.”

“Hm,” Luhan tampak berpikir lalu menoleh ke arah Yoona sambil tersenyum, “Akan aku beri tahu setelah seluruh masalahmu beres.”

“Aku tidak mempunyai masalah, Luhan-ssi.

“Aku tahu kau punya masalah.”

“Masalah apa?” Yoona berusaha memancing Luhan agar dia kalah telak.

Luhan tersenyum mendengar pertanyaan Yoona, sepertinya Yoonalah yang kalah kali ini, “Hyemi dan Hyojung lalu jangan lupa dengan Kim Joonmyun.”

Yoona benar-benar tersentak mendengar jawaban dari Luhan.

“Kau penguntit ya?!” Tuduh Yoona.

Luhan menggeleng dengan tenang, “Tidak. Lebih cepat jika kau membereskan seluruh masalahmu. Setelah itu, kau akan mengetahui seluruhnya.”

Umma!!!” Teriak Yoona.

.

.

.

Umma!!!” Terdengar suara teriakkan dari arah ruang tengah. Dengan cepat Tiffany meninggalkan masakkannya dan berlari ke ruang tengah.

“Yoona?” Panggil Tiffany. Yoona menoleh ke Tiffany lalu berlari ke sebelahnya.

“Tolong usir Luhan! Aku takut! Dia itu penguntit!” Kata Yoona.

Tiffany nampak kebingungan sednagkan Luhan masih duduk dengan nyaman di atas sofa.

“Penguntit? Tapi, wajahnya tidak cocok untuk jadi penguntit, Yoona.”

“Wajah bisa menipu, umma! Dia mengetahui masalahku dengan Hyemi dan Hyojung bahkan dnegan Joonmyun pun dia tahu!”

Telinga Tiffany nyaris berdarah karena mendnegar nama pria itu, Joonmyun. Tiffany menghelakan nafasnya lalu menolakkan pinggangnya.

“Yoona, apa kau masih berhubungan dengan pria itu?” Tanya Tiffany to the point.

Yoona terdiam, dia sendiri pun tidak tahu bagaimana hubungannya dengan Joonmyun sekarang.

“A-aku tidak tahu. Kemarin, dia bersama wanita lain.” Jawab Yoona dengan hati-hati.

Tiffany membuang nafasnya kasar sambil melipat keda tanganya di depan dada.

“Masih sama saja.” Tiga patah kata yang dikeluarkan Tiffany itu membuat Yoona kebingungan.

Yoona mengerutkan kedua alisnya hingga nampak menyatu, “Maksudnya?”

Tiffany memejamkan matanya, nampaknya sangat berta untuk berkata jujur terhadap Yoona untuk hal ini.

“Kim Joonmyun itu pernah menjadi kekasihku dulu.”

“APA?!”

.

.

.

“Terima kasih atas makan malamnya. Kalkun masakkan anda sangat enak, ahjumma.” Ucap Luhan.

Ne, sama-sama, Luhan-ah. Hm, bagaimana jika mala mini kau menginap disini?”

Luhan dan Yoona yang mendengar itu langsung terkejut.

“Tidak! Umma, dia ini—“

“Berhenti mengatai dia orang asing, Yoona. Seharusnya kau mengenal betul bagaimana umma. Umma bukanlah tipikal orang yang membawa sembarang orang ke rumah. Jadi, umma yakin Luhan itu anak yang baik.” Tiffany langsung memotong perkataan Yoona.

Yoona menghelakan nafasnya pasrah, “Hm.” Sahutnya.

“Jadi, bagaimana Luhan?” Tanya Tiffany lagi.

Mianhaeyo, aku harus pulang sekarang. Tapi, aku yakin aku akan kembali lagi kesini. Aku harus ke stasiun sekarang agar tidak tertinggal MRT.” Jawab Luhan dengan sopan.

“Hm, baiklah. Yoona, tolong antar dia ke depan gerbang.”

“Yap.” Balas Yoona singkat lalu berjalan keluar rumah.

.

.

.

“Hati-hati,” Yoona menatap Luhan sebentar lalu melanjutkan perkataannya, “Penguntit.”

“Ya, terserah.” Balas Luhan dengan santai.

Yoona bingung, kenapa dia tidak marah sama sekali? Atau setidaknya memasang wajah sebalnya?

“Kau tidak marah?” Tanya Yoona.

“Tidak,” Luhan menggeleng. “Besok kita pergi, ya?” Ajak Luhan.

“Kemana?” Tanya Yoona balik.

“Ke café milik Hyemi. Kau harus minta maaf kepadanya dan Hyojung juga.”

“Kau tidak mengetahui masalahnya, Luhan.”

“Aku tahu, sangat tahu.” Balas Luhan dengan cepat.

“Berhenti membuatku penasaran untuk mengetahui siapa dirimu.”

“Hanya ada satu cara untuk mengetahui siapa diriku.”

Yoona nampak bingung lagi, “Bagaimana?”

“Tuluskanlah hatimu dan minta maaf kepada Hyemi dan Hyojung besok pagi. Mengerti?”

“Ta-tapi—“ Luhan negacuhkan Yoona lalu pergi meninggalkan Yoona di depan rumahnya.

“Haish, menyebalkan!” Gerutu Yoona lalu menutup gerbang rumahnya.

.

.

.

Yoona dan Luhan sudah berada di stasiun MRT untuk pergi ke café milik Hyemi dan Hyojung. Ya, café mereka tidak berada di Seoul tapi di pinggiran kota Seoul. Sedangkan Tiffany, tidak bisa mengantar mereka berdua. Tiffany harus menemani adiknya yang secara mendadak datang tadi pagi dari California.

“Sebenanarya persahabatan kalian putus oleh karena seorang pria sangatlah kekanak-kanakkan.” Tiba-tiba Luhan memulai percakapan diantara mereka.

“Itu semua salah pria itu.” Balas Yoona singkat.

“Sebenarnya hal tersebut sudah lewat. Tapi, lain kali kau harus menahan rasa egomu itu, Yoong.”

“Jangan menyebut ‘Yoong’! Panggilan itu dibuat oleh pria itu.”

“Siapa? Bisakah kau sebut namanya?”

“Tsk! Kim Jongin.”

Well, kau masih mengingat nama mantan kekaishmu itu dengan baik dan jelas.”

“Dan dia sudah mengahncurkan persahabatan aku dengan Hyemi dan Hyojung.”

“Jangan menyalahkan orang lain.”

Yoona membuang nafasnya, “Iya, aku mengerti, Luhan.”

.

.

.

“Yoona-ah!!” Terdengar suara Hyojung yang menyambut Yoona dengan semangat ketika melihat sosok Yoona yang abru saja masuk di café mereka bersama seorang pria berparas tampan.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Hyojung.

Yoona tersenyum, “Baik. Kau?”

“Sangat baik.”

Yoona menengok ke kanan dan kiri, “Hyemi, dimana dia?” Tanya Yoona.

“Hm, dia sedang pergi keluar bersama,” Hyojung menggantungkan perkataanya.

“Bersama?” Yoona memancing Hyojung agar mengatakan dengan siapa Hyemi pergi.

Tiba-tiba pintu café terbuka dan muncul seorang gadis cantik disusul dengan pria tinggi dan sangat tampang. Pria yang pernah memauskki kehidupan pribadi seorang Im Yoona, Kim Jongin.

Yoona menelan saliva-nya susah payah, “Hyemi-ah.”

.

.

.

Sungguh, sebenarnya Hyemi ingin sekali membentak Yoona ketika dia melihat batang hidung Yoona saat dia menginjak café-nya sendiri.

Yoona yang membuat dia pindah sekolah dan tinggal di pinggir kota Seoul. Yoona yang membuat diri Hyemi ditindas oleh siswa-siswi sekolah mereka. Yoona yang telah merebut pujaan hati Hyemi, Kim Jongin walaupun sekarang sudah menjadi milik Hyemi seutuhnya.

“Hyemi-ah.” Panggilan itu sangat Hyemi rindukan terutama dari seorang Yoona, sahabat dekatnya dulu. Hyemi berusaha tersenyum.

“Yoona.” Panggil Hyemi dengan dingin.

Yoona tersenyum kecut, “Aku ingin minta maaf atas hal yang terjadi tahun lalu.”

Gwaenchana.” Jawab Hyemi singkat.

“Kau memaafkanku?” Tanya Yoona.

“Iya, aku memaafkanmu.”

.

.

.

“Luhan.” Yoona memanggil Luhan sebelum dia memasuki rumahnya.

“Terima kasih atas hari ini. Aku sangat senang.” Lanjut Yoona.

Luhan mengangguk dan tersenyum, “Tentu. Sama-sama. Aku juga ikut senang.”

Keduanya terdiam, saling memandangi mata mereka satu sama lain. Yoona merasa tersipu karena suasana canggung tersebut dan akhirnya dia memeluk pagar rumahnya sendiri.

“Terima kasih. Aku..masuk dulu, hm?” Ucap Yoona.

“Oh, ya, silahkan. Aku juga harus pulang.”

Annyeong.” Pamit Yoona.

Annyeong.

.

.

.

Pagi pun tiba, tapi pagi ini berbeda dari pagi-pagi biasanya. Hari ini Yoona bangun lebih cepat dan kini dia sednag sarapan di dapur rumahnya. Hal ini terjadi karena kemarin dia jalan-jalan dengan Luhan atau malam ini adalah malam tahun baru?

Tiba-tiba terdengar ketukkan pintu di pintu rumah Yoona.

“Siapa pagi-pagi ini datang ke rumah?” Tanya Yoona sendiri sambil mengunyah roti panggang buatannya.

“Apakah Luhan?!” Yoona langsung berlari dnegan mulut yang penuh dnegan roti itu danmembuka pintu rumahnya.

Yoona terkejut, Kim Joonmyun disana.

“Yoona, aku bisa menjelaskan semuanya.” Joonmyun langsung nampak sedikit heboh ketika melihat Yoona yang membuka pintunya.

“Jelas? Penjelasan? Sepertinya tidak ada yang perlu dijelaskan.” Jawab Yoona dengan cuek.

Joonmyun memegang kedua pundak Yoona dengankeras, dia benar-benar menginginkan Yoona lagi, “Yoona, dengarkan—“

Yoona langsung menepis tangan Joonmyun, “Maaf, aku tidak bisa lagi. Kita sudahi saja.”

“Yoona, siapa yang—“ Pertanyaan Tiffany terpotong ketika melihat sosok Joonmyun yang berdiri di depan Yoona.

“Ti-Tiffany.” Joonmyun terkejut ketika melihat Tiffany datang dari belakang Yoona.

“Joonmyun?” Tiffany sudah menebak bahwa Kim Joonmyun, kekasih Yoona selama ini adalah Kim Joonmyun mantan kekasihnya juga.

Umma mengenal dia?” Tanya Yoona dengan hati-hati.

Tiffany menatap mata Yoona dengan khawatir, dia mengerutkan dahinya, “Dia mantan kekasih umma.”

Perkataan Tiffany itu membuat Yoona lemas. Tiba-tiba kepalanya pusing, dia melihat Tiffany lebih dari satu, Yoona memegang dahinya. Ini benar-benar terasa seperti bom atom yang dileparkan oleh Tiffany dan Joonmyun kepada Yoona.

Yoona terjatuh dan…

GREP!

 Luhan berhasil menopang Yoona, “Yoona!”

Luhan melihat ke arah Tiffany dan Joonmyun bergantian, “Yoona sudah mengetahui semuanya?”

Pertanyaan Luhan itu membuat keduanya bingung, kenapa orang asing seperti dia bisa mengerti masalah ini?

“I-iya.” Jaab mereka dengan gugup.

Luhan menggendong Yoona dan membawa masuk ke dalam kamarnya. Sudah kutebak bahwa semuanya akan seperti ini, batin Luhan.

.

.

.

Luhan duduk di pinggir ranjang Yoona. Memegang tangan Yoona, berharap bahwa kehangatan di tubuhnya bisa menular dan menjalar di tubuh Yoona yang agak dingin. Sepertinya, Yoona sedang kurang sehat kali ini.

Tiba-tiba pintu kamar Yoona terbuka dan muncullah Tiffany dari ambang pintu tersebut dan Luhan langsung melepas tangan Yoona dengan canggung.

“Luhan, mau makan malam? Aku saja yang menggantikanmu untuk menjaga Yoona.” Tawar Tiffany.

Luhan menggeleng, “Waktuku tinggal sedikit lagi, biarkan aku menjaganya, ahjumma.”

Jujur, Tiffany bingung atas jawaban Luhan. Waktuku tinggal sedikit lagi, maksudnya apa?

“Baiklah, aku akan mengantarkan makan malammu kesini, hm?”

Luhan mengangguk sekilas, “Terima kasih banyak.”

Tiffany hanya tersenyum sekilas lalu meninggalkan Yoona dan Luhan.

.

.

.

Yoona terbangun dari tidur –pingsannya dan langsung menangkap paras Luhan dimatanya. Matanya berkedip berulang kali, berusaha menetralkan cahaya yang masuk ke matanya.

“Luhan?” Panggil Yoona.

Luhan terkejut, dia sedang melamun memerhatikan tembok putih yang ada didepannya, “Yoona?!” Responnya dengan berlebihan.

“Kau sudah bangun? Masih pusing? Perlu kuambilkan obat?” Pertanyaan Luhan yang menyerbu Yoona itu membuat Yoona semakin pusing.

Luhan beranjak dari posisinya dan mengambil segelas air putih beserta obat sakit kepala yang sudah dia sediakan disamping kasur Yoona.

“Minumlah.” Suruh Luhan.

Yoona mengangguk dan menelan obat pahit itu.

“Bagaimana aku bisa seperti ini?”

Tiba-tiba pintu kamar Yoona terbuka. Tiffany muncul dengan sepirng makan malam untuk Luhan.

“Yoona?”

Umma?

.

.

.

Luhan memberi sedikit privasi untuk Tiffany dan Yoona. Kini Tiffany dan Yoona sedang duduk di atas kasur milik Yoona. Keduanya canggung, tidak tahu harus memulai dari mana dan dengan topik apa.

Tiffany membuang napasnya, “Yoongie-ah, maafkan umma.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Itu semua bukan salah umma.” Jawab Yoona dengan cepat.

“Seharusnya umma memberi tahumu dari awal, Yoona.” Tiffany menoleh sedikit ke arah Yoona.

“Aku tahu pasti umma selalu memberikan yang terbaik untukku.” Jawaban Yoona itu menyentuh lubuk hati Tiffany yang paling dalam.

Tiffany langsung mendekap Yoona ke dalam pelukkannya. Memeluk Yoona dengan erat bagaikan ini hari terakhir mereka bisa untuk bersama-sama.

“Kau anak yang baik, Yoona. Umma sangat bangga.” Tiffany mengelus punggung leher Yoona pelan, berusaha membuat Yoona agar lebih nyaman lagi dipelukannya.

“Aku juga bangga bisa menjadi anakmu, umma.”

.

.

.

Yoona dan Luhan duduk di balkon rumah Yoona sambil memerhatikan kembang api yang meledak-ledak di udara pada malam tahun baru ini. Jarum jam tangan Yoona sudah menunjukkan pukul dua pagi namun mereka masih belum beranjak dari tempat mereka.

Rasa kantuk mulai menghampiri mata Yoona, perlahan dia meyandarkan kepalanya ke pundak kiri Luhan dan memejamkan matanya –hanya memejamkan.

“Yoona.” Panggil Luhan.

Yoona tidak menyahut, mungkin karena suara ledakkan kembang api tersebut terlalu keras. Luhan melirik ke jam tangan Yoona.

Huh, sebentar lagi, batin Luhan.

Luhan mencolek Yoona agar Yoona menoleh ke arahnya.

“Ada apa?” Tanya Yoona.

Luhan diam, dia tidak tahu harus dari mana memulai seluruh pembicaraan ini.

“Yoong, aku ini sebenarnya..” Ucap Luhan menggantung.

Karena Luhan membahas hal itu, Yoona jadi teringat bahwa dia selalu menagih untuk mengetahui siapa itu Luhan sebenarnya.

“Ya? Lanjutkan, Luhan.”

“Baiklah,” Luhan meremas ujung jaketnya sendiri. “Aku ini,” Sebuah tetesan air mata mengalir dengan mulus dari mata kanannya.

“Luhan?!” Yoona terlihat panik. Ini pertama kalinya dia melihat Luhan –seorang pria menangis.

“Luhan mulai terisak, “Aku ini, aku, aku harus pergi, Yoong.”

Yoona nampak lega, dia pikir Luhan memiliki sesuatu yang sangat gawat seperti dia mempunyai penyakit atau apa jadi dia harus pergi untuk selamanya.

“Hah, aku kira apa. Lalu kenapa?” Tanya Yoona sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok.

“Aku harus pergi sekarang,” Luhan melihat jam tangan Yoona lagi, “Satu menit dari sekarang.”

“Ada apa? Kau dicari oleh orang tuamu, hm?”

Luhan menggeleng, “Aku harus kembali ke tempat asalku. Tugasku disini hanya untuk membantumu untuk membereskan seluruh masalahmu disini.”

Yoona nampak bingung, “Ma-maksudmu?”

“Bagaikan rusa yang digunakan Santa Claus untuk membantunya untuk mengirim hadiah di setiap rumah-rumah dan ketika tugasnya sudah berakhir, rusa tersebut akan kembali ke habitatnya. Tapi, aku akan kembali. Tenang saja.”

Yoona nampak khawatir, dia memukul pundak Luhan, “Ya! Maksudmu apa?”

“Kau tahu malaikat?”

Yoona tercengang ketika mendengar pertanyaan Luhan. Tak salah jika Yoona melihat Luhan seperti malaikat, hatinya baik, wajahny selalu bersinar, dia berbeda dari orang lain.

“Lu—“ Yoona menyentuh pundak Luhan, tapi yang dia rasakan hanyalah udara. Luhan juga mulai memudar.

“Yoona, aku mencintaimu.”

Hati Yoona terasa terpukul, kenapa seluruhnya terkesan terlambat? Yoona juga mencintai Luhan.

Air mata Yoona turun begitu saja layaknya air terjun yang menerobos udaa dan menyentuh dasarnya.

“Luhan!” Panggil Yoona.

Luhan –yang mulai tembus pandang itu mendekati Yoona, dia berusaha menempelkan bibirnya ke pipi Yoona namun dia tahu itu tidak akan membuahkan hasil apa-apa.

.

.

.

Yoona memejamkan matanya ketika melihat Luhan mencium pipinya, walaupun Luhan sudah sama seperti udara. Dia bisa merasakan sensasi luar biasa di pipi kanannya. Hawa tubuhnya terasa naik dan memuncak di kepalanya. Pipinya bersemu merah.

“Aku mencintaimu juga, Luhan.”

“Aku akan kembali, kau harus mengingatku. Hanya kau yang mengingatku.”

Tiba-tiba angin kencang terhembus begitu saja.

Yoona membuka matanya dan terkejut karena hanya ada dirinya disana. Luhan benar-benar meninggalkannya.

“Luhan…”

.

.

.

“Yoona!!” Panggil Tiffany berulang kali. Dia sudah meneriakki nama Yoona lebih dari lima kali namun masih belum ada respon dari Yoona. Dengan kesal, Tiffany menghampiri kamar Yoona dan mengetuknya dengan keras.

“Yoona!!”

Akhirnya, pintu itupun terbuka. Munculah Yoona dnegan pakaian rumahnya dengan mata yang agak bengkak dan memakai headset di kedua telinganya.

Pantas saja tidak disahut, batin Tiffany.

“Ada apa, umma?” Tanya Yoona dengan malas.

“Ada tetangga baru. Umma sudah membuat kue kering sebagai ucapan selamat datang. Tolong antarkan, ya?”

Yoona mengangguk dengan malas, “Baiklah.”

.

.

.

Yoona memencet bell rumah tetangga barunya itu dua kali.

“Ya, tunggu sebentar.”

Terdengar suara berat khas pria dari speaker yang tertempel di dinding rumah tersebut. Tak lama kemudian pintu rumah tersebut terbuka dan muncul seorang pria tampan dengan rambut berantakan seperti baru bangun tidur.

“Ada apa?” Tanya pria itu.

Tangan Yoona bergetar, lututnya melemas, matanya tidak berkedip sama sekali sejak pria itu keluar dari habitatnya.

“Lu-Lu—“

“Lu itu dalam bahasa mandarin adalah rusa.” Tiba-tiba pria itu berkata seperti itu.

“Luhan?” Tebak Yoona.

“Iya, itu namaku. Bagaimana bisa kau tahu? Pasti umma-ku sudah ke rumahmu dan bicara banyak dengan umma-mu kan? Haha, wanita tua memang begitu.” Nampaknya pria yang bernama Luhan itu berbeda dengan ‘Luhan’ yang dikenal oleh Yoona. Dia lebih banyak bicara.

“I-ini kue dari umma-ku sebagai ucapan selamat datang.” Kata Yoona sembari memberikan kue kering tersebut.

“Oh, terima kasih. Hm, namamu?” Tanya Luhan.

“Aku Im YoonA. Panggil saja Yoona.” Jawab Yoona sambil tersenyum.

“Oh, salam kenal Yoona. Tapi, matamu terlihat bengkak. Ada masalah?”

“Ah, tidak. Aku baik-baik saja.”

“Matamu seperti milikku. Aku diberi nama Luhan karena mataku yang mirip dengan rusa.”

“Oh, aku memang disebut rusa oleh teman-temanku. Rusa betina.”

“Sungguh? Selama di China, aku dipanggil rusa jantan. Cocok bukan?”

Oh, wajah Yoona langsung bersipu merah. Hawa tubuhnya langsung menjadi panas. Sepertinya, Yoona mulai jatuh cinta lagi.

Jatuh cinta kepada Luhan.

.

.

.

Rusa jantan dan rusa betina. Shuang Lu. Double Deers.

Yoona-Luhan-Tiffany-Suho

SL1 SL2 SL3 SL4

Krystal-Selena-Hyemi-Hyojung

SL5 SL6 SL7 SL8

Pure by icydork

Special for Christmas Day

Thank you for Reading

13 thoughts on “双鹿

  1. Keren banget unnie. nice story! Tapi lebih keren lagi kalo ada sequel-_- #plak *modus* Luhan yg asli kenapa rada cuek gitu. Mending luhan yang malaikat<3 Suka sama konfliknya. Gak nyangka kalo Yoona suka sama OmSuholangkaya #digamparSuho

  2. Thor, ffnya keren gilaaa!!
    Luhan ternyata malaikat ahhh~~
    Sequel dong thor;;; seru deh kalo ada sequelnya wkwk
    Fighting thor’-‘)9

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s